February 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Wednesday, February 28, 2018

Beli Kamera Berdasarkan Kebutuhan Bukan Keinginan

Beli Kamera Berdasarkan Kebutuhan Bukan Keinginan

Manusia itu makhluk yang tidak pernah puas. Keinginannya hampir tanpa batas. Contoh sederhananya, sudah punya istri cantik, sexy, dan baik, tetap saja seorang pria kerap melirik SPG cantik di ajang pameran. Kaum wanita pun sama, sudah punya satu tas Hermes, tetap saja keinginan untuk memiliki Louis Vuitton akan hadir di hati. Apalagi di zaman sekarang dimana godaan iklan komersial hadir hampir tiap detik, dimanapun.

Kalau semua dituruti ya berabe. Bisa banyak masalah yang timbul. Pepatah orangtua adalah "sesuatu yang berlebihan itu tidak baik". Yang sudah punya istri satu, kemudian ingin 2,3, atau empat akan menghadapi banyak masalah karena menuruti keinginannya karena baik dan buruk adalah dua sisi mata uang, yang akan selalu hadir bersamaan.

Begitu juga dalam dunia fotografi. Iklan dan review berbagai jenis kamera akan menghadirkan hasrat untuk membelinya. Apalagi kalau mendengar kata Full Frame atau Mirrorless, yang mengusung teknologi yang lebih canggih, pastilah hadir rasa kepingin yang kuat di dalam hati. Sesuatu yang memang diinginkan oleh para penjual.

Masalahnya, mampukah kita terus berusaha memenuhi hasrat itu terus menerus. Tentunya tidak. Bagaimanapun kemampuan manusia itu ada batasnya. Anggaplah, memang Anda seseorang yang memiliki uang "tidak berseri" saking banyaknya, dan harga kamera berapapun dalam jumlah berapapun, mampu Anda beli, tetapi pada saat memotret berapa kamera yang bisa digunakan? Jawabnya ya cuma satu. Itulah kapasitas kedua tangan manusia.

Begitu juga dengan teknologi kamera yang sering dijadikan alat pemikat. Saat baru keluar, sebuah kamera akan menjadi lebih "canggih" dari kamera sebelumnya, dan kemudian kita beli. Berapa lama predikat lebih canggih itu akan bertahan? Tidak lama.

Pada masa sekarang, produsen kamera sangat cerdik. Mereka akan mengeluarkan kamera dengan tambahan satu dua fitur setiap 2-3 tahun sekali dan membuat sebuah teknologi terlihat "kuno" hanya dalam waktu sebentar saja. Kalau harus menuruti keinginan untuk menjadi yang tercanggih, maka perlu biaya sangat besar untuk terus mengikuti trend yang sengaja dibuat para produsen.

Padahal, dunia fotografi bukanlah sebuah dunia yang mengandalkan pada teknologi terbaru. Dunia ini justru berpusat pada si pemegang kamera, bukan kameranya. Seorang fotografer kawakan diberi smartphone sekalipun ia akan bisa menghasilkan foto yang enak dilihat, sebaliknya seorang yang tidak tahu cara menggunakan kamera diberi kamera Mirrorless terbaru pun, hasil fotonya bisa saja membuat sepet mata.

Jadi, mengapa harus membeli kamera berdasarkan keinginan? Hal itu akan menghadirkan konsekuensi buruk bagi kehidupan. Apapun yang menuruti hasrat dan nafsu saja biasanya akan berujung buruk.

Begitupun dalam hal ini. Belilah kamera sesuai kebutuhan dan jangan keinginan.

Jika Anda hanya butuh untuk menyalurkan hobi , memotret keluarga dan teman-teman, tidak perlu membeli kamera seharga 200 juta. Bahkan, sebuah Canon DSLR 1300D saja sudah lebih dari cukup, kalau mau lebih jauh lagi sebuah smartphone juga tidak masalah, selama Anda tahu menggunakannya.

