Posts

Mimik Polos Anak-Anak Menyenangkan Untuk Difoto

Image
Terus terang, karena saya sangat menyukai yang namanya fotografi jalanan, preferensi saya bukanlah pada keindahan atau kecantikan saja. Bagi saya, bukan berarti kecantikan itu tidak enak dijadikan obyek, tetapi kalau kesannya tidak natural, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.

Mungkin, karena itulah, setiap saya berburu momen di jalanan, yang pertama kali dicari adalah ada tidaknya anak-anak disana. Bukan apa-apa, karena anak-anak, terutama yang masih kecil biasanya masih polos. Kalau marah, ya marah. Kalau ngambek, ya ngambek lah dia.

Biasanya tidak dibuat-buat karena ekspresi dan mimik wajah anak-anak, terutama di jalanan, biasanya sangat polos dan natural sekali. Itulah mengapa, meskipun sedang hunting foto di sebuah event sekalipun, mata saya akan tetap melakukan scanning ke sekeliling untuk menemukan anak kecil, dalam berbagai aktifitas apapun.

Seperti yang terakhir kali saya lakukan dalam pagelaran Cap Go Meh Bogor 2019 , atau dikenal sebagai CGM Bogor Street Festivak bulan …

Kunci : Perjuangkan Sudut Pengambilan Foto

Image
Ada banyak teori mengenai bagaimana menghasilkan sebuah foto yang baik dan benar. Banyak sekali dan tidak terhitung.

Meskipun demikian, kebanyakan fotografer sepakat akan satu hal penting bahwa sudut pengambilan foto merupakan salah satu hal yang tidak boleh diabaikan oleh seorang fotografer.

Mereka sepakat bahwa bahkan dengan kamera sederhana dan tidak mahal sekalipun, sebuah foto bisa menjadi enak dilihat kalau sudut (angle) pengambilan gambarnya tepat.

Masalah utamanya adalah tidak ada patokan pasti tentang angle yang tepat. Untuk satu kata ini, bisa lahir ribuan artikel dan penjelasan dan tetap tidak ada kepastian.

Pemilihan angle akan tergantung pada sikon di lapangan. Tergantung pada obyeknya, sumber cahaya, peralatan yang dibawa, bahkan kepadatan arus lalu lintas pun bisa mempengaruhi ditemukannya sudut yang dianggap tepat oleh seorang fotografer.

Oleh karena itu, seorang fotografer haruslah berusaha terus menemukan sudut pengambilan foto yang dianggapnya terbaik di antara rib…

Memotret Di Museum ? Kenapa Tidak?

Image
Museum? Pastinya kurang menarik untuk dijadikan lahan untuk hunting foto. Isinya statis dan tua. Biasanya terkesan suram karena pencahayaan yang kurang. Sumber cahaya sangat terbatas. Dan, yang paling menyebalkan tentunya biasanya penataan ruangan yang rapat menulitkan mendapatkan hasil foto yang enak dilihat.

Belum ditambah padatnya pengunjung jika berkunjung kesana saat musim liburan. Kondisinya akan bertentangan sekali dengan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) alias sesederhana mungkin. Latar belakang foto kerap sulit dibuat bersih dari obyek tambahan yang tidak diinginkan.

Sulit dan tidak menarik. Bahkan, untuk orang biasa saja museum bukanlah tempat favorit untuk didatangi. Lebih menyenangkan berburu foto di alam bebas. Padahal, kurangnya rasa ketertarikan itulah yang membuat seseorang malas mencoba membuat foto disana. Biasanya, kebanyakan orang hanya sekedar membuat foto dokumentasi atau selfie di depan beberapa obyek yang ada di dalamnya saja.

Jangan tanya kalau untuk memot…

Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?

Image
Bukankah pertanyaan itu ada di benak Anda? Seperti apa sih yang dimaksud dengan komposisi foto yang BAIK (dan BENAR) itu? Percayalah, pertanyaan itu juga pernah dan masih sering hadir di kepala saya, bahkan setelah beberapa tahun menekuni dunia fotografi (dan blogging).

