Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Wednesday, January 15, 2020

Berani Berbuat Salah Itu Perlu Sekali Bagi Seorang Fotografer

Berani Berbuat Salah Itu Perlu Sekali Bagi Seorang Fotografer

Kesalahan itu bagian dari kehidupan seorang fotografer, atau penggemar hobi fotografi. Bukan hanya karena mereka juga manusia yang tidak luput dari kesalahan, tetapi juga karena dunia yang mereka geluti sendiri penuh dengan ketidakpastian.

Contohnya, meski sudah membaca berbagai teori mengenai komposisi, lighting (pencahayaan), warna, dan seterusnya, tetapi apakah sudah pasti foto yang keluar dari kameranya "bagus" dan enak dilihat? Jawabannya belum tentu.

Tidak beda dengan seorang juru masak, yang katanya ahli sekalipun, dengan bumbu dan bahan masakan kelas satu, apakah masakannya "pasti" enak? Ya tidak juga. Semua masih tergantung pada keberanian dan bagaimana ia mengolahnya.

Hal itu juga berlaku dalam dunia fotografi, KETIDAKPASTIAN dan KETIDAKPASTIAN biasanya mendorong orang untuk berbuat kesalahan.

Jadi, kesalahan bisa dan hampir pasti akan terjadi saat melakukan pemotretan apapun. Itulah mengapa biasanya para fotografer akan memotret obyek yang sama berulangkali. Semua karena mereka menyadari tidak ada jaminan hasil fotonya akan sesuai yang diinginkan. Mereka berusaha memperbesar peluang membuat foto yang bagus dengan mencoba menggunakan semua kemungkinan yang terpikirkan oleh mereka.

Dengan kata lain, mereka mencoba dan terus mencoba, sampai pada akhirnya mereka bisa menghasilkan foto sesuai kemauannya.

Prinsip itulah yang harus dipegang oleh seseorang yang berniat menjadi fotografer. Kesalahan tidak akan bisa dihindari dan pasti akan terjadi, yang disebabkan masalah teknis atau non teknis. Jadi, tidak akan bisa dihindari 100%.

Hanya saja, biasanya seorang fotografer yang sudah mahir dan handal, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang segudang untuk memperkecil peluang kegagalan dalam pemotretan. Misalkan, seorang pemula butuh 1000 foto untuk menghasilkan satu foto yang bagus, seorang fotografer handal cukup memotret 5-10 kali untuk mendapatkan hasil yang sama.

Tetapi, tidak berarti mereka pasti berhasil dan tidak perlu lagi mencoba dan bereksperimen. Mereka masih akan melakukannya dalam setiap pemotretan. Fotografer ahli sekalipun tidak akan bisa merubah ketidakpastian dalam dunia fotografi menjadi sebuah kepastian yang mutlak.

Itulah mengapa seseorang yang hendak menjadi fotografer, paling tidak harus punya mental yang berpegang pada prinsip "BERANI MENCOBA" tadi. Tanpa mental itu, maka sulit untuk berkembang dengan baik menjadi seorang fotografer.

Oleh karena itulah, berhentilah membaca berbagai tulisan yang mengatakan "Pakai teknik ini supaya hasilnya pasti "bagus"" dan sejenisnya. Kepastian ini tidak ada dalam dunia fotografi. Penulisnya mungkin tidak paham tentang dunia itu dan hanya sekedar menebar bullshit (omong kosong) saja supaya tulisannya laku.

Jika Anda bukan orang yang berani mencoba dan bereksperimen, sebaiknya, ubah pemikiran itu atau berhenti menekuni fotografi.
Read More

Saturday, January 11, 2020

Belajar Komposisi Foto Dulu Sebelum Belajar Photoshop !

Belajar Komposisi Foto Dulu Sebelum Belajar Photoshop !
Siem Reap Kamboja, 2019
Maafkan kalau Anda seorang seniman digital yang memang mengandalkan Photoshop atau photo editing software lainnya. Tidak ada maksud merendahkan profesi yang Anda jalani. Tulisan ini tidak pernah dimaksudkan untuk kalangan seniman digital, tetapi kepada para penggemar fotografi atau calon fotografer.

