2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Monday, December 24, 2018

Fotografi Seni Yang Mengutamakan Hasil

Fotografi Seni Yang Mengutamakan Hasil
Pantai Kartini Rembang 2018

Mungkin akan banyak yang tidak setuju dengan pandangan ini. Tetapi, faktanya di lapangan memang menunjukkan bahwa fotografi adalah seni yang mengutamakan hasil.

Coba saja sendiri kalau tidak percaya. Apa kira-kira yang akan ditanyakan orang pada saat melihat sebuah foto yang bagus? Akankah mereka bertanya dengan kamera apa dibuatnya? Mungkinkah mereka bertanya siapa yang mengambil foto tersebut?

Kemungkinan besar biasanya mereka hanya akan melihat foto, memuji kalau fotonya bagus dan berlalu kalau fotonya buruk. Barulah setelah itu, jika fotonya dianggap bagus,  pertanyaan lanjutan terkait dengan jenis kamera dan nama fotografernya yang ditanyakan. Itupun kalau tidak diselingi pertanyaan "Dimana foto itu diambil?" keluar dari mulut mereka.

Masyarakat awam tidak memikirkan sang pemotret sebagai bagian penting selama hasil fotonya bagus dan enak dilihat, semua sudah cukup.

Kalaupun ada yang bertanya, biasanya dari kalangan fotografer sendiri yang ingin mengetahui hal-hal terkait alat dan pembuatan fotonya.


Selama hasilnya bagus dan memukau, meski dibuat dengan kamera smartphone sekalipun, masyarakat akan bertindak adil. Mereka akan memuji. Bahkan, mereka tidak peduli kalaupun fotografernya adalah seorang yang baru belajar memotret atau bahkan anak kecil sekalipun.

Bagus adalah bagus. Jelek adalah jelek.

Itulah mengapa Eric Kim, seorang fotografer jalanan terkenal asal Amerika Serikat, mengatakan fotografi adalah seni yang sangat demokratis. Kesetaraan antar fotografer bukan dilihat dari nama tenarnya, tetapi dari produk (foto) yang dihasilkannya.
Read More

Sunday, December 23, 2018

Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model


Fotografer itu termasuk spesies yang aneh bin unik. Kehidupannya sulit dilepaskan dari yang namanya kamera dan sering membuat foto. Memang, itulah salah satu "fungsi" fotografer dalam kehidupan.

Tetapi, cobalah bertanya kepada kebanyakan fotografer, apakah mereka memiliki banyak foto tentang diri sendiri? Kemungkinan besar jawabannya, "Ada tetapi tidak banyak".

Memang, memotret diri sendiri tidak mudah. Meskipun banyak kamera sudah diperlengkapi vari-angle, atau layar LCD yang bisa diputar 180 derajat, tetapi kebanyakan fotografer menydari bahwa hasilnya sulit menjadi bagus.

Kalaupun harus meminta bantuan orang lain untuk memotret dirinya, banyak yang tidak cukup yakin bahwa hasilnya akan sama dengan kalau dia yang memotret. Sudah biasa kalangan pemotret ini berseloroh menunjukkan perbandingan hasil foto kalau mereka yang memotret dan kalau orang lain yang melakukan.

Hasilnya biasanya seperti bumi dan langit. Foto yang mereka buat biasanya bagus dan enak dilihat, tetapi foto yang dilakukan orang lain terkadang bikin geleng-geleng kepala. Sering buram. Tidak fokus.

Jadi, mungkin karena itulah terkadang kaum fotografer enggan berdiri di depan kamera.

Termasuk saya. Yang meski tidak bisa disebut fotografer, tetapi bolehlah disebut penggemar fotografi.

Malas rasanya harus berdiri di depan kamera dan menjadi model foto apapun.

Rasanya sama sekali tidak mengasyikkan melakukan hal itu. Lebih menyenangkan dan exciting berada di belakang kamera, mengintip dari viewfinder, mengatur setting, dan kemudian menekan tombol shutter.

Ada deg-degan saat melihat hasilnya. Apakah akan bagus atau tidak. Fokus tepat atau melenceng. Dan, sejenisnya.

Jadi, tidak sebanding rasanya. Ada perbedaan yang jauh sekali antara berada di depan dan di belakang kamera. Yang terakhir lebih menyenangkan.

Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model

Dan, masalahnya disitu hadir. Dalam kehidupan, seorang fotografer juga seorang manusia, seorang bapak, seorang anak, seorang suami. Mereka harus tetap berinteraksi dengan manusia lainnya.

Terkadang, suami, anak, istri atau teman berharap memiliki kenangan dalam bentuk foto yang menunjukkan kebersamaan mereka. Alasan untuk itu beragam tetapi intinya punya foto bersama.

Terjadilah kontra antara rasa "malas" dan "keharusan" itu.

Kalau tidak dituruti, suasana menjadi tidak enak. Terutama kalau yang meminta adalah pasangan hidup. Efeknya bisa panjang dan beragam, mulai dari manyun selama 1 minggu, sampai tidak dimaskin selama 1 bulan.

Repot ujungnya.

Nah, peristiwa seperti ini terulang baru-baru ini. Si kribo cilik, kelas dua SMA sekarang, ternyata mewarisi hobi bapaknya bergelut dalam dunia potret memotret. Bisa dikata dia sudah menjadi fotografer juga.

Jeleknya, ternyata adatnya sama juga dan terkena sindrom "malas menjadi model" dan lebih suka memotret model. Berada di belakang kamera sesuatu hal yang lebih disukainya dibandingkan berpose di depan.

Susahnya, kebiasaannya itu membuat ibunya manyun. Ia ingin mendapatkan foto anaknya yang katanya semakin ganteng dan keren. Hasilnya, muka si kribo cilik ngeyel dan tetap berkeras tidak mau difoto.

Apalagi saat itu sedang dalam perjalanan ke Semarang dan Rembang untuk berjalan-jalan. Tentunya, ibunya si kribo ingin punya foto dari anaknya selama berada disana.

Ruwet dah.

Barulah, setelah bapaknya turun tangan memberi komando dan keputusan dan kemudian membisikkan resiko kalau tidak mau difoto, si kribo cilik mau berpose di alun-alun Rembang ini. Sambil tetap cemberut dan manyun, tetapi setidaknya ibunya senyum melihat hasil foto anak semata wayangnya ini.

Yah, saya menyadari dua sisi tadi. Sisi ibunya yang bangga dengan anaknya, dan sisi seorang fotografer yang malas berdiri di depan kamera dan menjadi model.

Butuh sedikit kreatifitas dan "penjelasan" untuk bisa memaksa sesama fotografer berpose. Penjelasannya tentang resiko tidak dibuatkan sarapan, tidak dicucikan baju seragamnya, dan yang paling menakutkan jatah jajan bulanannya dipangkas.



Read More

Saturday, December 22, 2018

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Ada satu hal yang paling mudah ditemukan di Indonesia. Dimanapun yang seperti ini akan terlihat. Namanya adalah rendahnya kesadaran manusia akan kelestarian lingkungan.

Berbagai bukti dan tanda akan hal itu mudah ditemukan, terutama di tempat-tempat wisata.

Salah satunya bisa ditemukan dalam bentuk sampah botol plastik yang berserakan di pasir sepanjang Taman Pantai Kartini. Botol-botol kosong yang susah terurai secara alami itu terlihat bergelimpangan di tepi pantai saat airnya surut.

Padahal, kotornya sebuah pantai pada akhirnya akan membawa dampak negatif juga bagi sebuah lokasi wisata. Para wisatawan tentunya tidak akan merasa nyaman berada di sebuah kawasan yang tidak terjaga kebersihannya.

Mereka datang biasanya karena ingin menikmati keindahan dan bermain di alam. Tidak ada yang suka berada di lingkungan yang kotor seperti ini.

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Read More

Friday, December 14, 2018

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja dengan fotografi digital di masa sekarang.

Pernahkah Anda melihat aliran air yang menyerupai kapas dalam kehidupan nyata? Kemungkinan besar tidak sama sekali. Tetapi, hal itu bisa dilihat dalam foto-foto karya fotografer yang menggunakan teknik "long exposure" (atau membuka diafragma dalam waktu yang lama). Buih-buih air bertumpuk sehingga menjadi seperti kapas.

Atau teknik bokeh yang membuat latar belakang menjadi blur, atau kabur. Pernahkah hal itu terlihat dalam kehidupan nyata? Jawabnya tidak. Belum lagi kalau ditambahkan teknik bubling yang membuat cahaya menjadi seperti "garis warna yang memanjang.

Aliran air berbentuk seperti aliran kapas, latar belakang yang sangat blur, semua tidak ada di dunia nyata. Adanya di benak sang fotografer dan kemudian diterjemahkan ke dalam fotonya.

