October 2016 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Monday, October 31, 2016

Tips #10 : Jangan Serakah! Pilih bagian yang paling menonjol


Memang seringnya kalau kita sedang berwisata ke suatu tempat wisata rasanya hadir keinginan untuk merekam semua yang terlihat dan kemudian membawanya pulang untuk ditunjukkan kepada sanak saudara.

Sayangnya, justru itu yang seringnya menghambat kita untuk emnghasilkan sebuah foto yang indah. Karena terlalu banyak hal yang ingin diabadikan, hasilnya justru sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kita lihat.

Hal ini ternyata karena kita sering menjadi lupa bahwa ukuran lensa yang dipakai tentunya tidak akan bisa menampung semua hal yang terlihat. Lensa, walau meniru cara kerja mata manusia, tidak memiliki kemampuan yang sama dengan indera manusia ini. Masih banyak keterbatasan.

Oleh karena itu, seorang fotografer haruslah bersikap untuk "jangan serakah" saat memotret. Ia harus memilah dan menentukan titik sasaran yang akan dijadikan obyek bagi lensanya.



Mengapa harus "Jangan Serakah" dan memilih bagian yang menonjol?

Ok lah sekarang kita coba bayangkan sedikit. Sebagai contoh, saya ambil foto-foto yang terpajang di artikel ini yang diambil setahun lalu di curug Cigamea, Gunung Salak Endah, Kabupaten Bogor.

Curug (air terjun) itu memiliki ketinggian 40-50 meter dan lebar sekitar 40-50 meter juga (terdiri dari dua air terjun).

Kira-kira bagaimana kalau kita mencoba memasukkan semuanya ke dalam satu foto? Bisakah menurut Anda?

Jawabannya tentu saja TIDAK.

Terlalu besar dan luas.

Lensa jenis wide sekalipun tidak akan bisa melakukannya. Memakai "fitur" panorama, bentuknya akan agak melengkung. Kalaupun mengambil jarak agar bisa memasukkan semuanya, maka obyeknya akan mengecil dan justru akan menghilangkan keindahan yang ingin dipamerkan.

Satu-satunya cara adalah dengan memilah dan mengambil bagian dari obyek yang "paling menonjol" atau "paling menarik".

Kemudian pikirkanlah apa yang ingin ditampilkan dalam foto. Curug atau air terjun adalah tentang "AIR" yang tercurah dari ketinggian. Ambillah sebagian darinya dan kombinasikan dengan obyek-obyek lain yang ada di sekitar.


Memilih bagian yang menonjol pun berlaku kalau obyeknya manusia atau hal lainnya.Tidak semua bagian dari obyek manusia menarik. Terkadang kita menemukan mukanya cantik tetapi badannya tidak ideal. Badannya ideal, wajahnya kurang menarik.

Kita bisa menonjolkan bagian yang paling menarik saja dan menyisihkan bagian lain yang kurang.


Jadi, usahakan untuk tidak berpikir SERAKAH dalam memotret.
Read More

Pelindung Kamera Darurat Saat Hujan : Kantung Plastik!


Sedang asyik-asyik berburu foto, kemudian hujan turun. Rusak sudah suasana. Apalagi kalau buruan menarik tersebut adanya di sebuah event yang hanya datang setahun sekali.

Masalah utamanya, meskipun berbagai obyek menarik bersliweran, tetapi otak justru menghadirkan hambatan untuk memotret. Otak memberi sinyal "Kamera". Alarm terus keluar karena seberapapun tertariknya untuk memotret, rasa sayang terhadap kamera menghentikannya.

Kalau dipaksakan memotret di bawah guyuran hujan, meskipun kecil, tetap ada resiko air akan membasahi kamera. Hasilnya bisa diduga, banyak bagian dari kamera adalah komponen elektronik, beberapa tetes air, saja bisa membuatnya tidak berfungsi lagi. Padahal saat itu belum sempat membeli pelindung kamera yang berupa jaket pembungkus.

Itulah yang saya alami saat berburu foto di acara Cap Go Meh Bogor 2016 yang lalu. Keasyikan melihat wajah-wajah dan pakaian unik peserta pawai terhenti ketika tetesan hujan mulai menyirami.

Tetapi ternyata, dalam rintik hujan yang semakin deras tetap ada beberapa orang sesama penggemar fotografi jalanan yang meneruskan aktifitasnya. Hujan seperti tidak mempengaruhi semangat mereka merekam momen dan menghasilkan foto.

Ternyata mereka menemukan sebuah alat sederhana yang memungkinkan aktifitas memotret tetap berjalan dan sekaligus melindungi kamera dari tetesan air hujan. Mereka tidak memakai pelindung kamera yang harganya lumayan (mahal) itu, tetapi memakai benda yang ada saja.

Apa yang mereka pergunakan? Silakan lihat sendiri hasil jepretan di bawah ini.



Yap. Kantung plastik.

Bagian bawahnya dibolongi/dirobek. Kemudian kamera (Mirrorless atau DSLR) dibungkus sehingga hanya layar dan lensanya saja yang terbuka. Ada yang diikat pakai tali, ada juga yang diikat pakai karet.

Hasilnya, kamera tetap terlindungi dari air (karena sifat tahan air dair plastik) dan memotret tetap bisa berjalan. Rupanya menjadi fotografer pun harus menjadi kreatif bukan hanya dengan kameranya tetapi juga untuk menghadapi masalah yang harus dihadapinya di jalan.


Bisa juga ditambah dengan rekan yunior yang bersedia memayungi, hasilnya bisa lebih afdol. Hujan bukan lagi halangan untuk berburu foto.


Nah, silakan tanyakan juga bagaimana foto ini dihasilkan padahal saat itu gerimis lumayan deras di Bogor? Atau Anda sudah tahu jawabannya?
Read More

Sunday, October 30, 2016

Apa itu Foto Jurnalistik atau Fotojurnalisme

Pemandangan kemacetan di Jembatan Merah Bogor ini merupakan sebuah hal rutin yang terjadi setiap harinya di salah satu sudut Kota Hujan ini
Foto di atas dan caption di bawahnya banyak ditemukan setiap harinya di berbagai media online dimanapun. Bukan hanya Indonesia tetapi juga di negara lainnya.

Sebuah foto dengan keterangan singkat terkait dengan foto tersebut merupakan salah satu bentuk dari fotojurnalisme atau foto jurnalistik. Kategori dalam fotografi ini juga kerap disebut dengan liputan atau reportase.

Biasanya foto-foto dengan gaya seperti ini memang dihasilkan oleh mereka-mereka yang bergelut dalam bidang pemberitaan atau pers. Oleh karena itu biasanya kita akan menemukannya di berbagai media massa, baik cetak ataupun online.

Apa itu Foto Jurnalistik atau Foto Jurnalisme?

Foto Jurnalistik atau Fotojurnalisme adalah foto atau kategori foto yang bertujuan untuk menyampaikan berita, peristiwa, atau informasi dalam bentuk karya foto.

Biasanya karya foto yang dihasilkan oleh fotografer yang bergelut di bidang ini tidak tampil sendirian. Bersama dengannya akan ada sedikit ulasan singkat yang berisikan informasi dan penjelasan mengenai dimana, apa, dan kapan serta inti yang ingin disampaikan oleh sang pemotret kepada khalayak luas.

Itulah tujuan utama dari fotojurnalisme. Menyampaikan informasi.

Berbeda dengan beberapa kategori fotografi lainnya, kategori yang ini tidak terlalu mementingkan segi estetika atau keindahan. Tujuannya memang berbeda karena kalau kategori yang lainnya bertujuan membangkitkan "rasa" dalam hati yang melihat, foto jurnalistik menekankan pada informasi. Meskipun demikian banyak wartawan foto yang handal akan memasukkan estetika dalam setiap karya fotonya.

Siapa yang bisa membuat foto jurnalistik?

Tentu saja dalam peringkat pertama mereka yang bisa menghasilkan foto jurnalistik adalah mereka yang bergerak dalam bidang penerbitan berita. Jurnalis atau wartawan foto adalah pihak yang paling banyak menghasilkan foto-foto jenis ini.

Meskipun demikian, sejak beberapa tahun terakhir dengn berkembangnya konsep Jurnalisme Warga atau Citizen Journalism, bisa dikata batasan itu sudah tidak ada lagi. Semua orang selama mereka memegang kamera dan bisa menghasilkan foto-foto bernilai berita bisa melakukannya.

hal itu bisa dilihat dari berbagai foto yang dishare di berbagai media sosial, banyak dari foto-foto tersebut memiliki nilai jurnalistik.

Kemactan di Jalan Kapten Buslihat Bogor

Syarat sebuah foto bisa dikategorikan sebagai foto bernilai berita

Bisa dikata penentuan sebuah foto bisa dikategorikan sebagai foto jurnalistik atau bukan akan ditentukan oleh tim redaksi sebuah koran atau majalah. Hal ini disebabkan karena tujuan foto jurnalistik adalah pengumpulan berita dan informasi untuk disebarkan kepada publik.

Penentuannya tidak sembarangan karena mayoritas mereka yang berada dalam tim redaksi adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang teori jurnalistik dan juga penerbitan pers. Mereka berwenang menentukan apakah sebuah foto bernilai berita atau tidak.

Meskipun demikian, dengan semakin berkembangnya pertehnologian kamera dan juga internet, peran ini menjadi tidak mutlak. Setiap orang bisa saja menghadirkan foto-foto yang dianggap mereka bisa menyampaikan informasi kepada orang lain.

Beberapa pihak ini seperti blogger yang memang juga akan banyak menggunakan foto dalam artikel-artikel ayng diterbitkannya. Bahkan bagi blogger yang memiliki blog beritanya, mereka melakukan hal yang hampir mirip sekali dengan apa yang dilakukan para jurnalis formal.

