2016 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Monday, November 28, 2016

KISS, Keep It Simple Stupid : Fotografi Itu Sederhana

Pantai Kelapa Rapat Lampung - Arya Fatin Krisnansyah

Fotografi itu sederhana. Mudah. Tidak sulit.

Cermin dari hal itu ada pada satu anekdot, atau istilah yang lazim di dunia fotografi, yaitu KISS.

Jangan berpikir ngeres dulu tentang kata itu. Memang dalam bahasa Inggris artinya terkadang bisa membuat seseorang berpikir agak menjurus, tetapi dalam fotografi maknanya jauh dari apapun yang mungkin sedang Anda pikirkan saat ini.

Keep It Simple, Stupid.

Itulah makna dari KISS dalam fotografi. Artinya "Jaga Tetap Sederhana".

Maksud dari anekdot ini adalah agar para fotografer tetap berusaha agar tidak berpikir terlalu rumit saat mengambil gambar.

Satu foto, satu tema, satu fokus, dan satu background.

Istilah KISS ini tidak sembarangan dibuat, tetapi berdasarkan pengalaman banyak fotografer bahwa sebuah foto yang sederhana justru yang paling besar kemungkinannya untuk meninggalkan kesan pada yang melihat.

Mungkin karena sederhana dengan satu fokus atau obyek, yang melihat bisa langsung menangkap ide yang disampaikan sang fotografer. Bisa juga karena dalam sebuah foto yang sederhana subyek dalam fotonya menjadi menonjol.

Perahu di pantai Klara Lampung - Arya Fatin Krisnansyah

Tetapi, yang paling mungkin adalah karena dengan berpikir sederhana, seorang fotografer menjadi tidak terbebani. Mereka bisa menikmati apa yang mereka lakukan dan sebagai sebuah kegiatan yang mengandalkan daya kreasi manusia, hal tersebut menjadi sangat menguntungkan.

Dengan tidak berpikir rumit, seorang fotografer bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya bak air mengalir tanpa hambatan dan batasan.

Mungkin karena berpikir sederhana inilah, dua foto dari Arya Fatin Krisnansyah, yang baru berusia 14 tahun saat ini enak dilihat. Padahal hanya dibuat dengan kamera smartphone Asus Padfone T00N.

Simpel. Sederhana. Tidak rumit. Sesuai dengan KISS, Keep It Simple Stupid.
Read More

Sunday, November 20, 2016

Selfie atau Swafoto Adalah Bagian Dari Fotografi



Selfie atau swafoto adalah sebuah kegiatan mengambil foto atau gambar diri sendiri dengan menggunakan kamera digital.

Kegiatan ini menjadi fenomena unik dalam peradaban umat manusia. Bukan hanya dari begitu cepatnya umat manusia mengadopsi, tetapi dari jumlah meraka yang melakukannya. Bisa dikata pada masa sekarang ini, hampir semua penduduk dunia ini pasti pernah melakukan selfie.

Bahkan dalam perkembangannya pun, berbagai benda diciptakan untuk membantu orang berselfie ria. Salah satunya adalah tongsis atau tongkat narsis yang ketenarannya pun membumbung tinggi mengiringi semakin populernya selfie.

Lebih jauh lagi, tidak sedikit produsen kamera pun kemudian menghadirkan vari-angle yang sangat fleksibel sehingga bisa dipakai melakukan swafoto. Tidak pernah terbayang sebelumnya kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) yang biasanya dipergunakan untuk sesuatu yang serius sekarang diperlengkapi juga dengan fasilitas penunjang selfie ini.

Apakah Selfie atau swafoto adalah bagian dari fotografi?

Sudah pasti akan ada banyak penggemar fotografi yang segera mengerenyitkan kening dan memandang heran kalau Anda tanyakan demikian.

Dijamin.

Walau sudah pasti mereka-mereka itu juga pernah melakukan selfie, tetapi pertanyaan ini mengusik sesuatu dalam diri banyak penggemar fotografi.

Kemungkinan besar, jawaban yang akan Anda diterima adalah TIDAK.

Bagi banyak penggemar fotografi, mereka memandang selfie bukanlah bagian dari seni melukis dengan cahaya ini. Selfie masih tetap dianggap sebagai anak "haram". Paling tidak bagi mereka yang sangat ketat dengan pakem bahwa fotografi adalah sebuah seni.

Selfie memang sedikit berbeda dengan kegiatan fotografi umum. Biasanya para penggemar fotografi akan mencoba menghasilkan sebuah foto berdasarkan pada obyek yang mereka lihat. Mereka mengabadikan keindahan tersebut lewat lensa kamera. Titik beratnya ada pada "fotografi bukanlah tentang diri sendiri".

Hal ini berkebalikan dengan inti dari selfiem yaitu "Semua tentang diri sendiri". Tidak akan sebuah foto disebut "swafoto" atau selfie kalau obyeknya orang lain.

Oleh karena itulah, banyak penggemar fotografi yang menganggap selfie atau swafoto bukanlah bagian dari fotografi. Kegiatan ini dianggap sebagai kegiatan orang iseng dan ingin tampil saja.

Meskipun demikian, saya berbeda pandangan tentang hal ini.

Selfie atau swafoto JELAS merupakan bagian dari fotografi. Tidak mungkin tidak.

Alasan mengapa selfie atau swafoto adalah bagian dari fotografi

Sederhana saja kok. Tidak rumit dan tidak ruwet.

1. Menggunakan kamera


Fotografi adalah seni melukis cahaya dengan menggunakan kamera. Selfie menggunakan kamera. Keduanya menunjukkan kesamaan penting yang tidak bisa terbantahkan.

Tidak akan ada fotografi tanpa ada kamera. Begitu juga tidak akan ada selfie tanpa kamera.


2. Fotografi tidak memberikan batasan obyek


Kenyataannya memang demikian. Definisi fotografi tidak memberikan batasan tentang obyek apa yang harus diambil agar bisa dimasukkan sebagai hasil karya fotografi. Dengan begitu, tidak ada masalah dengan menjadikan diri sendiri sebagai obyek kamera.

Bahkan di masa lalu pun ada yang namanya kategori self-portrait atau potret diri sendiri. Memang berbeda dengan di zaman sekarang, self portrait waktu itu fotonya tetap diambil oleh orang lain, sedangkan selfie dilakukan oleh diri sendiri.

Tetapi, seharusnya tidak masalah karena menjadikan diri sendiri sebagai obyek foto sudah dilakukan sejak lama. Kalau tidak percaya, silakan lihat pas foto.

3. Fotografi berkembang


Fotografi adalah bagian dari kehidupan manusia dan akan terus berkembang mengikuti perubahan yang terjadi di dalam kehidupan manusia.

Kalau tehnologi dan cara hidup manusia berubah, maka sudah selayaknya fotografi pun ikut menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Justru akan menjadi menentang kodrat kalau fotografi tetap berjalan di tempat sementara umat manusia sudah berubah jauh.

Jika manusia menginginkan selfie, maka fotografi harus mengadopsinya.


Dengan alasan-alasan ini, sulit dibantah bahwa selfie memenuhi semua syarat untuk dikategorikan sebagai bagian dari fotografi.

Memang, kebanyakan pelaku selfie jarang sekali memikirkan berbagai teori tyang biasa dipergunakan dalam dunia fotografi. Kebanyakan swafoto dihasilkan karena dorongan kesenangan saja dan dilakukan selama yang melakukannya suka. (Lagi-lagi tidak berbeda dengan para pelaku di dunia fotografi, sebenarnya)

Hal ini menyebabkan kebanyakan karya yang dihasilkan kurang enak dipandang (walau kalau yang melakukan selfie seorang wanita cantik, tetap enak dipandang meski secara teori fotografi salah besar sih).

Belum lagi bahwa disana kurang ada kreatifitas. Berbeda dengan genre fotografi manapun yang obyeknya berganti-ganti, dalam selfie, obyeknya selalu sama, ya yang motret.

Mungkin karena itulah, para kaum "priyayi" fotografi merasa tidak nyaman untuk menjadikan selfie duduk sama dengan dunia "seni" yang mereka tekuni. Anak haram yang bisa merusak darah biru dunia fotografi kalau dimasukkan dalam keluarga.

Sayangnya, fakta tidak bisa membantah tentang kenyataan sang anak haram itu. Selfie atau awafoto adalah bagian dari fotografi.

(Tulisan ini dibuat oleh seorang penggemar fotografi yang baru pernah melakukan selfie di bawah jumlah jari tangan)


Read More

Mengenal Leading Line atau Garis Penunjuk Dalam Fotografi

Leading Line atau Garis Penunjuk adalah istilah dalam fotografi untuk "garis-garis" yang membantu mengarahkan yang melihat foto kepada obyek atau subyek yang menjadi tema utama.

Tentu saja, garis-garis ini sebenarnya adalah imajiner dan tidak dibuat dengan sengaja oleh si pemegang kamera.

Seperti contoh foto di bawah ini


Pada foto di atas terlihat bahwa secara alami air, ombak, horison dan bahkan langit membentuk garis-garis. Hal ini tidak alami karena pada dasarnya mata manusia menangkap semua bentuk gambar dalam bentuk garis-garis, baik lurus atau tidak.

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh seorang fotografer untuk menggiring mata mereka yang melihat foto dengan memanfaatkan "garis-garis imajiner tersebut. Ia bisa mengusahakan agar garis-garis tersebut terarah ke arah obyek atau subyek yang menjadi inti dari foto tersebut.


Leading Line bisa terbentuk oleh banyak hal. Jalan, bangunan, pohon dan masih banyak hal lain yang bisa menjadi garis penunjuk yang diperlukan.

Itulah mengapa penting bagi seorang pemotret untuk mengamati lingkungan sekitarnya. Pola-pola simetris apa yang bisa membantu untuk menunjang dan memanjakan mata manusia.
Read More

Thursday, November 17, 2016

Menggunakan Mode Auto, Bukan Sebuah Masalah!


