March 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Saturday, March 31, 2018

Bukan Hanya Yang Cantik Yang Harus Dipotret - Empati Seorang Fotografer

Bukan Hanya Yang Cantik Yang Harus Dipotret
Bebegig Ciamis - Bogor Cap Go Meh 2018
Saya bukan fotografer yang menekuni fotografi model. Padahal, kalau cuma untuk sekedar mengundang "LIKE" di Facebook atau Instagram, foto seorang wanita dengan paha mulus, dada montok dan kencang, serta wajah cantik adalah senjata paling ampuh untuk mendapatkannya.

Sayangnya, kalau semua hanya menampilkan yang indah-indah dan enak dilihat saja, kasihan yang "jelek" dan tidak enak dilihat.

Saya manusia juga dan memiliki empati tentang hal itu. Kasihan yang jelek kalau tidak ada yang memotret.

Oleh karena itu, saya juga gemar memotret yang jelek-jelek.
Read More

Hati-Hati Dengan Lampu Flash Anda

Hati-Hati Dengan Lampu Flash Anda
Cap Go Meh Bogor 2018
Flash atau si lampu kilat, bukan superhero asal Amrik, sangat berguna untuk memotret. Paling tidak di saat sumber cahaya tidak banyak tersedia, alias gelap, temaram, atau apalah namanya.

Si kilat itu juga ternyata berguna untuk menghasilkan momen yang lucu ketika obyeknya terpaksa menutup mata karena tidak tahan silaunya kilatan cahaya.

Walau, sebaiknya setelah itu ucapan maaf disampaikan pada sang obyek karena sudah mengganggunya.
Read More

Yang Muda Dan Cantik

Yang Muda Dan Cantik

Rasanya fotografi itu perlu ditularkan kepada lebih banyak orang. Efeknya bisa "membuat" yang menggemarinya merasa awet muda terus. Terutama, kaum adam.


Hanya dengan menenteng kamera dan mengarahkannya kepada obyek yang muda dan cantik, ada rasa senang, gembira, dan excited. Unsur-unsur dalam manusia yang biasanya membuat orang yang memilikinya merasa awet muda dan mampu hidup 1000 tahun lagi.

Apalagi, para istri pun biasanya "mengizinkan" dan tidak banyak protes dalam hal ini.

Lengkap sudah unsur yang mampu membuat seseorang merasa muda terus.
Read More

Kok Foto Jelek Dipamerin?

Kok Foto Jelek Dipamerin?
Cap Go Meh Bogor 2018
Kok Maniak Potret foto-fotonya jelek-jelek sih? Kalau ada yang bertanya begitu, maka jawabannya " Lah, di Facebook ada ribuan foto jelek dari orang jelek yang memotret sendiri dengan cara motret yang jelek, kok kamu tidak ribut?"

Padahal disini kan "rumah" saya sendiri. Jadi, saya mau pamer foto sejelk apapun ya sah-sah saja. Lagipula itulah saya apa adanya.

Jelek ya jelek. Tetapi bukan berarti tidak boleh dipamerkan. Yang jelek saja boleh selfie dan memajang fotonya, lalu kenapa  saya tidak boleh.

Kan tidak ada aturan yang melarang orang memajang foto sejelek apapun.

Iya kan?
Read More

Mobil Bututku Sayang

Mobil Butuku Sayang

Catnya sudah pudar karena terlalu banyak "berjemur" di bawah terik matahari. Jendelanya harus di"bypass" sistemnya supaya bisa tertutup dengan baik. Mesinnya, walau masih lumayan tidak bisa menutupi kelemahan yang diakibatkan usia yang menua.

Cuma pajaknya saja yang menunjukkan bahwa pemiliknya sadar atas kewajiban.

Tetapi, kalau di dalam kota Bogor, kecepatannya masih bisa mengimbangi Ferrari, Lamborghini, atau Mercedes terbaru sekalipun.

Maklum saja, Bogor itu macet sekali dan tidak mungkin memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Saat itulah si tua ini merasa sejajar dengan para mobil "muda", "canggih", dan "mahal".
Read More

Memang Susah Jadi Anak Kecil

Memang Susah Jadi Anak Kecil
Jalan Suryakencana Bogor 2017
Kalau nontonnya di belakang, tidak mungkin kelihatan. Badan kecil nan pendek, tidaklah mungkin bisa melihat parade yang akan lewat.

Berada di paling depan adalah yang terbaik bagi seorang anak kecil.

Tetapi, itu juga bukan tanpa masalah, orang-orang dewasa di belakang suka sekali mendorong dan mendesak. Padahal, tidak ada jalan lain bagi seorang anak kecil untuk bergerak lebih maju. Orang dewasa saja tidak bisa memindahkan pagar di depan ke tempat lain, apalagi seorang anak kecil.

Memang nasib menjadi anak kecil ya begini ini.
Read More

Tidak Semua Yang Dilihat Fotografer Menyenangkan

Tidak Semua Yang Dilihat Fotografer Menyenangkan
Kali Ciliwung Bogor 2017

Memang, biasanya para fotografer akan berusaha selalu menampilkan keindahan. Itu merupakan naluri, tidak beda dengan insting pelukis yang juga akan selalu menekankan keindahan untuk menyenangkan pembeli lukisannya.

Meskipun demikian, sebenarnya ada banyak sekali hal yang tidak menyenangkan ditemui para fotografer dalam menghasilkan karya yang "menyenangkan" itu. Tidak sedikit hal yang sebenarnya mengundang kesedihan ditemukan dalam perjalanan untuk menampilkan karya yang indah-indah itu.

Berkeliling kota sendiri, Bogor, pun demikian adanya. Niatnya memang untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Bogor itu indah, tetapi pada kenyataannya banyak sudut kota hujan dan kota wisata ini sebenarnya tidak nyaman untuk dilihat.

Tidak Semua Yang Dilihat Fotografer Menyenangkan
Kali Ciliwung Bogor 2017
Pemukiman kumuh pada foto-foto di atas adalah hasil jepretan Canon 700D saat berkeliling kota berburu foto dan cerita yang biasa saya lakukan. Lokasinya terhalang bangunan yang berada di sepanjang Jalan Pajajaran Bogor, salah satu kawasan paling ramai oleh kegiatan wisata dan merupakan salah satu pusat bisnis di kota ini.

Tentu saja, tidak menyenangkan melihat jejeran rumah tidak layak huni seperti ini. Dan, tentunya, para wisatawan jarang yang melihat sisi tidak menyenangkan dari kota yang dikunjungi lebih 1 juta orang wisatawan dalam dan luar negeri setiap tahunnya itu.

Sesuatu yang kadang juga hanya disimpan oleh para fotografer di dalam hard disk komputer mereka karena terkadang tema kesusahn seperti ini sulit untuk mendapatkan perhatian.
Read More

Friday, March 30, 2018

Berburu Keindahan di Kota Sendiri

Berburu Keindahan di Kota Sendiri
Istana Bogor 2017
Tidak terasa juga, sudah tiga tahun lebih saya menekuni hobi sebagai seorang fotografer jalanan (atau apalah sebutannya). Selama itu entah sudah berapa ratus kilometer bagian dari kota Bogor yang saya susuri demi mendapatkan foto.

Mulanya hanya berbekal dengan sebuah smartphone lawas, Sony Xperia M, dengan lensa seadanya. Kemudian berkembang karena saya menyadari keterbatasannya, dengan sebuah prosumer Fuji Finepix HS 35EXR. Baru setahun belakangan, kemana-mana, sebuah Canon EOS 700D selalu menemani.

Tidak mewah. Tidak canggih. Tetapi, itulah yang mampu saya beli. Lagipula, saya tidak menekuni fotografi untuk mencari nafkah, selain sebagai hobi, juga diniatkan untuk mengisi blog bernama Lovely Bogor, yang tentunya isinya adalah hal-hal yang berkaitan dengan si Kota Hujan.