Mereka berpatokan pada interpretasi mereka sendiri pada hal-hal yang menjadi dasar dan syarat bagi foto jurnalistik seperti :

  1. Tidak melakukan perubahan pada subyek atau peristiwa dalam fotonya
  2. Tidak melakukan foto editting yang merubah peristiwa atau obyek yang ada dalam foto
  3. Menggunakan model yang dibayar untuk tampil dalam fotonya
  4. Peristiwa dalam foto bukan merupakan hasil rekaan dan arahan dari fotografer
  5. Subyek atau obyek foto tidak menggunakan perlengkapan atau hal lain yang disediakan oleh fotografer
  6. Tidak melakukan penggabungan dua buah foto atau lebih
  7. Tidak melakukan perubahan terhadap obyek atau subyek yang ada di dalam foto, seperti menghilangkan jerawat dan sebagainya

Dengan kata lain, sebuah foto jurnalistik harus bercerita apa adanya. Tidak boleh ada perubahan yang memberikan impresi atau kesan yang berbeda dengan kejadian aslinya.


Foto jurnalistik tidak berdiri sendiri

Memang foto bisa bermakna 1000 kata, tetapi dalam foto jurnalistik, sebuah foto tidak bisa berdiri sendiri. Biasanya foto-foto ini akan dilengkapi dengan penjelasan singkat ala jurnalis tentang kapan, dimana, dan apa.

Hal ini diperlukan karena bagaimanapun jurnalistik adalah ilmu atau pengetahuan untuk menyampaikan informasi kepada publik. Ilmu ini sangat menghindari adanya ketidak mengertian atau "gagal paham" pada yang melihat.

Untuk itu semuanya harus dibuat segamblang dan sejelas mungkin. Bahkan dalam jurnalistik dikenal istilah EDFAT (Entire, Details, Frame, Angle, Time - Menyeluruh, Rinci, Menggambarkan, Sudut, dan Waktu).

Sebuah foto dalam kategori ini harus mampu memperlihatkan rincian peristiwa, sudut pandang yang dipakai, serta waktunya. Oleh karena itu penambahan keterangan singkat seperti ini merupakan hal wajib.


Kontingen dari luar Bogor dengan menggunakan pakaian adat Bali dalam Perayaan Cap Go Meh Bogor 2016
(Catatan : ada watermark Lovely Bogor di foto di atas karena pemilik blog ini juga pemilik blog Lovely Bogor)

Tips fotojurnalisme

Tips ini dberikan oleh seorang jurnalis foto senior dari Reuters, Damir Sagolj asal Sarajevo bagi mereka yang ingin menghasilkan foto bernilai jurnalistik. (disarikan dan ditulis ala Maniak Potret)

1. Siap Sedia

Siap sedia adalah kata kuncinya. Foto jurnalistik mirip dengan fotografi jalanan dimana seorang fotografer harus mengandalkan pada insting untuk menemukan momen-momen. Bedanya fotografi jalanan mencari momen yang bisa memperlihatkan keindahan dan bernilai seni, tetapi seorang jurnalis foto mencari peristiwa-peristiwa yang bernilai berita.

Mereka harus menemukan dan bukan membuat. Oleh karena itu, bila hendak membuat foto jurnalistik, seseorang harus selalu waspada dan bisa mengantisipasi potensi hadirnya peristiwa di depannya.

2. Pelajari 

Seorang jurnalis foto harus mempelajari berbagai hal tentang target yang akan menjadi sasaran kameranya. Sebagai contoh, bila ia ditugaskan untuk memburu foto seorang terkenal atau selebriti, maka ia perlu mempelajari kebiasaan dari "buruannya". Dimana ia biasa makan siang, bermain, bahkan buang air pun akan sangat membantunya dalam mendapatkan foto-foto dari buruannya.

Begitu juga dengan lokasi. Pengetahuan tentang lokasi akan bisa membuatnya mengetahui dari sudut mana pengambilan gambar akan menghasilkan foto yang menarik.

3. Buat pertemanan

Memburu seorang selebriti tidaklah mudah. Begitu juga mendapatkan foto kecelakaan atau tanah longsor, seringkali seorang fotografer akan dihadapkan pada hambatan berupa petugas hukum, masyarakat yang tidak ramah.

Dengan berinteraksi dan berteman , maka semakin besar kemungkinan hambatan-hambatan seperti ini bisa diantisipasi dan dipecahkan. Oleh karena itu buatlah channel sebanyak mungkin karena kita tidak akan pernah tahu kapan bantuan mereka diperlukan.

4. Skala Prioritas

Kalau dalam sebuah lokasi ada Syahrini dan Nadya Hutagalung hadir bersamaan, tetapi berada pada posisi terpisah, manakah yang harus didahulukan? Nadya Hutagalung cantik dan sexy dan seorang foto model terkenal, saya suka gayanya. Tetapi, kalau saya seorang jurnalis foto, maka saya akan memprioritaskan Syahrini.

Mengapa?

Karena Syahrini memiliki nilai jual dan berita yang jauh lebih tinggi. Fotonya keluar dari angkot saja bisa mengundang ribuan orang untuk mengklik sebuah berita meskipun isinya sebenarnya begitu-begitu saja.

Singkatnya buat skala prioritas, dimana subyek atau obyek yang lebih mungkin mendapatkan perhatian banyak orang harus selalu berada di urutan teratas, kalau tidak mungkin mendapatkan keduanya.

5. Perbaiki kemampuanmemotret

Untuk menghasilkan sebuah foto jurnalistik seorang fotografer akan selalu berhadapan dengan yang namanya "decisive moment". Dalam kondisi ini sebuah peristiwa akan hadir dalam waktu sepersekian detik dan tidak akan bis adiulang.

Oleh karena itu, seorang fotografer harus sangat memahami berbagai hal terkait dengan fotografi seperti pengaturan kamera, komposisi, dan lain sebagainya. Semakin terlatih seseorang, maka semakin besar kemungkinan untuk menghasilkan foto bernilai tinggi. Berlatih dan berlatih adalah salah satu kunci utamanya untuk terus meningkatkan kemampuan diri sebagai fotografer.


6. Berinteraksilah

Bergabung dalam komunitas atau kelompok orang-orang sejenis, dalam artian sesama penggelut jurnalistik foto akan membawa keuntungan. Informasi-informasi tentang berbagai event akan bisa didapat.

Dengan begitu, seorang jurnalis foto akan bisa mengantisipasi harus pergi kemana untuk mencari buruan yang bernilai berita.

7. Menghilanglah

Bukan berarti Anda harus bersembunyi di balik tembok untuk mendapatkan foto tetapi jadilah tidak nampak bagi obyek atau subyek yang Anda buru.

Salah satu kunci utama dalam jurnalisme foto adalah menjadi "tidak terlihat", stealth bahasa Inggrisnya. Dengan begitu sang obyek tidak akan menyadari bahwa dirinya menjadi incaran dan akan tetap bersikap dan bertingkah laku biasa dan normal.

Penampakan yang menyolok seringkali membuat obyek merubah sikapnya dan jelas sangat mengurangi nilai berita dari sebuah foto.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara sembunyi dan menggunakan lensa tele. Berbaur dengan lingkungan sekitar juga bisa menyamarkan kehadiran dan membuat sang subyek tetap melanjutkan aktifitasnya.


Seorang warga Bogor bersusah payah di tengah jalan untuk menandatangani spanduk berisikan janji untuk mempopulerkan Kota Bogor sebagai Bogor the Loveliest City

Kira-kira begitulah penjelasan singkat tentang foto jurnalistik.

Semoga bisa bermanfaat.

Read More

Saturday, October 29, 2016

Fotografi itu Dinamis dan Tidak Statis


Banyak kaum puritan dalam dunia fotografi memandang bahwa penggunaan perangkat lunak pengubah citra (photo editting software) merupakan sebuah bentuk kecurangan. Mereka berpandangan bahwa yang namanya fotografi itu seharusnya harus dilakukan antara seorang manusia, sang fotografer dengan kameranya saja. Penggunaan perangkat lain selain itu tidak seharusnya dilakukan.

Perbuatan melakukan perubahan pada sebuah foto di luar kamera adalah sesuatu yang dianggap sama dengan pekerjaan mencontek pada saat ujian.

Tetapi, bila diteliti kembali kalau hal itu dilakukan maka berarti mayoritas fotografer, penggemar fotografi atau apalah namanya di masa kini melakukan semua "kecurangan" tersebut.

Bagaimana tidak? Sebuah kamera digital jelas sudah berbeda jauh dengan berbagai bentuk kamera yang diciptakan. Terutama bila dibandingkan dengan kamera obscura , nenek moyangnya kamera beberapa abad lalu.

Dalam sebuah kamera digital dewasa ini di dalamnya terdapat berbagai perangkat yang tidak berbeda jauh dengan sebuah komputer. Ada prosesor berkecepatan tinggi. Ada perangkat lunak pengolah citra sehingga bisa melahirkan berbagai jenis foto, seperti provia, black and white, vignette, dan lain sebagainya.

Bisa dikata dalam kamera digital masa kini, sebuah foto lahir dan bisa dinikmati banyak orang setelah melalui proses dengan software yang berada di dalam kamera. Bahkan, pada kamera yang menggunakan film sekalipun sebuah foto bisa dilihat dan dinikmati banyak orang juga setelah melalui proses di kamar gelap. Tidak serta merta sebuah foto bisa keluar dari kamera begitu tombol shutter ditekan.