Fitur Mode Auto merupakan fitur standar yang ada dalam setiap kamera. Kamera saku, Prosumer, DSLR, atau Mirrorless akan selalu diperlengkapi dengan fitur ini.

Fitur ini disediakan untuk memberikan kemudahan penggunanya yang tidak mau terlalu repot memikirkan tentang bagaimana memadukan ISO, Aperture, atau Shutter Speed.

Dengan fitur ini, memang seorang pemotret berarti menyerahkan pengaturannya pada si kamera itu sendiri, aloas memakai setting standar yang disediakan oleh pihak pabrikan.

Praktis dan tidak pusing.

Meskipun demikian, sebagian masyarakat dunia fotografi menganggap menggunakan mode auto sebagai sebuah "kelemahan" tersendiri. Banyak dari mereka yang berpandangan bahwa meletakkan semua tanggung jawab mengatur setting pada kamera menunjukkan bahwa sang pemegang kamera tidak memiliki skill fotografi yang mumpuni.

Apalagi, kalau definisi fotografi sebagai "Melukis Dengan Cahaya" dipakai. Penggunaan mode auto dianggap kurang memberikan aspek "melukis" karena semua pengaturan diletakkan pada hasil pemikiran orang lain dan bukan dari diri sendiri layaknya sebuah karya seni.

Betul kah demikian?

Coba kita lihat sedikit beberapa alasan mengapa orang menggunakan mode auto ini.

Alasan menggunakan mode auto kamera


1) Tidak paham tehnik fotografi


Yap. Betul sekali. Memang ada bagian dari pengguna kamera yang sama sekali tidak memahami apa itu ISO, Aperture, atau Shutter Speed.

Otomatis, dengan tidak mengerti tentag hal-hal itu maka mereka tidak akan bisa melakukan setting yang diinginkan. Oleh karena itu maka mereka menyerahkan pada sang kamera untuk mengurusnya sendiri.

2) Malas


Bisa jadi karena malas belajar yang berakibat pada no 1 atau memang benar-benar sedang malas berpikir.

Yang terakhir bisa terjadi lo! Namanya manusia terkadnag rasa malas hadir dan membuat otak seperti tidak mau bergerak untuk berpikir hal-hal yang rumit.

Bukan berarti tidak bisa, tetapi karena dorongan rasa malas saja.

3) Kebutuhan


Mungkin terdengar mengherankan, tetapi ada  banyak kategori dalam dunia fotografi yang justru mengandalkan mode auto. Contohnya adalah fotografi jalanan.

Berbeda dengan fotografi studio atau pra wedding atau landscape, dimana obyek bisa diatur atau bersifat statis sehingga waktu pengambilan keputusan lebih panjang, fotografi jalanan seringnya hanya memiliki waktu sangat pendek.

Hal itu karena fotografer jalanan tidak bisa mengatur obyeknya yang merupakan orang-orang tidak dikenal. Oleh karena itu mereka harus memutuskan untuk memotret atau tidak dalam waktu sepersekian detik.

Waktu yang tidak cukup sama sekali untuk berpikir tentang ISO atau Aperture yang cocok.

Wartawan foto dan jurnalis olahraga pun kerap menggunakannya.

4) Mementingkan Komposisi


Menghasilkan sebuah foto yang bagus bukan sekedar tentang tehnik mengendalikan kamera saja. Ada bagian lain yang justru terlepas dari kameranya, yaitu Komposisi.

Komposisi sebuah foto adalah cerminan dari ide yang ada di kepala sang pemegang kamera. Hal itu juga memakan waktu dan tentunya kalau ditambah lagi dengan berpikir mengenai setting yang pas untuk ide tersebut bisa membuat kepala tambah ruwet.

Ada banyak fotorafer yang memutuskan untuk menekankan pada komposisi fotonya dibandingkan pengaturan kameranya.


Apakah bisa menghasilkan foto bagus dengan mode auto?

Bagus atau tidak adalah sebuah hal yang relatif dan subyektif. Tidak bisa disamaratakan.

Tetapi, dengan semua kemajuan tehnologi kamera dewasa ini, sebuah foto bagus dan menarik tidak lagi hanya tergantung pada kemampuan seorang fotografer mengoperasikan kameranya. Hal itu justru sudah bergeser pada "kemampuan" nya untuk menerjemahkan ide di kepala dalam foto-fotonya.

Kemampuan mengatur settingan kamera bisa memberikan ruang lebih dalam kreatifitas, tetapi bukan lago sebuah hal yang mutlak.

Oleh karena itu, bahkan dengan menggunakan mode auto pada kemranya, banyak orang awam bisa menghasilkan foto yang tidak kalah dengan fotografer pro.

Kelemahan mode auto

Tidak ada gading yang tidak retak. Pasti ada juga kelemahan atau kekurangan kalau terbiasa memakai mode auto.


1)  Pengetahuan tidak bertambah


Mau tidak mau. Praktis dan tidak ribeut.

Hasilnya, kita tidak lagi mau tahu dan belajar tentang apa itu ISO , Aperture dan lain sebagainya. Seperti punya prmbantu rumah tangga yang mengerjakan semua urusan sehingga kita tidak lagi tahu cara memasak.

Bahkan yang sudah ahli mengatur settingan kamera bila ia berpindah ke mode auto terlalu lama, suatu waktu kemampuannya menyetting kamera pun akan berkurang. Bagaimanapun mengoperasikan kamera adalah skill yang harus terus diasah.

Kondisinya tidak berbeda dengan pemain sepakbola berbakat yang tidak berlatih. Akan ada perubahan dalam dirinya.


2) Tidak selalu sesuai dengan keinginan


Namanya dibuat secara standar, tentunya berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh perancang dan pembuatnya. Bisa hasilnya sesuai kemauan, bisa juga tidak.

Dengan kata lain, tetap akan ada sikon dimana hasil foto yang dihasilkan tidak sesuai dengan ide yang ada di kepala tentang sebuah obyek.


Bagi saya sendiri, fitur mode auto adalah sebuah opsi. Kadang saya pakai, kadang tidak.

Oleh karena itu, menggunakan mode auto tidak menunjukkan apa-apa. Terlalu banyak variabel dalam sikap manusia untuk bisa memutuskan apakah yang menggunakan karena mereka tak tahu, malas, atau karena kebutuhan.

Lebih baik tidak membuat sebuah prasangka berdasarkan sesuatu yang tidak jelas.

Lagi pula, fotografi tidak bisa lepas dari kemajuan tehnologi. semakin banyak fitur yang dibuat untuk memudahkan pemegang kamera menghasilkan gambar yang baik, mode auto adalah salah satu fitur itu.

Juga, baik atau buruknya hasil sebuah foto, tidak pernah hanya terletak pada pengetahuan tentang tehnik mengatur setting kamera saja. Banyak hal lain di dalamnya.

Jadi, ikut kata Gus Dur, "gitu aja kok repot", saya pilih mengatakan jangan dibuat masalah kalau memang Anda hanya bisa atau mau menggunakan mode auto saja. Tidak usah dipikirkan kalau ada yang bilang "nggak pro".

Percayalah, yang mengatakan akan terdiam kalau foto hasil jepretan dengan mode auto terlihat bagus. Karena bagaimanapun fotografi adalah tentang hasil, tidak peduli cara mendapatkannya, sebuah foto yang menarik dan enak dipandang akan tetap diapresiasi.

(Catatan : semua foto di artikel ini dihasilkan dengan menggunakan mode auto Fujifilm Finepix HS 35 EXR)

Read More

Thursday, November 10, 2016

Mengenal Fotografi Makro atau Macro Photography


Fotogafi Makro atau Macro Photography adalah kategori fotografi yang menekankan pada detail dari obyek yang ditampilkan. Bisa kata kategori ini adalah mirip dengan foto close-up tetapi dengan menggunakan obyek yang kecil, seperti bunga atau serangga.

Dalam kategori ini , obyek yang biasanya tidak bisa terlihat jelas oleh mata diperlihat besar dan bahkan sangat detail. Mirip dengan melihat sesuatu dengan memakai mikroskop.

Biasanya sebuah hasil karya fotografi makro merupakan perpaduan dari obyek kecil + latar belakang blur (bokeh). Latar belakang tidak terlalu memegang peranan penting, oleh karena itu seringkali sengaja dikaburkan.


Cara pembuatan foto dalam kategori ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas zoom optikal yang ada di kamera digital masa kini. Semakin besar kemampuan zoom yang bisa dilakukan kamera, semakin detil foto yang akan dihasilkan.

Anda bisa coba sendiri melakukannya karena cukup mudah.

Pilih obyek yang kecil, atau juga bagian tertentu dari sebuah obyek yang besar, kemudian arahkan lensa dengan zoom maksimal yang bisa dilakukan. Kalau bisa, lakukan dengan sedekat mungkin dengan obyek.

 

Read More

Saturday, November 5, 2016

Tips #11 : Jangan Terlihat (Fotografi Jalanan)


Salah satu hal yang harus mahir dilakukan oleh seorang fotografer jalanan adalah JANGAN TERLIHAT.

Mengapa harus diusahakan jangan terlihat adalah karena sifat dari fotografi jalanan mirip dengan foto jurnalistik, yaitu diusahakan sebisa mungkin pergerakan fotografer tidak bersinggungan langsung dengan obyek. Hal ini untuk menjaga agar model atau target yang diincar tetap beraktifitas seperti biasa.

Terlihat mudah diucapkan tetapi sebenarnya cukup sulit dilakukan.

Terkadang baru saja kita mengangkat kamera ke depan mata untuk membidik, sang obyek sudah menyadari bahwa ia dijadikan target lensa. Hasilnya, biasanya sikap mereka menjadi sangat tidak natural dan agak kaku.

Untuk itu, seorang fotografer jalanan harus mencari cara agar mereka menjadi seperti "TIDAK TERLIHAT" oleh targetnya.

Hal itu tidak perlu dilakukan dengan bersembunyi seperti maling. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat target atau obyek tidak menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran bidik.

