Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Thursday, August 1, 2019

6 Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan

Fotografi jalanan memang bukanlah tentang memotret jalan atau memotret di jalan saja. Definisi genre fotografi yang dipelopori Henri Cartier Bresson ini lebih luas lagi, yaitu membuat foto di ruang publik. Semua ini bisa mencakup taman, restoran, sungai, atau di lokasi apapun yang bisa diakses oleh umum.

Jadi, bukan sekedar membuat foto jalanan saja.


Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan


Meskipun demikian, bagi para pemula, rasanya melakukan hunting foto di jalanan bisa menjadi awal yang bagus untuk belajar banyak hal terkait dengan apa itu fotografi jalanan.

Bagaimanapun, jalanan adalah ruang publik dan sampai sekarang masij menjadi salah satu lokasi favorit para penggemar street photography untuk dijadikan lahan berburu foto. Lagipula, dengan begitu seorang pemula bisa belajar beradaptasi dengan situasi dan kondisi di lapangan dimana kebanyakan pemotretan akan dilakukan.

Tidak ada ruginya berkelana di jalanan manapun dan berburu momen.

Cuma, memang ketika pertama kali terjun ke jalanan sering hadir kebingungan, yaitu terkait obyek foto. Bukan karena tidak ada obyek, tetapi biasanya karena semua seperti terlalu semrawut dan tidak enak dipandang. Kalau dipandang saja sudah tidak enak, bagaimana mau dijadikan foto yang diharapkan indah.

Nah, sebenarnya tidak juga. Coba saja luangkan waktu untuk diam dan menunggu sejenak. Pasti akan terlihat bahwa ada banyak obyek foto di jalanan. Jika kemudian digabungkan dengan kreatifitas maka hasilnya bisa bagus, setidaknya lumayan enak untuk dilihat.

Cobalah lihat beberapa obyek foto di jalanan di bawah ini.

1. Jalanannya sendiri


Silakan diperhatikan. Jalanan itu simetris dan mata kita akan melihatnya terbentuk dari garis-garis.

Yang seperti ini kalau dipotret dari sudut pandang yang tepat bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki leading line yang bagus.

Jalan Sudirman Bogor

2. Lanskap


Jangan pernah berpikir bahwa fotografi lanskap (landscape) hanyalah memotret pemandangan alam saja. Landscape ini luas dan tidak sempit seperti banyak orang memandang.

Yang namanya pemandangan itu bisa apa saja. Dan, jalanan pun bisa menyediakan pemandangan yang bagus dan enak dilihat.

Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Soleh Iskandar Bogor

3. Manusia


Banyak. Tidak terhitung.

Namanya ruang publik, ruang umum, pastilah banyak sekali orang berlalu lalang. Semua ini akan menyediakan obyek yang bisa dikata tidak terhingga bagi seorang fotografer jalanan.

Tinggal memilih mana yang terlihat menarik dan sesuai dengan ide yang ada di kepala saja. Kemudian, arahkan kamera dan "ceklek" jadilah foto bertema human interest.

Jalan Suryakencana Bogor

Jalan Sudirman Bogor

Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Suryakencana Bogor

4. Binatang


Jangan salah. Bukan hanya orang saja yang berkeliaran di jalanan. Binatang juga. Dan semua ini bisa menjadi obyek yang bagus kalau kita jeli memanfaatkannya.

Foto ini pernah diikutkan pada lomba foto Wiki Cinta Alam Indonesia 2018 dan lolos saringan tahap 2
Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Sudirman Bogor

5.  Profesi


Termasuk manusia juga, tetapi ketika mereka sedang menjalankan pekerjaan untuk mencari nafkah. Yang seperti ini bagus untuk bisa memberikan gambaran kehidupan di jalanan, sekaligus bisa dimasukkan ke dalam fotografi human interest.

Jalan Suryakencana Bogor
Jalan Soleh Iskandar Bogor


6. Kendaraan


Fotografi jalanan itu memotret apa saja. Bukan hanya manusia, tetapi juga termasuk benda-benda tidak bernyawa.

Dan, salah satu yang banyak ada di jalanan, selain manusia, adalah kendaraan. Baik bermotor atau tidak.

Yang seperti ini bisa dijadikan obyek foto yang menarik. Lagi-lagi tergantung ide dan kreativitas pemotretnya.



