Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Fotografi Bukan Hanya Tentang Kamera, Memotretlah Dengan Kamera Yang Ada Di Tangan

Boleh kah saya bertanya kepada Anda? Kira-kira dari dua orang di bawah ini, mana yang akan menghasilkan sebuah foto yang "bagus" dan "menarik"?

  • 1. Seseorang dengan sebuah kamera smartphone 8  MP (Mega Pixel atau Mega Piksel)
  • 2. Seseorang dengan sebuah kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) 24 MP

Kalau diibaratkan lomba, siapa kira-kira yang akan bisa meraih hadiah pertama? Mana yang peluangnya lebih besar?

Bisa tolong pikirkan sejenak?


Ok. Coba sekarang cocokkan jawaban Anda dengan jawaban saya di bawah ini.

KEDUANYA MEMILIKI PELUANG YANG SAMA UNTUK MENGHASILKAN FOTO YANG BAGUS DAN MENARIK. KEDUANYA MEMILIKI KEMUNGKINAN UNTUK MENDAPATKAN HADIAH PERTAMA.
Mungkin Anda berpikir bahwa saya sedang bercanda. 

Mana mungkin orang pertama dengan kamera smartphone bisa mengalahkan orang kedua yang memiliki kamera yang lebih canggih dan mahal?

Baiklah, saya akan coba bawa Anda ke beberapa situs

1) How I meet Henri Cartier Bresson

Disini terdapat sebuah foto di bagian atas artikel yang enak dipandang mata. Siluet seseorang sedang melompat sambil memegang payung dengan latar belakang pasangan juga berpayung, dan menara Eiffel.

Foto ini hasil karya seorang bernama Henri Cartier Bresson. Seorang Perancis kelahiran tahun 1904 yang dikenal sebagai Bapak Fotografi Jalanan.

Karya yang indah bukan?

2) Erik Kim Blog

Situs ini adalah milik Eric Kim, seorang fotografer "jalanan" yang berkeliling dunia untuk mengajar pada workshop tentang fotografi jalanan.

Dalams situs ini Anda bisa melihat tampilan mukanya berisi berbagai hasil karyanya.

Unik. Menarik. Berani.

Kenapa dua orang ini? Mengapa dijadikan contoh?

Karena keduanya tidak menggunakan kamera DSLR berharga mahal

Henri Cartier Bresson lahir di zaman dimana DSL bahkan belum terpikirkan. Meskipun ia tetap aktif memotret hingga meninggal di tahun 2004, ia memotret dengan menggunakan film dan bukan digital. Kamera Leica generasi awal jelas bukan kamera DSLR.

Sedangkan Eric Kim, dalam blognya menulis bahwa ia lebih suka menggunakan kamera kompak Ricoh GRII karena ringan, praktis dan kecil. Meskipun kemudian ia beralih ke kamera Mirrorless, tetapi banyak karyanya tetap memakai Ricoh GRII.

Tetapi, karya mereka tetap enak dipandang mata bukan?

Nah, sekarang tentu Anda mengerti mengapa saya berani mengatakan bahwa kedua orang dalam contoh memiliki peluang yang sama untuk menghasilkan foto yang bagus dan mengagumkan

Alasannya karena FOTOGRAFI bukan hanya tentang kamera.

Fotografi bukan hanya tentang kamera

Kamera memang alat utama dalam fotografi. Tanpa adanya kamera maka tidak akan ada yang namanya fotografi. Yang ada adalah seni melukis atau menggambar.

Meskipun demikian, kamera bukanlah yang terpenting dalam menciptakan sebuah foto. Prinsip "the man behind the gun" (Orang di belakang senjata) sangat sesuai dengan prinsip fotografi.

Pemegang kameranya, orangnya lah yang terpenting dan berpengaruh paling besar.

Seorang kaya dengan harta berlimpah dapat dengan mudah membeli sebuah kamera keluaran baru, tercanggih. Tetapi, kalau ia tidak memiliki pengetahuan, skill dalam mengoperasikannya, hasilnya bisa jadi tidak menarik untuk dilihat. Sebaliknya seorang fotografer berpengalaman, yang dengan terpakasa memakai smartphone karena melihat momen yang bagus, bisa jadi akan mendapatkan foto yang memancing perhatian.

Hal itu saya alami sendiri, meski dalam skala kecil dan terbatas.

Meskipun kamera saya hanya kamera biasa dan tidak berbeda dengan kamera saku, ternyata hasilnya mendapat banyak pujian dari kawan-kawan lama. Padahal banyak diantara mereka yang memiliki kamera yang berharga lebih mahal dan canggih.

Beberapa diantara mereka bertanya, " Ton, bisakah saya menghasilkan foto seperti yang kamu buat dengan kamera yang saya miliki?"

Jawaban saya singkat saja, " Kameramu lebih mahal dan canggih dari kamera yang aku miliki"

Bukan masalah kameranya.

Lebih kepada manusianya.

Saya sudah berlatih memotret sejak memulai perjalanan sebagai blogger. Dimulai dengan menggunakan kamera smartphone Xperia M, yang masih menemani hingga saat ini. Kemudian berlanjut dengan sang Finepix, sekarang ditambah dengan Samsung Galaxy Tab A7, tab murah tetapi bermanfaat untuk mobile blogging.

Lebih dari dua tahun berlatih mengabadikan berbagai momen, dari mulai kucing tidur, sampai tukang sayur lewat. Pada waktu bersamaan kelayapan di internet mempelajari berbagai tehnik dan filosofi fotografi untuk kemudian dipraktekkan.

Dibandingkan dengan rekan saya tadi, saya memiliki lebih banyak kemampuan, pengetahuan dan skill mengoperasikan kamera.  Saya lebih tahu bagaimana mencari sudut pemotretan. Saya juga lebih mengerti mencari obyek yang menarik. Itulah mengapa hasilnya bisa lebih baik dan menarik dibandingkan mereka.

Hal seperti itulah yang membuat saya percaya bahwa fotografi memang bukan sekedar tentang kamera. Jauh lebih luas dari itu.

Memotret lah dengan kamera yang Anda punya

Berdasarkan pandangan seperti ini, saya ingin menyarankan kepada siapapun Anda untuk tidak meredam keinginan memotret hanya karena masalah kamera.

Apapun merknya dan berapapun harganya, jangan dijadikan sebuah alasan.

Mengapa fotografi  disebut juga dengan "melukis dengan cahaya" adalah karena fotografi adalah seni.

Dan sangat demokratis.

Penikmat foto tidak akan pernah bertanya bagaimana sebuah foto dihasilkan. Mereka tidak mau tahu dengan kamera merk apa sebuah foto diambil. Selama sebuah foto dianggap bagus, maka mereka akan memberikan pujian.

Kecuali, Anda berhadapan dengan penggemar fotografi seperti saya ini. Saya akan bertanya ini dan itu. Bbukan karena ingin membandingkan, tetapi karena ingin meniru tehnik yang Anda pakai agar bisa menghasilkan foto yang bagus juga.

Sesederhana itu.

Jadi, pergunakan kamera apapun yang ada di tangan Anda. Mau smartphone merk Xiaomi, Samsung Galaxy, atau apapun, bukan sebuah masalah. Yang terpenting ada kameranya di dalamnya yang memungkinkan mengambil foto.

Nikmati rasanya memotret.

Kemungkinan besar Anda akan kecanduan seperti saya ini.

Semoga, jadi saya akan punya kawan Maniak Potret juga.

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?