1. Memotret dari jarak jauh


Dengan menggunakan lensa zoom, maka kita jarak antara pemotret dan obyek bisa dijaga cukup jauh. Semakin besar jarak, maka semakin besar kemungkinan sang target tidak menyadari dirinya menjadi sasaran.

2. Memakai kamera yang kecil


Memang DSLR akan menghasilkan sebuah foto yang jauh lebih baik dibandingkan kamera saku atau smartphone. Sayangnya ukurannya yang besar mudah sekali terlihat. Belum lagi ditambah pengaturan setting yang memakan waktu bisa membuat kita kehilangan momen.

Penggunaan kamera saku atau smartphone bisa menjadi pilihan mengingat ukurannya kecil dan bisa cepat dioperasikan. Semua ini akan sangat bisa membantu fotografer melakukan respons yang cepat. Tetapi, tentunya ada yang harus dikorbankan, yaitu kualitas dari foto itu sendiri.


3. Berbaur dalam keramaian


Cara lainnya meniru bunglon. Maksudnya, seorang fotografer harus bisa berkamuflase. Dengan berbaur di antara keramaian orang-orang, maka kehadirannya akan tertutupi oleh kehadiran orang lain. Hal ini bisa membuat dirinya lebih bebas mengamati sasaran dan kemudian bereaksi dengan cepat ketika kesempatan memotret itu ada.

Oleh karena itu, seorang fotografer jalanan juga harus mampu berinteraksi dan bergaul dengan lingkungan dimana ia hendak memotret. Dengan begitu, maka ia selain bisa mengenali lingkungan, juga membuat dirinya menjadi "bagian" dari kehidupan disana.

Itulah yang biasa saya lakukan kalau hendak berburu foto di jalanan Bogor. Siapa tahu bisa Anda manfaatkan.

Read More

Monday, October 31, 2016

Tips #10 : Jangan Serakah! Pilih bagian yang paling menonjol


Memang seringnya kalau kita sedang berwisata ke suatu tempat wisata rasanya hadir keinginan untuk merekam semua yang terlihat dan kemudian membawanya pulang untuk ditunjukkan kepada sanak saudara.

Sayangnya, justru itu yang seringnya menghambat kita untuk emnghasilkan sebuah foto yang indah. Karena terlalu banyak hal yang ingin diabadikan, hasilnya justru sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kita lihat.

Hal ini ternyata karena kita sering menjadi lupa bahwa ukuran lensa yang dipakai tentunya tidak akan bisa menampung semua hal yang terlihat. Lensa, walau meniru cara kerja mata manusia, tidak memiliki kemampuan yang sama dengan indera manusia ini. Masih banyak keterbatasan.

Oleh karena itu, seorang fotografer haruslah bersikap untuk "jangan serakah" saat memotret. Ia harus memilah dan menentukan titik sasaran yang akan dijadikan obyek bagi lensanya.



Mengapa harus "Jangan Serakah" dan memilih bagian yang menonjol?

Ok lah sekarang kita coba bayangkan sedikit. Sebagai contoh, saya ambil foto-foto yang terpajang di artikel ini yang diambil setahun lalu di curug Cigamea, Gunung Salak Endah, Kabupaten Bogor.

Curug (air terjun) itu memiliki ketinggian 40-50 meter dan lebar sekitar 40-50 meter juga (terdiri dari dua air terjun).

Kira-kira bagaimana kalau kita mencoba memasukkan semuanya ke dalam satu foto? Bisakah menurut Anda?

Jawabannya tentu saja TIDAK.

Terlalu besar dan luas.

Lensa jenis wide sekalipun tidak akan bisa melakukannya. Memakai "fitur" panorama, bentuknya akan agak melengkung. Kalaupun mengambil jarak agar bisa memasukkan semuanya, maka obyeknya akan mengecil dan justru akan menghilangkan keindahan yang ingin dipamerkan.

Satu-satunya cara adalah dengan memilah dan mengambil bagian dari obyek yang "paling menonjol" atau "paling menarik".

Kemudian pikirkanlah apa yang ingin ditampilkan dalam foto. Curug atau air terjun adalah tentang "AIR" yang tercurah dari ketinggian. Ambillah sebagian darinya dan kombinasikan dengan obyek-obyek lain yang ada di sekitar.


Memilih bagian yang menonjol pun berlaku kalau obyeknya manusia atau hal lainnya.Tidak semua bagian dari obyek manusia menarik. Terkadang kita menemukan mukanya cantik tetapi badannya tidak ideal. Badannya ideal, wajahnya kurang menarik.

Kita bisa menonjolkan bagian yang paling menarik saja dan menyisihkan bagian lain yang kurang.


Jadi, usahakan untuk tidak berpikir SERAKAH dalam memotret.
Read More

Pelindung Kamera Darurat Saat Hujan : Kantung Plastik!


Sedang asyik-asyik berburu foto, kemudian hujan turun. Rusak sudah suasana. Apalagi kalau buruan menarik tersebut adanya di sebuah event yang hanya datang setahun sekali.

Masalah utamanya, meskipun berbagai obyek menarik bersliweran, tetapi otak justru menghadirkan hambatan untuk memotret. Otak memberi sinyal "Kamera". Alarm terus keluar karena seberapapun tertariknya untuk memotret, rasa sayang terhadap kamera menghentikannya.

Kalau dipaksakan memotret di bawah guyuran hujan, meskipun kecil, tetap ada resiko air akan membasahi kamera. Hasilnya bisa diduga, banyak bagian dari kamera adalah komponen elektronik, beberapa tetes air, saja bisa membuatnya tidak berfungsi lagi. Padahal saat itu belum sempat membeli pelindung kamera yang berupa jaket pembungkus.

Itulah yang saya alami saat berburu foto di acara Cap Go Meh Bogor 2016 yang lalu. Keasyikan melihat wajah-wajah dan pakaian unik peserta pawai terhenti ketika tetesan hujan mulai menyirami.

Tetapi ternyata, dalam rintik hujan yang semakin deras tetap ada beberapa orang sesama penggemar fotografi jalanan yang meneruskan aktifitasnya. Hujan seperti tidak mempengaruhi semangat mereka merekam momen dan menghasilkan foto.

Ternyata mereka menemukan sebuah alat sederhana yang memungkinkan aktifitas memotret tetap berjalan dan sekaligus melindungi kamera dari tetesan air hujan. Mereka tidak memakai pelindung kamera yang harganya lumayan (mahal) itu, tetapi memakai benda yang ada saja.

Apa yang mereka pergunakan? Silakan lihat sendiri hasil jepretan di bawah ini.



Yap. Kantung plastik.

Bagian bawahnya dibolongi/dirobek. Kemudian kamera (Mirrorless atau DSLR) dibungkus sehingga hanya layar dan lensanya saja yang terbuka. Ada yang diikat pakai tali, ada juga yang diikat pakai karet.

Hasilnya, kamera tetap terlindungi dari air (karena sifat tahan air dair plastik) dan memotret tetap bisa berjalan. Rupanya menjadi fotografer pun harus menjadi kreatif bukan hanya dengan kameranya tetapi juga untuk menghadapi masalah yang harus dihadapinya di jalan.


Bisa juga ditambah dengan rekan yunior yang bersedia memayungi, hasilnya bisa lebih afdol. Hujan bukan lagi halangan untuk berburu foto.


Nah, silakan tanyakan juga bagaimana foto ini dihasilkan padahal saat itu gerimis lumayan deras di Bogor? Atau Anda sudah tahu jawabannya?
Read More

Sunday, October 30, 2016

Apa itu Foto Jurnalistik atau Fotojurnalisme

Pemandangan kemacetan di Jembatan Merah Bogor ini merupakan sebuah hal rutin yang terjadi setiap harinya di salah satu sudut Kota Hujan ini
Foto di atas dan caption di bawahnya banyak ditemukan setiap harinya di berbagai media online dimanapun. Bukan hanya Indonesia tetapi juga di negara lainnya.

Sebuah foto dengan keterangan singkat terkait dengan foto tersebut merupakan salah satu bentuk dari fotojurnalisme atau foto jurnalistik. Kategori dalam fotografi ini juga kerap disebut dengan liputan atau reportase.

Biasanya foto-foto dengan gaya seperti ini memang dihasilkan oleh mereka-mereka yang bergelut dalam bidang pemberitaan atau pers. Oleh karena itu biasanya kita akan menemukannya di berbagai media massa, baik cetak ataupun online.

Apa itu Foto Jurnalistik atau Foto Jurnalisme?

Foto Jurnalistik atau Fotojurnalisme adalah foto atau kategori foto yang bertujuan untuk menyampaikan berita, peristiwa, atau informasi dalam bentuk karya foto.

Biasanya karya foto yang dihasilkan oleh fotografer yang bergelut di bidang ini tidak tampil sendirian. Bersama dengannya akan ada sedikit ulasan singkat yang berisikan informasi dan penjelasan mengenai dimana, apa, dan kapan serta inti yang ingin disampaikan oleh sang pemotret kepada khalayak luas.

Itulah tujuan utama dari fotojurnalisme. Menyampaikan informasi.

Berbeda dengan beberapa kategori fotografi lainnya, kategori yang ini tidak terlalu mementingkan segi estetika atau keindahan. Tujuannya memang berbeda karena kalau kategori yang lainnya bertujuan membangkitkan "rasa" dalam hati yang melihat, foto jurnalistik menekankan pada informasi. Meskipun demikian banyak wartawan foto yang handal akan memasukkan estetika dalam setiap karya fotonya.

Siapa yang bisa membuat foto jurnalistik?

Tentu saja dalam peringkat pertama mereka yang bisa menghasilkan foto jurnalistik adalah mereka yang bergerak dalam bidang penerbitan berita. Jurnalis atau wartawan foto adalah pihak yang paling banyak menghasilkan foto-foto jenis ini.

Meskipun demikian, sejak beberapa tahun terakhir dengn berkembangnya konsep Jurnalisme Warga atau Citizen Journalism, bisa dikata batasan itu sudah tidak ada lagi. Semua orang selama mereka memegang kamera dan bisa menghasilkan foto-foto bernilai berita bisa melakukannya.

hal itu bisa dilihat dari berbagai foto yang dishare di berbagai media sosial, banyak dari foto-foto tersebut memiliki nilai jurnalistik.