Tidak pernah terjadi hal seperti itu. Semua foto sudah melalui proses panjang mulai tombol shutter ditekan hingga berada di tangan yang melihat.

Bedanya adalah di masa lalu, proses itu "panjang" dan memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan di masa sekarang, proses tersebut bisa dipersingkat dalam sepersekan detik saja hingga hasilnya bisa ditampilkan dan dilihat.

Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada kecurangan apa-apa ketika dilakukan proses editting pada sebuah foto di luar kamera. Hal itu hanyalah sebuah proses tambahan yang menyesuaikan dengan kemajuan tehnologi saja.

Toh bukan kah pada dasarnya sejarah fotografi dunia menunjukkan bahwa seni melukis cahaya ini tidak bisa luput dari perkembangan kehidupan dan budaya manusia, terutama tehnologi? Mulai dari potret yang membutuhkan kain penutup pada fotografer sebelum mengambil gambar, kemudian kamera yang menggunakan film, kamera polaroid, hingga akhirnya kamera digital dan yang terakhir adalah kamera mirrorless.

Kesemua ini menunjukkan sesuatu yang dinamis. Fotografi terus berkembang, dalam peralatan, filosofi, hingga tehniknya.

Sejarah panjangnya menunjukkan hal itu dan memang begitu faktanya. Tidak bisa dicegah. Itu adalah kodrat dari fotografi itu sendiri yang akan terus berjalan beriringan dengan kehidupan manusia. Selama manusia terus berubah dan mengembangkan diri, maka fotografi itu sendiri akan mengikutinya. Tidak bisa dicegah.

Selama manusia masih dinamis, maka fotografi pun akan dinamis. Tidak akan bisa dipaksa menjadi statis karena justru dengan membatasinya, maka berarti fotografi akan kehilangan intinya itu sendiri, yang berupa keterkaitan dengan manusia.

Oleh karena itu rasanya tidak perlu mempermasalahkan penggunaan berbagai perangkat lunak untuk menghasilkan foto yang menarik. Toh fotografi adalah tentang hasil akhir. Tidak akan ada yang bertanya bagaimana sebuah foto bisa begitu membuat mata terbelalak. Penikmat foto tidak akan bertanya itu sebelum memberi komentar atau pujian.

As long as they are happy, selama mereka suka dan menikmati, mengapa harus dipermasalahkan cara menghasilkannya. Selama bukan merupakan foto hasil karya orang lain, bukan sebuah masalah jika sebuah foto sudah dipermak habis-habisan di dalam sebuah komputer dan bukan kamera.

Lagi pula, apa sulitnya untuk membuatkan satu kategori atau sub kategori lain yang bisa menjadi wadah penyuka fotografi komputer dan membedakannya dengan fotografi kamera, seperti yang sudah diberikan pada kalangan penyuka foto HDR.

Sesederhana itu.

Bikmati saja kedinamisan dunia fotografi. Bukankah karena itu kita menyukainya?

Bukan begitu kawan?


Read More

Thursday, October 27, 2016

Fotografi Human Interest, Apa sih maksudnya?


Terus terang. Ngaku deh. Menerangkan sebuah istilah dalam fotografi itu terkadang menyulitkan karena tidak adanya batasan yang jelas. Perlu waktu cukup lama untuk memahami makna dan juga perbedaaan antara satu kategori dengan kategori lainnya.

Salah satu yang paling sulit untuk dijelaskan adalah tentang apa itu Fotografi Human Interest.

Mengapa sulit? Karena fotografi adalah tentang merekam berbagai momen dalam kehidupan. Jadi, mau tidak mau unsur manusia sulit untuk dilepaskan dalam berbagai kategori fotografi, kecuali tentunya mereka yang bergelut dalam fotografi satwa.

Jadi, tidak heran kalau batasan dan definisi yang jelas tentang apa itu Fotografi Human Interest sendiri sering tercampur aduk dengan berbagai kategori lainnya yang menitikberatkan pada manusia sebagai obyeknya, seperti fotografi jalanan (street photography), fotografi budaya (culture photography), fotografi potret (portrait photography), dan sebagainya.

Apa itu Fotografi Human Interest?


Fotografi human interest, kalau dalam bahasa Indonesia mungkin diterjemahkan sebagai fotografi humanisme, adalah kategori dalam dunia fotografi yang menekankan pada "manusia" sebagai obyek utamanya. Hanya berbeda dari yang lain, kategori ini memberi tekanan tersendiri pada mood/suasana hati manusia di dalam setiap foto yang dihasilkan.

Kategori ini biasanya menggambarkan kehidupan sang obyek dan keterkaitan emosi mereka dengan lingkungannya. Tujuan akhirnya adalah untuk menghadirkan simpati atau "rasa" di dalam diri yang melihatnya. Oleh karena itu banyak dari penggemar fotografi human interest menyasar obyek yang berasal dari "kalangan bawah" (ekonomi lemah) yang mendukung usaha menarik "simpati".

Ada beberapa ciri khas dari kategori fotografi jenis ini.

1. Tidak dibuat-buat/natural

Obyek foto dari fotografi humanisme ini tidak diatur. Berbeda dengan fotografi model dimana sang obyek foto akan diberi arahan oleh sang pemotret.

Oleh karena itu biasanya foto yang diambil dilakukan secara "candid" alias tersembunyi. Hal ini juga dilakukan karena unsur natural adalah bagian pentingnya.

Terkadang karena tehnik dan pendekatan yang sama, kategori ini bercampur dengan kategori lainnya, fotografi jalanan.

2. Menekankan emosi dan mimik

Mimik atau emosi baik di wajah atau dalam bahasa tubuh sang obyek adalah bagian terpenting bagi fotografi humanisme ini. Hilangnya bagian ini bisa menggeser sebuah foto menjadi sekedar fotografi jalanan.

Oleh karena itu dalam berbagai foto dari kategori ini dilakukan secara "close up" alias obyek foto difokus sebesar mungkin. Tidak jarang foto-fotonya menjadi sangat mirip sebuah potret. Lagi-lagi membuat kategori ini bersinggungan dengan kategori lainnya, fotografi potret.


Tips membuat foto human interest

Meskipun bukan seorang ahli, tetapi selama bergelut di dunia potret memotret ini, ada beberapa hal yang biasanya saya lakukan untuk menghasilkan foto human interest. Pendekatannya tidak berbeda jauh dengan fotografi jalanan yang saya sukai.

1. Jeli melihat situasi

Karena fotografi human interest tidak jauh berbeda dengan fotografi jalanan, seorang fotografer kategori ini harus jeli melihat situasi di lapangan.

Jangan berjalan terlalu cepat karena kalau hal itu dilakukan akan besar kemungkinan banyak obyek yang potensial luput dari pandangan kita.

2. Kamera harus siap beraksi

Momen yang ditunggu biasanya hadir hanya sekejap. Mereka adalah bagian dari kehidupan yang akan terus berubah setiap saatnya.

Oleh karena itu penggunaan berbagai tehnik rumit fotografi justru bisa menyebabkan hilangnya sebuah momen yang potensial. Biasanya penggunaan mode auto adalah yang terbaik karena dengan begitu, kita tidak perlu berpikir lagi tentang bagaimana pengaturan setting kamera yang terbaik.

Meskipun demikian, seorag fotografer berpengalaman bisa mengatasinya karena ia secara naluriah akan mengganti setting kamera dalam waktu yang singkat.

3. Penggunaan zoom

Karena mayoritas sasaran atau obyek adalah orang yang tidak dikenal, ada baiknya menghindarkan perasaan tidak suka yang mungkin timbul akibat mengarahkan kamera kepada mereka.

Penggunaan lensa tele ukuran 70-200 atau 300 bisa menjadi pemecahannya. Dengan begitu sang obyek tidak menyadari kalau lensa kamera sedang mengarah kepada diri mereka.

4. Meminta izin

Memang, kalau sang obyek tahu bahwa dirinya dijadikan sasaran, ada kemungkinan kalau mereka akan bersikap kurang natural. Meskipun demikian, terkadang hal itu adalah yang terbaik untuk menghindarkan ketersinggungan yang bisa menghadirkan sesuatu yang kurang enak.

5. Mengaburkan Background


Entah dengan bokeh atau menggelapkan, latar belakang dibuat kabur. Hal ini akan membantu agar perhatian utama yang melihat akan langsung terfokus pada emosi, mimik, atau bahasa tubuh sang obyek.

Background kalau memang dirasa tidak terlalu berhubungan atau berkaitan langsung dengan cerita yang disampaikan, bisa dihilangkan. Lagi pula, efek-efek seperti ini bisa membantu menambah nilai artistik foto.

6. Pilih karakter yang kuat/unik

Mau tidak mau sebuah foto human interest akan mengandalkan pada manusia. Oleh karena itu memilih obyek yang memiliki sesuatu yang "menarik" adalah kunci.

Menarik atau kuat dalam hal ini bisa diterjemahkan secara beragam tergantung ide apa yang hendak dikemukakan oleh sang fotografer. Bisa saja karena sang obyek memiliki keunikan dari sisi wajah, bahasa tubuh, pakaian dan sebagainya.

7. Titik beratkan pada wajah 

Bagian wajah adalah bagian tubuh manusia yang bisa mencerminkan perasaan atau emosi. Oleh karena itu menitikberatkan pada muka seseorang akan membantu menghasilkan sebuah foto human interest yang menarik.


Rumit yah kalau baca teorinya. Memang! Lebih rumit lagi menulisnya.

Mungkin, berdasarkan pengalaman saya, cara terbaik untuk memahami dan mencari cara terbaik untuk mendapatkan foto-foto human interest adalah bukan di depan layar komputer. Jalan terbaik adalah dengan melakukannya langsung di jalanan.

