April 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Friday, April 27, 2018

Fotografi Jalanan Itu Genre Untuk Orang Yang Kurang Kerjaan

Fotografi Jalanan Itu Kerjaannya Orang Yang Kurang Kerjaan
Taman Air Mancur, Bogor 2018
Tidak terhindarkan juga dan akan sangat bisa dimengerti kalau ada yang beranggapan bahwa genre fotografi jalanan itu genre orang yang kurang kerjaan. Coba saja pikirkan sendiri apa yang didapat oleh para penggemar genre ini.

Uang? Boro-boro. Hampir tidak pernah ada orang yang mau mengeluarkan uang sekedar untuk membeli foto tentang orang tak dikenal di sebuah daerah yang juga tidak mereka kenal.

Ketenaran? Jangan harap.. Mendapatkan "LIKE" di komunitas fotografi di Facebook saja sangat sulit. Kalaupun dapat jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan tidak akan sampai 1/10 dari foto-foto yang memasang cewek bahenol dengan dada membusung dan paha mulus.

Mengundang job? Tidak bakalan. Siapa sih yang mau dipotret dengan gaya seadanya dan pencahayaan tergantung pada matahari nongol atau tidak. Bisa jadi malah yang menjadi obyek foto yang akan meminta bayaran karena sudah dilanggar privasinya.

Tidak ada sesuatu yang kalau menurut teori kapitalisme dan hukum ekonomi memungkinkan para penggemar fotografi bisa menghasilkan uang dari kegemarannya memotret orang tak dikenal di ruang publik.

Memang sih, ada beberapa fotografer jalanan yang berasal dari luar negeri terkenal seperti Bruce Gilden atau Eric Kim, yang mendapatkannya setelah tenar dalam dengan genre fotografi jalanan ala mereka. Mereka banyak mengadakan workshop yang "gilanya" di seluruh dunia.

Tetapi, itu hanya segelintir saja dari jutaan orang yang mengaku dirinya sebagai street photographer, termasuk saya. Hanya beberapa saja.

Bandingkan dengan mereka yang menekuni, terutama foto modelling yang sering kebanjiran order untuk majalah, terutama majalah dewasa. Atau, fotografer makanan, yang tentunya dibutuhkan sebagai pendamping resep makanan bagi produk-produk pengisi perut atau restoran.

Nasibnya berbeda jauh sekali.

Cuma herannya, kok semakin hari semakin banyak saja orang yang menggelutinya. Semakin banyak orang yang terlihat menenteng kamera di jalanan dan kemudian memotret orang lain yang kebetulan melintas.

Apakah semakin banyak PHK di dunia yang menyebabkan semakin banyak orang yang kelebihan waktu sehingga mau melakukan sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan menghasilkan apa-apa? Kalau begitu tidak mungkin juga karena harga kamera lumayan mahal dan kalau dipecat seharusnya mereka bukan keluyuran saja, tetapi harus mencari pengganti pekerjaan yang lama supaya nafkahnya terpenuhi.

Lalu, apa sih alasannya?

Fotografi Jalanan Itu Genre Untuk Orang Yang Kurang Kerjaan

Yah. Saya sendiri tidak tahu pasti.

Mungkin saja karena terpengaruh pandangan bahwa bisa memotret atau menekuni fotografi itu keren . Bisa juga karena ingin terlihat eksis di dunia. Bisa juga.. entahlah alasan orang lain.

Kalau saya sendiri sebenarnya terjun ke dunia fotografi jalanan karena tidak sengaja. Blog tentang kota yang saya kelola, Lovely Bogor membutuhkan foto-foto otentik yang bisa menggambarkan kota hujan ini sebagaimana adanya, setidaknya begitu menurut saya.

Jadilah, mau tidak mau cara yang perlu dilakukan adalah dengan turun ke jalan, dan melakukannya sendiri. Tidak ada jalan lain karena saya tidak sanggup membayar orang lain untuk mendapatkan foto-foto itu.

Eh, ternyata selama hunting foto di berbagai sudut kota ini, saya menemukan banyak hal baru dan selalu menarik perhatian, yaitu kehidupan orang-orang dalam keadaan sebenarnya.

Tidak diatur. Natural. Apa adanya.

Di zaman dimana semua orang berusaha untuk tampil "sempurna" seperti sekarang, yang menyebabkan aplikasi "mempercantik foto" seperti Camera 360 laku keras, hal itu justru terlihat menarik, sangat menarik bahkan.

Kepolosan yang diperlihatkan di jalanan terasa bernilai lebih dibandingkan foto-foto model berwajah bak bidadari dengan kulit mulus nan sempurna (walau kebanyakan hasil editan) dan berdada montok. Keluguan momen di jalanan terlihat begitu berbeda, tidak sempurna, penuh cacat, penuh kekurangan.

Fotografi Jalanan Itu Genre Untuk Orang Yang Kurang Kerjaan
Jalan Soleh Iskandar Bogor 2017
Mungkin karena itulah saya menyukainya. Karena saya sendiri adalah manusia, yang penuh dengan kekurangan dan sangat jauh dari sempurna. Ada kesenangan ketika melihat orang lain juga ternyata tidak cantik sempurna bak bidadari atau tidak ganteng bak malaikat (kalau bidadari = cewek dan malaikat = cowok). Maklum, saya masih manusia dan kerap merasa minder kalau ada yang "lebih" dari saya.

Bisa dikata, mungkin itu alasan saya senang berburu foto di jalanan adalah karena saya seperti melihat cermin diri sebagai manusia yang tidak sempurna. Lelah juga karena minder melihat betapa sempurnanya pria dan wanita hasil jepretan para fotografer modeling.