Kemactan di Jalan Kapten Buslihat Bogor

Syarat sebuah foto bisa dikategorikan sebagai foto bernilai berita

Bisa dikata penentuan sebuah foto bisa dikategorikan sebagai foto jurnalistik atau bukan akan ditentukan oleh tim redaksi sebuah koran atau majalah. Hal ini disebabkan karena tujuan foto jurnalistik adalah pengumpulan berita dan informasi untuk disebarkan kepada publik.

Penentuannya tidak sembarangan karena mayoritas mereka yang berada dalam tim redaksi adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang teori jurnalistik dan juga penerbitan pers. Mereka berwenang menentukan apakah sebuah foto bernilai berita atau tidak.

Meskipun demikian, dengan semakin berkembangnya pertehnologian kamera dan juga internet, peran ini menjadi tidak mutlak. Setiap orang bisa saja menghadirkan foto-foto yang dianggap mereka bisa menyampaikan informasi kepada orang lain.

Beberapa pihak ini seperti blogger yang memang juga akan banyak menggunakan foto dalam artikel-artikel ayng diterbitkannya. Bahkan bagi blogger yang memiliki blog beritanya, mereka melakukan hal yang hampir mirip sekali dengan apa yang dilakukan para jurnalis formal.

Mereka berpatokan pada interpretasi mereka sendiri pada hal-hal yang menjadi dasar dan syarat bagi foto jurnalistik seperti :

  1. Tidak melakukan perubahan pada subyek atau peristiwa dalam fotonya
  2. Tidak melakukan foto editting yang merubah peristiwa atau obyek yang ada dalam foto
  3. Menggunakan model yang dibayar untuk tampil dalam fotonya
  4. Peristiwa dalam foto bukan merupakan hasil rekaan dan arahan dari fotografer
  5. Subyek atau obyek foto tidak menggunakan perlengkapan atau hal lain yang disediakan oleh fotografer
  6. Tidak melakukan penggabungan dua buah foto atau lebih
  7. Tidak melakukan perubahan terhadap obyek atau subyek yang ada di dalam foto, seperti menghilangkan jerawat dan sebagainya

Dengan kata lain, sebuah foto jurnalistik harus bercerita apa adanya. Tidak boleh ada perubahan yang memberikan impresi atau kesan yang berbeda dengan kejadian aslinya.


Foto jurnalistik tidak berdiri sendiri

Memang foto bisa bermakna 1000 kata, tetapi dalam foto jurnalistik, sebuah foto tidak bisa berdiri sendiri. Biasanya foto-foto ini akan dilengkapi dengan penjelasan singkat ala jurnalis tentang kapan, dimana, dan apa.

Hal ini diperlukan karena bagaimanapun jurnalistik adalah ilmu atau pengetahuan untuk menyampaikan informasi kepada publik. Ilmu ini sangat menghindari adanya ketidak mengertian atau "gagal paham" pada yang melihat.

Untuk itu semuanya harus dibuat segamblang dan sejelas mungkin. Bahkan dalam jurnalistik dikenal istilah EDFAT (Entire, Details, Frame, Angle, Time - Menyeluruh, Rinci, Menggambarkan, Sudut, dan Waktu).

Sebuah foto dalam kategori ini harus mampu memperlihatkan rincian peristiwa, sudut pandang yang dipakai, serta waktunya. Oleh karena itu penambahan keterangan singkat seperti ini merupakan hal wajib.


Kontingen dari luar Bogor dengan menggunakan pakaian adat Bali dalam Perayaan Cap Go Meh Bogor 2016
(Catatan : ada watermark Lovely Bogor di foto di atas karena pemilik blog ini juga pemilik blog Lovely Bogor)

Tips fotojurnalisme

Tips ini dberikan oleh seorang jurnalis foto senior dari Reuters, Damir Sagolj asal Sarajevo bagi mereka yang ingin menghasilkan foto bernilai jurnalistik. (disarikan dan ditulis ala Maniak Potret)

1. Siap Sedia

Siap sedia adalah kata kuncinya. Foto jurnalistik mirip dengan fotografi jalanan dimana seorang fotografer harus mengandalkan pada insting untuk menemukan momen-momen. Bedanya fotografi jalanan mencari momen yang bisa memperlihatkan keindahan dan bernilai seni, tetapi seorang jurnalis foto mencari peristiwa-peristiwa yang bernilai berita.

Mereka harus menemukan dan bukan membuat. Oleh karena itu, bila hendak membuat foto jurnalistik, seseorang harus selalu waspada dan bisa mengantisipasi potensi hadirnya peristiwa di depannya.

2. Pelajari 

Seorang jurnalis foto harus mempelajari berbagai hal tentang target yang akan menjadi sasaran kameranya. Sebagai contoh, bila ia ditugaskan untuk memburu foto seorang terkenal atau selebriti, maka ia perlu mempelajari kebiasaan dari "buruannya". Dimana ia biasa makan siang, bermain, bahkan buang air pun akan sangat membantunya dalam mendapatkan foto-foto dari buruannya.

Begitu juga dengan lokasi. Pengetahuan tentang lokasi akan bisa membuatnya mengetahui dari sudut mana pengambilan gambar akan menghasilkan foto yang menarik.

3. Buat pertemanan

Memburu seorang selebriti tidaklah mudah. Begitu juga mendapatkan foto kecelakaan atau tanah longsor, seringkali seorang fotografer akan dihadapkan pada hambatan berupa petugas hukum, masyarakat yang tidak ramah.

Dengan berinteraksi dan berteman , maka semakin besar kemungkinan hambatan-hambatan seperti ini bisa diantisipasi dan dipecahkan. Oleh karena itu buatlah channel sebanyak mungkin karena kita tidak akan pernah tahu kapan bantuan mereka diperlukan.

4. Skala Prioritas

Kalau dalam sebuah lokasi ada Syahrini dan Nadya Hutagalung hadir bersamaan, tetapi berada pada posisi terpisah, manakah yang harus didahulukan? Nadya Hutagalung cantik dan sexy dan seorang foto model terkenal, saya suka gayanya. Tetapi, kalau saya seorang jurnalis foto, maka saya akan memprioritaskan Syahrini.

Mengapa?

Karena Syahrini memiliki nilai jual dan berita yang jauh lebih tinggi. Fotonya keluar dari angkot saja bisa mengundang ribuan orang untuk mengklik sebuah berita meskipun isinya sebenarnya begitu-begitu saja.

Singkatnya buat skala prioritas, dimana subyek atau obyek yang lebih mungkin mendapatkan perhatian banyak orang harus selalu berada di urutan teratas, kalau tidak mungkin mendapatkan keduanya.

5. Perbaiki kemampuanmemotret

Untuk menghasilkan sebuah foto jurnalistik seorang fotografer akan selalu berhadapan dengan yang namanya "decisive moment". Dalam kondisi ini sebuah peristiwa akan hadir dalam waktu sepersekian detik dan tidak akan bis adiulang.

Oleh karena itu, seorang fotografer harus sangat memahami berbagai hal terkait dengan fotografi seperti pengaturan kamera, komposisi, dan lain sebagainya. Semakin terlatih seseorang, maka semakin besar kemungkinan untuk menghasilkan foto bernilai tinggi. Berlatih dan berlatih adalah salah satu kunci utamanya untuk terus meningkatkan kemampuan diri sebagai fotografer.


6. Berinteraksilah

Bergabung dalam komunitas atau kelompok orang-orang sejenis, dalam artian sesama penggelut jurnalistik foto akan membawa keuntungan. Informasi-informasi tentang berbagai event akan bisa didapat.

Dengan begitu, seorang jurnalis foto akan bisa mengantisipasi harus pergi kemana untuk mencari buruan yang bernilai berita.

7. Menghilanglah

Bukan berarti Anda harus bersembunyi di balik tembok untuk mendapatkan foto tetapi jadilah tidak nampak bagi obyek atau subyek yang Anda buru.

Salah satu kunci utama dalam jurnalisme foto adalah menjadi "tidak terlihat", stealth bahasa Inggrisnya. Dengan begitu sang obyek tidak akan menyadari bahwa dirinya menjadi incaran dan akan tetap bersikap dan bertingkah laku biasa dan normal.

Penampakan yang menyolok seringkali membuat obyek merubah sikapnya dan jelas sangat mengurangi nilai berita dari sebuah foto.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara sembunyi dan menggunakan lensa tele. Berbaur dengan lingkungan sekitar juga bisa menyamarkan kehadiran dan membuat sang subyek tetap melanjutkan aktifitasnya.


Seorang warga Bogor bersusah payah di tengah jalan untuk menandatangani spanduk berisikan janji untuk mempopulerkan Kota Bogor sebagai Bogor the Loveliest City

Kira-kira begitulah penjelasan singkat tentang foto jurnalistik.

Semoga bisa bermanfaat.

Read More

Saturday, October 29, 2016

Fotografi itu Dinamis dan Tidak Statis


Banyak kaum puritan dalam dunia fotografi memandang bahwa penggunaan perangkat lunak pengubah citra (photo editting software) merupakan sebuah bentuk kecurangan. Mereka berpandangan bahwa yang namanya fotografi itu seharusnya harus dilakukan antara seorang manusia, sang fotografer dengan kameranya saja. Penggunaan perangkat lain selain itu tidak seharusnya dilakukan.

Perbuatan melakukan perubahan pada sebuah foto di luar kamera adalah sesuatu yang dianggap sama dengan pekerjaan mencontek pada saat ujian.

Tetapi, bila diteliti kembali kalau hal itu dilakukan maka berarti mayoritas fotografer, penggemar fotografi atau apalah namanya di masa kini melakukan semua "kecurangan" tersebut.

Bagaimana tidak? Sebuah kamera digital jelas sudah berbeda jauh dengan berbagai bentuk kamera yang diciptakan. Terutama bila dibandingkan dengan kamera obscura , nenek moyangnya kamera beberapa abad lalu.