Denagn turun langsung ke jalan dan mempraktekkannya, maka kita akan mendapatkan sendiri "tone" dan apa yang kita kehendaki.

Jadi kawan. Ambil kamera Anda dan mulailah berburu "manusia".
Read More

Hidup Itu Berat Kawan


Memang banyak orang mengatakan bahwa hidup itu harus dinikmati. Tetapi, kenyataannya tidak semua orang bisa melakukan itu.

Banyak dari mereka yang harus berjuang untuk mempertahankan hidup.

Bagi mereka, jangankan berpikir untuk menikmati, dapat bertahan hidup saja sudah bersyukur.

(Suatu pagi di depan Botani Square - Bogor)
Read More

Monday, October 17, 2016

Tips #9 : Jeli dalam menemukan obyek menarik


Sebagai seorang penggemar fotografi jalanan, saya menyadari bahwa untuk menghasilkan foto yang menarik, tidak bisa hanya bersandar pada kemampuan tehnis. Bahkan terkadang, tehnik dan teori seperti tidak berlaku ketika berada di jalanan.

Justru yang lebih berperan dalam hal ini adalah kejelian mata yang menjadi kunci. Baru setelah itu, sedikit kreatifitas dan pengetahuan tehnis akan membantu.

Alasannya karena dengan mata yang jeli, maka seorang fotografer jalanan akan bisa men-scan situasi sekitar kemudian menemukan obyek menarik, atau setidaknya yang dianggapnya berpotensi.

Sebagai contoh foto kuntilanak di atas adalah hasil dari berkeliaran di Car Free Day ala Bogor, di Jalan Sudirman. Di tengah kerumunan terlihat beberapa sosok putih dengan penampilan di "luar" kebiasaan. Penampilannya sangat mennyolok mata begitu juga dengan sikap dan postur tubuh mereka.

Bukan sebuah obyek "luar biasa", tetapi ternyata tanpa perlu menerapkan terlalu banyak teori fotografi, hasilnya akan mengudang orang untuk melihat.

Bisakah Anda tidak tertarik melihat foto di atas dan juga beberapa lainnya di bawah ini?




Kejelian mata seorang pemegang kamera bisa membuat menyingkirkan berbagai teori tentang tehnik fotografi. Perhatian yang melihat sudah akan langsung tertuju pada obyek.

Oleh karena itu, saya selalu membiasakan diri untuk tidak berjalan terlalu cepat dan selalu mengitarkan pandangan ke sekeliling, dengan kamera yang siap untuk memotret. Siapa tahu ada obyek menarik yang bisa menjadi sasaran?

Ternyata hasilnya seperti yang bisa dilihat di atas.


Read More

Saturday, October 15, 2016

Apa itu post-processing dalam fotografi?


Post-processing dalam fotografi adalah istilah yang mengacu pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seorang fotografer di luar kamera.

Mungkin banyak yang menyangka kalau sebuah foto yang terlihat menakjubkan dengan kekontrasan warna yang mengundang decak kagum berasal langsung dari kamera. Tetapi, di dalam masa dimana tehnologi sudah demikian berkembang ini, sebenarnya sangat bisa jadi foto tersebut melalui satu tahap lainnya, yaitu pemrosesan di komputer.

Proses post-processing ini biasanya dilakukan dengan phot software editting atau perangkat lunak pengedit citra. Beberapa contoh dari perangkat lunak ini adalah Photoscape atau Adobe Lightroom yang dipergunakan fotografer profesional.

Dengan memakai perangkat lunak ini, sebuah foto setelah ditransfer dari kamera, akan mengalami beberapa penambahan atau pengurangan. Sebagai contoh cropping, penambahan backlight, perubahan kontras warna, membuatnya lebih terang atau sebagainya.

Jadi, bisa dikata sebuah foto sebelum tampil, entah di layar komputer atau baliho, bisa jadi mengalami dua kali proses. Yang satu proses di kamera dan selanjutnya di komputer.

Pro dan kontra post-processing dalam fotografi

Ada perdebatan di dunia fotografi tentang hal ini.

Sebagian mengatakan bahwa tindakan post-processing pada sebuah foto adalah "kecurangan". Dengan melakukannya, seorang fotografer menghasilkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka hasilkan dengan kameranya. Mereka menghasilkannya dari komputer.

Hal ini dianggap tidak menunjukkan kapabilitas atau kemampuan sang fotografer sendiri.

Di lain pihak, banyak fotografer yang berpandangan bahwa fotografi harus berjalan seiring dengan manusia. Ketika tehnologi berkembang, maka sah-sah saja memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih indah dan baik.

Apalagi dalam kenyataannya, sebuah foto memang selalu mengalami beberapa langkah proses, bahkan sejak dalam kamera. Banyak yang tidak menyadari kalau sebuah kamera digital pada dasarnya adalah sebuah komputer mini dengan prosesor dan pengolah citra. Begitu pula saat dalam memotret kita sering mengutak atik setting pencahayaan dan lain sebagainya, yang sebenarnya tidak berbeda dengan melakukan post-processing.


Saya sendiri cenderung untuk mengikuti pendapat kedua. Bagaimanapun, kemajuan tehnologi fotografi dan kamera tidak lah seharusnya diabaikan kalau hal itu bisa membantu memberikan hasil yang lebih baik.

Apalagi post processing tidak mengubah banyak. Sebuah foto yang tidak menarik dengan komposisi dan penempatan obyek yang tidak tepat tidak akan menjadi sebuah foto yang luar biasa. Post-processing hanya membantu menyesuaikan beberapa hal sehingga sesuai dengan ide yang ada di kepala sang fotografer.

Tetapi, saya cukup mengerti bahwa terlalu banyak menggunakannya justru bisa mengurangi naluri dan kemampuan. Seorang fotografer yang terlalu mengandalkan proses di luar kamera cenderung menjadi agak abai dengan berbagai tehnik standar fotografi karena yakin bahwa hal itu dapat diedit di komputer.

Oleh karena itu, saya akan seminimal mungkin melakukan post-processing pada foto-foto yang akan ditampilkan.


Read More

Vari-Angle LCD Monitor dan Kegunaannya

Vari-angle LCD atau Monitor adalah istilah yang merujuk pada LCD monitor pada kamera. Istilah lainnya adalah "articulating LCD".

Seperti sudah diketahui bahwa setiap kamera digital yang diproduksi pada saat ini diperlengkapi dengan sebuah layar monitor Liquid Crystal Display atau LCD. Gunanya agar sebelum menekan tombol shutter release seorang pemotret bisa melihat preview dari foto yang akan diambil.

Biasanya layar LCD yang tertanam dalam sebuah kamera bersifat fix atau tetap. Posisinya tidak bisa diubah-ubah sehingga pemotret terkadang harus menyesuaikan diri dan posisi saat mengambil foto.

Tetapi, belakangan ini sudah banyak sekali jenis kamera yang diperlengkapi dengan LCD yang tidak statis. LCD ini bisa diubah posisinya apakah menghadap ke depan, ke bawah, ke samping dan seterusnya.

LCD monitor pada kamera yang sifatnya flexible inilah yang dikenal dengan istilah vari-angle LCD Monitor.

Kegunaan Vari-angle LCD Monitor

Sangat berguna. Terutama dalam ketika fotografer perlu mengambil gambar dari sudut-sudut sulit. Contohnya foto di bawah ini


Kalau harus memakai lensa dengan LCD Monitor yang tetap, maka yang bisa dilakukan adalah dengan cara

  • terlentang di tanah, dengan begitu maka pandangan fotografer tegak lurus dengan pohon
  • menengadah ke atas dengan leher sebisa mungkin sejajar dengan tanah
  • memotret dengan kira-kira saja tanpa melihat hasilnya
Tetapi, dengan menggunakan kamera dengan vari-angle LCD monitor, fotografer hanya perlu menekuk layar monitornya dan kemudian mengarahkan lensa tegak lurus ke atas. Tidak perlu lagi harus berkotor-kotor ria dengan telentang di atas tanah atau menyakiti leher.

Selain itu, kamera-kamera jenis terbaru bahkan memilik vari-angle LCD yang bisa diputar menghadap si pemotret. Hal ini sangat bermanfaat bagi mereka yang gemar selfie. Mereka bisa memotret diri mereka sendiri sambil melihat preview-nya.

Sudah banyak jenis kamera yang memiliki fitur ini. Bukan hanya DSLR (Digital Single Lens Reflex), tetapi juga Mirrorless atau prosumer bahkan kamra saku pun sudah ada yang diperlengkapi fitur ini.

Beberapa jenis vari-angle LCD. Ada yang hanya bisa keluar dari posisinya dan ditekuk menghadap ke atas atau ke bawah saja. Ada juga yang bisa berputar-putar ke segala arah.

Tambahan fitur ini tidaklah gratis karena biasanya kamera dengan vari-angle LCD monitor harganya akan lebih mahal dengan kamera yang bermonitor tetap.

Tetapi bagi Anda yang gemar fotografi, tambahan ini akan sangat membantu dalam pengambilan gambar dari sudut-sudut sulit. Jadi, kalau memang memerlukan kamera, adanya fitur ini harus diperhitungkan karena sangat bermanfaat.
Read More

Wednesday, October 12, 2016

Tips #8 : Manfaatkan Obyek Kecil di Sekitar Untuk Membuat Foto Lebih Menarik

Biasanya kalau kita sedang berwisata dan sedang terpesona dengan keindahan alam di suatu tempat, secara otomatis tangan kita akan langsung mengeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sayang kalau keindahan seperti itu tidak diabadikan.

