2017 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Thursday, December 28, 2017

Jangan Ragu Untuk Memamerkan Foto Hasil Karyamu

Jangan Ragu Untuk Memamerkan Foto Hasil Karyamu

Pamer, kata orangtua zaman dulu adalah salah satu bentuk ketidakbaikan, kesombongan. Oleh karena itu, mereka selalu mengajarkan anak-anaknya untuk rendah hati dan tidak suka pamer.

Sayangnya, zaman sudah berubah. Bukan berarti inti dari pepatah "semakin berilmu semakin merunduk" atau ilmu padi tidak berlaku lagi. Tetap saja, banyak orang akan memandang pamer sebagai sebuah bentuk kesombongan.

Tetapi, dalam beberapa hal pamer itu perlu, untuk melengkapi proses pembelajaran.

Salah satunya dalam dunia fotografi. Pamer bisa dikata adalah sebuah bentuk keharusan yang harus mau dilakoni para fotografer.

Suka atau tidak suka. Jika seorang fotografer ingin berkembang dan maju lebih jauh dari pencapaian saat ini, ia harus mau membuka diri dan bersiap dipandang sebagai orang sok pamer.

Mengapa?

Karena dengan memamerkan foto maka berarti kita akan mengundang reaksi dan komentar dari yang melihat. Tidak akan semua feedback akan berisi pujian atau "LIKE", tetapi pasti diantaranya ada "kritikan" atau "cacican".

Dua yang terakhir itulah yang harus mendapat perhatian lebih. Pujian atau LIKE tidak akan membuat kita maju dan belajar. Justru kehadirannya akan melenakan kita dan benar-benar membangkitkan kesombongan dalam diri.

Sedangkan kritikan atau cacian akan membuat kita marah dan lebih terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi. Kita akan terus terdorong untuk menemukan "kelemahan" sehingga sebuah kritikan lahir dan cacian diungkapkan.

Masukan yang seperti ini akan sangat jauh dari membuat orang terlena.

Tidak akan enak mendengarnya, tetapi dengan begitu kita akan selalu terjaga dan tidak akan terlena. Kita akan berusaha terus memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuan.

Itulah alasan mengapa jangan pernah ragu memamerkan foto hasil karya sendiri. Asal jangan foto hasil karya orang lain karena hal itu berarti plagiat atau pencurian hak kekayaan intelektual dan tidak seharusnya dilakukan.
Read More

Menghadiri Sebuah Festival dan Parade Untuk Hunting Foto

Menghadiri Sebuah Festival dan Parade Untuk Hunting Foto

Salah satu kebiasaan saya setiap tahun adalah hadir pada acara Festival Cap Go Meh Bogor, atau CGM Bogor Street Festival. Bukan karena saya merayakannya, tetapi karena acara tersebut menyediakan banyak hal bagi penggemar fotografi jalanan seperti saya ini.

Festival dan parade seperti dalam even seperti ini merupakan sebuah tempat yang sangat cocok untuk hunting foto karena :

1. Tidak terhitung banyaknya obyek


Dengan ribuan, bahkan puluhan ribu orang, baik peserta maupun penonton, maka dengan serta merta tersedia pula ribuan obyek yang menjadi sasaran kamera.

Akan terjadi banyak sekali interaksi antar manusia yang layak untuk direkam dalam bidang foto.

2. Banyak Keunikan


Otomatis dalam sebuah parade, setiap pesertanya akan mencoba tampil seunik mungkin. Mereka akan berusaha menjadi berbeda agar bisa tampil lebih menonjol dibandingkan peserta lainnya. Kodratnya manusia.

Yang beruntung adalah para fotografer. Mereka tidak perlu berpikir terlalu berat karena keunikan tersebut sudah tersedia di depan mata. Yang perlu dilakukan hanyalah mencari sudut pemotretan yang pas saja supaya hasilnya pun enak dilihat.

3. Banyak Warna

Ciri sebuah parade, apapun itu, adalah banyak warna. Semua yang terlibat biasanya akan menggunakan kostum dengan warna-warna yang mencolok karena memang tujuannya untuk menarik perhatian.

Kondisi ini memudahkan para pemotret karena mereka tidak perlu terlalu ruwet memikirkan soal komposisi warna. Semua sudah tersedia.

4. Banyak Teman

Yang berpandangan festival adalah tempat yang baik untuk hunting foto tidak sedikit. Banyak fotografer juga gemar hadir dengan tujuan dan alasan yang sama.

