September 2016 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Thursday, September 29, 2016

Mengecilkan Foto di Android dengan Photo Resizer


Pemandangan indah saat kita sedang traveling memang sering membuat kita tidak terhanyut. Tangan jeprat jepret sibuk menekan shutter release merekam keindahan alam yang ada di depan mata.

Lalu? Kirim via WA, BBM atau Line dong!

Nanti dulu. Jangan langsung kirim foto-foto itu. Ada satu langkah lagi yang harus dilakukan sebelum foto tersebut dishare. Anda harus mengecilkan foto tersebut.

Seperti sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya, menguplpad foto ke media sosial atau mengirimkannya melalui fitur chatting bisa merugikan, baik bagi yang mengirim atau menerima.

Lihat artikelnya di Mengapa Harus Memperkecil Ukuran Foto

Tetapi, bagaimana kalau selama traveling Anda tidak membawa notebook untuk mengecilkan fotonya ke ukuran yang tidak terlalu besar. Bukan sebuah masalah, Anda bisa langsung mengecilkan fotonya di smartphone.

Sudah banyak aplikasi pengecil ukuran foto di android atau smartphone lainnya. Yang perlu dilakukan hanyalah mencari yang cocok untuk smartphone kita.

Ada satu aplikasi android pengecil ukuran foto yang tidak besar, sederhana dan sangat mudah digunakan. Namanya Photo Resizer.

Iconnya seperti di bawah ini.



Ukurannya kecil hanya 11.5 Mb saja dan tidak akan terlalu memberatkan sistem. Juga untuk mendownload dan menginstallnya tidak akan memakan kuota internet terlalu banyak.

Silakan cari di Google App store dan kalau sudah menemukan, langsung install saja.

Cara mengecilkan foto di Android dengan Photo Resizer

Nah, kalau sudah terinstal, klik saja iconnya , maka akan tampil layar seperti di bawah ini :


Tekan "Select photo(s)". Anda akan dibawa masuk ke dalam folder penyimpanan foto-foto. Tergantung jenis smartphone-nya, biasanya ada di galeri atau download atau Camera.

Silakan pilih satu atau langsung beberapa foto sekaligus. Sampai 10 Photo Resizer juga bisa.

Kemudian foto-foto akan ditampilkan di layar baru. Di bagian atasnya ada menu "Resize", "Crop", dan "Share".


Tekan "Resize". Lalu akan tampil pop up menu berisi pilihan ukuran yang ingin dihasilkan. Ukuran berdasarkan pixel seperti 320 x 240 dan lain-lain.

Ukuran yang biasa saya pakai adalah 640 x 480 karena biasanya akan menghasilkan foto baru dengan ukuran sekitar 50 - 100 Kilobyte atau Kb saja. Foto dengan ukuran ini akan dapat dengan mudah ditransfer atau diupload. Hanya perlu 2-3 detik saja kalau memakai mobile internet.

Mengenai kualitas, foto berukuran seperti ini masih bisa dinikmati dengan baik bahkan di layar sebuah notebook, apalagi hanya di layar smartphone.

 Anda juga bisa menentukan ukuran sendiri dengan memakai menu "Custom".


Setelah itu, SELESAI. Di layar smartphone akan terlihat foto-foto dalam ukuran baru yang sangat lebih kecil.

Bila Anda mau langsung men-share, silakan klik tombol share di sudut kanan atas dan akan segera keluar menu pilihan seperti WA, BBM, Instagram dan lain sebagainya.

Kalau Anda hendak memilah-milah dulu dan mengirimkannya kemudian, tidak masalah. File foto yang sudah dikecilkan tersimpan di Galeri=>Photo Resizer. Foto original atau aslinya juga tetap ada di folder Camera.

Semudah itu? Ya, memang semudah itu mengecilkan foto di android dengan Photo Resizer.

Oleh karena itu, jangan lupa untuk mengecilkan foto setiap kali Anda hendak berbagi dengan teman, rekan, atau keluarga. Sangat lumayan bisa menghemat kuota internet baik yang mengirim atau menerima.

(Catatan : Photo Resizer adalah aplikasi gratis. Meskipun demikian, akan ada tampilan iklan di saat kita mempergunakannya)

Read More

Wednesday, September 28, 2016

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?


Mungkin, Anda sudah pernah melihat banyak foto dengan background blur atau kabur? Itulah yang disebut dengan "bokeh".

Bokeh adalah istilah dalam fotografi yang artinya "mengaburkan". Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa Jepang.

Efek bokeh dihasilkan dengan cara memanipulasi keterbatasan yang ada pada lensa kamera dimana dalam settingan tertentu, lensa kamera hanya bisa fokus pada titik tertentu. Hasilnya adalah bagian yang terfokus akan tetap jelas dan detil, sedangkan sisanya akan menjadi kabur.

Penggunaan efek bokeh 

Membuat foto dengan background blur dilakukan biasanya karena beberapa sebab, seperti :

1. Fotografer ingin membuat Obyek lebih menonjol

Terkadang fotografer menemukan sebuah obyek menarik, tetapi di sekitarnya ada satu atau dua benda atau obyek lainnya yang mirip atau serupa.

Menampilkan ketiganya sama rata akan membuat perhatian yang melihat akan tidak fokus. Disitu biasanya sang fotografer akan memilih yang mana yang akan ditonjolkan dan kemudian membuat yang lain "kabur" aloas tidak jelas.

2. Fotografer ingin membuang latar belakang yang terlalu ramai

Prinsip standar para fotografer adalah KISS, Keep It Simple Stupid. Pelajaran mengatakan sebuah foto yang sederhana cenderung menghasilkan kesan lebih menarik dibandingkan yang terlalu "ramai".

Selain itu bila background terlalu ramai juga, maka obyek yang seharusnya menjadi fokus menjadi kurang menonjol.

Inilah satu alasan lagi mengapa fotografer membuat foto dengan background blur, yaitu untuk membuang "bagian" yang "ramai". Dengan begitu obyek utamanya menjadi lebih menonjol.


3. Membuat foto menjadi artistik

Sebenarnya efek bokeh lahir dari kesalahan, keterbatasan. Tetapi, ternyata hasil akhirnya justru menjadi lebih terkesan artistik dan berseni.

Oleh karena itu, banyak fotografer justru melakukannya dengan sengaja karena "bokeh" justru membuat foto menjadi lebih menarik.

Nah, itulah efek bokeh dan mengapa Anda mungkin menemukan banyak sekali foto dengan background blur.

Bukan karena ada masalah pada lensa atau sang fotografer kurang ahli menyetting kameranya. Justru sebaliknya, foto dengan latar belakang blur menunjukkan bahwa sang fotografer mengerti dengan baik tentang kamera dan tehniknya.

Buktinya ia bisa menghasilkan foto dengan bokeh. 
Read More

Monday, September 26, 2016

Mengasah insting dalam fotografi itu perlu


"Untuk apa latihan memotret? Yang penting pakai insting saja."

