Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Friday, November 29, 2019

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan
Contoh hasil rekayasa foto dengan aplikasi Snapseed
Namanya mungkin tidak setenar Photoshop atau Lightroom sebagai perangkat lunak untuk mengedit foto. Tetapi, di kalangan penggemar fotografi, aplikasi Snapseed adalah salah satu aplikasi favorit untuk mengutak atik foto ketika kebetulan sedang tidak berada di depan komputer.

Snapseed adalah aplikasi yang bisa diunduh dari Google Playstore dan bisa diinstall di berbagai ponsel pintar yang berbasiskan android ataupun iOS (iPhone). Aplikasi ini mulanya dibuat oleh NIK Software untuk iPhone tahun 2011, tetapi setelah NIK Software diambil alih oleh Google, kemudian keluarlah versi Androidnya (maklum Android kan keluaran Google).

Berbeda dengan kebanyakan aplikasi photo editing berbasis Android yang menekankan pada penggunaan efek, Snapseed memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi penggunanya. Dengan aplikasi ini, pengguna bisa melakukan berbagai proses pengeditan foto, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang agak rumit.

Para penggunanya bisa melakukan cropping, meluruskan garis horison, sampai dengan berkreasi dan mengembangkan ide terhadap sebuah image. Bukan sekedar hanya menambahkan "telinga kelinci" atau "kumis" pada foto yah, tetapi lebih dari itu.

Salah satu contohnya adalah menghasilkan image seperti yang ada di atas, atau di bawah ini.

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

Image di atas sebenarnya berasal dari satu foto saja, tetapi dengan diubah menjadi seperti di atas dengan memanfaatkan fitur double exposure.

Fitur apa saja yang terdapat di aplikasi Snapseed ?


Banyak .

Meski tidak sebanyak software pengedit foto yang berbasis komputer/desktop/laptop, fitur yang ditawarkan lebih banyak dari yang ditawarkan oleh aplikasi sejenis. Hal ini berarti ruang untuk berkreasi dan mengembangkan ide lebih luas.

Fitur-fitur ini terbagi dalam beberapa bagian, seperti :


LOOKS :

Bagian ini berisikan efek/filter yang bisa dipakai bagi yang hanya sekedar ingin fotonya tampil "beda" atau lebih baik. Cukup memilih efek yang sesuai dan kemudian hasil jadinya akan tampil dalam beberapa saat.

Ada 11 efek/filter bawaan yang bisa dipergunakan, dari filter portrait hingga silhouette.

TOOLS :


Bagian inilah yang sebenarnya paling menarik. Banyak sekali fitur yang bisa dipergunakan untuk mengedit foto, mulai dari croppin, double exposure, dan masih banyak lagi laginnya.

Belum di dalamnya juga terdapat fitur untuk mengubah "level", saturasi warna, menambahkan digital blur.

Bisa dikata fitur-fitur yang ada disini sangat berguna sekali bagi mereka yang gemar mengutak-atik foto agar tampil lebih indah. Yang seperti ini jarang ditemukan dari kebanyakan aplikasi pengedit foto untuk ponsel.


Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

EXPORT :


Bagian yang terakhir dari 3 trio menu Snapseed ini berfungsi untuk menyimpan, memberi nama, atau membagikannya langsung ke media sosial.

Maklum lah, di zaman penuh orang serba narsis, banyak orang memang membutuhkan untuk memperbaiki foto agar mereka terlihat cantik atau ganteng di medsos. Dan, percayalah Snapseed akan bisa memenuhi kebutuhan yang satu ini juga.

Tetapi, sebenarnya, kalau memang mau, aplikasi Snapseed bisa dipergunakan lebih dari sekedar itu. Hanya butuh tambahan ide dan kemauan utak atik saja, maka seseorang bisa menjadi seniman digital (digital artist) dadakan. Bahkan, bisa dilakukan dimana saja, kapan saja. Sambil nongkrong di WC juga bisa kalau mau.


membuat iamge dengan fitur double exposure di aplikasi snapseed

Saya sendiri biasanya menggunakan aplikasi ini kalau sedang iseng ingin memperbaiki kontras atau brighteness sebuah foto kalau sedang di jalan. Kalau di depan komputer, saya lebih suka memakai GIMP.

Hanya, rasanya, di tangan mereka yang memang memiliki minat di bidang digital imaging, aplikasi ini bisa menghasilkan karya yang membuat orang berseru "WOOW", seperti yang sudah banyak ditemukan di Komunitas Fotografi Indonesia.

Cuma, memang tetap butuh ide dan kreativitas dari penggunanya.

