Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Saturday, June 15, 2019

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Hendak memotret benda bergerak, seperti motor atau mobil yang sedang berjalan, tetapi tidak yakin bahwa satu kali jepretan akan cukup menghasilkan foto yang diinginkan ? Aktifkan saja "Burst Mode" pada kamera sehingga kita bisa melakukan Continous Shooting .

Apa itu Burst Mode Atau Continous Shooting?

Burst sendiri dalam bahasa Inggris berarti ledakan. Coba bayangkan saja situasi di kala Tahun Baru dimana orang-orang meluncurkan petasan ke udara dan kemudian terjadi ledakan yang memancarkan cahaya berulangkali dari satu peluncuran.

Nah, intinya kira-kira sama seperti itu.

Burst Mode atau kerap juga dikenal dengan Continous Shooting adalah sebuah fitur yang biasa tersedia dalam kamera digital, seperti DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Fitur ini akan memberi keleluasaan seorang fotografer untuk mengambil satu seri foto secara berurutan hanya dnegan menekan tombol shutter release sekali.

Selama tombol shutter release tertekan, maka kamera akan terus mengambil foto sampai jarinya dilepaskan.

Contoh foto di bawah ini :
Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan
 

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan


Kapan Menggunakan Burst Mode ?

Sebenarnya tidak ada kapan tepatnya burst mode atau continous shooting dilakukan. Penggunaannya akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari fotografernya sendiri. Meskipun demikian, biasanya mode ini akan dipergunakan ketika

1. Hendak memotret benda bergerak

Sebuah obyek yang bergerak memperkecil kemungkinan untuk mendapatkan foto yang diinginkan dalam sekali jepretan saja. Untuk itu, seorang fotografer biasanya memperbesar peluang itu dengan berusaha mengambil beberapa kali jepretan dalam sekali waktu

2. Memotret Dari Berbagai Sudut

Saat memotret model atau obyek statis pun , fitur ini bisa dipergunakan, yaitu ketika sang fotografer berniat memotret dari banyak sudut sambil bergerak. Dengan begitu ia hanya perlu bergerak sambil tidak melepaskan jarinya dari shutter release.

Ia bisa bergerak sambil tetap merekam gambar.

3. Membuat Foto Berseri

Membuat seri/kolase foto yang menggambarkan urutan kejadian dan bukan video? Gampang, pakai saja burst mode. Kamera akan merekam foto secara terus menerus dalam satu kali menekan tombol dan hasilnya adalah sebuah seri foto yang menjelaskan sebuah momen secara runtut dan berurutan.

----

Secara default, burst mode akan berada dalam posisi off alias tidak aktif. Jadi, untuk bisa melakukankannya setting ini harus diubah dulu di bagian "Menu". Bisa juga dilakukan melalui LCd Monitor untuk kamera yang memiliki fasilitas touch screen (layar sentuh)

Nah, itulah yang disebut dengan Burst Mode atau Continous shotting mode.
Read More

Wednesday, June 12, 2019

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !
Rusa Totol Istana Bogor 2017

Megapixel (MP), megapixel, dan sekali lagi megapixel. Kata ini selalu diulang-ulang dalam setiap iklan kamera, terutama kamera ponsel pintar/smartphone. Pada spesifikasi yang ditawarkan fitur kameranya selalu mengedepankan besarnya ukuran megapixel yang diusung sebuah kamera. Iya kan?

Dan, hasil promosi itu membuat banyak orang membayangkan bahwa ukuran megapixel yang semakin besar sama artinya dengan kualitas foto yang semakin baik. Oleh karena itu, setelah mereka membeli terkadang mereka kaget sendiri karena ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Banyak yang kemudian membandingkan antara dua kamera yang memiliki ukuran megapixel (resolusi) yang sama, tetapi hasil fotonya berbeda. Tidak sedikit kemudian yang merasa kecewa dan tertipu karena hal ini.

Bagaimana hal ini terjadi? Kenapa dua kamera dengan ukuran megapixel yang sama ternyata hasilnya bisa berbeda jauh dalam hal ketajaman dan kualitas fotonya?

Jawabnya karena LENSA dan SENSOR kameranya.

Lensa dan sensor yang berkualitas biasanya akan bisa menghasilkan foto yang tajam dan juga detail yang bagus. Terlepas dari ukuran resolusi fotonya. Meskipun sama ukuran resolusinya, kalau kedua faktor ini berbeda hasilnya ya jelas berbeda.