Di masa lalu, hal itu sulit dilakukan karena keterbatasan fitur dan peralatan untuk melakukannya. Coba saja bandingkan dengan kamera pertama yang dibuat. Hal ini sama sekali tidak bisa dilakukan. Kamera awalnya hanya berfungsi membuat rekaman momen saja.

Tetapi, saat ini, bahkan seorang pemegang kamera yang tidak terlalu mahir sekalipun bisa melakukannya. Banyak fitur otomatis yang bisa membuat kamera melahirkan foto seperti ini, foto yang mencerminkan ide daripada apa yang benar-benar terlihat.


Kamera tidak lagi hanya sebagai alat untuk merekam suatu momen tertentu saja. Perangkat ini berkembang menjadi sebuah alat yang bisa menerjemahkan apa yang dibayangkan oleh pemegangnya.

Tidak berbeda dengan kuas dan kanvas bagi pelukis.

Tambahkan lagi dengan hadirnya berbagai aplikasi pengedit citra yang bisa merubah apapun sesuai dengan kemauan operatornya. Hal ini memastikan bahwa jarak pemisah antara fotografi dan seni lukis menjadi semakin dekat.

Fotografi menjadi semakin mendekati definisi filosofisnya, yaitu "melukis dengan cahaya". Padahal melukis sendiri merupakan kegiatan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari seni lukis.
Read More

Friday, November 30, 2018

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Sampah, sebuah kata yang berarti benda-benda yang dianggap tidak berguna bagi seseorang dan kemudian dibuang. Kotoran bisa menjadi sinonimnya.

Cuma, pandangan itu sifatnya relatif. Di tangan orang yang tepat, maksudnya yang tahu cara memanfaatkannya, sampah bisa berubah menjadi banyak hal. Kerajinan tangan adalah salah satu bentuknya.

Hal itu juga berlaku dalam fotografi.

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Omong kosong? Jangan dulu berpikir bahwa pandangan itu sebuah omong kosong.

Dalam sebuah masyarakat dimana tingkat kesadaran terhadap lingkungannya masih teramat sangat rendah, sampah bisa menjadi sebuah obyek yang bisa menggerakkan "rasa" dalam diri manusia. Dan, inti dari sebuah foto yang menarik adalah bisa menggerakkan emosi dan rasa dalam diri manusia.

Iya kan? Teorinya sih begitu.


Tetapi, yang paling penting dan diharapkan dari penggunaan sampah dalam fotografi adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran yang melihat terhadap hal yang lebih penting daripada sebuah foto yang indah.

Namanya, kesadaran terhadap lingkungan hidup, yang jelas lebih berpengaruh langsung kepada kehidupan manusia sekarang dan di masa depan.

Jadi, masih bisa dikatakan sampah tidak berguna dalam fotografi?
Read More

Monday, November 26, 2018

Menyiksa Kamera Bukan Berarti Banting Kamera

Menyiksa Kamera Bukan Berarti Banting Kamera

Pernah dengar istilah "menyiksa" kamera? Mungkin kalau Anda sering berjalan-jalan ke blog-blog yang membahas fotografi, pastilah sekali dua istilah ini akan mampir ke telinga (atau mata). Istilah ini adalah sesuatu yang sering dipergunakan untuk menggambarkan sebuah tindakan.

Tindakan yang "ekstrim". Istilah yang dipakai saja terkesan kejam.

Tetapi, stop dulu. Jangan membayangkan bahwa yang dilakukan adalah benar-benar ekstrim atau sesuatu yang mengakibatkan rusaknya kamera, seperti membantingnya atau merendamnya dalam air. Istilah ini jauh dari usaha merusak.

Frase "menyiksa kamera' pada intinya adalah sebuah tindakan dari seorang fotografer untuk memakai kameranya pada titik yang paling ekstrim.

Setiap kamera memiliki batasan. Coba saja lihat buku manualnya. Contohnya, shutter speed atau kecepatan shutter biasanya dibatasi. Tergantung dari jenisnya, seperti Canon EOS 700D yang sampai 30 detik.

Nah, salah satu contoh "menyiksa kamera" adalah dengan menggunakan shutter speed "sangat lamban", yaitu pada titik 30 detik. Bisa bayangkan? Karena berarti diafragma/aperture akan terbuka selama 1/2 menit. Padahal, biasanya hanya di bawah 1 detik. Tentunya kalau ini dilakukan harus menggunakan tripod.

Titik maksimum yang diizinkan kamera.

Untuk apa dilakukan? Tentu saja melakukan hal yang lumayan ekstrim seperti itu tanpa ada tujuan. Para fotografer menggunakan teknik-teknik itu untuk mencoba menghasilkan foto-foto yang unik dan berbeda dari yang lain.

Maklum saja persaingan di dunia fotografi pun sama kerasnya seperti persaingan dunia bisnis. Oleh karena itu, para fotografer pun terus berusaha untuk menampilkan foto-foto yang "berbeda" dibandingkan yang lain. Dengan itulah maka nama mereka bisa terangkat.

Jadi, itulah tujuannya. Jangan pernah bayangkan ada adegan teatrikal yang dilakukan oleh seorang fotografer kalau ia menyebutkan istilah "menyiksa kamera".

Beberapa istilah lain yang berkaitan dengan istilah ini contohnya adalah "long exposure" atau "bulbing". Keduanya membutuhkan bukaan shutter yang lama. 

Justru jika mereka mengatakan yang satu ini, bersiaplah untuk melihat sebuah foto yang akan menimbulkan kesan berbeda dari yang lain. Karena, fotonya dibuat dengan memakai setting paling maksimal yang mampu ditangani sebuah kamera.


Bukan sesuatu yang saya suka lakukan. Bukan karena tidak bisa dan tidak mengerti. Tentu saya bisa. Sayangnya, bukan teknik yang saya sukai karena hasil fotonya kerap menjadi terlalu artificial dan tidak natural, sesuatu yang kurang menarik minat saya.

Maklum, saya penggemar fotografi jalanan yang mengandalkan sisi natural kehidupan manusia.

Jadi, saya jarang menyiksa kamera (bukan tidak pernah).
Read More

Sunday, November 25, 2018

Pengganggu Saat Memotret #1 : Mobil Dan Klaksonnya

Pengganggu Saat Memotret #1 : Mobil Dan Klaksonnya

Memotret itu sama saja dengan banyak pekerjaan lainnya, butuh fokus dan konsentrasi. Berlaku untuk pemegang kamera dan juga modelnya. Kurangnya Aqua..eh konsentrasi jelas akan membuat hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Dan, masalahnya, ketika memotret di jalanan atau tempat wisata, gangguan itu sering hadir tanpa disangka-sangka.

Seperti contohnya beberapa waktu lalu, saat iseng bersama kawan lama mencoba melakukan beberapa sesi pemotretan di Kebun Raya Bogor.

Tentunya, untuk menghindari gangguan, dipilih lah tempat yang diperkirakan sesepi mungkin dimana orang tidak banyak lalu lalang, di sekitar Taman Meksiko. Tepatnya di jalan yang melintas salah satu taman tematik di kebun botani pertama di Asia Tenggara itu.

Sepi memang.

Tetapi, saya lupa, bahwa mobil diperkenankan berlalu lalang di dalam kebun raya itu. Dan, tidak menyangka ketika kamrea sudah terarah, dan sang model sudah bergaya. Sebuah mobil muncul dan klaksonnya berbunyi.

Hasilnya, ya sang model terkejut dan langsung bergerak. Pada saat bersamaan, jari saya menekan shutter release.

Cuma bisa nyengir saja melihat hasilnya. Jelek? May be tetapi jadi agak lucu melihat ekspresi modelnya yang terekam dalam kamera.

Itulah yang menjadikan sebuah pengalaman saat melakukan sesi pemotretan. Perhatikan bukan saja model, perlengkapan, atau setting kamera.

Pelajari juga situasi sekitar dan kebiasaannya. Hal itu untuk meminimalkan gangguan yang bisa merusak konsentrasi semua orang.

Meskipun demikian, mungkin saya setengah berharap kalau gangguan terduga itu bisa terulang. Karena dengan begitu bisa mendapatkan foto yang "lucu" dan benar-benar natural dari ekspresi model yang terkejut.

Lebih menarik sebenarnya daripada versi resminya.

Lucu.
Read More

Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain

Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain

Bagus dan jelek adalah dua hal yang berkaitan dengan selera. Begitu juga indah dan buruk. Semuanya akan tergantung pada standar nilai yang dimiliki seseorang.

Masalahnya, setiap orang berbeda dan pada ujungnya penilaian mereka terkait kedua kata itu, bagus dan jelek, juga akan selalu berbeda satu orang dengan yang lain.