Selama itu pula, bisa dikata, sama sekali tidak pernah saya melakukan hunting foto keluar dari kota tersebut. Hampir, karena masih ada bagian kecil dimana saya tetap memotret, yaitu saat berangkat dan pulang kerja antara Bogor- Jakarta. Sepanjang perjalanan, saya kerap memanfaatkan smartphone untuk memotret hal yang dianggap menarik.

Mengapa saya hanya memotret di Bogor saja? Mengapa tidak pergi ke tempat lain yang memiliki keindahan alam, seperti Bromo, Lombok, atau Bali?

Yah, saya sempat memotret sebagian kecil Bali, yang saya lakukan saat berwisata bersama rekan-rekan kantor (dan dibiayai oleh perusahaan). Tetapi, yang tempat wisata lain, belum pernah, dan sebenarnya tidak berniat untuk sengaja pergi kesana sekedar untuk mendapatkan foto-foto indah.

Sama sekali tidak terpikir.

Berburu Keindahan di Kota Sendiri
Istana Bogor 2017
Selain karena biaya, yang tentunya sama sekali tidak murah, ada satu hal lain yang membuat saya hampir tidak terpikir untuk berburu keindahan di luar kota sendiri.

Hal itu adalah "Bogor sudah menyediakanterlalu banyak keindahan" untuk direkam oleh kamera.

Selama saya menyusuri jalan-jalan di Kota Hujan yang terkenal dengan Kebun Rayanya itu, saya menyadari bahwa fotografi bukanlah tentang "berburu tempat-tempat indah" saja. Lebih dari itu, fotografi adalah tentang "menemukan keindahan" dalam segala hal yang ada di dalam kehidupan.

Pergi ke sebuah lokasi yang indah dan belum pernah kita kunjungi memang akan sangat membantu dalam menghasilkan foto-foto yang indah. Rasa ketertarikan terhadap hal baru, semangat yang fresh, dan kegembiraan saat berwisata akan sangat menghasilkan mood yang baik bagi seorang fotografer.

Meskipun demikian, yang seperti itu bukanlah segalanya.

Seorang fotografer yang baik haruslah bisa menggali dan menemukan "keindahan" apapun yang dihadirkan di depan matanya. Ia harus mampu menemukan sudut pandang yang akan membantu orang melihat keindahan yang dilihatnya dari sudut itu.

Lagi pula, kota Bogor, yang sudah saya diami selama hampir 40 tahun, menyodorkan kepada saya begitu banyak keindahan yang bahkan tidak mungkin bisa dttemukan dan ditangani seorang diri. Seribu orang fotografer sekalipun tidak akan bisa mengeksplor keindahan yang disedikan kota ini.

Lalu, mengapa harus memaksakan diri untuk mengorek-ngorek keindahan di kota dan daerah lain kalau di tempat sendiri saja sudah terlalu banyak untuk ditangani? Bukankah itu salah satu alasan mengapa jutaan wisatawan datang ke kota ini?

Alasan bosan, tidak excited, dan sejenisnya sangat tidak masuk di akal. Tiga tahun lebih berkelana dari satu sudut ke sudut lain kota ini menunjukkan bahwa pengetahuan saya tentang kota dimana saya hidup selama 4 dasawarsa itu ternyata masih sangat sedikit. Banyak sekali hal baru yang hadir di depan mata saat memasuki pelosok-pelosok kota ini. Rasa ketertarikannya tidak berbeda dengan saat melancong ke daerah lain.

Jadi, alasan tidak menarik, bosan, sama sekali tidak benar dalam hal ini.

Berburu Keindahan di Kota Sendiri
Istana Bogor 2017
Hal ini bukan berarti saya tidak mau untuk berkunjung ke kota lain. Tetap saja kalau memang ada kesempatan, saya tidak akan menolak untuk pergi. Hanya saja, alasan kepergian itu tidak akan pernah dengan tujuan "berburu keindahan". Kalau alasannya untuk berwisata dan bergembira bersama keluarga, ya dengan senang hati.

Saat itu sudah pasti, saya akan memanfaatkan kesempatan untuk memotret dan merekam apa saja dengan si Canon (atau si Asus T00N, smartphone). Tidak akan saya lewatkan kesempatan emas ini.

Tetapi, sekedar untuk "hunting foto" dan "memotret yang indah-indah" saja tidak akan pernah menjadi alasan kepergian saya. Bogor sudah menyediakan banyak keindahan dan hal itu sudah lebih dari cukup.

Lalu, mengapa saya harus berburu keindahan itu di kota lain?
Read More

Selalu Ada Sebuah Cerita di Balik Sebuah Foto

Selalu Ada Sebuah Cerita di Balik Sebuah Foto
Jalan Soleh Iskandar Bogor 2017
Mungkin, kebanyakan orang hanya melihat sebuah foto sebagai gambar statis, diam, tak bergerak yang mewakili satu momen di masa lalu saja. Tidak ada apa-apa di balik foto itu.

Tetapi, sebenarnya tidak demikian. Memang, foto adalah perwakilan dari sekilas event yang sudah berlalu. Hanya kalau ditilik lebih dalam lagi, selalu ada sebuah cerita di balik sebuah foto.

Bagaimanapun, setiap orang yang memotret akan memiliki "ide" dan "pemikiran" yang kemudian mendorongnya untuk merekam sebuah momen. Ia pasti menganggap peristiwa itu "berharga" (meski entah seberapa tinggi harganya) sehingga ia mau merepotkan diri untuk mengeluarkan kamera dan kemudian memotretnya.

Ide itulah yang kemudian ia usahakan untuk diterjemahkan dalam bentuk visual, yaitu sebuah foto.

Dari sanalah hadir kutipan terkenal " Foto bisa bermakna 1000 kata" karena pada dasarnya ia mewakili apa yang dirasakan dan apa yang ingin disampaikan oleh si pemotretnya.

Selalu Ada Sebuah Cerita di Balik Sebuah Foto
Jalan Soleh Iskandar Bogor 2017
Cerita itu sendiri kemudian bisa dipilah lagi, menjadi cerita ringan, serius, lucu, berat, dan lainnya. Tidak sama dan akan tergantung pada pandangan masyarakat.

Sebuah foto jurnalistik tentunya bisa dikategorikan sebagai "cerita" serius karena menggambarkan peristiwa yang baru saja terjadi. Foto kemacetan di jalan yang dihasilkan oleh seorang fotografer jalanan tak terkenal akan berbeda nilai ceritanya dibandingkan kalau dipotret seorang fotografer yang punya nama.

Kisah "Snowwhite" atau "Putih Salju" dengan 7 kurcacinya kalau dibawakan seorang yang tidak terbiasa bercerita akan menghadikan rasa kantuk, tetapi di tangan orang-orang kreatif di Hollywood, hasilnya adalah tumpukan dollar di bank.

Masalah penilaian dan interpretasi dari secuah foto akan bersifat subyektif, tetapi intinya tidak berubah bahwa selalu ada sebuah cerita di balik sebuah foto. Hal itu tidak berkaitan dengan apakah cerita itu bisa tersampaikan dengan baik atau tidak karena tidak semua orang mampu "bercerita" dengan baik.

Dan, itulah yang sedang saya usahakan, agar saya mampu membawakan sebuah cerita dengan baik, lewat kamera.
Read More

Tuesday, March 27, 2018

Indahnya Perpaduan Warna Cerah dan Hitam Dalam Foto

Indahnya Perpaduan Warna Cerah dan Hitam Dalam Foto

Mulanya hanya sekedar iseng dan ingin tahu saja. Seperti apa sih sebuah foto kalau diberikan latar belakang hitam? Apakah akan menjadi mirip dengan pasfoto seperti yang tertempel di ijazah atau passport?