Kecuali, jika memang bidang pekerjaan atau profesi Anda memerlukannya, seperti fotografer pernikahan. Mau tidak mau kamera dan assesori-nya perlu dicarikan yang terbaik yang mampu diberi karena berkaitan dengan pencarian nafkah. Dalam hal ini kamera adalah modal utama. Jadi, suka atau tidak suka harus dibeli dan dipersiapkan untuk menghasilkan foto yang maksimal.

Jadi, beli kamera sesuai dengan kebutuhan. Jangan hanya menuruti keinginan manusia yang tanpa batas itu.

Read More

Tuesday, February 27, 2018

Mengenali Situasi Lingkungan Pemotretan Memberikan Kemampuan Antisipasi

Mengenali Situasi Lingkungan Pemotretan Memberikan Kemampuan Antisipasi
Pintu Perlintasan RE Martadinata Bogor 2017

Banyak yang mengira bahwa fotografi jalanan selalu merupakan hasil dari spontanitas seorang fotografer dan hasil fotonya adalah obyek yang acak dan tidak disengaja. Padahal, sebenarnya hal itu tidak demikian. Banyak foto yang dihasilkan para fotografer jalanan sering merupakan sebuah hasil pemikiran dan perencanaan.

Hal itu bisa dilakukan karena biasanya sang pemotret mengenali situasi lingkungan pemotretan. Dengan memahami pola kehidupan di tempat tersebut, kemampuan sang pemotret dalam mengantisipasi apa yang mungkin terjadi akan meningkat.

Foto di atas adalah salah satu contohnya.

Meski saya hanyalah fotografer jalanan abal-abal, saya sangat mengenali kebiasaan yang sering terjadi di sebuah pintu perlintasan kereta, bukan hanya di Bogor tetapi hampir dimanapun. Apalagi, pintu perlintasan yang satu ini yang sudah saya lewati ratusan kali.

Ketidaksabaran, egoisnya para pemotor yang tidak mau menunggu kereta lewat adalah pemandangan sehari-hari. Jadi, saya bisa mengantisipasi bahwa hal yang sama akan berulang terus.

Kapan kereta lewat pun bisa diperkirakan dengan mendengarkan suara bel dari pintu kereta elektronik. Tidak perlu menengok.


Yang saya lakukan hanyalah menunggu sampai momen dan obyek yang paling menarik hadir.

Pada saat semua saya rasa "pas" , saya menekan tombol shutter release.


Pengenalan terhadap situasi sebuah lingkungan adalah hal yang perlu dalam menjalani fotografi jalanan. Dengan mengenali sebaik mungkin dimana pemotretan akan dilaksanakan, maka seorang fotografer akan bisa mengenali "pola" dari kehidupan di wilayah itu. Dan, pemahaman terhadap pola itu akan memberikannya kemampuan untuk mengantisipasi apa yang mungkin terjadi.

Pada akhirnya, hal itu akan bisa membantunya dalam memberikan cerita pada fotonya.

Jadi, tidak selamanya foto di jalanan adalah hasil sebuah spontanitas. Banyak yang dihasilkan dengan perencanaan sejak awal.
Read More

Monday, February 26, 2018

Berani Bereksperimen Membantu Kemajuan Seorang Fotografer

Cobalah Memotret Satu Obyek Dari Berbagai Sudut Pengambilan Gambar, Beranilah Bereksperimen

Entahlah apa kata orang, tetapi saya berpandangan bahwa kemajuan seorang fotografer terletak pada kemauannya untuk mencoba, bereksperimen, dan berpikir di luar kotak. Semakin ia berani dan sering melakukannya, maka kemampuan atau skillnya dalam mengambil sebuah foto, pasti akan terus membaik dan membaik.

Salah satu hal paling sederhana dalam hal mencoba dan bereksperimen adalah tentang sudut pengambilan gambar.

Banyak orang saat memotret akan selalu memakai sudut pengambilan yang itu itu juga. Padahal, belum tentu hasil yang didapat dari sudut yang sama sudah merupakan yang "terbaik" dari berbagai kemungkinan.

Kalau seorang fotografer mau berkorban, mau capek untuk berjalan kesana kemari dan mencoba menghasilkan yang berbeda, ia akan memiliki lebih banyak hasil yang kemudian bisa dipilih untuk menemukan mana yang terbaik. Hal itu tidak akan bisa dilakukan kalau hanya memiliki satu buah foto saja.

