November 2016 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Monday, November 28, 2016

KISS, Keep It Simple Stupid : Fotografi Itu Sederhana

Pantai Kelapa Rapat Lampung - Arya Fatin Krisnansyah

Fotografi itu sederhana. Mudah. Tidak sulit.

Cermin dari hal itu ada pada satu anekdot, atau istilah yang lazim di dunia fotografi, yaitu KISS.

Jangan berpikir ngeres dulu tentang kata itu. Memang dalam bahasa Inggris artinya terkadang bisa membuat seseorang berpikir agak menjurus, tetapi dalam fotografi maknanya jauh dari apapun yang mungkin sedang Anda pikirkan saat ini.

Keep It Simple, Stupid.

Itulah makna dari KISS dalam fotografi. Artinya "Jaga Tetap Sederhana".

Maksud dari anekdot ini adalah agar para fotografer tetap berusaha agar tidak berpikir terlalu rumit saat mengambil gambar.

Satu foto, satu tema, satu fokus, dan satu background.

Istilah KISS ini tidak sembarangan dibuat, tetapi berdasarkan pengalaman banyak fotografer bahwa sebuah foto yang sederhana justru yang paling besar kemungkinannya untuk meninggalkan kesan pada yang melihat.

Mungkin karena sederhana dengan satu fokus atau obyek, yang melihat bisa langsung menangkap ide yang disampaikan sang fotografer. Bisa juga karena dalam sebuah foto yang sederhana subyek dalam fotonya menjadi menonjol.

Perahu di pantai Klara Lampung - Arya Fatin Krisnansyah

Tetapi, yang paling mungkin adalah karena dengan berpikir sederhana, seorang fotografer menjadi tidak terbebani. Mereka bisa menikmati apa yang mereka lakukan dan sebagai sebuah kegiatan yang mengandalkan daya kreasi manusia, hal tersebut menjadi sangat menguntungkan.

Dengan tidak berpikir rumit, seorang fotografer bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya bak air mengalir tanpa hambatan dan batasan.

Mungkin karena berpikir sederhana inilah, dua foto dari Arya Fatin Krisnansyah, yang baru berusia 14 tahun saat ini enak dilihat. Padahal hanya dibuat dengan kamera smartphone Asus Padfone T00N.

Simpel. Sederhana. Tidak rumit. Sesuai dengan KISS, Keep It Simple Stupid.
Read More

Sunday, November 20, 2016

Selfie atau Swafoto Adalah Bagian Dari Fotografi



Selfie atau swafoto adalah sebuah kegiatan mengambil foto atau gambar diri sendiri dengan menggunakan kamera digital.

Kegiatan ini menjadi fenomena unik dalam peradaban umat manusia. Bukan hanya dari begitu cepatnya umat manusia mengadopsi, tetapi dari jumlah meraka yang melakukannya. Bisa dikata pada masa sekarang ini, hampir semua penduduk dunia ini pasti pernah melakukan selfie.

Bahkan dalam perkembangannya pun, berbagai benda diciptakan untuk membantu orang berselfie ria. Salah satunya adalah tongsis atau tongkat narsis yang ketenarannya pun membumbung tinggi mengiringi semakin populernya selfie.

Lebih jauh lagi, tidak sedikit produsen kamera pun kemudian menghadirkan vari-angle yang sangat fleksibel sehingga bisa dipakai melakukan swafoto. Tidak pernah terbayang sebelumnya kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) yang biasanya dipergunakan untuk sesuatu yang serius sekarang diperlengkapi juga dengan fasilitas penunjang selfie ini.

Apakah Selfie atau swafoto adalah bagian dari fotografi?

Sudah pasti akan ada banyak penggemar fotografi yang segera mengerenyitkan kening dan memandang heran kalau Anda tanyakan demikian.

Dijamin.

Walau sudah pasti mereka-mereka itu juga pernah melakukan selfie, tetapi pertanyaan ini mengusik sesuatu dalam diri banyak penggemar fotografi.

Kemungkinan besar, jawaban yang akan Anda diterima adalah TIDAK.

Bagi banyak penggemar fotografi, mereka memandang selfie bukanlah bagian dari seni melukis dengan cahaya ini. Selfie masih tetap dianggap sebagai anak "haram". Paling tidak bagi mereka yang sangat ketat dengan pakem bahwa fotografi adalah sebuah seni.