Mereka juga berkeliaran kesana kemari memburu obyek yang mereka inginkan.

Situasi dimana sangat mudah membuat "teman". Bisa saja bermula dari sekedar mengatakan "hai" kepada seseorang yang terlihat memegang kamera dan bisa berlanjut menjadi sebuah acara hunting foto bersama yang tidak direncanakan.

Itulah mengapa saya rela mengambil cuti untuk menghadiri festival Cap Go Meh Bogor setiap tahunnya. Banyak hal menyenangkan yang ada disana.
Read More

Pangsa Pasar Fotografer Profesional Semakin Berkurang

Pangsa Pasar Fotografer Profesional Semakin Berkurang

Banyak fotografer profesional yang mengandalkan hidupnya dari memotret dengan bayaran mengeluhkan akan semakin berkurangnya order untuk jasa mereka. Semakin hari semakin sedikit saja orang yang mau membutuhkan jasa dan kemampuan mereka dalam menggunakan kamera.

Tidak mengherankan.

Perkembangan teknologi lah yang menyebabkan hal itu.

Di masa lalu, untuk bisa memotret maka orang harus membeli peralatan terpisah, kamera yang harganya tidak murah. Belum lagi di zaman analog, butuh biaya lebih untuk membeli film dan kemudian biaya memprosesnya yang sama tidak murahnya.

Hal itu berubah ketika kamera digital lahir dan kemudian diikuti lahirnya smartphone yang selalu diperlengkapi dengan kamera.

Dalam hal ini, kamera menjadi sesuatu yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Semua orang bisa mempunyai kamera bahkan meski niatnya sama sekali tidak ingin membelinya.

Hal itu kemudian ditambahkan dengan kehadiran internet dengan jutaan blognya. Di masa lalu, untuk menguasai cara memotret dengan baik, seseorang harus belajar dari mereka-mereka yang dianggap pakar dalam hal memotret. Tentunya, biasanya tidak gratis dan perlu ada biaya, seperti mengikuti kursus fotografi.

Di masa sekarang, cukup dengan membuka Google dan menggunakan kata kunci terkait dengan fotografi, maka berbagai pelajaran tentang bagaimana cara memotret dengan baik, sudah bisa ditemukan. Selama mau belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh, maka kemampuan membuat foto yang baik dan enak dilihat bisa dimiliki.

Semuanya menjadi tidak sulit.

Hal itu berakibat juga pada dunia fotografi profesional. Jumlah mereka yang mampu menggunakan kamera dengan baik bertambah banyak dan banyak dari mereka juga melihat peluang mendapatkan penghasilan dari kemampuannya memotret.

Persaingan bertambah.

Juga, kecuali beberapa acara resmi, seperti perkawinan, maka jasa fotografer profesional tidak lagi diperlukan. Mereka bisa cukup meminta teman, saudara, atau kenalan yang mampu memotret dengan baik untuk memotret bagi mereka dengan bayaran yang lebih murah.

Hal ini tentu saja menggerus pangsa pasar yang sudah semakin sempit itu.

Sebuah kondisi yang akan terus berlangsung di masa yang akan datang dimana fotografi tidak lagi menjadi monopoli kalangan tertentu saja. Semua orang akan bisa ikut terjun ke dalamnya dan hal itu berarti pangsa pasar yang selama ini besar akan terus menyempit.

Untuk itulah para fotografer profesional, yang menggantungkan hidupnya dari memotret, harus bisa menjadi lebih kreatif sehingga bisa memberikan nilai tambah. Tanpa itu, ketika memotret tidak lagi menjadi hal yang sulit dan langka, maka mereka akan terus terdesak dan akan lebih sulit menggantungkan hidupnya pada saat demikian.
Read More

Cahaya Diperlukan Tetapi Bisa Menjadi Sesuatu Yang Menyulitkan

Sumber Cahaya Diperlukan Tetapi Bisa Menjadi Sesuatu Yang Menyulitkan

Cahaya adalah sesuatu yang sangat diperlukan dalam dunia fotografi. Tanpa adanya cahaya, maka tidak akan ada yang namanya fotografi karena ingar saja definisi fotografi yaitu "melukis dengan menggunakan cahaya".

