Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Sunday, May 26, 2019

4 Tips Mengatasi Rasa Minder Setelah Membaca Website/Blog Foto Terkenal


Tips Mengatasi Rasa Minder Setelah Membaca Website/Blog Foto Terkenal

Salah satu cara paling umum dalam belajar fotografi, terutama secara otodidak, adalah dengan berkunjung ke website atau blog foto milik fotografer terkernal. Contohnya, website Darwis Triadi, Darren Rowse dengan Digital Photography School, atau banyak blog lain yang sudah terkenal. Disana memang banyak sekali tips dan trik serta tutorial yang menjelaskan bagaimana membuat foto yang memukau.

Dan, memang banyak sekali pengetahuan yang bisa didapat dari sana.

Sayangnya, terkadang ada efek negatif juga hadir dalam diri seseorang setelah itu. Ada rasa minder alias rendah diri yang langsung terselip di dalam hati. Mau tidak mau, di blog-blog foto terkenal itu memang dipajang berbagai hasil karya yang kerap membuat orang ternganga karena keindahannya.

Jeleknya lagi, setelah kita mencoba berbagai tips dan triknya, ternyata hasilnya masih jauh dari apa yang diharapkan. Foto-foto kita masih saja terkesan jelek dibandingkan apa yang kita lihat disana.

Minder, rendah diri, merasa bodoh, tidak jarang langsung nongol tak tertahankan. Padahal, perasaan seperti ini justru menghambat perkembangan seorang fotografer pemula untuk beranjak maju.

Percayalah, saya pernah merasakan hal itu. Sampai sekarang pun sering rasa itu masih timbul.

Tips Mengatasi Rasa Minder Setelah Membaca Website/Blog Foto Terkenal

Nah, untuk mengatasi rasa rendah diri itu, yang mau tidak mau harus diatasi, caranya sebenarnya tidak sulit, walau tidak mudah. Yang perlu dilakukan hanyalah menerima beberapa fakta saja, seperti :

Experience Does Matter : Pengalaman Menentukan

Fotografi adalah skill dan dalam sebuah skill, pengalaman seseorang di bidangnya sangat berpengaruh besar terhadap keahlian yang dimilikinya.

Orang-orang di belakang website atau blog foto terkenal itu jelas sudah berpengalaman di bidang fotografi selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang sudah puluhan tahun.

Jadi, jangan coba bandingkan hasil sendiri yang baru bergelut di dunia fotografi selama beberapa tahun dengan mereka yang sudah lama. Jelas tidak sebanding. Lagipula, bukankah alasan kita berkunjung ke website/blog itu adalah untuk menimba ilmu? Mereka guru, kita murid.

Terima kenyataan ini dan jangan mencoba membandingkan. 

Gears Are Decisive : Peralatan Menentukan

Fotografer berpengalaman biasanya memperlengkapi diri mereka dengan peralatan terbaik (dan mahal). Peralatan dalam hal ini bukan hanya kamera, tetapi juga lensa, tripod, dan berbagai aksesori lainnya.

Belum lagi kelas kamera yang dipergunakan adalah high-end punya atau kelas atas dan diperlengkapi lensa seri L.

Dan, kebanyakan foto pada website atau blog foto milik fotografer terkenal, hampir semuanya dibuat dengan peralatan seperti ini.

Jangan coba bandingkan dengan kita yang masih bergelut memakai Canon 1400D atau Nikon D3300, alias kelas low-end. Hasilnya jelas beda.

Meski memang kamera bukanlah segalanya, tetapi bayangkan saja hasil foto dari seseorang yang memiliki kombinasi peralatan canggih dan skill mumpuni. 

Berat untuk mengimbangi. Terima kenyataan bahwa foto Anda akan sulit mengimbangi yang terpampang di website-website itu.