Pengalaman beberapa waktu lalu membuktikan sekali kebenaran pandangan tentang hal tersebut. Sesuatu yang bagus menurut kita, belum tentu bagus menurut orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Di Kebun Raya Bogor, bersama dengan teman lama, ada satu bagian yang memang lumayan unik sebagai tempat untuk berfoto. Bentuknya sebuah gerbang bambu sepanjang 10 meteran.

Masalahnya, sepengetahuan saya, yang sudah cukup lama bermain dengan kamera dan memotret cukup banyak, justru tempat tersebut secara teknis tidak bagus. Sinar matahari yang masuk melalui celah bambunya tidak merata dan bayangan gelap rentan menutupi obyeknya.

Tetapi, ia merasa sangat ingin dibuatkan foto disana.

Jadilah, untuk menyenangkan hatinya, saya lakukan beberapa shoot.

Hasilnya bisa diduga. Bayangan gelap menutupi wajahnya, sehingga sulit dikenali. Begitu juga dengan warnanya. Semua menjadi serba gelap.

Kemudian saya tunjukkan foto tersebut kepadanya. Sambil menjelaskan bahwa fotonya tidak bagus karena kurang jelas.

Herannya! Justru dia berkata, "Ah bagus kok!" Dan, ia meminta untuk hasil foto dikirimkan kepadanya karena dia akan menyimpannya dan memasangnya di akun media sosial miliknya.

Bingung? Sempat lah. Bagaimana hasil yang seperti ini disebut bagus? Sampai akhirnya saya menyadari bahwa pengetahuan saya tentang "bagus" dan "jelek" berbeda.

Tentu saja, sebagai orang yang sudah terbiasa bergaul dengan kamera, saya menganggapnya jelek karena masalah obyek yang tidak jelas dan banyak hal lainnya. Tetapi, sang kawan lama tidak memiliki pengetahuan yang sama dengan saya tentang standar dalam fotografi. Ia tidak tahu apa yang namanya Rule of Thirds, Kompoisi Warna.

Yang ia tahu adalah hasil foto seperti itu enak dilihat dan dia belum bisa menghasilkan foto yang sama.

Jadi, standarnya berbeda.

Mungkin suatu waktu, ketika ia sudah belajar lebih lama, mungkin ia akan menemukan mengapa foto tersebut dikategorikan jelek. Mungkin yah.

Tetapi, yang terpenting saat itu, bagi saya adalah setidaknya foto tersebut sudah membuat senang orang lain.

Prinsipnya kan, selama yang difoto (pelanggan) senang, ya saya ikut senang. Meski hati tidak puas dan agak geli. Tetapi, itulah kenyataannya bahwa saya harus menerima bahwa sesuatu yang jelek menurut saya, bisa jadi dianggap bagus oleh orang lain, atau sebaliknya.

Semua adalah masalah selera.

Read More

Thursday, November 22, 2018

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Hayo....pernahkah terbayangkan dalam benak Anda tentang hal ini? Apa yang harus diajarkan kepada orang yang baru pertama kali belajar fotografi/

Maksudnya bukan orang yang tidak pernah memotret sama sekali karena di zaman sekarang dengan adanya smartphone, hampir pasti mereka pernah memotret. Cuma dalam hal ini mereka sangat awam mengenai teknik fotografi dan biasanya hanya asal jepret saja.

Nah, kemudian karena mereka tertarik, mereka ingin coba belajar lebih lanjut.

Kepada orang yang seperti ini, materi pelajaran apa yang sesuai? Apakah tentang Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)? Ataukah mengenai Segitiga Fotografi, Aperture-Shutter Speed-ISO? Mungkinkah Bokeh? Ataukah komposisi?

Yah, dulu saya juga bingung. Banyak tetangga menganggap saya sebagai fotografer beneran, padahal hanya amatiran belaka. Tidak jarang mereka minta diajarkan bagaimana contohnya memotret dengan baik dan benar.

Bingung.

Masalahnya adalah mayoritas dari mereka sama sekali buta terhadap apa itu fotografi. Bahkan, tidak jarang mereka tidak mengetahui bahwa dalam smartphone sekalipun ada banyak fitur fotografi yang bisa dipergunakan. 

Janganlah berbicara terlalu jauh tentang komposisi warna, seringnya mereka tidak tahu fungsi GRID pada kamera, mengaktifkannya saja tidak mengerti.

Lalu, apa yang harus diajarkan?

Tentunya, harus yang sederhana. Tetapi, juga harus bisa menunjukkan sesuatu yang "berbeda". Mudah diingat. Tidak terlalu teoretis karena pasti mereka akan ternganga, bengong. Bukan karena kagum, tetapi karena tidak mengerti.

Jadi, benar-benar sesuatu yang amat sangat sederhana.

Sempat pusing juga memikirkan yang seperti ini.

Untungnya, pada akhirnya ketemu juga jawabannya. Sesuatu yang jelas pasti akan bisa dilakukan tanpa peralatan tambahan apa-apa. Tidak juga butuh banyak penjelasan dalam kalimat-kalimat panjang. Tidak perlu bahkan mengatur kameranya.


Semua tidak memerlukan keterampilan dan pengetahuan tambahan lain. Yang penting pelajaran ini mudah diingat dan bahkan bisa dilakukan sendiri tanpa bahkan bimbingan orang lain.

Yang saya ajarkan pertama kali adalah tentang "SUDUT PENGAMBILAN FOTO SAJA". Tentunya, tidak secara teoretis bahwa ada "Bird Eye Level", "Frog Eye Level", dan sejenisnya. Yang seperti itu terlalu teoretis.

Saya hanya meminta mereka memegang kamera, yang biasanya smartphone saja pada posisi yang biasa mereka lakukan saat memotret. Sejajar dengan mata dan pada posisi berdiri.

Kemudian, saya minta mereka berjongkok dan merendahkan tangan. Atau, meminta mereka mundur, berpindah ke samping, atau bahkan dari belakang.

Itu saja.

Pada setiap posisi, saya minta mereka melakukan satu jepretan.

Setelah semua posisi yang diminta dilakukan, kemudian saya minta mereka membandingkan hasilnya. Kesan apa yang mereka tangkap dari masing-masing foto. Mana yang menurut mereka lebih baik dan enak dilihat.

Biasanya, alih-alih memilih salah satu, mereka berkomentar, "Ohh, ternyata hasil kalau dari bawah lebih enak dilihat yah" atau "Beda yah hasilnya kalau dari samping?"

Dan, itulah tujuannya.

Mayoritas orang terbiasa memotret sambil berdiri dan sejajar dengan mata saja. Jarang yang mau bergerak dan mencoba dari sudut-sudut lainnya. Oleh karena itu biasanya hasilnya, ya begitu begitu saja.

Dengan mengajarkan hal seperti ini, mereka bisa mengerti bahwa sebuah foto akan berbeda kalau diambil dari sudut yang berbeda. Tidak sama. Kesan yang dihasilkan juga akan berbeda meski obyeknya sama.

Oleh karena itu, mereka tidak seharusnya statis dan terpaku pada satu cara saja. Mereka harus mau mencoba dari berbagai sudut lainnya. Karena, kemungkinan hasilnya banyak sekali.

Barulah setelah itu saya akan menjelaskan secara singkat bahwa fotografi adalah tentang kreatifitas dengan memanfaatkan sudut pandang. Jadi, seorang pemotret harus mau berusaha mencari sudut pandang terbaik menurutnya, sesuai dengan selera.

Baik buruknya, enak tidaknya , sebuah foto dilihat kerap tergantung pada kemauan fotografernya bergerak dan mencari angle yang bagus.

Itulah pelajaran pertama yang selalu saya ajarkan kepada mereka yang baru pertama kali belajar fotografi.

Bagaimana dengan Anda?


Read More

Monday, November 19, 2018

Warna Cerah Memisahkan Obyek Foto Dari Latar Belakang

Pernah membayangkan efek dari warna baju yang dipergunakan bisa menentukan hasil foto? Mungkin tidak pernah, tetapi sebagai seorang penggemar fotografi, hal itu adalah selalu yang saya sarankan ketika hendak memotret dengan obyek manusia.

Itu juga pesan yang saya sampaikan kepada dua model yang berbeda. Yang pertama seorang sepupu yang hendak melakukan prewedding dan kedua teman lama yang kebetulan ingin belajar fotografi.

"Pakai warna baju yang cerah, yah!", pesan saya. Hal itu karena lokasi pemotretan sudah terbayang, yaitu Hutan CIFOR dan Kebun Raya Bogor. Meski tempat yang berbeda, tetapi keduanya memiliki background yang kurang lebih sama, yaitu POHON, dan banyak.