Selfie memang sedikit berbeda dengan kegiatan fotografi umum. Biasanya para penggemar fotografi akan mencoba menghasilkan sebuah foto berdasarkan pada obyek yang mereka lihat. Mereka mengabadikan keindahan tersebut lewat lensa kamera. Titik beratnya ada pada "fotografi bukanlah tentang diri sendiri".

Hal ini berkebalikan dengan inti dari selfiem yaitu "Semua tentang diri sendiri". Tidak akan sebuah foto disebut "swafoto" atau selfie kalau obyeknya orang lain.

Oleh karena itulah, banyak penggemar fotografi yang menganggap selfie atau swafoto bukanlah bagian dari fotografi. Kegiatan ini dianggap sebagai kegiatan orang iseng dan ingin tampil saja.

Meskipun demikian, saya berbeda pandangan tentang hal ini.

Selfie atau swafoto JELAS merupakan bagian dari fotografi. Tidak mungkin tidak.

Alasan mengapa selfie atau swafoto adalah bagian dari fotografi

Sederhana saja kok. Tidak rumit dan tidak ruwet.

1. Menggunakan kamera


Fotografi adalah seni melukis cahaya dengan menggunakan kamera. Selfie menggunakan kamera. Keduanya menunjukkan kesamaan penting yang tidak bisa terbantahkan.

Tidak akan ada fotografi tanpa ada kamera. Begitu juga tidak akan ada selfie tanpa kamera.


2. Fotografi tidak memberikan batasan obyek


Kenyataannya memang demikian. Definisi fotografi tidak memberikan batasan tentang obyek apa yang harus diambil agar bisa dimasukkan sebagai hasil karya fotografi. Dengan begitu, tidak ada masalah dengan menjadikan diri sendiri sebagai obyek kamera.

Bahkan di masa lalu pun ada yang namanya kategori self-portrait atau potret diri sendiri. Memang berbeda dengan di zaman sekarang, self portrait waktu itu fotonya tetap diambil oleh orang lain, sedangkan selfie dilakukan oleh diri sendiri.

Tetapi, seharusnya tidak masalah karena menjadikan diri sendiri sebagai obyek foto sudah dilakukan sejak lama. Kalau tidak percaya, silakan lihat pas foto.

3. Fotografi berkembang


Fotografi adalah bagian dari kehidupan manusia dan akan terus berkembang mengikuti perubahan yang terjadi di dalam kehidupan manusia.

Kalau tehnologi dan cara hidup manusia berubah, maka sudah selayaknya fotografi pun ikut menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Justru akan menjadi menentang kodrat kalau fotografi tetap berjalan di tempat sementara umat manusia sudah berubah jauh.

Jika manusia menginginkan selfie, maka fotografi harus mengadopsinya.


Dengan alasan-alasan ini, sulit dibantah bahwa selfie memenuhi semua syarat untuk dikategorikan sebagai bagian dari fotografi.

Memang, kebanyakan pelaku selfie jarang sekali memikirkan berbagai teori tyang biasa dipergunakan dalam dunia fotografi. Kebanyakan swafoto dihasilkan karena dorongan kesenangan saja dan dilakukan selama yang melakukannya suka. (Lagi-lagi tidak berbeda dengan para pelaku di dunia fotografi, sebenarnya)

Hal ini menyebabkan kebanyakan karya yang dihasilkan kurang enak dipandang (walau kalau yang melakukan selfie seorang wanita cantik, tetap enak dipandang meski secara teori fotografi salah besar sih).

Belum lagi bahwa disana kurang ada kreatifitas. Berbeda dengan genre fotografi manapun yang obyeknya berganti-ganti, dalam selfie, obyeknya selalu sama, ya yang motret.

Mungkin karena itulah, para kaum "priyayi" fotografi merasa tidak nyaman untuk menjadikan selfie duduk sama dengan dunia "seni" yang mereka tekuni. Anak haram yang bisa merusak darah biru dunia fotografi kalau dimasukkan dalam keluarga.

Sayangnya, fakta tidak bisa membantah tentang kenyataan sang anak haram itu. Selfie atau awafoto adalah bagian dari fotografi.

(Tulisan ini dibuat oleh seorang penggemar fotografi yang baru pernah melakukan selfie di bawah jumlah jari tangan)


Read More

Mengenal Leading Line atau Garis Penunjuk Dalam Fotografi

Leading Line atau Garis Penunjuk adalah istilah dalam fotografi untuk "garis-garis" yang membantu mengarahkan yang melihat foto kepada obyek atau subyek yang menjadi tema utama.