Cobalah memotret ke-6 obyek foto di jalanan yang umum ini. Jangan merasa terlalu remeh. Kata Richard Branson, yang bukan fotografer,

"Tidak ada ide yang terlalu kecil"
Dalam fotografi jalanan (dan sebenarnya dalam fotografi) pernyataan ini berlaku. Jangan remehkan obyek kecil karena justru bisa menjadi sebuah foto yang sangat menarik dan mengundang perhatian.

Yang terpenting adalah mengembangkan kreativitas dan ide.

Lagipula, membantu mengurangi kebosanan memotret yang itu itu saja kalau hanya di rumah saja.

Read More

Thursday, July 25, 2019

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil Foto kamera DSLR Canon 700D - Puncak Mas Lampung

Belakangan ini , terutama sejak beberapa tahun terakhi, dunia fotografi semakin semarak. Salah satunya adalah dengan semakin banyaknya orang yang berminat untuk terjun dan menekuninya.

Semua ini karena kehadiran smartphone dengan kameranya yang semakin lama semakin canggih. Bahkan, kalau melihat hasil pencarian lewat mesin pencari Google, banyak yang sudah bisa memberikan tips dan trik agar "hasil foto kamera smartphone sama dengan kamera DSLR / Mirrorless".

Coba saja lihat apa yang tampil di halaman pertama hasil pencarian Google di bawah ini.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?

Tidak heran banyak orang tertarik. Bagaimana tidak, tanpa perlu membeli kamera DSLR saja, hasil fotonya sudah bisa sama? Siapa yang tidak mau. Biaya murah hasilnya sepadan atau setidaknya tidak kalah dengan kamera "sungguhan" yang harganya kerap merobek kantung itu.

Situasi, yang kalau secara pribadi, saya melihatnya sebagai sebuah hal yang bagus dan baik bagi dunia fotografi sendiri. Semakin banyak yang ingin terlibat, semakin ramai dan semakin seru. Memang bagi banyak orang, terutama mereka yang hidup dari kegiatan memotret, situasi ini terasa mengancam karena persaingan akan semakin tajam.

Bagus.

Tetapi, terus terang, ada sedikit rasa janggal dan kurang percaya bahwa hasil foto kamera ponsel bisa mengimbangi hasil kamera DSLR atau Mirrorless.

Bukan karena iri, tetapi sebagai seorang yang sudah menjadi penghobi dunia ini, dan juga memotret dengan kedua jenis kamera itu, saya tahu dengan pasti bahwa situasinya tidak se-bombastis yang disebutkan pada judul-judul itu.

Kebetulan, kamera digital pertama yang saya punya adalah sebuah smartphone juga, baru kemudian beranjak pada prosumer (Fujifilm Finepix HS35EXR, dan sekarang Canon EOS 700D(APSC). Jadi, saya bisa membandingkan sendiri semua hasil dari ketiga jenis tersebut.

Dan, kesimpulannya, sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam artikel-artikel itu tadi.

Beda. Banget.

Itulah salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR. Ketika menggunakan ponsel pintar dan prosumer, terasa sekali ada yang "kurang".  Dan, itu bisa saya temukan pada kamera DSLR.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil foto kamera DSLR Canon 700D
Ingat yah, bukan berarti saya berpikir bahwa fotografi hanya bisa dilakukan dengan kamera DSLR saja. Justru, sebaliknya bagi saya , fotografi bisa dilakukan dengan yang manapun.

Juga, tidak berarti foto hasil kamera smartphone hasilnya "pasti kalah" enak dilihat dari hasil foto DSLR karena banyak faktor yang menentukan bagus tidaknya sebuah foto.

Pandangan ini hanya merupakan respon saja terhadap apa yang banyak ditulis bahwa hasil kamera smartphone bisa setara DSLR.

Smartphone VS DSLR : Lensa dan Sensor


Coba kita bandingkan dulu dua hal penting dalam menghasilkan foto yang tajam dan detail . Terlepas dari ide fotonya, salah satu hal yang membuat orang terpukau dengan sebuah foto adalah ketajaman dan detail dari obyek dalam fotonya.

Keduanya banyak bergantung pada dua faktor, yaitu lensa dan sensor. Bukan ukuran megapixelnya yah.