Jadi, sudah terbayangkan kalau warna dominan pada latar belakang adalah hijau, yang termasuk kategori "cool color" atau warna tenang/menenangkan.

Rupanya keduanya tidak mengikuti saran tersebut. Keduanya memakai warna yang tidak begitu cerah. Yang satu Navy atau biru tua dan yang satunya Maroon, merah tetapi gelap. Keduanya sama-sama kurang cerah.

Bagaimana dengan hasilnya.

Silakan lihat di bawah ini.

Warna Cerah Memisahkan Obyek Foto Dari Latar Belakang
Prewedding di hutan CIFOR
Iseng Motret di Kenun Raya Bogor
Terus terang hasil foto prewedding menunjukkan bahwa warna kostum menentukan. Warna navy menyebabkan obyek utamanya menjadi "berbaur" dengan latar belakang, meski warnanya berbeda.

Obyek utamanya tidak menonjol. Mendem istilahnya. Kurang tampil dalam foto.

Foto kedua lebih baik, meski warna merahnya kurang menyala, tetapi secara keseluruhan, hasil fotonya jauh lebih enak dilihat. Obyek utamanya tetap terpisah dan lebih menonjol dari latar belakangnya.

Salah satu penyebabnya adalah warna navy termasuk dalam warna menenangkan juga, sedangkan merah termasuk dalam warna aktif.

Sebuah foto yang baik, menurut teori fotografi adalah perpaduan antara warna aktif dan warna tenang. Keduanya bisa ditukar tempatnya, tetapi saya lebih menyukai obyek utama "aktif" dan background "cool color".

Dalam foto prewedding yang terjadi adalah "cool + cool". Hasilnya tidak maksimal. Obyek utama tidak menonjol dan agak tenggelam.

Untuk foto yang di KRB, obyek utama tetap menonjol, walau tidak secerah yang diharapkan. Ia tetap terpisah dari latar belakangnya.

Oleh karena itu secara keseluruhan foto yang kedua lebih enak dilihat.

Iya tidak?

Nah, sebagai tambahan, jika Anda ingin berwisata kemanapun, ada baiknya mengenakan pakaian berwarna cerah/aktif, seperti merah, kuning, biru cerah, atau bahkan oranye. Kesemua warna itu termasuk warna aktif.

Dan, biasanya warna-warna di tempat wisata adalah warna lembut dan termasuk cool color, seperti hijau, biru, abu-abu.

Jadi, kalau kemudian hendak membuat foto (pasti dong kalau berwisata), paling tidak secara komposisi warna, sudah tersedia dua kategori yang diperlukan. Hasil fotonya biasanya lebih enak dilihat (tidak berarti semua yah) dan obyek/subyeknya akan menonjol dan terpisah dari latar belakangnya. Kontrasnya lebih bagus.

Silakan coba.
Read More

Sunday, November 18, 2018

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik
Model Tri Trisdiyanti

Pernahkah kita menyadari bahwa ada sebuah generalisasi, atau gebyah uyah, penyamarataan tertanam dalam benak manusia? Terutama yang berkaitan dengan kata "cantik".

Generalisasi itu tertuang dalam kata muda = cantik, tua = jelek.

Kalau tidak percaya, coba saja sendiri ketika kata tua terdengar, lalu apa yang terbayang? Keriput, peyot, tidak lagi segar, dan tentunya semua itu berakhir pada kata jelek. Minimal "tidak cantik".

Sebaliknya kalau kata muda yang terdengar, bukankah yang terbayang di kepala adalah muda, bertubuh sintal, berkulit mulus, dan segala sesuatu yang berujung pada kata cantik.

Iya kan? Beranikah Anda mengakui hal itu?

Tetapi, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian. Cantik itu adalah kata yang relatif dan tidak melulu berhubungan dengan usia seseorang.

Dan, si Canon 700D mengatakan itu kepada saya lewat hasil-hasilnya.

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik

Seorang kawan lama semasa SMA dulu ikut hadir ketika seorang kawan lama yang lain ingin belajar memotret. Ia bersedia menjadi modelnya.

Usianya, sama seperti saya, 48 tahun. Maklum kami lulusan tahun 1989, hampir 30 tahun yang lalu.

Dan, walaupun tidak lagi muda, tetapi ternyata hasil-hasil fotonya tidak mengecewakan. Bahkan, kalau dilihat fotonya, sangat bisa jadi orang akan mengira modelnya sebagai orang yang jauh lebih muda dan bukan wanita yang mendekati usia kepala 5.

Silakan lihat saja setidaknya dua dari hasil jepretan selama berada di Kebun Raya Bogor beberapa hari yang lalu.

Pengalaman yang kembali mengatakan bahwa tua tidak sama dengan jelek. Tua juga bisa cantik dan enak dilihat, meskipun tanpa sentuhan Photoshop sedikitpun.

Semua akan tergantung pada bagaimana seorang fotografer bisa menemukan sudut yang tepat dan kemudian bisa memperlihatkan sisi kecantikan di usia yang tidak lagi muda. (Tentunya, dengan bantuan alam dan kondisi pemotretan, dan rasanya senam atau yoga yang dilakukan modelnya.)

Iya nggak sih?

Read More

Sunday, October 28, 2018

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat


Bisa disebut sebagai prediksi, bisa disebut sebagai sebuah kenyataan juga, karena pada dasarnya persaingan antar fotografer bayaran sudah semakin ketat. Tetapi, dalam beberapa tahun ke depan, tingkat persaingannya akan menjadi lebih keras dibandingkan saat ini.

Coba perhatikan saja di kota dimana Anda tinggal dan kemudian hitung berapa studio foto yang masih bertahan . Di kota dimana saya  tinggal, Bogor, hal itu sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan. Beberapa studio foto sudah terpaksa menutup gerai mereka. Yang tersisa hanya satu dua saja.

Jangan tanya nasib studio foto yang mengkhususkan diri pada pembuatan pas foto untuk dokumen. Kategori yang ini sudah mendekati kepunahan.

Hal itu menunjukkan prinsip "Yang kuat yang menang" pun mulai memperlihatkan hasilnya.

Mungkin bukanlah sesuatu yang mengherankan sebenarnya. Seharusnya juga harus sudah bisa diprediksi sejak lama oleh para fotografer bayaran, baik yang mempunyai studio atau tidak. Ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi situasi pasar fotografer bayaran, seperti

1. Semakin murahnya harga kamera

Yah, bisa dikata hampir semua orang sekarang memiliki kamera, meski mayoritas memilikinya dalam bentuk kamera smartphone. Tetapi, di tangan setiap orang, sekarang paling tidak ada 2 kamera (smartphone memiliki 2 kamera, depan dan belakang).

Jika di zaman dulu, saat orang hendak memiliki foto dirinya sendiri, ia harus pergi ke studio foto, hal itu tidak perlu dilakukan lagi. Ia cukup menggunakan smartphone-nya saja untuk memotret dirinya sendiri dalam berbagai pose.

Otomatis permintaan jasa fotografer bayaran menurun drastis. Mereka tergantikan oleh kebiasaan yang dikenal dengan selfie.

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat

2. Perkembangan Teknologi

Pernah melihat bagaimana orang membuat pas foto sekarang? Kalau untuk SIM (Surat Ijin Mengemudi) atau KTP, hal itu sudah dilakukan di tempat perekaman data. Tidak lagi seperti dulu dimana yang mengajukan harus membuat pas foto dulu dan membawa cetakannya ke kelurahan. Pemotretan dilakukan di tempat oleh petugasnya.

Nah, nasib pengelola studio foto yang berfokus pada pembuatan pas foto seperti ini memburuk. Pelanggan mereka direbut oleh pihak lain.

Juga, jangan bayangkan untuk dokumen lain orang masih pergi ke studio foto. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa seorang yang membutuhkan pas foto untuk ijasah, mereka tidak pergi ke studio foto.

Kemana mereka pergi?

Mereka pergi ke tempat fotokopi dengan membawa sebuah foto yang sudah dicetak. Kemudian, mereka meminta pengelola fotokopi untuk menscan dan kemudian mengedit latar belakang fotonya. Barulah kemudian dicetak. Tidak sedikit yang membawa flash disk berisi data untuk minta dicetak dan diedit.

Lagi-lagi pangsa pasar pas foto sudah hilang.

Perkembangan teknologi lah yang paling bertanggungjawab terhadap hal yang ini. Jika dulu hanya sedikit orang yang bisa melakukan, sekarang semua orang dari semua kalangan bisa dengan mudah melakukannya.

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat

3. Pesaing Semakin Banyak

Sadarkah Anda bahwa harga kamera semakin terjangkau? Yap, kenyataannya begitu. sebuah kamera DSLR kelas entry level saja harganya tidak begitu jauh bedar dari UMR (Upah Minimum Regional) di Jakarta.