Tentu saja, garis-garis ini sebenarnya adalah imajiner dan tidak dibuat dengan sengaja oleh si pemegang kamera.

Seperti contoh foto di bawah ini


Pada foto di atas terlihat bahwa secara alami air, ombak, horison dan bahkan langit membentuk garis-garis. Hal ini tidak alami karena pada dasarnya mata manusia menangkap semua bentuk gambar dalam bentuk garis-garis, baik lurus atau tidak.

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh seorang fotografer untuk menggiring mata mereka yang melihat foto dengan memanfaatkan "garis-garis imajiner tersebut. Ia bisa mengusahakan agar garis-garis tersebut terarah ke arah obyek atau subyek yang menjadi inti dari foto tersebut.


Leading Line bisa terbentuk oleh banyak hal. Jalan, bangunan, pohon dan masih banyak hal lain yang bisa menjadi garis penunjuk yang diperlukan.

Itulah mengapa penting bagi seorang pemotret untuk mengamati lingkungan sekitarnya. Pola-pola simetris apa yang bisa membantu untuk menunjang dan memanjakan mata manusia.
Read More

Thursday, November 17, 2016

Menggunakan Mode Auto, Bukan Sebuah Masalah!


Fitur Mode Auto merupakan fitur standar yang ada dalam setiap kamera. Kamera saku, Prosumer, DSLR, atau Mirrorless akan selalu diperlengkapi dengan fitur ini.

Fitur ini disediakan untuk memberikan kemudahan penggunanya yang tidak mau terlalu repot memikirkan tentang bagaimana memadukan ISO, Aperture, atau Shutter Speed.

Dengan fitur ini, memang seorang pemotret berarti menyerahkan pengaturannya pada si kamera itu sendiri, aloas memakai setting standar yang disediakan oleh pihak pabrikan.

Praktis dan tidak pusing.

Meskipun demikian, sebagian masyarakat dunia fotografi menganggap menggunakan mode auto sebagai sebuah "kelemahan" tersendiri. Banyak dari mereka yang berpandangan bahwa meletakkan semua tanggung jawab mengatur setting pada kamera menunjukkan bahwa sang pemegang kamera tidak memiliki skill fotografi yang mumpuni.

Apalagi, kalau definisi fotografi sebagai "Melukis Dengan Cahaya" dipakai. Penggunaan mode auto dianggap kurang memberikan aspek "melukis" karena semua pengaturan diletakkan pada hasil pemikiran orang lain dan bukan dari diri sendiri layaknya sebuah karya seni.

Betul kah demikian?

Coba kita lihat sedikit beberapa alasan mengapa orang menggunakan mode auto ini.

Alasan menggunakan mode auto kamera


1) Tidak paham tehnik fotografi


Yap. Betul sekali. Memang ada bagian dari pengguna kamera yang sama sekali tidak memahami apa itu ISO, Aperture, atau Shutter Speed.

Otomatis, dengan tidak mengerti tentag hal-hal itu maka mereka tidak akan bisa melakukan setting yang diinginkan. Oleh karena itu maka mereka menyerahkan pada sang kamera untuk mengurusnya sendiri.

2) Malas


Bisa jadi karena malas belajar yang berakibat pada no 1 atau memang benar-benar sedang malas berpikir.

Yang terakhir bisa terjadi lo! Namanya manusia terkadnag rasa malas hadir dan membuat otak seperti tidak mau bergerak untuk berpikir hal-hal yang rumit.

Bukan berarti tidak bisa, tetapi karena dorongan rasa malas saja.

3) Kebutuhan


Mungkin terdengar mengherankan, tetapi ada  banyak kategori dalam dunia fotografi yang justru mengandalkan mode auto. Contohnya adalah fotografi jalanan.

Berbeda dengan fotografi studio atau pra wedding atau landscape, dimana obyek bisa diatur atau bersifat statis sehingga waktu pengambilan keputusan lebih panjang, fotografi jalanan seringnya hanya memiliki waktu sangat pendek.

Hal itu karena fotografer jalanan tidak bisa mengatur obyeknya yang merupakan orang-orang tidak dikenal. Oleh karena itu mereka harus memutuskan untuk memotret atau tidak dalam waktu sepersekian detik.

Waktu yang tidak cukup sama sekali untuk berpikir tentang ISO atau Aperture yang cocok.