Betapa pentingnya cahaya, bisa terlihat pada berbagai kesulitan yang hadir saat memotret dalam lingkungan yang minim cahaya. Perlu tambahan berbagai peralatan lain, mulai dari yang sederhana seperti tripod hingga tambahan berbagai peralatan lighting atau pencahayaan.

Sebegitu pentingnya cahaya bagi kegiatan memotret.

Tetapi, kalau cahaya yang tersedia kebanyakan pun, tidak berarti semua menjadi mudah. Hal itu bisa saja menjadi sebuah masalah tersendiri. Dari sanalah istilah over-exposed atau kelebihan cahaya lahir. Hasilnya adalah foto yang terlalu terang dan menyilaukan.

Kesulitan lainnya adalah ketika ada obyek menarik tetapi saat ingin memotret sumber cahaya berada tepat di belakang obyeknya. Hal ini berarti kamera akan langsung berhadapan dengan sumber cahaya langsung,

Situasi seperti ini tidak akan pernah menyenangkan. Kamera manapun seberapapun mahalnya tidak akan kuat menhadapi sumber cahaya yang menghadap langsung ke kamera.

Sudah pasti kondisi seperti ini akan merepotkan. Foto biasanya cenderung menjadi gelap dan obyeknya akan seperti orang "negro" hitam tidak jelas bentuknya.

Untuk itulah kreatifitas sang pemotret harus hadir dalam situasi yang seperti ini. Ia harus bisa mencari sudut yang tepat agar kamera tidak perlu langsung menghadap sumber cahaya dan menghindari terjadiaya over exposed tadi.

Ia juga seharusnya bahkan bisa memanfaatkan hal itu untuk menghadirkan kesan dramatis pada fotonya. Salah satu caranya adalah membuat foto Ray of Light dimana cahaya bisa hadir dalam foto dalam bentuk berkas sinar dan biasanya hal ini akan menghadirkan kesan "dreamy" atau bak mimpi dalam foto.
Read More

Memanfaatkan Pantulan Di Cermin Untuk Menampilkan Subyek

Memanfaatkan Pantulan Di Cermin Untuk Menampilkan Subyek

Membuat sebuah foto yang terkesan unik, seringkali tidak perlu berpikir rumit pula. Terkadang hanya perlu sedikit kejelian dalam mengamati sekeliling.

Sebagai contoh adalah dalam menampilkan subyek dalam sebuah foto.

Sebuah kebiasaan yang dilakukan banyak orang saat memotret adalah berpikir bahwa mereka harus selalu memotret dari depan. Padahal, sebenarnya tidak. Hal itu bisa dilakukan dari berbagai sudut. Termasuk dari belakang sang subyek itu sendiri.

Sebuah cermin bisa dimanfaatkan untuk tetap bisa membuat foto memperlihatkan bagian muka dari subyeknya bahkan ketika yang memotret berada di belakang sang subyek.

Hal itu akan menimbulkan nuansa yang berbeda dari foto yang dihasilkan. Fotonya menjadi tidak biasa dan berkesan unik, walau sebenarnya sama.
Read More

Obyek Foto Yang Indah Itu Ada Dimana-Mana

Obyek Foto Yang Indah Itu Ada Dimana-Mana

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah pertanyaan di komunitas dunia maya yang saya ikuti bertanya, "Spot foto yang indah di Bogor dimana yah?".

Tersenyumlah saya.

Yah, mau tidak mau tersungging senyuman di bibir saya membacanya. Pertanyaan itu adalah pertanyaan umum yang kerap diajukan banyak orang. Pertanyaan yang saya pernah ada di kepala saya pada awal permulaan menekuni dunia fotografi.

Pertanyaan umum, tetapi tidak tepat sebenarnya. Pertanyaan itu hadir dari sudut pandang yang salah tentang bagaimana cara membuat foto yang bagus dan enak dilihat.

Banyak orang berpikir bahwa membuat foto yang indah hanya bisa dilakukan kalau obyeknya indah saja. Oleh karena itu, mereka berpikir bahwa mereka harus menemukan spot-spot yang indah, seperti tempat wisata, pemandangan, atau hal-hal seperti itu. Tidak jarang ada yang bersedia mengorbankan uang untuk menuju sebuah lokasi yang dianggap bisa membantunya menghasilkan foto yang indah.

Mereka berburu obyek foto yang "indah" demi menghasilkan foto yang "indah".

Padahal, fotografi tidak lah seperti itu.