Banyak sekali orang yang berpikiran belakangan ini bahwa memotret itu tidak perlu pusing dan ruwet karena sudah ada begitu banyak perangkat lunak pengedit foto yang bisa dipergunakan untuk menghasilkan foto yang indah dan bagus.

Jadi, mereka memandang remeh dan tidak begitu memperhatikan lagi cara pengambilan foto. Toh, semuanya bisa diedit dengan Photoshop di akhir.

Padahal, sebenarnya tidak benar sama sekali.

Belajar dari pengalaman sendiri mengoperasikan beberapa perangkat lunak untuk pengeditan foto, saya menemukan bahwa untuk menghasilkan image atau gambar digital yang baik, sebenarnya semua berdasar pada hal yang sama, yaitu pada komposisi foto atau image itu sendiri.

Sebuah foto atau image yang dikomposisikan dengan baik memberi peluang lebih besar menghasilkan foto/image yang lebih baik lagi. Sedangkan, foto/image yang tidak memiliki hal ini, hasilnya tetap akan jelek juga.

Photoshop bukanlah benda magis yang bisa mengubah sesuatu yang jelek menjadi bagus. Ia hanya sebuah alat yang disiapkan untuk "memperbaiki" sesuatu, membuat yang jelek menjadi agak lebih baik atau membuat yang bagus menjadi lebih bagus lagi.

Bukan membuat yang jelek menjadi bagus. Sesuatu yang dasarnya jelek hanya akan menjadi tidka begitu jelek. Bukan menjadi bagus.

Apalagi, jika tujuannya adalah menjadi seorang fotografer, alias orang yang menghasilkan foto (yang bagus) tentunya. Tidak seharusnya seseorang menggantungkannya pada unsur kebetulan, atau "perbaikan" yang disediakan oleh Photoshop.

Ia harus bergantung pada diri sendiri.

Ia harus melakukannya sendiri dari dasar, yaitu dengan menghasilkan sebuah foto yang bagus dan layak diedit.

Ia harus memperhitungkan bagaimana mewujudkan ide cerita dalam bentuk visual, yang diwakili oleh obyek/subyek atau latar belakangnya. Ia tidak boleh luput memperhatikan kontras antara keduanya. Ia harus juga menyesuaikan warna agar bagian-bagian dalam foto terlihat menyatu dan mewakili ide yang ada di kepalanya.

Ia harus bisa menempatkan subyek foto dalam posisi yang tepat agar bisa mengundang perhatian, tepat di saat pertama orang melihat.

Inti katanya, seorang yang berniat menjadi fotografer harus memfokuskan diri pada "KOMPOSISI FOTO" yang akan dibuatnya sejak awal. Bukan di bagian akhir, saat pengeditan terjadi, yaitu dengan menggunakan perangkat lunak pengedit foto.

Bukan photoshop yang harus menjadi andalan bagi seseorang yang berniat menjadi fotografer. Diri Anda dan kameralah yang berperan. Kemampuan dalam membuat komposisi foto adalah kunci dari perjalanan berikutnya, editing.

Bisa dikata perbandingannya 90% komposisi -10% editing

Jelek komposisi fotonya, ratusan jam dibuang pun akan percuma dan hasilnya akan tetap "jelek" atau "tidak begitu jelek". Bagus komposisi fotonya, maka peluang menghasilkan lebih banyak foto atau image yang bagus akan terbuka lebar.

Jadi, fokuslah pada meningkatkan terus kemampuan, terutama dalam komposisi foto. Jangan terfokus pada meningkatkan kemampuan Photoshop.

Kecuali, Anda berniat menjadi seniman digital dan bukan fotografer.
Read More

Friday, November 29, 2019

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan
Contoh hasil rekayasa foto dengan aplikasi Snapseed
Namanya mungkin tidak setenar Photoshop atau Lightroom sebagai perangkat lunak untuk mengedit foto. Tetapi, di kalangan penggemar fotografi, aplikasi Snapseed adalah salah satu aplikasi favorit untuk mengutak atik foto ketika kebetulan sedang tidak berada di depan komputer.

Snapseed adalah aplikasi yang bisa diunduh dari Google Playstore dan bisa diinstall di berbagai ponsel pintar yang berbasiskan android ataupun iOS (iPhone). Aplikasi ini mulanya dibuat oleh NIK Software untuk iPhone tahun 2011, tetapi setelah NIK Software diambil alih oleh Google, kemudian keluarlah versi Androidnya (maklum Android kan keluaran Google).