Untuk sensor, prinsip the bigger is the better, semakin besar semakin bagus,  berlaku. Dengan sensor yang besar, hasil fotonya akan lebih tajam dan detail. Kemampuan menangkap detail dan cahaya lebih baik. Hal itu bisa terlihat dari hasil foto kamera DSLR kelas APSC dan Full Frame akan berbeda, dimana hasil full frame akan terlihat lebih tajam dan jelas.

Nah, untuk smartphone, sensornya hanya kecil saja karena keterbatasan ruang. Dalam hal ini, sangat sulit hasil kamera smartphone mengimbangi ketajaman kamera DSLR, bahkan kelas pemula sekalipun. Sudah kalah kelas di sensor.

Begitu juga dengan lensa. Bagian yang sangat vital bagi kamera ini menentukan sekali hasil akhir. Kamera smartphone sulit untuk menyaingi DSLR dalam hal ini juga. Keterbatasan tempat merupakan kunci penyebabnya.

Jadi, bisakah berharap jauh bahwa hasil foto kamera smartphone sama dengan hasil kamera DSLR? Jawabnya tidak.

Bahkan, dengan iming-iming berbagai aplikasi Android sekalipun, tidak akan banyak berubah karena dua inti utamanya, lensa dan sensor tidak berubah. Aplikasi yang sekarang ada hanya merupakan pengedit foto saja dan merubah filenya bukan peralatan dasarnya.

Generalisasi

Harap diperhatikan juga bahwa ada generalisasi dalam judul artikel yang seperti pada screenshoot di atas. Kamera smartphone itu banyak jenisnya. Ada yang murah, ada yang mahal. Yang mahal biasanya memiliki kualitas lebih baik dibandingkan yang murah.

Contoh, kamera Samsung Galaxy S10 dan iPhone 9 tentu lebih baik daripada sekedar Oppo A3s yang saya bawa. Bisa jadi kualitas lensa kedua ponsel pandai kelas atas itu sama kualitasnya dengan DSLR kelas pemula, tetapi kalau ponsel kelas bawah, rasanya masih jauh untuk bisa menyamai.

Begitu juga dengan kamera DSLR, ada kelas-kelasnya. Kelas pemula atau kelas atas. Kelas atas harganya mahal sekali, tetapi kualitasnya juga luar biasa.

Jadi, kamera smartphone yang mana dibandingkan dengan DSLR yang mana? Tidak mungkin kamera smartphone OPPO A3S menyaingi hasil Canon EOS 7D (full frame). Bahkan, menyaingi hasil Canon EOS 700D di kelas bawah saja susah.

Hasil Foto kamera Smartphone - OPPO A3s
  
Smartphone Vs DSLR : Fitur

Pernah mencoba melakukan teknih panning (untuk menghasilkan kesan "bergerak" pada obyek) dengan smartphone? Belum? Saya sudah. Hasilnya kalau tidak blur semua, ya kesannya obyeknya tiak bergerak. Tidak ada latar belakang blur pada fotonya.

Sementara ketika menggunakan DSLR entry level saja, saya bisa melakukannya.

Belum lagi long exposure dan berbagai hal lainnya.

Banyak yang mengatakan bahwa dengan menambahkan aplikasi Android, seperti Camera FV 5, fiturnya akan setara dengan DSLR. Kenyataannya, OPPO A3s saya tetap saja OPPO A3s, tidak berubah menjadi DSLR. Hanya ada beberapa tambahan fitursaja seperti pengaturan ISO.

Hasil fotonya pun tetap sama. Pemakaian aplikasi jenis ini tidak bisa merubah lensa dan sensornya. Tetap saja, hasilnya tidak bisa mengimbangi.

Fitur di DSLR sangat beragam sehingga saya menyebutnya komputer mini. Semua disediakan demi memberi ruang kepada kreativitas agar bisa berkembang maksimal.

Dan, sayangnya semua itu tidak ada di smartphone.

Banyak hasil foto kamera DSLR yang dilakukan dengan teknik-teknik pemanfaatan fitur ini, dan tidak bisa dilakukan dengan sekedar kamera smartphone saja.

Jadi, pertanyaannya, "setara" dalam hal ini di bagian mana. Bagian fitur sih, rasanya tidak mungkin keduanya bisa sama.

Jangan juga bandingkan dengan fitur DSLR kelas atas, yang pastinya lebih beragam.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil foto kamera smartphone


Smartphone vs DSLR : Ide / Kreativitas


Pernah melihat foto wanita cantik yang dipotret dengan smartphone ? Pasti banyak yang memberi LIKE. Apalagi kalau modelnya sexy dan berbadan bagus. Iya kan?