Cobalah Memotret Satu Obyek Dari Berbagai Sudut Pengambilan Gambar, Beranilah Bereksperimen

Hal itu juga berlaku dalam berbagai hal lain, seperti pengaturan setting kamera atau pemilihan lensa. Semakin sering seorang fotografer berani mencoba setting-setting baru dan tidak merasa harus selalu berhasil, ia akan belajar dalam menemukan setting kamera yang tepat untuk kondisi tertentu. Makin sering dilakukannya, semakin terlatih ia dalam menghadapi kondisi di lapangan.

Cobalah Memotret Satu Obyek Dari Berbagai Sudut Pengambilan Gambar, Beranilah Bereksperimen

Memang, untuk itu ia harus mau berkorban tenaga dan tentunya shutter count yang semakin meninggi, tetapi tentunya ada hasil yang didapat dalam bentuk pengetahuan. Bukankah kita pun harus membayar untuk mendapatkan ilmu di sekolah?

Cobalah Memotret Satu Obyek Dari Berbagai Sudut Pengambilan Gambar, Beranilah Bereksperimen

Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu, baik itu berupa sudut pengambilan foto, setting, atau pemakaian lensa. Hal itu tidak akan pernah sia-sia, meskipun mungkin hasil fotonya semua jelek sekalipun. Paling tidak, sebagai seorang fotografer, kita sudah belajar dan berlatih sesuatu yang bisa dimanfaatkan di kemudian hari.

Bukankah itu juga inti dari kehidupan manusia yang terus menerus belajar?

Read More

Mata Fotografer Jalanan Harus Sering Celingukan

Mata Fotografer Jalanan Harus Sering Celingukan
Galaxy Theater 2018

Scanning istilah kerennya artinya mengawasi sekitar, tetapi saya lebih suka menyebutnya celingukan. Mata diedarkan kesana kemari, ke kiri ke kanan, ke atas atau ke bawah. Mengawasi keadaan sekeliling dimanapun berada, itulah yang harus dilakukan seorang fotografer jalanan.

Bahkan, saat sedang duduk diam sekalipun, seharusnya mata jangan sampai berhenti untuk memperhatikan sekitar.

Alasannya? Yah, karena bisa saja kita tidak sengaja menemukan "sesuatu" yang menarik secara tak terduga. Kalau kita berhenti mengawasi lingkungan dimana kita berada, bisa jadi momen-momen itu terlewat begitu karena kita tidak memperhatikan.

Alasan lainnya adalah kerap secara tak terduga, "harta karun" hadir di hadapan mata. Sebuah momen yang tidak lagi membutuhkan bokeh untuk menarik perhatian yang melihat, tidak perlu mengatur setting "khusus' untuk membuat yang melihat mau tidak mau akan mengerling.

Sebuah momen yang bisa bercerita kepada yang melihat fotonya. Sebuah momen yang bisa menghadirkan senyum, marah, kesal, sedih, dan banyak rasa lainnya tanpa memerlukan terlalu banyak usaha dan cukup dengan mode auto saja.

Foto di atas, yang diambil saat menunggu anak semata wayang yang sedang bertanding handball di Galaxy Theater Bogor adalah contoh dari hal itu.

Capek dan suara habis karena berteriak dan bersorak membuat saya harus beristirahat sejenak di luar. Nongkrong di salah satu sudut tangga tak terpakai sambil melonjorkan kaki.

Saat itulah,  kebiasaan celingukan kesana kemari memberikan hasil seperti yang Anda lihat di foto ini.
Read More

Friday, February 23, 2018

Memotret di Stasiun Itu Menyenangkan, Cuma Pak Satpamnya Itu Lho

Memotret di Stasiun Itu Menyenangkan, Cuma Pak Satpamnya Itu Lho
Stasiun Bogor 2017

Sebagai seorang penggemar fotografi jalanan, stasiun kereta api adalah salah satu tempat yang paling menjanjikan. Disana tersedia banyak obyek berupa orang lalu lalang, bentuk-bentuk simetris yang membentuk leading line, dan tentunya beberapa stasiun memiliki gaya arsitektur kuno yang sangat bagus dijadikan latar belakang.