Wartawan foto dan jurnalis olahraga pun kerap menggunakannya.

4) Mementingkan Komposisi


Menghasilkan sebuah foto yang bagus bukan sekedar tentang tehnik mengendalikan kamera saja. Ada bagian lain yang justru terlepas dari kameranya, yaitu Komposisi.

Komposisi sebuah foto adalah cerminan dari ide yang ada di kepala sang pemegang kamera. Hal itu juga memakan waktu dan tentunya kalau ditambah lagi dengan berpikir mengenai setting yang pas untuk ide tersebut bisa membuat kepala tambah ruwet.

Ada banyak fotorafer yang memutuskan untuk menekankan pada komposisi fotonya dibandingkan pengaturan kameranya.


Apakah bisa menghasilkan foto bagus dengan mode auto?

Bagus atau tidak adalah sebuah hal yang relatif dan subyektif. Tidak bisa disamaratakan.

Tetapi, dengan semua kemajuan tehnologi kamera dewasa ini, sebuah foto bagus dan menarik tidak lagi hanya tergantung pada kemampuan seorang fotografer mengoperasikan kameranya. Hal itu justru sudah bergeser pada "kemampuan" nya untuk menerjemahkan ide di kepala dalam foto-fotonya.

Kemampuan mengatur settingan kamera bisa memberikan ruang lebih dalam kreatifitas, tetapi bukan lago sebuah hal yang mutlak.

Oleh karena itu, bahkan dengan menggunakan mode auto pada kemranya, banyak orang awam bisa menghasilkan foto yang tidak kalah dengan fotografer pro.

Kelemahan mode auto

Tidak ada gading yang tidak retak. Pasti ada juga kelemahan atau kekurangan kalau terbiasa memakai mode auto.


1)  Pengetahuan tidak bertambah


Mau tidak mau. Praktis dan tidak ribeut.

Hasilnya, kita tidak lagi mau tahu dan belajar tentang apa itu ISO , Aperture dan lain sebagainya. Seperti punya prmbantu rumah tangga yang mengerjakan semua urusan sehingga kita tidak lagi tahu cara memasak.

Bahkan yang sudah ahli mengatur settingan kamera bila ia berpindah ke mode auto terlalu lama, suatu waktu kemampuannya menyetting kamera pun akan berkurang. Bagaimanapun mengoperasikan kamera adalah skill yang harus terus diasah.

Kondisinya tidak berbeda dengan pemain sepakbola berbakat yang tidak berlatih. Akan ada perubahan dalam dirinya.


2) Tidak selalu sesuai dengan keinginan


Namanya dibuat secara standar, tentunya berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh perancang dan pembuatnya. Bisa hasilnya sesuai kemauan, bisa juga tidak.

Dengan kata lain, tetap akan ada sikon dimana hasil foto yang dihasilkan tidak sesuai dengan ide yang ada di kepala tentang sebuah obyek.


Bagi saya sendiri, fitur mode auto adalah sebuah opsi. Kadang saya pakai, kadang tidak.

Oleh karena itu, menggunakan mode auto tidak menunjukkan apa-apa. Terlalu banyak variabel dalam sikap manusia untuk bisa memutuskan apakah yang menggunakan karena mereka tak tahu, malas, atau karena kebutuhan.

Lebih baik tidak membuat sebuah prasangka berdasarkan sesuatu yang tidak jelas.

Lagi pula, fotografi tidak bisa lepas dari kemajuan tehnologi. semakin banyak fitur yang dibuat untuk memudahkan pemegang kamera menghasilkan gambar yang baik, mode auto adalah salah satu fitur itu.

Juga, baik atau buruknya hasil sebuah foto, tidak pernah hanya terletak pada pengetahuan tentang tehnik mengatur setting kamera saja. Banyak hal lain di dalamnya.

Jadi, ikut kata Gus Dur, "gitu aja kok repot", saya pilih mengatakan jangan dibuat masalah kalau memang Anda hanya bisa atau mau menggunakan mode auto saja. Tidak usah dipikirkan kalau ada yang bilang "nggak pro".

Percayalah, yang mengatakan akan terdiam kalau foto hasil jepretan dengan mode auto terlihat bagus. Karena bagaimanapun fotografi adalah tentang hasil, tidak peduli cara mendapatkannya, sebuah foto yang menarik dan enak dipandang akan tetap diapresiasi.

