Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Mengasah insting dalam fotografi itu perlu


"Untuk apa latihan memotret? Yang penting pakai insting saja."

Tidak salah sebenarnya. Pada saat kita sedang memotret memang sebenarnya kita lebih tergantung pada insting atau naluri kita. Apalagi bagi para penggemar fotografi jalanan, keputusan untuk menekan tombol shutter release terkadang ditentukan dalam sepersekian detik. Tidak akan sempat untuk memikirkan berbagai teori.

Tidak salah.

Tetapi, juga tidak benar. Semua orang kemungkinan besar bisa bermain bola basket. Permainan yang sederhana hanya perlu menceploskan bola ke dalam keranjang. Tidak ada sesuatu yang sulit di dalamnya. Meskipun demikian, insting seorang pemain basket akan berbeda sekali dengan orang biasa.

Para pemain basket bisa tahu kapan harus menembak, kapan harus menahan bola atau kapan harus mengoper. Kesemuanya ditargetkan untuk membuatnya menjadi efisien. Insting mereka sangat terasah dalam hal ini.

Begitu pula dalam fotografi. Memang memotret hanya perlu melihat dari jendela bidik dan kemudian menekan tombol shutter. Mudah sekali. Semua orang pasti bisa.

Hanya, apakah hasilnya sama?

Hampir pasti tidak. Insting orang awam dan seorang fotografer berpengalaman sangat berbeda. Orang awam tidak aan memperhitungkan cahaya, background, obyek, penempatan obyek dalam foto, dan lain sebagainya. Sementara seorang fotografer secara otomatis otaknya dan matanya akan bersinergi untuk memadukan kesemua itu.

Insting akan mendorong mereka menempatkan segala sesuatu sesuai dengan "teori" yang pernah didapatnya. Hal itu seperti menjadi bagian dari dirinya dan akan keluar secara otomatis ketika kamera berada di tangan.

Itulah yang membuat hasilnya berbeda dengan orang awam.

Darimana mereka mendapatkan insting tersebut? Latihan dan pengalaman mereka.

Tidak berbeda dengan para atlet basket yang seperti tahu dengan pasti posisi keranjang, fotografer berpengalaman sudah tahu dengan tepat kapan harus merubah ISO, Aperture atau Shutter Speed.

Semua itu mereka dapatkan dari ketekunan mereka berlatih dan menyesuaikan dengan teori fotografi. Tanpa melakukan latihan, maka mereka akan tetap menjadi orang awam saja dengan insting orang awam juga.

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?