Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Pelindung Kamera Darurat Saat Hujan : Kantung Plastik!


Sedang asyik-asyik berburu foto, kemudian hujan turun. Rusak sudah suasana. Apalagi kalau buruan menarik tersebut adanya di sebuah event yang hanya datang setahun sekali.

Masalah utamanya, meskipun berbagai obyek menarik bersliweran, tetapi otak justru menghadirkan hambatan untuk memotret. Otak memberi sinyal "Kamera". Alarm terus keluar karena seberapapun tertariknya untuk memotret, rasa sayang terhadap kamera menghentikannya.

Kalau dipaksakan memotret di bawah guyuran hujan, meskipun kecil, tetap ada resiko air akan membasahi kamera. Hasilnya bisa diduga, banyak bagian dari kamera adalah komponen elektronik, beberapa tetes air, saja bisa membuatnya tidak berfungsi lagi. Padahal saat itu belum sempat membeli pelindung kamera yang berupa jaket pembungkus.

Itulah yang saya alami saat berburu foto di acara Cap Go Meh Bogor 2016 yang lalu. Keasyikan melihat wajah-wajah dan pakaian unik peserta pawai terhenti ketika tetesan hujan mulai menyirami.

Tetapi ternyata, dalam rintik hujan yang semakin deras tetap ada beberapa orang sesama penggemar fotografi jalanan yang meneruskan aktifitasnya. Hujan seperti tidak mempengaruhi semangat mereka merekam momen dan menghasilkan foto.

Ternyata mereka menemukan sebuah alat sederhana yang memungkinkan aktifitas memotret tetap berjalan dan sekaligus melindungi kamera dari tetesan air hujan. Mereka tidak memakai pelindung kamera yang harganya lumayan (mahal) itu, tetapi memakai benda yang ada saja.

Apa yang mereka pergunakan? Silakan lihat sendiri hasil jepretan di bawah ini.



Yap. Kantung plastik.

Bagian bawahnya dibolongi/dirobek. Kemudian kamera (Mirrorless atau DSLR) dibungkus sehingga hanya layar dan lensanya saja yang terbuka. Ada yang diikat pakai tali, ada juga yang diikat pakai karet.

Hasilnya, kamera tetap terlindungi dari air (karena sifat tahan air dair plastik) dan memotret tetap bisa berjalan. Rupanya menjadi fotografer pun harus menjadi kreatif bukan hanya dengan kameranya tetapi juga untuk menghadapi masalah yang harus dihadapinya di jalan.


Bisa juga ditambah dengan rekan yunior yang bersedia memayungi, hasilnya bisa lebih afdol. Hujan bukan lagi halangan untuk berburu foto.


Nah, silakan tanyakan juga bagaimana foto ini dihasilkan padahal saat itu gerimis lumayan deras di Bogor? Atau Anda sudah tahu jawabannya?

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?