Jadi, memotret di stasiun itu menyenangkan.

Sayangnya ada satu hal yang tidak menyenangkan. Pak Satpamnya itu lo..Nggak nahan.

Pak satpam, yang sekarang namanya PKD (Petugas Keamanan Dalam) sering memperlihatkan wajah curiga, terutama kalau kita membawa kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex). Pandangannya kerap membuat tidak nyaman. Tidak jarang pula dilanjutkan dengan pertanyaan apakah sudah ada izin atau belum untuk memotret di stasiun.

Sebelumnya bahkan memotret dengan kamera smartphone pun juga dilarang, tetapi perkembangan kemajuan teknologi pada akhirnya membuat aturan memotret dilonggarkan.

Cukup bisa dimengerti kalau meeka hanya melaksanakan tugas yang diberikan atasan. Atasannya juga hanya menjalankan perintah karena bagaimanapun tugas semuanya untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan para penumpang kereta. Dan, fotografer yang mengambil foto seenaknya, bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada penumpang dan mungkin menghadirkan gangguan. Belum lagi kalau ada yang memotret demi keperluan komersial yang berarti masuk dalam wilayah bisnis.

Maklum, seribu kali maklum.

Hanya, sayang saja. Kehadiran fotografer sebenarnya bisa membantu memperkenalkan perkeretaapian Indonesia yang semakin hari semakin membaik dan bahkan menjadi sarana transportasi populer. Foto-foto yang dihasilkan bisa memberikan info pada masyarakat yang belum pernah mempergunakan jasa transportasi ini.

Meskipun demikian, mudah-mudahan ke depannya, pengelola kereta Indonesia bisa lebih luwes dalam hal ini. Bagaimanapun, perkembangan zaman membuat fotografi sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Itulah mengapa ada rasa senang juga ketika tahun lalu ada lomba foto Kereta Commuter yang diadakan PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek). Sebuah pertanda bahwa pihak kereta api Indonesia mulai merangkul dan setidaknya tidak alergi lagi terhadap yang namanya fotografi dan fotografer.

Agak repot juga untuk ikut serta karena juga harus meminta izin secara online. Itupun pada saat beraksi mengambil foto, pak PKD-nya tetap bertanya apakah sudah mendapat izin. Untungnya saat itu sudah melapor kepada kepala stasiun/PPKA, jadi bisa terus berlanjut, walau ada 2-3 orang petugas lagi yang mengajukan pertanyaan yang sama.

Rupanya alergi terhadap fotografer agak susah dihilangkan.

Memotret di Stasiun Itu Menyenangkan, Cuma Pak Satpamnya Itu Lho
Stasiun Bogor 2017


Oleh karena itu agak senang juga ketika di layar informasi dalam Commuter Line, ada sebuah lomba foto yang dinamakan #POTD (Photo of the day) yang disponsori LINIKINI. Temanya mengenai berbagai hal yang terjadi di stasiun.

Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini, alergi terhadap para fotografer bisa berkurang lebih jauh.

Semoga saja.
Read More

Wednesday, February 21, 2018

Mengapa Fotografer Sebaiknya Punya Blog ?

Mengapa Fotografer Sebaiknya Punya Blog ?
Bogor 2016
Zaman sekarang untuk memamerkan hasil karya foto itu sangat mudah. Banyak sekali media sosial yang bisa dipergunakan seperti Facebook, Instagram atau Flickr. Kemudahannya dan potensi sebuah foto untuk mendapatkan perhatian sangat besar disana. Hal ini tentu saja menguntungkan bagi seseorang yang ingin membangun citra dirinya sebagai fotografer. Media sosial bisa menjadi sarana yang mudah dan murah untuk hal itu.

Meksipun demikian, tetap saja rasanya, setidaknya pendapat saya, seorang fotografer sebaiknya punya blog atau website personal.