Besaran resolusi hanya berkaitan dnegan ketika sebuah foto harus dicetak ke atas kertas. Contohnya, jika sebuah foto dengan resolusi 24 MP dicetak di atas kertas ukuran 100 xm x100 cm akan terlihat lebih baik dan tidak pecah. Berbeda halnya dengan kalau foto ukuran 10 MP dicetak di kertas berukuran sama. Hasil jadinya jelas akan terlihat pecah dan tidak enak dilihat. Bintik-bintiknya akan terlihat jelas sekali.

Hal itu bisa terjadi karena ukuran dot pada foto 24 MP lebih kecil dan rapat dibandingkan yang 10 MP.

Tetapi, resolusi itu tidak berkaitan langsung dengan ketajaman atau kecerahan warna sebuah foto.

Berbeda dari banyak yang dibayangkan orang, ukuran megapixel sebenarnya tidak menjamin kualitas foto, melainkan ukuran foto itu sendiri.

Jadi, kalau ada dua kamera dengan besaran MP yang sama belum tentu punya kualitas foto yang berbeda. Banyak foto full frame (sensor) berukuran 18 MP dan kalau dibandingkan dengan kamera APS-C (Crop Sensor) hasil fotonya akan terlihat lebih baik dari segi ketajaman dan kecerahannya. Itu karena sensornya punya bidang yang lebih besar sehingga bisa menangkap cahaya dan menampilkan detail dengan baik.

Megapixel bukanlah segalanya dan bukan penentu kualitas foto.

Jangan salah paham.

Read More

Tuesday, June 11, 2019

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Banyak orang berpendapat untuk menimbulkan rasa, emosi, seorang fotografer harus mengeluarkan semua kemampuan dan pengetahuannya tentang teknik memotret yang baik dan benar. Memang salah satu tujuan utama dari sebuah foto adalah membangkit rasa dan emosi dalam diri yang melihat.

Sebenarnya pendapat itu tidak tepat benar. Ada banyak saat ketika teknik memotret tidak lah menjadi sesuatu yang penting dan berada pada posisi nomor 2 atau 3 atau 4 atau bahkan sepuluh.

Contoh saat seperti ini adalah pada acara kumpul keluarga, seperti pada saat Lebaran atau acara ulang tahun atau berwisata dengan keluarga. Saat seperti ini kemampuan memotret seringkali bisa diabaikan.

Cukup dengan memastikan semua orang masuk ke dalam bidang foto.

Tidak perlu bokeh. Tidak perlu lurus. Bahkan, agak kabur sedikit sekalipun juga tidak masalah selama wajah mereka-mereka yang di dalam foto bisa terlihat. Meski tentunya foto yang tajam dan cerah tetap diharapkan, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Rasa itu akan tetap timbul .

Hal ini bisa terjadi karena bagaimanapun kamera dan memotret memiliki fungsi utama untuk merekam momen. Dan, foto itu suatu waktu akan menyimpan kenangan seorang atau beberapa manusia di suatu tempat dan pada suatu waktu.

Baca juga : Dua Fungsi Utama Fotografi

Dan, suatu waktu foto-foto itu, di saat dilihat ulang beberapa tahun kemudian, secara otomatis akan membangkitkan kenangan di masa itu. Tergantung dalam situasi seperti apa foto itu dibuat, maka rasa itu akan kembali dibangkitkan. Entah rasa sedih, gembira, bahagia, marah, akan mencuat kembali di saat foto itu disajikan di hadapannya.

Tidak peduli apakah sudah sesuai dengan berbagai teori fotografi atau tidak, percayalah emosi akan hadir di dalam hati mereka yang melihat.

Coba saja hadirkan sebuah foto lama dari seorang anak berusia 3 tahun beberapa belas tahun kemudian kepada seorang ibu. Hampir pasti rasa yang hadir di hatinya lebih mendalam dibandingkan dengan ketika ia memandang foto model cantik atau pemandangan.

Sang ibu akan merasa bahwa foto itu lebih berharga dibandingkan apapun. Semua karena foto itu membangkitkan berbagai kenangan di dalam hatinya tentang sang anak yang sudah beranjak dewasa.

Tidak peduli foto itu diambil serampangan dengan tangan atau kaki terpotong, yang dianggap fotografer sebagai sebuah kesalahan.

Saat dimana teknik memotret tidak penting sama sekali adalah ketika foto menjalankan fungsi asalnya, yaitu merekam momen dan kemudian membangkitkan kenangan tentang suatu masa. Pada saat itu, fotonya sendiri secara teknis tidaklah bagus, tetapi semua menjadi bagus karena ia membangkitkan kenangan akan hal-hal tertentu di suatu masa.

