September 2017 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Thursday, September 21, 2017

Perhatikan Pakaian atau Busana Yang Dipakai Model Untuk Foto Bertema Cinta

Mungkin hanya perasaan atau opini saja. Tetapi, kalau melihat kebiasaan para fotografer yang bergelut di dunia pra-wedding dan wedding, hal itu tidak salah.

Pernahkah Anda melihat pasangan (calon) pengantin yang mengenakan gaun kotak-kotak? Jarang sekali kan?

Bukan tanpa alasan sebenarnya karena corak pakaian atau busana yang dipakai model foto bertema cinta-cinta-an memberikan pengaruh pada hasil fotonya. Untuk itulah mengapa kebanyakan pengantin akan mengenakan busana berwarna polos, alias satu warna saja.


Gaun atau pakaian berwarna tunggal akan membuat mudah bagi yang melihat menemukan fokus utamanya. Juga, warna polos membuat obyek lebih menonjol bahkan ketika sekitarnya penuh warna.

Cobalah bandingkan dengan pakaian bercorak, dan warna-warni pula. Komposisi warnanya menjadi terlalu banyak warna dan saling berebut perhatian. Ujungnya, model fotonya sendiri menjadi kurang menonjol dibandingkan bahkan latar belakangnya. Padahal, ketika memotret obyek itulah yang seharusnya menjadi bagian yang paling menonjol dan mendapat sorotan utama.

Oleh karena itu, sebaiknya, kalau memang bertujuan untuk komersial, seorang fotografer harus mampu berdiskusi dengan obyeknya. Ia harus mampu mengarahkan tentang busana apa yang baik atau tidak dipergunakan untuk foto yang akan mengabadikan cinta mereka.

Toh, itu dilakukan untuk kebaikan mereka sendiri.

Bagaimana kalau mereka menolak? Yah, mau bagaimana lagi, tetapi setidaknya mereka harus juga memahami bahwa busana/pakaian berpengaruh cukup besar dalam sebuah foto.


Read More

Wednesday, September 20, 2017

Contoh Foto Yang Diambil Menggunakan Sudut Pemotretan Bird Eye Level


Mendengar istilah sudut pemotretan "bird eye level" (level mata burung) terasa agak rumit kalau tidak diberikan contoh. Bagaimanapun, manusia memang tidak diberikan sayap seperti burung sehingga mereka hanya bisa mengandaikan.

Foto di atas mungkin bisa memberikan gambaran tentang bagaimana hasil sebuah foto yang diambil menggunakan sudut pemotretan "Bird Eye Level".

Bukan berarti si pemotretnya terbang tetapi sudut ini biasanya dilakukan dari sebuah tempat yang tinggi dan kamera menghadap ke arah bawah. Hasilnya biasanya berupa sebuah hamparan luas dari landscape yang ada di bawahnya.

Karena itulah, biasanya sudut ini dipakai oleh para penggemar landscape dan pemandangan.

Hasilnya, di tangan seorang landscaper kawakan bisa membuat mulut yang melihat melongi saking takjubnya.

Dengan hadirnya drone, maka sudut pengambilan gambar seperti ini lebih dipermudah karena pada dasarnya sebuah drone berkamera bisa mewakili manusia mengambil dari posisi seekor burung yang sedang terbang.
Read More

[Foto] Bermain di Pantai : Apakah Foto ini Termasuk Fotografi Jalanan?


Entahlah apakah sebuah foto di pantai termasuk dalam fotografi jalanan atau bukan. Jika mengikuti definisi asal genre fotografi cetusan Henri Cartier Bresson bahwa fotografi jalanan adalah tentang memotret di ruang publik, seharusnya foto yang diambil di pantai termasuk dalam genre ini.

Tetapi, para landscaper tentunya berargumen bahwa mayoritas foto di pantai kebanyakan adalah keindahan pemandangan alam, dan tidak menekankan pada manusia atau obyeknya. Jadi, seharusnya masuk dalam wilayah genre mereka.

Penganut genre human interest bisa juga mengklaim bahwa foto di pantai masuk dalam kategori genre mereka. Apalagi kalau obyeknya difokus dengan close up dan mempertontonkan emosi di dalamnya. Iya kan?

