Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Thursday, November 21, 2019

Ukuran Obyek Yang Berbeda Akan Menghasilkan Nuansa Foto Yang Tidak Sama

Pernahkah Anda menyadari bahwa cara Anda menampilkan obyek dalam sebuah foto berpengaruh terhadap nuansa yang timbul ? Cobalah perhatikan dua foto di bawah ini.

Ukuran Obyek Yang Berbeda Akan Menghasilkan Nuansa Foto Yang Tidak Sama
Ukuran Obyek Yang Berbeda Akan Menghasilkan Nuansa Foto Yang Tidak Sama

(In frame : Friska Molena. Lokasi : Angkor Wat, 2019)

Keduanya memakai obyek yang sama, dengan gaya yang hampir serupa, dipotret dengan cara vertikal, latar belakang yang sama, dan teknik pengambilan foto yang sama. Maklum, keduanya dipotret hanya berselang beberapa detik saja.

Tapi, nuansa yang hadir dalam kedua foto tersebut berbeda.

Yang pertama akan membuat orang berpikir bahwa obyeknya (sang wanita) lah yang ingin ditampilkan. Sosok obyek yang lebih besar membuat perhatian akan langsung terarah kesana. Berbeda dengan foto kedua dimana sangat mungkin orang berpikir bahwa fotografernya ingin memperlihatkan latar belakang lebih banyak dibandingkan obyeknya.

Mana yang lebih baik ? Semua akan tergantung pada ide di kepala sang pemotret. Apakah ia ingin bercerita tentang "candi (latar belakangnya)" atau tentang "si wanita". Juga, menunjukkan apakah itu foto "portrait" atau " landscape".

Peran dan fungsi "sang wanita" juga berbeda dalam setiap foto, apakah sebagai obyek utama atau obyek pelengkap.

Yang manapun , ukuran obyek yang berbeda akan menghadirkan nuansa foto yang berbeda pula.

Sesuatu yang mungkin bisa Anda coba karena caranya tidak sulit, yaitu dengan mengatur jarak pemotretan saja. Maju mundur.
Read More

Wednesday, November 20, 2019

Banyak Yang Datang Ke Tempat Wisata Sekedar Untuk Berfoto

Banyak Yang Datang Ke Tempat Wisata Sekedar Untuk Berfoto
Angkor Wat 2019

Angkor Wat, atau Kota Candi adalah sebuah warisan budaya dunia. Di dalamnya tersimpan banyak sejarah peradaban manusia daro abad ke 11 alias 10 abad yang lampau. Banyak sekali bentuk peninggalan kebudayaan dalam bentuk bangunan di kompleks wisata yang berada di kota Siem Reap, Kamboja ini.

Jadi, kalau mendengar namanya, tidak akan heran kalau orang akan membayangkan sebuah wisata sejarah dan budaya dimana orang bisa membayangkan hidup di masa lampau.

Paling tidak, begitulah pemikiran umum.

Cuma, kenyataannya berbeda di lapangan.

Justru, sepertinya banyak sekali pengunjung Angkor Wat yang sepertinya tidak peduli dengan berbagai hal seperti itu. Mereka tidak begitu peduli betapa rumitnya manusia di masa lalu untuk mendirikan bangunan semegah itu. Tidak peduli juga raja yang mana yang mengerahkan rakyatnya untuk mendirikan ribuan candi disana.

Banyak turis yang datang kesana sibuk dengan dirinya atau kelompoknya sendiri. Mereka mencari spot-spot di dalam sang Kota Candi yang luas itu untuk berfoto. Tidak jarang mereka ditemukan nangkring dalam bingkai jendela atau posisi manapun yang sekiranya menarik untuk dijadikan latar belakang foto.

Tidak sedikit pula dari mereka yang mengabaikan saran untuk menggunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman untuk berkeliling. Mudah terlihat wanita bergaun panjang dengan wara menyala dan juga mengenakan sepatu berhak tinggi. Mirip seperti yang dipakai saat berpesta.

Tentunya, pakaian yang seperti itu tidaklah nyaman digunakan untuk berjalan kaki dan berkeliling area yang sangat luas. Pasti melelahkan dan menyakitkan.

Hanya saja, kostum yang mereka kenakan bisa dimengerti bila tujuan mereka sebenarnya bukanlah mendengar cerita para pemandu wisata tentang kejayaan di masa lalu. Tujuan mereka sangat bisa diduga adalah untuk mendapatkan foto yang instagrammable.