Masih tidak percaya? Cobalah melihat foto-foto saat masa sekolah dulu bersama teman-teman lama. Pastilah Anda akan tidak peduli akan berbagai teori fotografi. Yang penting diri Anda berada disana bersama teman-teman. Apalagi bila ada di antara mereka yang sudah berpulang.

Iya kan?
Read More

Thursday, May 30, 2019

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan
CGM Bogor Street Festival 2016
Mengapa harus tahu cara hemat baterai kamera? Percayalah, Anda tidak akan mau mengalaminya dan jangan sampai tahu rasanya.

Menyebalkan ! Pastinya begitu. Bagi seorang fotografer atau penggemar fotografi, tidak ada yang lebih menyebalkan saat sedang seru-serunya hunting foto dan melihat banyak momen menarik, kemudian ketika hendak menjepretkan kamera, baterainya sekarat. Sinyal baterai di layar kedap-kedip dan berwarna merah.

Bete banget rasanya.

Saya pernah mengalaminya saat sedang meliput kegiatan Cap Go Meh Bogor atau CGM Bogor Street Festival 2019 Februari lalu. Baterai habis bahkan ketika pawai baru saja dimulai. Banyak momen menarik yang terpaksa terlewat karena tidak ada daya dari baterai untuk menggerakkan kamera.

Memang, kehabisan baterai bukanlah yang terburuk, karena ada yang lebih konyol dan menyebalkan lagi, tetapi tetap saja rasanya kesal. Apalagi melihat rekan sesama fotografer asyik berburu kesana kemari dan saya hanya bisa lebih banyak menonton dan diam saja.

Baca : Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Oleh karena itu, salah satu hal yang perlu dikuasai, selain masalah teknis memotret, adalah tentang bagaimana bisa hemat baterai saat hunting foto. Pelajaran kecil, yang sayangnya sempat saya lupakan saat itu. Nasib, tapi yang namanya manusia.

Nah, bila Anda tidak ingin mengalami hal yang sama, ada beberapa tips untuk hemat baterai kamera dikala berburu momen. Apalagi kalau Anda dipercaya meliput sebuah acara dan dibayar, yang pasti akan lebih menyusahkan kalau hal seperti ini terjadi.

Tips Hemat Baterai Kamera Saat Hunting Foto

Tidak butuh pengetahuan khusus dan teknis, tetapi butuh ketelitian, mulai dari persiapan hingga saat akhir. Banyak hal yang biasa dilakukan sebenanrya membuat daya dalam baterai cepat habis, dan sebisanyya hal ini harus dihindari.

1. Pastikan baterai terisi full (penuh)


Langkah paling awal memang tidak berkaitan langsung dengan penghematan, tetapi yang satu ini teramat sangat penting karena sering masalah terjadi karena lalai memperhatikan hal ini.

Banyak dari kita mengandalkan sinyal "baterai" pada kamera untuk mengetahui daya yang tersisa. Iya kan?

Masalahnya, sinyal ini kerap menipu. Simbol baterai akan tetap menunjukkan tanda "penuh" meskipun sudah dipakai beberapa puluh kali. Coba saja sendiri kalau tidak percaya. Padahal, daya yang sudah ada di dalam baterai sudah berkurang.

Jadi, sebelum berangkat hunting, "charge" ulang lagi baterai sampai penuh. Jadi, daya yang sudah terpakai bisa digantikan.

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan
Tugu Kujang, Bogor 2016

2. Matikan Kamera Saat Tidak Digunakan


Siap sedia itu perlu, kita selalu ingin kamera standby setiap saat. Untuk itulah terkadang kita tetap membiarkan kamera pada posisi "menyala".

Padahal, kenyataannya, saat hunting foto, kita tidak selalu harus dalam kondisi siap sedia. Saat mengobrol dengan sesama fotografer atau teman, pastinya kamera tidak dibutuhkan. Begitu juga saat istirahat, makan, minum, kamera seharusnya dibiarkan beristirahat juga.

Membiarkannya menyala sama artinya dengan menyedot terus daya baterai dan membuatnya mubazir.

Jadi, matikan kamera saat tidak diperlukan. Dengan begitu, dayanya akan tetap ada sampai dibutuhkan.

3. Kurangi Melihat Hasil Foto


Salah satu kebiasaan yang sering tidak disadari membuat daya kamera cepat habis, yaitu sering melihat hasil jepretan.

Memang susah dihindarkan karena setiap orang ingin tahu apakah foto yang dijepretnya bagus atau tidak. Cuma, untuk melihatnya kamera akan memakan daya baterai dan semakin sering dilakukan, maka semakin cepat pula daya tersedot dan kemudian habis.