Bukan tanpa alasan dan mengada-ada, tetapi memperhatikan bagaimana cara kerja media sosial, ada beberapa hal yang membuat sebuah blog bisa memberikan nilai tambah lebih bagi perkembangan seorang fotografer, seperti :

Blog Sebagai Galeri Online

Memang dibandingkan dengan media sosial, blog tidak menyediakan fasilitas yang memungkinkan seorang fotografer berinteraksi langsung dengan audiensnya. Butuh waktu untuk hal itu supaya bisa terjadi dan terbangun.

Meskipun demikian, sebuah blog akan memungkinkan seorang fotografer memiliki galeri online pribadi. Mereka bisa memamerkan karyanya sendiri tanpa harus bercampur dengan karya orang lain.

Berbeda dengan kalau di Flickr dimana karya kita harus berebut perhatian dengan ribuan bahkan jutaan karya orang lain. Sulit sekali untuk mendapatkan perhatian.

Lebih Tahan Lama

Sulit untuk mempertahankan sebuah karya foto untuk tampil di wall Facebook, kecuali di wall sendiri dengan pemirsa yang terbatas. Kalau sebuah foto dimasukkan ke dalam komunitas, bisa jadi hanya bertahan beberapa detik saja sebelum postingan foto tersebut tertimpa oleh postingan lainnya.

Hasilnya, foto yang sedianya dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian, justru tenggelam hanya beberapa saat setelah diposting. Kalaupun karyanya begitu luar biasa, daya tahan untuk bertahan di Facebook paling banyak dalam hitungan hari saja.

Berbeda dengan kalau seorang fotografer punya blog sendiri. Mereka bisa memamerkan karyanya dengan bebas tanpa khawatir akan segera hilang dari peredaran. Selama blog itu beroperasi, foto yang sudah lama sekalipun masih bisa ditemukan oleh pemirsa manapun.

Lebih Mudah Melakukan Branding

Bagaimanapun, manusia kerap tertarik pada penampilan. Seorang yang memiliki galeri sendiri tentunya akan memberi kesan yang berbeda dibandingkan kalau karyanya dipamerkan di pinggir jalan.

Bandingkan saja, beda antara lukisan yang dipasang di galeri dan yang dijual di Pasar Seni Ancol. Harganya pun akan berbeda.

Kesan ini akan penting jika pada akhirnya jika seorang fotografer untuk melakukan branding atau pencitraan.

Sebagai Alat Promosi

Blog ditambah mesin pencari Google, Yahoo, atau Bing merupakan perpaduan yang sangat klop sebagai sarana promosi. Memang perlu waktu untuk membangun sebuah blog portfolio, tetapi ketika sudah berjalan, perlahan tetapi pasti sebuah blog akan mengundang banyak pengunjung.

Tidak perlu lagi pemiliknya untuk share kesana dan kesini di media sosial. Pengunjung dan mereka yang berminat akan datang dengan sendirinya.

Sebuah blog yang baik pada akhirnya bisa membentuk komunitas tersendiri yang dipenuhi mereka-mereka yang tertarik pada karya kita. Dan, komunitas itu pada akhirnya bisa menjadi pasar bagi karya foto atau jasa (kalau kita memang berniat menjual sesuatu).

Oleh karena itulah, maka sudah seharusnya seorang fotografer memiliki blognya sendiri. Banyak sekali fotografer terkenal di dunia yang mengelola blog portofolionya sendiri.

Apakah Anda sudah punya blog? Kalau belum saya sarankan buatlah segera. Tidak mahal karena Blogspot atau Blogger milik Google menyediakan platform gratis untuk itu. Kalaupun ingin yang lebih lagi, bisa pergunakan Wordpress Self Hosted. Keduanya mudah digunakan dan tidak mahal kalau dibandingkan potensi yang akan diberikannya pada kehidupan seorang fotografer.

Tetapi jangan salah, Maniak Potret dibangun bukan dengan tujuan itu. Blog ini hanyalah hasil dari karya seorang penggemar fotografi yang kebanyakan waktu saja. Tidak diniatkan untuk hal-hal itu.