Lalu, bandingkan dengan sebuah foto pemandangan yang dipotret dengan kamera DSLR.

Kira-kira mana yang akan mendapat LIKE lebih banyak, terutama kalau yang melihat adalah kaum adam.

Jelas kan jawabannya? Ya foto wanita cantik itu yang akan mendapat banyak LIKE.

Mengapa bisa begitu?

Karena yang satu ini tidak bergantung pada kameranya. Yang satu ini bergantung pada orangnya, fotografernya.

Ingat loh, hasil foto itu tergantung pada dua hal, yaitu kamera dan fotografernya.

Kamera boleh kalah kelas, tetapi orangnya bisa menjadi penentu.

Sebuah kamera mahal di tangan orang yang tidak tahu cara menggunakannya hasilnya akan kalah kalau dibandingkan dengan smartphone di tangan ia yang tahu cara memotret. Kemungkinan hasil yang bagus dan menarik akan berada di tangan pemegang smartphone.

Pengetahuan.

Ide.

Kreativitas.

Dalam hal ini, bisa dikatakan smartphone bisa mengungguli DSLR atau Mirrorless. Saya pernah membuktikannya sendiri dengan OPPO A3s dibandingkan dengan Samsung Galaxy S9 saja, hasil oto saya lebih menarik.

Semua itu karena saya sudah belajar fotografi dan tahu menemukan sudut pengambilan gambar yang baik. Saya bisa memaksimalkan kamera di tangan.

Kemampuan ini lah yang membuat orang yang melihat foto kerap mengabaikan masalah ketajaman, detail, dan hal-hal teknis lainnya. Mereka lebih tertarik pada hasil secara keseluruhan, meski kalau ditelaah lebih jauh lagi, tetap akan terlihat bahwa kualitas fotonya jelas kalah.

Silakan tebak pakai smartphone atau DSLR

 

Kamera Smartphone Tidak Akan Berubah Menjadi DSLR


Itulah faktanya. Kamera smartphone akan tetap kamera smartphone. Hasil fotonya, kalau bicara teknis dan kualitas,  tetap saja terlihat berbeda dengan hasil kamera DSLR.

Mau dipasang aplikasi apapun, tetap saja kamera smartphone. Saya sudah mencobanya sendiri dengan berbagai aplikasi, dan ponsel pintar saya tetaplah OPPO A3s dan tidak menjadi Canon 700D.

Sebuah fakta yang harus diterima.

Hal itu bukan berarti bahwa dengan kamera smartphone kita tidak bisa menghasilkan foto yang bagus dan menarik perhatian. Kalau berpikir seperti ini, Anda salah besar.

Hanya, caranya bukan dengan cara memakai aplikasi berbagai macam dan kemudian berkata "sim salabim" dan kameranya menjadi DSLR. Sampai botak juga tidak akan berubah.

Hal yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan bahwa kamera smartphone memiliki keterbatasan. Kemudian, berfokus pada memanfaatkan kelebihannya, seperti :

  • Lebih lebar dibandingkan lensa DSLR
  • Mudah dibawa

Dan, kemudian berlatih berbagai teknik fotografi yang sesuai dengannya dan tidak memerlukan elemen-elemen DSLR. seperti

  • Penerapan Rule of Thirds
  • Komposisi warna/foto
  • Obyek yang menarik
  • Garis horison lurus
  • Sudut Pengambilan Gambar
  • Lengkapi dengan belajar pengeditan foto
Hasilnya, kalau dilakukan dengan baik, rasanya bisa membuat orang mengabaikan keunggulan dari DSLR.

Bukan dengan jalan menipu diri sendiri bahwa dengan tips dan trik atau aplikasi bisa membuat hasil foto seperti DSLR.

Hal itu tidak akan terjadi.

Ini hasil smartphone juga ASUS Padfone ditambah editing Picasa

Read More

Wednesday, July 17, 2019

Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi


Mateng puun atau matang di pohon adalah sebuah istilah yang umum dipergunakan oleh pedagang buah. Biasanya dipergunakan untuk menunjukkan bahwa buah yang dijualnya bukanlah hasil karbitan dan kematangan didapat dengan cara yang alami. Memang, buah yang matang di pohon biasanya memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan hasil karbitan.

Tentunya, istilah yang satu ini sudah sering didengar. Iya kan?