Semakin terjangkau karena para produsennya pun berebut pasaran.

Dan, ini membawa dampak jumlah fotografer meningkat dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pesat sekali hal itu ditunjukkan dengan peningkatan penjualam kamera berbagai jenis (di luar smartphone) yang terus memperlihatkan grafik menaik.

Efeknya, semakin banyak orang yang menggeluti fotografi. Berbeda dengan di masa lalu, dimana harga kamera terasa sangat mahal dan hanya mereka yang memiliki uang lumayan banyak saja yang mau membeli kamera.


Batasan berupa harga sudah hampir hilang dan sekarang semua orang bisa ikut serta.

Ditambah lagi dengan kemampuan memotret masyarakat awam yang terus membaik dari hari ke hari. Hal itu ditunjang dengan penyebaran ilmu fotografi yang juga semakin mudah didapat. Semua orang bisa belajar dan bahkan tanpa bantuan dari orang lain.

Setelah kemampuan mereka dirasa cukup, seperti biasa orang akan mulai berpikir bagaimana menghasilkan uang dari skill yang mereka kuasai. Normal kan? Jadi suplai fotografer pun semakin banyak, dan akan terus bertambah setiap tahunnya.

Pasar yang mengecil.

Pesaing yang bertambah.

Kemudahan mendapat alat.

Semua berperan dalam meningkatkan persaingan antar fotografer bayaran di masa sekarang. Dan, hampir pasti akan berperan membuat tingkat kompetisi di dunia ini semakin tinggi.

Ini situasi yang harus dihadapi setiap fotografer yang ingin menghasilkan uang dari skillnya yah. Situasinya tidak berlaku bagi fotografer yang menekuni fotografi karena suka atau hobi. Kalangan fotografer kategori ini tahan banting karena tidak ada persaingan dalam hal hobi.

Sebuah situasi yang perlu dipikirkan oleh siapapun yang berpikir untuk terjun menjadi fotografer bayaran. Bukan situasi yang mudah.

Tidak berarti tidak ada peluang tetapi medannya akan semakin rumit dan keras di masa datang.

Kalau memang Anda mau, pertimbangkan baik-baik dan persiapkan strategi yang matang. Tanpa itu, rasanya sulit untuk bisa survive di dunia fotografer bayaran.


Read More

Friday, October 26, 2018

Perhatikan Jarak Saat Menggunakan Flash (Lampu Kilat)

Perhatikan Jarak Saat Menggunakan Flash (Lampu Kilat)

Flash atau lampu kilat merupakan fitur yang sangat membantu saat memotret, terutama dalam situasi dimana cahaya kurang. Alat ini merupakan sumber cahaya tambahan untuk menerangi obyek yang akan difoto.

Tetapi, ada satu hal penting, yang kerap juga terlupakan saat menggunakan alat yang satu ini, yaitu JARAK. Maksudnya, jarak antara kamera dengan obyeknya.

Seorang pemotret harus mengetahui posisi yang tepat agar keuntungan tidak berubah menjadi kerugian. Kesalahan dalam menentukan jarak bisa berakibat

1)  Mendapatkan hasil yang tak diinginkan


Kalau manusia yang menjadi obyeknya, mata obyek bisa terpejam . Sebuah hal normal karena refleks manusia adalah menutupi mata di kala ada kilatan sinar yang terlalu kuat. Dan, kalau jarak terlalu dekat, hasilnya cahaya yang menerpa menjadi berlebihan dan otomatis kelopak mata akan menutup untuk melindungi bola mata dari kerusakan

2)  Terlihat Tidak Natural

Terlalu dekat juga membuat obyeknya bisa terlihat terlalu terang dan tidak natural. Belum kalau obyeknya memakai kosmetik berlebihan atau berkeringat, cahayanya bisa memantul dari bagian yang terkena kilatan cahaya.

3)  Obyek gelap


Kalau jarak terlalu jauh, hasilnya obyeknya tetap kurang mendapat pencahayaan dan gelap. Tidak berbeda hasilnya dengan tanpa flash sekalipun.

Jadi, mau tidak mau seorang fotografer harus memahami karakter lampu flash yang dipergunakannya. Berapa jarak minimum dan maksimum. Selain itu juga, ia harus juga kreatif untuk mengakali kekurangan lampu kilatnya.

Sebuah flash built-in pada kamera biasanya mempunyai kekuatan sekitar 2-3 meter. Jadi, jarak yang terbaik adalah pada titik maksimumnya saat memotret, yaitu 3 meter , kalau kondisnya tanpa penerangan sama sekali. Kalau ada, tetapi kurang, jarak itu harus diperjauh lagi.
Read More

Thursday, October 25, 2018

Penggemar Fotografi Jalanan Kerap Menjadi Pusat Perhatian

Penggemar Fotografi Jalanan Kerap Menjadi Pusat Perhatian

Tidak bohong kok! Lagian, ngapain bohong. Dosa.

Kalau menjadi penggemar fotografi jalanan bisa membuat kita jadi pusat perhatian. Mata banyak orang akan melirik kalau kita lewat. Itu sedikit konklusi alias kesimpulan yang diambil selama 4 tahun menyusuri jalan, kerap tanpa tujuan, untuk istilah kerennya hunting foto. Berburu momen.

Cuma, jangan bayangkan perhatiannya seperti kalau seorang bintang film lewat. Juga lirikan mata yang didapat berbeda dibandingkan lirikan yang dihasilkan seorang cewek cantik berjalan.

Beda banget. Perhatian yang didapat cewek cantik biasanya lirikan mata nakal dan senyum di wajah banyak orang, Tapi, perhatian yang didapat seringkali berupa lirikan mata tajam dan muka dipasang garang. Curiga. Dan, tidak sedikit juga mimik wajah yang menandakan keheranan. Terutama kalau di tangan ada kamera DSLR atau Mirrorless.

Kadang kalau sedang beruntung disangka wartawan.

Rupanya, masih banyak orang yang belum mengerti kalau kamera sekarang harganya tidak terlalu mahal dan semakin terjangkau. Tidak sedikit yang belum tahu bahwa bukan cuma wartawan sekarang yang senang menyusuri jalan dan memotret orang tak dikenal.

Sebuah pertanda bahwa fotografi jalanan belum begitu akrab di telinga banyak anggota masyarakat. Masih butuh waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk mengerti kalau fotografi sekarang sudah menjadi milik semua kalangan, dan bukan hanya profesi tertentu saja.

Sayang.

Read More

Wednesday, October 24, 2018

Bagaimana Kalau Foto Anda Dianggap Jelek ?

Bagaimana Kalau Foto Anda Dianggap Jelek ?

Memang tidak pernah enak kalau sudah capek, mengorbankan waktu dan tenaga, baju basah keringat, ternyata kemudian hasil fotonya dianggap jelek. Apalagi kalau bahkan dilirik pun tidak. Memang tidak enak.

Tetapi, belajar dari pengalaman menekuni fotografi jalanan, yang kerap dianggap genrenya orang miskin, justru hal tersebut sebenarnya bagus buat seorang fotografer.

Kalau ada orang menyebut foto hasil karya kita jelek itu pertanda

  1. Orang itu peduli dan masih mau memberikan masukan/kritik
  2. Berarti didorong untuk terus belajar
  3. Tidak akan terlena dengan pujian

Iya kan? Sakit memang, tetapi biasanya seseorang akan belajar lebih banyak dari kegagalan daripada kesuksesan. Mereka bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kegagalan itu. Sementara kesuksesan cenderung menghambat perkembangan untuk mencapai kemajuan.

Itu sih pandangan dari orang yang memotret untuk iseng, dan mengisi blog saja. Mungkin akan berbeda kalau saya memotret untuk dibayar. Kalau klien itu mengatakan foto hasil jepretan saya jelek, berarti itu benar-benar buruk dan masalah akan segera datang dalam bentuk klaim.

Untung saya bukan fotografer bayaran.
Read More

Monday, October 22, 2018

Apa Modal Awal Untuk Belajar Fotografi ?

Apa Modal Awal Untuk Belajar Fotografi ?

Modal awal belajar fotografi itu tidak mahal sebenarnya. Cuma satu hal mutlak yang harus ada, yaitu KAMERA.

Kenapa? Karena tanpa itu maka tidak ada fotografi. Jadi, cuma itu saja syarat yang harus dipenuhi. Bisa nggak pakai kanvas dan cat air, kan hasilnya bisa sama indahnya? Ya tidak bisa. Nanti Anda akan belajar seni lukis dan fotografi.

Jangan berpikir bahwa kamera yang disediakan harus DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Tidak ada keharusan untuk itu, tetapi kalau Anda memang punya uang, ya beli saja..

