Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Sunday, July 14, 2019

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengadakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana saya tinggal, ada sebuah celetukan menarik dari salah seorang peserta, yaitu ketika membahas bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah pasti bahasan yang satu ini sangat menarik bagi kaum ibu, apalagi mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.

Celetukan ini memang menyangkut penulisan dan bagaimana membuat tulisan tentang makanan yang bisa menarik pembaca. Dan, salah satu yang harus dilakukan adalah terkait foto makanan yang akan ditampilkan.

Sebuah tulisan kuliner tanpa ada foto makanannya, sama saja masak sayur tanpa garam. Tidak akan lengkap dan tidak akan menarik.

Nah, ucapan yang membuat kening saya agak berkerut dalam hal ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret makanan itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya saya lupa, tetapi intinya seperti itu.

Yah, kening saya berkerut juga, cuma saya putuskan untuk tidak membahas lebih lanjut lagi karena kalau dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Setelah itu, saya melakukan kunjungan ke berbagai blog yang membahas mengenai makanan. Heran juga, ternyata memang rupanya ada kecenderungan para blogger kuliner dan resep untuk lebih banyak mengambil sudut pemotretan dari atas.

Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di atas dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang miring sedikit.

Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tetapi setelah mengamati sejenak, ya mungkin inilah yang menjadi dasar dari celetukan sang ibu tadi.

Sebagai orang yang menyukai fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, meski bukan dalam bidang foto makanan, saya merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.

Fotografi pada intinya, selain untuk merekam sebuah momen, juga untuk menampilkan sisi keindahan dari "sesuatu" atau "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.

Mau dari atas kek, dari bawah, dari samping, atau darimanapun.

Semuanya tergantung pada selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera setiap orang berbeda.

Begitu juga dalam hal foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret makanan harus atau sebaiknya dari atas saja. Memang, biasanya posisi kamera di atas akan memberikan foto yang berisi warna warni makanan dan pola yang terbentuk karena biasanya makanan memiliki pola, tetapi tidak selalu harus begitu.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Keindahan dalam sebuah makanan bisa diperlihatkan dari sisi manapun, selama yang memotret tahu caranya.

Sebagai contoh, semua foto makanan dalam tulisan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di atas dan menghadap ke bawah saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap saja bagus.

Betulkan?

Yang terpenting dalam mengambil foto makanan supaya menarik perhatian bukanlah sekedar sudut pengambilan gambar (dari atas saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan sudut yang terbaik bagi obyeknya.

Ditambah pula dengan skill dan kemampuan memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Memastikan posisi kamera harus berada di atas saat memotret makanan agar mendapatkan hasil terbaik juga tidak selamanya benar.

Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, pasti akan sangat menyulitkan karena bidang kamera tidak bisa menampung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi kalau cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.

Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah fleksibel dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal itu berarti bisa saja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.

Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam hidup manusia.
Read More

Thursday, July 4, 2019

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6

Bukan sebuah patung bernilai sejarah. Mungkin, ratusan tahun lagi, dan kalau memang masih bertahan, baru bisa menjadi sebuah monumen bernilai historis tinggi.

Sebuah patung malaikat kecil sedang bermain seruling di sebuah taman kecil dalam perumahan Vila Bogor Indah 6 di kawasan Bogor terlihat menarik sekali untuk dijadikan obyek foto.

Mungkin sebenarnya bagi banyak orang biasa saja. Hanya saja, rupanya kebiasaan sebagai penggemar fotografi merangkap blogger yang membuatnya menjadi terlihat menarik di mata saya. Apalagi dengan hanya kamera smartphone OPPO A3s di tangan, hadir sebuah tantangan sendiri untuk membuatnya menjadi enak dilihat dalam foto.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


Entah bagi orang lain, tetapi setelah dilihat-lihat lagi, ternyata tidak terlalu jelek untuk dipamerkan disini.