Nah, sekarang ada seseorang yang mengatakan bahwa ia lebih suka "mateng di kamera". Apa maksudnya?

Istilah ini juga jarang saya dengar sebelumnya. Baru beberapa hari yang lalu ketika terlibat percakapan via Instagram dengan seorang kenalan fotografer dari Depok, istilah itu tercetus keluar. Yang mengatakannya bernama Badet Zarhaeni, seorang fotografer yang pernah menjadi jurnalis di sebuah kantor berita dan sekarang menjalani bisnis fotografi untuk prewedding, wedding, dan model.

Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi

Bagi yang tidak bergelut di dunia fotografi, tentunya akan mengerenyitkan dahi membaca istilah asing tersebut. Bagaimana bisa sebuah foto "matang di kamera"?

Untuk bisa memahami apa yang dikatakannya, tentu butuh sedikit background.

Di masa sekarang dimana fotografi digital semakin berkembang, penggunaan photo editing software atau perangkat lunak untuk mengedit foto semakin marak. Banyak orang sekarang justru mengandalkan kemahiran mereka dalam mengolah foto untuk mendapatkan image yang "sempurna" dan terlihat enak dipandang mata.

Sebuah keniscayaan dari perkembangan teknologi. Mau tidak mau setiap fotografer di masa sekarang harus juga membekali diri dengan kemampuan tersebut.

Sayangnya, seringkali, banyak fotografer yang justru sekarang lebih menekankan pada mengedit foto. Mereka tidak lagi berfokus dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan foto yang baik dengan kameranya. Banyak yang berpikir "Ah, gampang nanti di-edit saja pakai Photoshop (atau aplikasi lainnya)"

Padahal, kebiasaan ini justru membuatnya menjadi lebih sebagai "artis digital" dibandingkan fotografer yang seharusnya mengandalkan kameranya, bukan komputernya.


Nah, istilah "mateng di kamera" yang dikatakan Badet itu menunjukkan bahwa ia ingin agar foto yang keluar dari kameranya sudah mendekati "sempurna" dalam artian sesuai dengan ide dan kemauannya.

Ia tetap mengatakan tetap akan melakukan editing alakadarnya, yang berarti kemungkinan adalah pengaturan contrast atau brightness saja. Sesuatu yang memang tidak akan merubah obyek dan sekedar menaikkan atau menurunkan warna dan kecerahan saja. Mungkin sedikit cropping juga akan dilakukan.

Pastinya ia tidak akan menggunakan efek ala Camera 360 yang bisa membuat wajah jerawatan jadi punya wajah sangat mulus ala bidadari, sampai lalat nempel saja jatuh.

Prinsip yang memang seharusnya dipegang oleh seorang fotografer. Ia harus mengandalkan kameranya dan bukan bergantung pada komputer dan aplikasinya.

Hal itu sangat dimungkinkan karena kamera masa sekarang pada dasarnya sudah seperti komputer mini dan lebih canggih dibandingkan masa lalu. Pembuatan komposisi foto, baik warna, latar belakang, mimik modelnya bisa dilihat dan dipertimbangkan baik-baik sebelum tombol shutter release ditekan.

Artinya, dengan prinsip ini seorang fotografer harus sudah memikirkan matang-matang sesuai dengan keahliannya agar hasil file foto hasil jepretannya, paling tidak sudah 90% jadi dan sisanya barulah dipoles dengan aplikasi edit foto.

Itulah yang dimaksud dari istilah "mateng di kamera", yang sebenarnya tidak berbeda jauh dari istilah "mateng puun" ala tukang buah, yaitu sama-sama merujuk sesuatu yang "alami" dan bukan polesan.

Dua foto pada tulisan inipun dibuat dengan memakai prinsip tadi dan hanya diubah kecerahannya saja. Karena saya sendiri memang lebih suka begitu.

(Untuk melihat hasil karya Badet Zarhaeni silakan kunjungi akun instagramnya di @badet_xarhaeni dan anda akan menemukan makna dari prinsip di atas)
Read More

Tuesday, July 16, 2019

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?
Tri Trisdiyanti
Dipikir-pikir, dan setelah membaca begitu banyak artikel terkait dunia fotografi di dunia maya, ternyata yang namanya teknik fotografi itu banyak sekali. Sebut saja dalam hal komposisi foto ada Rule of Thirds, Golden Triangle. Kemudian, pencahayaan ada teknik strobist dan low key. Teknik terkait pemanfaatan fitur kamera, seperti bokeh, teknik panning, dan rasanya masih banyak lagi lainnya.