Tips Mengatasi Rasa Minder Setelah Membaca Website/Blog Foto Terkenal


Profesional (Ahli) Vs Amatir

Website atau blog foto terkenal biasanya dikelola oleh mereka-mereka yang hidup dan bergelut di dunia fotografi. Full time.

Oleh karena itu, mereka memang harus berbekal dan mengandalkan keahlian mereka. Tidak jarang mereka memiliki latar belakang pendidikan yang menunjang, seperti lulusan jurusan fotografi atau seni rupa.

Jangan bandingkan dengan kita yang kebanyakan masih amatir dan berbekal kemampuan yang didapat dari belajar sendiri.

Foto-fotonya Sudah Diedit

Hampir semua foto yang dipajang di blog goto blog foto terkenal sudah dikurasi atau diedit dengan berbagai cara. Jadi, kalau memang mau mencoba meniru, jangan hanya pada sisi fotografinya saja, tetapi kita juga harus belajar pengeditan fotonya juga.

Jadi, percuma saja memaksakan untuk memotret sesuai teori dan mencoba menghasilkan foto yang sama dengan yang ada di blog-blog itu karena semuanya sudah tidak 100% asli keluar dari kamera.



Yang perlu dilakukan untuk mengatasi rasa rendah diri seperti ini adalah dengan mengingat tujuan Anda berkunjung ke blog foto seperti itu, yaitu untuk BELAJAR.

Pelajari saja apa yang diajarkan disana, dan kemudian coba terapkan.

Jangan langsung minder dan kemudian tidak lagi membaca karena hasilnya malah lebih buruk lagi. Teruskan membaca berbagai tutorial disana dan coba terapkan dalam kehidupan fotografi kita.

Lakukan, lagi, lagi, dan lagi. Berulangkali.

Inti dari kemajuan dalam semua hal adalah belajar dan terus berusaha memperbaiki diri. Jangan berhenti hanya karena merasa minder melihat karya para fotografer terkenal. Jadikan mereka inspirasi dan tempat menggali ilmu.

Buang saja minder dan rendah dirinya ke tempat sampah.
Read More

[GIMP #3] Fitur FREE SELECT Untuk Memilih Bidang Yang Bentuknya Tidak Beraturan

[GIMP #3] Fitur FREE SELECT Untuk Memilih Bidang Yang Bentuknya Tidak Beraturan
Vap Go Meh Bogor 2017
Fitur FREE SELECT adalah fitur pada GIMP (GNU Image Manipulation Program) yang disediakan untuk memilih bidang yang bentuknya "tidak beraturan". Maksudnya bidang yang bentuknya tidak berbentuk persegi (Rectangle) atau bulat (Ellipse).

Sebagai contoh, foto, atau tepatnya image di atas memakai efek selective color alias hanya satu bagian saja yang berwarna, sisanya tidak. Untuk membuatnya, kita harus bisa memisahkan bagian tersebut sebelum kemudian menjadikan sisanya hitam putih.

Masalahnya, bentuk lampion atau lentera pada foto itu tidak persegi, artinya kita tidak bisa memakai RECTANGLE SELECT, juga tidak bulat/bundar yang berarti ELLIPSE SELECT tidak berarti.

Baca juga : :


Lalu, bagaimana memilih bidang dengan bentuk seperti itu? Jawabannya adalah fitur FREE SELECT.

Fitur ini memberikan kebebasan pengedit foto untuk memilih bidangnya sendiri. Ia bisa mengikuti garis-garis lengkung atau bentuk apapun.

Caranya adalah seperti langkah-langkah di bawah ini.

1 Pilih foto yang akan diedit (sebagai contoh , image kotak-kotak di bawah ini akan diedit memakai selective color)


2. Klik Menu TOOLS akan keluar drop down berisi sub menu

3. Pilih Free Selects. Kursor akan berubah menjadi gabungan kursor dengan "untaian tali"

4. Tentukan titik awal dimana pemilihan bidang akan dilakukan dengan meletakkan kursor disana dan kemudian lakukan klik. Akan keluar bulatan kuning . Lanjutkan dengan kemudian melingkupi semua bagian yang hendak diedit hingga berada dalam garis putus-putus.