Tips untuk menghindari hal itu terjadi, kurangi kebiasaan melihat hasil foto setelah menjepretnya. Terus terang bakalan sulit dilakukan karena membutuhkan pembiasaan dan kepercayaan diri bahwa fotonya akan bagus.

4. Kurangi Memotret Dengan Flash Internal


Coba saja kalau tidak percaya. Memotret memakai flash atau lampu kilat internal akan mempercepat habisnya baterai kamera.

Mau tidak mau karena untuk menyalakannya, maka flash akan menyedot daya dari baterai yang sama.

Penyelesaiannya bisa dilakukan karena ada opsi lainnya, yaitu meningkatkan ISO, memakai aperture lebih besar, atau memakai shutter speed yang lebih lama. Semua tidak memakan daya baterai.


5. Matikan Fitur Yang Tidak Penting (Berkaitan Dengan Memotret)


Kamera digital zaman sekarang memang menyenangkan dan mempermudah fotografer. Banyak sekali fitur-fiturnya, bahkan untuk langsung upload ke medsos sekalipun sudah disediakan, seperti wi-fi.

Cuma, tetap saja fitur itu membutuhkan daya untuk menyalakannya dan semakin banyak fitur yang aktif pada kamera, berarti daya baterai akan semakin cepat habis.

Matikan fitur-fitur yang tidak berkaitan langsung dengan memotret, seperti wi-fi, pemandu fokus, suara bip saat fokus terkunci.

Dengan mematikan fitur-fitur ini, tentunya pemakaian daya baterai bisa lebih hemat.

6. Matikan Fungsi Preview / pratinjau


Kamera DSLR atau Mirrorless akan secara otomatis menampilkan hasil jepretan selama beberapa saat setelah shutter release ditekan. Ini secara default dilakukan.

Hasilnya, sama juga dengan kalau kita melihat hasil foto, yaitu memakan daya baterai.

Lebih baik kalau settingnya diubah dan pratinjau atau preview tidak diaktifkan. Jadi, bisa lebih hemat pemakaian baterainya.

7. Jangan Membuat Video


Kamera digital sekarang juga bisa menjadi pembuat video. Salah satu fitur yang membuatnya menjadi dual fungsi.

Masalahnya, membuat video memakan daya baterai lebih banyak daripada memotret. Bila untuk memotret, baterai kamera bisa bertahan beberapa ratus jepretan, untuk membuat video, mungkin hanya bertahan beberapa puluh menit saja.

Bila memang targetnya mendapatkan foto, sebaiknya kurangi keinginan membuat video pada saat yang sama. Hal itu agar baterai bisa tahan lebih lama.

8. Matikan VR atau IS Pada Lensa


Jangan salah juga, lensa kamera DSLR atau Mirrorless juga bisa membuat kita tidak hemat baterai kamera. Ada fitur-fitur stabilisasi foto, seperti VR (Nikon) atau IS (Canon) yang gunanya agar guncangan tangan bisa teredam dan fotonya tetap fokus dan tajam.

Nah, fitur-fitur ini juga menggunakan daya baterai kamera karena keduanya tidak memiliki sumber daya sendiri. Jadi, kalau sering digunakan, ya bisa menyebabkan baterai kamera cepat habis juga.

Matikan saja ketika memang tidak diperlukan, seperti saat memotret di siang hari.



9. Potret Yang Penting Saja


Semakin banyak memotret memang tidak jelek karena berarti semakin banyak pilihan dan semakin banyak yang direkam. Masalahnya, ya itu dia, setiap jepretan akan membutuhkan daya baterai dan berarti daya baterai akan semakin cepat kering.

Repot memang.

Tetapi, kalau sudah terbiasa di lapangan, seorang fotografer akan bisa memilah mana kondisi yang memungkinkan mendapat foto yang bagus, mana yang tidak. Jadi, mereka bisa memilah mana yang penting dan tidak.

Yang tidak penting, tidak usah diambil.

Dengan begitu, kita bisa hemat baterai.

10. Jangan Menggunakan Live View Terlalu Sering


Live View atau memotret sambil melihat layar monitor kamera memang menyenangkan karena bisa melihat hasil terlebih dahulu sebelum menekan shutter release. Ukurannya lebih nyaman bagi mata.

Sayangnya, untuk menampilkan gambar di monitor, perlu daya, dan daya itu diambil dari baterai kamera. Semakin sering melakukannya, semakin cepat daya baterai kering.