Sayangnya, sekembalinya kita ke rumah, lalu menunjukkan foto-foto yang ada di kamera kepada saudara atau teman atau tetangga, respon mereka datar-datar saja. Hanya senyuman dan kepala yang mengangguk tetapi tidak memperlihatkan kesan tertarik. Padahal, tujuan kita menunjukkan foto-foto itu untuk menunjukkan betapa beruntungnya bisa pergi kesana.

Foto-foto itu seperti tidak bisa menjalankan fungsinya.

Gagal.

Yang gagal bukan fotonya tetapi Anda lah yang gagal. Paling tidak, gagal dalam menyampaikan apa yang Anda rasakan dalam fotonya. Karena itulah, foto tersebut tidak berfungsi dengan baik.

Biasanya orang akan terlalu sibuk dan terfokus pada apa yang menurutnya indah, tetapi mengabaikan bahwa keindahan itu terdiri dari banyak hal.

Sebagai contoh, air terjun memang indah, tetapi indahnya air terjun itu ditunjang oleh berbagai hal lain, seperti hijaunya pepohonan, atau bunga-bunga kecil yang ada disana. Kesemua itu berkolaborasi menghasilkan rasa keindahan bagi yang melihatnya.

Udara segar termasuk, tetapi karena tidak bisa direkam, tidak perlu diikutsertakan disini.

Sayangnya, terkadang kita hanya melihat bahwa semua itu hanya karena obyek utamanya saja, si air terjun. Kita menganggap obyek itu adalah segalanya. Padahal tidak.

Coba perhatikan foto di bawah ini


Apa yang ditampilkan foto itu? Air yang jatuh, batu dan hijau saja.

Datat. Tidak ada yang menarik.

Atau biasanya juga seperti di bawah ini


Lumayan sebenarnya karena jelas lebih menarik. Hanya saja, semua menjadi serba kecil, terlalu ramai dan tidak memberi kesan apa-apa bagi yang melihat, kecuali mereka yang ikut bersama Anda.

Sekarang coba bandingkan dengan beberapa foto di bawah ini. Semuanya berasal dari sumber yang sama, Curug 7 Cilember, Bogor.




Mana kira-kira yang bisa lebih membangkitkan rasa indah. Dua foto pertama atau tiga yang terakhir?

Saya rasa jawabannya jelas.

Di tiga foto terakhir ada tambahan komponen dan unsur berupa obyek kecil berbentuk bunga warna pink. Dengan begitu warna hijau yang teduh, abu-abunya batu, dan putihnya air mendapat tambahan berupa warna ceria yang sudah pasti mengundang mata, pink.

Coba saja kalau Anda berjalan di mall, melihat wanita berpakaian pink, mau tak mau mata Anda akan melirik. Mau cantik atau tidak sang wanita, mata akan otomatis tertarik untul melirik.

Dengan begitu kesan monoton dan datar akan menjadi ceria.

Hal lainnya adalah obyek utamanya menjadi lebih besar dan detail.

Hal seperti ini obyek-obyek kecil seprti inilah yang sering terlewat oleh kita saat memotret tentang keindahan alam. Hasilnya seringkali kita hanya menghasilkan foto datar dan tidak bisa menyampaikan rasa keindahan yang timbul di hati kita kepada orang lain.

Oleh karena itu kawan. Saat kita terpesona oleh keindahan alam, hentikan jari Anda sebentar untuk menekan tombol shutter release. Beri waktu sejenak untuk menikmati, toh memang Anda datang untuk tujuan itu.

Setelah itu temukanlah apa yang membuat pemandangan di depan mata Anda begitu indah.

Selain obyek utama, temukan hal-hal kecil disekitarnya yang bisa mendukung obyek utama karena biasanya obyek utama tidak sendiri. Keindahan yang Anda rasakan adalah gabungan dari banyak komponen.

Temukan obyek-obyek kecil itu dan buatlah foto Anda menarik agar yang melihatnya bukan cuma melihat air yang jatuh dari ketinggian. Buatlah foto Anda bercerita tentang keindahan yang Anda rasakan disana. Buat foto Anda menjalankan tugasnya dengan baik.
Read More

Tuesday, October 11, 2016

Mengenal Decisive Moment : Momen Puncak Yang Menentukan


"Decisive moment" adalah istilah yang sangat umum dikenal di kalangan penggemar fotografi, terutama mereka yang menggeluti genre fotografi jalanan.

Istilah yang memiliki "momen puncak yang menentukan" atau bisa juga "momen kulminasi" ini dicetuskan oleh seorang pria Perancis kelahiran tahun 1908, Henri Cartier Bresson. Ia dikenal sebagai pelopor genre Street Photography atau Fotografi Jalanan.

Apa itu decisive moment?


Agak sulit sebenarnya untuk menjelaskan dengan gamblang apa itu "decisive moment" karena pada prakteknya semua pemegang kamera "tidak berhitung" terlalu banyak saat mengambil foto. Mayoritas mengandalkan pada "insting" dan dorongan dari hati untuk menentukan kapan harus menekan tombol shutter release.

Tetapi, dalam konsep "decisive moment", pertimbangan untuk menekan tombol shutter release seperti menjadi momen puncak dalam sebuah proses.

Sebagai contoh :

Kita melihat sebuah pemandangan indah dan seorang wanita cantik yang kalau dikombinasikan bisa menjadi sebuah foto yang memukau. Sayangnya, sang wanita terlihat diam saja, padahal dalam otak kita, rasanya akan lebih indah kalau sang wanita melangkahkan kaki sambil menunduk atau menggerakkan tangannya.
Kemudian kita menunggu dan berharap sang wanita akan mulai bergerak dan melakukan sesuatu. Ternyata ia kemudian berjalan dan menunduk. Saat itulah kita menekan tombol shutter release.
Itulah ilustrasi kasar dari "decisive moment".

Sebuah saat dimana momen yang hadir di depan mata kita sesuai dan sejalan dengan ide yang ada di kepala.

Hal itu juga menjelaskan mengapa istilah ini lebih populer di dalam masyarakat fotografi jalanan atau sport atau alam. Dalam fotorgafi dengan memakai model, seperti pernikahan atau lainnya, sang fotografer bisa mengatur posisi latar belakang dan obyeknya. Sedangkan, seorang fotografer jalanan tidak akan mengatur obyek fotonya karena mereka menginginkan hasil yang senatural mungkin.


Hanya sepersekian detik

Kalau kita menggunakan model cantik berbayar, ataupun talent yang dengan sukarela menjadi obyek kamera, mereka akan mencoba melakukan berbagai gaya agar sesuai dengan ide yang ada di kepala sang fotografer. Momen-momen tersebut bisa diulang sampai titik temu antara semua yang ada di depan mata bisa bertemu dengan ide dan imajinasi.

Sayangnya dalam fotografi jalanan atau alam, kebanyakan obyeknya tidak bisa diatur. Bagaimana bisa diatur? Lha, kenal saja tidak. Belum lagi di alam liar singa atau tupai tidak kenal sama fotografernya.

Hasilnya, mirip seorang sniper, seorang fotografer harus bisa menentukan kapan "decisive moment" bagi kameranya. Rentang waktu yang tersedia untuknya kurang dari 1 detik.

Jika ia tidak menemukan "decisive moment" tersebut maka jari telunjuknya tidak akan menekan shutter release. Kalau terlambat, sang fotografer biasanya akan dirundung penyesalan yang lumayan dalam karena MOMEN TERSEBUT TIDAK BISA DIULANG.

Tidak mungkin menyuruh seorang yang tidak dikenal mengulanginya pose yang dilakukannya tadi. Selain karena tidak kenal, orang akan sulit mengulangi sesuatu yang dilakukannya secara naluriah tadi.

Momen tersebut akan hilang dan tidak pernah kembali.


Itulah yang disebut dengan decisive moment.

Pro dan kontra

Namanya dunia, kalau semua setuju tidak seru. Konsep decisive moment pak Henri Cartier Bresson ini juga mengundang perdebatan dan diskusi.

Kaum yang kontra mengatakan bagaimana mungkin untuk mengetahui bahwa sebuah momen itu adalah "puncak" atau "yang terbaik" dari berbagai momen yang ada. Tidak ada perbandingan antara semua itu karena mayoritas fotografer tidak akan memotret kalau dia rasa tidak pas.

Jadi, tidak ada perbandingan.

Belum lagi setelah memotret biasanya sang fotografer akan relax dan melepas kameranya karena sudah merasa tugasnya terpenuhi. Padahal besar kemungkinan ada yang lain yang lebih menarik. Karena kita sudah berhenti setelah mendapatkan "decisive moment" versi kita, maka kita tidak melihat ada "momen kulminasi" lain yang hadir.

Kaum yang pro, akan menjelaskan berdasarkan teori yang ada di atas.

Pilihan saya? Pro atau Kontra?

Kalau saya memilih untuk mengabaikannya saat memegang kamera. Berpikir terlalu rumit dan teoritis akan menghilangkan kesenangan dan kegembiraan saat memotret.

Saya baru akan berpikir tentang itu di saat sedang membaca atau menulis seperti sekarang.

Bagaimana dengan Anda?

Read More

Sunday, October 9, 2016

Mengatur Terang atau Gelap Pada Kamera Android (Smartphone)


Kamera smartphone adalah andalan banyak orang untuk mengabadikan berbagai momen dalam kehidupan. Perayaan ulang tahun anak, momen bahagia bersama keluarga, dan berbagai momen lainnya.


Kamera jenis ini sangat praktis digunakan. Terlebih kebanyakan orang yang menggunakannya memang membutuhkan hal itu saja dan bukan berbagai tehnis yang rumit. Seringnya pun digunakan dengan menggunakan mode auto yang menjamin hasilnya akan cukup enak dilihat.