(Catatan : semua foto di artikel ini dihasilkan dengan menggunakan mode auto Fujifilm Finepix HS 35 EXR)

Read More

Thursday, November 10, 2016

Mengenal Fotografi Makro atau Macro Photography


Fotogafi Makro atau Macro Photography adalah kategori fotografi yang menekankan pada detail dari obyek yang ditampilkan. Bisa kata kategori ini adalah mirip dengan foto close-up tetapi dengan menggunakan obyek yang kecil, seperti bunga atau serangga.

Dalam kategori ini , obyek yang biasanya tidak bisa terlihat jelas oleh mata diperlihat besar dan bahkan sangat detail. Mirip dengan melihat sesuatu dengan memakai mikroskop.

Biasanya sebuah hasil karya fotografi makro merupakan perpaduan dari obyek kecil + latar belakang blur (bokeh). Latar belakang tidak terlalu memegang peranan penting, oleh karena itu seringkali sengaja dikaburkan.


Cara pembuatan foto dalam kategori ini biasanya dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas zoom optikal yang ada di kamera digital masa kini. Semakin besar kemampuan zoom yang bisa dilakukan kamera, semakin detil foto yang akan dihasilkan.

Anda bisa coba sendiri melakukannya karena cukup mudah.

Pilih obyek yang kecil, atau juga bagian tertentu dari sebuah obyek yang besar, kemudian arahkan lensa dengan zoom maksimal yang bisa dilakukan. Kalau bisa, lakukan dengan sedekat mungkin dengan obyek.

 

Read More

Saturday, November 5, 2016

Tips #11 : Jangan Terlihat (Fotografi Jalanan)


Salah satu hal yang harus mahir dilakukan oleh seorang fotografer jalanan adalah JANGAN TERLIHAT.

Mengapa harus diusahakan jangan terlihat adalah karena sifat dari fotografi jalanan mirip dengan foto jurnalistik, yaitu diusahakan sebisa mungkin pergerakan fotografer tidak bersinggungan langsung dengan obyek. Hal ini untuk menjaga agar model atau target yang diincar tetap beraktifitas seperti biasa.

Terlihat mudah diucapkan tetapi sebenarnya cukup sulit dilakukan.

Terkadang baru saja kita mengangkat kamera ke depan mata untuk membidik, sang obyek sudah menyadari bahwa ia dijadikan target lensa. Hasilnya, biasanya sikap mereka menjadi sangat tidak natural dan agak kaku.

Untuk itu, seorang fotografer jalanan harus mencari cara agar mereka menjadi seperti "TIDAK TERLIHAT" oleh targetnya.

Hal itu tidak perlu dilakukan dengan bersembunyi seperti maling. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membuat target atau obyek tidak menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran bidik.

1. Memotret dari jarak jauh


Dengan menggunakan lensa zoom, maka kita jarak antara pemotret dan obyek bisa dijaga cukup jauh. Semakin besar jarak, maka semakin besar kemungkinan sang target tidak menyadari dirinya menjadi sasaran.

2. Memakai kamera yang kecil


Memang DSLR akan menghasilkan sebuah foto yang jauh lebih baik dibandingkan kamera saku atau smartphone. Sayangnya ukurannya yang besar mudah sekali terlihat. Belum lagi ditambah pengaturan setting yang memakan waktu bisa membuat kita kehilangan momen.

Penggunaan kamera saku atau smartphone bisa menjadi pilihan mengingat ukurannya kecil dan bisa cepat dioperasikan. Semua ini akan sangat bisa membantu fotografer melakukan respons yang cepat. Tetapi, tentunya ada yang harus dikorbankan, yaitu kualitas dari foto itu sendiri.


3. Berbaur dalam keramaian


Cara lainnya meniru bunglon. Maksudnya, seorang fotografer harus bisa berkamuflase. Dengan berbaur di antara keramaian orang-orang, maka kehadirannya akan tertutupi oleh kehadiran orang lain. Hal ini bisa membuat dirinya lebih bebas mengamati sasaran dan kemudian bereaksi dengan cepat ketika kesempatan memotret itu ada.

Oleh karena itu, seorang fotografer jalanan juga harus mampu berinteraksi dan bergaul dengan lingkungan dimana ia hendak memotret. Dengan begitu, maka ia selain bisa mengenali lingkungan, juga membuat dirinya menjadi "bagian" dari kehidupan disana.

Itulah yang biasa saya lakukan kalau hendak berburu foto di jalanan Bogor. Siapa tahu bisa Anda manfaatkan.

Read More