Pertanyaannya, punyakah Anda minat, ide, dan kreativitas itu?
Read More

Thursday, November 28, 2019

Pelajaran Berharga Yang Didapat Dari Fotografi Yang Patut Direnungi

Pelajaran Berharga Yang Didapat Dari Fotografi Yang Patut Direnungi
In Frame : Aida Wijaya, Angkor Wat 2019
Pernahkah Anda melihat beberapa foto yang menggunakan obyek yang sama, kemudian lokasi pemotretan yang sama, tetapi memberikan nuansa dan kesan yang berbeda ? Pasti sudah pernah, bahkan mungkin sering karena biasanya seseorang akan memotret lebih dari satu kali di zaman ini dengan tujuan menemukan sudut pemotretan yang terbaik dan hasil foto yang paling bagus pula.

Iya kan ?

Yap, memang salah satu pelajaran paling penting dalam dunia fotografi adalah tentang sudut pengambilan gambar atau foto. Seorang yang berniat menjadi fotografer haruslah selalu mencoba menempa diri dan berusaha mencari sudut-sudut yang memungkinkannya mendapatkan hasil terbaik.

Tidak jarang seorang fotografer harus mau belepotan lumpur dan basah kuyup hanya untuk bisa mendapatkan foto yang menurutnya paling bagus.


Tapi, pernahkah kita menyadari bahwa hal yang seperti ini sebenarnya juga mengajarkan sesuatu yang bisa diterapkan dalam dunia nyata, dalam kehidupan sehari-hari?

Kita terbiasa berpola untuk berpegang teguh terhadap sesuatu yang kita rasa sebagai benar. Tidak jarang hal itu membuat kita "menyalahkan" orang lain karena berbeda pandang dengan kita sendiri. Tidak sedikit yang kemudian merendahkan mereka yang berpendapat berbeda.

Padahal, sebenarnya sudut pandang terhadap "sesuatu" bisa banyak sekali, tidak bedanya dengan begitu banyaknya kemungkinan sudut pengambilan gambar saat memotret. Hal yang sama tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja, tetapi tersedia ribuan kemungkinan lain.

Hasilnya, jelas akan berbeda. Tidak akan sama.

In Frame : Aida Wijaya, Angkor Wat 2019


Seorang yang memotret dari bawah akan melihat dan membuat obyek terlihat lebih tinggi dari seharusnya. Yang dari samping akan melihat kesan lebih langsing. Yang dari atas, lebih pendek dan kecil.

Padahal, obyeknya sama, di tempat yang sama juga. Perbedaan yang dihasilkan bukanlah dari obyeknya, tetapi dari sudut pengambilan fotonya saja.

Hal itu juga sebenarnya berlaku terhadap apapun di dunia. Sesuatu yang sama akan bisa melahirkan beragam sudut pandang, yang hasilnya bisa berbeda tipis atau berbeda jauh. Tidak akan sama dan pasti berbeda.

Yang mana yang terbagus dan terbaik pada akhirnya tergantung dari selera. Ibu-ibu akan menyukai foto dari samping karena akan memberi kesan lebih langsing dan perutnya tidak kelihatan. Yang bertubuh pendek, mungkin akan menyukai sudut pengambilan foto dari bawah karena akan memberi kesan dirinya lebih tinggi.

Semua bisa memilih sesuai keinginan dan seleranya.

Yang mana yang terbaaik sebenarnya adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pribadi masing-masing dan tidak bisa dijadikan sama untuk semua orang. Pemaksaan agar orang lain mau menerima pandangan sendiri adalah sebuah kesalahan karena kebebasan menjamin semua orang memiliki hak untuk memilih.

Tidak bisa dipaksakan.

Dan, tidak boleh dipaksakan.

In Frame Aida Wijaya, Lokasi Angkor Wat 2019
Dan, itulah salah satu pelajaran berharga dari sebuah kegiatan kecil bernama memotret yang mungkin seharusnya ditiru dalam kehidupan sehari-hari.

Cobalah melihat segala sesuatu, seperti saat hendak memotret, dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu kita akan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda dan kita bisa merasakan juga berdiri di atas sepatu orang lain.

Pada akhirnya, suatu waktu kita bisa menjadi orang yang bukan hanya bisa mengecam, menyalahkan, merendahkan, tetapi orang yang bisa memahami, mengerti, dan kemudian menemukan solusi. Sesuatu yang rasanya lebih menyenangkan untuk didengar dan besar kemungkinan bisa meredam konflik yang biasa ditimbulkan dari sebuah pemaksaan kehendak atau pendapat kepada orang lain.