Obyek foto yang indah memang akan bisa membantu, tetapi tidak selamanya akan berujung bagus dan baik ketika sudah menjadi foto. Banyak yang sudah pergi ke tempat-tempat wisata mahal tetapi tetap saja tidak berhasil membuat foto yang enak dilihat. Tetap saja mereka gagal menampilkan keindahan dalam foto-fotonya.

Hal ini disebabkan karena mereka tidak mengerti intinya.

Fotografi, seperti juga banyak hal lainnya, ditentukan oleh manusianya. Kalau manusianya memiliki skill, kemampuan, kreatifitas, maka sesuatu yang sederhana sekalipun akan bisa dirubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sudah banyak sekali bukti dalam dunia fotograif bahwa sebuah obyek sederhana dan bisa ditemukan dimanapun, ketika menjadi foto bisa mengundang decak kagum dari yang melihat.

Hal itu karena yang memotret tahu cara menempatkan obyek, kemudian paham bagaimana harus menampilkan obyeknya, memiliki kemampuan menampilkan emosi dari obyeknya, dan sebagainya.

Obyek apapun kalau yang memotretnya tahu cara mengolahnya akan bisa menjadi sebuah foto yang enak dilihat. Obyek sebagus apapun kalau pemegang kameranya tidak paham teknik dan caranya, ya tidak akan menjadi foto yang bagus.

Manusianya yang menentukan, bukan alat, bukan tempatnya.

Dan, ketika manusianya yang menjadi unsur penentu, maka segala sesuatu bisa dijadikan obyek foto potensial. Tidak perlu repot bertanya kesana kesini spot foto yang indah, karena apapun bisa dirubah menjadi indah kalau sudah begini.

Read More

Friday, December 8, 2017

[FOTO] Sang Penabuh Gendang - Bukan Peran Utama

[FOTO] Sang Penabuh Gendang - Bukan Peran Utama
Jelas lakonnya hanyalah pelengkap saja.

Dalam sendratari Barong dan Tari Keris, sang penabuh gendang hanyalah satu bagian kecil saja. Tidak terlalu penting, setidaknya bagi para penonton, buktinya mereka lebih terfokus pada bagian tengah panggung dimana para penari berlenggak lenggok.

Tetapi, kalau ia tidak ada, mungkinkah sang penari bisa berlenggak lenggok mengikut irama? Belum tentu.

Penabuh gendang memang tidak akan mendapat sorotan, tetapi ia adalah bagian tak terpisahkan karena ia memberikan ritme dalam sebuah lagu atau musik. Tanpanya, kesatuan musik dan tari akan terasa berbeda. Tidak ada lagi yang memberi tanda kapan "masuk" kapan "keluar".

Lakon kecil, ibarat sebuah sekrup yang kalau hilang bisa menyebabkan mobil tidak berjalan dengan benar. Itulah sang penabuh gendang.
Read More

Saturday, December 2, 2017

Dua Fungsi Utama Fotografi

Dua Fungsi Utama Fotografi

Segala sesuatu yang diciptakan manusia pasti memiliki fungsi atau peran dan ditujukan untuk memenuhi "kebutuhan manusia". Tidak ada sesuatu yang merupakan hasil pemikiran manusia yang tidak memiliki fungsi, betapapun remehnya.

Begitu pula dengan fotografi.

Paling tidak ada dua fungsi utama fotografi dalam kehidupan manusia :

1. Dokumentasi

Merekam berbagai momen yang ingin diingat oleh sang pemotret. Fungsi ini adalah fungsi awal yang membuat kamera dan fotografi lahir.

2. Membuat Karya Seni

Fungsi fotografi yang lahir kemudian adalah sebagai alat pembuat karya seni. Banyak orang menyadari bahwa kamera bisa dipergunakan layaknya kanvas bagi seorang pelukis. Keindahan bisa terekam dengan cara dan melalui media yang berbeda dibandingkan seni lukis sedangkan keindahannya tidak kalah.

Dalam perkembangannya, ternyata kemudian, justru kata fotografi menyempit ke fungsinya yang kedua. Beberapa definisi lahir yang justru menekankan fotografi lebih berfungsi sebagai pencipta karya seni saja, contohnya : fotografi adalah seni melukis dengan cahaya.