Tidak heran, ada sebuah universitas di Indonesia (dan juga di beberapa negara lain) memiliki sebuah program studi khusus yang mengajarkan fotografi. Institut Seni Indonesia di Yogyakarta menyediakan program studi Fotografi dalam jurusan Seni Media Rekam.

Sebuah hal yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi mereka yang ingin menekuninya dan menjadi fotografer yang baik. Apakah memang semua teknik yang ada perlu dipelajari dan dikuasai ? Bagaimana kalau ternyata tidak bisa, akankah berarti kita seorang fotografer yang jelek?

Pertanyaan yang wajar mengingat begitu banyak yang harus dihapalkan dan kemudian dipraktekkan.

Setelah menekuninya selama kurang lebih 4 tahun, saya sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya TIDAK PERLU.

Tentunya, bukan berarti tidak boleh seseorang menguasai semua teknik itu. Ilmu itu semakin banyak semakin baik. Hanya saja, prakteknya di lapangan seringkali tidak semua pengetahuan tentang teknik itu diperlukan dan dipakai.

Tri Trisdiyanti dan Farida Indriawati
Contohnya, saya menyukai fotografi jalanan. Kurang gemar saya memotret model, meski kalau untuk teman dan keluarga ya dilakoni juga. Cuma saya lebih suka memotret sesuatu yang natural dan apa adanya yang ditemukan di jalanan.

Tambahlah sedikit-sedikit fotografi landscape alias pemandangan. Namanya manusia kalau melihat pemandangan yang bagus, ya tangan gatel juga untuk menjepret.

Teknik apa yang saya pergunakan?

Tidak banyak sih. Yang paling sering dipakai adalah bokeh untuk menghilangkan latar belakang yang mengganggu. Kemudian, penerapan Rule of Thirds atau Aturan Sepertiga. Selebihnya, saya menemukan justru kepekaan untuk menggabungkan antara semua unsur yang ada di jalanan untuk dimasukkan ke dalam frame berperan lebih penting dibandingkan teknik.

Padahal, saya juga bisa "teknik panning", "long exposure", dan beberapa teknik lainnya.

Teknik strobist yang bergantung pada pencahayaan, terus terang, saya tidak kuasai dan kurang tertarik belajar karena bergantung pada perangkat lighting/pencahayaan buatan.

Dan, yang seperti itu bertentangan dengan passion yang menekankan pada unsur alami. Bagaimana bisa menjadi alami karena strobist sendiri biasanya dilakukan di ruang tertutup atau studio dan memerlukan perlengkapan.

Kurang sesuai dengan passion, dan tentunya budget saya.

Jadi, untuk apa saya mempelajari sesuatu yang tidak akan saya pakai? Saya sudah merasa cukup untuk mengetahui apa itu strobist dari membaca teorinya saja. Untuk mempraktekkannya dan belajar lebih lanjut, rasanya tidak berminat.

Dan, apakah itu berarti saya tidak bisa memotret dengan baik?

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?
Farida Indriawati

Ya, tidak juga sih. Saya pikir hasil jepretan saya tidak begitu jelek. Teman-teman dan keluarga saya justru berpandangan foto-foto hasil karya saya juga bagus.

Komite seleksi tahap II Lomba Foto Wiki Cinta Alam 2019 sepertinya juga berpendapat demikian. Buktinya dua dari 4 buah foto yang saya saya ikut sertakan ke dalam lomba itu lolos sampai tahap II.

Jadi, meski tidak menguasai semua jenis teknik fotografi, saya tetap bisa menghasilkan foto yang lumayan bagus. Tidak jelek-jelek amat.

Berdasarkan pengalaman inilah, rasanya tidak salah-salah amat kalau saya berpendapat bahwa tidak perlu menguasai semua teknik fotografi yang ada. Pelajari saja teknik-teknik yang berkaitan dengan passion kita.

Misalkan yang gemar genre "portrait", ada baiknya mempelajari bokeh, low-key, atau beberapa teknik pencahayaan lainnya. Tidak perlu memaksakan untuk belajar terlalu dalam teknik long exposure atau panning. Toh bakalan jarang dipakai untuk membuat potret seseorang.