Berbeda dengan kebanyakan aplikasi photo editing berbasis Android yang menekankan pada penggunaan efek, Snapseed memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi penggunanya. Dengan aplikasi ini, pengguna bisa melakukan berbagai proses pengeditan foto, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang agak rumit.

Para penggunanya bisa melakukan cropping, meluruskan garis horison, sampai dengan berkreasi dan mengembangkan ide terhadap sebuah image. Bukan sekedar hanya menambahkan "telinga kelinci" atau "kumis" pada foto yah, tetapi lebih dari itu.

Salah satu contohnya adalah menghasilkan image seperti yang ada di atas, atau di bawah ini.

Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

Image di atas sebenarnya berasal dari satu foto saja, tetapi dengan diubah menjadi seperti di atas dengan memanfaatkan fitur double exposure.

Fitur apa saja yang terdapat di aplikasi Snapseed ?


Banyak .

Meski tidak sebanyak software pengedit foto yang berbasis komputer/desktop/laptop, fitur yang ditawarkan lebih banyak dari yang ditawarkan oleh aplikasi sejenis. Hal ini berarti ruang untuk berkreasi dan mengembangkan ide lebih luas.

Fitur-fitur ini terbagi dalam beberapa bagian, seperti :


LOOKS :

Bagian ini berisikan efek/filter yang bisa dipakai bagi yang hanya sekedar ingin fotonya tampil "beda" atau lebih baik. Cukup memilih efek yang sesuai dan kemudian hasil jadinya akan tampil dalam beberapa saat.

Ada 11 efek/filter bawaan yang bisa dipergunakan, dari filter portrait hingga silhouette.

TOOLS :


Bagian inilah yang sebenarnya paling menarik. Banyak sekali fitur yang bisa dipergunakan untuk mengedit foto, mulai dari croppin, double exposure, dan masih banyak lagi laginnya.

Belum di dalamnya juga terdapat fitur untuk mengubah "level", saturasi warna, menambahkan digital blur.

Bisa dikata fitur-fitur yang ada disini sangat berguna sekali bagi mereka yang gemar mengutak-atik foto agar tampil lebih indah. Yang seperti ini jarang ditemukan dari kebanyakan aplikasi pengedit foto untuk ponsel.


Mengenal Aplikasi Snapseed Yang Bisa Membuat Anda Menjadi Seniman Digital Dadakan

EXPORT :


Bagian yang terakhir dari 3 trio menu Snapseed ini berfungsi untuk menyimpan, memberi nama, atau membagikannya langsung ke media sosial.

Maklum lah, di zaman penuh orang serba narsis, banyak orang memang membutuhkan untuk memperbaiki foto agar mereka terlihat cantik atau ganteng di medsos. Dan, percayalah Snapseed akan bisa memenuhi kebutuhan yang satu ini juga.

Tetapi, sebenarnya, kalau memang mau, aplikasi Snapseed bisa dipergunakan lebih dari sekedar itu. Hanya butuh tambahan ide dan kemauan utak atik saja, maka seseorang bisa menjadi seniman digital (digital artist) dadakan. Bahkan, bisa dilakukan dimana saja, kapan saja. Sambil nongkrong di WC juga bisa kalau mau.


membuat iamge dengan fitur double exposure di aplikasi snapseed

Saya sendiri biasanya menggunakan aplikasi ini kalau sedang iseng ingin memperbaiki kontras atau brighteness sebuah foto kalau sedang di jalan. Kalau di depan komputer, saya lebih suka memakai GIMP.

Hanya, rasanya, di tangan mereka yang memang memiliki minat di bidang digital imaging, aplikasi ini bisa menghasilkan karya yang membuat orang berseru "WOOW", seperti yang sudah banyak ditemukan di Komunitas Fotografi Indonesia.

Cuma, memang tetap butuh ide dan kreativitas dari penggunanya.