Masalahnya, pada kamera Mirrorless, Viewfinder/Lubang Intip-nya juga elektrik dan bukan optical . Artinya bahkan memotret tanpa Live View pun kalau memakai kamera Mirrorless akan tetap berpotensi menghabiskan daya baterai.

11. Kecerahan Layar Monitor Juga Menyedot Daya


OK lah kalau memang mau memotret dengan Live View atau karena memakai Mirrorless yang memberikan dilema.

Tapi, coba kurangi kecerahan layar monitornya. Sama dengan komputer juga, semakin cerah layarnya, semakin besar daya yang digunakan. Bisa tidak hemat baterai kamera kalau terlalu cerah.

12. Jangan Lupa Bawa Smartphone


Peralatan yang tidak boleh dilupakan, yaitu sebuah smartphone. Bukan cuma karena fotografer butuh komunikasi, tetapi karena ponsel pintar itu punya yang namanya "KAMERA".

Kamera itu tentunya tidak sebaik kamera DSLR/Mirrorless, tetapi fungsinya bisa digunakan untuk mengabadikan momen-momen yang tidak terlalu penting atau tidak terlalu berpotensi menghasilkan foto yang bagus.

Bila sekedar untuk dokumentasi, bisa memakai smartphone saja. DSLR-nya bisa dipakai nanti kalau ada momen yang penting. Apalagi kalau smartphonenya Samsung Galaxy S9 atau iPhone, pasti sudah lebih dari cukup untuk memotret.


Yang terbaik memang membawa baterai cadangan. Dengan begitu, kalaupun baterai yang satu habis, ada backup yang bisa memperpanjang waktu hunting foto.

Meskipun demikian, tetap saja, kalau pemotretnya "boros" dan tidak memperhatikan hal-hal seperti itu, baterai kamera akan cepat habis bahkan sebelum kita merasa "selesai".

Jadi, perhatikan hal-hal kecil seperti di atas supaya bisa hemat baterai kamera saat hunting foto. Dengan begitu kita bisa semakin lama beraksi dan hunting foto bisa diselesaikan dengan perasaan gembira dan bukan rasa kesal dan sebal.

Iya kan?
Read More

Wednesday, May 29, 2019

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah
Salabenda, Bogor 2015
Mungkin banyak orang berpikir, untuk apa membuat foto hitam putih di zaman seperti sekarang? Kamera digital sudah menyediakan berbagai fitur dan mode yang bisa menghasilkan warna-warna cemerlang, cerah, dan tajam, sesuai dengan selera. Lalu, apa kegunaan foto hitam putih?

Pada dasarnya memang foto hitam putih kurang mendapat tempat di zaman millenial seperti sekarang. Masyarakat lebih suka yang warna warni pada fotonya. Tetapi, jangan salah juga mengartikan bahwa sesuatu yang hanya monochrome seperti itu tidak bisa menarik perhatian.

Para fotografer, baik amatir atau profesional, tahu persis bahwa foto hitam putih bisa menjadi sesuatu yang lebih menarik. Foto hitam putih bisa

1. Memberikan kesan vintage, kuno, usang, dan sifat sentimentil manusia kesan seperti ini tetap bisa membangkitkan rasa dalam diri seseorang

2. Menonjolkan dan memberi penekanan pada bentuk dan garis, karena bagaimanapun foto itu 2 dimensi dan terbentuk dari banyak sekali garis dan lengkungan. Jika seseorang memandang lebih perlu mengedepankan elemen-elemen yang ini, foto hitam putih lebih berguna karena mata manusia tidak akan terpengaruh oleh warna

3. Memberikan kesan muram dan drmatis yang bisa membangkitkan emosi yang melihat

Oleh karena itu, tidak sedikit fotografer atau penggemar fotografi yang menggunakan trik ini untuk menarik perhatian yang melihat.

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah
Botani Square, Bogor 2016
Sadar tentang potensinya dalam menambahkan unsur estetika dalam sebuah foto yang membuat produsen foto tidak akan pernah lupa memberikan satu fitur, yaitu hitam putih pada kamera digital produksinya.

Setiap orang bisa langsung memotret ala zaman dulu dengan memanfaatkan fitur ini.

Tetapi, di zaman sekarang, membuat foto hitam putih juga tidak perlu lagi repot. Maklum juga, manusia gampang berubah pikiran. Saat memotret mungkin saja pemotretnya memandang foto berwarna lebih bagus, tetapi setelah di rumah, ia ingin membuatnya terkesan muram, sedih, atau kuno.

Nah, tentunya di saat itu, kamera tidak bisa lagi dipergunakan untuk merubah image tersebut.