Pandangan seperti ini melahirkan golongan eksklusif yang lebih menekankan unsur seni dalam fotografi. Golongan yang terkadang juga menjadi "chauvinistis" dan tidak bisa menerima pandangan orang lain. Mereka kerap menyebutkan bahwa gelar "fotografer" hanya layak diberikan kepada mereka yang bekerja keras menghasilkan foto yang berseni dan enak dilihat saja,

Baca Juga :

Padahal, sebenarnya para seniman fotografi ini sebenarnya tidak berbeda dan sebenarnya kalah banyak jumlahnya dibandingkan mereka yang menggunakan kamera sebagai alat dokumentasi saja, apalagi di zaman smartphone sudah menjadi barang umum.
Read More

Saturday, November 18, 2017

Memotret Di Kala Senja Itu Memang Menyenangkan


Ada alasan mengapa senja hari, sekitar pukul 16.00 -18.00 dimasukkan dalam kategori Golden Hours atau Waktu Emas dalam fotografi.

Bukan karena pada saat itu banyak emas batangan yang bisa ditemukan, tetapi karena suasananya akan sangat mendukung bagi seorang fotografer untuk menghasilkan foto yang bagus dan enak dilihat.

Senja hari akan menyediakan :

1. Sinar matahari yang kunig keemasan menjelang terbenamnya
2. Sinar matahari tidak mulai "melemah", tidak lagi terlalu kuat memancar dan mempengaruhi warna
3. Datangnya kegelapan menambahkan suasana romantis dan misteri ke dalam foto
4. Hawa juga tidak terlalu panas sehingga fotografer juga tidak kepanasan dan bisa berkonsentrasi penuh pada memotret daripada menghindar dari sengaran matahari

Apalagi jika memotretnya di pantai, seperti Pantai Nusa Dua Bali yang terkenal dengan keindahannya. Hasilnya, setidaknya bisa membuat puas hati si pemotretnya, dan setidaknya mendapatkan jempol kalau hasilnya dishare di media sosial.

Coba saja kawan kalau tidak percaya.


Read More

[JANGAN HERAN] Setiap Foto Bisa Dinilai Baik dan Buruk Pada Saat Bersamaan

Jangan heran. Bahkan, kalimat yang tepat adalah jangan pernah merasa heran tentang hal yang satu ini. Semua foto, setiap foto akan selalu bisa dinilai baik dan buruk pada saat yang bersamaan.

Hal itu cenderung selalu terjadi dan berlaku bagi setiap karya foto yang dihasilkan fotografer manapun. Tidak ada kecuali.

Fotografi, karena sifatnya yang lebih mendekati seni, akan selalu berkaitan dengan yang namanya "selera". Masalahnya, selera setiap orang akan berbeda satu dengan yang lain.

Seorang penggemar fotografer dengan "selera" terhadap keindahan alam, tentunya akan sulit mengerti dan menemukan keindahan dari karya-karya yang dihasilkan para penggemar fotografer jalanan. Begitu juga sebaliknya.


Hal itu akan berpengaruh terhadap penilaian seseorang terhadap hasil karya foto yang manapun. Tidak terkecuali foto-foto hasil jepretan fotografer terkenal. Masih tetap ada kemungkinan karya-karya mereka mendapat kritik atau cercaan dari siapapun.

Tentu saja, seorang fotografer berhak mengatakan hasil karyanya sebagai sudah bagus, baik, bahkan "WOOW". Itu haknya. Bahkan, akan sangat aneh ketika seorang fotografer mencela dan menganggap jelek hasil karyanya sendiri. Kalau ia melakukan hal itu, untuk apa ia memamerkan hasil karyanya.

Tidak masalah dan memang seorang pemotret harus juga melakukan "penilaian" berdasarkan standar yang dimilikinya sebagai patokan, apakah sebuah karya layak atau tidak dipertontonkan kepada orang lain.

Wajar saja.

Hanya, ia harus juga menyadari bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang sifatnya mutlak. Yang melihat fotonya juga memiliki hak untuk menjatuhkan penilaian, sesuai dengan standar yang mereka miliki.

Itulah mengapa fotografi disebut oleh Eric Kim , seorang fotografer jalanan terkenal berdarah Amerika-Korea, pernah mengatakan bahwa fotografi adalah seni yang paling demokratis. Pada dasarnya semua seni memang harus demikian.

Jadi, tidak perlu diperdebatkan perbedaan antara penilaian antar siapapun. Hal itu wajar terjadi dan akan selalu terjadi.

Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap fotografer. Penilaian yang buruk tidak seharusnya membuat kita menjadi minder dan rendah diri karena gagal memuaskan orang lain. Penilaian baik tidak perlu menjadi alasan untuk terlalu berbangga.

Yang terpenting bagi seorang fotografer untuk terus berkreasi, mencoba, berusaha, dan berjuang untuk menjadi lebih baik lagi.

Iya nggak, Kawan?
Read More

Thursday, September 21, 2017

Perhatikan Pakaian atau Busana Yang Dipakai Model Untuk Foto Bertema Cinta

Mungkin hanya perasaan atau opini saja. Tetapi, kalau melihat kebiasaan para fotografer yang bergelut di dunia pra-wedding dan wedding, hal itu tidak salah.

Pernahkah Anda melihat pasangan (calon) pengantin yang mengenakan gaun kotak-kotak? Jarang sekali kan?

Bukan tanpa alasan sebenarnya karena corak pakaian atau busana yang dipakai model foto bertema cinta-cinta-an memberikan pengaruh pada hasil fotonya. Untuk itulah mengapa kebanyakan pengantin akan mengenakan busana berwarna polos, alias satu warna saja.


Gaun atau pakaian berwarna tunggal akan membuat mudah bagi yang melihat menemukan fokus utamanya. Juga, warna polos membuat obyek lebih menonjol bahkan ketika sekitarnya penuh warna.

Cobalah bandingkan dengan pakaian bercorak, dan warna-warni pula. Komposisi warnanya menjadi terlalu banyak warna dan saling berebut perhatian. Ujungnya, model fotonya sendiri menjadi kurang menonjol dibandingkan bahkan latar belakangnya. Padahal, ketika memotret obyek itulah yang seharusnya menjadi bagian yang paling menonjol dan mendapat sorotan utama.

Oleh karena itu, sebaiknya, kalau memang bertujuan untuk komersial, seorang fotografer harus mampu berdiskusi dengan obyeknya. Ia harus mampu mengarahkan tentang busana apa yang baik atau tidak dipergunakan untuk foto yang akan mengabadikan cinta mereka.

Toh, itu dilakukan untuk kebaikan mereka sendiri.

Bagaimana kalau mereka menolak? Yah, mau bagaimana lagi, tetapi setidaknya mereka harus juga memahami bahwa busana/pakaian berpengaruh cukup besar dalam sebuah foto.


Read More

Wednesday, September 20, 2017

Contoh Foto Yang Diambil Menggunakan Sudut Pemotretan Bird Eye Level


Mendengar istilah sudut pemotretan "bird eye level" (level mata burung) terasa agak rumit kalau tidak diberikan contoh. Bagaimanapun, manusia memang tidak diberikan sayap seperti burung sehingga mereka hanya bisa mengandaikan.

Foto di atas mungkin bisa memberikan gambaran tentang bagaimana hasil sebuah foto yang diambil menggunakan sudut pemotretan "Bird Eye Level".

Bukan berarti si pemotretnya terbang tetapi sudut ini biasanya dilakukan dari sebuah tempat yang tinggi dan kamera menghadap ke arah bawah. Hasilnya biasanya berupa sebuah hamparan luas dari landscape yang ada di bawahnya.

Karena itulah, biasanya sudut ini dipakai oleh para penggemar landscape dan pemandangan.

Hasilnya, di tangan seorang landscaper kawakan bisa membuat mulut yang melihat melongi saking takjubnya.

Dengan hadirnya drone, maka sudut pengambilan gambar seperti ini lebih dipermudah karena pada dasarnya sebuah drone berkamera bisa mewakili manusia mengambil dari posisi seekor burung yang sedang terbang.
Read More

[Foto] Bermain di Pantai : Apakah Foto ini Termasuk Fotografi Jalanan?


Entahlah apakah sebuah foto di pantai termasuk dalam fotografi jalanan atau bukan. Jika mengikuti definisi asal genre fotografi cetusan Henri Cartier Bresson bahwa fotografi jalanan adalah tentang memotret di ruang publik, seharusnya foto yang diambil di pantai termasuk dalam genre ini.

Tetapi, para landscaper tentunya berargumen bahwa mayoritas foto di pantai kebanyakan adalah keindahan pemandangan alam, dan tidak menekankan pada manusia atau obyeknya. Jadi, seharusnya masuk dalam wilayah genre mereka.