Tidak salah sebenarnya. Pada saat kita sedang memotret memang sebenarnya kita lebih tergantung pada insting atau naluri kita. Apalagi bagi para penggemar fotografi jalanan, keputusan untuk menekan tombol shutter release terkadang ditentukan dalam sepersekian detik. Tidak akan sempat untuk memikirkan berbagai teori.

Tidak salah.

Tetapi, juga tidak benar. Semua orang kemungkinan besar bisa bermain bola basket. Permainan yang sederhana hanya perlu menceploskan bola ke dalam keranjang. Tidak ada sesuatu yang sulit di dalamnya. Meskipun demikian, insting seorang pemain basket akan berbeda sekali dengan orang biasa.

Para pemain basket bisa tahu kapan harus menembak, kapan harus menahan bola atau kapan harus mengoper. Kesemuanya ditargetkan untuk membuatnya menjadi efisien. Insting mereka sangat terasah dalam hal ini.

Begitu pula dalam fotografi. Memang memotret hanya perlu melihat dari jendela bidik dan kemudian menekan tombol shutter. Mudah sekali. Semua orang pasti bisa.

Hanya, apakah hasilnya sama?

Hampir pasti tidak. Insting orang awam dan seorang fotografer berpengalaman sangat berbeda. Orang awam tidak aan memperhitungkan cahaya, background, obyek, penempatan obyek dalam foto, dan lain sebagainya. Sementara seorang fotografer secara otomatis otaknya dan matanya akan bersinergi untuk memadukan kesemua itu.

Insting akan mendorong mereka menempatkan segala sesuatu sesuai dengan "teori" yang pernah didapatnya. Hal itu seperti menjadi bagian dari dirinya dan akan keluar secara otomatis ketika kamera berada di tangan.

Itulah yang membuat hasilnya berbeda dengan orang awam.

Darimana mereka mendapatkan insting tersebut? Latihan dan pengalaman mereka.

Tidak berbeda dengan para atlet basket yang seperti tahu dengan pasti posisi keranjang, fotografer berpengalaman sudah tahu dengan tepat kapan harus merubah ISO, Aperture atau Shutter Speed.

Semua itu mereka dapatkan dari ketekunan mereka berlatih dan menyesuaikan dengan teori fotografi. Tanpa melakukan latihan, maka mereka akan tetap menjadi orang awam saja dengan insting orang awam juga.
Read More

Saturday, September 24, 2016

Rumah Sakit Tidak Selamanya Menakutkan

Namanya rumah sakit bukanlah tempat yang menyenangkan. Tidak peduli sebagus apapun sebuah rumah sakit, tetap akan ada rasa tidak enak setiap kali harus memasukinya. Bahkan, untuk sekedar menjenguk seorang teman, nuansa di dalam tempat ini tidak pernah bisa menghadirkan keceriaan di hati.

Bagi saya seorang penggemar fotografi pun tidak berbeda. Perasaan yang sama tetap timbul, apalagi terakhir kali kesana adalah saat ibunda sedang sakit. Meskipun demikian, dengan kamera smartphone, suasana tidak enak itu bisa sedikit teratasi.

Setidaknya keresahan itu bisa berkurang karena ada sedikit kesibukan untuk dilakukan.





Bukan karya-karya yang akan mengundan decak kagum, tetapi setidaknya suasana hati tidak terlalu suram di kala itu.

(Lokasi : RS PMI Bogor)
Read More

Mengapa kita harus memperkecil ukuran foto sebelum dikirim atau diupload?

"A picture is worth a thousand words"

Sebuah foto bermakna seribu kata. Pepatah dalam bahasa Inggris ini memang dipergunakan banyak sekali orang pada masa sekarang ini. Dibandingkan dengan harus capek mengetik pesan, banyak dari mereka menggantinya dengan mengirimkan sebuah foto.

Hasilnya memang sama, bahkan lebih daripada kalau sekedar kata-kata. Efeknya pun sering lebih tepat sasaran.

Sayangnya, ada satu hal yang terkadang menyebalkan dalam kebiasaan ini  Kebanyakan yang melakukan ini lupa memperkecil ukuran foto atau gambar yang mereka kirim melalui Whatsapp (WA) atau Blackberry Messenger (BBM) atau berbagai media sosial lainnya.

Kenapa menyebalkan? Bayangkan saja sebuah file foto yang dihasilkan sebuah kamera smartphone berukuran 5 MP (Megapixel/Megapiksel) saja biasanya berukuran 2 MB. Kalau ukuran MP-nya semakin tinggi, ukuran filenya pun semakin besar pula. Sebuah foto yang dihasilkan kamera dengan resolusi 13-16 MP, bisa dipastikan ukuran fotonya berkisar antara 5-6 MB.

Ukuran seperti ini tidak besar ketika perangkat smartphone sedang terkoneksi dengan wi-fi yang biasanya terhubung dengan jaringan ber-bandwidth besar. File foto seukuran ini hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk didownload.

Tetapi, kalau dilakukan saat sedang berada di perjalanan, file berukuran seperti ini bisa membuat naik darah penerimanya. Terlebih kalau foto yang dikirim hanya sekedar candaan atau foto selfie sang pengirim yang sama sekali tidak penting.

Kebiasaan untuk tidak memperkecil ukuran foto ini sebenarnya kurang baik.

Ada beberapa hal mengapa kebiasaan mengirim foto apa adanya itu tidak seharusnya dilakukan. Memperkecil ukuran foto harus dilakukan baik oleh orang awam ataupun kalangan blogger.

Silakan lihat alasannya di bawah ini.

Efek buruk tidak memperkecil ukuran foto saat mengupload atau mengirimkannya


Untuk Orang Awam :

1. Menghabiskan kuota internet

Terus terang mobile internet di Indonesia itu sebenarnya mahal. Oleh karena itu, banyak pengguna smartphone berusaha sehemat mungkin menggunakan kuota yang ada untuk hal-hal yang penting saja.

Mengirimkan sebuah foto tanpa mengecilkan ukurannya sama saja dengan menghabiskan kuota dari penerima. Bisa dimengerti kalau memang untuk masalah pekerjaan, tetapi kalau sekedar untuk bercanda atau mau pamer, baiknya hal ini dihindari.

2. Menghabiskan tempat penyimpanan

Ukuran ruang penyimpanan atau memory pada smartphone atau komputer tidak tak terbatas, alias terbatas. Semakin besar ukuran file berarti semakin besar pula tempat yang dibutuhkan. Kapasitas yang tersedia akan semakin cepat habis pula kalau terlalu banyak menyimpan file foto berukuran besar.


3. Membuat lambat gadget

Secepat apapun prosesor yang dipergunakan, ketika data atau file yang berada di hard disk atau memory berukuran besar-besar dan banyak, kecepatannya akan menurun. Prosesor akan membutuhkan waktu untuk mencari data yang ada di SD Card atau memory.