Untungnya, ada banyak sekali aplikasi pengedit foto yang bisa dipergunakan untuk merubahnya, dari full color, penuh warna, menjadi hanya hitam dan putih saja.

Salah satunya adalah GIMP (GNU Image Manipulation Program). Software gratisan ini memiliki fitur "DESATURATE" alias menghilangkan warna.

Cara mengoperasikannya mudah saja. Bagi yang baru menggunakannya sekalipun tidak akan menemui kesulitan.

Silakan ikuti saja langkah-langkahnya di bawah ini.

Cara Membuat Foto Hitam Putih Dari Berwarna Dengan GIMP

1. Buka file yang hendak diubah (pergunakan Menu File ==> Open)


2. Setelah foto tampil di layar editor, pilih menu COLORS

3. Pada drop down menu pilih menu "DESATURATE"

4. Akan keluar 3 pilihan, yaitu LIGHTNESS, LUMINOSITY, dan AVERAGE. Ketiganya adalah setting standar yang berbeda dalam pencahayaan dan kontras. Silakan coba satu persatu untuk melihat apakah efeknya sudah sesuai kemauan

5. Klik "OK"

6. Di layar editor akan terlihat bahwa foto sudah menjadi hitam putih. Image ini masih bisa diedit lagi sesuai kemauan

7. Kalau sudah cukup dan hendak menyimpan, klik MENU

8. Pilih "Save as" kalau hendak menyimpan dalam fotmat foto yang hanya bisa dibuka GIMP atau "EXPORT AS" untuk menyimpan dalam bentuk JPG atau PNG

9. Beri nama dan simpan

10. SELESAI (Hasil editan di bawah ini)


Sangat tidak susah merubah foto berwarna menjadi foto hitam putih di GIMP. Tetapi, kalau ternyata belum terbiasa dan terburu-buru waktu, silakan coba juga membuat foto hitam putih dengan Photoscape.

Selamat mencoba.


Read More

Tuesday, May 28, 2019

Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari 6 Hal Ini

Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis , Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari Hal-Hal Ini
Selimut Pisang Coklat ala Kafe Seniman Stories, Bogor 2019
Fotografi semakin banyak diminati oleh berbagai kalangan seiring berkembangnya dunia fotografi digital. Bukan hanya mereka yang berniat menjadikan sebagai hobi, tetapi juga mereka yang ingin menekuni fotografi sebagai bisnis.

Tidak sedikit kemudian yang rela menginvestasikan uang banyak untuk membeli kamera dan berbagai aksesorinya, seperti lensa, peralatan lighting (pencahayaan). Banyak yang bersedia merogoh kocek dalam-dalam untuk mengikuti kursus fotografi agar menjadi mahir dalam menghasilkan foto yang mengundang "WOW" dari yang melihat.

Seorang yang pernah saya kenal saat berburu foto di jalanan pernah bercerita bahwa ia telah menjual Vespa kesayangannya. Kemudian, ia membelikannya sebuah kamera Mirrorless. Ia berharap bisa menekuni dunia food photography, atau fotografi makanan.

Entah bagaimana kelanjutan dari ceritanya, tetapi hal itu menunjukkan bahwa mulai banyak orang yang memandang fotografi lebih dari sekedar hobi. Semakin banyak yang berpikir bahwa kegiatan potret memotret ini bisa menjadi ladang uang dan sumber mata pencaharian.

Sayangnya, ternyata banyak juga yang akhirnya kecewa. Mereka menemukan bahwa menjadikan fotografi sebagai sebuah usaha tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak yang berhenti dan gagal karena setelah bergelut beberapa lama, dan merasa hasil fotonya sudah sangat bagus, tetapi uang belum juga dihasilkan.

Mereka bingung dimana kesalahannya. Foto sudah bagus. Peralatan lengkap.

Lalu dimana salahnya?

Yah, disana memang ada sebuah kesalahan. Sangat FATAL malah.

Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari Hal-Hal Ini
Risoles Kafe Seniman Stories, Bogor 2019

Kurang ajar memang, saya yang bukan seorang pebisnis di dunia fotografi berani mengatakan ada kesalahan fatal dalam hal ini. Tetapi, percayalah memang kesalahannya sangat besar.

Kesalahan itu terletak pada pemikiran bahwa peralatan atau foto yang bagus dan memukau sudah cukup untuk mengundang orang datang dan kemudian mengeluarkan uang. Jelas salah sekali jika Anda juga memiliki pandangan seperti itu.

Ketika ingin menjadikan "sesuatu", bukan hanya fotografi, sebagai sebuah unit bisnis, maka butuh lebih banyak dari foto yang bagus saja. Lebih banyak lagi untuk merubah skill menjadi uang.

