Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Tahukah Anda situasi seperti apa yang paling mengenaskan bagi seorang fotografer? Jawabannya, sedang semangat memotret dan sudah berada di lokasi pemotretan, tetapi tidak bisa memotret karena baterai kamera habis.

Itulah yang saya alami hari ini.

Rencananya, pagi ini, saya hendak hunting foto, ritual mingguan untuk mengisi beberapa blog yang saya kelola juga, salah satunya Lovely Bogor, yang bercerita tentang berbagai hal tentang kota ini.

Semangat rasanya setelah sempat beberapa minggu vakum karena satu dan lain hal. Si Canon 700 D sudah siap bahkan sebelum saya mandi. Kendaraan andalan, si Supra Fit keluaran tahun 2006 juga sudah standby.

Dan, berangkatlah saya.

Hanya butuh 15 menit untuk mencapai lokasi pertama, yaitu Monumen Helikopter di Lanud Atang Sanjaya.

Setelah memarkir motor di minimarket terdekat, dan sempat berbincang sejenak dengan tukang parkirnya, bak fotografer profesional,saya mondar mandir kesana kemari. Mencari sudut pemotretan yang pas, begitu saran dari para pakar di bidang ini. Maklum lah, sebagai fotografer jalanan, harus mampu melihat berbagai faktor yang akan berpengaruh pada pemotretan.

Barulah setelah dirasa posisi yang pas ditemukan, si Canon 700 D keluar dari sarangnya. Langsung lensa 55-250 mm dibidikan ke arah obyek. Jempol pun langsung memutar tombol ke arah "ON".

Tunggu punya tunggu, heran juga tidak ada indikator yang menyala di viewfinder. Sama sekali tidak ada, bahkan sekedar indikator baterai sekalipun tidak nampak batang hidungnya. Semuanya blank. Kosong.

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Ingatan langsung melayang ke tiga minggu yang lalu. Pada saat itu si Canon juga ikut serta meliput ajang Bogor CGM Street Festival 2018 yang berlangsung di Jalan Suryakencana.

Pada saat itu hujan turun lumayan deras dan lama. Juga, saat itu karena parade tetap berlangsung di bawah rintik hujan, sempat si Canon terkena tetesan air. Jadi, ada kekhawatiran juga bahwa ia "ngambek" alias "rusak". Cilaka kalau begitu.

Tetapi, setelah diingat kembali, si Canon , yang juga disebut si Rebel itu, sudah dilap kering dan juga masih berfungsi sekembali dari ajang tersebut, seharusnya tidak ada masalah.

Barulah kemudian saya teringat bahwa sejak ajang itu, saya "merasa" belum sempat men-charge baterainya lagi. Jadi, yah, nasib, kemungkinan besar baterainya yang habis adalah penyebabnya. Saya lalai melakukan prinsip dasar seorang fotografer, yaitu mengecek peralatannya sebelum berangkat.

Gemas. Kesal. Cuma ya mau bagaimana lagi.

Untungnya, saat itu si smartphone tua, Asus T00N, si Padfone ada di kantung. Sangat tidak ideal, terutama karena lensanya sudah tidak sempurna lagi karena terlalu banyak goresan akibat tergesek berbagai benda.

Cuma, hanya itulah satu-satunya yang bisa membantu setidaknya untuk mendapatkan beberapa foto dari Monumen Helikopter. Kalau tidak, berarti harus pulang ke rumah dulu dan kemudian balik lagi. Sesuatu yang sangat tidak menyenangkan mengingat jalanan Bogor yang sangat macet. Sudah pasti mood akan hilang.

Jadilah diputuskan untuk memotret dengan alat seadanya.

Hasilnya, beberapa bisa dilihat di tulisan ini. Banyak kekurangannya, tetapi paling tidak ada hasil dari perjalanan hunting foto hari ini. Ada beberapa artikel yang bisa tayang karena kehadiran si Asus yang setelah dipakai memotret juga kemudian habis baterainya.

Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Sepulangnya ke rumah, langsung saja kompartemen baterai si Canon dibuka. Niatnya hendak langsung men-charge baterai untuk dipakai pada sesi berikutnya.

Ndilalahnya, ternyata baterainya tidak ada disana. Kompartemen baterai si Canon kosong melompong. Pantas saja agak terasa ringan saat dipegang.

Cari punya cari, ternyata baterainya ada di chargerannya. Rupanya sudah diisi ulang setelah selesai dipakai untuk CGM Street Festival. Hanya saja, saya lupa memasukkannya kembali ke dalam kameranya.

Parah.

Jadi, silakan saja nikmati foto-foto hasil si smartphone tua. Terlihat kurang tajam, cuma sebagai penghargaan karena sudah menyelamatkan hunting foto kali ini, wajar lah kalau foto-foto ini diperlihatkan. Tentunya dengan sedikit tambahan sentuhan dari GIMP, si software pengedit foto gratisan.

Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?