Sayangnya dalam beberapa situasi pemakaian mode auto menghasilkan foto-foto yang entah terlalu gelap atau terlalu terang. Padahal sebuah foto dengan pencahayaan seperti itu kurang begitu enak untuk dilihat.

Untuk itu sebenarnya sudah disediakan fitur khusus untuk mengatur terang dan gelap sebuah foto. Fiturnya sangat sederhana dan tidak memerlukan skill tertentu.

Namanya Fitur Expossure.

Biasanya fitur ini tersembunyi di balik menu Pro atau Manual yang ada di kamera smartphone. Karena terlalu seringnya orang menggunakan mode auto, fitur ini jarang digunakan.

Bila Anda ingin menggunakannya maka Anda harus keluar dari mode auto dan masuk ke menu manual. Langkahnya bisa diikuti di bawah ini.

1. Masuk ke menu kamera

2. Aktifkan mode Manual atau Pro di smartphone


Silakan lihat menu kamera yang ada di Samsung Galaxy Tab A7 di bawah sebagai contoh.



2. Fitur Exposure atau lambangnya akan muncul di layar kamera

3. Atur sesuai kemauan, (+) artinya semakin terang (-) artinya semakin gelap


Contoh seperti di bawah ini

Hasil (+2)


Hasil (-2)



4. Tekan tombol shutter (lambang kamera) 

5. Selesai


Memang sederhana. Tetapi, fitur exposure ini sangat bermanfaat untuk membuat foto menjadi terang atau gelap.

 Semoga bermanfaat.

Read More

Saturday, October 8, 2016

Aslinya Tidak Sebagus Foto : Kasus Belanja Online

Pernah berbelanja via internet? Pasti lah sudah pernah. Kalau belum justru mengherankan di zaman seperti sekarang ini apa sih yang tidak bisa dijual secara daring (online). Mulai dari pakaian dalam hingga tanaman sudah diperjualbelikan melalui internet.

Praktis. Mudah. Tidak perlu capek pergi ke tempat jual beli. Cukup duduk di depan komputer dan kemudian memilih barang yang hendak dibeli dari foto yang dipajang. Klik beberapa tombol. Beres dan tinggal tunggu barangnya sampai di rumah.

Sayangnya, begitu barang diterima, terkadang ada timbul rasa kecewa di hati. "Aslinya tidak sebagus foto yang dipajang di situs", begitu kata hati pembeli saat memandang, entah baju atau sepatu yang baru diterimanya.

Tertipu?

Jangan dulu.

Tidak perlu langsung berprasangka buruk terhadap si penjual. Walaupun memang cukup banyak orang yang memanfaatkan situs jual beli secara daring untuk berbuat curang, tetapi tidak semua penjual melakukannya.

Banyak pedagang online adalah orang-orang jujur juga yang mencari nafkah di situs-situs seperti ini. Seringkali perasaan itu lebih disebabkan karena ketidakpahaman terhadap sistem jual beli online. Bisa juga mungkin karena rumor memang cepat sekali beredar di dunia maya, berita tentang kecurangan yang terjadi sudah menimbulkan prasangka buruk terlebih dahulu.

Perbedaan antara foto sebuah produk yang dipajang dalam sebuah toko online dengan barang yang diterima terkadang adalah wajar. Terkadang barang aslinya tidak sebagus foto yang ditampilkan bukan karena niatan untuk menipu tetapi karena sang penjual memang melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang penjual.

Apa saya membela karena saya  salah seorang aktifis perdagangan online? Bukan. Saya hanya seorang penggemar fotografi. Pernah beberapa kali membeli dan menjual barang juga via daring tetapi bukan dari sana sumber nafkah saya.

Karena bergelut dalam dunia potret memotret ini, saya melihat ada beberapa hal yang sangat mungkin menimbulkan saling silang alias kesalahpahaman dalam bisnis online, terutama yang menjual produk. Dalam hal ini yang terkait dengan urusan foto tadi itu.

Silakan lihat penjelasan di bawah ini.

Mengapa barang aslinya tidak sebagus foto yang dipajang?

1. Penjual melakukan apa yang seharusnya dilakukan penjual

 Di paragraf atas saya menyebutkan bahwa penjual melakukan apa yang seharusnya penjual lakukan. Memang begitu kenyataannya.

Cobalah perhatikan kalau Anda berbelanja di mall saja. Ketika Anda memasuki ruangan atau toko penjual baju, biasanya rak atau etalasenya akan disusun dengan rapih. Settingan ruangan pun diatur sedemikian rupa sehingga setiap benda yang hendak dijual akan dibuat semenarik mungkin. Tujuannya hanya satu, menarik pembeli agar mau merogoh dompetnya untuk membeli barang tersebut.


Bahkan lampunya pun diarahkan dan ditambahkan agar membuat pajangan menjadi eye-catching, alias menarik mata.

Betul tidak?

Jangan salah ya. Penempatan lampu, penataan ruangan dan etalase disusun dengan metode tersendiri agar bisa membangkitkan minat calon pembeli. Tidak jarang perusahaan terkenal akan menyewa art designer (perancang desain) mahal hanya untuk sekedar mengatur etalasenya.

Lalu, apa kaitan dengan foto di toko online?

Penjual di toko online melakukan hal yang sama. Mereka akan juga berusaha agar barang yang dijual terlihat menarik di mata penggemar belanja online.

Caranya bisa beragam. Banyak yang berusaha menonjolkan warna karena ini memang salah satu pemikatnya dengan membuat potretnya dengan latar belakang putih atau hitam ataupun yang memberi nuansa kontras. Hasilnya, memang produknya akan segera tertangkap dengan cepat oleh mata.

Bisa juga dengan memotret dari jarak dekat sehingga "foto" menjadi lebih menarik karena dengan beberapa pemakaian tehnik, seperti bokeh akan sangat membantu membuat mata calon pembeli langsung fokus ke produk.

Itulah mengapa saya mengatakan penjual online hanya melakukan apa yang seharusnya penjual lakukan, yaitu membuat produknya menarik.

Sah kah cara yang mereka lakukan?

Kalau di dunia nyata tehnik yang sama diterima oleh masyarakat, lalu mengapa tehnik yang sama di dunia maya harus dipermasalahkan? Bukankah para travel agen juga melakukan hal yang sama?

Yup. Cara para penjual daring ini sah karena mereka tidak merubah atau menyembunyikan apapun. Mereka hanya menonjolkan "kekuatan" dan "keindahan" dari produk mereka.

2. Dalam sebuah foto bukan hanya ada obyek

Saya tampilkan sebuah contoh lain, tetapi bukan dari toko. Perhatikan foto di bawah ini.


Plumeria. Bunga Kamboja yang asalnya bukan dari Kamboja di atas rumput.

Apakah Anda akan meliriknya kalau menemukannya? Saya ragukan itu. Jangankan menaruhnya dalam vas di ruangan, bahkan untuk sekedar menoleh saja tidak.

Tetapi, foto di atas. Saya cukup yakin akan menimbulkan sebuah "rasa" dalam hati.

Imajinasi, kawan. Itu yang membuat sebuah bunga yang tidak dilirik bisa menjadi terlihat "indah". Suka atau tidak suka, ketika Anda ingin memotret sesuatu atau seseorang, maka Anda akan berusaha membuatnya "indah", "enak dipandang mata", dan yang pasti menimbulkan "rasa" di dalam hati yang melihat.

Seorang marketer yang handal, entah di dunia online atau nyata akan menargetkan timbulnya rasa ini sehingga yang melihat tertarik untuk membeli. Imajinasi atau idenya akan ikut masuk ke dalam foto yang dihasilkan.

3. Kamera


Seorang pemasar dunia maya yang handal tidak akan segan menginvestasikan sebagian modalnya untuk sebuah kamera dan lensanya. Ia menyadari kalau lensa kamera sering bisa menampilkan sesuatu yang bisa membuat benda yang biasa saja menjadi "sesuatu" yang menimbulkan ketertarikan.

Silakan perhatikan brosur-brosur perumahan, agen perjalanan, penjual pakaian, dan sebagainya.

Meskipun mereka tidak mahir menggunakan kamera semahir para fotografer, mode otomatis saja sering bisa menghasilkan sesuatu yang memikat.

4. Pencahayaan

Sebuah foto yang dipajang di toko online, hampir pasti tidak dipotret dengan kondisi dimana barang diterima. Apalagi tidak jarang foto untuk penjualan akan dihasilkan dalam kondisi pencahayaan yang sangat ideal dan membantu menonjolkan "keindahan" atau "sisi menarik" dari produk.

5. Layar monitor smartphone atau komputer Anda

O ya. Layar smartphone atau komputer yang Anda gunakan sering membuat sesuatu lebih indah dari yang seharusnya.

Smartphone masa kini sangat canggih dan membuat sebuah foto menjadi sangat detail dan kontrasnya sangat tajam. Warna-warna akan terlihat begitu indah dan cerah. Terutama, kalau smartphone atau komputer yang berada di tangan Anda dari versi yang mahal, rasanya warnanya memang akan sangat memukau mata.

Tetapi, masalahnya barang atau produk yang dijual tidak memiliki resolusi tinggi dan ketajaman warna yang sama dengan apa yang dihasilkan layar smartphone atau komputer.


Saya tidak mengatakan tidak ada penjual yang melakukan trik-trik fotografi untuk mendapatkan keuntungan secara kotor. Ada juga yang melakukan pengedittan foto secara berlebihan atau juga menggunakan tehnik-tehnik tersebut secara tidak wajar.

Tetapi, banyak juga mereka yang melakukan pengambilan foto produk dengan cara ala kadarnya tetapi ternyata hasilnya rasa kecewa karena barang aslinya tidak sebagus foto.