Belum lagi kalau jaringan internetnya lemot, hasilnya bisa dikata "stuck" dan menyebabkan gadget hang.

Kalau Anda blogger tentunya menyadari efek-efek dari tidak memperkecil ukuran foto :


Untuk Blogger :

4. Harus membayar sewa hosting lebih besar

Kapasitas server kalau untuk website biasanya dibatasi. Kebanyakan blogger akan berusaha menghematnya semaksimal mungkin.

Mengupload foto untuk artikel dalam ukuran sebenarnya akan mempercepat kapasitas habis yang berarti blogger harus menyewa space yang lebih besar. Space yang lebih besar berarti harus mengeluarkan uang lebih banyak.

5. Menghabiskan bandwidth

Tidak semua blogger yang memakai hosting sendiri mengambil paket unlimited bandwidth . Tidak semua penyedia jasa hosting menyediakan paket unlimited. Banyak dari mereka yang memiliki bandwidth yang dibatasi.

Mengupload sebuah file berukuran 5-6 Mb sudah pasti akan menggerus dengan cepat kapasitas yang tersedia. Hal ini bisa memaksa sang blogger untuk merogoh koceknya lebih dalam lagi.

6. Memperlambat website

Sudah pasti kalau sebuah artikel dipasangi gambar berukuran 5 MB, hasilnya halaman artikel tersebut akan lama sekali dibuka. Hal ini terjadi karena perangkat yang dipakai membuka artikel tersebut harus mendownload foto seukuran 5 MB. Kalau lewat jaringan internet normal, bisa lumayan walau tetap berat. Kalau memakai jaringan mobile internet, waktunya bisa sangat lama dan bahkan tidak akan pernah bisa didownload.

Kalau sudah begini, yang rugi, sang blogger sendiri karena calon pembaca akan segera menekan tombol back, alias tidak jadi membaca. Kabur.


Nah, kalau Anda seorang fotografer pun selain hal di atas, Anda juga harus melindungi karya yang Anda buat. Kecuali foto tersebut memang ditujukan untuk berada di "public domain" alias gratis alias bebas dipakai siapa saja, mengupload foto asli bisa membuat banyak orang mengaku bahwa foto tersebut adalah miliknya.

Berapa ukuran foto yang pantas untuk dikirim atau diupload?

Berdasarkan pengalaman dan saya lakukan hingga sekarang, baik saat mengirim gambar via WA, ukurannya berada di bawah 100 Kilobyte (Kb) saja.

Dengan begini penerima tidak perlu khawatir kuota internetnya akan cepat habis. Juga, kalau dilihat di layar LCD smartphone atau komputer pun masih cukup jelas.

Software untuk memperkecil ukuran foto

Banyak. Banyak sekali dan mayoritas gratis. Tidak perlu bayar. Ada Photoscape dan Faststone Photo Resizer untuk komputer ada Photo Resizer untuk Android.


Semua bisa didapat dengan mudah dan tanpa harus membayar sepeserpun.

Dengan tool-tool ini foto bisa diperkecil hingga 1/50-60 dari ukuran asling. Seperti sebuah foto 16 MP aberukuran 6 Mb bisa diperkecil hingga hanya 100-125 Kb saja dengan Faststone Photo Resizer.

Saya akan menjelaskan cara memakainya pada artikel terpisah, meskipun sebenarnya sangat mudah sekali.

Jadi kawan, cobalah untuk selalu memperkecil ukuran foto sebelum mengirimkannya kepada teman, rekan, keluarga atau menguploadnya ke media sosial. Tidak akan makan waktu lama dan bisa menghindarkan orang lain dari kehabisan kuota.

(Semua foto di artikel ini ukurannya berada di bawah 100 Kb saja. Jangan takut akan menghabiskan kuota)
Read More

Friday, September 23, 2016

Mengenal ISO dalam fotografi

Banyak pengguna kamera awam, terutama yang memakai kamera smartphone, terkadang bingung saat mereka merubah setting kamera ke manual, ada tampilan bertuliskan "ISO 100:. Apa maksudnya dan apa fungsi dari fitur ini?

Mungkin artikel kecil ini bisa menjelaskan sedikit tentang apa fungsi ISO pada sebuah kamera.

Saya akan memulainya dengan dua buah gambar di bawah ini.
Foto 1 - ISO 200
Foto 2 - ISO 400

Bisakah Anda melihat beda antara kedua foto tersebut? Tentunya bisa. Foto kedua, dengan ISO 400 lebih terang dibandingkan dengan foto pertama yang menggunakan ISO 200.

Betul sekali, ISO berkaitan dengan cahaya. Perlu diingat bahwa fotografi disebut dengan melukis dengan cahaya dan memiliki 3 pilar utama, Aperture, ISO, dan Shutter Speed. Oleh karena itu, maka berbicara tentang fotografi maka mau sebagian besar adalah tentang mengatur cahaya.

Apa itu ISO?


ISO adalah tingkat sensitivitas sensor kamera terhadap cahaya. Dalam sebuah kamera, ukuran ISO ditandai dengan angka yang selalu berlipat dua, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400, 12800, 25,600 dan seterusnya.

Semakin tinggi angkanya maka berarti sensornya akan semakin "peka" terhadap cahaya. Ketika kamera memakai setting ISO 400, maka jumlah cahaya yang terserap 2 kali lipat dibandingkan saat ISOnya hanya 200.

Oleh karena itulah, meskipun setting kamera lainnya, seperti Aperture atau Shutter Speed sama, kalau ISOnya berbeda, maka hasil foto dengan ISO lebih tinggi akan lebih jelas/terang dibandingkan ketika ISO-nya lebih rendah.

Guna ISO

Melakukan setting yang tepat pada ISO akan sangat membantu menghasilkan foto yang jelas, tidak gelap dan tidak terlalu terang. Patokan terang atau gelap tidak ada karena tergantung pada keinginan sang pemegang kamera sendiri.

Meskipun demikian, ada dua kondisi yang biasanya memerlukan perubahan setting pada ISO


1) Kapan menggunakan ISO rendah

ISO rendah biasanya dipergunakan ketika berada di luar ruangan dan dengan cahaya matahari yang berlimpah. Dengan kondisi seperti ini kamera tidak perlu terlalu sensitif terhadap cahaya karena cahaya tersedia banyak (dari sinar matahari)

2) Kapan menggunakan ISO tinggi

ISO tinggi dipergunakan dalam kondisi dimana cahaya terasa kurang. Biasanya di dalam ruangan dimana penerangan kurang atau di malam hari. Penggunaan ISO tinggi akan membantu sensor agar menyerap lebih banyak cahaya dan membuat foto lebih jelas.

Hanya, dalam penggunaan ISO tinggi terutama 3200 ke atas seringkali timbul yang dikenal dengan "noise" (bintik-bintik warna - akan dijelaskan di artikel terpisah)

ISO 3200
Itulah sedikit penjelasan mengenai ISO dalam fotografi digital. Kalau dalam fotografi film ISO dikenal sebagai ASA.