Dalam sebuah kamera digital dewasa ini di dalamnya terdapat berbagai perangkat yang tidak berbeda jauh dengan sebuah komputer. Ada prosesor berkecepatan tinggi. Ada perangkat lunak pengolah citra sehingga bisa melahirkan berbagai jenis foto, seperti provia, black and white, vignette, dan lain sebagainya.

Bisa dikata dalam kamera digital masa kini, sebuah foto lahir dan bisa dinikmati banyak orang setelah melalui proses dengan software yang berada di dalam kamera. Bahkan, pada kamera yang menggunakan film sekalipun sebuah foto bisa dilihat dan dinikmati banyak orang juga setelah melalui proses di kamar gelap. Tidak serta merta sebuah foto bisa keluar dari kamera begitu tombol shutter ditekan.

Tidak pernah terjadi hal seperti itu. Semua foto sudah melalui proses panjang mulai tombol shutter ditekan hingga berada di tangan yang melihat.

Bedanya adalah di masa lalu, proses itu "panjang" dan memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan di masa sekarang, proses tersebut bisa dipersingkat dalam sepersekan detik saja hingga hasilnya bisa ditampilkan dan dilihat.

Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada kecurangan apa-apa ketika dilakukan proses editting pada sebuah foto di luar kamera. Hal itu hanyalah sebuah proses tambahan yang menyesuaikan dengan kemajuan tehnologi saja.

Toh bukan kah pada dasarnya sejarah fotografi dunia menunjukkan bahwa seni melukis cahaya ini tidak bisa luput dari perkembangan kehidupan dan budaya manusia, terutama tehnologi? Mulai dari potret yang membutuhkan kain penutup pada fotografer sebelum mengambil gambar, kemudian kamera yang menggunakan film, kamera polaroid, hingga akhirnya kamera digital dan yang terakhir adalah kamera mirrorless.

Kesemua ini menunjukkan sesuatu yang dinamis. Fotografi terus berkembang, dalam peralatan, filosofi, hingga tehniknya.

Sejarah panjangnya menunjukkan hal itu dan memang begitu faktanya. Tidak bisa dicegah. Itu adalah kodrat dari fotografi itu sendiri yang akan terus berjalan beriringan dengan kehidupan manusia. Selama manusia terus berubah dan mengembangkan diri, maka fotografi itu sendiri akan mengikutinya. Tidak bisa dicegah.

Selama manusia masih dinamis, maka fotografi pun akan dinamis. Tidak akan bisa dipaksa menjadi statis karena justru dengan membatasinya, maka berarti fotografi akan kehilangan intinya itu sendiri, yang berupa keterkaitan dengan manusia.

Oleh karena itu rasanya tidak perlu mempermasalahkan penggunaan berbagai perangkat lunak untuk menghasilkan foto yang menarik. Toh fotografi adalah tentang hasil akhir. Tidak akan ada yang bertanya bagaimana sebuah foto bisa begitu membuat mata terbelalak. Penikmat foto tidak akan bertanya itu sebelum memberi komentar atau pujian.

As long as they are happy, selama mereka suka dan menikmati, mengapa harus dipermasalahkan cara menghasilkannya. Selama bukan merupakan foto hasil karya orang lain, bukan sebuah masalah jika sebuah foto sudah dipermak habis-habisan di dalam sebuah komputer dan bukan kamera.

Lagi pula, apa sulitnya untuk membuatkan satu kategori atau sub kategori lain yang bisa menjadi wadah penyuka fotografi komputer dan membedakannya dengan fotografi kamera, seperti yang sudah diberikan pada kalangan penyuka foto HDR.

Sesederhana itu.

Bikmati saja kedinamisan dunia fotografi. Bukankah karena itu kita menyukainya?

Bukan begitu kawan?


Read More

Thursday, October 27, 2016

Fotografi Human Interest, Apa sih maksudnya?


Terus terang. Ngaku deh. Menerangkan sebuah istilah dalam fotografi itu terkadang menyulitkan karena tidak adanya batasan yang jelas. Perlu waktu cukup lama untuk memahami makna dan juga perbedaaan antara satu kategori dengan kategori lainnya.

Salah satu yang paling sulit untuk dijelaskan adalah tentang apa itu Fotografi Human Interest.

Mengapa sulit? Karena fotografi adalah tentang merekam berbagai momen dalam kehidupan. Jadi, mau tidak mau unsur manusia sulit untuk dilepaskan dalam berbagai kategori fotografi, kecuali tentunya mereka yang bergelut dalam fotografi satwa.

Jadi, tidak heran kalau batasan dan definisi yang jelas tentang apa itu Fotografi Human Interest sendiri sering tercampur aduk dengan berbagai kategori lainnya yang menitikberatkan pada manusia sebagai obyeknya, seperti fotografi jalanan (street photography), fotografi budaya (culture photography), fotografi potret (portrait photography), dan sebagainya.

Apa itu Fotografi Human Interest?


Fotografi human interest, kalau dalam bahasa Indonesia mungkin diterjemahkan sebagai fotografi humanisme, adalah kategori dalam dunia fotografi yang menekankan pada "manusia" sebagai obyek utamanya. Hanya berbeda dari yang lain, kategori ini memberi tekanan tersendiri pada mood/suasana hati manusia di dalam setiap foto yang dihasilkan.

Kategori ini biasanya menggambarkan kehidupan sang obyek dan keterkaitan emosi mereka dengan lingkungannya. Tujuan akhirnya adalah untuk menghadirkan simpati atau "rasa" di dalam diri yang melihatnya. Oleh karena itu banyak dari penggemar fotografi human interest menyasar obyek yang berasal dari "kalangan bawah" (ekonomi lemah) yang mendukung usaha menarik "simpati".

Ada beberapa ciri khas dari kategori fotografi jenis ini.

1. Tidak dibuat-buat/natural

Obyek foto dari fotografi humanisme ini tidak diatur. Berbeda dengan fotografi model dimana sang obyek foto akan diberi arahan oleh sang pemotret.

Oleh karena itu biasanya foto yang diambil dilakukan secara "candid" alias tersembunyi. Hal ini juga dilakukan karena unsur natural adalah bagian pentingnya.

Terkadang karena tehnik dan pendekatan yang sama, kategori ini bercampur dengan kategori lainnya, fotografi jalanan.

2. Menekankan emosi dan mimik

Mimik atau emosi baik di wajah atau dalam bahasa tubuh sang obyek adalah bagian terpenting bagi fotografi humanisme ini. Hilangnya bagian ini bisa menggeser sebuah foto menjadi sekedar fotografi jalanan.

Oleh karena itu dalam berbagai foto dari kategori ini dilakukan secara "close up" alias obyek foto difokus sebesar mungkin. Tidak jarang foto-fotonya menjadi sangat mirip sebuah potret. Lagi-lagi membuat kategori ini bersinggungan dengan kategori lainnya, fotografi potret.


Tips membuat foto human interest

Meskipun bukan seorang ahli, tetapi selama bergelut di dunia potret memotret ini, ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk menghasilkan foto human interest. Pendekatannya tidak berbeda jauh dengan fotografi jalanan yang saya sukai.

1. Jeli melihat situasi

Karena fotografi human interest tidak jauh berbeda dengan fotografi jalanan, seorang fotografer kategori ini harus jeli melihat situasi di lapangan.

Jangan berjalan terlalu cepat karena kalau hal itu dilakukan akan besar kemungkinan banyak obyek yang potensial luput dari pandangan kita.

2. Kamera harus siap beraksi

Momen yang ditunggu biasanya hadir hanya sekejap. Mereka adalah bagian dari kehidupan yang akan terus berubah setiap saatnya.

Oleh karena itu penggunaan berbagai tehnik rumit fotografi justru bisa menyebabkan hilangnya sebuah momen yang potensial. Biasanya penggunaan mode auto adalah yang terbaik karena dengan begitu, kita tidak perlu berpikir lagi tentang bagaimana pengaturan setting kamera yang terbaik.

Meskipun demikian, seorag fotografer berpengalaman bisa mengatasinya karena ia secara naluriah akan mengganti setting kamera dalam waktu yang singkat.

3. Penggunaan zoom

Karena mayoritas sasaran atau obyek adalah orang yang tidak dikenal, ada baiknya menghindarkan perasaan tidak suka yang mungkin timbul akibat mengarahkan kamera kepada mereka.

Penggunaan lensa tele ukuran 70-200 atau 300 bisa menjadi pemecahannya. Dengan begitu sang obyek tidak menyadari kalau lensa kamera sedang mengarah kepada diri mereka.

4. Meminta izin

Memang, kalau sang obyek tahu bahwa dirinya dijadikan sasaran, ada kemungkinan kalau mereka akan bersikap kurang natural. Meskipun demikian, terkadang hal itu adalah yang terbaik untuk menghindarkan ketersinggungan yang bisa menghadirkan sesuatu yang kurang enak.

5. Mengaburkan Background


Entah dengan bokeh atau menggelapkan, latar belakang dibuat kabur. Hal ini akan membantu agar perhatian utama yang melihat akan langsung terfokus pada emosi, mimik, atau bahasa tubuh sang obyek.

Background kalau memang dirasa tidak terlalu berhubungan atau berkaitan langsung dengan cerita yang disampaikan, bisa dihilangkan. Lagi pula, efek-efek seperti ini bisa membantu menambah nilai artistik foto.

6. Pilih karakter yang kuat/unik

Mau tidak mau sebuah foto human interest akan mengandalkan pada manusia. Oleh karena itu memilih obyek yang memiliki sesuatu yang "menarik" adalah kunci.

Menarik atau kuat dalam hal ini bisa diterjemahkan secara beragam tergantung ide apa yang hendak dikemukakan oleh sang fotografer. Bisa saja karena sang obyek memiliki keunikan dari sisi wajah, bahasa tubuh, pakaian dan sebagainya.

7. Titik beratkan pada wajah 

Bagian wajah adalah bagian tubuh manusia yang bisa mencerminkan perasaan atau emosi. Oleh karena itu menitikberatkan pada muka seseorang akan membantu menghasilkan sebuah foto human interest yang menarik.