Jadi, jangan khawatir saya akan menawarkan atau menjual sesuatu pada Anda.
Read More

Tuesday, February 20, 2018

Haruskah Seorang Fotografer Selalu Menekankan Keindahan Dibandingkan Cerita ?

Haruskah Seorang Fotografer Selalu Menekankan Keindahan Dibandingkan Cerita

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah thread di Komunitas Fotografi Indonesia, Facebook, seorang member menuliskan bahwa gelar fotografer adalah untuk mereka yang berjuang untuk menampilkan keindahan pada hasil karya mereka. Lebih lanjut katanya, gelar itu tidak layak disandang oleh mereka yang hanya sekedar bisa memotret.

Sebuah pernyataan yang menghentak pikiran.

Memang terlihat biasa saja dan mungkin sekali akan banyak orang mengamininya. Tetapi, bagi saya sendiri disana ada sebuah kesombongan, eksklusivitas, dan sedikit chauvinisme.

Bagaimana dengan mereka yang menekuni fotografi jurnalistik? Sebutan apa yang harus diberikan untuk mereka. Jarang sekali foto-foto karya para jurnalis foto yang menggugah selera dan memukau mata. Kebanyakan dari hasil karya mereka adalah cerita tentang sebuah momen saja.

Jauh dari indah.

Pertanyaan lanjutan timbul, haruskah seorang fotografer menekankan sisi keindahan karyanya dibandingkan cerita yang terkandung di dalam sebuah foto?

Kenyataannya, fotografi lahir karena keinginan manusia untuk bisa merekam secuplik bagian dari kehidupan mereka dalam bentuk gambar. Niatnya adalah agar foto-foto itu bisa menceritakan kepada pembuatnya atau orang lain tentang sebuah momen yang di masa lalu.

Bukan untuk menampilkan keindahan dari suatu obyek. Pada saat kamera dan fotografi lahir, masalah keindahan masih dipegang oleh para pelukis, bukan fotografer.

Dengan pernyataan bahwa gelar fotografer dipandang hanya bisa disematkan pada mereka yang menekankan pada keindahan, maka fotografi sudah melenceng dari ide awalnya. Fotografi malah masuk hanya ke ranah seni saja.

Padahal, fungsi kamera sendiri di masa sekarang ada dua buah, yaitu sebagai alat dokumentasi dan pembuat karya seni. Keduanya bermain di wilayah yang berbeda. Yang terakhir memasuki ranah seni yang selalu menekankan keindahan.

Dua fungsi kamera, sekaligus fotografi ini tidak bisa saling menafikan. Keduanya berjalan secara paralel dan bersamaan, meski kadang saling bersinggungan dan campur aduk. Tidak bisa seorang yang menekuni salah satunya memvonis bahwa yang lain tidak bisa disebut fotografer.

Pernyataan yang sebenarnya sangat konyol, tetapi bisa dimengerti mengingat di masa sebelum lahirnya smartphone dan kamera semakin murah/terjangkau. Pada masa itu, fotografer adalah julukan eksklusif bagi mereka yang mampu membeli kamera dan kemudian menghasilkan foto yang indah.

Batasan ini tergerus di masa sekarang dengan semakin banyaknya orang yang terlibat. Tentunya hal itu akan membuat mereka yang selama ini berada dalam lingkaran yang eksklusif terusik oleh kehadiran orang-orang "biasa". Mirip situasinya dengan kalangan priyayi di masa lalu yang tergerus ketika paham kesetaraan merebak dimana-mana.

Bagaimanapun, fotografi adalah milik semua. Tidak ada satu kalangan pun yang berhak memonopolinya. Siapapun berhak dan boleh ikut serta, dan bahkan boleh melabeli diri sendiri sebagai fotografer. Tidak boleh ada seorang pun yang merasa berhak untuk membuat kriteria tentang apa dan siapa yang berhak menyandang gelar fotografer.

Apalagi dengan membatasi bahwa hanya yang bisa menampilkan keindahan saja yang berhak disebut fotografer. Sesuatu yang sangat konyol karena fotografi sendiri pada dasarnya menekankan pada kebebasan berkreasi.

