August 2016 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Wednesday, August 31, 2016

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Tips membeli kamera - Apa yang harus dipertimbangkan sebelum membeli kamera? Merek? Harga? Kemampuan?

Pertanyaan ini biasanya dilontarkan oleh mereka yang berniat membeli sebuah kamera baru. Biasanya mereka akan bingung untuk menemukan yang terbaik untuk dirinya.

Bagaimana tidak bingung, ada belasan merek kamera, dari mulai Canon, Nikon, Fuji, Panasonic, Pentax, dan masih banyak lainnya.


Setiap merek sendiri menawarkan cukup banyak jenis kamera, mulai dari kamera saku, prosumer, DSLR, Mirrorless. Setiap jenis sendiri juga memiliki berbagai seri yang rentangnya mulai dari untuk pemula, amatir, atau pro.

Jadi , bisa dibayangkan bingungnya memilih satu, dan hanya satu dari sekian banyak pilihan.

Hanya satu.

Kamera bukanlah sebuah benda yang dibutuhkan dan dipergunakan setiap hari. Jadi, biasanya orang hanya akan membeli satu untuk beberapa tahun. Bahkan fotografer paling berpengalaman sekalipun sangat jarang membeli 2 atau tiga sekaligus.

Apalagi bagi yang baru hendak memulai, mereka biasanya masih awam tentang berbagai istilah tehnis yang biasa dipakai dalam dunia fotografi. Kebingungan biasanya semakin bertambah kalau mendengar celotehan penjual kamera, yang terkadang sering melebih-lebihkan kemampuan sebuah kamera dan menutupi kekurangannya.

Hasilnya terkadang hasilnya menjadi tidak maksimal dalam artian kamera yang dibeli entah terlalu mahal, entah ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan, entah tidak enak dipakai, dan sebagainya.

Bila Anda menghadapi kebingungan seperti ini, jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Pertanyaan seperti itu masih banyak dilontarkan bahkan oleh mereka yang sudah dua tiga kali membeli kamera.

Yang perlu Anda lakukan hanya bersabar dan meluangkan sedikit waktu untuk mempertimbangkan beberapa hal sebelum membeli kamera.

Tips Membeli Kamera


1) Tujuan membeli kamera

Karena Anda membaca sampai kesini, berarti Anda bukanlah seseorang yang sudah terbiasa dalam dunia fotografi. Jadi silakan dilanjut bacanya.

Luangkan waktu sedikit, 10-15 menit untuk mempertanyakan diri sendiri, untuk apa membeli kamera.

Tanyakan apakah tujuannya hanya untuk memotret pesat ulangtahun anak Anda? Melakukan selfie dengan pacar saat berjalan-jalan? atau ada tujuan lainnya.

Kalau sekedar untuk merekam momen-momen khusus dalam kehidupan seperti pesta ulang tahun anak, saya sarankan tidak perlu membeli kamera. Memang uang yang akan dipakai adalah uang Anda, tetapi kalau dilakukan berarti pemborosan.

Kamera smartphone sudah lebih dari cukup untuk merekam momen-momen sederhana seperti itu. Apalagi kalau smartphone Anda adalah Samsung Galaxy S7 atau jenis terbaru lainnya. Kemampuannya lebih dari cukup untuk kebutuhan tersebut.

Tidak perlu kamera DSLR atau prosumer.

Kecuali Anda ingin mendalami lebih dalam lagi dunia potret memotret ini. Barulah bisa dipilih antara kamra saku, prosumer, DSLR, atau Mirrorless.

Kalau ada target untuk menjadi seorang profesional di bidang ini, maka tentunya DSLR atau Mirrorless adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan kamera prosumer. Kalau sekedar untuk belajar dan hobi, kamera prosumer juga sudah mencukupi.

Yang manapun, pikirkan sejenak tujuan dari membeli kamera. Jangan terburu-buru.

2) Buat budget

Sebelum Anda melangkah lebih jauh mencari di dunia maya berbagai ulasan tentang kamera, lebih baik tentukan dulu budget biaya yang tersedia.

Alasannya, sederhana saja. Ribuan ulasan tentang kamera di internet membuatnya menjadi seperti toko kamera yang dipenuhi berbagai ratusan bahkan ribuan jenis.

Bayangkan saja Anda berada di dalam sebuah supermarket kamera yang masing-masing menawarkan keunggulan setiap produk. Hasilnya, kemungkinan besar Anda akan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu perlu dengan biaya yang lebih besar dari yang mampu dikeluarkan.

Pastikan budget yang tersedia dulu agar tidak mudah tergiur dengan berbagai promosi atau ulasan yang akan dihadapi.

Besarnya akan tergantung pada kemampuan keuangan Anda.

Meskipun demikian, bersikaplah sedikit fleksibel dalam hal ini. Kalau memang nanti ada yang kemampuannya lebih baik dan bagus dan selisihnya hanya 10-15% dari budget, jangan ragu untuk sedikit membengkakkan budget dengan catatan tidak mengganggu keuangan Anda.

Jangan sampai istri atau pacar ngomel karena jatah mereka berkurang karena dipakai membeli kamera.

3) Cari informasi

Membaca ulasan atau review tentang kamera adalah salah satunya. Ratusan review bisa ditemukan dengan hanya membuka internet dan mengetikkan beberapa kata kunci seperti "harga kamera', "harga kamra Canon/Nikon/Fuji", dan seterusnya.

Puaskan keingintahuan Anda tentang informasi berbagai jenis kamera, tetapi jangan lupakan untuk tetap terikat pada tujuan dan budget yang sudah ditetapkan.

Jangan sampai melenceng.

Dapatkan informasi beberapa hal ini :

  • harga kamera yang sesuai budget
  • spesifikasi
  • dimana membelinya
  • keunggulan dan kelemahannya.

Akan banyak istilah yang mungkin Anda tidak paham artinya, tetapi tetaplah perhatikan untuk kemudian bisa tanyakan pada teman, kerabat, atau mereka yang lebih tahu tentang kamera.

Meskipun harga akan berbeda di setiap toko, tetapi selisihnya tidak akan terlalu jauh. Jadi harga bisa menjadi patokan saat membeli. Begitu juga dengan pengetahuan tentang spesifikasi, informasi ini bisa menghindarkan diri dari membeli barang yang spek nya di bawah itu.


Jangan langsung putuskan membeli kamera hanya karena membaca ulasan atau reviewnya. Banyak sekali blog yang mengeluarkan review atau ulasan dan biasanya mereka belum tentu pernah mencoba sendiri kamera yang direviewnya. Juga harus diingat kalau ulasan atau review banyak yang berbayar dimana penulisnya mau tidak mau harus menekankan keunggulan dibandingkan kelemahannya.

4. Megapixel bukanlah segalanya


Tips membeli kamera yang ini akan dibuka dengan dialog imajiner dengan tokoh si A dan si B. Singkat saja.

A : "Fotonya bagus. Tajam!".

B: "Jelas dong! 24 Megapixel!"

Ini hanya contoh sebuah percakapan yang biasa ditemukan sehari-hari terkait sebuah foto. Banyak yang tidak menyadari bahwa bagus atau tajam bukan hanya karena ukuran megapixel-nya. Ketajaman sebuah foto tergantung pada banyak hal lain seperti lensa, sensor dan juga prosesor sebuah kamera.

Megpaixel lebih berkaitan pada bagaimana sebuah foto tampak ketika foto tersebut dicetak. Semakin besar megapixelnya, semakin mungkin dicetak dalam ukuran besar.

Sebagai contoh, sebuah foto dengan 5 megapixel akan tetap terlihat tajam pada saat dicetak di atas kertas 8"x10" (20 cm X 25 cm). Ukuran 12 megapixel sudah cukup untuk dicetak pada kertas berukuran 16" X 24" alias 40 cm X 60 cm. Tetapi, kalau foto dengan resolusi 5 mega pixel dicetak di atas 16" x 24", maka hasilnya terkesan kotak-kotak dan aneh untuk dilihat.

Jadi, kalau Anda memang tidak akan mencetak foto tersebut, tidak perlu terlalu terfokus pada megapiksel yang besar. Bahkan sebenarnya dengan hanya seukuran 8 megapixel saja, sudah cukup untuk dicetak di atas kertas ukuran postcard dengan baik.

Lagipula, semakin besar mega pixelnya, maka semakin besar pula ukuran file hasilnya. Sebuah foto dengan 16 mega pixel akan menjadi file berukuran 5-6 Megabyte. Angka ini jauh di atas yang disarankan untuk diupload ke internet, selain akan menyusahkan yang melihat, juga akan membuat kuota internet semakin cepat habis.

Kebanyakan kamera digital dewasa ini akan mempunyai resolusi yang di atas 10 Megapixel, jadi sudah lebih dari cukup kalau Anda tidak bergerak di bidang design.

5.  Praktis, Semi Ribet, atau Ribet


Tidak semua kamera mudah dibawa dan dipergunakan. Banyak yang karena terlalu banyak fiturnya, justru membingungkan terutama bagi mereka yang baru bergabung di dunia fotografi. Begitu juga dengan ukuran dan beratnya, tidak semuanya gampang dibawa.

Kalau dibuatkan urutan dalam hal kepraktisannya maka akan didapat seperti ini

Kamera saku/kamera smartphone : Kecil. Bisa dikantongi dan dibawa setiap saat. Fiturnya tidak terlalu banyak sehingga mudah digunakan.