Semoga bermanfaat.
Read More

Sunday, September 18, 2016

Tukang Becak : Foto Tetapi Bukan Foto #3


Judul      :     Tukang Becak
Lokasi    :     Jalan Tentara Pelajar Bogor

Bukan foto beneram walau aslinya berupa sebuah foto dari kamera Finepix HS35EXR. Proses editting berat dengan pemakaian backlight, memperdalam warna dan merubahnya menjadi hitam putih.

Pemakaian hitam putih menyesuaikan dengan tema becak sebagai sebuah kendaraan tradisional, yang sudah mendekati kepunahan di Bogor pelru diimbangi dengan nuansa kuno atau masa lalu. Walau sayangnya ada sepeda motor berada disisinya yang mengganggu sehingga temanya tidak bisa 100% masa lalu.
Read More

Wajah : Foto Tetapi Bukan Foto #2


Wajah. Modelnya seorang penjual topeng pada Cap Go Meh , Feb 2016 yang lalu.

Foto ini sudah mengalami proses cropping (10%) dan juga penambahan backlight. Warnanya pun sudah berubah dibandingkan dengan foto aslinya.
Read More

PAgi Hari ; Foto tetapi bukan foto


Judul foto di atas pagi hari. Sebenarnya tidak tepat benar kalau saya mengatakannya sebagai "foto". Memang asalnya berasal dari sebuah foto hasil jepretan kamera Fuji Finepix HS 35EXR, tetapi foto di atas sudah mengalami editting "berat".

Benar-benar berat dalam artian banyak sekali langkah yang dilakukan untuk menghasilkannya.

Software yang dipergunakan tetap Photoscape. Bukan bajakan karena memang gratis bagi siapapun.

Hasilnya memang lebih mendekati HDR (High Definition Range) foto dan kurang natural. Meskipun demikian, bagi saya cukup enak dilihat.

Lokasi : Jalan Ahmad Yani, Bogor dekat Taman Air Mancur.

Read More

Mengenal EXIF Data Sebuah Foto

EXIF data atau seringnya disebut dengan EXIF saja merupakan singkatan dari Exchangeable Image File Format.

Istilah ini sudah lazim diketahui dalam dunia fotografi atau bidang-bidang lain yang berkaitan dengan pemakaian image atau foto. Meskipun demikian, EXIF masih merupakan istilah yang asing bagi banyak orang.

EXIF pada dasarnya merupakan data pribadi sebuah foto. Tidak beda dengan KTP yang dimiliki seorang warga negara yang berisikan data-data pribadi pemegang kartu, begitulah kira-kira fungsi EXIF sebuah foto. Di dalam "kartu" EXIF sebuah foto , terdapat data-data terkait foto tersebut.

Isinya berisi berbagai macam informasi, mulai dari jenis kamera yang dipergunakan, kepekaan sensor/ISO, focal length, apakah menggunakan flash atau tidak, dan masih banyak data lainnya. Data-data ini terekam bersamaan dengan ketika seorang menekan tombol shutter release dalam sebuah kamera digital.

Sebagai contoh foto di bawah ini :


Foto di atas diambil dari kamera Fuji Finepix HS35EXR dengan memakai ISO 200, shutter speed 1/400 dengan aperture 6.4.

Bagaimana bisa kita mengetahui data seperti itu, karena di dalam kartu "EXIF" foto tersebut semua itu tercantum. Bisa lihat di bawah ini.

Ini adalah hasil screenshot dengan memakai software myFinepix Studio, software yang disertakan dengan kamera saat dibeli.

Dengan hanya memilih menu EXIF Information, maka akan ditampilkan semua data terkait foto tersebut.

Manfaat mengetahui EXIF data

Ada banyak manfaat bagi seorang fotografer atau penggemar fotografi untuk memahami EXIF. Data tersebut sangat berguna

1. Untuk belajar

Data yang terdapat dalam exif seperti penggunaan ISO, Aperture, Speed dan sebagainya dapat membantu seorang fotografer pemula untuk belajar.

Dalam hal ini ia bisa melihat dan mengetahui bagaimana setting kamera untuk menghasilkan efek foto tertentu. Ia kemudian bisa meniru dan melakukan esperimen sendiri untuk melatihnya.

2. Untuk mengetahui apakah sebuah foto sudah diedit atau belum

Sering kita menemukan sebuah foto yang membuat kita mengatakan "amazing", "luar biasa" tetapi kadang ada kesan bahwa foto tersebut tidaklah "natural".

Nah, dengan melihat EXIF datanya, kita bisa melihat apakah foto tersebut memang foto yang murni keluar dari kamera atau sudah melalui proses foto editting. Beberapa software dapat menampilkan data tentang kamera atau software yang dipakai.

Dari sini, kita bisa mengerti apakah foto sudah diedit atau belum

Cara melihat  EXIF Data

Tidak sulit untuk melihat EXIF data sebuah foto. Tidak memerlukan software atau perangkat khusus untuk melakukannya. Juga tidak memerlukan keahlian khusus apapun, semua orang dapat mengerjakannya.

Ada beberapa cara untuk melakukannya


a. Menggunakan Windows Explorer

 Kalau fotonya sudah berada di dalam hard disk komputer, pergunakan Windows Explorer.

Pilih foto yang akan dilihat dan kemudian klik kanan. Akan timbul drop down menu dan pilihlah "Properties". Kemudian pilih menu "Advanced".

Maka akan keluar tampilan seperti di bawah


Hanya, kalau memakai cara ini, belum bisa terlihat apakah sebuah foto sudah diedit atau belum. Pada data masih akan tercantum kamera yang menghasilkannya.

b. Memakai foto software editting

Kalau untuk melihat data EXIF , saya menggunakan software bawaan dari Fuji (karena kamera yang saya pakai Fuji). Tetapi, sebenarnya masih banyak software lain yang dapat menampilkan EXIF data.

Tinggal browsing di Google dan Anda akan bisa menemukan banyak sekali pilihan.

c. Memakai Exif viewer online

Kalau Anda hanya memakai sesekali, tentunya untuk apa menginstall softwarenya. Repot. Ada cara lain untuk melihat EXIF data secara online. Banyak website menyediakan fasilitas yang sama

Salah satunya Verexif.

Cukup upload foto yang hendak dicari datanya dan kemudian tekan "View EXIF" maka informasinya akan segera muncul di tab baru.

Hasilnya seperti di bawah ini :


Silakan Anda coba sendiri.

Semoga bermanfaat.

Read More

Friday, September 16, 2016

Sebuah Foto Merekam Imajinasi Pemotretnya


Kalau ada orang yang mengatakan bahwa fotografer itu sering mengada-ada, mereka sama sekali tidak salah. Pada saat bersamaan mereka juga tidak 100% benar.