Perhatikan : titik awal harus menjadi titik akhir pemilihan bidang agar garis putus-putus keluar



5. Free select sudah aktif ketika garis putus-putus sudah tampak berarti bidang itulah yang akan diedit. Sebagai contoh saya akan menambahkan menu "desaturate" untuk menjadikan bagian yang dikotaki tadi menjadi hitam putih



Nah, itulah guna dari fitur free select.

Dengan adanya fitur ini kita bisa mengedit bagian per bagian dari foto atau image yang memang biasanya bentuknya beragam.

Fitur ini akan sangat diperlukan saat mengedit foto karena biasanya obyek yang akan diedit memang jarang yang berbentuk persegi atau bulat.

Silakan mencoba.
Read More

[FOTO] STARLING - Starbucks Keliling

Pernah dengar istilah STARLING ? Jika Anda tinggal di ibukota Indonesia, Jakarta, rasanya pasti pernah setidaknya melihatnya. Betul sekali, meski mungkin Anda tidak pernah mendengar, tetapi setidaknya pasti pernah melihatnya berkeliling di jalanan kota besar itu.

Starling sendiri merupakan singkatan STARBUCKS KELILING. Tentunya, sudah pasti tidak ada kaitannya dengan merk kopi ternama dunia itu. Julukan ini diberikan kepada pedagang kopi keliling yang biasanya menggunakan sepeda menyusuri jalanan mencari pembeli.

Jenis kopinya sendiri, tidak beda dengan yang biasa dijual di warung kopi, yaitu kopi sasetan berbagai merk. Terkadang, mereka juga akan menawarkan makanan siap saji, seperti Indomie.

Penampakannya seperti di bawah ini.


STARLING - Starbucks Keliling

STARLING - Starbucks Keliling


STARLING - Starbucks Keliling

STARLING - Starbucks Keliling

STARLING - Starbucks Keliling

Read More

Perhatikan Kebersihan Lensa Kamera Sebelum Memotret ! AC Hotel Bikin Deg-Degan

Kamera adalah senjata seorang fotografer, tidak beda dengan senapan bagi seorang prajurit. Oleh karena itu, ia harus merawatnya dengan baik untuk memastikan bahwa kameranya siap pakai setiap saat.

Seringkali hal-hal kecil yang terlupakan menjadi penghalang dan penyebab utama gagalnya seorang fotografer mendapatkan foto yang bagus. Momen yang bagus juga sering terlewat karena ketidaksiapan peralatan utamanya.

Pengalaman tersebut saya rasakan beberapa waktu yang lalu. Kelalaian dalam menjaga kebersihan lensa kamera kesayangan, Canon 700 D sempat membuat kekhawatiran muncul ada masalah pada kameranya.

Saat itu, saat sedang berkunjung ke Semarang, salah satu obyek yang menarik adalah Bus Trans Semarang. Sebuah hal yang menarik untuk dijadikan bahan tulisan bagi salah satu blog yang saya kelola.

Singkatnya, ketika melihat hasil jepretan, ternyata hasilnya seperti berkabut. Ada lapisan putih tipis terlihat pada hasil foto di layar monitornya.

Perhatikan Kebersihan Lensa Kamera Sebelum Memotret ! Bisa Bikin Deg-Degan

Ketika dicoba sekali lagi, hasilnya pun tetap sama.

Perhatikan Kebersihan Lensa Kamera Sebelum Memotret ! Bisa Bikin Deg-Degan

Padahal, saya cukup yakin bahwa lensa kamera sudah dibersihkan sebelum keluar dari kamar hotel. Sempat deg-degan karena dipikir ada masalah dengan lensa atau kamera yang dipergunakan.