Hasilnya ternyata tidak sama dengan pasfoto. Beberapa hasil editing dengan menggunakan GIMP menunjukkan bahwa perpaduan warna cerah dan hitam pada sebuah foto bisa menjadi keindahan tersendiri.

Tentunya, hasil dari proses editing ini tidak bisa lagi disebut foto karena ada bagian-bagian yang dihilangkan/ditutupi oleh warna hitam dan juga bukan seperti inilah yang dilihat saat memotret. Namanya mungkin bisa dimasukkan dalam kategori "digital art" atau karya seni digital, walaupun masih sangat sederhana.



Enak dilihat kan?
Read More

Monday, March 26, 2018

Penari Bali

Penari Bali
Penari Bali 2016
Sebuah file lama yang tersimpan di komputer karena hasilnya sangat tidak memuaskan. Out of focus, terlalu terang, noise, dan banyak lagi lainnya. Maklum dijepret dengan hanya menggunakan Fuji Finepix HS35EXR, sebuah prosumer saja. Apalagi dipotret dari jarak yang lumayan jauh, jadi lengkaplah sudah.

Meskipun demikian, kemudian dengan menggunakan photo editing software gratisan, GIMP-GNU Image Manipulation Program, foto lama tersebut kemudian diedit. Beberapa bagian dibuang dan menyisakan "Sang Penari Bali" saja.

Setelah dilakukan penajaman, perbaikan contrast, dan membuat warna lebih tua, ternyata hasilnya lumayan juga. Tidak buruk sama sekali. Bahkan, saya sendiri heran hasilnya bisa sebagus ini. Maklum juga, bukan ahli dalam bidang editing foto.

Enjoy!

Read More

Anggrek Tanpa Nama

Anggrek Tanpa Nama

Namanya ada. Pasti itu. Apalagi anggrek "tanpa nama" ini dipotret di Griya Anggrek, Kebun Raya Bogor. Jadi, sudah pasti akan ada yang tahu dan bahkan mencatat namanya.

Tetapi, bagi saya tetap saja tanpa nama, karena saya tidak tahu harus menyebut dan menamainya apa. Terutama, walau saya suka anggrek, hampir tidak pernah hapal nama-nama bunga cantik ini.

Bagi saya nama tidak penting. Yang penting adalah keindahnnya yang selalu memikat mata.

(Editing : GIMP / GNU Image Manipulation Program)
Read More

Sunday, March 25, 2018

Mereka Juga Orang Indonesia

Mereka Juga Orang Indonesia
Warga Tionghoa - 2018
Mata mereka memang lebih sempit daripada kebanyakan orang Indonesia. Begitu juga kulitnya kuning mirip salah satu ras terbesar di dunia. Meskipun demikian, percayalah, mereka adalah orang Indonesia.

Lihat saja KTP mereka. Akte kelahiran. Bahkan, bahasa yang mereka pergunakan. Mayoritas dari mereka lahir di negara ini dan tidak pernah melihat negara "leluhur"nya. Banyak dari mereka yang ibu, bapak, kakek, dan neneknya lahir dan mati di Indonesia.

Haruskah mereka tetap dianggap bukan orang Indonesia?

(Editting : GIMP - GNU Image Manipulation Program)
Read More

Bunga Teratai Putih Cantik

Bunga Teratai Putih Cantik

Tidak mahal. Tidak mewah. Tidak akan ditemukan dalam vas di meja rumah atau kantor. Tempatnya biasanya di kolam terbika. Maklum, tanaman akuatik.

Tetapi, soal keindahannya, jangan ditanya. Tidak ada yang tidak tertairk melihat Bunga Teratai Putih. Kelopaknya yang bak mahkota serta gabungan warna sederhana tidak pernah gagal membuat yang melihat setidaknya mengerling sejenak ke arahnya/

(Editing : GIMP/GNU Image Manipulation Program)
Read More

Kuning Juga Indah

Kuning Juga Indah
Bunga Mentega 2018
Warna kuning sering tidak dianggap oleh pengendara motor. Artinya adalah perlambat kendaraan Anda tetapi pemotor sering menerjemahkannya dengan tekan gas lebih dalam.

Tetapi, warna kuning pada bunga, tidak akan pernah bisa tidak dianggap dan luput dari perhatian.

(Editing : GIMP / GNU Image Manipulation Program)
Read More

Wajah Naga Yang Tidak Menyeramkan

Wajah Naga Yang Tidak Menyeramkan
Wajah Naga 2018
Kata orang, naga itu menyeramkan, tetapi kalau melihat acara Cap Go Meh itu, ternyata sama sekali jauh dari kata menakutkan. Wajahnya ceria dan penuh warna.

Jadi, haruskah takut kepada naga?

(Editing : GIMP / GNU Image Manipulation Program)
Read More

Lotus atau Bunga Seroja Itu Enak Dilihat

Lotus atau Bunga Seroja Itu Enak Dilihat
Lotus 2018
Bukan bunga yang mahal.  Jarang ditemukan di toko bunga. Tidak akan diharapkan oleh wanita manapun saat menerima pernyataan cinta.


Meskipun demikian, keindahan adalah keindahan. Tidak peduli harganya dan dimana ia hidup, sesuatu yang indah harus dikatakan indah. Begitu juga dengan Lotus atau Bunga Seroja. Meskipun bukan bunga yang mewah dan mahal, tetap saja bunga ini enak untuk dilihat.

(Editing : GIMP / GNU Image Manipulation Program)


Read More

Saturday, March 24, 2018

Ungu si Warna Janda

Ungu si Warna Janda
Anggrek Bulan - 2018
Kata orang "Ungu" adalah warna "Janda". Entah darimana asalnya penyematan nama warna terhadap status seorang wanita berasal.


Hanya kenyataannya, warna ungu pun bisa seperti janda menarik dalam menarik perhatian lawan jenis. Bisa sama memikatnya, seperti jika warna itu ada pada sekelompok Anggrek Bulan, Puspa Pesona Indonesia.

(Editing : GIMP / GNU Image Manipulation Program)
Read More

Putih dan Hitam Cukup Untuk Menampilkan Keindahan

Putih dan Hitam Cukup Untuk Menampilkan Keindahan
Anggrek Bulan - 2018
Terkadang tidak perlu banyak warna untuk menampilkan keindahan. Putih dan Hitam saja dengan sedikit tambahan warna lain kerap sudah cukup untuk menghadirkan rasa di dalam hati yang melihat.

Paling tidak itulah yang terjadi ketika melihat Anggrek Bulan, salah satu Puspa Nasional Indonesia.

(Editing : GIMP/GNU Image Manipulation Program)
Read More

Suatu Pagi Di Stadion Pakansari Bogor

Suatu Pagi Di Stadion Pakansari Bogor
Stadion Pakansari - 2017
Ada satu alasan mengapa para fotografer selalu disarankan untuk bangun pagi. Bukan saja untuk mengejar rejeki supaya tidak dipacok ayam, tetapi juga karena disana ada yang namanya Golden Hours, yaitu saat-saat dimana sinar matahari masih lembut dan tidak terlalu keras menyinari obyek.

Dan satu lagi, yaitu langit biru yang kerap menampakkan diri, apalagi kalau hujan baru selesai turun. Penampakannya akan sangat membantu memberikan nuansa yang bagus bagi sebuah foto.
Read More

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Tahukah Anda situasi seperti apa yang paling mengenaskan bagi seorang fotografer? Jawabannya, sedang semangat memotret dan sudah berada di lokasi pemotretan, tetapi tidak bisa memotret karena baterai kamera habis.

Itulah yang saya alami hari ini.

Rencananya, pagi ini, saya hendak hunting foto, ritual mingguan untuk mengisi beberapa blog yang saya kelola juga, salah satunya Lovely Bogor, yang bercerita tentang berbagai hal tentang kota ini.

Semangat rasanya setelah sempat beberapa minggu vakum karena satu dan lain hal. Si Canon 700 D sudah siap bahkan sebelum saya mandi. Kendaraan andalan, si Supra Fit keluaran tahun 2006 juga sudah standby.