Yang Dibutuhkan Untuk Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis

Tidak berbeda dengan hal lainnya, fotografi sebagai bisnis akan butuh banyak hal lain untuk menunjangnya. Dan, seorang fotografer harus memilikinya

Beberapa diantaranya bisa disebutkan di bawah ini :

1. Promosi


Di zaman sekarang, sebuah bisnis tanpa melakukan promosi sama saja seperti menunggu "mati".

Promosi diperlukan untuk mengundang ketertarikan orang lain untuk datang, melihat, dan kemudian "membeli". Yang satu ini diperlukan untuk membentuk pasar yang mau memakai jasa atau produk yang ditawarkan.

Apalagi, dengan semakin terjangkaunya kamera digital, setiap orang bisa menghasilkan foto. Akhirnya orang-orang yang berpikiran sama, ingin menghasilkan uang dari fotografi juga semakin banyak.

Tanpa melakukan promosi, maka tidak akan ada yang mau melihat dan kemudian membeli apa yang dijual oleh seorang fotografer. Kalau tidak ada yang "membeli", maka tidak akan ada uang yang masuk.

Tujuan tidak tercapai.

Promosikan diri dan hasil karya sesering mungkin agar bisa mengundang perhatian dan menarik minat orang. Semakin banyak semakin baik.

2. Tidak Punya Produk


Untuk menghasilkan uang, harus ada yang "dijual". Yang dijual itu disebut produk. Tanpa produk, maka tidak ada yang dijual.

Banyak fotografer yang memamerkan hasil foto mereka di Instagram atau Facebook, tetapi mereka hanya mendapatkan "like" saja, bukan uang. Bila hobi dan kesenangan adalah tujuannya, sudah cukup, tetapi kalau uang ? Cukup kah pujian itu?

Tentu tidak.

Oleh karena itu, seorang fotografer yang hendak menjadikan hobinya sebagai bisnis, mereka harus punya produk. Bentuknya bisa beragam, jasa atau foto. Terserah, tetapi untuk berbisnis, produknya harus ada.

Tanpa itu, tidak akan ada hasil berbentuk uang. Artinya, tidak akan ada bisnis.

Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari Hal-Hal Ini

3. Tempat Menjual / Pasar


Mengapa orang punya toko atau lapak? Karena disana mereka bisa menjual produk mereka dan menukarnya dengan uang.

Itulah mengapa banyak pedagang kaki lima ribut dan marah besar ketika lapaknya digusur satpol PP. Mereka kehilangan tempat untuk memasarkan barang dagangannya, yang berarti mereka tidak bisa menghasilkan uang.

Lalu, seorang fotografer yang tidak punya lapak? Bagaimana menjual produknya atau jasanya.

Memandang fotografi dari sudut bisnis, maka juga harus berpikir dimana jasa atau produk lainnya bisa dijual.

Tanpa itu, maka tidak akan ada yang bisa diperjual belikan.

4. Jaringan/Network


Hasil foto bagus dan memukau, tetapi tidak punya jaringan pertemanan atau kenalan, hasilnya bisa sama saja bohong. Zero. Nol.

Memiliki jaringan atau network merupakan hal yang penting dalam dunia bisnis dan kalau ingin menjadikan fotografi sebagai bisnis, seorang fotografer harus mau membangun networknya.

Dengan begitu mereka memiliki channel, baik untuk menjual produk atau jasanya.

Tidak sedikit bisnis dan transaksi yang berhasil dengan memanfaatkan sistem jaringan, contohnya MLM (Multi Level Marketing).

Oleh karena itu, selain skill memotret, seorang fotografer harus juga mempunyai kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, dan berkompromi dengan orang-orang di sekelilingnya atau di dunianya.

5. Manajemen


Percayalah, tidak ada bisnis yang berhasil tanpa adanya sebuah manajemen yang handal di belakangnya.

Manajemen dalam hal ini mencakup banyak hal, seperti manajemen waktu untuk memastikan produknya dikirim sesuai dengan permintaan, manajemen keuangan untuk memastikan uang yang masuk lebih besar daripada uang yang keluar.

Belum lagi, sebuah usaha bisnis berbasis fotografi biasanya tidak bisa dilakukan seorang diri. Umumnya, butuh sebuah tim yang terdiri dari lebih dari satu orang. Untuk itu diperlukan manajemen personil yang bagus pula.

Bayangkan saja kalau harus memotret outdoor dan membawa banyak peralatan, sulit untuk dilakukan seorang diri. Butuh asisten yang bisa membantu, dan untuk itu perlu pengetahuan bagaimana menangani pekerja.