Setelah dilihat ulang, kamera berjalan dengan sempurna. Hanya saja, ada masalah sedikit yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yaitu adanya embun di lensa fix 50 mm yang dipakai. Rupanya embun tipis itu hadir karena AC di hotel terlalu dingin dan membuat uap air menempel pada lensa.

Setelah dibersihkan, masalah terselesaikan dengan baik. Hasil fotonya pun kembali seperti yang diharapkan. Tajam dan jelas.

Perhatikan Kebersihan Lensa Kamera Sebelum Memotret ! AC Hotel Bikin Deg-Degan

Sebuah pelajaran penting untuk selalu memeriksa kebersihan lensa sebelum dipergunakan, dan bukan hanya sebelum kamera dibawa. Ada kemungkinan masalah timbul dalam rentang waktu yang ada.

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah masalah timbul selama itu.

Jadi, satu-satunya cara untuk memastikan foto yang dihasilkan sesuai keinginan adalah dengan memeriksa kesiapsediaan kamera sebelum memotret.

Jangan sampai karena masalah kecil, hasil fotonya menjadi mengecewakan.
Read More

Saturday, May 25, 2019

[FOTO] Kecantikan Pemandangan Laut Di Pantai Klara Lampung Yang Terekam Kamera Smartphone : Biru

Pantai Klara merupakan salah satu tujuan wisata yang lumayan hits di propinsi Lampung. Tempat yang namanya merupakan singkatan dari Kelapa Rapat ini menyajikan banyak hal yang sulit terlupakan bagi yang pernah berkunjung kesana.

Salah satunya adalah pemandangan laut yang sangat biru dan memukau, selain tentunya pantai pasir putih dan air lautnya yang bening.

Silakan dilihat sendiri.

[FOTO] Kecantikan Pemandangan Laut Di Pantai Klara Lampung Yang Terekam Kamera Smartphone : Biru

[FOTO] Kecantikan Pemandangan Laut Di Pantai Klara Lampung Yang Terekam Kamera Smartphone : Biru

[FOTO] Kecantikan Pemandangan Laut Di Pantai Klara Lampung Yang Terekam Kamera Smartphone : Biru

Foto dibuat menggunakan kamera smartphone saja, Asus Padfone atau Asus T00N. Perbaikan kontras dan warna dilakukan dengan menggunakan aplikasi GIMP (GNU Image Manipulation Program).

Siapa bilang kamera smartphone tidak bisa menghasilkan foto yang bagus.

(Karya Arya Fatin Krisnansyah)
Read More

Mengapa Seorang Fotografer Harus Belajar Mengedit Foto ? Bukankah Itu Perbuatan Curang ?

Pernahkah Anda bertanya apakah seorang fotografer harus juga belajar mengedit foto selain menghasilkannya lewat kamera ? Pernahkah Anda mempertimbangkan apakah hal itu termasuk perbuatan curang atau tidak ?

Bila Anda belum pernah berpikir tentang hal yang satu ini, ada baiknya coba merenungkan dan mencoba menemukan jawabannya.

Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa banyak sekali pro dan kontra terkait sah atau tidaknya mengedit foto. Perdebatan panas terjadi di sana sini, via internet atau bahkan ketika para fotografer bertemu di warung kopi. Terkadang diskusi bisa menjadi panas karena masing-masing mempertahankan argumennya.

Yang pro menekankan kalau hal itu memang sejak dahulu sudah dilakukan dan sekarang dipermudah dengan perkembangan teknologi yang melahirkan berbagai aplikasi pengedit foto. Yang kontra berargumen bahwa sebuah foto haruslah dilakukan lewat kamera dan bukan komputer.

Percayalah, argumen keduanya sama masuk di akalnya.

Tetapi, selama lebih dari 4 tahun menggeluti dunia fotografi, meski cuma sebagai penggemar dan pecinta saja, saya menemukan satu hal penting yang bisa menjadi jawaban terhadap pertanyaan seperti itu.

Coba saja lihat di bawah ini.