Tentunya, sama juga dengan banyak penekun fotografi, saya (dan tentunya Anda juga) ingin agar foto-foto yang kita hasilkan mendapatkan pujian dari yang melihat. Betul kan?

Juga, masalah komposisi foto ini sering ditekankan oleh para fotografer profesional atau yang sudah berpengalaman untuk mendapatkan perhatian khusus. Banyak sekali tulisan bersifat "how-to" (panduan) dibuat untuk memberi arahan tentang bagaimana komposisi foto itu seharusnya.

Berbeda-beda caranya, meski tetap ada bagian besar yang sama.

Dan, ujungnya kerap hal itu bukannya membuat kita tambah mengerti, tetapi justru semakin pusing tentang bagaimana cara menghasilkan komposisi foto yang "baik" dan "benar".

Betul kan?

Apa…

Terkadang, Kita Harus Mengabaikan Semua Teori Fotografi

Image
Membaca teori fotografi itu jelas banyak gunanya. Dengan mengetahu berbagai istilah, teknik pengambilan gambar yang baik, sudut pengambilan yang menguntungkan, seseorang bisa membuat fotonya terlihat menarik di mata orang.

Memang itu adalah fungsi dari teori, dimana apa yang pernah dipelajari, dianalisa, temudian ditemukan polanya, dan ditransfer kepada manusia lain dalam bentuk tulisan, secara visual, atau suara.

Teori itu sesuatu yang sangat berguna bagi perkembangan diri seseorang.

Meskipun demikian, pada prakteknya, terkadang teori-teori seperti itu "memberatkan". Dalam artian membuat seseorang harus menyediakan waktu untuk berpikir , mengolah data yang ada dan kemudian menyesuaikan dengan teori yang sudah dipelajari.

Dan hal itu, dalam dunia fotografi jalanan, bisa menyebabkan sebuah masalah baru, yaitu kehilangan momen. Maklum saja, dunia fotografi jalanan sangat bergantung pada "penemuan" momen menarik yang terjadi secara acak. Sesuatu yang tidak akan terula…

Simetris Itu Menyenangkan Untuk Dilihat

Image
Kata para master dalam dunia fotografi, mata manusia itu menyukai sesuatu yang simetris. Benar tidaknya memang bersifat relatif dan tergantung pada selera masing-masing.

Tetapi, pada kenyataannya, memang kebanyakan manusia akan menyukai bentuk simetris dalam sebuah foto.




Sebuah hal yang sangat membantu dalam membuat foto arsitektur, terutama ketika kamera di tangan memiliki kemampuan yang sangat terbatas dan tidak memiliki fitur untuk berkreasi. Seperti yang saya alami ketika kamera di tangan hanyalah smartphone Oppo A3S.

[FOTO] Para Penunggang Kuda Bromo

Image
Salah satu obyek foto yang menarik di kawaasan wisata Gunung Bromo, dan paling sering menjadi obyek foto, selain gunungnya sendiri, adalah penunggang kuda Bromo. Mereka biasanya berkendara disana dan menyewakan kuda tunggangan kepada para wisatawan yang hendak menjelajahi "padang pasir" di gunung tersebut.

Dan, hal itu bisa dipahami mengingat kehadirannya memberikan sebuah obyek yang unik dalam sebuah masyarakat dimana berkuda bukanlah budaya dan gaya hidupnya.

Beberapa foto hasil jepretan Arya Fatin Krisnansyah saat melakukan study tour kesana bisa dilihat di bawah ini.




Kombinasi  pemakaian Rule of Thirds, Gunung Bromo sebagai latar belakang, dan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid), biasanya tidak akan gagal menghadirkan sebuah foto menarik bahkan ketika lensa murah memiliki keterbatasan dalam hal ketajaman dan warna.