Dan, berangkatlah saya.

Hanya butuh 15 menit untuk mencapai lokasi pertama, yaitu Monumen Helikopter di Lanud Atang Sanjaya.

Setelah memarkir motor di minimarket terdekat, dan sempat berbincang sejenak dengan tukang parkirnya, bak fotografer profesional,saya mondar mandir kesana kemari. Mencari sudut pemotretan yang pas, begitu saran dari para pakar di bidang ini. Maklum lah, sebagai fotografer jalanan, harus mampu melihat berbagai faktor yang akan berpengaruh pada pemotretan.

Barulah setelah dirasa posisi yang pas ditemukan, si Canon 700 D keluar dari sarangnya. Langsung lensa 55-250 mm dibidikan ke arah obyek. Jempol pun langsung memutar tombol ke arah "ON".

Tunggu punya tunggu, heran juga tidak ada indikator yang menyala di viewfinder. Sama sekali tidak ada, bahkan sekedar indikator baterai sekalipun tidak nampak batang hidungnya. Semuanya blank. Kosong.

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Ingatan langsung melayang ke tiga minggu yang lalu. Pada saat itu si Canon juga ikut serta meliput ajang Bogor CGM Street Festival 2018 yang berlangsung di Jalan Suryakencana.

Pada saat itu hujan turun lumayan deras dan lama. Juga, saat itu karena parade tetap berlangsung di bawah rintik hujan, sempat si Canon terkena tetesan air. Jadi, ada kekhawatiran juga bahwa ia "ngambek" alias "rusak". Cilaka kalau begitu.

Tetapi, setelah diingat kembali, si Canon , yang juga disebut si Rebel itu, sudah dilap kering dan juga masih berfungsi sekembali dari ajang tersebut, seharusnya tidak ada masalah.

Barulah kemudian saya teringat bahwa sejak ajang itu, saya "merasa" belum sempat men-charge baterainya lagi. Jadi, yah, nasib, kemungkinan besar baterainya yang habis adalah penyebabnya. Saya lalai melakukan prinsip dasar seorang fotografer, yaitu mengecek peralatannya sebelum berangkat.

Gemas. Kesal. Cuma ya mau bagaimana lagi.

Untungnya, saat itu si smartphone tua, Asus T00N, si Padfone ada di kantung. Sangat tidak ideal, terutama karena lensanya sudah tidak sempurna lagi karena terlalu banyak goresan akibat tergesek berbagai benda.

Cuma, hanya itulah satu-satunya yang bisa membantu setidaknya untuk mendapatkan beberapa foto dari Monumen Helikopter. Kalau tidak, berarti harus pulang ke rumah dulu dan kemudian balik lagi. Sesuatu yang sangat tidak menyenangkan mengingat jalanan Bogor yang sangat macet. Sudah pasti mood akan hilang.

Jadilah diputuskan untuk memotret dengan alat seadanya.

Hasilnya, beberapa bisa dilihat di tulisan ini. Banyak kekurangannya, tetapi paling tidak ada hasil dari perjalanan hunting foto hari ini. Ada beberapa artikel yang bisa tayang karena kehadiran si Asus yang setelah dipakai memotret juga kemudian habis baterainya.

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Sepulangnya ke rumah, langsung saja kompartemen baterai si Canon dibuka. Niatnya hendak langsung men-charge baterai untuk dipakai pada sesi berikutnya.

Ndilalahnya, ternyata baterainya tidak ada disana. Kompartemen baterai si Canon kosong melompong. Pantas saja agak terasa ringan saat dipegang.

Cari punya cari, ternyata baterainya ada di chargerannya. Rupanya sudah diisi ulang setelah selesai dipakai untuk CGM Street Festival. Hanya saja, saya lupa memasukkannya kembali ke dalam kameranya.

Parah.

Jadi, silakan saja nikmati foto-foto hasil si smartphone tua. Terlihat kurang tajam, cuma sebagai penghargaan karena sudah menyelamatkan hunting foto kali ini, wajar lah kalau foto-foto ini diperlihatkan. Tentunya dengan sedikit tambahan sentuhan dari GIMP, si software pengedit foto gratisan.
Read More

Friday, March 23, 2018

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto
Sebelum diedit - overexposed/terlalu terang
Banyak kesalahpahaman tentang fungsi utama Photo Editing Software, seperti Photoship dan GIMP. Kebanyakan membayangkan bahwa kegunaan kedua perangkat lunak ini adalah membuat segala sesuatu menjadi sempurna, cantik, dan ganteng.

Sebenarnya tidak demikian.

Mungkin bagi para seniman digital, hal itu benar adanya, tetapi bagi seorang fotografer fungsi utama Photo Editing Software adalah untuk memperbaiki foto.

Di lapangan, para fotografer rentan melakukan kesalahan, seperti kesalahan mengatur shutter speed dan membuat fotonya menjadi terlalu cerah dan terang seperti foto di atas. Padahal, bisa jadi foto itu bagus secara komposisi dan aperturenya.

Lalu, apa yang harus dilakukan>? Didelete sayang karena kebanyakan momen susah diulang, apalagi bagi fotografer jalanan yang tidak mungkin ada momen yang sama.

Disanalah peran software-software tersebut. Mereka bisa memperbaiki tingkat kecerahan dan beberapa detail agar foto-foto itu lebih enak dilihat.

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto
Setelah diedit dan diatur tingkat kecerahannya
Beberapa perbaikan kecil pada foto di atas membuatnya agak lebih enak dilihat dan tidak begitu menyilaukan.

Itulah fungsi utama dan paling dasar dari Photo Software Editing. Sebagai alat perbaikan.
Read More

Wednesday, March 21, 2018

Perlu Banyak Latihan Untuk Mengedit Foto

Perlu Banyak Latihan Untuk Mengedit Foto

"Gampang. Nanti tinggal diedit saja fotonya biar lebih bagus" .Pernyataan itu banyak diucapkan masyarakat awam kalau sedang memotret. Memang tersedianya berbagai perangkat lunak untuk memperindah foto dalam berbagai jenis membuat banyak orang berpikir semua bisa diperbagus dengan melakukan foto editing.

Padahal, tidak demikian sebenarnya. Bagi pecinta fotografi, menggunakan photo editing software bukan berarti sekedar memakai berbagai efek praktis yang sudah disediakan. Mereka menginginkan lebih dari itu dan bukan sekedar asal-asalan saja. Apalagi kebanyakan efek yang disediakan aplikasi terbatas dan banyak yang tidak sesuai dengan pengembangan ide.

Dan, itu tidak mudah sama sekali.

Foto di atas adalah salah satu screenshoot dari usaha untuk melakukan editing pada sebuah foto. oto ini pernah dipajang di "Mempersiapkan Kamera".

Dalam ukuran kecil 640 X 480, hal ini tidak terlihat dan tertutup, tetapi dalam ukuran lebih besar 1024 x 800, terlihat sekali hasil editan yang masih kasar.

Benar-benar tidak mudah sama sekali untuk menghasilkan editan yang halus dalam berbagai ukuran. Perlu banyak kesabaran dan ketelitian.

Saat itu, saya belum memilikinya. Masih terasa sekali kurang sabarnya saya dalam mengedit foto sehingga hasilnya kurang maksimal. Mungkin karena, saya sendiri baru mencoba dan belajar menggunakan GIMP dan Photoshop.

Dan, saat ini semua masih terasa sulit sekali. Tidak beda dengan ketika pertama kali saya berusaha menggunakan berbagai teori fotografi. Susah, tetapi lama kelamaan menjadi terbiasa. Itulah yang saya harapkan suatu waktu hal itu juga berlaku dalam mengedit foto.
Read More

Tuesday, March 20, 2018

Sinar Matahari Itu Menyehatkan

Sinar Matahari Itu Menyehatkan
Stasiun Bogor 2017

Sinar matahari itu menyehatkan. Mengandung vitamin D untuk menguatkan tulang. Jadi, mengapa harus menunggu di kabin ber-AC.