Mengapa Seorang Fotografer Harus Belajar Mengedit Foto ? Bukankah Itu Perbuatan Curang ?
Eco Art Park, Sentul Bogor - 2016
Foto "Optimus Prime" di atas dijepret lewat kamera prosumer Fuji Finepix HS 35EXR, kamera pertama selain ponsel yang saya punya.

Bagi masyarakat awam, mungkin masuk dalam kategori lumayan. Setidaknya bisa menggambarkan kalau di salah satu tempat wisata di Kabupaten Bogor ada sebuah patung lucu terbuat dari berbagai bahan bekas. Lumayan bisa mengundang perhatian.

Meskipun demikian, sebenarnya foto tersebut, bagi saya sendiri kurang memuaskan. Terlalu gelap dan subyek utama foto, si Optimus Prime tidak menonjol dan hampir berbaur dengan latar belakangnya. Maklum saja kemampuan si prosumer itu masih kurang kalau dibandingkan DSLR atau Mirrorless dalam hal ketajaman.


Nah, sekarang bandingkan dengan due foto (atau image) di bawah ini.

Mengapa Seorang Fotografer Harus Belajar Mengedit Foto ? Bukankah Itu Perbuatan Curang ?
Hasil Edit dengan GIMP 1

Mengapa Seorang Fotografer Harus Belajar Mengedit Foto ? Bukankah Itu Perbuatan Curang ?
Hasil Edit GIMP 2
Nah, rasanya, pendapat Anda pun akan sama bahwa foto setelah diedit lebih enak dilihat. Obyeknya menonjol dibandingkan latarnya.

Pengeditan dilakukan hanya dengan memanfaatkan menu SELECT, CONTRAST, BRIGHTNESS, dan filter GAUSSIAN BLUR saja. Tidak ada penambahan obyek baru. Hasilnya enak dilihat.

Dari pengalaman ini, terlihat bahwa sebuah foto yang kalau tanpa diedit sudah masuk "trash bin" atau tong sampah, ternyata bisa diselamatkan dan bisa dipertunjukkan kepada orang lain.

Berarti, tenaga, waktu, usaha sang fotografer tidak jadi terbuang percuma. Banyak yang terselamatkan dengan mengedit foto usang tak berguna itu.

Bukankah hal itu berarti membawa KEBAIKAN? Sesuatu yang membawa kebaikan bagi kehidupan manusia tidaklah seharusnya disia-siakan.

Belum lagi pada kenyataannya, di masa lalu pun usaha "mengedit foto" sudah dilakukan.dengan cara "mentusir" yang dilakukan ketika foto berada di "kamar gelap". Juga, bukankah HDR (High Dynamic Range) sudah juga dilakukan berpuluh tahun yang lalu dengan menggabungkan beberapa bagian terbaik dari beberapa foto ke dalam satu saja?

Usaha manusia untuk menghasilkan sebuah foto yang indah dan enak dilihat dengan cara mengeditnya sudah dilakukan sejak lama dan bukan baru-baru ini. Saat itu semua menerima. Bedanya hanyalah, di masa sekarang, semua orang bisa melakukannya dan dilakukan dengan cara yang lebih mudah, yaitu dengan software saja. Tidak perlu repot.

Sejak lama, manusia berusaha untuk mencari kesempurnaan dalam hal apapun, termasuk dalam dunia fotografi.

Lagipula, jika ditilik dari sudut seni, fotografi adalah seni melukis dengan spektrum cahaya. Seni, kata kuncinya, adalah sebuah bidang dimana kebebasan menjadi intinya. Manusia harus bebas berekspresi dengan berbagai cara.

Seni lukis sekalipun, yang di masa lalu hanya mengandalkan kanvas, kuas, dan cat saja berkembang di masa sekarang. Banyak yang menggunakan media lain, seperti kain,  tembok, dan cara melukisnya pun bukan dengan kuas saja, ada yang menggunakan anggota badannya.

Semua berkembang.