Kelemahannya, sensor kecil dan biasanya kurang tajam. Zoom sangat terbatas, kalau smartphone hanya ada digital zoom 2-4 X saja. Kalau kamera saku sekitar 8 X paling besar.

Kamera Prosumer : Kerap disebut dengan DSLR like karena bentuknya yang menyerupai kamera DSLR. Tipe kamera ini sudah memiliki beragam fitur mirip dengan DSLR, sehingga membutuhkan pengetahuan lebih dalam mengoperasikannya.. UKurannya pun demikian walau sedikit lebih kecil.

Biasanya sudah diperlengkapi dengan lensa zoom mulai ukuran 20X hingga 50 X. Tidak memerlukan penggantian lensa kalau mau melakukan zoom.

Kelemahan : sensor kecil, mirip dengan kamera saku. Hasil gambar tidak akan setajam DSLR meskipun bagi banyak orang sudah akan memenuhi kebutuhan. Lensanya bersifat fix dan tidak bisa dibongkar pasang, membuatnya menjadi tidak memiliki opsi untuk dikembangkan.

Kamera Mirrorless : Ukuran lebih kecil dari DSLR dan kira-kira sama dengan prosumer. Kemampuan setara dengan DSLR karena sensor yang dipergunakan serupa. Ketajaman lensa berada di kelas DSLR. Fitur lengkap dan akan sangat membantu keluarnya kreatifitas sang pemotret.

Memungkinkan untuk dikembangkan karena lensanya bisa dibongkar pasang dan disesuaikan dengan keinginan.

Kelemahan : lensa standar bawaan biasanya ukuran 18-55 MM. Jadi kalau ingin melakukan zoom lebih besar , harus mengganti lensa terlebih dahulu. Hal ini membuatnya kalah praktis dibandingkan prosumer. Fitur yang lebih banyak pun memerlukan pengetahuan tentang cara memakai dan memaksimalkannya.

Perlu memiliki beberapa pilihan jenis lensa untuk disesuaikan dengan kondisi pemotretan. Perlu budget yang lebih besar dan memerlukan tempat dan peralatan khusus untuk membawa sebuah kamera beserta beberapa lensanya (meski lebih kecil dari DSLR)

Kamera DSLR : Paling besar diantara keempat kategori kamera ini. Fiturnya juga lebih banyak yang memungkinkan kreatifitas yang lebih besar. Tidak berbeda jauh dengan mirrorless dalam segi perlengkapan dan fitur.

Lensanya bisa dibongkar pasang dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Kelemahan : memerlukan kemampuan dan pengetahuan fotografi yang lebih jauh untuk memaksimalkannya. Juga butuh perlengkapan khusus untuk membawa kamera beserta lensa-lensanya.

Jadi, tinggal pilih, mau yang simpel dan sederhana tetapi dengan fitur terbatas atau sedikit repot tetapi kreatifitas bisa keluar secara maksimal.

Anda yang memilih.

6. Mana yang lebih baik, Canon, Nikon, Fuji, Sony, Panasonic, Olympus?


Ada yang bilang Canon lebih baik. Tidak seidkit yang mengatakan Nikon punya warna lebih cerah dan enak dimata. Banyak juga yang bilang Fuji punya warna yang lebih mendekati warna asli.

Jadi mana yang terbaik di antara merek-merek tersebut?

TIDAK ADA!

Setiap kamera memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang secara total lebih baik dibandingkan yang lain. Kalaupun ada maka sifat penilaian adalah subyektif sekali tidak bisa dijadikan patokan secara umum.

Seseorang yang sudah terbiasa menggunakan NIKON selama 10 tahun, tentu saja akan merasa canggung memakai Fuji. Penempatan posisi tombol dan menu berbeda. Hasilnya juga akan berbeda. Kemungkinan besar ia akan mengatakan NIKON sebagai yang terbaik.

Semua penilaian dan ulasan yang Anda baca bersifat subyektif dan penilaian pribadi. Belum ada lembaga khusus yang bisa menjadi patokan siapa yang terbaik dan rasanya lembaga tersebut tidak akan ada.

Jadi, jangan terlalu terpengaruh dengan mitos bahwa merek tertentu lebih baik dibandingkan merek yang lain. Yang terpenting adalah kamera itu cocok untuk Anda.

7. Pergilah langsung ke toko kamera



Memang sih dengan begitu banyak toko online yang menjajakan berbagai jenis barang, termasuk kamera, kehidupan manusia dipermudah.

Meskipun demikian, ada beberapa jenis barang yang sebaiknya dilihat langsung dan diteliti sebelum membeli, kamera adalah salah satunya.

Mengapa demikian?

Membeli kamera lebih dari sekedar membeli sesuai dengan spesifikasi yang sudah disebutkan penjual. Walaupun banyak penjual jujur yang bahkan menyebutkan berbagai kelemahan dan kelebihannya tetap saja ada bagian yang tidak tercantum karena memang bukan hal yang terkait tehnis.

Contohnya saja, hand grip, bagian ini memerlukan sedikit percobaan untuk mengetahui apakah cocok atau tidak dengan genggaman tangan kita. Ingat ukuran tangan manusia tidak sama satu dengan yang lainnya, jadi meski sudah diusahakan seumum mungkin, masih ada kemungkinan handgrip tidak sesuai dengan tangan kita. Sudah pasti hal ini tidak mungkin dicoba kalau membeli lewat online.

Begitu juga soal hasil foto. Dengan datang langsung ke toko, kita bisa melihat secara langsung apakah hasilnya sudah sesuai dengan keinginan kita. Penjual biasanya memperbolehkan oembeli untuk mencoba beberapa jepretan untuk melihat hasilnya.

Lagipula, bukankah kita bisa bernegosiasi untuk mendapatkan harga lebih murah?

8. Pertimbangkan membeli second


Kalau budget terbatas tetapi ingin mencoba kamera dengan level yang lebih baik, membeli kamera bekas pakai atau second hand, bisa menjadi opsi.

Banyak penggemar fotografi atau fotografer yang berniat melakukan upgrade dengan kamera yang lebih baru, akan melepas yang lama dengan harga yang rendah. Tentu saja butuh kehati-hatian untuk membeli bekas.

Tetapi, dengan begini, kita bisa memiliki kamera dengan fitur yang lebih baik dengan harga yang lebih murah.

9. Pertimbangkan pengembangan ke depan

Tehnologi akan terus berkembang dari tahun ke tahun. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan kamera.

Setiap tahun pabrikan akan mengeluarkan versi-versi yang lebih baik, lebih maju, dan lebih banyak fiturnya.

Suatu waktu dalam kehidupan seorang fotografer, maka ia akan merasa bahwa kamera yang dimilikinya sekarang tidak lagi mampu mengimbangi perkembangan dirinya. Pada saat itu ia akan terdorong untuk mengganti kamera yang lama dengan yang baru.

Oleh karena itu, keputusan untuk membeli kamera saat ini juga harus memikirkan hal seperti itu.

Begitu juga kalau Anda memilih kamera DSLR atau mirrorless tentu Anda akan membutuhkan berbagai lensa untuk pengembangan kreatifitas Anda. Biaya pembelian lensa perlu diperhitungkan pada saat membeli.

10. Layanan Purna Jual

Tips membeli kamera yang terakhir adalah tentang layanan purna jual.

Masalahnya kamera belum menjadi kebutuhan utama di Indonesia, kecuali kamera smartphone.

Sebagai imbasnya belum semua kota memiliki layanan purna jual alias service center kamera dari berbagai merek. Tidak jarang kalaupun ada, reparasi beberapa merek kamera terutama keluaran yang paling baru masih belum tersedia.

Hal ini perlu diperhatikan agar ketika kamera kesayangan sedang ngadat dan sakit, kita bisa segera memperbaikinya.

Nah, itulah kira-kira tips membeli kamera yang bisa saya bagi kepada Anda.

Semoga bisa bermanfaat.

Read More

Tuesday, August 30, 2016

Bolehkah Menggunakan Foto Editting Software Dalam Fotografi


Bolehkah menggunakan foto editting software dalam fotografi? Pertanyaan sederhana tetapi mencerminkan pergulatan yang sudah berlangsung sejak lama dalam dunia fotografi. Hingga saat ini perdebatan terkait hal yang satu ini masih kerap ditemukan.

Masalahnya sebenarnya sederhana. Penggunaan foto editting software, seperti Photoshop, Photoscape dan berbagai jenis perangkat lunak yang bisa memodifikasi sebuah foto dianggap mengurangi kemurnian dalam fotografi, oleh sebagian orang. Sebagian lainnya justru berpendapat bahwa hal tersebut harus diterima karena merupakan sebuah bentuk kemajuan dalam dunia potret memotret ini.

Perdebatan yang sangat panjang dan bisa menjadi panas kalau kaum puritan yang anti melakukan edit bertemu dengan kaum modernis yang mendukung penggunaan software untuk melakukan modifikasi sebuah foto.

Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, mungkin kita perlu melihat sedikit beberapa fakta di bawah ini. Siapa tahu dengan membacanya, Anda bisa mengambil kesimpulan dan bisa menjawab pertanyaan di atas.

Fakta tentang foto dan fotografi

1. Sebuah foto selalu melalui pemrosesan

Baik di zaman ketika memotret masih memerlukan film untuk menghasilkan negatif, hingga sekarang sebuah foto tidak langsung keluar begitu saja dari sebuah kamera.