6. Pengelolaan Keuangan


Berapa harga jual jasa foto kepada pelanggan? Jawabannya tidak akan diketahui kalau data tentang modal yang dikeluarkan, biaya operasional, dan biaya lain-lain tidak diketahui.

Ujungnya, kalau ini terjadi, harga penawaran hanya dikira-kira dan mungkin sekali salah, lebih kecil dari biaya produksi.

Rugi adalah hasilnya.

Pengelolaan keuangan bukan hanya memastikan bahwa arus keluar masuk uang tercatat, tetapi juga untuk memastikan bahwa harga jual lebih tinggi dari biaya produksi.

Tanpa itu, sama saja bohong.

Mau Menjadikan Fotografi Sebagai Bisnis ? Butuh Lebih Dari Skill Memotret, Pelajari Hal-Hal Ini
Salmon Benedict, Pardon My French , Jakarta 2019

Kesimpulan :


Terdengar rumit yah? Tetapi, memang begitulah adanya.

Jika kita hendak mewujudkan ide fotografi sebagai sebuah bisnis, mau tidak mau kita sudah melangkah lebih jauh lagi ke dalam dunia bisnis. Maka, perlakuan kita terhadap kegiatan potret memotret pun harus berubah, tidak lagi sekedar sebagai fotografer.

Untuk menjadikan fotografi sebagai bisnis, maka kita tidak bisa "hanya" menjadi fotografer, tetapi harus menjadi "ENTREPRENEUR" atau "PEBISNIS" . Pola pikirnya pun harus mencakup semua hal yang berlaku di dunia bisnis.

Baca Juga :



Tentunya, tidak akan cukup menyelesaikan masalah keuangan atau kesulitan pemasaran hanya berbekal pengetahuan bagaimana membuat BOKEH atau LONG EXPOSURE. Tidak cocok dan tidak akan menyelesaikan masalah.

Jadi, kalau mau sukses sebagai pebisnis berbasis fotografi, berpikirlah sebagai pebisnis dulu, baru kemudian sebagai fotografer.

Jangan dibalik.
Read More

[GIMP #5] Melakukan Cropping Itu Mudah !

[GIMP #5] Melakukan Cropping Itu Mudah !
Jalan Johar, Jakarta Pusat, 2019

Cropping atau memotong image atau foto merupakan sebuah hal yang umum dilakukan para fotografer. Biasanya dilakukan untuk membuang bagian-bagian dari foto yang tidak diperlukan atau untuk membuat subyeknya menjadi lebih menonjol. Foto di masa kini yang terlihat di berbagai website, hampir pasti sudah melalui proses yang satu ini juga.

Melakukan cropping bisa dilakukan dengan berbagai photo editing software. Semua aplikasi pengedit foto sudah pasti diperlengkapi dengan fitur untuk cropping, baik yang gratisan atau berbayar. GIMP pun memiliki fitur ini.

Cara melakukan cropping di GIMP pun sangat mudah, tinggal ikuti saja langkah-langkah di bawah ini.

(Sebagai contoh, saya akan memakai foto di atas)

1. Buka file foto yang akan dicropping
2. Pilih Menu Tools hingga keluar submenu Selection Tools
3. Silakan pilih apakah mau memakai Rectangle, Ellipse, atau Free Select. Kalau belum jelas yang mana bisa baca dulu salah satu yang di bawah ini :

Baca juga : 

4. Pilih bidang yang akan dicrop.

(Saya akan memilih bagian foto pedagang gas tabung 3 kilogram dengan Rectangle Select. And alihat bahwa ada bidang yang ditandai dengan garis putus-putus? Nah, itu hasil dari Rectangle Select dan akan menjadi bagian yang ingin ditampilkan)


4. Kemudian, Klik Menu "IMAGE" hingga keluar dropdown menu
5. Klik " Crop To Selection" (potong bagian yang dipilih)

[GIMP #5] Melakukan Cropping Itu Mudah !


6. Untuk menyimpan, sebagai JPEG, TIFF, PNG, klik Menu FILE
7. Pilih Menu "Export As" jangan memakai "Save as" karena akan menyimpan dalam format ACF yang hanya bisa dibaca oleh GIMP
8. Selesai

Hasil croppingnya, seperti di bawah ini :

[GIMP #5] Melakukan Cropping Itu Mudah !

Mudah kan? Ya memang melakukan cropping itu bukan pekerjaan sulit, secara teknis.

Silakan mencobanya sendiri dengan GIMP.

Read More