Jadi, bisa dikata, pengeditan foto adalah sisi perkembangan tidak terelakkan dalam dunia fotografi seiring dengan berkembangnya teknologi dan pemikiran manusia.

Mengedit foto juga tidak bisa dianggap perbuatan curang karena tidak ada aturan dan keharusan bagaimana seharusnya fotografi harus dilakukan.

Meskipun demikian, pada akhirnya memang tetap harus ada batasan seiring dengan lahirnya dunia baru, yaitu digital imaging atau pembuatan image secara digital. Bidang yang satu ini berbeda karena tidak lagi pembuatnya tidak lagi menggunakan kamera, ia bisa langsung mengambil foto dari mana saja, atau bahkan membuatnya sendiri.

Oleh karena itulah, dalam setiap perlombaan atau kontes foto di dunia, disebutkan batasan khusus tentang batas mengedit foto yang diperbolehkan. Biasanya tidak diperkenankan untuk menambahkan obyek ke dalamnya (masuk wilayah digital imaging), perbaikan foto sebatar burninc, cropping, dan sejenisnya.


Jadi, karena mengedit foto - menurut saya (dan kebanyakan orang)- bukanlah perbuatan curang. maka seorang fotografer harus juga belajar mengedit foto. Hal itu akan membantunya menghasilkan foto yang lebih baik dari yang mampu dilakukan kameranya.

Dengan catatan, bukan sebuah keharusan. Bila sebuah foto sudah dianggap bagus oleh fotografernya, ya tidak perlu diedit.

Read More

[GIMP #2] Mengenal ELLIPSE SELECT - Memilih Bidang Berbentuk Bulat Atau Lonjong

Apa sih fungsi ELLIPSE SELECT pada GIMP, GNU Image Manipulation Program (dan beberapa photo editing software atau aplikasi pengedit foto lain)?

Bayangkan saja begini. Terkadang saat melakukan pengeditan foto, kita dihadapkan pada obyek dalam foto yang berbentuk bulat atau lonjong. Aau, ketika kita ingin agar fotonya berada dalam sebuah lingkaran, seperti di bawah ini :


Tentunya hal itu akan sulit dilakukan dengan menggunakan RECTANGLE SELECT atau pemilihan bidang berbentuk persegi.

Nah, untuk melakukan editing seperti ini lah dihadirkan fitur ELLIPSE SELECT, yang artinya pemilihan bidang berbentuk bulat. Bukan hanya bulat sebenarnya karena ellipse sendiri dalam bahasa Indonesia berarti elips atau oval atau lonjong.

Fitur ini memang disediakan bagi mereka yang ingin mengedit bagian dalam sebuah image atau foto yang berbentuk bundar.

Posisi fitur ini dalam GIMP berada di bagian TOOLS (Alat). Caranya :


  • Klik menu "Tools" (atau klik kanan mouse/touchpad di komputer dengan kursor berada di atas image/foto)
  • Keluar sub menu "Selection Tools", klik dan tahan
  • Akan keluar beberapa pilihan lain, diantaranya ada ellipse select


[GIMP #2] Mengenal ELLIPSE SELECT - Memilih Bidang Berbentuk Bulat Atau Lonjong


  • Setelah menu diklik maka kursor akan berubah menjadi " + "
  • Letakkan dan tarik agar terbentuk bidang yang dibatasi garis putus-putus
  • Bentuk bulat/bundar atau lonjong tergantung pada kemauan (tampilannya kira-kira seperti di bawah ini)


[GIMP #2] Mengenal ELLIPSE SELECT - Memilih Bidang Berbentuk Bulat Atau Lonjong

Ellipse select , seperti juga berbagai menu pemilihan lainnya sangat berguna pada saat melakukan editing atau ketika hendak melakukan cropping atau pemisahan obyek tertentu.

Jadi, fitur ini akan sangat berguna ketika nanti hendak melakukan perubahan terhadap image atau foto.
Read More