Pada akhirnya saya tidak peduli termasuk dalam genre apakah foto di pantai seperti yang di atas. Yang paling penting adalah saya menyukai memotret di pantai dan mengabadikan kegembiraan keluarga, teman, sahabat, bahkan orang tidak dikenal saat berada disana.

Rasanya hal itu lebih baik dan menarik daripada sekedar membahas teori-teori genre. Biarkan sajalah mereka para pemikir yang berdebat panjang lebar. Tidak ada manfaatnya berdebat tentang itu selain memuaskan ego saja.
Read More

Tuesday, September 19, 2017

Selera Setiap Orang Berbeda


Memang fakta yang tidak terbantahkan. Selera setiap orang berbeda, walau terkadang sama. Hal seperti itu adalah kodrat dari manusia.

Begitupun dalam fotografi.

Seorang penggemar fotografi lanskap dan pemandangan, kadang akan sulit memahami mengapa fotografer jalanan gemar memotret manusia yang sedang berjalan atau bermain dengan anjingnya. Seorang penyuka foto model cantik ala studio, bisa jadi tidak merasa nyaman melihat foto "nenek-nenek peyot" ala genre human interest.

Hal itu normal karena memang selera orang tidak akan sama bahkan dalam menilai sebuah foto.

Tetapi, semua hal itu tidak berarti bahwa selera fotograif lanskap lebih baik dari fotografi jalanan. Foto model akan lebih enak dilihat daripada foto si nenek peyot.

Tidak. Tidak bisa diterjemahkan seperti itu.

Terjemahan dari semua itu hanyalah satu hal, bahwa selera orang berbeda-beda.

Itu saja. Tidak kurang tidak lebih.

Read More

Saturday, September 16, 2017

Yang Orang LIhat Dari Sebuah Foto Bukanlah Kenyataan Melainkan Perwujudan Ide Yang Ada di Kepala Sang Fotografer


Berbeda dengan pandangan banyak orang, yang berpandangan bahwa sebuah foto adalah perwakilan dari apa yang terjadi di dunia nyata, secara filosofis tidak demikian.

Sebuah foto hanyalah sebuah fragmen atau bagian kecil dari apa yang benar-benar terjadi di alam nyata. Benda ini hanya merupakan rekaman sesaat dari jutaan dan milyaran "saat" yang hadir di depan sang fotografer. Juga, foto hanyalah sebuah pandangan dari salah satu dari jutaan sudut pandang yang bisa dipilih oleh pemotretnya.

Hal itu masih ditambah dengan sesuatu yang merupakan inti dari sebuah foto, yaitu IDE. Di dalam benak seorang fotografer, sebelum ia menekan tombol shutter akan hadir sebuah kilasan tentang apa yang ingin dia sampaikan kepada mereka yang akan melihat fotonya.

Pesan apa yang ingin disampaikannya. Ide apa yang ia ingin orang lain tahu.

Sang fotografer kemudian memilih dari sekian banyak obyek, jutaan sudut pandang, dan satu saat dari tak terhingga "saat" yang ada yang dianggapnya mewakili idenya.

Jika belum puas, maka sang fotografer akan memoles foto tersebut dengan software yang akan memastikan bahwa foto yang disampaikannya benar-benar sesuai dengan kemauannya.

Jadi, kalau dilihat dari sudut sini, tidak ada foto yang benar-benar mewakili apa yang terjadi di dunia nyata.

Sebuah foto lebih kepada perwakilan dari ide yang ada di kepala fotografernya.
Read More

[Foto] Menjemur Pakaian di Jembatan Gantung


Entah. Tidak terbayang sebelumnya bahwa sebuah jembatan gantung dipergunakan sebagai tiang jemuran. Tetapi, rupanya, di salah satu sudut kota hujan, Bogor, ada sebagian masyarakat yang rupanya secara rutin memakai batang-batang besi sebuah jembatan gantung untuk mengeringkan baju, celana, hingga pakaian dalam.

Bukan masalah benar atau salah. Bukan pula masalah sesuai aturan atau tidak. Kamera tidak dibuat untuk menjabarkan atau menjatuhkan vonis terkait hal itu.