Pada masa memotret masih memakai negatif, sebuah foto harus dicetak dan melalui kamar gelap untuk bisa dilihat. Ia tidak bisa langsung dilihat dalam bentuk negatif film.

Pada masa kini, sebuah kamera digital pun melakukan pemrosesan sebelum hasilnya bisa dilihat di layar LCD. 

Bedanya, pada zaman dulu, ruang prosesnya terpisah, besar dan khusus. Sementara pada masa sekarang proses itu dilakukan di dalam kamera.

2. Fotografi adalah hasil budaya manusia


Yap. Tidak bisa disangkal bahwa fotografi baik hasil cetaknya maupun ilmunya tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Ilmu atau seni ini akan berjalan beriringan dengan kemajuan pengetahuan dan tehnologi umat manusia.

Manusia semakin maju kehidupan dan peradabannya, maka fotografi dengan segala pernak perniknya akan dan harus menyesuaikan dengan gerak maju manusia juga.

3. Fotografi adalah seni yang sangat demokratis

Tidak ada aturan yang mengikat dalam dunia fotografi. Silakan cek dan browsing di internet, apakah ada lembaga khusus yang ditunjuk untuk mengeluarkan aturan tentang bagaimana dan seperti apa seorang fotografer itu seharusnya?

Tidak akan ditemukan.

Dengan ketiadaan aturan yang mengikat, maka tidak seharusnya fotografi diberikan batasan oleh siapapun. Setiap orang berhak menginterpretasikan pandangannya meskipun sifatnya subyektif dan tidak mengikat terhadap orang lain.

4. Fotografi mementingkan hasil

Siapapun yang melihat sebuah foto tidak akan menanyakan bagaimana sebuah foto dibuat, dengan kamera apa, pakai cara seperti apa.

Sebuah foto akan dinikmati sebatas yang dilihat. 

Kecuali orang itu bergelut di dunia yang sama, jarang orang menanyakan mengenai detail pembuatan sebuah foto. 

Nah, kalau melihat fakta-fakta itu, bagaimana kira-kira pandangan Anda tentang pertanyaan "Bolehkah menggunakan foto editting software dalam fotografi?"

Kalau saya akan menjawab "Kok nanya saya?" Kalau melihat fakta-fakta di atas, rasanya sudah jelas pendapat saya.

Saya berpendapat hal tersebut sebenarnya tidak perlu diperdebatkan atau dibuat panjang lebar. Perdebatan seperti itu hanya membesarkan ego saja dan tidak akan membantu membuat sebuah foto menjadi menarik.

Bagi saya, yang terpenting adalah menghasilkan sebuah foto yang enak dilihat. 

Juga, ketika ada sebuah kemajuan tehnologi, mengapa harus ditolak dan diabaikan kalau hal itu bisa membantu kita menjadi lebih baik.

Lagi pula, sebagai sebuah seni yang demokratis, alias tidak ada aturan yang mengikat, semua orang boleh memilih jalannya masing-masing. Mau memakai boleh, tidak juga tidak masalah.

Meakipun saya tidak suka terlalu mengandalkan diri pada software dan kebetulan lebih suka melihat hasil yang apa adanya, tidak berarti saya anti menggunakan software. Bahkan banyak sekali fotografer ternama pun mengkombinasikan skill di lapangan, kamera yang mumpuni, dan pengetahuan cara menggunakan foto editting software untuk menghasillan sebuah foto yang bagus dan memukau.

Jadi, kalau saran saya, jika ada yang mengajak berdiakusi tentang boleh tidaknya memodifikasi foto dengan foto editting software, lebih baik ambil kamera Anda dan mulailah memotret. 

Itu lebih baik daripada berdebat panjang lebar tanpa tahu ujungnya.

Itu pandangan saya lho. Subyektif sifatnya.



Read More

Monday, August 29, 2016

Sebuah Foto Harus Memancing Keingintahuan Kalau Ingin Menarik Perhatian


Untuk menarik perhatian, sebuah foto harus bisa menimbulkan rasa ingin tahu dari yang melihatnya.
Kalau keingintahuan itu sudah timbul, maka sudah pasti ia akan memberikan waktu lebih untuk mengamati dengan lebih teliti foto yang ada di hadapannya.

Itu adalah naluri manusia.

Bagi seorang fotografer, baik profesional, amatir atau sekedar penghobi, memancing keingintahuan orang akan menjadi sebuah pekerjaan yang lumayan sulit. Dengan jutaan foto yang dihasilkan setiap hari, bisa dikata hampir sulit untuk menonjolkan diri.


Oleh karena itu, setiap fotografer harus terus bereksperimen untuk menemukan cara-cara baru untuk membuat fotonya menonjol di antara berjuta yang lain. Tanpa hadirnya keingintahuan dala diri yang melihat besar kemungkinan, foto-foto tersebut akan tenggelam dalam tumpukan file digital tanpa ada yang memperhatikan.

Pengetahuan akan tehnik-tehnik dasar seni rupa dan fotografi juga akan sangat membantu untuk menimbulkan berbagai rasa ingin tahu dari orang lain. Penempatan fokus, pengaturan komposisi, pemilihan obyek, pemilihan background yang baik akan memperbesar kemungkinan itu.

Gaya memotret yang berbeda dengan orang lain juga akan memberikan nuansa tersendiri yang berbeda dari yang sudah ada. 

Tidak mudah tetapi tidak berarti tidak mungkin.
Read More

Memotretlah Dengan Gaya Anda Sendiri


Pada dasarnya, memotret atau fotografi tidaklah beda dengan ngeblog. Serius, memang demikian menurut pandangan saya.

Di dunia maya beredar ribuan tulisan mengenai teori memotret yang baik dan benar. Meskipun demikian, kesemua itu tidak akan menjamin bahwa kalau dituruti, hasil foto yang kita dapatkan akan bisa menarik perhatian. Belum tentu sama sekali.

Kalau ditelusuri lebih jauh, maka akan ditemukan bahwa semua tulisan atau artikel yang membahas mengenai itu dibuat berdasarkan pengalaman dari seseorang. Biasanya disarikan dari pengalaman seseorang yang sudah menggapai sukses dalam bidangnya, dalam hal ini fotografi.

Oleh karena itulah, menuruti dan mengikuti dengan begitu saja berbagai teori yang tertulis, belum tentu akan menghasilkan sebuah hal yang sama.

Tentu saja tidak akan sama, karena selain orang yang berbeda, peralatan, pengalaman, dan juga tehnik yang dipergunakan akan berbeda. Jadi, kesemua itu tidak akan membawa Anda menghasilkan foto yang sama.

Hampir pasti berbeda.

Setiap orang yang menggemari fotografi, atau juga blogging, harus menemukan jalannya sendiri. Tehnik atau peralatan apa yang cocok dengannya. Gaya atau genre apa yang dapat mewujudkan ide dan pemikirannya.

Kesemua itu harus dialami dan ditemukan sendiri .

Tidak bisa hanya berbekal pada pengetahuan saja.

Seorang fotografer atau penggemar fotografi tidak bisa hanya meniru. Ia harus mencari jalannya sendiri. Menemukan gayanya sendiri, meskipun terkadang gayanya tersebut tidak disukai oleh orang lain.
Read More

Wanita Di Malam Hari (Foto)

Terus terang.

Saya menyukai memotret apapun.

Juga tidak begitu menaruh perhatian dengan apa saya memotret. Kamera prosumer saya kah, si Galaxy Tab A7 atau Xperia M.

Kamera apapun yang kebetulan ada di tangan saya.

Obyeknya pun tidak terlalu memilih. Apa yang menurut saya menarik, maka saya akan potret.

Untungnya dalam era digital, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli film dan kemudian mencetaknya. Kalau memang terasa tidak bagus, ya dibuang.

Kalau lumayan buat ditampilkan, ya saya pajang.

Foto wanita di malam hari ini dibuat hanya dengan Samsung Galaxy A7 yang kualitas kameranya sebenarnya bahkan di bawah Xperia M. Aslinya berwarna, tetapi karena kualitas lensanya kurang bagus, akhirnya dengan bantuan software gratis Photoscape, dibuatlah menjadi hitam putih saja.

Not bad.
Read More

Saturday, August 27, 2016

Rule Of Thirds , Tehnik Sederhana Menempatkan Obyek Dalam Foto


Grid Lines itu nama fitur ini di berbagai smartphone atau kamera. Sebuah nama sederhana yang membuat fitur ini sering diabaikan oleh para pengguna kamera smartphone. Bahkan tidak jarang yang menganggapnya sebagai sebuah gangguan pada saat memotret. Padahal, kalau mereka mengetahui fungsi sebenarnya, garis-garis ini mewakili sebuah konsep yang sangat vital dalam fotografi, yaitu Rules of Thirds atau Aturan Sepertiga.

Betul sekali, garis-garis ini sangat penting bagi seorang fotografer, baik profesional, amatir, atau bahkan sekedar penghobi.

Kalau Anda tanyakan makna dari Grid Lines ini pada mereka, hampir pasti mereka akan menganggukkan kepala dan menjelaskan kepada Anda betapa 9 kotak ini bermakna lebih dari hanya sekedar garis-garis pengganggu.

Apa itu Rule Of Thirds atau Aturan Sepertiga?

Nama Rule of Thirds sendiri berasal dari ke-9 kotak yang sama besarnya itu. Meskipun demikian, bukan kotaknya yang menjadikannya penting, tetapi garis-garis dan 4 buah sudut di tengah itu yang memegang peranan utama.

