Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

[JANGAN HERAN] Setiap Foto Bisa Dinilai Baik dan Buruk Pada Saat Bersamaan

Jangan heran. Bahkan, kalimat yang tepat adalah jangan pernah merasa heran tentang hal yang satu ini. Semua foto, setiap foto akan selalu bisa dinilai baik dan buruk pada saat yang bersamaan.

Hal itu cenderung selalu terjadi dan berlaku bagi setiap karya foto yang dihasilkan fotografer manapun. Tidak ada kecuali.

Fotografi, karena sifatnya yang lebih mendekati seni, akan selalu berkaitan dengan yang namanya "selera". Masalahnya, selera setiap orang akan berbeda satu dengan yang lain.

Seorang penggemar fotografer dengan "selera" terhadap keindahan alam, tentunya akan sulit mengerti dan menemukan keindahan dari karya-karya yang dihasilkan para penggemar fotografer jalanan. Begitu juga sebaliknya.


Hal itu akan berpengaruh terhadap penilaian seseorang terhadap hasil karya foto yang manapun. Tidak terkecuali foto-foto hasil jepretan fotografer terkenal. Masih tetap ada kemungkinan karya-karya mereka mendapat kritik atau cercaan dari siapapun.

Tentu saja, seorang fotografer berhak mengatakan hasil karyanya sebagai sudah bagus, baik, bahkan "WOOW". Itu haknya. Bahkan, akan sangat aneh ketika seorang fotografer mencela dan menganggap jelek hasil karyanya sendiri. Kalau ia melakukan hal itu, untuk apa ia memamerkan hasil karyanya.

Tidak masalah dan memang seorang pemotret harus juga melakukan "penilaian" berdasarkan standar yang dimilikinya sebagai patokan, apakah sebuah karya layak atau tidak dipertontonkan kepada orang lain.

Wajar saja.

Hanya, ia harus juga menyadari bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang sifatnya mutlak. Yang melihat fotonya juga memiliki hak untuk menjatuhkan penilaian, sesuai dengan standar yang mereka miliki.

Itulah mengapa fotografi disebut oleh Eric Kim , seorang fotografer jalanan terkenal berdarah Amerika-Korea, pernah mengatakan bahwa fotografi adalah seni yang paling demokratis. Pada dasarnya semua seni memang harus demikian.

Jadi, tidak perlu diperdebatkan perbedaan antara penilaian antar siapapun. Hal itu wajar terjadi dan akan selalu terjadi.

Hal ini perlu diperhatikan oleh setiap fotografer. Penilaian yang buruk tidak seharusnya membuat kita menjadi minder dan rendah diri karena gagal memuaskan orang lain. Penilaian baik tidak perlu menjadi alasan untuk terlalu berbangga.

Yang terpenting bagi seorang fotografer untuk terus berkreasi, mencoba, berusaha, dan berjuang untuk menjadi lebih baik lagi.

Iya nggak, Kawan?

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?