Pertanyaannya, punyakah Anda minat, ide, dan kreativitas itu?
Read More

Thursday, November 28, 2019

Pelajaran Berharga Yang Didapat Dari Fotografi Yang Patut Direnungi

Pelajaran Berharga Yang Didapat Dari Fotografi Yang Patut Direnungi
In Frame : Aida Wijaya, Angkor Wat 2019
Pernahkah Anda melihat beberapa foto yang menggunakan obyek yang sama, kemudian lokasi pemotretan yang sama, tetapi memberikan nuansa dan kesan yang berbeda ? Pasti sudah pernah, bahkan mungkin sering karena biasanya seseorang akan memotret lebih dari satu kali di zaman ini dengan tujuan menemukan sudut pemotretan yang terbaik dan hasil foto yang paling bagus pula.

Iya kan ?

Yap, memang salah satu pelajaran paling penting dalam dunia fotografi adalah tentang sudut pengambilan gambar atau foto. Seorang yang berniat menjadi fotografer haruslah selalu mencoba menempa diri dan berusaha mencari sudut-sudut yang memungkinkannya mendapatkan hasil terbaik.

Tidak jarang seorang fotografer harus mau belepotan lumpur dan basah kuyup hanya untuk bisa mendapatkan foto yang menurutnya paling bagus.


Tapi, pernahkah kita menyadari bahwa hal yang seperti ini sebenarnya juga mengajarkan sesuatu yang bisa diterapkan dalam dunia nyata, dalam kehidupan sehari-hari?

Kita terbiasa berpola untuk berpegang teguh terhadap sesuatu yang kita rasa sebagai benar. Tidak jarang hal itu membuat kita "menyalahkan" orang lain karena berbeda pandang dengan kita sendiri. Tidak sedikit yang kemudian merendahkan mereka yang berpendapat berbeda.

Padahal, sebenarnya sudut pandang terhadap "sesuatu" bisa banyak sekali, tidak bedanya dengan begitu banyaknya kemungkinan sudut pengambilan gambar saat memotret. Hal yang sama tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja, tetapi tersedia ribuan kemungkinan lain.

Hasilnya, jelas akan berbeda. Tidak akan sama.

In Frame : Aida Wijaya, Angkor Wat 2019


Seorang yang memotret dari bawah akan melihat dan membuat obyek terlihat lebih tinggi dari seharusnya. Yang dari samping akan melihat kesan lebih langsing. Yang dari atas, lebih pendek dan kecil.

Padahal, obyeknya sama, di tempat yang sama juga. Perbedaan yang dihasilkan bukanlah dari obyeknya, tetapi dari sudut pengambilan fotonya saja.

Hal itu juga sebenarnya berlaku terhadap apapun di dunia. Sesuatu yang sama akan bisa melahirkan beragam sudut pandang, yang hasilnya bisa berbeda tipis atau berbeda jauh. Tidak akan sama dan pasti berbeda.

Yang mana yang terbagus dan terbaik pada akhirnya tergantung dari selera. Ibu-ibu akan menyukai foto dari samping karena akan memberi kesan lebih langsing dan perutnya tidak kelihatan. Yang bertubuh pendek, mungkin akan menyukai sudut pengambilan foto dari bawah karena akan memberi kesan dirinya lebih tinggi.

Semua bisa memilih sesuai keinginan dan seleranya.

Yang mana yang terbaaik sebenarnya adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh pribadi masing-masing dan tidak bisa dijadikan sama untuk semua orang. Pemaksaan agar orang lain mau menerima pandangan sendiri adalah sebuah kesalahan karena kebebasan menjamin semua orang memiliki hak untuk memilih.

Tidak bisa dipaksakan.

Dan, tidak boleh dipaksakan.

In Frame Aida Wijaya, Lokasi Angkor Wat 2019
Dan, itulah salah satu pelajaran berharga dari sebuah kegiatan kecil bernama memotret yang mungkin seharusnya ditiru dalam kehidupan sehari-hari.

Cobalah melihat segala sesuatu, seperti saat hendak memotret, dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu kita akan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda dan kita bisa merasakan juga berdiri di atas sepatu orang lain.

Pada akhirnya, suatu waktu kita bisa menjadi orang yang bukan hanya bisa mengecam, menyalahkan, merendahkan, tetapi orang yang bisa memahami, mengerti, dan kemudian menemukan solusi. Sesuatu yang rasanya lebih menyenangkan untuk didengar dan besar kemungkinan bisa meredam konflik yang biasa ditimbulkan dari sebuah pemaksaan kehendak atau pendapat kepada orang lain.

Setujukah Anda dengan pandangan ini ?
Read More