Rumit yah kalau baca teorinya. Memang! Lebih rumit lagi menulisnya.

Mungkin, berdasarkan pengalaman saya, cara terbaik untuk memahami dan mencari cara terbaik untuk mendapatkan foto-foto human interest adalah bukan di depan layar komputer. Jalan terbaik adalah dengan melakukannya langsung di jalanan.

Denagn turun langsung ke jalan dan mempraktekkannya, maka kita akan mendapatkan sendiri "tone" dan apa yang kita kehendaki.

Jadi kawan. Ambil kamera Anda dan mulailah berburu "manusia".
Read More

Hidup Itu Berat Kawan


Memang banyak orang mengatakan bahwa hidup itu harus dinikmati. Tetapi, kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan itu.

Banyak dari mereka yang harus berjuang untuk mempertahankan hidup.

Bagi mereka, jangankan berpikir untuk menikmati, dapat bertahan hidup saja sudah bersyukur.

(Suatu pagi di depan Botani Square - Bogor)
Read More

Monday, October 17, 2016

Tips #9 : Jeli dalam menemukan obyek menarik


Sebagai seorang penggemar fotografi jalanan, saya menyadari bahwa untuk menghasilkan foto yang menarik, tidak bisa hanya bersandar pada kemampuan tehnis. Bahkan terkadang, tehnik dan teori seperti tidak berlaku ketika berada di jalanan.

Justru yang lebih berperan dalam hal ini adalah kejelian mata yang menjadi kunci. Baru setelah itu, sedikit kreatifitas dan pengetahuan tehnis akan membantu.

Alasannya karena dengan mata yang jeli, maka seorang fotografer jalanan akan bisa men-scan situasi sekitar kemudian menemukan obyek menarik, atau setidaknya yang dianggapnya berpotensi.

Sebagai contoh foto kuntilanak di atas adalah hasil dari berkeliaran di Car Free Day ala Bogor, di Jalan Sudirman. Di tengah kerumunan terlihat beberapa sosok putih dengan penampilan di "luar" kebiasaan. Penampilannya sangat mennyolok mata begitu juga dengan sikap dan postur tubuh mereka.

Bukan sebuah obyek "luar biasa", tetapi ternyata tanpa perlu menerapkan terlalu banyak teori fotografi, hasilnya akan mengudang orang untuk melihat.

Bisakah Anda tidak tertarik melihat foto di atas dan juga beberapa lainnya di bawah ini?




Kejelian mata seorang pemegang kamera bisa membuat menyingkirkan berbagai teori tentang tehnik fotografi. Perhatian yang melihat sudah akan langsung tertuju pada obyek.

Oleh karena itu, saya selalu membiasakan diri untuk tidak berjalan terlalu cepat dan selalu mengitarkan pandangan ke sekeliling, dengan kamera yang siap untuk memotret. Siapa tahu ada obyek menarik yang bisa menjadi sasaran?

Ternyata hasilnya seperti yang bisa dilihat di atas.


Read More

Saturday, October 15, 2016

Apa itu post-processing dalam fotografi?


Post-processing dalam fotografi adalah istilah yang mengacu pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seorang fotografer di luar kamera.

Mungkin banyak yang menyangka kalau sebuah foto yang terlihat menakjubkan dengan kekontrasan warna yang mengundang decak kagum berasal langsung dari kamera. Tetapi, di dalam masa dimana tehnologi sudah demikian berkembang ini, sebenarnya sangat bisa jadi foto tersebut melalui satu tahap lainnya, yaitu pemrosesan di komputer.

Proses post-processing ini biasanya dilakukan dengan phot software editting atau perangkat lunak pengedit citra. Beberapa contoh dari perangkat lunak ini adalah Photoscape atau Adobe Lightroom yang dipergunakan fotografer profesional.

Dengan memakai perangkat lunak ini, sebuah foto setelah ditransfer dari kamera, akan mengalami beberapa penambahan atau pengurangan. Sebagai contoh cropping, penambahan backlight, perubahan kontras warna, membuatnya lebih terang atau sebagainya.

Jadi, bisa dikata sebuah foto sebelum tampil, entah di layar komputer atau baliho, bisa jadi mengalami dua kali proses. Yang satu proses di kamera dan selanjutnya di komputer.

Pro dan kontra post-processing dalam fotografi

Ada perdebatan di dunia fotografi tentang hal ini.

Sebagian mengatakan bahwa tindakan post-processing pada sebuah foto adalah "kecurangan". Dengan melakukannya, seorang fotografer menghasilkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka hasilkan dengan kameranya. Mereka menghasilkannya dari komputer.

Hal ini dianggap tidak menunjukkan kapabilitas atau kemampuan sang fotografer sendiri.

Di lain pihak, banyak fotografer yang berpandangan bahwa fotografi harus berjalan seiring dengan manusia. Ketika tehnologi berkembang, maka sah-sah saja memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih indah dan baik.

Apalagi dalam kenyataannya, sebuah foto memang selalu mengalami beberapa langkah proses, bahkan sejak dalam kamera. Banyak yang tidak menyadari kalau sebuah kamera digital pada dasarnya adalah sebuah komputer mini dengan prosesor dan pengolah citra. Begitu pula saat dalam memotret kita sering mengutak atik setting pencahayaan dan lain sebagainya, yang sebenarnya tidak berbeda dengan melakukan post-processing.


Saya sendiri cenderung untuk mengikuti pendapat kedua. Bagaimanapun, kemajuan tehnologi fotografi dan kamera tidak lah seharusnya diabaikan kalau hal itu bisa membantu memberikan hasil yang lebih baik.

Apalagi post processing tidak mengubah banyak. Sebuah foto yang tidak menarik dengan komposisi dan penempatan obyek yang tidak tepat tidak akan menjadi sebuah foto yang luar biasa. Post-processing hanya membantu menyesuaikan beberapa hal sehingga sesuai dengan ide yang ada di kepala sang fotografer.

Tetapi, saya cukup mengerti bahwa terlalu banyak menggunakannya justru bisa mengurangi naluri dan kemampuan. Seorang fotografer yang terlalu mengandalkan proses di luar kamera cenderung menjadi agak abai dengan berbagai tehnik standar fotografi karena yakin bahwa hal itu dapat diedit di komputer.

Oleh karena itu, saya akan seminimal mungkin melakukan post-processing pada foto-foto yang akan ditampilkan.


Read More

Vari-Angle LCD Monitor dan Kegunaannya

Vari-angle LCD atau Monitor adalah istilah yang merujuk pada LCD monitor pada kamera. Istilah lainnya adalah "articulating LCD".

Seperti sudah diketahui bahwa setiap kamera digital yang diproduksi pada saat ini diperlengkapi dengan sebuah layar monitor Liquid Crystal Display atau LCD. Gunanya agar sebelum menekan tombol shutter release seorang pemotret bisa melihat preview dari foto yang akan diambil.

Biasanya layar LCD yang tertanam dalam sebuah kamera bersifat fix atau tetap. Posisinya tidak bisa diubah-ubah sehingga pemotret terkadang harus menyesuaikan diri dan posisi saat mengambil foto.

Tetapi, belakangan ini sudah banyak sekali jenis kamera yang diperlengkapi dengan LCD yang tidak statis. LCD ini bisa diubah posisinya apakah menghadap ke depan, ke bawah, ke samping dan seterusnya.

LCD monitor pada kamera yang sifatnya flexible inilah yang dikenal dengan istilah vari-angle LCD Monitor.

Kegunaan Vari-angle LCD Monitor

Sangat berguna. Terutama dalam ketika fotografer perlu mengambil gambar dari sudut-sudut sulit. Contohnya foto di bawah ini


Kalau harus memakai lensa dengan LCD Monitor yang tetap, maka yang bisa dilakukan adalah dengan cara

  • terlentang di tanah, dengan begitu maka pandangan fotografer tegak lurus dengan pohon
  • menengadah ke atas dengan leher sebisa mungkin sejajar dengan tanah
  • memotret dengan kira-kira saja tanpa melihat hasilnya
Tetapi, dengan menggunakan kamera dengan vari-angle LCD monitor, fotografer hanya perlu menekuk layar monitornya dan kemudian mengarahkan lensa tegak lurus ke atas. Tidak perlu lagi harus berkotor-kotor ria dengan telentang di atas tanah atau menyakiti leher.

Selain itu, kamera-kamera jenis terbaru bahkan memilik vari-angle LCD yang bisa diputar menghadap si pemotret. Hal ini sangat bermanfaat bagi mereka yang gemar selfie. Mereka bisa memotret diri mereka sendiri sambil melihat preview-nya.

Sudah banyak jenis kamera yang memiliki fitur ini. Bukan hanya DSLR (Digital Single Lens Reflex), tetapi juga Mirrorless atau prosumer bahkan kamra saku pun sudah ada yang diperlengkapi fitur ini.

Beberapa jenis vari-angle LCD. Ada yang hanya bisa keluar dari posisinya dan ditekuk menghadap ke atas atau ke bawah saja. Ada juga yang bisa berputar-putar ke segala arah.

Tambahan fitur ini tidaklah gratis karena biasanya kamera dengan vari-angle LCD monitor harganya akan lebih mahal dengan kamera yang bermonitor tetap.

Tetapi bagi Anda yang gemar fotografi, tambahan ini akan sangat membantu dalam pengambilan gambar dari sudut-sudut sulit. Jadi, kalau memang memerlukan kamera, adanya fitur ini harus diperhitungkan karena sangat bermanfaat.
Read More

Wednesday, October 12, 2016

Tips #8 : Manfaatkan Obyek Kecil di Sekitar Untuk Membuat Foto Lebih Menarik

Biasanya kalau kita sedang berwisata dan sedang terpesona dengan keindahan alam di suatu tempat, secara otomatis tangan kita akan langsung mengeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sayang kalau keindahan seperti itu tidak diabadikan.