Pada dasarnya memang begitulah fotografi.

Apa yang sebenarnya dilihat oleh seseorang dari sebuah foto, sebenarnya tidak murni 100% gambaran aslinya. Di dalam foto tersebut ada bagian yang bukan berasal dari obyek fotonya sendiri. Bagian ini berasal dari diri si pemegang kamera, alias si fotografer.

Tepatnya, ada bagian dari foto yang merupakan hasil dari imajinasi sang pemotret. Ada sisi kreatif yang berbicara dan tercurah ke dalam karya fotonya.

Sebagai contoh, foto di atas ini, tentunya, saya, yang memotret bukanlah seorang yang buta warna sehingga semua menjadi terlihat hitam putih. Saya masih bisa membedakan warna dengan baik, walau sudah berkacamata.

Lagi pula, kalaupun saya buta warna, hal itu tidak membuat kamera yang dipergunakan menjadi ikut buta warna. Ia akan tetap menjadi kamera yang merekam apa saja yang ada di depannya sesuai arahan dari yang memegang kamera.

Imajinasi saya sajalah, yang menyukai gaya foto hitam putih seperti di atas. Mungkin karena, tokoh utamanya adalah seorang wanita tua, walau dengan gaya dan pakaian yang modern, saya memutuskan untuk merubah foto aslinya yang berwarna menjadi monochrome (hitam putih) saja.

Bahkan dalam foto sederhana, seperti foto keluarga atau foto-foto saat reuni, tetap saja sebuah foto tidak bisa lepas dari daya imajinasi sang pemotret. Kalau pemotretnya berganti, maka nuansanya akan berganti pula dan tidak akan sama.

Mau tidak mau, karena setiap manusia pasti berbeda. Begitu pula daya imajinasinya. Ada yang suka gaya yang "biasa" saja, ada yang suka agak "berseni", dan ada pula yang suka penuh keceriaan.

Yang manapun, sebuah foto selain merekam momen, juga merekam penggalan imajinasi dari seseorang, yaitu si pemegang kamera.
Read More

Menunggu Kereta Itu Membosankan


Menunggu pacar datang saja sudah sangat menyebalkan. Padahal pacar itu orang yang kita sayang. Apalagi menunggu kereta. Sudah jarang sekali bisa tepat waktu, ketika datang mereka seperti menolak kita, penuh sesak, sampai tidak bisa masuk.

Untunglah ada yang menciptakan Smartphone, dengan kamera di dalamnya. Paling tidak, kebosanan bisa sedikit teratasi.

(Stasiun Cilebut, Bogor. September 2016)
Read More

Thursday, September 15, 2016

Melakukan Cropping Foto Dengan Menerapkan Konsep Rule of Thirds

Cropping adalah sebuah proses editting yang paling umum dilakukan sebuah foto diambil. Alasannya beragam, mulai dari ingin hanya menonjolkan bagian tertentu dari sebuah foto saja, atau membuang bagian yang dianggap mengganggu dan tidak sesuai dengan ide dari sebuah foto.

Inti dari cropping tidak berbeda dengan menggunting bagian dari sebuah foto. Bedanya, di zaman dulu, proses pemotongan bagian foto hanya bisa dilakukan setelah foto dicetak. Sementara di masa sekarang, justru sebaliknya proses pengguntingan dilakukan sebelum foto dicetak dan bahkan bisa dilakukan beberapa detik setelah foto ditampilkan di layar LCD sebuah kamera atau smartphone.


Melakukan cropping pada foto bukan hanya dilakukan oleh orang awam, Tidak jarang para fotografer profesional sekalipun menggunakan metode ini di saat mereka menemukan sebuah foto menarik tetapi agak terganggu karena beberapa bagiannya justru "mengotori" foto. Maksudnya, bagian-bagian tersebut tidak sesuai dengan tema foto.


Yang membuat agak berbeda dalam melakukan cropping, kalau orang awam akan melakukannya tanpa memperhitungkan konsep atau teori fotografi, para fotografer akan tetap memakai prinsip-prinsip dasar dalam memotret.

Salah satu konsep atau teori fotografi yang akan sangat diperhitungkan para fotografer dalam melakukan cropping adalah RULE OF THIRDS, atau dikenal dengan ATURAN SEPERTIGA. Kalau Anda belum tahu apa itu rule of thirs, silakan baca artikelnya dengan mengklik link di bawah ini.

RULE F THIRDS : Tehnik Sederhana Menempatkan Obyek Dalam Foto

Mengapa prinsip Rule of Thirds harus tetap diperhatikan saat cropping?

Pemotongan beberapa bagian dari foto, tentu saja akan membuat bagian-bagian yang lain terpengaruh. Posisi obyek dalam foto pun akan berubah karena ada bagian yang dihilangkan.

Perubahan posisi ini bisa berakibat bahwa foto kehilangan temanya. Fokus utamanya menjadi tidak enak dilihat. Obyeknya menjadi terlalu ke pinggir dan masih banyak lainnya yang bisa membuat sebuah foto justru menjadi kurang enak dilihat setelah proses cropping dilakukan.

Sebagai contoh, perhatikan foto di atas (hasil karya anak saya, Arya Fatin Krisnansyah dengan smartphone ASUS di pantai Klara, Lampung). Tampilan tanggal pada bagian pojok kanan, rasanya sangat tidak enak dilihat.

Nah, mau tidak mau foto tersebut harus dicropping, dihilangkan bagian tanggalnya agar lebih leluasa dipasang dalam sebuah artikel atau juga media sosial (kalau Anda mau, saya sih tidak).

Hanya, kalau cropping dilakukan tanpa memperhitungkan Rule of Thirds, maka justru penampakannya setelah diedit, malah tidak nyaman.

Perhatikan foto di bawah ini, dilakukan setelah proses cropping dengan membuang bagian kanan foto.


Tampilan tanggal hilang. Sayangnya "perahu" ikut bergeser ke kanan. Foto menjadi tampak kurang seimbang karena lahan sebelah kiri menjadi terlalu luas. Selain itu "perahu" sebagai fokus menjadi tidak lagi terfokus dengan baik. Bagian ini tidak berada di titik dimana ia seharusnya berada, yaitu di perpotongan garis.

Ini kalau cropping tidak dengan mengindahkan prinsip Rule of Thirds saat melakukannya.

Bandingkan dengan yang di bawah ini.


Tampilan tanggal hilang. Perahu justru berada tepat di posisi seharusnya dan keseimbangan foto tetap terjaga. Bagian kiri, kanan, atas, dan bawah lebih seimbang.

Secara garis besar, foto ini justru menjadi lebih enak dilihat dibandingkan sebelumnya.

Itulah mengapa melakukan cropping foto harus tetap mengikuti konsep Rule of Thirds, karena dengan menerapkan konsep foto menjadi lebih enak dilihat.

Cobalah lakukan sendiri.