Jadi, pilihlah saja beberapa teknik yang akan mendukung passion kita. Tidak harus memaksakan harus bisa dan menguasai semuanya. Lebih baik, mempelajari beberapa saja, tetapi secara mendalam.

Begitulah pandangan saja dalam hal ini.

(Model : kawan-kawan lama semasa SMA di SMA Negeri I Bogor. Izin sudah didapatkan untuk menayangkan foto-fotonya. Coba tebak berapa usia mereka?)
Read More

Sunday, July 14, 2019

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengadakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana saya tinggal, ada sebuah celetukan menarik dari salah seorang peserta, yaitu ketika membahas bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah pasti bahasan yang satu ini sangat menarik bagi kaum ibu, apalagi mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.

Celetukan ini memang menyangkut penulisan dan bagaimana membuat tulisan tentang makanan yang bisa menarik pembaca. Dan, salah satu yang harus dilakukan adalah terkait foto makanan yang akan ditampilkan.

Sebuah tulisan kuliner tanpa ada foto makanannya, sama saja masak sayur tanpa garam. Tidak akan lengkap dan tidak akan menarik.

Nah, ucapan yang membuat kening saya agak berkerut dalam hal ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret makanan itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya saya lupa, tetapi intinya seperti itu.

Yah, kening saya berkerut juga, cuma saya putuskan untuk tidak membahas lebih lanjut lagi karena kalau dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Setelah itu, saya melakukan kunjungan ke berbagai blog yang membahas mengenai makanan. Heran juga, ternyata memang rupanya ada kecenderungan para blogger kuliner dan resep untuk lebih banyak mengambil sudut pemotretan dari atas.

Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di atas dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang miring sedikit.

Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tetapi setelah mengamati sejenak, ya mungkin inilah yang menjadi dasar dari celetukan sang ibu tadi.

Sebagai orang yang menyukai fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, meski bukan dalam bidang foto makanan, saya merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.

Fotografi pada intinya, selain untuk merekam sebuah momen, juga untuk menampilkan sisi keindahan dari "sesuatu" atau "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.

Mau dari atas kek, dari bawah, dari samping, atau darimanapun.

Semuanya tergantung pada selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera setiap orang berbeda.

Begitu juga dalam hal foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret makanan harus atau sebaiknya dari atas saja. Memang, biasanya posisi kamera di atas akan memberikan foto yang berisi warna warni makanan dan pola yang terbentuk karena biasanya makanan memiliki pola, tetapi tidak selalu harus begitu.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Keindahan dalam sebuah makanan bisa diperlihatkan dari sisi manapun, selama yang memotret tahu caranya.

Sebagai contoh, semua foto makanan dalam tulisan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di atas dan menghadap ke bawah saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap saja bagus.

Betulkan?

Yang terpenting dalam mengambil foto makanan supaya menarik perhatian bukanlah sekedar sudut pengambilan gambar (dari atas saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan sudut yang terbaik bagi obyeknya.

Ditambah pula dengan skill dan kemampuan memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Memastikan posisi kamera harus berada di atas saat memotret makanan agar mendapatkan hasil terbaik juga tidak selamanya benar.

Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, pasti akan sangat menyulitkan karena bidang kamera tidak bisa menampung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi kalau cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.

Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah fleksibel dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal itu berarti bisa saja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.

Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam hidup manusia.
Read More

Thursday, July 4, 2019

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6

Bukan sebuah patung bernilai sejarah. Mungkin, ratusan tahun lagi, dan kalau memang masih bertahan, baru bisa menjadi sebuah monumen bernilai historis tinggi.

Sebuah patung malaikat kecil sedang bermain seruling di sebuah taman kecil dalam perumahan Vila Bogor Indah 6 di kawasan Bogor terlihat menarik sekali untuk dijadikan obyek foto.

Mungkin sebenarnya bagi banyak orang biasa saja. Hanya saja, rupanya kebiasaan sebagai penggemar fotografi merangkap blogger yang membuatnya menjadi terlihat menarik di mata saya. Apalagi dengan hanya kamera smartphone OPPO A3s di tangan, hadir sebuah tantangan sendiri untuk membuatnya menjadi enak dilihat dalam foto.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


Entah bagi orang lain, tetapi setelah dilihat-lihat lagi, ternyata tidak terlalu jelek untuk dipamerkan disini.