Lagipula indah itu sendiri sesuatu yang relatif dan tidak akan sama setiap orang. Tidak ada kriteria pastinya.

Read More

Monday, February 19, 2018

Polwan Selfie Itu Manusiawi dan Bukan Masalah Kalau Tahu Batasnya

Polwan Selfie Itu Manusiawi Kalau Tidak Berlebihan
Car Free Day Bogor 2018
Memang sih, bisa dimengerti kalau Pak Tito Karnavian prihatin melihat banyaknya polwan selfie dan kemudian memamerkannya di media sosial. Orang nomor satu itu tentunya melihat dari sudut pandang seorang pimpinan yang khawatir kalau anak buahnya terlalu sibuk berselfie ria dan melalaikan tugas. Ia juga tentunya khawatir kalau ada pelanggaran etika yang bisa memberi nama buruk pada korps yang dipimpinnya.

Wajar.

Sama wajarnya juga dengan para polwan yang melakukan selfie itu sendiri. Bagaimanapun, polwan (polisi wanita) juga manusia. Tentunya, mereka juga butuh hiburan, kegembiraan, dan juga tampil layaknya wanita (dan pria) lainnya.

Apalagi, banyak juga polwan masa kini yang memiliki paras wajah cantik, manis, dan enak dilihat. Masyarakat pun suka melihatnya. Hal ini juga membantu terbentuknya sisi humanis korps kepolisian dan membantu menumbuhkan kedekatan dengan masyarakat.

Jadi, polwan selfie bukanlah sebuah masalah besar, walau keprihatinan boss mereka pun bisa dimengerti.

Yang terpenting dalam hal ini adalah masing-masing bisa mengerti batas, kapan dan dimana mereka selfie. Jangan seperti kasus polwan di Cina/Tiongkok yang melakukan selfie dengan seragam polisinya, tetapi tanpa mengenakan celana. Tentunya hal ini akan menghadirkan citra buruk bagi kepolisian. Tetap ada batas aturan dan etika yang tidak boleh diterobos.

Sepanjang selfie dilakukan tidak berlebihan, baik dalam frekuensi dan cara, juga dilakukan tanpa mengganggu tugas pokok mereka, yaitu menjaga masyarakat, rasanya masyarakat pun tidak akan protes dan mempermasalahkan.

Bahkan, kalau perlu ikut serta melakukannya bersama-sama untuk menunjukkan kedekatan aparat dan warganya.

Meskipun demikian, saya tidak akan melakukannya, walau polwannya cantik sekalipun, saya pilih memotret dengan kamera sendiri. Masalahnya, kalau saya selfie bareng dengan polwan cantik, bisa-bisa "kumendan" di rumah akan manyun dan menyebut saya genit. Susahlah saya karena sudah pasti Pak Tito Karnavian tidak akan mau membantu meredam kemarahan "kumendan" saya.
Read More

Keuntungan Memotret di Pagi Hari


Orangtua zaman dulu punya sebuah pepatah "Jangan bangun siang, nanti rezekinya keburu dipatuk ayam". Begitu katanya, walau sebenarnya itu rezekinya si ayam dan dia tidak merampas rezeki siapapun. Hanya saja, pepatah ini menekankan bahwa bangunlah sepagi mungkin dan kemudian bekerja keraslah, seringkali "kesempatan" akan hadir bagi mereka yang mau berusaha lebih keras.

Ternyata, bagi seorang fotografer atau penggemar fotografi , pepatah itu pas sekali diterapkan dalam kehidutpan. Paling tidak bagi penggemar fotografi jalanan atau mereka yang menyukai pemotretan di luar ruangan atau outdoor. Ada banyak keuntungan memotret di pagi hari yang bisa membantu dalam menghasilkan sebuah foto yang bagus.

Tidak percaya?

Kenyataannya begitu. Banyak fotografer senior dan terkenal pun menyarankan untuk melakukan pemotretan di pagi hari karena hal-hal berikut :

1. Cahaya matahari yang lembut

Keuntungan Memotret di Pagi Hari
Patung Peniup Seruling , Istana Bogor 2017

Sinar matahari di pagi hari berbeda dengan siang hari. Cahayanya lebih lembut dan tidak sekeras matahari di kala siang.