Apalagi siapa tahu ada bidadari yang turun dari langit dan mau menemani naik kereta ke Jakarta.

(Edisi Hitam Putih)
Read More

Permainan Anak-Anak Tanpa Warna

Permainan Anak-Anak Tanpa Warna
Jalan Suryakencana Bogor 2018
Hanya permainan anak-anak saja. Khusus anak wanita, pria mainannya berbeda. Tidak ada yang istimewa.

Hanya, bisakah Anda menemukan ada berapa boneka yang tanpa warna dalam foto di atas? Bisa diklik supaya lebih besar tampilannya.

(Edisi : Selective color)
Read More

Mempersiapkan Kamera

Mempersiapkan Kamera

Bukan hanya fotografer yang harus mempersiapkan kamera sebelum acara dimulai. Kameraman, atau juru kamera juga harus melakukannya, kalau tidak mau diomeli atasan.

Untungnya, kamera fotografer lebih ringkas dan bisa dipergunakan lebih cepat sehingga bisa merekam kegiatan koleganya di bidang video itu.

(Edisi Selective Color)
Read More

Tidak Semua Ingat Untuk Membawa Payung

Tidak Semua Ingat Untuk Membawa Payung
Jalan Suryakencana Bogor 2018
Bogor itu Kota Hujan. Begitulah julukannya karena frekuensi hujan di wilayah ini sangat sering dan air bisa turun dari langit secara tiba-tiba meski di musim kemarau.

Payung adalah benda yang "wajib" dibawa saat bepergian disana. Sayangnya, tidak semua orang mematuhi aturan tak tertulis itu.

(Percobaan membuat efek "Selective Color" dengan GIMP)
Read More

Apakah Semua Foto Digital Perlu Diedit?

Apakah Semua Foto Digital Perlu Diedit?

(Foto : Patung Pemain Musik di Taman Meksiko, Kebun Raya Bogor)
Sebuah pertanyaan yang selalu menghantui para fotografer atau penggemar fotografi di seluruh dunia. Haruskah saya mengedit foto? Ataukah menampilkannya begitu saja kepada khalayak?

Pertanyaan yang sebenarnya mudah, tetapi sekaligus susah untuk dijawab karena tergantung pada tujuan dan kepentingan yang memotret.

Bila tujuannya hanya sebagai kenang-kenangan berwisata ke sebuah tempat, maka tidak perlu repot-repot mengedit foto. Inti dari "keindahan" foto ada di hati Anda dan orang-orang yang bersama-sama bersuka ria selama perjalanan wisata itu. Tidak butuh pengeditan apapun, saat melihat foto akan hadir sebuah rasa, "Gembira", "Bahagia".

Berbeda jika tujuan utama Anda mendapatkan LIKE di media sosial, berarti Anda harus memperhitungkan selera mereka yang melihat. Ada target yang hendak dikejar, walaupun sekedar emoticon "jempol" atau "hati" penanda yang melihat menyukainya.

Jawaban perlu tidaknya sebuah foto diedit dengan Photoshop atau tidak, ya tergantung kemampuan Anda menilai selera keindahan khalayak yang menjadi sasaran Anda.

Yang terakhir, jika tujuannya adalah UANG, mau tidak mau bersiaplah Anda menghabiskan waktu lebih lama lagi sebelum bisa memperlihatkan foto Anda. Suka atau tidak suka, Anda harus memuaskan si "pemberi uang". Anda dibayar.

Dan, tentunya kalau fotonya tidak enak dilihat, maka tidak ada uang yang akan diberikan kepada Anda. Juga, kemampuan mengedit foto akan membantu untuk bersaing di tengah begitu banyaknya orang yang berpikiran sama, menggunakan fotografi untuk mendapatkan uang.

Pada kasus terakhir, hampir semua foto harus diedit agar bisa menyenangkan orang lain.

Jadi, jawabannya, ya tergantung pada tujuan Anda saat memotret. Untuk diri sendiri dan bersenang-senang, atau untuk memuaskan keinginan mendapat pujian, atau untuk mendapatkan uang. Hasilnya akan berbeda pada setiap kasus.

Tidak ada jawaban standar dan pasti dalam hal ini.
Read More

Memotret Itu Mudah, Yang Membuatnya Sulit Namanya KEINGINAN

Memotret Itu Mudah, Yang Membuatnya Sulit Namanya Keinginan

Kata siapa memotret sulit. Mudah sekali kok. Siapapun bisa melakukannya apalagi di zaman digital seperti sekarang. Setiap orang punya kamera dan bahkan dibawa kemana-mana setiap hari. Bahkan, ke WC sekalipun tetap dibawa. Benar kan?

Merekam momen dengan kamera tidaklah sesulit yang diduga banyak orang. Cukup arahkan kamera ke arah obyek yang diinginkan, dan kemudian tekan tombol shutter. Hasilnya akan bisa dilihat segera.

Dan, itu namanya sudah memotret, sesuatu yang menjadi inti dunia fotografi. Inti, dan tanpa kegiatan ini maka tidak akan ada yang namanya fotografi.

Tetapi, mengapa banyak orang berpandangan bahwa fotografi itu sulit?

Alasannya sederhana sebenarnya dan berkaitan dengan karakter manusia. Namanya "KEINGINAN".

Dulu, memotret adalah sarana untuk merekam momen, merekam satu bagian dari kehidupan. Gunanya untuk memperlihatkan kepada orang lain, kondisi di suatu saat di masa lampau.

Tetapi, kemudian hadir keinginan agar fotonya dipuji banyak orang. Jadilah orang belomba-lomba berusaha untuk membuat foto-foto mereka menjadi indah dan mendapat pujian. Sebagian lagi berharap bahwa dengan membuatnya menjadi enak dilihat, foto itu dapat dijual dan menghasilkan uang. Tidak sedikit pula yang berkeinginan jika banyak orang yang mengaguminya, ia bisa mendapatkan gelar "fotografer" progesional.

Semua itu karena keinginan. Tidak beda dengan berbagai bidang lain, fotografi tidak kebal dari "keinginan" manusia, yang semakin lama semakin rumit.

Memotret adalah sesuatu yang sederhana. Orang-orang di masa lalu menggunakan kamera kebanyakan untuk merekam momen-momen yang dianggap menarik dan berharga. Polos. Tetapi, di masa sekarang di saat semua orang ingin "tampil", maka semuanya menjadi rumit.

Berbagai teknik dan peralatan dipergunakan demi untuk memenuhi "keinginan" untuk dipandang orang banyak.

Sesuatu yang wajar? Ya wajar saja. Namanya manusia pasti punya keinginan. Hanya saja, terlalu mengedepankan keinginan, dalam hal ini untuk tampil, dipuji, dan disanjung banyak orang, juga tidak baik. Seringkali intinya menjadi bergeser tertutup dengan hasrat dan nafsu juga.

Inti memotret ya hanya segitu saja, merekam momen.Sederhana.

Cukup arahkan kamera pada obyek yang dianggap menarik dan kemudian tekan tombol shutter.

Selesai.


Read More

Sunday, March 18, 2018

Sepertinya Perlu Menjadi 1/2 Fotografer 1/2 Seniman Digital

Sepertinya Perlu Menjadi 1/2 Fotografer 1/2 Seniman Digital

Entahlah, sebuah pertanyaan besar di zaman digital seperti sekarang ini, mampukah seorang fotografer bertahan dan menonjol hanya dengan mengandalkan kamera dan kemampuannya memotret saja.

Kalau diperhatikan "semua" foto yang mengundang decak kagum yang melihat sudah melalui yang namanya "post-processing", alias proses sesudah foto keluar dari kamera. Setiap foto yang bagus sepertinya sudah mendapat sentuhan tambahan via Photoshop atau berbagai photo software editing lainnya.