Bagaimana menurut Anda?
Read More

Monday, July 1, 2019

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?
Stadion Pakansari Bogor, 2017

Sharing is caring. Berbagi tanda peduli. Salah satu slogan yang banyak ditemukan di dunia maya belakangan ini yang mengajak orang untuk berbagi kepada orang lain. Prinsip yang mulia karena siapapun yang memiliki kelebihan bisa membantu orang lain yang kekurangan.

Pertanyaannya, dalam dunia fotografi, apakah prinsip itu juga berlaku? Bisakah kita memotret untuk berbagi kepada sesama? Apa manfaatnya?

Ternyata, berlaku juga.

Cobalah perhatian beberapa website modern, penyedia foto gratis, seperti Pixabay, Pexels, atau Wikimedia Commons. Disana banyak sekali fotografer yang dengan iklas hati membagikan hasil karyanya kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya. Siapapun bisa mempergunakan karya hasil jerih payah dan memeras keringat bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Dan, ternyata hasil penerapan prinsip berbagi banyak sekali membantu orang lain dari berbagai belahan dunia, untuk :

1. Mengenal sebuah tempat, sebuah benda, sebuah kehidupan di belahan dunia yang belum pernah dikunjunginya bahkan tanpa harus perlu pergi sendiri kesana

2. Membantu mengembangkan perekonomian : sebuah hal yang mungkin sulit dipercaya, tetapi banyak sekali usaha start up (pemula) yang dengan foto-foto gratis itu mereka bisa membuat foto promosi yang menarik (tanpa biaya yang besar). Mereka terbantu untuk pengembangan usahanya

3. Para blogger dan pengelola website, tentu saja sangat terbantu dengan ketersediaan stok foto yang bagus tetapi gratis. Mereka bisa mendapatkan image atau foto sebagai ilustrasi bagi artikel mereka. Bayangkan saja kalau harus membeli image dari Getty Image yang bisa mencapai 500 dollar AS untuk sebuah foto. Tidak akan mereka bisa berkembang, yang ada bangkrut sebelum berjalan

Berbagi foto memberi banyak kebaikan bagi perkembangan dunia.

Kepedulian para fotografer dengan membebaskan orang lain menggunakan karyanya, berkontribusi banyak bagi perkembangan dunia, meski terkadang tidak disadari.

Prinsip inilah yang mungkin pada suatu waktu harus juga dianut oleh banyak fotografer. Paling tidak, mereka bisa membagikan sebagian hasil karya mereka untuk membantu perkembangan orang lain.

Dan, meski masih kecil-kecilan, saya juga mencoba melakukannya. Setidaknya beberapa foto yang saya anggap berkualitas cukup baik dan bisa memberikan gambaran tentang "sesuatu" atau "sebuah tempat", sudah saya unggak di Wikimedia Commons, situs yang memang menyediakan foto gratis dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu foto yang pernah saya bagikan ada di atas ini yaitu foto Stadion Pakansari Kabupaten Bogor. Dipotret tahun 2017 silam. Ternyata, paling tidak ada dua laman yang sudah menggunakannya untuk pelengkap dan memberikan gambaran seperti apa stadion kebanggaan warga Bogor itu.

Lebih banyak lagi foto yang sudah dipergunakan di internet yang berasal dari website Lovely Bogor, sebuah blog yang bercerita tentang kehidupan di Bogor. Banyak fotonya yang diunggah di blog atau website lain. Ada yang memberi link balik, ada yang sekedar memberitahukan sumbernya, dan ada yang bahkan tidak menyebutkan apa-apa.

Yang manapun, saya tidak akan marah untuk itu. Bahkan, ada rasa senang karena hasil karya saya bisa dipergunakan orang lain. Bermanfaat dan bukan menjadi sekedar menuh-menuhin hard disk saja.

Jadi, kalau ada rekan yang hendak mempergunakan foto-foto di website ini, silakan saja. Kalau memang boleh meminta, tolong berikan link balik kepada website ini karena dengan begitu maka blog kecil ini bisa ikut berkembang. Tapi, kalau merasa berkeberatan, ya tidak masalah. Monggo, tapi jangan sebutkan hasil karya sendiri loh karena hal itu berarti penipuan dan berbohong, serta melanggar hak cipta orang lain.