Kalau tidak ada, ya pakai saja smartphone di tangan. Zaman sekarang, justru jarang menemukan ponsel tanpa kamera. Seberapapun kecilnya ukuran pixel yang dijanjikan, tetap saja itu kamera dan lebih bagus dibandingkan kamera Brownie produksi tahun 1901 yang hanya bisa menghasilkan foto 2 1/4 inci saja (3 centimeter saja)

Modal lainnya adalah

1. Niat : tanpa niat yang tidak akan ada yang bisa berjalan
2. Semangat : tanpa yang satu ini, biasanya proses belajarnya akan sebentar dan kemudian hilang
3. Mau belajar : namanya belajar, ya berarti harus siap mencari ilmu, bisa dari internet atau orang yang dikenal
4. Mau capek : tidak ada yang namanya belajar tanpa rasa capek. Hal itu pasti ada dalam proses belajar apapun

Bagaimana dengan obyek? Fotografi itu tentang menggali keindahan dari obyek apapun, Jadi, sebagai langkah awal pakai saja obyek yang ada dan tersedia di sekitar kita. Mau bunga, gadis tetangga cantik, atau bahkan kucing dan mobil pun bisa dijadikan obyek untuk belajar memotret.

Itu saja modal awal belajar fotografi.
Read More

Sunday, October 21, 2018

Rekaman Kehidupan Pinggir Sungai

Seharusnya, kita yang punya mesin cuci dan kamar mandi di rumah merasa bersyukur apa yang kita punyai. Fasilitas yang terkait sanitasi dan kebersihan hidup kita sudah terpenuhi.

Bersyukur karena rupanya di Indonesia sendiri masih banyak orang yang bahkan untuk merasakan kenikmatan memiliki privasi untuk hal pribadi saja belum bisa.

Rekaman kehidupan pinggir sungai di bawah ini adalah sedikit gambaran salah satu sisi kehidupan masyarakat Indonesia yang kadang tidak terlihat oleh kita. Dan, seharusnya membuat rasa syukur hadir meskipun kamar mandi di rumah tidak seberapa besar.

Rekaman Kehidupan Pinggir Sungai

foto kehidupan pinggir sungai ciliwung


Iya nggak?
Read More

Saturday, October 20, 2018

Template Untuk Blog Foto Itu Ternyata Susah Dicari

Template Untuk Blog Foto Itu Ternyata Susah Dicari

Jujur saja, kalau Anda merasa tidak nyaman melihat template di blog foto ini, saya akan maklum. Sebenarnya, rasanya masih kurang sreg memakai template yang sepertinya dibuat untuk menggunakan lebih banyak teks.

Idealnya, menurut saya, template blog foto itu harus bisa memberikan penekanan lebih pada fotonya dibandingkan teks. Kalau di blog biasa, teks adalah utama dan image sebagai pelengkap, seharusnya di blog foto harus dibalik. Foto atau image sebagai kunci dan teks pelengkap.

Sayangnya, setelah mencoba berbagai template, mulai yang gratisan sampai yang premium, hasilnya tetap tidak bisa memuaskan.

Hasilnya, ya sudah, pakai saja template yang ada.

Memang tidak nyaman sih, tetapi daripada harus terus mencari dan waktu terbuang hanya untuk membuat tampilan blog sesuai selera, maka yang ada saja yang dipakai.

Template ini bernama Viomagz, buatan seorang master blogging Indonesia, Mas Sugeng. Cari deh namanya via Google kalau memang mau.
Read More

Tuesday, October 16, 2018

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin? Makanya Fotografer Pun Harus Banyak Membaca

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin?
Model : Istri Sendiri
Terhenyak juga membaca sebuah tulisan di sebuah blog yang membahas fotografi. Kaget dan langsung lah dahi berkerut ketika membaca salah satu bagian yang menyebutkan bahwa salah satu alasan orang melakukan "street photography" atau fotografi jalanan adalah karena "minim peralatan".

Kata penulisnya seperti screenshoot di bawah ini.

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin?
Kaget juga membacanya. Di zaman dengan internet dimana-mana, masih saja ada orang yang tenggelam dalam kungkungan pemikiran bahwa "fotografi itu adalah tentang alat yang dipakai"/ Padahal, sudah ribuan tulisan dibuat para pakar bahwa fotografi itu lebih dari sekedar alat yang dipakai.

Tulisan itu seperti mengatakan bahwa fotografi jalanan adalah genre untuk orang miskin yang tidak punya peralatan. Mungkin yang dimaksud adalah seperti tripod, kamera mahal, filter, dan banyak lagi lainnya. Jadi fotografi jalanan adalah untuk orang yang baru saja punya kamera.

Mungkin dalam benak penulisnya ada gambaran ideal bahwa yang namanya fotografi adalah orang yang kemana-mana membawa lensa segede termos, tripod mahal, peralatan lighting, dan memotret model yang dibayar.

Jadi, fotografi jalanan yang memotret kehidupan orang di jalan dianggap sesuatu yang recehan saja.

Sedih saja mendengarnya.

Karena kenyataannya tidak demikian. Banyak nama terkenal seperti Henri Cartier Bresson, Eric Kim, Bruce Gilden bukanlah orang miskin. Mereka mempergunakan peralatan kamera yang harganya bahkan lebih mahal daripada yang mungkin dipunyai si penulis artikel ini. Nama-nama yang disebutkan di atas memakai kamera berlensa Leica yang harganya mahal sekali.

Bukan. Bukan hanya orang miskin yang menggemari fotografi jalanan. Banyak orang yang kaya dan punya uang banyak pun terjun ke dalamnya karena mereka menemukan passion-nya disana. Bukan karena mereka tidak mampu membeli peralatan mahal. Pastilah mereka mampu membeli banyak alat fotografi karena uang hasil menekuni fotografi jalanan yang mereka dapat lebih dari cukup.

Mereka mampu, tetapi mereka tetap memilih fotografi jalanan sebagai genre yang dianutnya.

Terasa konyol sekali membaca tulisan seperti itu mengingat bahwa ulasan mengenai nama-nama terkenal di genre yang merekam kehidupan orang di jalanan ini sudah banyak sekali ditulis. Parah sekali kalau masih beranggapan seperti itu.

Disinilah terlihat bahwa saran dari banyak fotografer terkenal, seperti "Buy books not gear" (Beli buku bukan alat) atau "Fotografer harus banyak membaca" terlihat kebenarannya. Berfokus pada alat dan kamera tanpa menambah pengetahuan hanyalah mempersempit sudut pandang seseorang. Pada, akhirnya, ia mengeluarkan pernyataan yang sebenarnya memperlihatkan ketidakluasan pengetahuannya.

Kalau saja ia mau membaca lebih, setidaknya tulisan-tulisan di internet terkait fotografi jalanan, tentunya ia tidak akan mengatakan bahwa fotografi jalanan dilakukan karena minim peralatan tambahan. Ia tidak akan berani mengklaim bahwa fotografi jalanan adalah genre untuk orang miskin yang tidak mampu membeli aneka peralatan fotografi saja.

Terus terang konyol sekali yang seperti itu.
Read More

Saturday, October 13, 2018

Untuk Menjadi Fotografer Pro Butuh Lebih Dari Sekedar Skill Memotret

Untuk Menjadi Fotografer Pro Butuh Lebih Dari Sekedar Skill Memotret
Istana Bogor dan Kolam Gunting, 2017
Sudah berapa ribu jam Anda habiskan untuk berlatih memotret dan menghasilkan karya yang memukau? 1000? 2000? atau 10000 jam? Bagaimana hasilnya, sudah bagus kah dan sudah mendapat berapa puluh ribu LIKE di Instagram? Berapa pengikut Anda? 100 ribu?

Nah, apakah setelah Anda sukses di semuanya itu, foto luar biasa bagus, ratusan ribu LIKE sudah dikantungi, dan ratusan ribu follower sudah diraup di media sosial, Anda sudah langsung menjadi fotografer pro (profesional)?

Jawabnya, BELUM. Dengan huruf besar.

Sama sekali belum. Anda tetaplah hanya fotografer amatir atau penggemar fotografi saja. Jauh sekali dari yang namanya fotografer profesional.

Yakin? Sangat yakin dalam hal ini. Meski kemampuan saya memotret pasti di bawah Anda, kalau sudah begitu, tetap Anda  belum menjadi fotografer pro.

Alasannya sederhana saja.

Pro atau profesional berasal dari kata profesi. Profesi sendiri adalah sebuah bidang pekerjaan yang ditujukan untuk menghasilkan "uang". Profesional berarti sudah memenuhi standar-standar yang ditetapkan oleh profesi terkait.

