Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Kill The Babies : Pilih Yang Terbaik

Kill The Babies, begitulah istilahnya.Saya membacanya di sebuah blog milik fotografer jalanan terkenal, Eric Kim Blog.

Ia seorang warganegara Amerika Serikat berdarah Korea. Masih muda, berusia di bawah 30 tahun. Namanya sudah melanglang buana dan ia sudah mengadakan berbagai workshop di seantero dunia.

Kalau mau melihat hasil-hasil karyanya, filosofi dan blognya bisa di sini . (Dalam bahasa Inggris, tetapi seharusnya bukan sebuah masalah untuk Anda). Ada e-book panduan "street photography" yang bisa didownload gratis sebagai bahan pembelajaran.

Dari berbagai tulisannya lah istilah itu saya kenal.


Makna Kill the Babies

Terdengar kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mengapa pula harus membunuh "bayi"?

Sebelum terjadi salah tangkap bahwa saya ini sedang berbicara tentang kekejaman, mungkin ada baiknya saya berikan sedikit background.

Dalam dunia fotografi digital dewasa ini, para fotografer atau penggemar fotografi seringkali memotret "terlalu banyak". Kemudahan yang diberikan oleh kamera masa kini dalam bentuk ruang penyimpanan besar, kemudahan, dan sejenis sudah membuat para pemegang kamera menjadi "boros".

Boros dalam artian, mereka akan menyimpan semua hasil karya karena merasa ruang penyimpanan masih menampung.

Terkadang foto-foto yang disimpan pun sebenarnya tidak termasuk "istimewa", biasa saja.

Hal ini terjadi biasanya karena kebiasaan seorang fotografer adalah memotret 4-5 kali dari satu posisi, dan bahkan lebih. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan mereka akan melakukan pemilihan nantinya.

Sayangnya, biasanya setelah selesai memotret timbul rasa "sayang" terhadap foto-foto . Akhirnya mereka menyimpannya, seringkali tanpa melakukan proses pemilahan.

Yang menjadi masalah bukan kapasitas hard disk yang akan penuh. Walau memang suatu waktu akan penuh, tetapi kapasitas hard disk di zaman ini bahkan melebihi kebutuhan, bahkan untuk para fotografer.

Bukan masalah penyimpanannya.

Yang menjadi masalah adalah kebiasaan memotret "sembarangan", dan kemudian menyimpannya tanpa melihat lagi, justru berefek buruk pada seorang fotografer. Ia tidak lagi memiliki ketajaman dalam hal tehnis dan pengamatan.

Nah, makna kill the babies bagi para fotografer lebih kepada sebuah pelatihan diri.

Seorang fotografer akan merasa "terikat" terhadap hasil karyanya, seberapapun jeleknya, yang mungkin sangat ia sukai. Mereka seperti menganggap foto-foto tersebut sebagai bayi mereka.

Disinilah filosofi kill the babies berperan.

Dalam hal ini, sang fotografer harus bersikap "kejam". Kejam terhadap fotonya, kejam terhadap dirinya sendiri.

Ia harus memilah dan memilih.

Dari ratusan foto yang diproduksi kameranya, sang fotografer harus menemukan "YANG TERBAIK". Kriterianya ditentukan oleh sang fotografer sendiri.

Ia harus menjatuhkan vonis pada fotonya.

Apakah sebuah foto sudah memenuhi kriteria tehnis, seperti obyek? Apakah komposisinya sudah tepat? Apakah obyeknya menarik? Apakah foto itu sudah menampilkan ide yang ingin disampaikan? Dan lain sebagainya.

Sang fotografer harus memilah, memilah, dan memilah. Sampai akhirnya ia menemukan yang menurutnya sebagai yang TERBAIK.

Untuk itu, sang fotografer harus tega "membuang" foto-foto yang dianggapnya di bawah standar ke "tong sampah". Kalau zaman sekarang di-delete, hingga tak berbekas.

Sayang.

Memang.

Tujuan filosofi Kill the Babies


Ada beberapa keuntungan sampingan dari menerapkan filosofi "Kill the Babies" bagi sang fotografer.

1) Matanya akan terus berlatih mencari kesempurnaan (versi idealisnya)
2) Ia terus berlatih melihat kelemahan dan kekurangan dalam dirinya lewat foto-fotonya
3) Hasilnya, ia akan mencari permasalahan dan pemecahan untuk mengatasi kekurangannya
4) Ia bisa menemukan sudut-sudut atau tehnik pengambilan baru untuk hasil yang lebih maksimal
5) Sang fotografer akan mendapatkan yang terbaik saja
6) Menghemat ruang penyimpanan

Tujuan akhir dari menerapkan filosofi ini adalah sebagai tahap evaluasi.

Tidak ada kemajuan kalau tidak ada tinjauan ulang terhadap apa yang kita lakukan.

Itulah makna dan tujuan dari filosofi Kill the Babies.

Dan yang bisa saya katakan adalah "melakukannya tidak semudah mengatakannya". Berat!

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?