Buat sesama fotografer, marilah merubah dunia dengan jalan "memotret untuk berbagi".

Mau kan?
Read More

Saturday, June 22, 2019

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Banyak orang menyangka bahwa sebuah karya foto yang mereka lihat dibuat dalam waktu yang pendek. Memang sih, di zaman dimana media sosial begitu merasuki jiwa hampir setiap orang, hal itu bisa dimaklum karena biasanya banyak orang akan langsung mengupload foto yang mereka buat sesaat setelah foto itu diambil.

Bisa dimengerti lah kalau banyak orang berpikir kalau semua foto yang mereka lihat berasal dari proses yang sama. Padahal, sebenarnya tidak juga, setidaknya tidak semua. Masih ada hal-hal di balik layar sebuah karya foto yang kerap tidak diketahui oleh yang melihat.

Salah satu contohnya adalah foto di bawah ini


Foto ini saya beri judul "Woman on Kartini Beach, Rembang". Bukan judul yang heboh tetapi merupakan fakta karena ada wanita, yang entah sedang apa di pantai Kartini, Rembang, Jawa Tengah. Foto ini dipotret saat berkunjung kesana, bulan Desember yang lalu.

Idenya memang untuk menampilkan suasana sunyi dalam sebuah foto. Secara teori mudah saja, yaitu dengan menerapkan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) sebanyak mungkin, latar belakang kosong dan bersih dari gangguan, dan memanfaatkan negative space semaksimal mungkin.

Teorinya begitu.

Cuma kenyataannya, tidak semudah itu.

Memotret :


Wanita dalam foto itu hanyalah seorang pengunjung Taman Kartini, sama seperti saya juga. Saya tidak mengenalnya sama sekali, artinya, sangat tidak mungkin untuk memintanya berpose. Bisa jadi malah dia akan curiga kepada saya hendak berbuat yang kurang ajar. Belum lagi kalau mantan pacar saya curiga dan ujungnya menjadi marah kalau saya melakukan itu, bisa gaswat banget deh.

Jadilah, saya harus menjadi seperti "pemburu" yang menanti terjadinya decisive moment. Menunggu sampai ada dimana pose sang "model" yang tidak tahu dirinya menjadi obyek kamera, bersesuaian dengan berbagai elemen lain, seperti latar belakang dan sebagainya.

Untung, saat berkunjung disana ada lensa Canon 55-250 mm dengan zoom yang lumayan, jadi pemotretan bisa dari jarak lumayan jauh dan tidak mengganggu aktivitas sang model.

Tidak mudah sama sekali. Saya harus mencoba berulangkali dari berbagai sudut untuk bisa mendapatkan satu foto sesuai ide di kepala. Perlu setidaknya 10 kali jepretan.

Beberapa foto yang setelah kembali ke rumah dilihat dan dinilai, dan tentunya tidak diperlihatkan kepada orang lain ada di bawah ini :

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Wanita di Pantai Kartini rembang

Wanita di Pantai Kartini rembang



Wanita di Pantai Kartini rembang

Yap, wanita, sang model itu, sebenarnya sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia bolak balik mencari posisi untuk melakukan swafoto, sebuah kebiasaan yang lahir seiring berkembangnya kamera smartphone dan media sosial. Bukan seperti saya yang hobi memotret orang lain.

Jadi, sejak tahap awal, yaitu memotret, sebenarnya proses di belakang layarnya sudah "berbeda" dari yang dibayangkan banyak orang. Paling tidak, berburu foto ini menghabiskan waktu 15 menit untuk memastikan ada satu foto yang sesuai ide.

Kali ini saya beruntung, ada hasilnya. Tidak jarang sebenanrya, walau satu foto saja bisa menyenangkan, terkadang saya pulang membawa tangan kosong karena hasilnya tidak ada yang sesuai kemauan.

Selesai? BELUM.

Memilah :


Dari sekitar 10 foto tadi, sesampai di rumah, saya harus memilah dan memilih. Mana yang terbaik dikaitkan dengan apa yang ingin ditampilkan.