Sayangnya, sekembalinya kita ke rumah, lalu menunjukkan foto-foto yang ada di kamera kepada saudara atau teman atau tetangga, respon mereka datar-datar saja. Hanya senyuman dan kepala yang mengangguk tetapi tidak memperlihatkan kesan tertarik. Padahal, tujuan kita menunjukkan foto-foto itu untuk menunjukkan betapa beruntungnya bisa pergi kesana.

Foto-foto itu seperti tidak bisa menjalankan fungsinya.

Gagal.

Yang gagal bukan fotonya tetapi Anda lah yang gagal. Paling tidak, gagal dalam menyampaikan apa yang Anda rasakan dalam fotonya. Karena itulah, foto tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Biasanya orang akan terlalu sibuk dan terfokus pada apa yang menurutnya indah, tetapi mengabaikan bahwa keindahan itu terdiri dari banyak hal.

Sebagai contoh, air terjun memang indah, tetapi indahnya air terjun itu ditunjang oleh berbagai hal lain, seperti hijaunya pepohonan, atau bunga-bunga kecil yang ada disana. Kesemua itu berkolaborasi menghasilkan rasa keindahan bagi yang melihatnya.

Udara segar termasuk, tetapi karena tidak bisa direkam, tidak perlu diikutsertakan disini.

Sayangnya, terkadang kita hanya melihat bahwa semua itu hanya karena obyek utamanya saja, si air terjun. Kita menganggap obyek itu adalah segalanya. Padahal tidak.

Coba perhatikan foto di bawah ini


Apa yang ditampilkan foto itu? Air yang jatuh, batu dan hijau saja.

Datat. Tidak ada yang menarik.

Atau biasanya juga seperti di bawah ini


Lumayan sebenarnya karena jelas lebih menarik. Hanya saja, semua menjadi serba kecil, terlalu ramai dan tidak memberi kesan apa-apa bagi yang melihat, kecuali mereka yang ikut bersama Anda.

Sekarang coba bandingkan dengan beberapa foto di bawah ini. Semuanya berasal dari sumber yang sama, Curug 7 Cilember, Bogor.




Mana kira-kira yang bisa lebih membangkitkan rasa indah. Dua foto pertama atau tiga yang terakhir?

Saya rasa jawabannya jelas.

Di tiga foto terakhir ada tambahan komponen dan unsur berupa obyek kecil berbentuk bunga warna pink. Dengan begitu warna hijau yang teduh, abu-abunya batu, dan putihnya air mendapat tambahan berupa warna ceria yang sudah pasti mengundang mata, pink.

Coba saja kalau Anda berjalan di mall, melihat wanita berpakaian pink, mau tak mau mata Anda akan melirik. Mau cantik atau tidak sang wanita, mata akan otomatis tertarik untul melirik.

Dengan begitu kesan monoton dan datar akan menjadi ceria.

Hal lainnya adalah obyek utamanya menjadi lebih besar dan detail.

Hal seperti ini obyek-obyek kecil seprti inilah yang sering terlewat oleh kita saat memotret tentang keindahan alam. Hasilnya seringkali kita hanya menghasilkan foto datar dan tidak bisa menyampaikan rasa keindahan yang timbul di hati kita kepada orang lain.

Oleh karena itu kawan. Saat kita terpesona oleh keindahan alam, hentikan jari Anda sebentar untuk menekan tombol shutter release. Beri waktu sejenak untuk menikmati, toh memang Anda datang untuk tujuan itu.

Setelah itu temukanlah apa yang membuat pemandangan di depan mata Anda begitu indah.

Selain obyek utama, temukan hal-hal kecil disekitarnya yang bisa mendukung obyek utama karena biasanya obyek utama tidak sendiri. Keindahan yang Anda rasakan adalah gabungan dari banyak komponen.

Temukan obyek-obyek kecil itu dan buatlah foto Anda menarik agar yang melihatnya bukan cuma melihat air yang jatuh dari ketinggian. Buatlah foto Anda bercerita tentang keindahan yang Anda rasakan disana. Buat foto Anda menjalankan tugasnya dengan baik.
Read More

Tuesday, October 11, 2016

Mengenal Decisive Moment : Momen Puncak Yang Menentukan


"Decisive moment" adalah istilah yang sangat umum dikenal di kalangan penggemar fotografi, terutama mereka yang menggeluti genre fotografi jalanan.

Istilah yang memiliki "momen puncak yang menentukan" atau bisa juga "momen kulminasi" ini dicetuskan oleh seorang pria Perancis kelahiran tahun 1908, Henri Cartier Bresson. Ia dikenal sebagai pelopor genre Street Photography atau Fotografi Jalanan.

Apa itu decisive moment?


Agak sulit sebenarnya untuk menjelaskan dengan gamblang apa itu "decisive moment" karena pada prakteknya semua pemegang kamera "tidak berhitung" terlalu banyak saat mengambil foto. Mayoritas mengandalkan pada "insting" dan dorongan dari hati untuk menentukan kapan harus menekan tombol shutter release.

Tetapi, dalam konsep "decisive moment", pertimbangan untuk menekan tombol shutter release seperti menjadi momen puncak dalam sebuah proses.

Sebagai contoh :

Kita melihat sebuah pemandangan indah dan seorang wanita cantik yang kalau dikombinasikan bisa menjadi sebuah foto yang memukau. Sayangnya, sang wanita terlihat diam saja, padahal dalam otak kita, rasanya akan lebih indah kalau sang wanita melangkahkan kaki sambil menunduk atau menggerakkan tangannya.
Kemudian kita menunggu dan berharap sang wanita akan mulai bergerak dan melakukan sesuatu. Ternyata ia kemudian berjalan dan menunduk. Saat itulah kita menekan tombol shutter release.
Itulah ilustrasi kasar dari "decisive moment".

Sebuah saat dimana momen yang hadir di depan mata kita sesuai dan sejalan dengan ide yang ada di kepala.

Hal itu juga menjelaskan mengapa istilah ini lebih populer di dalam masyarakat fotografi jalanan atau sport atau alam. Dalam fotorgafi dengan memakai model, seperti pernikahan atau lainnya, sang fotografer bisa mengatur posisi latar belakang dan obyeknya. Sedangkan, seorang fotografer jalanan tidak akan mengatur obyek fotonya karena mereka menginginkan hasil yang senatural mungkin.


Hanya sepersekian detik

Kalau kita menggunakan model cantik berbayar, ataupun talent yang dengan sukarela menjadi obyek kamera, mereka akan mencoba melakukan berbagai gaya agar sesuai dengan ide yang ada di kepala sang fotografer. Momen-momen tersebut bisa diulang sampai titik temu antara semua yang ada di depan mata bisa bertemu dengan ide dan imajinasi.

Sayangnya dalam fotografi jalanan atau alam, kebanyakan obyeknya tidak bisa diatur. Bagaimana bisa diatur? Lha, kenal saja tidak. Belum lagi di alam liar singa atau tupai tidak kenal sama fotografernya.

Hasilnya, mirip seorang sniper, seorang fotografer harus bisa menentukan kapan "decisive moment" bagi kameranya. Rentang waktu yang tersedia untuknya kurang dari 1 detik.

Jika ia tidak menemukan "decisive moment" tersebut maka jari telunjuknya tidak akan menekan shutter release. Kalau terlambat, sang fotografer biasanya akan dirundung penyesalan yang lumayan dalam karena MOMEN TERSEBUT TIDAK BISA DIULANG.

Tidak mungkin menyuruh seorang yang tidak dikenal mengulanginya pose yang dilakukannya tadi. Selain karena tidak kenal, orang akan sulit mengulangi sesuatu yang dilakukannya secara naluriah tadi.

Momen tersebut akan hilang dan tidak pernah kembali.


Itulah yang disebut dengan decisive moment.

Pro dan kontra

Namanya dunia, kalau semua setuju tidak seru. Konsep decisive moment pak Henri Cartier Bresson ini juga mengundang perdebatan dan diskusi.

Kaum yang kontra mengatakan bagaimana mungkin untuk mengetahui bahwa sebuah momen itu adalah "puncak" atau "yang terbaik" dari berbagai momen yang ada. Tidak ada perbandingan antara semua itu karena mayoritas fotografer tidak akan memotret kalau dia rasa tidak pas.

Jadi, tidak ada perbandingan.

Belum lagi setelah memotret biasanya sang fotografer akan relax dan melepas kameranya karena sudah merasa tugasnya terpenuhi. Padahal besar kemungkinan ada yang lain yang lebih menarik. Karena kita sudah berhenti setelah mendapatkan "decisive moment" versi kita, maka kita tidak melihat ada "momen kulminasi" lain yang hadir.

Kaum yang pro, akan menjelaskan berdasarkan teori yang ada di atas.

Pilihan saya? Pro atau Kontra?

Kalau saya memilih untuk mengabaikannya saat memegang kamera. Berpikir terlalu rumit dan teoritis akan menghilangkan kesenangan dan kegembiraan saat memotret.

Saya baru akan berpikir tentang itu di saat sedang membaca atau menulis seperti sekarang.

Bagaimana dengan Anda?

Read More

Sunday, October 9, 2016

Mengatur Terang atau Gelap Pada Kamera Android (Smartphone)


Kamera smartphone adalah andalan banyak orang untuk mengabadikan berbagai momen dalam kehidupan. Perayaan ulang tahun anak, momen bahagia bersama keluarga, dan berbagai momen lainnya.


Kamera jenis ini sangat praktis digunakan. Terlebih kebanyakan orang yang menggunakannya memang membutuhkan hal itu saja dan bukan berbagai tehnis yang rumit. Seringnya pun digunakan dengan menggunakan mode auto yang menjamin hasilnya akan cukup enak dilihat.

Sayangnya dalam beberapa situasi pemakaian mode auto menghasilkan foto-foto yang entah terlalu gelap atau terlalu terang. Padahal sebuah foto dengan pencahayaan seperti itu kurang begitu enak untuk dilihat.

Untuk itu sebenarnya sudah disediakan fitur khusus untuk mengatur terang dan gelap sebuah foto. Fiturnya sangat sederhana dan tidak memerlukan skill tertentu.