Setujukah Anda dengan pandangan ini ?
Read More

Saturday, November 23, 2019

Bermain Dengan Garis Imajiner : Bagi Bidang Foto Agar Seimbang

Pernah sekolah di TK (Taman Kanak-Kanak) atau SD (Sekolah Dasar kan ? Tentunya Anda pasti ingat salah satu jenis gambar yang legendaris karena hampir semua murid melakukannya, sehingga bu guru biasanya bingung bagaimana harus menilai.

Yang dimaksud adalah gambar gunung dan jalan seperti di bawah ini.

Bermain Dengan Garis Imajiner : Tempatkan Ujungnya Di Sudut Bidang Foto

Hayo, Anda pasti pernah membuatnya kan ? Dulu saya sering.

Ketika besar dan beranjak ke tingkat SMP dan SMA, sering kita menertawakan cara menggambar seperti itu, lucu dan tidak masuk akal menurut kita.

Tetapi, sebenarnya, apa yang kita lakukan saat masih kecil tadi mengajarkan sebuah teknik yang sangat berharga dna masih sering dipergunakan oleh para fotografer untuk menghasilkan sebuah foto yang enak dilihat.

Coba saja perhatikan contoh di bawah ini.

Bermain Dengan Garis Imajiner :Bagi Bidang Foto Agar Seimbang
Kebun Raya Bogor
Atau....

Bermain Dengan Garis Imajiner :Bagi Bidang Foto Agar Seimbang

Nah, sekarang Anda bandingkan dengan foto di bawah ini yang merupakan hasil cropping dari salah satu foto di atas.

Bermain Dengan Garis Imajiner : Tempatkan Ujungnya Di Sudut Bidang Foto

Kira-kira mana yang lebih enak dilihat? Kalau menurut saya sih, yang terakhir terlihat berantakan sekali. Tidak ada "keseimbangan".

Dan, disitulah kata kuncinya. Keseimbangan.

Cara menggambar masa kecil, yang sering kita tertawakan karena dirasa naif, sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk menyeimbangkan pembagian porsi bidang agar seimbang. Biasanya yang seimbang menimbulkan kesan keteraturan. Dan, biasanya yang teratur dan seimbang akan terlihat enak untuk dilihat (kecuali Anda menyukai seni abstrak).

Garis-garis imajiner yang terbentuk oleh jalan (atau hal lain), merupakan pembatas dari setiap bagian. sehingga tidak ada tumpang tindih antar bagian yang ingin ditampilkan. Anda bisa mengisi bidang-bidang yang ada dengan apa saja yang Anda mau dan hasilnya tetap teratur.

Hasil cropping di atas menghasilkan sebuah image yang "kacau" dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan oleh pemotretnya. Yang seperti ini banyak terlihat dalam foto-foto orang yang sedang berwisata yang mengabaikan pola pembagian bidang foto.

Nah, selain itu sebenarnya garis imajiner dalam foto itu juga bisa berperan sebagai "leading line" atau garis yang menuntun ke arah obyek utamanya atau isi foto secara keseluruhan.

Coba saja tempatkan sebuah obyek di bagian ujung atau setidaknya di tengah dari garis itu, maka hasilnya akan menyenangkan mata untuk dilihat.

Bermain Dengan Garis Imajiner :Bagi Bidang Foto Agar Seimbang
In Frame : Tri Trisdiyanti, Kebu Raya Bogor

Iya nggak? Kemudian, tambahkan saja sedikit "bumbu-bumbu penyedap" ala fotografi, seperti bokeh. Hasilnya bisa lebih bagus lagi.

Tapi, jangan lupa, teknik "masa kecil" ini bukanlah sebuah keharusan dan kewajiban untuk diikuti. Anda bisa melakukan sesuka hati karena semua itu tergantung selera. Hanya, pola pembagian bidang secara teratur dan leading line sederhana ala anak-anak ini sangat membantu dalam menghasilkan foto yang bagus.


Silakan coba sendiri kalau tidak percaya.

Read More

Friday, November 22, 2019

Ingin Bebas Hunting Foto Saat Berwisata - Jangan Ikut Tur !

Hunting Foto Saat Berwisata - Jangan Ikut Tur A
In Frame : Friska Molena, Angkor Wat 2019
Ada banyak cara orang menikmati berwisata. Tidak terhitung ragamnya dan pastinya banyak yang kadang tidak terbayangkan. Ada yang menikmati dengan cara mendengarkan celotehan pemandu wisata sambil berkhayal seakan-akan ia menjadi tokoh dalam kisah tersebut. Ada yang memilih berjalan-jalan menyendiri membayangkan dirinya menjadi petualang.

Dan, masih banyak lagi cara lainnya.