Saya melakukan cropping masih tetap dengan menggunakan Photoscape. Caranya nanti saya akan jelaskan dalam artikel terpisah.

Read More

Tuesday, September 13, 2016

Perlukah Memiliki Genre Dalam Fotografi ?


Akan ada suatu saat, ketika Anda bergabung dengan segerombolan penggemar fotografi, seseorang akan bertanya, "Apa genre Anda?"

Bingung.

Besar kemungkinan Anda akan bingung menjawab pertanyaan seperti itu. Seringkali karena kita sama sekali tidak menduga kalau pertanyaan itu akan diajukan.

Kebingungan ini biasanya terjadi karena mayoritas penggemar fotografi tidak terlalu menaruh kepedulian terhadap hal ini. Hasilnya mereka agak gagap kalau ditanya tentang genre yang mereka tekuni dalam dunia fotografi.

Mungkin sedikit pengetahuan tentang apa itu genre dalam dunia melukis dengan cahaya ini?

Apa itu genre?

Genre adalah istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan gaya atau aliran. Bukan hanya fotografi yang memakai istilah ini, tetapi juga berbagai bidang lain, seperti menulis, film, melukis, dan masih banyak bidang lainnya.

Seperti diketahui bersama, seorang manusia tidak akan bisa menguasai segala hal sekaligus. Biasanya seseorang akan memiliki minat khusus terhadap titik tertentu, gaya tertentu, dari sesuatu. Perhatian dan fokus yang lebih banyak pada titik inilah yang kemudian membuat orang tersebut akhirnya mengikuti/melahirkan gaya atau aliran yang sesuai dengan minat terbesarnya.


Dalam fotografi dikenal ratusan genre, seperti contoh Fotografi Alam (Nature Photography) dimana biasanya sang fotografer akan memiliki minat yang besar pada mengabadikan berbagai keindahan alam. Juga dikenal genre Fotografi Arsitektural, dimana fotografer dari aliran ini akan menghasilkan foto-foto yang menekankan keindahan bentuk, simetri yang memikat dari bangunan-bangunan . Ada lagi Fotografi Erotik (Erotic Photography) yang menonjolkan keindahan sisi seksualitas seorang pria atau wanita.

Itu adalah sebagian kecil dari genre yang ada dalam fotografi. Masing-masing genre akan memiliki ciri khusus atau tersendiri yang berbeda dalam beberapa sisi dengan genre lainnya.

Pentingkah memiliki genre?



Sebenarnya bukan masalah penting atau tidak. Secara tidak sadar, seorang fotografer akan memiliki minat khusus pada satu hal. Ia biasanya secara sadar atau tidak akan mengikuti salah satu genre yang sudah ada.

Seperti saya contohnya. Walau saya suka memotret apa saja yang indah dan enak dipandang mata (paling tidak menurut saya), secara tidak sadar saya suka mengabadikan kehidupan manusia di jalanan, alias tempat umum. Saya menyukainya karena hasil fotonya bersifat natural dan apa adanya.

Kesukaan tersebut ternyata menggiring saya memasuki dunia fotografi jalanan, yang ternyata merupakan salah satu genre dalam fotografi.

Tidak berniat. Tidak disengaja. Hanya karena minat memang mengarah kesana, mungkin orang lain akan mengatakan saya adalah seorang fotografer jalanan, padahal saya tidak merasa memilih jalan itu.

Apakah Anda mau kemudian secara lantang mengatakannya sebagai genre Anda itu lain hal. Silakan saja. Tidak ada yang melarang.

Genre sebagai personal branding dan ekspektasi orang terhadap diri kita


Genre biasanya akan menggiring opini atau pandangan orang.

Seorang fotografer dengan genre fotografi alam atau Nature Photography akan diharapkan oleh orang lain akan menghasilkan foto-foto mengenai keindahan alam. Foto-fotonya diharapkan akan berisi gambaran-gambaran tentang keindahan aliran sungai, gagahnya gunung, hijaunya hutan dan sejenisnya.

Seorang fotografer dari genre fotografi humanis akan membuat orang memiliki ekspektasi foto-foto berisi momen-momen kehidupan manusia yang menimbulkan rasa haru, sedih, tenang, marah, dan sejenisnya.

Dengan kata lain, orang akan memiliki image atau pengharapan tertentu dari Anda, jika Anda memilih genre tertentu.

Bisa juga genre itu lahir dan diberikan oleh orang banyak setelah mereka menikmati foto-foto yang Anda hasilkan. Dari situ mereka akan melihat beberapa ciri khusus dan kemudian akan memasukkan hasil-hasil karya tersebut dalam sebuah aliran yang mereka ketahui. Kalau ini terjadi, berarti Anda akan "diharapkan" secara tidak sadar foto-foto dengan gaya seperti yang mereka lihat.

Sebaliknya hal itu bisa dilakukan oleh sang fotografer. Ia bisa mengumumkan genre yang ditekuninya, sehingga orang akan tahu apa yang bisa diharapkan dari Anda.

Kalau Anda mengumumkan diri menekuni genre fotografi jalanan, tetapi kemudian menghasilkan foto-foto berisi foto model cantik, orang akan bingung. Hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari mereka yang menekuni fotografi jalanan karena dalam genre ini, obyeknya seharusnya adalah orang yang tidak dikenal, bukan seorang model yang dibayar.

Jadi, memilih suatu genre dan mengumumkannya, bisa diartikan Anda sedang melakukan personal branding pada diri sendiri. Anda sedang mengatakan pada orang banyak "Inilah saya dan gaya saya!".

Perlukah memiliki genre?


It's up to you. Terserah Anda.

Apakah mau mengumumkan apa yang Anda minati dan ingin tekuni? Apakah Anda akan membiarkan orang lain yang memasukkan Anda ke dalam sebuah genre?

Silakan pilih mana yang cocok dengan diri Anda.

Kalau Anda memang berniat menjadi seorang fotografer profesional, ada baiknya mengumumkan jalan mana yang akan ditempuh. Kalau memang sekedar hobi untuk bersenang-senang, bukankah tidak perlu membuat orang berharap terhadap diri Anda?

Yang manapun, fotografi adalah dunia yang sangat demokratis.

Tidak ada yang bisa memaksa Anda, termasuk menjawab pertanyaan "Apa genre Anda?".

Kalau saya yang ditanya seperti itu, maka saya akan menjawab "Tidak tahu!". Alasannya, ya memang saya tidak begitu peduli tentang hal itu. Saya hanya suka memotret karena itulah blog ini namanya Maniak Potret. Apapun saya potret.
Read More

Mengenal Shutter , Shutter Speed, dan Shutter Priority Dalam Fotografi

Mengenal shutter speed - Fotografi sering didefinisikan oleh banyak pelakon di dalam dunia ini sebagai "Melukis Degan Cahaya". Ada alasan khusus mengapa definisi itu diberikan.