Oleh karena itu, saya sarankan kepada siapa saja yang hendak berbelanja online agar jangan terlalu terfokus kepada fotonya. Usahakan kalau Anda sudah merasa tertarik dengan foto sebuah produk, biarkan perasaaan itu mengendap beberapa lama sebelum menekan tombol beli. Biarkan rasa tertarik itu kembali ke titik normal.

Selain itu, jangan lupa untuk tetap membaca spesifikasinya. Kalau memang memungkinkan, mintalah sebuah foto lain dari produk itu sebagai tambahan bahan pertimbangan.

Yang pasti, tetap berhati-hatilah dalam berbelanja online, meskipun jangan pula terlalu berprasangka buruk tentang kecurangan.

Selamat berbelanja online.
Read More

Monday, October 3, 2016

Mengenal Aperture atau Diafragma pada Kamera


Apa itu Aperture? Ap fungsi aperture dan apa kaitannya untuk menghasilkan sebuah foto? Mengapa kita harus memahami aperture?

Yap. Saya dulu juga pernah bertanya tentang hal yang satu ini. Butuh waktu juga untuk memahaminya dan lebih banyak lagi waktu yang dibutuhkan untuk mempergunakannya.

Teori mengenai aperture atau kerap juga disebut dengan diafragma, yang manapun penggemar fotografi pasti akrab dengan istilah ini, sebenarnya merujuk pada salah satu bagian kamera. Adanya di bagian muka tepat di depan lensa.

Seperti apa bagian kamera itu, yang sering juga disebut dengan "bukaan rana" bisa dilihat di foto atas. Terdapat beberapa bilah seperti tirai di depan lensa.
Aperture atau Diafragma

Teorinya, ketika kita menekan tombol shutter saat hendak mengambil foto, bilah-bilah itu akan "membuka" dan membentuk sebuah "lubang" untuk jalan masuk cahaya. Cahaya yang masuk yang melalui lubang inilah yang kemudian diproses oleh sensor untuk menjadi sebuah foto.

Besar lubang yang terbentuk ini lah yang diberi ukuran dalam fotografi. Ukuran aperture atau diafragma akan dimulai dengan huruf "f" yang kemudian diikuti oleh angka, seperti contoh f/1.4,f/2.8,f/11, dan seterusnya.

Semakin kecil angkanya, maka ukuran lubang yang terbentuk akan membesar Semakin kecil angkanya, semakin besar lubang di depan lensa yang terbentuk. Silakan lihat gambar di bawah ini sebagai ilustrasi.


Aperture dan Kaitannya dengan Depth Of Field (DOF)

Apa itu Depth of Field alias DOF?

Rasanya akan lebih jelas bila menggunakan contoh foto. Silakan perhatikan foto di samping.

Backgroundnya agak terlalu ramai dan akan membuat obyek utama menjadi kurang menonjol. Nah, untuk itulah saya harus membuatnya "blur" atau "kabur". Dengan begitu sang obyek akan menjadi menonjol.

Jadi, di dalam foto itu ada dua bagian, yang satu terang, jelas dan detil, sedangkan bagian lainnya "blur" atau "kabur".

Bagian yang "jelas" dan "detil" itulah yang dikenal dengan Depth of Field (DOF).

Lalu, apa kaitan dengan aperture?

Kaitannya bisa disingkat dalam dua kalimat ini saja.

Aperture rendah (angka kecil) ==> Depth of Field juga kecil. Dengan kata lain, jika Anda menggunakan aperture f/2.8 maka ukuran bidang yang "jelas" akan lebih kecil dibandingkan dengan f/5.6.

Sebaliknya.

Aperture tinggi (angka besar) ===> Depth of Field lebih luas. Dengan kata lain, bidang jelas akan lebih luas dibandingkan aperture rendah.

Fungsi aperture

Setelah mengetahui apa itu aperture dan DOF, tentu Anda sudah mengetahui secara garis besar fungsinya, yaitu menentukan bidang yang "jelas" dan bidang yang "kabur".

Dengan bantuan auto-focus, pemotret bisa menentukan di bagian mana mereka ingin "jelas". Sisanya akan dibuat blur oleh kamera.

Seperti contoh peserta pawai di atas, maka saya menempatkan focus pada sang penari, maak sisanya terlihat blur.

Hal ini akan membantu obyek yang ingin ditampilkan agar dapat terlihat lebih menonjol dibandingkan sekitarnya. Salah satu tehnik fotografi yang memanfaatkan aperture dan DOF-nya adalah untuk menghasilkan efek bokeh.

Batasan Aperture pada kamera atau lensa

Pada saat membeli sebuah lensa atau kamera, biasanya ada tanda yang bertuliskan f/3.5 - f/5.6 dan sebagainya.

Tanda ini menunjukkan batasan aperture yang bisa dicapai oleh sebuah kamera atau lensa. f/3.5 adalah batasan terendah dan f/5.6 adalah batasan tertinggi.

Dan kalau kita sudah memahami, maka dengan mengetahui batasan terendah atau tertinggi, kita bisa berasumsi bahwa lensa atau kamera dengan spesisikasi seperti itu akan sulit untuk menghasilkan bokeh yang "creamy" atau "lembut". Biasanya fotografer berpengalaman akan menggunakan lensa dengan aperture yang serendah mungkin, antara f/1.4-2.8 agar efek bokeh yang dihasilkan lebih enak dipandang.

Itulah sekilas tentang apa itu aperture.

Hanya, karena aperture atau diafragma adalah satu dari 3 pilar fotografi, penggunaannya biasanya akan selalu berhubungan dengan dua pilar lainnya, shutter speed, dan ISO. Perubahan pada aperture, akan membutuhkan perubahan juga pada ISO atau shutter speed.

Hubungan antara ketiganya akan dituliskan lebih terperinci dalam artikel terpisah. Untuk kali ini, cukup sekian. Mudah-mudahan penjelasan singkat tentang apa itu aperture atau diafragma atau bukaan rana beserta fungsinya dapat bermanfaat.
Read More

Sunday, October 2, 2016

Mengenal 5 Jenis Kamera Yang Umum Dipergunakan Saat Ini

Perkembangan dunia fotografi terkadang bisa sangat memusingkan bagi orang awam. Banyak sekali istilah yang semuanya terkesan canggih dan menjanjikan.

Salah satu istilah yang paling membingungkan adalah tentang kategori kamera. Paling tidak ada 5 jenis kamera yang beredar yang beredar di pasaran dewasa ini.

Ada yang namanya kamera saku, Prosumer, DSLR, Mirrorless, dan ini belum termasuk kamera smartphome.

Bagi mereka yang sudah bergelut di dunia fotografi, meskipun sebagai pemula, mungkin istilah-istilah ini sudah tidak asing lagi. Sudah pasti tidak terlalu sulit membedakannya. Tetapi, bagi orang awam, tentunya akan sangat sulit untuk membedakan apa dan bagaimana bentuknya.

Tulisan kecil ini mungkin bisa membantu Anda memahami sedikit apa perbedaaan dari setiap kategori kamera yang saat ini ada di pasaran.

5 Jenis Kamera

Pembagian kategori kamera ini tidak didasarkan pada target pemakainya tetapi lebih kepada spesifikasi tehnis, fitur  dan bentuk fisik yang ditawarkan oleh para produsen kamera.

Berdasarkan hal itu, ada 5 jenis kamera yang bisa dijadikan pilihan.

1. Kamera Smartphone (Smartphone Camera)

Kamera pada smartphone adalah sebuah revolusi. Di masa sebelumnya, seseorang yang hendak mengambil foto harus mengeluarkan sebuah perangkat lain, kamera. Dengan adanya smartphne yang rata-rata sudah memiliki sebuah kamera di dalamnya, ia sekarang hanya perlu mengeluarkan HP atau gadget saja.

Penemuan ini juga melahirkan revolusi tersendiri dalam dunia fotografi. Bila sebelumnya fotografi hanya dilakukan oleh mereka yang mampu membeli kamera, dengan adanya kamera pada handphone, sekarang semua orang bisa terlibat dalam fotografi.

Kelebihan Kamera Smartphone:


PRATIS. Ukurnanya yang kecil membuatnya bisa dibawa kemana saja tanpa memerlukan tempat khusus.

SEDIA SETIAP SAAT. Hampir tidak memerlukan waktu untuk bisa memakainya. Cukup dengan menekan beberapa tombol, kamera akan langsung siap untuk dipergunakan.

Kelemahan Kamera Smartphone:

SENSOR KECIL . Karena memang fungsi utamanya untuk berkomunikasi, sensor yang dipergunakan dalam kamera smartphone berukuran kecil sehingga kualitas foto terasa kurang

LENSA KURANG KUALITAS. Mayoritas lensa yang dipergunakan, terutama pada smartphone murah memiliki kualitas yang kurang baik. Hasil foto terkesan seadanya. Meskipun demikian, beberapa smartphone kelas atas (high-end), memiliki lensa yang lumayan.

RESOLUSI RENDAH. Ukuran foto yang bisa dihasilkan pun tidak seberapa besar. Rata-rata kamera smartphone memiliki resolusi antara 5 - 8 MP. Dalam perkembangannya, beberapa jenis smartphone high-end sudah memiliki resolusi jauh lebih tinggi di atas 10 MP

TIDAK ADA OPTIK ZOOM. Kamera pada smartphone tidak memiliki Optic Zoom, yang ada hanya Digital Zoom dan ini cenderung membuat sebuah foto terlihat "pecah" kalau diambil dengan memakai setting zoom maksimal.