Namanya Fitur Expossure.

Biasanya fitur ini tersembunyi di balik menu Pro atau Manual yang ada di kamera smartphone. Karena terlalu seringnya orang menggunakan mode auto, fitur ini jarang digunakan.

Bila Anda ingin menggunakannya maka Anda harus keluar dari mode auto dan masuk ke menu manual. Langkahnya bisa diikuti di bawah ini.

1. Masuk ke menu kamera

2. Aktifkan mode Manual atau Pro di smartphone


Silakan lihat menu kamera yang ada di Samsung Galaxy Tab A7 di bawah sebagai contoh.



2. Fitur Exposure atau lambangnya akan muncul di layar kamera

3. Atur sesuai kemauan, (+) artinya semakin terang (-) artinya semakin gelap


Contoh seperti di bawah ini

Hasil (+2)


Hasil (-2)



4. Tekan tombol shutter (lambang kamera) 

5. Selesai


Memang sederhana. Tetapi, fitur exposure ini sangat bermanfaat untuk membuat foto menjadi terang atau gelap.

 Semoga bermanfaat.

Read More

Saturday, October 8, 2016

Aslinya Tidak Sebagus Foto : Kasus Belanja Online

Pernah berbelanja via internet? Pasti lah sudah pernah. Kalau belum justru mengherankan di zaman seperti sekarang ini apa sih yang tidak bisa dijual secara daring (online). Mulai dari pakaian dalam hingga tanaman sudah diperjualbelikan melalui internet.

Praktis. Mudah. Tidak perlu capek pergi ke tempat jual beli. Cukup duduk di depan komputer dan kemudian memilih barang yang hendak dibeli dari foto yang dipajang. Klik beberapa tombol. Beres dan tinggal tunggu barangnya sampai di rumah.

Sayangnya, begitu barang diterima, terkadang ada timbul rasa kecewa di hati. "Aslinya tidak sebagus foto yang dipajang di situs", begitu kata hati pembeli saat memandang, entah baju atau sepatu yang baru diterimanya.

Tertipu?

Jangan dulu.

Tidak perlu langsung berprasangka buruk terhadap si penjual. Walaupun memang cukup banyak orang yang memanfaatkan situs jual beli secara daring untuk berbuat curang, tetapi tidak semua penjual melakukannya.

Banyak pedagang online adalah orang-orang jujur juga yang mencari nafkah di situs-situs seperti ini. Seringkali perasaan itu lebih disebabkan karena ketidakpahaman terhadap sistem jual beli online. Bisa juga mungkin karena rumor memang cepat sekali beredar di dunia maya, berita tentang kecurangan yang terjadi sudah menimbulkan prasangka buruk terlebih dahulu.

Perbedaan antara foto sebuah produk yang dipajang dalam sebuah toko online dengan barang yang diterima terkadang adalah wajar. Terkadang barang aslinya tidak sebagus foto yang ditampilkan bukan karena niatan untuk menipu tetapi karena sang penjual memang melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang penjual.

Apa saya membela karena saya  salah seorang aktifis perdagangan online? Bukan. Saya hanya seorang penggemar fotografi. Pernah beberapa kali membeli dan menjual barang juga via daring tetapi bukan dari sana sumber nafkah saya.

Karena bergelut dalam dunia potret memotret ini, saya melihat ada beberapa hal yang sangat mungkin menimbulkan saling silang alias kesalahpahaman dalam bisnis online, terutama yang menjual produk. Dalam hal ini yang terkait dengan urusan foto tadi itu.

Silakan lihat penjelasan di bawah ini.

Mengapa barang aslinya tidak sebagus foto yang dipajang?

1. Penjual melakukan apa yang seharusnya dilakukan penjual

 Di paragraf atas saya menyebutkan bahwa penjual melakukan apa yang seharusnya penjual lakukan. Memang begitu kenyataannya.

Cobalah perhatikan kalau Anda berbelanja di mall saja. Ketika Anda memasuki ruangan atau toko penjual baju, biasanya rak atau etalasenya akan disusun dengan rapih. Settingan ruangan pun diatur sedemikian rupa sehingga setiap benda yang hendak dijual akan dibuat semenarik mungkin. Tujuannya hanya satu, menarik pembeli agar mau merogoh dompetnya untuk membeli barang tersebut.


Bahkan lampunya pun diarahkan dan ditambahkan agar membuat pajangan menjadi eye-catching, alias menarik mata.

Betul tidak?

Jangan salah ya. Penempatan lampu, penataan ruangan dan etalase disusun dengan metode tersendiri agar bisa membangkitkan minat calon pembeli. Tidak jarang perusahaan terkenal akan menyewa art designer (perancang desain) mahal hanya untuk sekedar mengatur etalasenya.

Lalu, apa kaitan dengan foto di toko online?

Penjual di toko online melakukan hal yang sama. Mereka akan juga berusaha agar barang yang dijual terlihat menarik di mata penggemar belanja online.

Caranya bisa beragam. Banyak yang berusaha menonjolkan warna karena ini memang salah satu pemikatnya dengan membuat potretnya dengan latar belakang putih atau hitam ataupun yang memberi nuansa kontras. Hasilnya, memang produknya akan segera tertangkap dengan cepat oleh mata.

Bisa juga dengan memotret dari jarak dekat sehingga "foto" menjadi lebih menarik karena dengan beberapa pemakaian tehnik, seperti bokeh akan sangat membantu membuat mata calon pembeli langsung fokus ke produk.

Itulah mengapa saya mengatakan penjual online hanya melakukan apa yang seharusnya penjual lakukan, yaitu membuat produknya menarik.

Sah kah cara yang mereka lakukan?

Kalau di dunia nyata tehnik yang sama diterima oleh masyarakat, lalu mengapa tehnik yang sama di dunia maya harus dipermasalahkan? Bukankah para travel agen juga melakukan hal yang sama?

Yup. Cara para penjual daring ini sah karena mereka tidak merubah atau menyembunyikan apapun. Mereka hanya menonjolkan "kekuatan" dan "keindahan" dari produk mereka.

2. Dalam sebuah foto bukan hanya ada obyek

Saya tampilkan sebuah contoh lain, tetapi bukan dari toko. Perhatikan foto di bawah ini.


Plumeria. Bunga Kamboja yang asalnya bukan dari Kamboja di atas rumput.

Apakah Anda akan meliriknya kalau menemukannya? Saya ragukan itu. Jangankan menaruhnya dalam vas di ruangan, bahkan untuk sekedar menoleh saja tidak.

Tetapi, foto di atas. Saya cukup yakin akan menimbulkan sebuah "rasa" dalam hati.

Imajinasi, kawan. Itu yang membuat sebuah bunga yang tidak dilirik bisa menjadi terlihat "indah". Suka atau tidak suka, ketika Anda ingin memotret sesuatu atau seseorang, maka Anda akan berusaha membuatnya "indah", "enak dipandang mata", dan yang pasti menimbulkan "rasa" di dalam hati yang melihat.

Seorang marketer yang handal, entah di dunia online atau nyata akan menargetkan timbulnya rasa ini sehingga yang melihat tertarik untuk membeli. Imajinasi atau idenya akan ikut masuk ke dalam foto yang dihasilkan.

3. Kamera


Seorang pemasar dunia maya yang handal tidak akan segan menginvestasikan sebagian modalnya untuk sebuah kamera dan lensanya. Ia menyadari kalau lensa kamera sering bisa menampilkan sesuatu yang bisa membuat benda yang biasa saja menjadi "sesuatu" yang menimbulkan ketertarikan.

Silakan perhatikan brosur-brosur perumahan, agen perjalanan, penjual pakaian, dan sebagainya.

Meskipun mereka tidak mahir menggunakan kamera semahir para fotografer, mode otomatis saja sering bisa menghasilkan sesuatu yang memikat.

4. Pencahayaan

Sebuah foto yang dipajang di toko online, hampir pasti tidak dipotret dengan kondisi dimana barang diterima. Apalagi tidak jarang foto untuk penjualan akan dihasilkan dalam kondisi pencahayaan yang sangat ideal dan membantu menonjolkan "keindahan" atau "sisi menarik" dari produk.

5. Layar monitor smartphone atau komputer Anda

O ya. Layar smartphone atau komputer yang Anda gunakan sering membuat sesuatu lebih indah dari yang seharusnya.

Smartphone masa kini sangat canggih dan membuat sebuah foto menjadi sangat detail dan kontrasnya sangat tajam. Warna-warna akan terlihat begitu indah dan cerah. Terutama, kalau smartphone atau komputer yang berada di tangan Anda dari versi yang mahal, rasanya warnanya memang akan sangat memukau mata.

Tetapi, masalahnya barang atau produk yang dijual tidak memiliki resolusi tinggi dan ketajaman warna yang sama dengan apa yang dihasilkan layar smartphone atau komputer.


Saya tidak mengatakan tidak ada penjual yang melakukan trik-trik fotografi untuk mendapatkan keuntungan secara kotor. Ada juga yang melakukan pengedittan foto secara berlebihan atau juga menggunakan tehnik-tehnik tersebut secara tidak wajar.

Tetapi, banyak juga mereka yang melakukan pengambilan foto produk dengan cara ala kadarnya tetapi ternyata hasilnya rasa kecewa karena barang aslinya tidak sebagus foto.

Oleh karena itu, saya sarankan kepada siapa saja yang hendak berbelanja online agar jangan terlalu terfokus kepada fotonya. Usahakan kalau Anda sudah merasa tertarik dengan foto sebuah produk, biarkan perasaaan itu mengendap beberapa lama sebelum menekan tombol beli. Biarkan rasa tertarik itu kembali ke titik normal.

Selain itu, jangan lupa untuk tetap membaca spesifikasinya. Kalau memang memungkinkan, mintalah sebuah foto lain dari produk itu sebagai tambahan bahan pertimbangan.

Yang pasti, tetap berhati-hatilah dalam berbelanja online, meskipun jangan pula terlalu berprasangka buruk tentang kecurangan.

Selamat berbelanja online.
Read More