Jadi, walaupun Anda sudah berhasil menghasilkan foto yang memukau, jika hal itu dilakukan hanya sekedar untuk iseng dan pamer di media sosial, maka Anda bukanlah fotografer pro. Jauh dari itu.

Paling-paling Anda akan disebut "seperti" pro, tetapi sebenarnya bukan pro.

Berdasarkan titik tolak inilah, jika seseorang mau menjadi fotografer pro, maka ia butuh lebih dari sekedar kemampuan fotografinya. Jauh lebih banyak dari itu.

Seorang fotografer pro harus merubah tujuannya memotret menjadi penghasilan dan uang. Ia harus bisa memasarkan diri agar kemampuannya bisa terjual dan dirubah menjadi uang. Ia harus bisa menarik orang mau menggunakan jasanya. Ia harus mampu meyakinkan orang dan memenangkan kompetisi dari sesama fotografer pro.

Untuk itu ia butuh berbagai skill lain, seperti skill promosi, negosiasi, pemasaran, dan masih banyak lagi hal lainnya. Bukan hanya sekedar skill memotret saja.

Oleh karena itu, sebagus apapun foto yang dihasilkan, jika seseorang benar-benar berniat menjadi fotografer profesionak, maka ia juga harus mau belajar berbagai hal lain untuk melengkapi apa yang sudah ada.

Tanpa itu semua, maka ia hanyalah fotografer amatir saja.
Read More

Thursday, October 11, 2018

Beda Pelukis Dan Fotografer - Dalam Hal Titik Startnya

Beda Pelukis Dan Fotografer - Dalam Hal Obyeknya

Konyol yah terdengarnya. Anak kecil pun tahu beda pelukis dan fotografer. Yang pertama menggunakan kanvas dan kuas untuk menghasilkan karyanya. Yang terakhir menggunakan kamera. Hasil karyanya yang satu berupa lukisan dan yang lain berupa foto.

Belum ditambah dengan orangnya yang beda dan namanya juga beda. Jelaslah keduanya adalah hal yang berbeda.

Jadi, bolehlah kalau mau tertawa jika ditanya yang seperti ini.

Hanya, sebenarnya ada satu perbedaan mendasar, secara filosofi, yang membedakan dua profesi yang menghasilkan karya visual. Perbedaan inilah yang menghasilkan pendekatan yang bertolak belakang saat menghasilkan karyanya.

Ungkapan bernada filosofis ini dikemukakan oleh Darren Rowse, seorang blogger dan seorang fotografer juga. Ia memiliki dua buah blog sukses dalam kedua bidang itu. Yang satu Problogger yang membahas mengenai blogging/ngeblog dan yang satu lagi Digital photography School, tentunya di bidang potret memotret.

Ia mengatakan perbedaan mendasar dari pelukis dan fotografi ada pada titik awalnya. Penjelasannya, sebagai berikut : (intinya saja dan bukan kutipan langsung)

1. Pelukis memulai dari kanvas kosong dan kuas. Kemudian ia berkreasi memvisualisasikan apa yang ada di kepalanya ke dalam bentuk visual di atas kanvas itu. Hasilnya bisa sederhana bisa rumit. Bisa dikata pelukis memulai dari obyek yang tiada dan menjadikannya ada. Titik startnya ada di 0 alias tiada.

2. Fotografer, justru sebaliknya. Obyek yang dipergunakannya sudah ada dan bahkan sangat banyak. Yang dilakukannya untuk menghasilkan karya visualnya adalah membuatnya menjadi sesederhana mungkin. Ia harus bisa memilah dan membuang yang tidak perlu sampai bentuk yang sangat sederhana. Titik startnya 100.


Titik start antara keduanya berbeda jauh. Yang satu dimulai dari yang paling sederhana, alias tidak ada. Yang satu lagi memulai dari titik maksimum dan bergerak ke arah titik minimum.

Keduanya akan berhenti pada titik keseimbangan, yaitu ketika bentuk visual yang diinginkan hadir dan memberikan rasa puas hadir di dalam diri mereka.

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Bahkan sangat benar apa yang dikatakan si Darren Rowse. Memang begitulah adanya.

Oleh karena itulah hadir prinsip KISS dalam fotografi yang bermakna "Tetap Sederhana, Bodoh!". Dimana para fotografer didorong untuk menyederhanakan apa yang dilihatnya sesederhana mungkin.

Itulah beda pelukis dan fotografer.

Anda setuju boleh. Tidak pun tidak masalah. Bagaimanapun, apa yang dikatakan blogger dan fotografer sukses itu adalah opini dan bukan kebenaran mutlak. Tetapi, apa yang dikatakannya tidak melenceng dari fakta yang ada.


Read More

Monday, October 8, 2018

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!
Stasiun Gondangdia, 2017
Banyak orang yang berkeliling dengan kamera di tangan, paling tidak kamera smartphone, tapi tidak menghasilkan sebuah foto pun. Alasan klasiknya adalah karena mereka bingung mencari obyek foto yang bisa dijadikan sasaran.

Klasik. Entah sudah berapa puluh orang yang saya kenal mengemukakan alasan seperti itu. Kurang bisa diterima sebenarnya. Rasanya seharusnya hal itu tidak mungkin terjadi.

Kok bisa bingung, padahal Tuhan sudah menganugerahkan bumi beserta isinya untuk manusia. Di dalamnya ada paling tidak 6 milyar orang, entah berapa banyak tanaman, juga tidak terhitung bangunan, hewan, dan masih banyak benda lain yang tidak bisa disebutkan.

Dunia tidak selebar celana kolor.. eh daun kelor.

Luas sekali.

Jadi, jelas sekali tidak mungkin tidak ada obyek yang bisa dijadikan sasaran kamera. Yakin banget soal itu sih.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!
Cibinong City Mall, 2018
Tapi, kenyataannya, hal itu sering terjadi kan?

Salah satu penyebabnya adalah karena pikiran kebanyakan orang terbelenggu dengan pandangan bahwa

  1. obyek foto itu harus tempat yang indah-indah
  2. obyek foto itu harus wanita dan wanita cantik atau pria ganteng saja
Intinya obyek itu harus yang bagus-bagus saja. Barulah bisa dijadikan obyek. Makanya, biasanya orang berusaha terus mencari yang seperti ini di kala hendak memotret.

Padahal, fotografi tidak demikian adanya.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!

Keindahan atau kecantikan yang terlihat dalam foto, sebagian besar hadir bukan karena obyeknya. Hal-hal itu lahir dan diciptakan oleh orang di belakang kameranya, si fotografernya. Bukan seratus persen karena sudah darisananya.

Sebuah lukisan yang bagus sering tidak memiliki obyek sama sekali. Apa yang dilihat orang sering merupakan terjemahan dari ide yang ada di kepala si pelukisnya yang kemudian diterjemahkan ke atas kanvas. Kalaupun pakai obyek, aslinya belum tentu demikian.

Begitu juga dengan fotografi. Arti dari fotografi kerap diterjemahkan oleh banyak orang sebagai "melukis dengan cahaya (kamera menggunakan cahaya untuk merekam gambar):. Sifatnya sama.

Selama sang fotografer kreatif dan memiliki skill untuk memadukan garis, warna, momen unik, dan tentunya cara mengatur kameranya, hasilnya bisa enak dilihat.

Apapun itu. Bahkan, botol bekas yang dibuang ke jalan sekalipun, di tangan fotografer yang handal, bisa menjadi sebuah foto yang menarik. Padahal, botol itu dibuang karena dianggap buruk dan jelek oleh orang lain.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!


Coba saja tanyakan pada mereka yang menggeluti fotografi jalanan, fotografi makanan, fotografi human interest. Apakah mereka mengandalkan kepada keindahan dan kecantikan obyeknya saja? Jelas tidak.

Jadi, tidak ada alasan untuk bingung mencari obyek foto. Ada banyak, bahkan terlalu banyak di dunia ini. Yang perlu dilakukan adalah dengan memilih salah satu (atau salah banyak) dan kemudian mengembangkan ide dan gabungkan dengan kemampuan memotret.

Sesederhana itu saja.
Read More

Sunday, October 7, 2018

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?
Pantai Sari Ringgung, Lampung 2018
Yang bener? Masa sih Anda masih berpendapat fotografi hobi yang mahal? Serius masih berpandangan demikian?

Kalau pandangan ini dkemukakan tahun 1970-1990-an, masih sangat bisa dimengerti. Harga kamera saat itu masih mahal sekali dan sulit terjangkau oleh kalangan umum. Belum ditambah dengan keharusan membeli negatif film yang harganya lumayan juga. Makin merobek kantung ketika untuk melihat hasilnya harus dicetak dulu, dan ongkosnya sangat tidak murah, terutama bagi yang gajinya pas-pasan.

Itu dulu.

Kalau sekarang?