Bagi seorang fotografer, atau penggemar fotografi, kata berwisata sendiri hampir sama maknanya dengan "foto", "foto", dan "foto". Apalagi kalau lokasi yang akan didatangi adalah destinasi wisata terkenal yang selama ini hanya bisa dilihat dari acara "On the spot" atau "National Geographic".

Pasti ada sensasi dan harapan tersendiri dalam hal ini, dan salah satunya adalah hadirnya sebuah kesempatan "hunting foto" atau perburuan foto di lokasi terkenal itu.

Cuma, sayangnya, terkadang karena ketidaktahuan, terkadang ada satu keputusan yang bisa membuat rencana itu tidak terwujud.

Ketidaktahuan tentang lokasi wisata yang akan dituju sering berujung lahirnya keputusan untuk ikut dalam sebuah tur. Harapannya, tentu saja agar bisa mendapatkan manfaat maksimal dari uang yang dikeluarkan. Juga, disana akan terselip "rencana kecil" bahwa kalau sudah mendapatkan informasi cukup dari pemandu wisata, pasti lebih mudah untuk bisa berburu foto.


Sayangnya, keputusan ini kerap melupakan satu hal penting. Prinsip "tidak ada makan siang gratis" berlaku dalam kehidupan.

Sebuah tur adalah perjalanan terencana, terjadwal dan terpimpin. Pesertanya harus ikut dalam sebuah rencana dan alur yang sudah ditetapkan oleh agen perjalanan. Tujuannya bagus agar para peserta bisa mendapatkan sebanyak mungkin dari uang yang mereka keluarkan dari dompet.

Padahal, hunting foto atau perbuuan foto berlandaskan pada kata "berburu" yang artinya tidak berada dalam kelompok yang sama dengan "terjadwal".

Seorang pemburu tidak bisa memastikan kapan buruannya akan lewat. Ia bukanlah penentu kapan "senjatanya" bisa diarahkan. Tidak terencana. Tidak terjadwal. Pemburunya harus mengerahkan segala daya upaya dan kemampuan untuk bisa mendapatkan hasil.

Dan, disanalah letak keseruan dan sensasi dari perburuan momen, dimanapun.

Kesemua ini "SULIT" didapat ketika bertemu dengan serba terjadwal dalam sebuah tur. Peserta akan diarahkan ke tempat tertentu, diberi batas waktu, dan dipimpin untuk melihat tempat-tempat tertentu pula.

Ingin Bebas Hunting Foto Saat Berwisata - Jangan Ikut Tur A

Padahal, bagi seorang penggemar hunting foto, perlu persiapan dan adaptasi sebelum kemudian bisa menemukan apa yang dicari dan diinginkannya. Ide biasanya keluar setelah masa itu lewat.

Sayangnya, dalam jadwal ketat ala tur wisata, kerap tidak ada toleransi. Semua harus ikut jadwal, seragam. Minim improvisasi.

Baru saja melakukan adaptasi di suatu lokasi dan mata menjelajah untuk menemukan hal menarik, waktu sudah lewat dan harus beranjak ke tempat berikutnya. Begitu seterusnya.

Hasilnya, tidak ada keterikatan mendalam karena pengenalan obyek serta situasi tidak berjalan. Semua terputus sebelum hal itu terjadi.

Seperti yang saya alami beberapa waktu yang lalu saat berwisata ke Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja. Tempat yang terkenal dengan kemegahan reruntuhan Kota Candi yang mendunia.

Tempat itu indah. Tetapi, jadwal ketat yang ditetapkan agen perjalanan dan kakunya pemandu wisata, membuat kesempatan hunting foto hanya diberikan waktu teramat sedikit. Belum ditambah karena berwisata dalam kelompok bersama rekan-rekan sekantor yang sibuk minta difoto (ruginya jadi fotografer disini) yang semakin menyempitkan waktu yang tersedia.


Tidak heran, sekembali dari perjalanan itu dan melihat koleksi foto, saya lebih menjadi fotografer model dibandingkan fotografer jalanan. Padahal, saya lebih menyukai berburu sesuatu yang alami dalam kehidupan sehari-hari.

Menyesal?

Tidak sih.

Tetap ada banyak hal yang didapat selama itu, selain kegembiraan, pengetahuan, dan pengalaman berkunjung ke sebuah negara asing, yaitu pelajaran memotret model. Sesuatu yang sebenarnya bukan genre yang saya tekuni.

Dan, tentunya, sebuah pengetahuan, bahwa kalau memang niat berwisatanya untuk berburu foto yang bagus, sebaiknya, tidak ikut tur. Tidak bebas dan mengikat serta akan mengikis kesempatan merasakan sensasi dari sebuah "perburuan".

Sebuah hal yang akan saya pertimbangkan dalam perjalanan berikutnya.
Read More