Beberapa foto cukup dilihat sekali. Sisanya, barulah dilihat berulangkali lagi untuk melakukan penilaian lanjutan, tapi yang paling utama adalah apakah sudah sesuai ide yang dikehendaki.

Akhirnya, terpilihlah foto di bawah ini :


Postur tubuh sang "model" misterius ini pas sekali dengan latar belakang kosong dan satu buah kapal yang sedang tambat sauh di kejauhan. Setidaknya kesan sunyi dan kesepian bisa diwakili oleh sang wanita yang seperti sedang menanti seseorang yang berada di kapal itu.

Itu ide saya.

Jadi, inilah foto "terbaik" dari yang ada.

SELESAI?

Ternyata masih belum.

Editing :


Foto tersebut dihasilkan dalam format RAW, alias mentahan saja. Tidak bisa langsung ditampilkan karena tidak semua perangkat bisa membukanya. Belum lagi ukurannya yang mencapai 23 Megabyte pasti akan menyusahkan kalau diupload.

Lagi, satu proses harus ditambahkan, melakukan editing.

Hitam Putih dipilih dibandingkan berwarna karena untuk menghadirkan kesan sunyi dan sepi yang maksimal. Versi warnanya lumayan, tetapi terasa masih ada yang kurang.

Jadilah versi B&W yang ditetapkan.

Softwarenya sederhana saja, memakai Photoscape dan Picasa. Yang gratisan saja sudah cukup karena toh bukan untuk dijual, tetapi sekedar untuk mengisi blog.

Selesai?

Yah, masih belum juga.

Niatnya kan untuk berbagi foto dan cerita di blog, berarti harus ditambah teks supaya pembaca bisa tahu setidaknya dimana foto itu dibuat. Belum kalau niatnya untuk berbagi info, seperti di tulisan ini.

Iya kan?

Tidak pendek kan proses di balik layar sebuah karya foto. Padahal foto di atas sederhana banget, tetapi ternyata prosesnya melibatkan :


  1. Memotret : yang tidak sebentar juga
  2. Memilah dan emmilih : lupa menghitung waktunya
  3. Mengedit : sebentar sih, sekitar 1 jam saja (karena cuma mengatur kontras dan beberapa editing kecil lainnya
  4. Menampilkan : ini yang lama, karena termasuk mencari ide cara menampilkan 

Tapi ga semua seperti di atas sih. Biasanya yang proses di belakang layar ini dilakukan mereka yang menekuni fotografi saja. Prinsip memberikan yang terbaik biasanya dipegang dan lebih baik tidak terburu-buru dibandingkan hasilnya pada akhirnya mengecewakan.

Itulah mengapa sebenarnya banyak penghobi fotografi tidak terlalu mempedulikan apakah ada "wi-fi" di kamera mereka atau tidak. Kalaupun ada, biasanya jarang mereka pakai. Itu semua karena mereka merasa harus melakukan proses di balik layar sebelum menampilkan sesuatu.

Bagaimana dengan Anda, apakah foto yang Anda tampilkan melalui "proses di balik layar" yang serupa?
Read More

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

Dulu ada judul film, "Sekejam-kejam ibu tiri, lebih kejam ibukota". Memang kenyataannya demikian. Prinsip orang bule, "survival of the fittest" atau siapa kuat dia bertahan berlaku. Semua orang harus berjuang mempertahankan hidupnya, termasuk emak-emak yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia seharusnya berada di rumah mengurus anak.

Tetapi, mau apa lagi. Terkadang situasi memaksa para emak harus turun tangan dan ikut bekerja agar dirinya dan keluarga bisa bertahan hidup. Meski pekerjaan yang dilakukannya berat, demi keluarga mereka akan tetap menjalaninya.

Seperti yang terlihat di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (dekat stasiun Gondangdia).

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

(Tidak sesuai dengan yang diharapkan karena jalan terlalu ramai dan sulit mendapatkan "clean shot" dan keterbatasan ponsel OPPO A3, tetapi setidaknya bisa memperlihatkan perjuangan kaum perempuan untuk membantu keluarga mempertahankan kehidupannya di ibukota)
Read More

Friday, June 21, 2019

4 Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Foto itu statis alias tidak bergerak. Foto hanyalah satu rekaman sebuah momen sesaat. Satu momen saja.