Sepertinya sulit untuk seorang fotografer "murni", apalagi yang hanya mengandalkan kamera dengan "cropped sensor" untuk bisa mengimbangi kemampuan para fotografer yang juga mahir menggunakan Photoshop.

Bahkan, zaman pun sudah mendorong para fotografer untuk tidak lagi 100% bergantung pada kameranya untuk bisa mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Jadi, sepertinya memang tidak ada jalan lain lagi bagi para fotografer selain harus meninggalkan idealisme fotografi adalah tentang melukis dengan cahaya, seperti yang banyak digadang-gadang. Bisa dikata fotografi sudah tidak sepenuhnya mengandalkan cahaya, tetapi memerlukan sentuhan prosesor komputer juga.

Hanya pertanyaan lanjutan, berapa persen kah kemurnian fotografi harus dikorbankan? 10%? 20%? atau bahkan perlukah menjadi setengah fotografer setengah seniman digital untuk bisa berhasil di dunia ini?

Read More

Saturday, March 17, 2018

Mengedit Foto Itu Perlu Kesabaran dan Ketelitian

Mengedit Foto Itu Perlu Kesabaran dan Ketelitian

Pepatah orang Barat mengatakan "No Free Lunch" alias tidak ada makan siang gratis. Semua ada harga yang harus dibayar di dunia ini. Begitu juga dalam fotografi.

Untuk mengedit foto juga ada harganya yang sering tidak terlihat. Yang melihat mungkin tidak pernah membayangkan perjuangan di balik layar bagaimana dan apa yang harus dikorbankan oleh seorang fotografer saat melakukan proses pengeditan foto.

Terus terang, selain harga softwarenya ada lagi yang harus dikeluarkan, yaitu waktu, tenaga, dan pikiran.

Memang, banyak yang mengatakan dan menyarankan untuk mempergunakan berbagai pre-set, paket setting yang sudah tersedia di dalam software. Tetapi, terkadang, pre-set yang ada tidak sesuai dengan ide dan imajinasi yang ada di kepala. Bisa juga editing yang perlu dilakukan hanyalah hal-hal kecil saja, seperti mempertajam gambar atau membuat salah satu bagian foto lebih jelas. Dan, biasanya hal ini tidak tersedia dalam pre-set yang ada.

Salah satunya adalah foto di atas.

Foto aslinya, secara komposisi sudah lumayan. Sayangnya, karena jangkauan lensa saat foto dihasilkan, obyek utamanya agak kabur dan tidak tajam.

Mengedit Foto Itu Perlu Kesabaran dan Ketelitian

Warnanya juga kurang kontras sehingga obyeknya kurang begitu menonjol.

Kalau dilakukan editting pada semua bagian, hasilnya malah kurang enak dipandang mata. Jadi, saya harus memastikan satu bagian saja, si ibu dan anak-anaknya yang dipertajam dan dibuat sedikit lebih gelap agar lebih menonjol dibandingkan latar belakangnya.

Dan, ternyata membutuhkan waktu setidaknya 15-20 menit hanya untuk mengedit bagian tersebut di GIMP (GNU Image Manipulation Program).

Masalah utamanya ada pada bentuk obyek yang memiliki banyak "lekuk". Tidak bisa mempergunakan tool "rectangle selection" (berbentuk kotak) dan harus mempergunakan "free style" yang berbentuk pensil agar bisa mengikuti bentuk obyek.

Disitulah masalahnya. Tidak mudah ternyata. Berulangkali, "pensil" digital, yang dijalankan kursor, terlalu melebar atau menyempit. Hasilnya tidak bisa pas mengikuti garis-garis lengkung obyek. Jadilah berulangkali harus diulang hingga paling tidak hasilnya cukup pas.

Barulah dilakukan perbaikan kontras serta mempertajam warna.

Hanya sedikit yang harus diedit pada foto di atas, tetapi ternyata waktu yang terpakai lumayan lama juga. Hal itu menunjukkan bahwa mengedit foto itu tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Butuh banyak kesabaran dan ketelitian untuk menghasilkan sesuai yang diinginkan.

Setidaknya, dengan begitu saya bisa lebih menghargai usaha dan kerja keras yang dilakukan para seniman digital dalam menghasilkan karyanya. Sudah pasti butuh perjuangan dan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Sesuatu yang seringkali tidak diketahui dan dihargai oleh yang melihat hasilnya.

Read More

Foto Jangan Hanya Disimpan di Hard Disk

Foto Jangan Hanya Disimpan di Hard Disk
Bogor 2017
Di zaman digital seperti sekarang, ongkos untuk memotret menjadi sangat murah. Memang betul bahwa harga kamera, walau sudah semakin terjangkau, tetap saja masih lumayan mahal. Tetapi, setelah itu biaya yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah foto hampir tidak ada lagi. Kecuali, biaya kopi, minum, dan makan saat hunting foto, tentunya tetap ada.

Selebihnya, benar-benar hampir tidak ada.

Tidak seperti di masa lalu, dimana untuk memotret harus membeli "film". Kemudian, untuk melihat hasilnya, perlu pergi ke toko cuci cetak foto dan tentunya tidak gratis sama sekali.

Biaya-biaya seperti itu sudah tidak lagi diperlukan di masa sekarang. Cukup jepret saja, beberapa saat kemudian (dalam hitungan detik) hasilnya sudah bisa dilihat. Kalau memang mau, bisa dicetak, tetapi kalau tidak dibiarkan saja di SD card atau dipindahkan ke hard disk komputer.

Sayangnya, kebiasaan baru itu juga menyebabkan banyak sekali foto yang hanya menjadi "pemakan" tempat saja. Banyak foto yang pada akhirnya tidak pernah dilihat lagi dan hanya menjadi salah satu penghuni cakram keras penyimpan data itu.

Sayang.

Memang bisa dimaklumi bahwa banyak sekali orang yang tidak mau untuk memperlihatkan hasil jepretan kamera mereka. Takut dicemooh. Takut dikritik. Dan, berbagai takut lainnya yang biasanya berhubungan dengan pandangan mereka sendiri terhadap karya foto yang mereka buat.

Padahal, kalau saja foto-foto tersebut bisa "tayang", setidaknya di internet, banyak hal yang mungkin timbul. Memang, tidak semuanya baik, karena bisa jadi yang datang adalah sebuah kritik dan bisa sangat pedas, tetapi bukankah dari situ bisa dipelajari dimana kesalahannya? Kemudian dari kesalahan itu bisa ditemukan cara memperbaikinya?

Salah satu hal yang bisa memacu perkembangan diri seorang fotografer atau pemotret adalah ketika mereka melakukan kesalahan dan kemudian mencoba memperbaikinya. Mereka akan menjadi lebih baik di kemudian hari.

Juga, jangan lupakan bahwa foto bisa bermakna seribu kata. Dalam sebuah foto juga terkandung informasi yang mungkin diperlukan orang lain. Di masa berwisata sudah menjadi gaya hidup, banyak sekali orang yang ingin tahu tempat sebuah lokasi wisata sebagai bahan pertimbangan sebelum mereka berkunjung kesana.

Salah satu cara paling efektif dalam memperlihatkan seperti apa suatu tempat adalah dengan memperlihatkannya secara visual, lewat foto.

Dengan kata lain, walau mungkin kalau dilihat dari sisi seni tidak indah, foto yang dipamerkan bisa membantu banyak orang mendapatkan gambaran. Jelas lebih baik dan berguna dibandingkan hanya menjadi sampah digital yang tidak berguna.

Itulah salah satu alasan di belakang mengapa blog ini lahir. Maniak Potret namanya. Selain menulis saya memang gemar sekali memotret. Apa saja? Tidak ada genre pasti yang saya anut. Lewat blog ini saya ingin memperlihatkan hasil-hasil karya jepretan camera.