Penganut genre human interest bisa juga mengklaim bahwa foto di pantai masuk dalam kategori genre mereka. Apalagi kalau obyeknya difokus dengan close up dan mempertontonkan emosi di dalamnya. Iya kan?

Pada akhirnya saya tidak peduli termasuk dalam genre apakah foto di pantai seperti yang di atas. Yang paling penting adalah saya menyukai memotret di pantai dan mengabadikan kegembiraan keluarga, teman, sahabat, bahkan orang tidak dikenal saat berada disana.

Rasanya hal itu lebih baik dan menarik daripada sekedar membahas teori-teori genre. Biarkan sajalah mereka para pemikir yang berdebat panjang lebar. Tidak ada manfaatnya berdebat tentang itu selain memuaskan ego saja.
Read More

Tuesday, September 19, 2017

Selera Setiap Orang Berbeda


Memang fakta yang tidak terbantahkan. Selera setiap orang berbeda, walau terkadang sama. Hal seperti itu adalah kodrat dari manusia.

Begitupun dalam fotografi.

Seorang penggemar fotografi lanskap dan pemandangan, kadang akan sulit memahami mengapa fotografer jalanan gemar memotret manusia yang sedang berjalan atau bermain dengan anjingnya. Seorang penyuka foto model cantik ala studio, bisa jadi tidak merasa nyaman melihat foto "nenek-nenek peyot" ala genre human interest.

Hal itu normal karena memang selera orang tidak akan sama bahkan dalam menilai sebuah foto.

Tetapi, semua hal itu tidak berarti bahwa selera fotograif lanskap lebih baik dari fotografi jalanan. Foto model akan lebih enak dilihat daripada foto si nenek peyot.

Tidak. Tidak bisa diterjemahkan seperti itu.

Terjemahan dari semua itu hanyalah satu hal, bahwa selera orang berbeda-beda.

Itu saja. Tidak kurang tidak lebih.

Read More

Saturday, September 16, 2017

Yang Orang LIhat Dari Sebuah Foto Bukanlah Kenyataan Melainkan Perwujudan Ide Yang Ada di Kepala Sang Fotografer


Berbeda dengan pandangan banyak orang, yang berpandangan bahwa sebuah foto adalah perwakilan dari apa yang terjadi di dunia nyata, secara filosofis tidak demikian.

Sebuah foto hanyalah sebuah fragmen atau bagian kecil dari apa yang benar-benar terjadi di alam nyata. Benda ini hanya merupakan rekaman sesaat dari jutaan dan milyaran "saat" yang hadir di depan sang fotografer. Juga, foto hanyalah sebuah pandangan dari salah satu dari jutaan sudut pandang yang bisa dipilih oleh pemotretnya.

Hal itu masih ditambah dengan sesuatu yang merupakan inti dari sebuah foto, yaitu IDE. Di dalam benak seorang fotografer, sebelum ia menekan tombol shutter akan hadir sebuah kilasan tentang apa yang ingin dia sampaikan kepada mereka yang akan melihat fotonya.

Pesan apa yang ingin disampaikannya. Ide apa yang ia ingin orang lain tahu.

Sang fotografer kemudian memilih dari sekian banyak obyek, jutaan sudut pandang, dan satu saat dari tak terhingga "saat" yang ada yang dianggapnya mewakili idenya.

Jika belum puas, maka sang fotografer akan memoles foto tersebut dengan software yang akan memastikan bahwa foto yang disampaikannya benar-benar sesuai dengan kemauannya.

Jadi, kalau dilihat dari sudut sini, tidak ada foto yang benar-benar mewakili apa yang terjadi di dunia nyata.

Sebuah foto lebih kepada perwakilan dari ide yang ada di kepala fotografernya.
Read More

[Foto] Menjemur Pakaian di Jembatan Gantung


Entah. Tidak terbayang sebelumnya bahwa sebuah jembatan gantung dipergunakan sebagai tiang jemuran. Tetapi, rupanya, di salah satu sudut kota hujan, Bogor, ada sebagian masyarakat yang rupanya secara rutin memakai batang-batang besi sebuah jembatan gantung untuk mengeringkan baju, celana, hingga pakaian dalam.

Bukan masalah benar atau salah. Bukan pula masalah sesuai aturan atau tidak. Kamera tidak dibuat untuk menjabarkan atau menjatuhkan vonis terkait hal itu.