Sifat foto yang statis ini menjadi satu tantangan tersendiri ketika kita hendak menampilkan sebuah obyek yang sedang bergerak, contohnya membuat foto orang yang sedang berjalan. Bagaimana bisa membuat orang "terlihat" sedang berjalan dalam sebuah foto, padahal apa yang terekam dalam sebuah foto bersifat statis dan tidak bergerak ?

Jawabannya ada dalam foto itu sendiri. Memang tidak mungkin menjadikan obyek tersebut benar-benar bergerak, tetapi kita bisa menimbulkan "kesan" dalam pikiran orang yang melihat bahwa obyeknya sedang bergerak atau melakukan sesuatu.

Ingat ya hanya kesan. Bukan benar-benar terjadi obyek dalam foto bergerak, karena kalau terjadi kebanyakan orang akan kabur dan menganggap ada setan yang merasuki foto mereka.

Nah, untuk menimbulkan kesan berjalan pada foto "orang sedang berjalan", perlu sedikit pengetahuan dari sesuatu yang kita sudah tahu, yaitu "cara berjalan".

1. Orang berjalan dengan meletakkan satu kaki di belakang yang lain, tidak sejajar


Kunci paling utama disini. Untuk berjalan, setiap orang akan meletakkan satu kaki di depan, dan satu kaki di belakang. Tidak pernah orang berjalan dengan dua kaki sejajar. Itu namanya diam atau melompat.

Jadi, kalau mau membuat foto orang berjalan, pastikan posisi kaki TIDAK SEJAJAR.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan


2. Berikan ruang di depan obyek


Manusia berjalan ke depan pasti membutuhkan ruang. Jadi, pastikan adanya ruang di depan obyek agar terlihat ia sedang mengarah ke depan.

Foto yang paling atas memperlihatkan kesan bahwa orangnya sedang berjalan sambil membawa sepeda, tetapi bagaimana kalau ruang di depannya dihilangkan.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Meski kakinya sudah pada posisi melangkah, sebagian besar kesan berjalannya menjadi hilang karena ruang di depannya menghilang.

3. Tambahkan berbagai "ciri" berjalan


Terkadang dalam satu situasi kita ingin memotret dari depan, belakang. Posisi yang sebenarnya tidak menguntungkan untuk membuat foto orang berjalan. Posisi kakinya menjadi terkesan sejajar karena jarak antara kedua kaki menjadi terkesan terlalu dekat.

Dalam hal ini, perlu ditambahkan beberapa ciri lain yang dilakukan orang berjalan, seperti kaki yang menekuk atau tangan yang berayun.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

4. Pergunakan Burst Mode


Dari sisi teknis kamera, untuk membuat foto orang berjalan, terutama ketika berburu foto di ruang publik atau jalanan dimana kita tidak bisa mengatur obyek, pergunakan Burst Mode atau Continuous Shooting.

Dalam satu jepretan, kamera akan merekam beberapa kali, dan hal itu memperbesar kemungkinan berbagai aspek dan pose tubuh di atas bisa terekam dalam salah satu foto.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Nah, kira-kira seperti itulah tipsnya.

Silakan coba sendiri membuat foto orang sedang berjalan versi Anda.
Read More

Wednesday, June 19, 2019

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Bermain. Memang kenyataannya begitu, saat berkunjung ke Pantai Kartini Rembang Desember 2018 yang lalu, tujuannya memang bermain saat mengunjungi saudara, adik almarhum bapak yang masih tinggal di salah satu kabupaten di Jawa Tengah itu.

Bukan pantai pasir putih ala Bali, tetapi tetap saja pantai dengan segala hal yang memudahkan fotografer dalam mengambil foto yang enak dilihat.

Apalagi, saat disana kebetulan suasana sedang sangat sepi, maklum bukan daerah wisata, yang justru semakin membuat hati gembira karena tidak perlu repot terganggu lalu lalang orang lain.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang




[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang


[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Read More