Sekarang perhatikan sebuah foto di bawah ini.


Cobalah Anda perhatikan dimana posisi obyek yang menjadi fokus dan tema utama dalam foto di atas. Tidak susah kok karena saya sudah memberikan beberapa kotak tambahan berwarna putih agar mata Anda bisa dengan segera menemukannya.

Ya, betul sekali. Fokus utama foto di atas adalah sebuah bunga kamboja, yang bukan berasal dari negara Kamboja, berwarna pink.

Letaknya? Sekali lagi Anda benar. Posisi obyek foto tidak terletak di posisi tengah foto.

Peletakkan obyek foto yang dilakukan kebanyakan fotografer akan berbeda dan bertentangan dengan kebiasaan umum. Mereka cenderung meletakkannya justru tidak di bagian tengah foto, obyek akan selalu diletakkan agak bergeser ke pinggir, baik ke kanan, ke kiri atau ke atas.

Tidak akan di tengah.

Hal ini bukan berdasarkan sebuah pemikiran asal-asalan, tetapi sudah berdasarkan penelitian. Dalam berbagai penelitian, ditemukan bahwa mata manusia biasanya akan segera melihat kepada 4 titik pertemuan yang berada di tengah (bagian yang ditandai).

Oleh karena itu, para fotografer biasanya akan berusaha agar tidak "merepotkan" dengan menempatkan fokus utama, bagian yang merupakan tema dari fotonya, pada ke-empat titik tersebut. Dengan begini, yang melihat foto dengan segera mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh sang fotografer, tanpa perlu mencari lagi.

Rules of Thirds membuat foto lebih menarik


Bisa bayangkan berapa milyar foto yang dihasilkan dengan obyek atau fokus yang "selalu" berada di tengah? Kebiasaan ini bukan hanya dilakukan oleh satu dua orang saja, ratusan juta orang, yang tidak mengenal konsep Rule of Thirds berpikir bahwa tengah adalah tempat yang layak bagi tokoh utama. Hasilnya semua orang terus dan terus melakukan hal seperti itu.

Alhasil, semuanya menjadi umum dan biasa. Sulit sekali menonjol dan menarik di tengah milyaran foto dengan poa yang sama.

Penempatan fokus atau obyek mengikuti Aturan Sepertiga memberi kesempatan sebuah foto untuk berbeda. Posisi yang disesuaikan dengan kebiasaan mata manusia membuatnya menjadi lebih menarik dibandingkan yang lain.

Itulah salah satu keuntungan lain dari menggunakan konsep Rule Thirds dalam pemotretan.

Semua bisa melakukan Rule Of Thirds


Dengan mayoritas kamera di smartphone yang sudah diperlengkapi dengan Grid Lines, yang selalu tidak dianggap, seharusnya tidak ada alasan tidak bisa memakainya.

Tentu saja, pada pelaksanaannya, butuh latihan untuk membiasakan otak dan tangan dengan konsep Rule of Thirds ini. Bagi kalangan penggemar fotografi bahkan tanpa bantuan Grid Lines sekalipun, mereka sudah bisa menempatkan obyek lensanya pada posisi yang tepat. Hanya, bagi kalangan awam atau pemula, dibutuhkan latihan untuk membiasakan diri.

Memang sih, fotografi adalah sebuah seni yang sangat demokratif alias bebas sebebasnya. Tidak ada keharusan untuk mengikuti aturan ini. Meskipun namanya Aturan Sepertiga, Rule of Thirds sama sekali tidak mengikat. Tetapi, kalau memang hal tersebut bisa membuat foto tidak membosankan, mengapa tidak dilakukan?

Bukankah begitu?


Cobalah lihat foto-foto sederhana ini, tidak kah mereka menarik?

Benda-benda dan hal-hal biasa dalam kehidupan kita, tetapi dengan sebuah tehnik sederhana, mereka bisa ditampilkan dengan cara yang lebih menarik. Hanya butuh sedikit usaha untuk menyalakan fitur Grid Lines ketika memotret yang artinya mengaktifkan fitur pembantu konsep Rule of Thirs atau Aturan Sepertiga.
Read More

Mengenai RAW Dalam Fotografi


Kalau Anda baru saja membeli kamera DSLR atau Prosumer model terbaru, mungkin Anda akan sedikit kebingunan melihat ada paling tidak tiga pilihan file untuk hasil pemotretan. RAW, JPG, atau RAW+JPG. Benar tidak ?

Coba cek kamera yang baru Anda beli, karena kalau keluaran terbaru, biasanya opsi ini sudah tersedia. Kamera prosumer saya saja sudah memiliki opsi ini.

Nah, kalau file dengan format JPG (Joint Photographic Group) tentu sudah biasa kita lihat. Ini adalah jenis format dari banyak sekali image atau foto yang beredar di dunia maya, selain PNG (Portabel Network Graphics) atau TIF (Tagged Image Format).

Lalu kalau RAW? Apa itu? Apa fungsinya?

Apa itu RAW?

Sebelum Anda capek-capek mencari arti dari singkatan itu, saya beritahukan kepada Anda untuk membuka saja kamus bahasa Inggris. Serius, artinya ada disana kok.

RAW itu artinya "mentah". Kalau tidak percaya, buka saja Kamus Bahasa Inggris yang manapun, rasanya artinya sama.

Arti yang sama berlaku dalam fotografi.

RAW bukanlah singkatan dari apapun, artinya memang persis seperti arti yang tertulis dalam kamus. Tidak berbeda sediktpun. Mentah, bahan baku, dan atau bahan yang belum diolah, itulah maknanya dalam fotografi.

Banyak dari kita tidak menyadari bahwa kamera digital adalah sebuah komputer mini. Di dalamnya terdapat sensor, prosesor dan peralatan lain yang dipergunakan untuk mengolah data. Data yang terekam melalui lensa akan melalu beberapa tahap pemrosesan sebelum hasilnya ditampilkan di layar LCD dalam bentuk foto.

Nah, ketika kita memotret, sebenarnya semua data itu tersimpan dulu dalam sebuah bentuk file yang namanya RAW, alias mentah. File jenis ini mirip dengan "negatif film" seperti dulu ketika memotret masih menggunakan roll-an film.

Barulah setelah "negatif filmnya" kamera digital tersedia, komputer mini dalam kamera digital akan memberikan berbagai hal lain, seperti warna yang sesuai dengan standar yang disetting oleh pabrik pembuatnya.

Sama halnya seperti negatif film, file RAW tidak bisa dilihat seperti foto. Bentuknya masih benar-benar mentah dan jauh berbeda dengan foto yang biasa kita lihat. Untuk bisa melihatnya diperlukan software khusus. Coba saja Anda lihat negatif film jaman dulu. Kira-kira begitulah RAW, tetapi dalam bentuk digital.




Apa guna RAW?

Buat orang awam, tentu akan bertanya mengapa harus memotret menggunakan RAW? Kalau memang sulit untuk dilihat dan butuh proses lanjutan, mengapa harus dibuat?

Memang sih, kalau bisa simple, mengapa harus ruwet? Iya tidak sih.

Tetapi, sayangnya bagi orang-orang kreatif, file JPG sangat membatasi otak mereka yang kreatif.

File JPG, adalah versi yang sudah jadi, tetapi berdasarkan standar yang sudah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya. Ingat ya, JPG itu berasal dari RAW yang mengalami proses lanjutan secara otomatis yang disiapkan oleh para insinyur di pabrik pembuatnya, entah dimana.

Jenis file ini susah diutak-atik karena sudah fix. Memang berbagai software foto-editting mampu melakukan perubahan, tetapi tidak semuanya, tetap ada keterbatasan.

Sebaliknya, file bentuk RAW karena benar-benar masih mentah, ruang untuk melakukan modifikasi, perubahan, dan sejenisnya terbuka sangat luas. Orang-orang kreatif ini bisa menuangkan keinginan, ide, pemikiran tentang hasil foto yang diinginkannya dengan lebih leluasa.

Tentu saja, dengan memakai software tertentu.

Dalam banyak hal, memotret dengan mode RAW sangat membantu bagi para artis atau desainer yang memerlukan ruang lebih untuk otak-otak kreatif mereka.

Yang harus diperhatikan tentang RAW

* Ukuran filenya relatif lebih besar dibandingkan dengan file JPG, sekitar 2 kali lipat Kapasitas memory card yang ada di kamera bisa cepat habis.

* Untuk melihat hasilnya butuh keahlian tersendiri dalam mengolahnya memakai software terpisah.

* Hasil akhirnya tidak sama dengan apa yang terlihat saakarena lebih merupakan perwujudan dari ide yang ada di kepala
Read More

Fotografer Itu Seperti Koki


Memang tidak ada hubungan "darah" langsung antara fotografi dengan memasak. Yang ada hubungan bisnis karena fotografi sering dipakai untuk menampilkan hasil kegiatan memasak. Bahkan ada genre yang mengkhususkan diri dalam bidang memotret makanan.

Cuma itu hubungannya.

Cuma, rasanya tidak salah juga mengibaratkan fotografer itu seperti koki tidak salah juga. Berbeda lokasi dan bidang memang jelas, tetapi apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak jauh berbeda. Kedua "profesi" ini sama-sama melakukan kegiatan meramu.