Kamera hanyalah alat untuk merekam. Dan, saya pemegang kameranya memutuskan untuk menceritakan kepada dunia bahwa ada sebuah kebiasaan, di salah satu sudut bagian dunia ini, dimana jembatan gantung ternyata dapat memiliki fungsi dan manfaat lain selain untuk orang menyeberang.

Fungsinya adalah sebagai tempat atau tiang jemuran.

Itu saja. Kalau mau diinterpretasikan lain pun, ya monggo.

Read More

Friday, September 15, 2017

Foto Lampu Ini Menunjukkan Saya Kecanduan Memotret


Nama blog ini adalah Maniak Potret. Nama itu diambil bukan tanpa dasar. Maniak adalah kata yang merujuk seseorang yang sangat menyukai bahkan dalam level yang berlebihan. Lebih dekat ke kata tergila-gila.

Dan memang benar begitu adanya.

Sejak mengenal dunia fotografi, saya memang seperti kecanduan memotret. Hal itu dilakukan bukan hanya saat Canon 700D ada di tangan, bahkan ketika hanya ada ASUS T00N (smartphone) pun, saya tidak bisa berhenti memotret.

Apapun yang saya anggap menarik.

Foto lampu ini memang hasil karya seorang yang tidak bisa lepas dari hal memotret itu tadi. Di kala teman-teman sedang ngobrol dan makan, perhatian dan tangan saya justru sibuk mencari sudut untuk memotret dan mencoba menghasilkan sebuah foto yang bagus dari lampu penerangan di restoran Bumi Aki Bogor ini.

Hasilnya? Yah.. tidak akan mengundang wow, tetapi bukan itu yang dicari. Ada rasa gembira tersendiri saat melakukannya. Dan itulah yang saya inginkan.

Tapi juga tidak dilarang kalau ada yang mau berkomentar bagus atau jelek pun. Tidak menjadi sebuah masalah.
Read More

Bisakah Anda Menghasilkan Foto Seperti Ini Dengan Kamera Depan Smartphone?


Pertanyaan : Bisakah Anda menghasilkan foto seperti ini (foto di atas) dengan kamera depan smartphone?

Kemungkinan besar tidak. Sembilan puluh sembilan persen jawabannya adalah TIDAK. Satu persen harus selalu disediakan karena "keberuntungan" dan "kebetulan" dan yang pasti Kuasa Dari Yang Maha Esa harus selalu mendapatkan tempat dalam perhitungan.

Tetapi, secara perhitungan, seseorang tidak akan bisa menghasilkan foto seperti di atas dengan mengandalkan kamera depan smartphone. O ya foto di atas dibuat dengan smartphone lawas Asus T00N saja, tentunya dengan kamera belakang.

Mengapa tidak bisa?

1. Karena yang memotret harus menjaga agar garis horison tetap lurus untuk menghasilkan foto lanskap yang bagus

2. Yang memotret juga harus tahu menempatkan posisi obyek agar sesuai dengan Rule of Thirds

3. Kalau memakai kamera depan, biasanya yang memotret sedang melakukan selfie. Kalau sudah melakukan selfie, otomatis perhatiannya tidak akan tertuju pada yang lain selain dirinya sendiri.

Alasan nomor 1 dan 2 mungkin bisa dibantah dengan berbagai excuse atau alasan. Tetapi, yang nomor 3 tidak bisa.

Fungsi kamera depan memang diciptakan agar mereka yang gemar memotret diri sendiri bisa melakukannya dengan mudah. Fungsinya memang diciptakan untuk mengembangkan bakat narsis dalam diri setiap orang.

Jadi, tentu saja kamera depan tidak akan bisa menghasilkan foto seperti di atas, seberapapun besar megapixel-nya karena pada saat dipakai, disitu terkandung niat yang berbeda.  Pada saat kamera depan smartphone dipergunakan, yang ada adalah niat untuk memamerkan diri sendiri dan bukan memamerkan ide, pemikiran, atau hal lain.

Yang memotret hanya ingin orang memotret fisik dirinya saja dan bukan apa yang ada di pikirannya.

Jadi, jangan harap ada foto seperti di atas dihasilkan oleh mereka yang terlalu sibuk memamerkan dirinya sendiri. Foto di atas dihasilkan oleh mereka yang mau meluangkan waktu untuk bercerita selain dirinya sendiri.

Tabik!


Read More