Hal ini akan sangat memudahkan pengaturan pencahayaan saat pemotretan dan hasilnya akan terlihat sekali bedanya dengan foto hasil pemotretan di siang hari. Biasanya sinar matahari di siang hari kerap membuat foto menjadi overexposed karena kelebihan cahaya.

2. Langit Biru

Keuntungan Memotret di Pagi Hari
Monumen dan Museum , Bogor 2017

Mendapatkan latar belakang langit biru adalah salah satu yang diharapkan banyak fotografer. Hasil fotonya biasanya akan enak sekali dilihat, bahkan kalaupun hanya menggunakan smartphone.

Biasanya langit biru ini akan tersedia di pagi hari, antara pukul 06.00-08.00. Apalagi, jika di malam sebelumnya hujan turun, hampir pasti keesokan harinya langit biru akan muncul.

3. Tidak panas

Keuntungan Memotret di Pagi Hari
Jalan Tentara Pelajar, Bogor 2017
Memang seorang fotografer harus tahan banting dalam segala cuaca. Suka atau tidak suka itu adalah bagian dari kehidupannya dan tidak boleh menjadi alasan kalau memang harus memotret di siang hari.

Meskipun demikian, tentunya akan lebih nyaman dan menyenangkan kalau memotret di pagi hari. Sejuknya udara tentunya akan menghadirkan kesegaran bagi badan dan juga pikiran. Mungkin dianggap kecil, tetapi yang seperti ini bisa meningkatkan kreativitas seorang fotografer.

4. Belum ramai

Keuntungan Memotret di Pagi Hari
Car Free Day Bogor 2017

Pernah dengar prinsip KISS, Keep It Simple, Stupid. Foto yang sederhana, tidak ruwet, dan tidak ramai itu cenderung enak dilihat.

Sayangnya, sulit sekali mendapatkan hal yang seperti itu kalau suasana sudah terlalu ramai. Belum ditambah dengan lalu lalang orang yang kerap melintas dan mengganggu sesi pemotretan.

Keuntungan memotret di pagi hari dalam hal ini adalah pagi hari biasanya belum terlalu ramai. Belum banyak orang lalu lalang. Hal itu akan mendukung terlaksananya prinsip KISS dan tentunya mengurangi ganggung bagi sang fotografer.

Jadi, bisa dikata tidak salah juga kalau kakek nenek kita selalu menasehati agar bangun pagi. Banyak "rezeki" yang bisa dipungut saat itu, bahkan bagi para fotografer.
Read More

Maniak Potret Berubah Nama

Maniak Potret Berubah Nama

Sudah cukup lama juga tidak mampir ke blog yang satu ini. Padahal, saya sangat suka fotogafi, tetapi karena kesibukan yang menyita waktu, sulit untuk bisa secara konsisten menyediakan waktu untuk menulis disini.

Tetapi, tahun sudah berganti. Sudah saatnya Maniak Potret kembali mendapatkan sentuhan pemiliknya. Paling tidak, supaya blog ini tidak menjadi "kuburan" di dunia maya yang tidak terurus.

Sebagai tanda keseriusan (mudah-mudahan bisa kontinyu), saya memutuskan untuk memberikan nama baru. Jika sebelum ini masih menggunakan kata "blogspot.com" di belakangnya, sekarang tidak lagi. Kata "blogspot" nya dihilangkan dan hanya www.maniakpotret.com.

Silakan coba sendiri kalau tidak percaya.

Juga, akan ada sedikit perubahan dalam isinya. Jika, sebelumnya cukup banyak tulisan berbau teori dan tutorial, ke depannya mungkin akan lebih kepada berbagi pengalaman dan juga cerita yang dipungut selama menjelajahi jalanan. Maklum lah, namanya juga fotografer jalanan.

Tulisan ini pun menjadi penanda bahwa "saya serius" untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai di blog ini.

Terima kasih.
Read More