Seorang koki dengan skillnya meramu bawang, tomat, daging, dan berbagai bahan lainnya yang kalau dimakan sendiri-sendiri tidak enak menjadi sebuah olahan yang bisa menggoyang lidah. Ia berusaha  menghadirkan sebuah sensasi dalam diri penikmatnya, melalui lidah.

Sementara itu seorang fotografer, dengan kameranya, menggabungkan berbagai unsur seperti background atau latar belakang, obyek, dan cahaya menjadi satu, sebuah gambar, foto. Bedanya dengan koki, fotografer berusaha menyentuh dan menggoyang indera mata untuk menimbulkan sensasi dari yang melihat.

Sama kan.

Keduanya memiliki kesamaan lagi, yaitu dalam hal hasil. Seorang koki akan ditempat oleh pengalaman dan latihan panjang untuk mencapai titik dimana ia pantas menyandang gelar Chef, atau koki kepala. Ia harus mengeluarkan segala daya dan kemampuannya melewati berbagai rintangan dan tantangan untuk diakui oleh orang lain. Tidak mudah dan sangat perlu ketekunan dan konsistensi dalam mencapai tujuan.

Begitu pula dengan seorang fotografer. Membuatnya diakui sebagai seorang fotografer pro tidaklah didapat hanya dengan ongkang-ongkang kaki, atau bahkan membeli. Seorang fotografer harus mampu menunjukkan mahakaryanya yang mampu memukau yang melihat. Kesemuanya itu tidak bisa didapat tanpa adanya latihan yang tekun dan pengalaman.

Prosesnya pencapaiannya samameskipun hasilnya berbeda.

Jadi, tidak salah juga kalau fotografer disebut seorang "koki" dalam bidang memotret. Iya nggak?
Read More

Friday, August 26, 2016

Berlatih Dengan Obyek Foto Seadanya


Menekuni fotografi seperti menandatangani kontrak untuk terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Kontrak ini akan terus berlaku sampai kita memutuskan lagi untuk tidak memotret. Selama masih menyukai, mau tidak mau tidak bisa dipisahkan dari yang namanya mengasah kemampuan.

Sayangnya, kebanyakan dari para penggemar fotografi terbentur pada masalah waktu. Status mereka kebanyakan tetap saja seorang karyawan, bapak, suami, yang harus bekerja untuk mengumpulkan uang (untuk membeli kam.. eh membayar rekening). Mau tidak mau urusan dapur harus didahulukan.

Belum lagi, di saat akhir pekan atau libur datang, rengekan anak atau permintaan istri untuk menemani mereka, entah ke pasar atau ke tempat bermain, pasti keluar. Tidak dituruti kasihan, mereka sudah menanti, dituruti tidak bisa berlatih memotret.

Yah, seberapapun sukanya saya pada fotografi, tetap saja mereka lebih penting dan akan selalu demikian. Jadi lah waktunya semakin sempit.

Padahal, keinginan untuk memotret biasanya meninggi di hari libur.


Untungnya, karena saya menggemari genre fotografi jalanan, atau apalah namanya soalnya campur aduk, masalah keterbatasan waktu ternyata bisa diatasi.

Mudah ternyata.

Sebagai penghobi fotografi ala Eric Kim, saya terbiasa untuk mengamati dan tidak tergantung pada tempat atau jenis obyek yang dicari. Tidak perlu tema, tidak perlu topik.

Jadi, saya masih bisa berlatih memotret dengan obyek foto seadanya.

Seadanya dalam artian, apapun yang ada di depan mata akan dijadikan obyek kamera. Kalau sedang jalan-jalan cari jajanan, ya berarti mencoba mengabadikan si penjual atau tempat dimana dia berjualan. Kalau sedang kondangan, mata saya akan jelalatan melihat siapa tahu ada gadis manis nan cantik atau ibu-ibu gendut berpakaian cerah atau aneh (keduanya bisa jadi obyek foto yang menarik lo). Kalau hanya berkunjung ke rumah saudara, ya kucing atau bunga yang jadi sasaran.

Apapun saya akan coba jadikan sebagai obyek foto.

Disini biasanya saya berlatih menerapkan berbagai teori hasil "nyolong" ilmu dari para master fotografi, entah dari genre jalanan atau yang lain. Bisa tidak saya menghasilkan sesuatu yang menarik dari obyek foto yang biasa-biasa saja.


Kamera yang dipergunakan pun tergantung situasi. Sudah jelas tidak mungkin selalu membawa kamera kesana kemari, apalagi saat mengantar istri berbelanja. Jadi, saat itu kalau memang cuma ada smartphone pun bukan sebuah masalah. Yang penting ada kameranya.

Semua ini saya rasa memang harus dilakukan oleh semua fotografer. Tujuannya, sudah pasti agar kemampuan atau skill memotretnya terus terasah.
Read More

Kunci Menjadi Fotografer Jalanan Adalah Mengamati


Mencari-cari petunjuk bagaimana menjadi fotografer jalanan yang baik ternyata susah sekali yah. Tidak menyangka juga. Padahal genre fotografi yang satu ini kalau membaca berita di media massa dan, tentu saja, banyak blog fotografi katanya semakin tenar di banyak kalangan. Penggemarnya semakin meningkat.

Seharusnya kalau begitu, sudah banyak blog dari para penggemar genre ini untuk sharing atau berbagi entah foto atau tehnik atau pengalaman. Ternyata masih sedikit sekali.

Sayangnya lagi, sebagian besar blog tentang fotografi, kebanyakan masih lebih suka mengulas, kalau tidak tentang kamera, ya tentang teori memotret. Tidak menyalahkan sih, karena tulisan tentang teori atau review kamera pasti akan panen pengunjung. Kalau sudah panen pengunjung tentunya akan berkaitan dengan panen penghasilan dari iklan.

Hasilnya, ya sudahlah, saya coba membuat sendiri saja dengan gaya sendiri.

Nah, pandangan saya, sebuah hal yang harus dimiliki oleh seseorang yang hendak menekuni dunia fotografi jalanan sebenarnya cuma satu. Ini kalau terlepas dari masalah tehnis pemotretan dan kamera ya. Memang hanya satu.

Inti utamanya adalah kemauan untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Harus mau mengamati.

Berbeda dengan beberapa genre lainnya dimana kebanyakan obyeknya bersifat statis dan sudah tertentu, fotografi jalanan tidak memiliki hal seperti itu.

Contohnya, kalau fotografi model, maka model cantik bertubuh bagus, atau jelek, sudah tersedia. Ia tinggal memilih background untuk pencahayaan dan seterusnya. Fotografi landscape pun demikian halnya. Bagi mereka yang menekuni genre yang ini hanya perlu memilih lokasi yang menurutnya ideal. Kemudian ia berkeliling untuk menemukan spot-spot yang menurutnya indah.

Jadi, biasanya kalau penggemar genre-genre di atas, sejak keluar dari rumah sudah mengetahui target. Dngan ini mereka sudah menyiapkan strategi untuk pengambilan gambar. Tentu tidak semudah seperti dalam tulisan ini, tetapi ini hanya menunjukkan sebuah pola dari beberapa genre.

Berbeda dengan seorang fotografi jalanan. Sang pemegang kamera seringkali tidak mengetahui apa yang mau dipotretnya di jalan. Boro-boro mengetahui obyeknya apa, terkadang pergi kemana pun akan ditentukan oleh "hati" alias sekenanya saja alias tidak punya tujuan alias yang penting jalan.


Karena itulah, satu-satunya persiapan yang dilakukan oleh fotografer jalanan adalah membersihkan mata dan memastikannya tidak dalam kondisi ngantuk. Sungguh.

Kalau mata ngantuk, rasanya sulit untuk melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar dengan baik. Inginnya merem terus.

Padahal pengamatan adalah kunci menjadi fotografer jalanan. Dengan mengamati kondisi dan situasi di lingkungan ia berada, seorang fotografer jalanan akan bisa men-scan (maaf kalau bahasanya aneh) lingkungan dan kemudian me-lock perpaduan obyek dan background yang mungkin menarik.

Tanpa mengamati, rasanya sulit untuk melakukan semua itu.

Tidak jarang, paling tidak ini yang saya lakukan kalau sedang hunting, saya menunggu di satu spot, yang menurut saya memiliki background bagus untuk sebuah foto. Lamanya tergantung hati, kalau belum merasa bosan, maka saya akan terus melakukan itu, mencari, mencari dan mencari.

Saya berusaha mengamati lingkungan dimana saya menunggu. Siapa tahu ada obyek menarik yang lewat, jadi tinggal digabungkan dengan backgroundnya. Siapa tahu ada cewek cantik lewat, iya tidak? Jangan berpikiran buruk, seorang cewek cantik adalah obyek yang jelas akan memikat, paling tidak kaum cowok, jadi akan beruntung kalau bisa menemukan yang seperti ini.

Untungnya, semakin terbiasa saya berburu foto ala fotografer jalanan ternyata kemampuan mengamati dan menemukan obyek pun meningkat. Pertama kali rasanya susah sekali mendapatkan satu foto yang menarik (paling tidak buat saya sendiri), tetapi setelah semakin sering menyusuri jalan, ternyata hasilnya membaik. Terkadang membawa dua atau tiga yang bisa memuaskan hati.

Itulah mengapa saya berkesimpulan, kunci menjadi fotografer jalanan adalah mengamati. Tidak bisa tidak. Kalau tidak mood saja, seringkali obyek menarik bisa terlewat atau kita terkadang hanya berputar-putar saja tanpa hasil.