Bukan karena yakin foto-foto nya bagus, tetapi sharing is caring. Saya tidak tahu pasti apakah memang ada yang bisa memanfaatkan foto ini, tetapi siapa tahu saja memang ada yang bisa memanfaatkannya. Paling tidak, saya sudah memperlihatkan dan berbagi kepada dunia apa yang saya lihat lewat viewfinder kamera saya.

Iya nggak sih.
Read More

Obyek Sederhana Pun Bisa Menjadi Indah Di Tangan Fotografer Handal

Obyek Sederhana Pun Bisa Menjadi Indah Di Tangan Fotografer Handal

Banyak orang mengira bahwa untuk menghasilkan sebuah foto yang indah dan enak dilihat maka obyeknya haruslah selalu "wah" dan sesuatu yang yang luar biasa. Tidak sedikit yang berpikir bahwa apa yang difoto lah yang menjadi penting.

Padahal, sebenarnya tidak demikian.

Yang terpenting dalam menghasilkan foto yang indah adalah apa yang ada di kepala yang memotret. Banyak sekali fotografer handal yang hanya memotret obyek-obyek sederhana saja, seperti wajah orang, pemandangan, bunga, binatang dan bahkan makanan.

Mereka berhasil merubah sesuatu yang biasa menjadi "luar biasa" di mata yang melihat.

Kemampuan sang fotografer lah yang membuat hal ini bisa terjadi. Kemampuan untuk menemukan sudut pandang terbaik. Kemampuan untuk menggunakan cahaya untuk memperindah obyeknya. Kemampuan untuk menemukan titik tercantik dari obyek. Kemampuan untuk mengatur setting kamera yang tepat untuk menampilkan kecantikan dan keindahan obyeknya.

Kesemuanya itu yang berperan dalam menghasilkan foto yang baik. Bukan obyeknya.

Seberapapun cantik obyeknya, tanpa kemampuan dari sang fotografer, maka hasilnya tidak akan menjadi enak dipandang mata.

Foto di atas hanyalah foto bunga kertas, bougainville saja. Sesuatu yang tidak menarik dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan sering diabaikan karena tidak ada nilai rupiahnya. Tetapi, di tangan seorang penggemar fotografi, yang walau kemampuan memotretnya tidak luar biasa, bisa menjadi sebuah foto yang lumayan enak dilihat.

Bandingkan saja kalau yang memotret tidak tahu cara untuk memotretnya. Apakah hasilnya akan seperti ini? Kemungkinan besar tidak.


Iya kan?
Read More

Thursday, March 15, 2018

Fitur Red-Eye Reduction Tidak 100% Mengurangi Mata Merah

Fitur Red-Eye Reduction Tidak 100% Mengurangi Mata Merah

Mata merah pada hasil foto adalah salah satu hasil yang mungkin terjadi di kala memotret di malam hari dengan menggunakan flash/lampu kilat. Biasa terjadi karena mata manusia memang akan memantulkan spektrum merah saat terkena kilatan cahaya. Biasanya hasil fotonya memang kurang enak karena mata obyeknya (terutama manusia) akan "menyeramkan" seperti vampir.

Itulah mengapa pada kamera digital masa kini ada fitur Red-Eye Reduction atau fitur untuk mengurangi mata merah pada hasil foto di malam hari.

Nah, biasanya, banyak orang akan berpikiran bahwa dengan menggunakan fitur ini, sudah pasti masalah "mata merah" akan terselesaikan.

Sebenarnya, tidak. Kata reduction dalam fitur ini berasal dari bahasa Inggris yang berarti "mengurangi". Ya, hanya mengurangi saja dan bukan seratus persen menghilangkan kemungkinan terjadinya efek itu. Kalau menghilangkan, mungkin nama fiturnya Red-Eye Eliminator.

Kenyataannya, seorang fotografer memang harus tetap memperhitungkan jarak mereka saat memotret. Kalau, jarak antara lensa dan obyek terlalu dekat, meskipun fitur ini sudah diaktifkan, tetap saja akan terlihat efek mata merah pada obyek.

Fitur Red-Eye Reduction Tidak 100% Mengurangi Mata Merah

Foto yang diambil sekitar pukul 07-08 malam saat Cap Go Meh Bogor 2018 berlangsung ini diambil dari jarak lumayan dekat 1-2 meter saja dengan Canon 700D dan lensa 55-250 mm. Hasilnya, secara total tidak terlalu buruk.

Meskipun demikin, kalau dilihat lebih teliti, terlihat bagaimana mata si obyek memantulkan cahaya merah dan membuat hasilnya terkesan tidak natural. Padahal, saat itu fitur Red-Eye Reduction sedang dalam posisi aktif.

Rupanya jarak yang terlalu dekat membuat sinar lampu kilat terlalu kuat untuk ditangani oleh fitur ini dan hasilnya kilatan mata merah tetap terlihat, walau lebih samar dan tidak terlalu kuat.

Jadi, tetaplah berhitung dengan jarak saat memotret meskipun fitur pengurang mata merah sudah diaktifkan.
Read More

Wednesday, March 14, 2018

Belajar Mengedit Foto Itu Perlu, Tetapi Jangan Berlebihan

Belajar Mengedit Foto Itu Perlu, Tetapi Jangan Berlebihan

Mengedit foto itu bukanlah sesuatu yang haram. Memang, banyak fotografer dan penggemar fotografi menganggap kalau tindakan mengedit foto itu sebagai sebuah tindakan curang dan tidak sesuai dengan etika fotografi. Padahal, sebenarnya tidak demikian adanya.

Banyak fotografer kawakan di masa lalu, saat kamera masih analog, melakukan yang namanya mentusir alias memperbaiki foto dalam bentuk negatif sebelum kemudian mencetaknya. Hal itu menunjukkan bahwa usaha untuk melakukan modifikasi pada foto sudah dilakukan sejak lama.

Bedanya, jika di masa lalu dilakukan secara manual, di masa digital pada masa kini, semua bisa dilakukan dengan mudah dengan seperangkat komputer atau gadget saja.

Jadi, bisa dikata mengedit foto adalah bagian dari fotografi itu sendiri. Tidak terpisahkan.

Oleh karena itu, belajar mengedit foto bisa dikata merupakan sebuah hal yang "hampir wajib" dilakukan setiap orang yang bergelut di bidang fotografi.

Hanya, terkadang keinginan manusia akan kesempurnaan itu tidak ada batasnya. Acap kali usaha melakukan perubahan pada sebuah foto membuatnya melewati batas-batas, seperti menambahkan obyek atau merubahnya sehingga sesuai dengan idenya saja. Kerap hasilnya justru tidak lagi natural dan menyerupai foto, tetapi lebih mengarah pada sebuah "lukisan".

Kalau ini terjadi, maka sebenarnya yang melakukannya sudah masuk ke dalam batas "digital imaging" atau pencitraan digital. Bukan lagi fotografi karena salah satu syarat foto adalah "apa yang dilihat melalui viewfinder/LCD.

Dengan menambahkan obyek, maka berarti yang mengedit sebenarnya tidak merekam apapun. Ia hanya menuangkan apa yang ada di kepalanya menjadi sebuah image saja. Ini adalah wilayah "digital artis", yaitu seniman digital yang memanfaatkan obyek untuk "melukis". Bukan fotografi.

Batasannya memang kurang jelas dan akan selalu samar antara fotografi dan digital imaging. Dan hal itu haruslah dipahami betul.

Biasanya hal yang harus dipelajari dalam mengedit foto berkisar hanya pada memperbaiki kontras, brightness, burning, saturasi dan beberapa hal lainnya. Di dalamnya tidak ada unsur penambahan obyek apapun yang membuat faktor "fotografer melihat apa yang dipotretnya" hilang.