Oh, pasti merujuk pada kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless? Memang lumayan harganya. Tetapi, jangan lupa kalau ada berbagai kelas kamera. Kalau memang yang ditunjuk kamera kelas Full Frame, ya memang mahal sekali. Belum lensanya yang tidak kalah mahal.

Cuma, coba saja lihat kelas entry level, atau pemula, sekelas Canon D1300 atau Nikon D3300, sudah DSLR loh, dan harganya sama dengan harga ponsel kelas menengah juga. Jangan lupakan juga ada kelas kamera prosumer dan point & shoot, yang jelas harganya di bawah itu.

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?
Pantai Klara - Kelapa Rapat, Lampung 2018
Masih belum bisa terima bantahan itu? Dan, masih berpandangan kalau fotografi tetap hobi yang mahal?

Coba, tengok smartphone di tangan Anda? Pasti ada kan. Jarang sekali orang zaman sekarang yang tidak memiliki smartphone. Lebih sulit mencari ponsel yang bukan smartphone zaman sekarang.

Ada kamera kan? Paling sedikit mampu menghasilkan foto berukuran 5 Megapixel di kamera depan dan 8-13 MP kamera belakang. Smartphone termurah saja sudah ada kameranya.

Lalu, masih beranggapan fotografi hobi yang tidak murah?

Kecuali, kalau Anda memang masih terpola, dan merekam omongan beberapa kalangan bahwa fotografi harus dijalankan dengan memakai kamera khusus, seperti DSLR atau Mirrorless, tidak ada alasan lagi untuk mengatakan fotografi itu mahal.

Sudah bisa memotret. Tidak perlu membeli roll film. Tidak harus mencetak. Kamera sudah tersedia di tangan. Lalu, dimana mahalnya?

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?


Buang saja omongan mereka-mereka yang memandang dirinya terlalu tinggi kalau fotografi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya kamera mahal. Pemikiran usang nan kolot dan tidak sesuai dengan zaman sekarang.

Fotografi itu murah dan terjangkau oleh semua orang. Tidak ada alasan "mahal" lagi untuk tidak terjun ke dalamnya, kecuali, memang tidak ada niat untuk itu.

Nah, kalau begitu, ya sudah.

Takut hasilnya jelek? Semua foto di dalam tulisan ini dibuat dengan smartphone lawas (tua) berusia 4 tahun dan sudah banyak goresan di lensanya. Tetapi, mungkin karena yang memegang smartphone itu belajar sedikit demi sedikit, ia sudah bisa menghasilkan sesuatu yang setidaknya enak dilihat dengan si ponsel tua itu.

Bisa ditiru kok. Lagi-lagi, kalau mau yah.


Read More

Saturday, October 6, 2018

Foto Bisa Menyampaikan Informasi Asal Diberi Caption Yang Tepat

Sudah banyak yang melupakan fungsi foto yang satu ini. Mayoritas orang sekarang membuat foto hanya untuk kesenangan, mencari LIKE di media sosial, atau memamerkan keindahan saja. Padahal, ada satu hal yang juga bisa disampaikan oleh sebuah foto, yaitu menyampaikan informasi.

Coba saja lihat foto di bawah ini.

Tugu Prasasti Dua Abad Kebun Raya Bogor
Informasi apa yang akan Anda bawa pulang?

a) Jika hanya tulisannya saja, maka Anda mendapat informasi bahwa di Kebun Raya Bogor ada Tugu Dua Abad Kebun Raya Bogor, tetapi Anda tidak tahu bentuknya seperti apa

b) Jika hanya fotonya saja, Anda akan terbayang bentuknya, tetapi akan terus bertanya "Benda atau tugu apakah itu?"

Ketika dikombinasikan, maka keduanya memberi informasi yang lengkap dan Anda bisa membawa pulang informasi tersebut.

Bisa juga dilakukan dengan memberi judul yang spesifik tentang apa yang tergambar secara visual oleh sebuah foto. 

Read More

Friday, October 5, 2018

Wednesday, June 6, 2018

Luangkan Waktu Untuk Anakmu, Kawan! Jangan Sampai Menyesal

Luangkan Waktu Untuk Anakmu, Kawan! Jangan Sampai Menyesal
Lapangan Sempur 2017 - Foto Arya Fatin Krisnansyah
Anda sibuk bekerja untuk menafkahi keluarga? Wajar, sebagai orangtua memang itu salah satu tugas Anda, Kawan. tetapi, jangan pernah habiskan semuanya untuk bekerja dan karir, luangkan waktu untuk anakmu juga, kawan.

Bukan untuk mereka saja, tetapi juga untuk kita sendiri di masa depan. Ketika mereka pergi dan mendirikan keluarga mereka sendiri, maka hanya kenangan indah bersama mereka lah yang tersisa dan membantu kita untuk tersenyum melalui kesendirian.

Luangkan waktu untuk anakmu, Kawan! Untuk diri sendiri. Seperti yang para ayah dalam foto ini lakukan.

Luangkan Waktu Untuk Anakmu, Kawan! Jangan Sampai Menyesal
Lapangan Sempur 2017

Luangkan Waktu Untuk Anakmu, Kawan! Jangan Sampai Menyesal
Lapangan Sempur 2017 - Karya Arya Fatin Krisnansyah

Luangkan Waktu Untuk Anakmu, Kawan! Jangan Sampai Menyesal
Lapangan Sempur Bogor 2017 - Karya Arya Fatin Krisnansyah
Read More

Sunday, June 3, 2018

Memotret Punggung Orang Pun Bisa Menjadi Satu Opsi Dalam Memotret

Memotret Punggung Orang Pun Bisa Menjadi Satu Opsi Dalam Memotret
Trotoar Jalan Sudirman Kota Bogor 2017
Memotret dari depan, alias berhadapan dengan obyek bisa menjadi sebuah momen yang "mengerikan" , terutama jika yang menjadi obyeknya adalah orang yang tidak dikenal. Tetapi, sebenarnya tidak perlu terlalu takut karena mayoritas orang tidak berkeberatan dijadikan model sebuh foto. Dalam banyak kasus bahkan mereka dengan senang hati.

Tetapi, kalau tetap masih ada rasa tidak nyaman di hati, ya jangan lakukan. Cobalah dengan cara lain, seperti memotret punggung orang itu.

Tergantung dari komposisi dan ide yang hendak disampaikan, mengambil foto dari arah belakang obyek bisa tetap menghasilkan foto yang enak dilihat.

Dan, tentunya tanpa rasa "takut" hadir di dalam hati.
Read More

Nama Tidak Penting Bagi Seorang Fotografer

Nama Tidak Penting Bagi Seorang Fotografer
Bunga "Entah Apa Namanya" - Bogor 2017
Fotografer, kecuali yang profesional, adalah penganut paham "Apalah artinya sebuah nama" yang sangat taat. Nama kerap menjadi sesuatu yang menjadi paling akhir ditanyakan atau dicari.

Yang terpenting bagi mereka adalah warna, corak, dan bentuk yang menarik dan berkesesuaian yang enak dilihat mata. Oleh karena itu, tidak perlu bertanya tentang nama dari obyek yang dipotretnya, karena kemungkinan besar jawabannya adalah "Tidak tahu" dalam artian yang benar-benar tidak tahu dan malas untuk mencarinya.

Fotografer adalah makhluk visual.
Read More

Roda Itu Berputar Kadang di Atas Kadang di Bawah

Roda Itu Berputar Kadang di Atas Kadang di Bawah
Perlintasan Kereta Api Jalan Soleh Iskandar Bogor 2016
Kata pepatah roda itu berputar, kadang di atas kadang  di bawah. Dan, memang hal itu berlaku dalam kehidupan manusia.

Kadang ia berada di atas (sepeda), tetapi kadang juga berada di bawah (sepeda).
Read More

Karamba di Sungai Cipakancilan Bogor

Karamba di Sungai Cipakancilan Bogor
Deretan Karamba di  tepi sungai Cipakancilan Bogor - 2017
Alam itu baik kepada manusia. Ia menyediakan banyak hal yang mendukung kehidupan manusia di bumi. Bahkan, meskipun manusia kerap bertindak jahat kepadanya, alam tetap sabar dan masih memberi banyak.

Hal itu terlihat dimana bahkan di air yang coklat karena terkotori oleh banyak limbah kehidupan manusia, sungai tetap memberikan sumber nafkah bagi manusia-manusia yang tinggal di dekatnya.

Meski, sekarang sungai semakin sering marah. Mungkin ia tidak tahan lagi melihat keserakahan dan kecerobohan manusia terhadap dirinya.

* Karamba : alat untuk beternak ikan dengan memanfaatkan aliran sungai berbentuk kotak yang terbuat dari bambu.
Read More