Bagaimana menurut Anda?
Read More

Monday, July 1, 2019

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?
Stadion Pakansari Bogor, 2017

Sharing is caring. Berbagi tanda peduli. Salah satu slogan yang banyak ditemukan di dunia maya belakangan ini yang mengajak orang untuk berbagi kepada orang lain. Prinsip yang mulia karena siapapun yang memiliki kelebihan bisa membantu orang lain yang kekurangan.

Pertanyaannya, dalam dunia fotografi, apakah prinsip itu juga berlaku? Bisakah kita memotret untuk berbagi kepada sesama? Apa manfaatnya?

Ternyata, berlaku juga.

Cobalah perhatian beberapa website modern, penyedia foto gratis, seperti Pixabay, Pexels, atau Wikimedia Commons. Disana banyak sekali fotografer yang dengan iklas hati membagikan hasil karyanya kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya. Siapapun bisa mempergunakan karya hasil jerih payah dan memeras keringat bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Dan, ternyata hasil penerapan prinsip berbagi banyak sekali membantu orang lain dari berbagai belahan dunia, untuk :

1. Mengenal sebuah tempat, sebuah benda, sebuah kehidupan di belahan dunia yang belum pernah dikunjunginya bahkan tanpa harus perlu pergi sendiri kesana

2. Membantu mengembangkan perekonomian : sebuah hal yang mungkin sulit dipercaya, tetapi banyak sekali usaha start up (pemula) yang dengan foto-foto gratis itu mereka bisa membuat foto promosi yang menarik (tanpa biaya yang besar). Mereka terbantu untuk pengembangan usahanya

3. Para blogger dan pengelola website, tentu saja sangat terbantu dengan ketersediaan stok foto yang bagus tetapi gratis. Mereka bisa mendapatkan image atau foto sebagai ilustrasi bagi artikel mereka. Bayangkan saja kalau harus membeli image dari Getty Image yang bisa mencapai 500 dollar AS untuk sebuah foto. Tidak akan mereka bisa berkembang, yang ada bangkrut sebelum berjalan

Berbagi foto memberi banyak kebaikan bagi perkembangan dunia.

Kepedulian para fotografer dengan membebaskan orang lain menggunakan karyanya, berkontribusi banyak bagi perkembangan dunia, meski terkadang tidak disadari.

Prinsip inilah yang mungkin pada suatu waktu harus juga dianut oleh banyak fotografer. Paling tidak, mereka bisa membagikan sebagian hasil karya mereka untuk membantu perkembangan orang lain.

Dan, meski masih kecil-kecilan, saya juga mencoba melakukannya. Setidaknya beberapa foto yang saya anggap berkualitas cukup baik dan bisa memberikan gambaran tentang "sesuatu" atau "sebuah tempat", sudah saya unggak di Wikimedia Commons, situs yang memang menyediakan foto gratis dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu foto yang pernah saya bagikan ada di atas ini yaitu foto Stadion Pakansari Kabupaten Bogor. Dipotret tahun 2017 silam. Ternyata, paling tidak ada dua laman yang sudah menggunakannya untuk pelengkap dan memberikan gambaran seperti apa stadion kebanggaan warga Bogor itu.

Lebih banyak lagi foto yang sudah dipergunakan di internet yang berasal dari website Lovely Bogor, sebuah blog yang bercerita tentang kehidupan di Bogor. Banyak fotonya yang diunggah di blog atau website lain. Ada yang memberi link balik, ada yang sekedar memberitahukan sumbernya, dan ada yang bahkan tidak menyebutkan apa-apa.

Yang manapun, saya tidak akan marah untuk itu. Bahkan, ada rasa senang karena hasil karya saya bisa dipergunakan orang lain. Bermanfaat dan bukan menjadi sekedar menuh-menuhin hard disk saja.

Jadi, kalau ada rekan yang hendak mempergunakan foto-foto di website ini, silakan saja. Kalau memang boleh meminta, tolong berikan link balik kepada website ini karena dengan begitu maka blog kecil ini bisa ikut berkembang. Tapi, kalau merasa berkeberatan, ya tidak masalah. Monggo, tapi jangan sebutkan hasil karya sendiri loh karena hal itu berarti penipuan dan berbohong, serta melanggar hak cipta orang lain.

Buat sesama fotografer, marilah merubah dunia dengan jalan "memotret untuk berbagi".

Mau kan?
Read More