Alasan tersebut adalah kamera yang dipergunakan dalam menghasilkan "lukisan" atau foto adalah alat yang memang bergantung pada cahaya. Tanpa cahaya maka kamera tidak akan menghasilkan gambar-gambar atau foto indah.

Dengan kemampuan, skill, dan pengetahuannya, seorang fotografer akan berusaha menemukan titik maksimal yang bisa menghasilkan sesuatu yang mengundang rasa yang melihatnya.

Di dalam fotografi, ada tiga bagian kamera yang bertujuan untuk melakukan itu, yaitu Diafragma atau Rana, ISO, dan Shutter . Ketiga hal ini lah yang merupakan inti dari fotografi dan yang membuat fotografi didefinisikan sebagai "Melukis dengan cahaya".

Nah, kali ini, saya akan mencoba mengenal salah bagiannya, yaitu shutter.



Apa itu shutter?

Shutter kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya penutup, tirai.

Dalam sebuah kamera, sebuah sensor akan dihalangi dari "dunia luar" dengan sebuah penutup yang tidak akan terbuka sampai seorang pemegang kamera menekan tombol "shutter release". Selama itu belum terjadi, peran shutter akan menghalangi sensor kamera untuk terpapar oleh cahaya.

Ketika seseorang menekan tombol shutter release (tombol yang biasa kita tekan untuk memotret), maka shutter ini akan terbuka dan membiarkan cahaya masuk.

Cahaya ini lah yang kemudian tertangkap oleh sensor dan kemudian diubah oleh prosesor menjadi data yang akhirnya kemudian berubah menjadi gambar.

Setelah membuka, shutter akan segera menutup kembali. Kalau shutter rusak dan terbuka terus, maka cahaya akan terus masuk tak henti dan akan bisa merusak sensor.

Apa itu shutter speed dan mengapa penting?

Proses satu kali shutter membuka dan menutup memerlukan waktu. Waktu inilah yang dikenal dengan sebutan shutter speed.

Satuan detik dipergunakan dalam fotografi untuk menunjukkan lamanya shutter membuka dan menutup. Sebagai contoh : 1/250 artinya satu perduaratus lima puluh detik atau 1/50 detik. Kalau lebih dari satu detik maka akan ditulis 1" (satu detik), 2" (dua detik), hingga 30" (tiga puluh detik)

Mengapa shutter speed penting dalam fotografi? Karena hal itu berkaitan dengan volume cahaya yang masuk dan terekam oleh sensor. Semakin lama sebuah shutter terbuka, semakin besar pula volume cahaya yang masuk dan terekam sensor kamera.

Volume cahaya yang masuk dengan shutter speed 1/100 akan lebih sedikit dibandingkan saat shutter terbuka dengan kecepatan 1/25 (dalam kondisi yang sama).

Ujungnya, volume cahaya ini akan mempengaruhi hasil fotonya.

Perhatikan beberapa foto di bawah ini

Foto 1 : 1/250


Foto 2 : 1/100



Foto 3 : 1/30



Obyek yang sama. Background yang sama. Lingkungan yang sama. Tetapi, hasil fotonya berbeda dimana foto dengan shutter speed 1/30 lebih terang dibandingkan dua yang lain. Hal ini terjadi karena shutter membuka lebih lama yang berarti volume cahaya yang masuk lebih banyak.

Itulah mengapa shutter speed memegang peranan penting dalam fotografi. Mengenal shutter dan shutter speed akan membantu fotografer memperhitungkan jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera dan efeknya pada sebuah foto.

Apa itu shutter priority?

Istilah lain yang berkaitan dengan si shutter alias tirai ini adalah shutter priority.

Pada banyak kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau prosumer atau mirrorless, biasanya akn ditemukan sebuah fitur yang disebut Shutter Priority.

Fitur ini menunjukkan bahwa sang fotografer bertanggungjawab terhadap pengaturan shutter speed, sisanya akan dilakukan oleh sang kamera. Dengan fitur ini mempermudah fotografer untuk hanya mengatur satu hal saja, yaitu jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah kecepatan shutter pada kamera.

Biasanya shutter priority akan diberi kode "S" atau "TvS" tergantung jenis kameranya. Masing-masing bisa memberikan kode berbeda tetapi serupa. Huruf S sudah dianggap umum untuk menunjukkan fitur shutter priority.


Anda tinggal memutar tombol atur di bagian atas kamera (atau dimanapun posisinya) agar menunjuk pada huruf "S".

Lalu, kalau anda perhatikan di sebelah tombol putar dengan huruf-huruf itu, ada tombol putar lainnya. Kalau tombol putar tanpa huruf ini diputar maka shutter speed akan berubah semakin cepat atau semakin lambat.

Untuk mempermudah kontrol terhadap perubahan shutter speed, pada kebanyakan kamera bisa dilihat di salah satu sudut layar LCD/Monitor di belakang kamera (bisa juga di bagian atas untuk kamera yang lebih mahal)


Angka 250 pada layar menunjukkan shutter speed kamera adalah 1/250 detik. Kalau tertulis 1" atau 5", berarti kecepatan shutter adalah 1 detik dan 5 detik (lamban).

Demikianlah artikel mengenal shutter, shutter speed, dan shutter priority. Mudah-mudahan bisa membantu dalam mengerti sedikit tentang istilah-istilah dalam fotografi.

Read More

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Membuat foto hitam putih? Untuk apa?

Memang seperti sebuah pemikiran yang aneh di masa sekarang ini bila ada yang masih menggunakan foto hitam putih. Pas foto untuk keperluan dokumen resmi saja sudah memakai foto berwarna dan tidak lagi hitam putih.

Meskipun demikian, terkadang, namanya juga manusia, tetap ada bagian dari diri manusia untuk sejenak mengingat kembali masa-masa tersebut. Masa-masa dimana semua sepertinya serba sederhana dan tidak rumit.

Terkadang banyak orang masih sering memandang foto-foto yang dipotret pada masa tersebut. Foto-foto yang sering hanya memiliki dua warna, hitam dan putih saja. 

Sisi manusia yang ini sering dimanfaatkan oleh fotografer untuk memancing timbulnya perasaan nostalgia dari yang melihat. Caranya sederhana dengan membuat foto-foto yang bercirikn masa lalu, yaitu dwiwarna saja. Bukan merah putih, melainkan hitam putih. Kedua warna ini seperti mewakili kehadiran masa lalu di zaman modern ini.

Tidak sulit membuatnya sebenarnya. Hampir semua kamera di masa kini sudah diperlengkapi dengan fitur untuk bisa memotet foto hitam putih. Tinggal sedikit mengatur settingan dalam kamera, maka kita bisa mulai mengambil gambar seperti masa lalu.

Tetapi, bagaimana kalau ternyata foto yang bernilai nostalgia tersebut sudah ada.. dan berwarna? Untuk memotret ulang tentunya tidak mungkin karena momen tersebut sudah lewat dan tidak akan bisa diulang..

Jangan khawatir. Pergunakan saja Photoscape!