Banyak Yang Datang Ke Tempat Wisata Sekedar Untuk Berfoto
In frame : Friska Molena
Maklum sih sebenarnya. Di zaman ketika media sosial begitu merasuki jiwa hampir setiap orang, kesempatan untuk menghasilkan foto yang mengundang LIKE atau JEMPOL di Instagram atau Facebook, tentunya lebih menarik dibandingkan kisah kuno di masa lampau.

Mendapatkan lebih banyak follower jelas lebih penting daripada mendengarkan celoteh pemandu wisata tentang di abad ke berapa bangunan itu didirikan.

Apalagi, harus diakui juga bahwa Angkor Wat memang fotogenik . Banyak foto bagus bisa dihasilkan dengan latar belakang puing-puing masa lalu. Kalau di tangan orang yang handal, hasilnya memang pasti akan memukau.

Tidak salah juga, di salah satu candi yang terdapat disana dijadikan tempat syuting film Tom Raider yang dibintangi si cantik Angelina Jolie.

Jadi, kalau ada orang yang bertujuan untuk sekedar berfoto, ya sah-sah saja. Bagaimanapun, ada banyak cara berbeda orang berwisata. Iya kan?

Walau tentunya, sangat disayangkan juga kalau sudah pergi jauh-jauh tidak bisa merasakan sensasi berada di sebuah tempat yang menggambarkan betapa tinggi peradaban di masa lalu.Tapi itu adalah pilihan.

Saya sendiri tetap mencoba melakukan apa yang saya sukai, yaitu memotret. Baik dengan model atau apa saja yang menarik disana. Hanya, tentunya model berpakaian seadanya saja yang praktis dan ringkas.

Meski sekali-kali tetap mencuri untuk memotret ala fotografer jalanan dengan obyek yang dikenal atau tak dikenal.


Banyak Yang Datang Ke Tempat Wisata Sekedar Untuk Berfoto
In frame : Aida Wijaya

Yah, mungkin itu karena dalam perjalanan ini, tujuannya bukan hanya untuk menghasilkan foto yang bagus saja. Ada dua tujuan lainnya, yaitu melihat dunia dan cara hidup di negara tetangga, sekaligus untuk mendapatkan cerita yang bisa dituliskan di blog saya.

Jadi, perhatian harus dipecah sebaik mungkin agar semua bisa didapat.

Hasilnya ? Ya.. tidak jelek-jelek amat lah.
Read More

Tuesday, November 19, 2019

Obyek Pakai Topi, Bayangan Menutupi Wajah

Melakukan pemotretan di siang hari bukanlah sesuatu yang menyenangkan sebenarnya. Bukan hanya karena sinar matahari yang terik akan terihat "keras" dalam foto, tetapi karena suhu udara panas dan sengatan cahayanya pada kulit dan kepala menghadirkan ketidaknyamanan, baik bagi sang fotografer maupun modelnya.

Apalagi kalau terlalu lama kepala terkena sengatan sinar matahari bisa berujung penyakit juga.

Oleh karena itu, mengenakan topi bisa merupakan salah satu alat yang sangat berguna dalam kondisi seperti ini.

Cuma, sebenarnya kehadiran topi sendiri bisa menjadi masalah tersendiri. Ketika modelnya memilih melindungi kepala dari panas matahari, bayangan dari topi akan menutupi wajahnya. Padahal, wajah adalah salah satu bagian terpenting saat memotret manusia.

Terutama, kalau yang dipotret itu orang awam di tempat wisata terkenal. Pastinya mereka ingin agar wajahnya jelas terlihat, selain tentunya latar belakang ciri khas dari tempat wisata itu.

Dan, itulah yang saya alami ketika berwisata bersama rekan-rekan kantor ke Siem Reap, Kamboja, dimana Angkor Wat berada.

Obyek Pakai Topi, Bayangan Menutupi Wajah
In Frame : Herni Darmawan
Suasana siang hari di tengah area lapang tak berpohon disana memaksa semua orang bertopi kalau tidak mau kepala keleyengan sehabis berjalan-jalan.

Cuma, hal itu terlihat sekali pada beberapa hasilnya, dimana banyak foto dimana bagian wajah tertutup oleh bayangan dan menjadi agak gelap.

Sebenarnya, teorinya ada beberapa cara untuk mengatasi kondisi yang seperti ini, seperti :

1. Meminta model melepas topi karena ini cara yang terbaik

2. Memotret dari low angle untuk mengurangi area yang terkena bayangan, memotret dalam posisi kamera sejajar hanya akan memperbesar area yang terkena bayangan

3. Memakai reflektor : dengan alat sederhana ini, kita bisa memantulkan cahaya matahari agar juga mengenai muka dan bayangan akan menghilang, walau terkadang menyilaukan modelnya

4. Mencari sudut dimana posisi matahari berada di belakang, karena dengan begitu cahaya matahari akan menerangi wajah obyeknya.