Tanpa kemauan mengamati hampir tidak mungkin bisa menjadi fotografer jalanan.




Read More

Tips #4 : Setelah Membeli Kamera, Jangan Baca Review Tentang Kamera



Lucu mungkin terdengarnya, tetapi memang itu saya sarankan bagi Anda setelah membeli kamera baru. Jangan buka berbagai website yang berisikan review tentang kamera. Kalau perlu selama beberapa bulan ke depan, tidak perlu berkunjung ke website-website yang menyajikan berbagai ulasan terkait alat memotret ini.

Bukan tanpa sebab sebenarnya.

Sebuah kebiasaan dalam kehidupan manusia adalah ingin selalu unggul dari yang lainnya. Manusia akan terus mencoba menggali keunggulannya untuk dibandingkan dengan manusia lainnya. Begitu juga dalam hal sesuatu yang dimilikinya.

Banyak pembeli kamera baru akan melihat ulasan, dari yang dikatakan ahli, tentang apa saja sih kekuatan dari kamera yang baru saja dibelinya. Dengan begitu ia akan merasa lebih unggul dibandingkan "entah siapa".

Manusiawi.

Masalahnya dunia ini begitu luas. Alih-alih menemukan apa yang dicari, justru yang ditemukan kebanyakan adalah "iklan" atau promosi kamera-kamera jenis lain yang memiliki kemampuan lebih.

Disini masalahnya. Rasa minder akhirnya akan hadir dalam hati terhadap benda yang dimilikinya. Lahir ketidakpuasan dan juga keinginan untuk memiliki yang lebih dari yang baru saja dibeli.

Hasilnya, sering menyebabkan tidak terfokusnya pikiran untuk memanfaatkan kamera yang sudah ada. Targetnya berubah menjadi keinginan untuk memiliki kamera yang lebih "mumpuni".

Ketidakpuasan hadir.

Juga sesuatu yang manusiawi, karena pada dasarnya manusia tidak pernah puas.

Meskipun demikian, ketidakpuasan ini bisa jadi batu kerikil dalam perjalanan seorang fotografer. Ia bisa menjadi tidak percaya diri terhadap hasil karyanya. Semua bisa dirasa kurang karena tidak dipotret dengan peralatan yang lebih canggih. Minder lah istilahnya.

Oleh karena itu, kalau sudah membeli sebuah kamera, langsunglah memulai dengan langkah berikutnya, yaitu "mengenali kamera" yang baru saja dibeli. Kemudian, mulailah memotret.

Jauhilah sementara membaca berbagai review kamera. Paling tidak hingga beberapa bulan sampai kita sudah menjadi terikat dengan kamera yang baru saja dibeli.
Read More

Potretlah Orang Yang Anda Sayangi


Kalau dihitung-hitung, berapa kali kita sebagai penggemar fotografi memotret istri atau anak kita?

Kenapa saya menanyakan hal ini, karena saya menemukan ternyata dalam ribuan potret yang dihasilkan oleh kamera saya, jumlah foto mereka yang saya sayangi itu hanya sedikit sekali.

Dibandingkan dengan foto bunga, orang di jalan, tempat wisata, bahkan becak, ternyata jumlah foto sang mantan pacar jauh lebih sedikit.

Entah kenapa.

Agak bingung juga.

Mungkin, mungkin ya, karena memotret mereka itu seperti tidak memberi tantangan yang berarti dalam kehidupan sebagai seorang fotografer. Kehadiran mereka sudah terlalu sering terlihat di depan mata, sehingga seperti tidak bisa memicu adrenalin yang cukup untuk menekan tombol shutter.

Bisa jadi itu alasannya.

Padahal, tanpa mereka, tidak akan saya bisa menekuni hobi potret memotret ini. O ya, jelas sekali. Tidak akan ada dorongan untuk mencoba lebih dan lebih lagi.


Mereka memang bukan model berparas cantik dan bertubuh sexy. Tetapi, kehidupan saya tidak akan terganggu kalau tidak ada para model bertubuh sintal tersebut. Sama sekali tidak akan terganggu. Toh saya bisa menemukan jutaan obyek di jalanan dan tidak terikat oleh mereka.

Sementara, kalau salah satu saja dari orang-orang yang sangat berarti itu tidak ada, jangankan ada keinginan menenteng kamera, makan saja rasanya sulit. Saya lebih suka mereka selalu hadir dan ada dekat dengan saya.

Herannya, foto-foto mereka justru tidak sebanyak foto dari obyek-obyek lain, yang sebenarnya tidak terlalu berarti. Ironis juga sebenarnya.

Rasanya itulah yang mendorong saya untuk mencoba sebuah proyek baru. Proyek yang berintikan pada orang-orang yang saya sayangi, mereka-mereka yang sangat berarti bagi kehidupan saya.

Ini adalah sebagian dari langkah awal dari proyek yang belum bernama itu.

Mungkin suatu waktu akan ada namanya, tetapi belum terpikirkan saat ini.


Inilah dua orang yang merupakan bagian utama dari hidup saya. Karena merekalah, saya memotret dan membuat blog ini.

Bagaimana dengan Anda kawan? Berapa kali Anda mengarahkan lensa pada orang-orang yang Anda sayangi?
Read More

Thursday, August 25, 2016

Pantai Kelapa Rapat, Lampung

Pantai Klara. Namanya seperti nama cewek cantik. Padahal sebenarnya nama itu merupakan singkatan dari Kelapa Rapat karena banyaknya pohon kelapa di area tersebut.


Cantik. Indah.

Juga sebuah bukti kalau kamera smartphone pun bisa menghasilkan foto-foto yang menarik dan memukau, bila dipergunakan dengan tepat.


Dua foto di atas diambil dengan kamera Asus Zenphone saja.
Read More

Menarik Tidak Selalu Harus Cantik


Talent cantik memang akan membuat foto menjadi menarik. Mau tidak mau mata mereka yang melihat akan langsung tertuju pada sang model yang biasanya cantik dan bertubuh ideal.

Tetapi, membuat foto yang menarik seringkali tidak memerlukan hal tersebut. Banyak model yang tidak memiliki kecantikan dan kemolekan tubuh dapat membuat sebuah foto menjadi sama menariknya.
Read More

Wednesday, August 24, 2016

Kamera Untuk Berbagi Kegembiraan


Apa yang Anda lakukan dengan kamera yang Anda beli? Apakah Anda perlakukan sebagai jimat dan disimpan dalam te pat tertutup agar tidak cepat rusak? Atau kah Anda pergunakan untuk membuat sebuah karya seni? Atau kah hanya untuk menyenangkan diri sendiri dengan mencoba membuat sebuah karya artistik bak fotografer terkenal?

Jangan salah sangka.

Saya tidak akan mengutak-atik apapun yang Anda lakukan dengannya. Apapun itu sudah masuk wilayah pribadi yang tidak seorang pun bisa mengganggu gugat. Tidak juga saya.

Apa yang akan dituliskan dalam artikel ini hanyalah sebuah pandangan pribadi, sebuah hasil perenungan setelah beberapa lama membeli sebuah kamera prosumer, Fuji Finepix HS35EXR dua tahun lalu. Bukan sebuah kamera high-end tetapi harganya tetap membuat saya sempat memperlakukannya seperti benda pusaka.

Memang begitu adanya. Harganya yang melebihi 25% gaji yang diterima tiap bulan, sempat membuat saya seperti habis membeli mobil Ferrari.

Untungnya kebutuhan akan foto-foto bagi blog yang saya kelola dan kualitas foto yang dihasilkan oleh smartphone Xperia-M semakin menurun, memaksa agar si Finepix harus sering keluar.

Mau tidak mau. Blog Lovely Bogor yang saya kelola membutuhkan banyak foto dari Kota Hujan tersebut sebagai salah satu unsur pelengkap artikel. Kalau hanya mengandalkan lensa Xperia-M yang sudah penuh goresan, hasilnya kirang maksimal.

Jadilah "benda pusaka" itu harus keluar semakin sering.


Tidak begitu lama, tetangga yang sering melihat saya hunting foto pun menyadari kalau ada di antara mereka yang bisa menggunakan kamera. Apalagi mereka juga sudah melihat beberapa hasil karya di blog Lovely Bogor.

Seperti efek domino, sejak itu permintaan untuk menjadi fotografer untuk berbagai macam kegiatan di lingkungan rumah seperti dilimpahkan kepada saya. Meskipun beberapa tetangga memiliki kamera dari jenis yang lebih mahal sekalipun, mereka tetap mengandalkan saya untuk merekam momen-momen berbagai kegiatan di kompleks dimana saya tinggal. Terutama di saat Perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus alias 17-an.

Rada malas sebenarnya untuk memenuhinya. Bukan karena sayang, tetapi lebih karena waktu hunting yang sudah sedikit harus dibagi pula.

Apalagi momen-momen yang harus difoto, pastilah itu itu saja. Sesuatu yang sudah saya lihat ratusan kali. Semuanya membosankan dan tidak menantang sama sekali.

Hanya kesadaran bahwa ada sebuah kewajiban sebagai makhluk sosial lah yang mendorong saya menerima "penugasan" tersebut.


Ternyata, saya salah!

Yah. Saya harus akui tentang hal itu.

Mengabadikan kegiatan-kegiatan di lingkungan rumah ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Tidak membosankan.

Jauh dari itu.