Ya. Software gratis ini memiliki fungsi yang bisa membuat foto berwarna menjadi foto hitam putih.

Lakukan saja langkah-langkah berikut :

Membuat foto hitam putih dengan Photoscape

1. Pilih foto yang akan diubah

2. Klik icon Photoscape di layar untuk membukanya. Tampilannya akan seperti di bawah ini
3. Pilih fitur Editor
4. Layar untuk melakukan editting akan seperti di bawah ini


5. Pilih foto yang akan diubah. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan jendela di sebelah kiri untuk browse komputer Anda dan menemukan foto yang akan diubah. Caranya mirip dengan Windows Explorer

6. Double Klik foto tersebut maka secara otomatis foto itu akan tampil di layar edit



7. Lihat ke sudut kiri bawah dari layar edit. Posisinya tepat di sebelah jendela untuk browse file. Ada sebuah folder dimana tertulis "Home"



Ada empat buah simbol yang masing-masing mewakili beberapa jenis mode "Hitam Putih", yaitu Sepia, Greyscale, BW Treshold, dan Invert Magazine.

Pilih yang bertuliskan Greyscale (Untuk yang lain akan dijelaskan terpisah). Lihat foto di atas yang sudah diberi tanda panah.

Klik simbol itu.

8. Hasilnya bisa langsung dilihat di layar edit


10. Lakukan Save kalau sudah puas. Kalau belum tekan undo atau undo all untuk mengulangi.

Selesai sudah. Anda sudah punya sebuah foto hitam putih yang mungkin akan memuaskan kerinduan Anda terhadap sekeping masa lalu.

Mudah bukan?

Tidak susah membuat foto hitam putih dengan Photoscape. Lebih susah melupakan kenangan masa lalu, terutama terhadap seseorang.

Bukan begitu, kawan?
Read More

Sunday, September 11, 2016

Warna Tidak Selamanya Penting


Kamera sekarang memang menyediakan banyak sekali hal terkait warna. Mayoritas pengguna kamera akan sangat menyukai ketika warna-warna ditampilkan secerah mungkin.

Begitu pun dengan detail dari setiap foto, ada anggapan bahwa semakin jelas detail sebuah foto berarti foto tersebut bagus sekali.

Hanya, tidak selamanya demikian. Terkadang terlalu banyak warna dan juga detail justru menutupi ide apa yang ingin disampaikan oleh sang fotografer. Penampilan obyek foto yang seharusnya menjadi titik utama dalam "cerita" sering teralihkan oleh warna-warna yang jelas lebih memikat mata.

Terkadang, walau sifatnya subyektif, hilangnya warna-warna tersebut membuat sosok yang menjadi inti cerita di foto kembali menjadi fokus.


Itulah mengapa terkadang banyak fotografer merubah fotonya menjadi hitam putih. Biasanya karena mereka lebih mengedepankan tema dan ide yang ingin disampaikan dan membuang yang dianggap tidak perlu. Termasuk diantaranya menghilangkan warna dari fotonya.
Read More

Tips #6 : Memotret Dari Beberapa Sudut dan Posisi Untuk Mencari Yang Terbaik

Tips ini lahir dari pengamatan bahwa ada kecenderungan kalau seseorang memotret itu hanya dari satu sudut saja. Umumnya, seorang yang memegang kamera akan melakukannya dari depan obyek dengan posisi berdiri. Kalaupun sedikit berbeda, ia akan berjongkok.

Kalau disingkat , kebanyakan pemotret akan memotret dengan sudut yang 180 derajat dari obyek dan dengan kamera berada sejajar dengan mata.

Bukan sebuah kesalahan. Tidak ada salah dan benar dalam fotografi. Semua sah-sah saja dan semua bebas melakukan apa yang dikehendaki. Tidak ada orang yang bisa menyalahkan.

Hanya...


Kebiasaan umum seperti itu biasanya menghasilkan foto yang umum pula.

Datar.

Harap dimaklum karena cara seperti itu sudah biasa dilakukan oleh milyaran orang, maka hasilnya pun menjadi biasa pula. Biasanya hasil fotonya tidak akan berbeda dengan milyaran foto lainnya.

Kebiasaan memotret dari sudut sejajar mata juga menyempitkan kesempatan untuk mendapatkan foto yang "terbaik". Tidak mungkin mendapatkan hasil terbaik kalau hanya mencoba satu kali dari satu sudut saja. Foto yang "terbaik" hanya bisa dihasilkan kalau kita sudah mencoba dari berbagai sudut. Barulah setelah itu bisa dipilih yang "terbaik" di antara semua hasil.

(Ingat prinsip "Kill The Babies". Kalau lupa, silakan kunjungi artikel sebelumnya di sini.)

Berdasarkan pengalaman, beberapa sudut bisa juga membantu menonjolkan atau menghilangkan kesan yang tidak ingin disampaikan seperti

Memotret dari sudut bawah akan memberi kesan tinggi pada obyek


Hal ini sesuai dengan mata manusia, dimana kalau kita berada pada posisi lebih rendah dibandingkan obyek, maka obyek tersebut akan terkesan lebih tinggi dari sebenarnya.

Sudut pengambilan gambar dari bawah bisa membantu ketika obyek ingin ia terlihat tinggi.


Memotret dari samping

Coba saja. Pasti berguna di saat Anda harus mengambil foto ibu-ibu yang badannya sudah melar. Kalau dari samping lebarnya obyek bisa ditutupi dan tidak terlalu terlihat.


Ada banyak sudut pengambilan dan masing-masing bisa memberikan kesan yang berbeda. Jumlahnya bisa tak terhitung tergantung dengan kondisi dan situasi dimana foto diambil.

Kalau dikombinasikan dengan berbagai hal lain, seperti background, obyek, penempatan fokus, akan semakin banyak lagi kemungkinan untuk menghasilkan gambar yang "berbeda" dari kebanyakan.

Itulah mengapa, kalau Anda sadari, seorang fotografer, atau penggemar fotografi, terkadang akan melompat dari satu posisi ke posisi yang lain di depan obyek. Ia memastikan bahwa ia mencoba sebanyak mungkin sudut pengambilan dan kombinasi tersebut.

Dengan begitu ia akan bisa melihat berbagai foto dari sudut pengambilan yang berbeda sebelum kemudian ia memilih YANG TERBAIK (menurut dirinya).


Cobalah sendiri, Kawan. Tips ini sama sekali tidak tergantung jenis kamera apa yang Anda bawa. Tips ini mengandalkan pada kemauan sang fotografer untuk mencoba memotret dari berbagai sudut dan posisi.

Anda beruntung kalau memiliki sebuah kamera dengan vari-angle LCD (LCD monito yang bisa dubah posisinya), tetapi kalau tidak pun bukan masalah. LCD monitor tidak akan bisa mengalahkan kelenturan tubuh dan kemauan manusia untuk mendapatkan hasil.
Read More