Jadi, pelajarilah cara mengedit foto yang baik, tetapi juga ketahuilah batasannya supaya tetap menjadi fotografer dan bukan seniman digital.
Read More

Foto Jelek ? Jangan Menyalahkan Kamera dan Lensa

Foto Jelek ? Jangan Menyalahkan Kamera dan Lensa

Hal yang paling mudah saat sebuah kesalahan dilakukan adalah dengan mencari kambing hitam untuk disalahkan dan dijadikan penyebabnya. Apalagi, kalau yang menjadi kambing hitam itu tidak bisa melawan, membantah, atau bahkan berbicara, seperti kamera dan lensa.

Sebuah hal yang sangat umum dalam dunia fotografi adalah ketika hasil foto jelek, maka seringkali yang ditunjuk sebagai biang keladinya adalah peralatannya. Lensanya kurang bagus lah. Kameranya bukan kamera full frame lah. Auto-focusnya kurang cepatlah. Dan, masih banyak lagi alasan lain yang intinya bukan fotografernya yang salah, tetapi peralatannya.

Memang enak tenan.

Sayangnya, sikap mental seperti ini adalah salah satu penghambat utama seorang fotografer untuk maju.

Sikap mental menyalahkan peralatan adalah bentuk dari penolakan kenyataan bahwa dirinya tidak mampu membuat foto yang bagus. Padahal, perbaikan dan tindakan koreksi untuk kemajuan hanya bisa ditemukan dan diterapkan kalau yang berbuat kesalahan menerima dulu kesalahan.

Seorang pemenang bukan berarti dia tidak pernah kalah. Justru biasanya ia akan sering mengalami kekalahan pada awalnya, tetapi ia kemudian melakukan perbaikan berdasarkan kesalahan dan kekalahan yang dibuatnya.

Begitu juga dalam fotografi, menerima kenyataan bahwa hasil fotonya jelek akan membuka peluang ke arah perbaikan. Seorang fotografer yang baik akan belajar dari foto jelek itu dan berusaha menemukan kesalahan yang diperbuatnya.

Apakah karena kesalahan menyetel aperture kah? Tidak tepat memperhitungkan arah datangnya cahaya atau kekuatan kah? Atau memang karena sedang tidak mood karena habis berantem dengan istri?

Yang manapun bisa saja jadi penyebab hasil pemotretan menjadi jelek dan tidak enak dilihat.

Untuk maju hal-hal itu haruslah ditemukan dan kemudian diperbaiki agar di masa depan tidak lagi terulang.

Memang tidak mudah. Butuh keberanian dan jiwa besar untuk menerima kenyataan bahwa kita belum mampu dan masih sering membuat kesalahan.Tidak mudah. Tidak akan semudah menunjukkan jari kepada kamera dan lensa sebagai penyebabnya. Butuh waktu lama juga.

Tetapi, dengan begitu maka kita akan memiliki titik tolak untuk beranjak maju lagi selangkah. Sedangkan, kalau menyalahkan kamera dan lensa, meskipun mudah, maka kita tidak memiliki landasan untuk maju.

Foto Jelek ? Jangan Menyalahkan Kamera dan Lensa
Kolam Gunting - Kebun Raya Bogor 2017


Lagipula, bagaimana bisa benda-benda mati seperti kamera dan lensa menghasilkan sesuatu kalau tidak ada manusia di belakangnya? Tidak bisa mereka berjalan dan memotret sendiri. Jadi, janganlah menyalahkan "mereka" yang tidak bisa berbicara.

Salahkan diri sendiri kalau hasil foto kita jelek.
Read More

Friday, March 9, 2018

Penggemar Fotografi Bisa Membantu Memperkenalkan Kesenian Tradisional Indonesia

Penggemar Fotografi Bisa Membantu Memperkenalkan Kesenian Tradisional Indonesia
CGM Bogor Street Festival 2018

Banyak budayawan Indonesia yang merasa sangat khawatir dengan situasi yang ada belakangan ini. Ratusan kesenian dan budaya tradisional Indonesia menghilang dan punah ditelan derasnya budaya asing. Mereka mengkhawatirkan bahwa suatu waktu , anak-anak Indonesia generasi mendatang tidak akan lagi bisa melihat keluhuran berbagai seni budaya asli bangsa ini.

Sebuah situasi yang memang mengkhawatirkan karena puluhan dan bahkan ratusan seni budaya tradisional Indonesia seperti hanya menunggu waktu untuk tenggelam ditelan zaman.

Oleh karena itulah, semua warga negara Indonesia seharusnya bisa ikut turun serta untuk mencegah hal itu bisa terjadi. Intinya ada pada bangkitnya kesadaran bahwa seni budaya asli Indonesia itu sama menariknya dengan seni budaya yang masuk ke Indonesia. Bahkan, bisa dikata memiliki banyak kelebihan.

Masalah utamanya adalah promosi atau penyebaran informasi tentang berbagai kesenian dan budaya yang ada di negeri ini masihlah kurang. Bagaimanapun di zaman "now", tanpa promosi, hampir pasti sesuatu tidak akan bisa berkembang dan kalau tidak bisa berkembang maka kemudian akan stagnan sebelum menghilang.

Dalam hal ini, para penggemar fotografi seharusnya bisa berperan serta. Dengan kemampuannya membuat foto-foto indah dan cantik, maka mereka bisa sangat membantu dalam menarik minat warga Indonesia lainnya, baik untuk melihat, mempelajari, atau bahkan menekuni sebuah kesenian tradisional.

Para penggemar fotografi, atau fotografer bisa melakukannya dengan mudah. Salah satu caranya adalah dengan cara hunting foto pada parade, festival atau acara-acara lain yang menampilkan kesenian tradisional.

Kemudian, dengan memanfaatkan media sosial, foto-foto tersebut dapat diunggah dan disebarkan. Apalagi kalau bisa melalui sebuah blog yang ditambah dengan penjelasan dan informasi tentang kesenian terkait.

Tindakan kecil semacam itu bukan saja bisa menarik minat tetapi juga bisa membangkitkan kebanggaan. Mereka yang menekuni seni budaya tradisional pun akan merasa diperhatikan dan bangga dengan apa yang mereka lakukan.

Penggemar Fotografi Bisa Membantu Memperkenalkan Kesenian Tradisional Indonesia
Cap Go Meh Bogor 2018
Tentunya, hasilnya tidak akan bisa serta merta bisa dirasakan. Gerusan budaya asing akan terus masuk dan ancaman tetap akan ada. Tetapi, tanpa usaha sama sekali, hampir pasti seni budaya tradisional Indonesia akan punah.

Akan berbeda jika semua orang mau berjuang untuk mempertahankannya. Dan, penggemar fotografi bisa menjadi salah satu unsur penting dengan kemampuannya menghasilkan foto-foto yang indah.

Pertanyaannya, maukah? Karena melakukan hal seperti ini adalah sebuah pekerjaan pro-bono alias tidak berbayar. Upah yang diterima adalah "kepuasan" dan bukan gemerincing uang. Sisi idealisme yang berbicara disini.

Hanya, seharusnya bukanlah sebuah masalah karena banyak penggemar fotografi yang rela membayar model untuk foto-foto yang bahkan hanya diupload di Facebook dan Instagram saja. Tidak jarang nilai uangnya lumayan sekedar untuk menghasilkan foto yang hanya menjadi wallpaper layar komputer saja.

Lalu, mengapa tidak mau untuk membantu kelestarian seni budaya tradisional Indonesia? Seharusnya mau? Hanya entahlah apakah demikian adanya di lapangan.

Yang terpenting, berdasarkan idealisme seperti itulah lahir Lovely Bogor, sebuah blog yang bercerita tentang kehidupan di Bogor, termasuk berbagai seni budayanya. Foto-foto di blog Maniak Potret sebagian besar juga dipajang di blog tersebut untuk tujuan, salah satunya, membantu melestarikan budaya bangsa ini, terutama di kawasan Bogor.

Bagaimana dengan Anda? Mau ikut serta?
Read More