Saya menemukan justru hal tersebut memberikan tantangan tersendiri. Tantangan yang sama besarnya dan menariknya dengan berburu foto orang tak dikenal di jalanan ala fotografi jalanan.

Tantanga itu adalah bagaimana cara membuat sebuah foto yang menarik dari sesuatu yang biasa saja.

Tidak ada yang istimewa dari sebuah pertandingan balap karung atau makan kerupuk. Setiap tahun saya melihatnya setiap 17 Agustus. Tidak ada yang berbeda.

Begitu juga, dengan tokoh-tokoh dalam fotonya. Semua adalah orang yang ditemui hampir setiap hari. Tidak ada adrenalin yang terpacu ketika melihat ivu-ibu dengan postur tubuh yang sudah jauh dari ideal.

How to make a good picture from something mundane like that? Bagaimana harus membuat foto-foto yang bisa menarik perhatian dari kesemua hal membosankan itu?

Itulah tantangannya.

Tidak mudah. Sama sekali tidak mudah.

Tidak sulit menarik perhatian penikmat foto kalau tokoh dalam kameranya seorang model beebadan sexy. Bahkan tanpa berbagai tehnik yang rumit, kemolekan tubuh sang model sudah akan menyedot perhatian.

Tetapi, bagaimana menampilkan sisi indah dari ibu-ibu yang badannya sudah melar dan jauh dari sempurna?

Ternyata, hal itu mendatangkan kegembiraan tersendiri bagi saya, si pemegang kamera.



Mau tidak mau, saya harus berpikir tentang caranya, koreografernya, posisi memotretnya, dan lain sebagainya. Sebisa mungkin penampilan mereka dibuat tidak seperti umumnya agar tidak sama dengan jutaan foto ala 17 Agustusan.

Paling tidak, hasilnya harus sedikit berbeda dengan mengedepankan keceriaan dalam fotonya.

Harus la yaw. Kalau perayaan 17-an tidak gembira, lalu tidak akan cocok dengan suasana nya.

Berbagai hal harus saya lakukan, mulai dari berpindah posisi, hingga meminta para model dadakan itu bergaya.

Tidak terasa.

Semua itu membuat saya tenggelam dalam kesibukan dan kesenangan dalam mengambil foto dari hal-hal yang membosankan tersebut.

O ya saya gembira.

Banyak teori yang selama ini hanya berupa tulisan atau kata-kata bisa dipraktekkan disini.  Teori tentang bagaimana mengamati arah cahaya, background, sudut pengambilan gambar seperti ditantang untuk dikeluarkan.

Latihan dalam bentuk nyata.

Nyata karena hasilnya akan dinilai oleh mereka-mereka yang ada di foto. Tetangga-tetangga tentunya berharap saya bisa memberikan "lebih" dibandingkan kalau mereka yang melakukan.

Ruwet, tetapi menyenangkan. Tantangan memang harus dicari karena hal itu akan membawa kita melangkah ke level berikutnya. Tantangan membuat diri kita lebih baik dari sebelumnya.


Hasilnya?

Tidak sia-sia.

Meskipun jelas bukan foto-foto untuk kontes foto dan dengan tehnik tinggi, foto-foto yang dihasilkan membuat mereka memberikan senyum dan acungan jempol.

Mereka mengatakan tidak seperti yang biasa. Berbeda.

Entah apa maksudnya, tetapi memang sebenarnya ada beberapa trik sederhana yang saya pungut dari internet dan jalanan yang saya coba terapkan. Salah satunya adalah menghadirkan emosi pada fotonya. Bukan sekedar dokumentasi.

Dengan mencoba menangkap emosi kegembiraan ataupun membuatnya, fotonya tidak lagi hanya sekedar rekaman gambar kegiatan yang kaku dan tidak menarik.

Foto-foto itu menjadi lebih hidup dan ceria.

Mungkin. Mungkin karena itu menjadi terasa berbeda.

Terserah lah.


Apapun yang ada di benak mereka, saya tidak akan pernah tahu.

Yang terlihat di depan mata adalah tawa ketika melihat foto anak dan suami mereka terjatuh saat balap karung, gagal menggigit kerupuk yang tergantung, dan banyak hal lain yang sebenarnya hal yang sudah sering mereka saksikan.

Mereka menikmati momen-momen yang terekam oleh sang Fuji Finepix sambil tertawa dan bercanda. Bergembira bersama tidak berhenti hingga mereka melihat foto terakhir.

Bahkan beberapa hari setelah itu pun pembicaraan masih terus berlangsung. Foto-foto itu masih beredar via Whatsapp atau tampil di wall Facebook.

Ucapan terima kasih pun bertubi-tubi diucapkan.

Menyenangkan.

Sangat menyenangkan.

Bukan hanya saya bergembira telah memiliki kesempatan membuktikan kemampuan, mempraktekkan berbagai tehnik, tetapi saya mempelajari satu hal lainnya.

Satu hal yang akhirnya tergambar jelas di depan mata.

Ternyata kamera bisa dipergunakan untuk berbagi kegembiraan. Memang bukan dalam sebuah lomba berhadiah jutaan, bukan dalam kontes besar-besaran, tetapi tetap saja melihat orang tersenyum dan bergembira adalah sesuatu yang terasa sangat menyenangkan.

Apalagi bila saya adalah sang pemegang kamera.



Read More

Tuesday, August 23, 2016

Polisi Cantik Bersepeda

Ada satu alasan, dari beberapa, mengapa saya menyukai fotografi jalanan. Memang tidak ada uang disana, tetapi terkadang ada rezeki berupa wajah-wajah cantik di depan mata.

Tidak ada niat buruk tetapi kecantikan tetap sebuah keindahan yang harus dinikmati. Bukan begitu, kawan?


Foto ini diambil saat perayaan Cap Go Meh Bogor tahun 2016.

Enak dipandang kan, meski tehnik pengambilan gambarnya jauh dari sempurna?
Read More

Monday, August 22, 2016

Tips #3 : Horison Lurus Pada Potret Pemandangan di Pantai

Ada sebuah hal kecil saat memotret yang kadang tidak kita perhatikan saat mengambil foto. Hal ini biasanya terjadi pada saat kita mengambil gambar pemandangan, terutama pemandangan di pantai.

Takjubnya kita pada keindahan kita saat melihat matahari terbit (sunrise) atau tenggelam (sunset), sering membuat kita mengabaikan hal yang satu ini.

Hal itu adalah horison lurus.

Perhatikan dua buah foto di bawah ini

Foto 1 :

Horison Lurus

Foto 2 :

Pantai Batu Saung, Anyer, Banten

Keduanya menggunakan obyek yang sama di Pantai Batu Saung, Anyer, Banten.

Mengapa horison dalam foto harus lurus?

Karena, foto akan terkesan miring kalau horisonnya tidak lurus. Hal ini akan menyulitkan siapapun yang melihat. Mereka perlu memiringkan kepala untuk melihatnya. Padahal posisi itu bukanlah posisi umum seseorang saat melihat foto.

Kecuali memang Anda bermaksud membuat sebuah foto bernilai seni dan agak surealis, maka penggunaan horison lurus dalam foto akan dianjurkan.

Cara membuat horison lurus

Tidak sulit.

Di kamera-kamera digital masa kini,hampir semua kamera sudah diperlengkapi dengan grid atau garis bantu untuk memastikan horison lurus, tidak miring.

Biasanya garis bantu itu akan berubah warna menjadi hijau ketika garis horison sudah tidak lagi terlihat miring.


Kalaupun Anda memakai smartphone, jangan khawatir. Fitur garis bantu ini sudah banyak ditemukan dalam berbagai smartphone.

Cek manual kamera atau smartphone Anda bagaimana mengaktifkan fitur ini.

Kalau masih juga tidak ada, Anda bisa mencari benda-benda yang bisa membantu, seperti pohon dan lain sebagainya. Meskipun kadang tidak sempurna, kalau kita terbiasa maka horison bisa dibuat selurus mungkin.

Read More

Cara Membuat Siluet


Membuat siluet, untuk apa? Memang ada benarnya pertanyaan seperti itu. Untuk apa kita merekam gambar kalau hasilnya tidak terlihat dengan jelas.

Meskipun demikian, ada satu masalah di lapangan bagi pemegang kamera. Masalah itu berupa ada background bagus tetapi obyeknya sendiri biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Haruskah kita memotret hanya bakcgroundnya saja?

Tidak juga. Sebuah foto perlu sebuah fokus. Mengambil gambar hanya langit biru tanpa ada apa-apa sering membuat foto terlihat datar dan biasa saja. Cenderung membosankan karena memang tidak ada yang bisa dilihat dan dinikmati.

Kalau hanya sekedar langit biru saja, toh juga bisa dilihat setiap pagi.

Lalu bagaimana kita mengkombinasikan antara obyek yang kurang pas dan tidak enak dipandang dengan background yang ada?

Ada satu pemecahan sederhana, ya itu tadi, dengan menampilkan obyek dalam sebuah bentuk yang "kabur" dan tidak jelas. Dengan begitu perhatian yang melihat akan tetap terfokus pada birunya langit.

Membuat siluet adalah salah satu jalan untuk membuat obyek tidak terlihat dengan jelas.


Dengan menampilkan obyek sebagai siluet, selain membuat perhatian tetap terfokus pada keindahan latar belakang, juga bisa menampilkan sesuatu secara misterius.