Cuma, karena pemotretan saat disana sekedar untuk bersenang-senang, saya sering mengabaikan semua itu dan memotret saja. Toh, bagi kawan-kawan, yang terpenting wajah mereka tidak hitam dan gelap sehingga tidak bisa dikenali. Meski, saya tetap sebisa mungkin menguranginya dengan cara no 2 dan 4.

Cara ke-1 diputuskan untuk tidak dipergunakan. Bagaimanapun, kesehatan tetap yang terpenting, apalagi dalam situasi berwisata seperti itu. Lebih tidak menyenangkan mengurus kawan yang sakit dalam perjalanan daripada sekedar foto yang kurang pas menurut selera kita.

Iya nggak?
Read More

Monday, November 18, 2019

Membuat Foto Grup Yang Menarik Juga Butuh Kreatifitas

Membuat Foto Grup Yang Menarik Juga Butuh Kreatifitas
Tim True Alliance, Jakarta di Angkor Wat, 2019

Foto grup adalah istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan foto yang berisi lebih dari satu orang. Biasanya dilakukan sebagai dokumentasi dari sebuah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Bisa juga sebagai kenang-kenangan saat melakukan wisata secara berkelompok.

Yang sering menjadi masalah adalah kebanyakan foto grup terkesan biasa-biasa saja. Obyek fotonya hanya berjejer dan menghadap kamera. Sering tidak ada kesan yang ditimbulkan saat melihatnya karena fotografernya pun sering hanya terfokus pada memasukkan semua orang dalam frame foto.

Tapi, sebenarnya foto grup bisa dibuat sedikit lebih menarik kalau fotografernya mau mencoba mengembangkan sedikit kreativitas untuk menyusun obyek fotonya. Dengan begitu, hasil foto tidak akan terkesan begitu-begitu saja.

Seperti contoh foto di atas yang tentunya lebih menarik untuk dilihat dibandingkan yang di bawah ini.

Membuat Foto Grup Yang Menarik Juga Butuh Kreatifitas
Amoeba Kebun Raya Bogor

Foto kedua terkesan lebih jadul dan "biasa" saja dibandingkan yang pertama. Padahal, hanya ada perbedaan sedikit saja disana.

Nah, untuk membuat sebuah foto grup yang lebih menarik, sebenarnya yang perlu dilakukan seorang fotografer (atau bisa siapa saja) untuk

1. Menentukan susunan peserta foto

Susunan berjajar adalah sesuatu yang dibuat umum dan hampir bisa dipastikan dengan gaya apapun yang ditampilkan, hasilnya akan biasa saja.

Oleh karena itu, ada baiknya saat hendak melakukan foto grup, sususan dari peserta foto dibuat "tidak biasa". Bisa saja dengan mengatur agar sususan tidak sejajar, naik turun, atau susunan lain, yang penting bukan berjajar saja.

2. Berikan ruang untuk antar peserta

Berdempetan adalah hal yang paling sering terlihat dalam sebuah foto grup. Dan, hasilnya setiap peserta tidak bisa berkekspresi dengan bebas. Padahal, kalau setiap orang bisa mengungkapkan gaya mereka sendiri-sendiri, mereka bisa memberikan variasi pada fotonya sehingga tidak terkesan "biasa saja".

Ruang kosong juga bisa membantu menonjolkan setiap peserta dalam foto.

3. Minta peserta berpose sesuai dengan kemauannya

Minta setiap peserta mengekspresikan dirinya sesuai dengan kepribadiannya. Dengan begitu akan keseragaman tidak akan terjadi. Sesuatu yang seragam cenderung membosankan dan hal itu harus dihindari.

4. Pecah dalam beberapa grup foto

Alasan yang paling sering dikemukakan kenapa harus berjajar adalah karena jumlah orangnya. Dengan berjajar atau berdempet memang akan menghemat tempat dan semua bisa masuk dalam frame.

Tidak masalah. Lakukan saja 1-2 foto grup dengan cara ini untuk dokumentasi, tetapi setelah itu pecah kelompok menjadi beberapa grup dengan orang yang lebih sedikit. Lalu, mulai pemotretan dengan grup-grup yang lebih kecil.

Intinya : Kembangkan Kreativitas ?

Ada banyak cara membuat foto grup yang tidak membosankan, tetapi bagian yang terpenting adalah kreativitas dari yang terlibat. Buang jauh-jauh kebiasaan foto secara berjajar dan berdempetan. Lakukan hal-hal yang berbeda agar hasil fotonya juga berbeda.

Read More