FITUR TERBATAS. Berbagai fitur lain sangat terbatas termasuk diantaranya menu untuk merubah settingan kamera yang hanya memungkinkan pemotretannya dilakukan secara otomatis.

2. Kamera Saku (Compact Camera)

Kategori kamera ini merupakan yang paling terancam dengan kehadiran kamera smartphone. Segi kepraktisan yang sebelumnya menjadi andalannya mulai tergusur.

Meskipun demikian dengan harga yang rendah, kamera ini masih sangat memadai untuk mereka yang hanya perlu mengabadikan momen-monen keluarga atau biasa saja.

Kelebihan Kamera Saku: 


PRAKTIS. Sama seperti kamera smartphone, jenis kamera ini sangat praktis dan bisa dibawa hampir kemana saja. Juga karena hampir semua fiturnya berdasarkan pada segi kepraktisan, tidak dibutuhkan pengetahuan khusus untuk mengoperasikannya.

SEDIA SETIAP SAAT. Bisa dipakai tanpa memerlukan waktu dan hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membuatnya menjadi aktif.

OPTIC ZOOM. Dibandingkan kamera smartphone, kamera saku (compact camera0, sudah diperlengkapi dengan zoom optic. Biasanya antara 4-10 X dibandingkan smartphone. Hal ini membuat pemilik kamera saku bisa memotret sebuah obyek di tempat yang lebih jauh tanpa harus khawatir hasil fotonya akan pecah.

Kekurangan Kamera Saku:

Secara garis besar, kamera saku menyediakan opsi yang lebih baik dalam hal memotret dibandingkan kamera smartphone. Kekurangannya masih berada pada kisaran hal yang sama.
  • SENSOR KECIL
  • KUALITAS LENSA KURANG
  • RESOLUSI RENDAH
  • FITUR TERBATAS

Meksipun sebagian kamera saku juga sudah mengalami upgrade dan peningkatan fitur dan kualitas, kelemahannya dibandingkan dengan kamera-kamera seperti Prosumer, DSLR, atau MIrrorless tetap ada pada poin-poin di atas.

3. Kamera prosumer (Bridge Camera)

Kamera jenis ini memiliki berbagai nama lain, tetapi di dalam kalangan fotografi kategri kamera ini dikenal sebagai kamera prosumer. Kemungkinan istilah itu datang dari singkatan profesional dan sekaligus consumer.

Hal ini menunjukkan bahwa kategorinya memang berada di antara kalangan Profesional, yang biasanya memakai DSLR dan Mirrorless, dengan pengguna biasa yang memakai kamera saku atau kamera smartphone.

Oleh karena itu, jenis kamera ini dikenal dengan Bridge Camera (Kamera Antara/Jembatan). Istilah lain yang dipergunakan adalah SuperZoom yang menunjukkan kelebihan yang ditawarkan kepada konsumen. Dikenal juga dengan nama DSLR-Like karena bentuknya yang sangat mirip dengan kamera DSLR.

Kelebihan Kamera Prosumer:

ZOOM OPTIK. Berbagai kamera jenis prosumer menekankan kelebihan akan kemampuannya melakukan zoom hingga puluhan kali lipat. Yang terbaru bahkan bisa melakukan zoom hingga 72X lipat tanpa harus mengganti lensa

FITUR MENYERUPAI DSLR. Fitur-fitur yang ada di jenis kamera ini mirip dengan yang ada di kamera DSLR. Fotografer dapat melakukan berbagai setting mulai dari Aperture, Shutter Speed, ISO, Auto-Focus dan berbagai macam lain tersedia.

RESOLUSI TINGGI. Jenis Kamera Prosumer rata-rata memiliki resolusi di atas 10 MP hingga 23 MP. Sebuah angka yang berada di atas rata-rata kamera smartphone atau kamera saku.

VARI-ANGLE LCD. Banyak kamera prosumer diperlengkapi dengan Vari-angle atau Layar LCD yang bisa diputar. Keberadaannya akan memudahkan pemotret untuk mengambil foto dari sudut-sudut yang biasanya tidak bisa dilakukan.

Kekurangan Kamera Prosumer:

SENSOR KECIL. Walaupun bentuknya menyerupai kamera DSLR, jenis kamera ini pada dasarnya memakai sensor yang tidak berbeda jauh dengan Kamera Saku. Oleh karena itu, hasil fotonya tidak bisa setajam kamera DSLR atau Mirrorless.

LENSA FIX. Jenis kamera prosumer tidak memiliki dudukan lensa seperti kamera DSLR atau Mirrorless. Lensa yang terpasang bersifat fix dan tidak bisa diganti. Dengan begini kemungkinan pemakaian lensa yang lebih baik tidak dimungkinkan.

TIDAK PRAKTIS. Dibandingkan dengan kamera saku dan kamera smartphone, kamera prosumer membutuhkan perlengkapan tambahan untuk membawanya. Ukurannya menyerupai DSLR dan membuatnya tidak sepraktis kamera saku.

BUTUH PENGETAHUAN. Kecuali dioperasikan pada mode Auto, kamera Prosumer membutuhkan pengetahuan lebih dibandingkan kamera saku atau smartphone. Terutama bila hendak memakai mode manual.

4. Kamera DSLR

Kalau ingin jadi pro, pakailah kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex).

Yap. Bila memang ingin menekuni fotografi lebih dalam, DSLR adalah opsi terbaik. Meskipun fotografi memang bukan terbatas pada kamera, tetapi DSLR menawarkan berbagai hal yang dapat membantu pengembangan diri seseorang dalam hal fotografi.

Kelebihan Kamera DSLR :

SENSOR. Sensor kamera DSLR merupakan standar dalam industri fotografi, sehingga jenis sensornya memang menjadi patokan atau ukuran minimal yang dipergunakan. Ada beberapa jenis sensor kamera mulai dari yang 2/3", Full Frame, hingga 4/3. Yang manapun, dibandingkan dengan 3 jenis kamera yang disebutkan di atas, hasil fotonya akan lebih tajam.

FITUR. Kamera jenis ini memang ditujukan bagi para penggemar fotografi atau fotografer, oleh karena itu berbagai fitur yang ada di dalamnya memang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan seorang fotografer.

LENSA BISA DIGANTI. Hal lain yang sangat menggoda dari kamera DSLR adalah lensanya bisa diganti. Dengan begitu, kemampuan kamera DSLR bisa dikembangkan lebih lanjut dan menyesuaikan dengan kebutuhan. Ratusan jenis lensa tersedia untuk kamera jenis ini.

VARI-ANGLE LCD. Banyak kamera DSLR yang dilengkapi dengan Vari-angle yang membuatnya memungkinkan untuk pengambilan foto dari sudut-sudut sulit.

Kelemahan Kamera DSLR :

UKURANNYA. Sudah pasti tidak bisa dibawa dalam setiap situasi. Ukurannya membutuhkan perlengkapan lebih untuk bisa dibawa kemana-mana.

BUTUH PENGETAHUAN. Untuk bisa mengoperasikan secara maksimum semua fitur yang ada pada jenis kamera ini dibutuhkan pengetahuan yang lebih banyak.

MAHAL. Walaupun terdapat kelas pemula, harga kamera DSLR tetap lebih mahal dibandingkan tiga jenis kamera sebelumnya. Hal ini belum ditambah dengan harga lensa yang dijual terpisah. Terkadang harga lensanya sendiri bisa melebihi harga body kameranya sendiri.

5. Kamera Mirrorless

Pada dasarnya kamera mirrorless adalah pengembangan dari kamera DSLR. Yang berbeda dengan jenis kamera yang satu ini adalah sistem pengambilan gambar yang tidak lagi menggunakan cermin seperti kamera-kamera sebelumnya.

Hal ini membuatnya terlihat lebih ramping dibandingkan dengan kamera DSLR.

Kelebihan Kamera Mirrorless :

Semua kelebihan yang ada di kamera DSLR bisa juga ditemukan di jenis kamera terakhir ini. Hanya ukurannya yang biasanya lebih ramping dan kecil, lebih memudahkannya untuk dibawa dibandingkan DSLR.

Kemampuan untuk berganti lensa, sensor yang besar, dan fitur-fitur lain terdapat di dalam kamera ini.

Kekurangan Kamera Mirrorless :

Begitu pula dengan kekurangan kamera DSLR, semua pun ada di kamera dengan tehnologi baru ini. Harganya di saat tulisan ini pun masih cukup mahal. Pengetahuan pun dibutuhkan untuk mengeluarkan semua potensi yang ada.

Sebenarnya ada satu lagi jenis kamera, tetapi tidak disebutkan, yaitu Kamera Analog. Di dunia fotografi, masih cukup banyak orang yang tetap fanatik mempergunakan kamera jenis lama tersebut. Tetapi, jumlahnya sangat kecil dan semakin kecil karena keterbatasan suplai film yang diperlukan untuk mengoperasikannya.

Oleh karena ini, jenis kamera ini biasanya beredar pada penggemar fotografi yang lebih serius dan bukan kalangan umum.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai berbagai jenis kamera yang saat ini beredar.

Masing-masing jenis kamera akan memiliki kekurangan dan kelebihannya. Tidak ada kamera yang sempurna. Kesempurnaan kamera akan terjadi di saat kelemahan kamera tersebut ditutupi oleh kelebihan dari penggunanya.

Fotografi adalah tentang mengabadikan momen, menghasilkan foto. Kamera adalah alat untuk melakukannya, tetapi BUKAN SEGALANYA.

Pilihlah yang terjangkau dan memenuhi kebutuhan Anda, sambil tetap berpikir bahwa fotografi adalah dunia dimana prinsip "THE MAN BEHIND THE GUN (Orang di belakang senjata)" berlaku.

Semoga bermanfaat.
Read More