Yang melihat akan bertanya-tanya (dalam hati tentunya) mengenai benda apakah yang terlihat gelap dan hitam itu. Sesuatu yang justru akan menambah daya tarik dari foto tersebut.

Cara membuat siluet

Tidak perlu rumit.

Cara membuat siluet dalam foto tidak memerlukan software khusus. Cukup dilakukan dengan kamera di tangan saja. Kuncinya hanya satu, perhatikan dari arah mana sumber cahaya datang!

Sumber cahaya bisa saja berupa sinar matahari atau lampu.

Setelah Anda menemukan sumber cahayanya, maka memotretlah dari arah yang berlawanan dengan arah dari mana datangnya cahaya. Semakin kuat sumber cahaya, maka siluet yang dihasilkan akan semakin gelap/

Perhatikan saja dua foto di atas.

Yang pertama, saya memotret dari posisi dimana sumber cahaya (matahari) berada tepat di belakang saya. Hasilnya jelas dan tegas.

Foto kedua dihasilkan ketika saya menghadap langsung sinar matahari. Kuatnya sinar yang datang dari arah yang berlawanan dengan kamera membuat bagian muka obyek yang menghadap kamera menjadi terlihat gelap dan kehitaman.

Kejelian pemegang kamera dalam menemukan sumber cahaya akan berpengaruh terhadap hasil siluetnya.

Perhatikan juga foto di bawah ini.


Terlihat gelap. Tetapi, bukan siluet. Masih ada berbagai detil yang bisa terlihat.

Hal ini terjadi karena posisi sumber cahaya tidak berada tepat di hadapan lensa kamera. Hasilnya menjadi disebut jelas tidak, disebut gelap juga tidak. Nanggung dan tidak membentuk siluet.

Itulah cara sederhana dalam menghasilkan foto berbentuk siluet.

Semoga bermanfaat.
Read More

Tips #2 : Foto Dengan Background Langit Biru


Langit biru sebagai background tentu saja sangat membantu sebuah foto menjadi sangat menarik. Apalagi kalau Anda adalah seorang penyuka keindahan alam.

Background langit biru bisa menjadi sebuah daya tarik tersendiri dan akan langsung menyedot perhatian siapapun yang melihat.

Nah, untuk mendapatkannya sebenarnya tidak sulit, sangat mudah tetapi bisa jadi sangat sulit. Semuanya tergantung pada sang fotografer.

Sekali lagi sang pemegang kameranya. Bukan kameranya sendiri.

Langit biru hanya bisa didapatkan pada saat-saat tertentu dalam satu hari. Meskipun seharusnya tidak demikian, polusi, sinar matahari sering membuat langit tidak lagi menjadi biru, tetapi lebih keabu-abuan yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor.

Oleh karena itulah, seorang fotografer harus mengetahui kapan waktu dimana langit terlihat biru.

Sangat mudah karena modalnya hanya satu hal, BANGUN PAGI.

Biasanya pada mulai pukul 5.30-6.00 pagi, langit akan menjadi kebiruan yang indah dan akan berakhir sekitar 09.00. Semakin siang, maka birunya langit akan semakin berkurang.

Itulah sebabnya banyak fotografer akan bangun sepagi mungkin dan menunggu hingga saatnya tiba sebelum bersiap untuk memotret.


Itulah upah bagi seorang fotografer yang mau memaksakan diri untuk bangun pagi. Langit biru sebagai background fotonya.
Read More

Saturday, August 20, 2016

Tips #1 : Langkah Awal Menekuni Fotografi, Mengenali Kamera

Seperti juga awal dari segala sesuatu, biasanya kita harus memulai secara perlahan dan dengan melakukan langkah yang paling sederhana.

Begitu pun dalam menggeluti dunia fotografi. Tidak berbeda.


Langkah awal akan selalu perlahan dan agak membosankan. Tidak menantang, tetapi sebenarnya sangat penting.

Langkah itu, menurut saya, adalah mengenali kamera yang akan dipakai.

Anggaplah Anda memulai dengan membeli sebuah kamera, baik prosumer atau  DSLR (Digital Single Lens Reflex). Lalu biasanya, karena begitu bersemangat dan bergairah, maka yang langsung dilakukan adalah dengan memotret dan terus memotret.

Tidak bisa disalahkan. Namanya barang baru dan juga sedang semangat, biasanya memang itu yang akan dilakukan.

Sayangnya menurut saya hal itu kurang baik.

Hubungan antara seorang fotografer dengan kameranya, bisa diibaratkan sebagai pasangan joki dengan kuda tunggangannya. Seorang joki harus mengenal kudanya sendiri agar ia bisa memacunya dengan cepat dan mencapai garis finish pertama.

Begitu pula hubungan seorang fotografer dengan kameranya. Ia harus memahami karakter kamera yang dipergunakannya. Dimana letak tombol pengatur, fitur apa saja yang ada, bagaimana menampilkan menu tersebut, apakah ada vari-angle atau tidak, dan masih banyak lainnya.

Pengetahuan tentang kameranya ini akan membuatnya terbiasa dengan sifat dan karakter si kamera. Bila ia sudah memahaminya, maka tidak akan membutuhkan waktu lama untuk mengatur sebuah setting yang diinginkan.

Semakin cepat ia bisa mengatur setting tertentu dalam kameranya, semakin baik. Sang fotografer akan bisa semakin cepat merekam momen yang diinginkannya. Selisih beberapa detik itu sangat berharga, terutama bagi seseorang yang ingin menjadi fotografer jalanan atau sport.

Semua itu tidak akan bisa dilakukan tanpa mengenali kamera yang dipergunakan.

Cara untuk mengenali kamera juga sebenarnya sederhana dan tidak perlu browsing kesana kemari. Setiap kamera yang dibeli akan dibekali dengan buku petunjuk penggunaan dari pabrik yang membuatnya. Isinya sangat detil sekali.

Sayangnya, seringkali kita mengabaikan hal ini dan berpikir bahwa dengan mencoba dan mencoba, kita lama kelamaan akan bisa memahami juga. Tidak salah juga sebenarnya, tetapi akan memakan waktu yang lumayan lama. Padahal, hal itu bisa dipersingkat dengan cukup membaca buku petunjuk.

Paling lama akan memakan waktu di bawah 30 menit saja. Tidak akan lebih.

Setelah membaca, kita bisa melakukan beberapa percobaan dengan panduan dari buku petunjuk itu, seperti membuat suatu setting Shutter Speed , Aperture, dan sebagainya.

Lakukan berulang-ulang sampai diri kita paham semua karakter sang kamera.

Sampai kita merasa sudah mengerti tentang kamera itu, barulah kita lepaskan buku petunjuk dan memulai petualangan di dunia fotografi.

Jadi, kawan, ingat lah bahwa buku petunjuk atau manual itu dibuat untuk mempermudah pembeli. Manfaatkan untuk mengenali kamera yang akan kita pergunakan. Luangkan sedikit waktu untuk mempelajari dan mengenali kamera tersebut.

Langkah sederhana tetapi sangat penting. Karena saya pernah melakukan kebodohan ini, oleh karena itu tips #1 ini saya buat agar Anda terhindar dari melakukan kebodohan yang sama.

Read More

Friday, August 19, 2016

Fotografi Mengabadikan Momen Sebelum Menjadi Masa Lalu


Seni mengabadikan momen, itu adalah salah satu definisi yang paling tepat, menurut saya, tentang apa itu fotografi. Mungkin ada banyak yang lebih menyukai definisi lainnya, seperti 'melukis dengan cahaya', tetapi dalam pandangan saya, sang penggemar fotografi, arti fotografi yang pertama lebih mengena.

Berrnice Abbot, seorang fotografer wanita asal Amerika Serikat pernah berkata :

'Photography can only represent the present. Once photographed, the subject becomes part of the past'

(Fotografi hanya bisa mewakili masa kini. Setelah diabadikan, subyek menjadi bagian dari masa lalu)

Kutipan dari sang fotografer awal abad ke-20 ini mengibaratkan bahwa kehidupan manusia bagaikan rangkaian trilyunan slide foto yang terus berjalan. Tidak ada jalan mundur alias kemungkinan diputar ulang.

Semuanya akan terus berjalan maju.

Ketika seseorang menggunakan kameranya untuk merekam sesuatu, maka ia sebenarnya sedang merekam sebuah momen dan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Sepotong. Hanya sepotong, tidak lebih.

Momen itu akan terekam dalam bentuk gambar atau foto yang bisa terlihat.

Bagaimana cara dan tehniknya, itu adalah hal terpisah, tetapi fotografi memang dilahirkan untuk menangkap momen-momen dalam kehidupan yang dianggap penting dan bermakna oleh manusia.

Momen-momen yang hendak direkam oleh kamera bisa berupa peristiwa-peristiwa bahagia, sedih, senang, marah, takjub dan lain sebagainya.

Sesuatu yang dianggap berharga oleh manusia.

Berharga karena mereka tahu bahwa momen-momen ini tidak akan pernah terulang kembali. Semua hanya terjadi satu kali dalam hidup manusia. Sangat jarang sebuah momen akan terulang kembali.

Itulah mengapa Berenice Abbot mengatakan demikian. Hal itu karena ia sangat menyadari bahwa kehidupan manusia tidak akan berputar ke masa lalu.

Itulah mengapa saya berpikir, fotografi adalah tentang mengabadikan momen dibandingkan melukis dengan cahaya.
Read More