Kamera hanyalah alat untuk merekam. Dan, saya pemegang kameranya memutuskan untuk menceritakan kepada dunia bahwa ada sebuah kebiasaan, di salah satu sudut bagian dunia ini, dimana jembatan gantung ternyata dapat memiliki fungsi dan manfaat lain selain untuk orang menyeberang.

Fungsinya adalah sebagai tempat atau tiang jemuran.

Itu saja. Kalau mau diinterpretasikan lain pun, ya monggo.

Read More

Friday, September 15, 2017

Foto Lampu Ini Menunjukkan Saya Kecanduan Memotret


Nama blog ini adalah Maniak Potret. Nama itu diambil bukan tanpa dasar. Maniak adalah kata yang merujuk seseorang yang sangat menyukai bahkan dalam level yang berlebihan. Lebih dekat ke kata tergila-gila.

Dan memang benar begitu adanya.

Sejak mengenal dunia fotografi, saya memang seperti kecanduan memotret. Hal itu dilakukan bukan hanya saat Canon 700D ada di tangan, bahkan ketika hanya ada ASUS T00N (smartphone) pun, saya tidak bisa berhenti memotret.

Apapun yang saya anggap menarik.

Foto lampu ini memang hasil karya seorang yang tidak bisa lepas dari hal memotret itu tadi. Di kala teman-teman sedang ngobrol dan makan, perhatian dan tangan saya justru sibuk mencari sudut untuk memotret dan mencoba menghasilkan sebuah foto yang bagus dari lampu penerangan di restoran Bumi Aki Bogor ini.

Hasilnya? Yah.. tidak akan mengundang wow, tetapi bukan itu yang dicari. Ada rasa gembira tersendiri saat melakukannya. Dan itulah yang saya inginkan.

Tapi juga tidak dilarang kalau ada yang mau berkomentar bagus atau jelek pun. Tidak menjadi sebuah masalah.
Read More

Bisakah Anda Menghasilkan Foto Seperti Ini Dengan Kamera Depan Smartphone?


Pertanyaan : Bisakah Anda menghasilkan foto seperti ini (foto di atas) dengan kamera depan smartphone?

Kemungkinan besar tidak. Sembilan puluh sembilan persen jawabannya adalah TIDAK. Satu persen harus selalu disediakan karena "keberuntungan" dan "kebetulan" dan yang pasti Kuasa Dari Yang Maha Esa harus selalu mendapatkan tempat dalam perhitungan.

Tetapi, secara perhitungan, seseorang tidak akan bisa menghasilkan foto seperti di atas dengan mengandalkan kamera depan smartphone. O ya foto di atas dibuat dengan smartphone lawas Asus T00N saja, tentunya dengan kamera belakang.

Mengapa tidak bisa?

1. Karena yang memotret harus menjaga agar garis horison tetap lurus untuk menghasilkan foto lanskap yang bagus

2. Yang memotret juga harus tahu menempatkan posisi obyek agar sesuai dengan Rule of Thirds

3. Kalau memakai kamera depan, biasanya yang memotret sedang melakukan selfie. Kalau sudah melakukan selfie, otomatis perhatiannya tidak akan tertuju pada yang lain selain dirinya sendiri.

Alasan nomor 1 dan 2 mungkin bisa dibantah dengan berbagai excuse atau alasan. Tetapi, yang nomor 3 tidak bisa.

Fungsi kamera depan memang diciptakan agar mereka yang gemar memotret diri sendiri bisa melakukannya dengan mudah. Fungsinya memang diciptakan untuk mengembangkan bakat narsis dalam diri setiap orang.

Jadi, tentu saja kamera depan tidak akan bisa menghasilkan foto seperti di atas, seberapapun besar megapixel-nya karena pada saat dipakai, disitu terkandung niat yang berbeda.  Pada saat kamera depan smartphone dipergunakan, yang ada adalah niat untuk memamerkan diri sendiri dan bukan memamerkan ide, pemikiran, atau hal lain.

Yang memotret hanya ingin orang memotret fisik dirinya saja dan bukan apa yang ada di pikirannya.

Jadi, jangan harap ada foto seperti di atas dihasilkan oleh mereka yang terlalu sibuk memamerkan dirinya sendiri. Foto di atas dihasilkan oleh mereka yang mau meluangkan waktu untuk bercerita selain dirinya sendiri.

Tabik!


Read More