Mungkin karena saat memotret itu saya merasa bahwa itulah dunia yang sebenarnya dan bukan dunia "impian" yang hanya menampilkan keindahan, kecantikan, atau kesempurnaan saja.

Tidak ada uang dan ketenaran disana, kecuali untuk beberapa orang. Hanya, pada saat itu saya merasa jadi bagian dari dunia yang nyata, dan bukan impian.

Jadi, yang pasti bukan karena kurang kerjaan. Saya masih bekerja untuk mencari nafkah dan setiap hari harus pulang pergi Jakarta Bogor. Apalagi harus mengelola 10 blog untuk mencari uang jajan. Kerjaan saya banyak sekali.

Tetapi, saya merasa harus tetap terjun ke jalan, karena saya menyukainya. Dan, sekaligus pengingat bahwa saya adalah manusia yang penuh dengan kesalahan dan tidak sempurna.
Read More

Saturday, April 21, 2018

Mengedit Foto Membutuhkan Ketelitian dan Kesabaran Agar Hasil Editan Halus dan Bekas Editan Tidak Terlalu Terlihat

Mengedit Foto Membutuhkan Ketelitian dan Kesabaran Agar Hasil Editan Halus dan Bekas Editan Tidak Terlalu Terlihat

Tidak semudah yang dibayangkan banyak orang untuk melakukannya. Mengedit foto membutuhkan ketelitian dan kesabaran saat melakukannya. Butuh banyak waktu dan konsentrasi penuh. Semuanya demi menghasilkan image yang diinginkan.

Jauh dari apa yang dipikirkan bahwa proses yang dilakukan hanyalah sekedar cropping, kemudian memakai efek yang sudah jadi, dan kemudian langsung selesai.

Sangat berbeda.

Memang, selama ini masyarakat awam terbiasa dengan aplikasi pengedit foto seperti Camera 360 supaya hasilnya terlihat cantik dan enak dilihat, tetapi tidak demikian yang dilakukan kebanyakan fotografer. Jarang yang puas hanya dengan menggunakan efek siap pakai yang ada. Mereka lebih suka melakukannya secara manual agar hasil editan memuaskan.

Dan, sama sekali tidak mudah.

Perlu konsentrasi penuh dan segudang kesabaran. Bahkan untuk sekedar mengganti latar belakang menjadi hitam seperti pada foto di atas. Lebih dari 30 menit dihabiskan untuk memastikan bahwa penampakan obyek utamanya tidak rusak karena latarnya dirubah.

Yang paling memakan waktu dan ketelitian adalah saat harus mengisolasi bagian-bagian yang hendak diedit. Disini terkadang tidak bisa dilakukan sekaligus dan harus dipecah menjadi beberapa bagian dan kemudian setiap bagian diedit sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan ide yang ada.

Mengedit Foto Membutuhkan Ketelitian dan Kesabaran Agar Hasil Editan Halus dan Bekas Editan Tidak Terlalu Terlihat

Apalagi kalau obyek utamanya memiliki banyak sekali lengkungan, seperti pada foto bunga. Mau tidak mau, bahkan untuk sekedar melokalisir bagian yang hendak diedit saja harus dilakukan perlahan-lahan supaya garis tidak melenceng yang bisa membuat lengkungan menjadi tidak melengkung lagi.

Belum ditambah kemudian harus melakukan finishing untuk memperhalus bagian sisi-sisi obyek supaya terlihat alami.

Kesemuanya sangat memakan waktu. Berbeda 180 derajat dengan yang ada di benak banyak orang, yaitu tinggal klik sana klik sini dan selesai.

Oleh karena itulah, sejak menekuni hobi fotografi, saya menaruh hormat baik kepada fotografer atau digital artis. Karena saya tahu bagaimana sulitnya melakukan pengeditan foto agar hasilnya terlihat halus.
Read More

Friday, April 20, 2018

Rusa Totol, Istana Bogor

Rusa Totol, Istana Bogor
Rusa Totol, Istana Bogor 2018
Entahlah, saya pikir semua fotografer memang harus terbiasa bangun pagi. Kalau tidak ia akan kehilangan banyak "rezeki" yang biasa dihadirkan oleh sinar matahari pagi yang keemasan.

Dan, kalau saya terbiasa bangun siang, pemandangan seperti ini sudah pasti tidak akan pernah terekam oleh kamera karena biasanya rusanya sudah berada jauh dari pagar Istana dan sulit terjangkau bahkan oleh lensa 55-250 mm yang saya punya.
Read More

Di Saat Hujan Turun

Di Saat Hujan Turun
Jalan Suryakencana, Bogor -2018

Tidak jarang seorang fotografer menemukan sesuatu yang membuatnya bingung.

Di Indonesia, kalau membaca media massa, sepertinya kondisi persatuan dan kesatuan sedang berada dalam kondisi kritis. Salah satu etnis di Indonesia sepertinya kerap mendapatkan perlakuan berbeda dari banyak anggota masyarakat.

Tetapi, di lapangan, pada saat Cap Go Meh Bogor 2018 berlangsung, apa yang ditulis di surat kabar seperti tidak terlihat di lapangan. Kerukunan antar etnis justru terlihat begitu kental. Tidak ada bedanya antara si kulit sawo matang dan si kulit kuning bermata sipit.

Apalagi di saat hujan turun. Sebuah tempat yang sempit bisa dipakai bersama tanpa adanya ragu dan risih.

Mungkinkah media massa dan para pakar politik hanya membesarkan masalah supaya mereka terlihat penting?
Read More

Tuesday, April 17, 2018

Membuat Foto Yang Enak Dilihat Harus Ke Tempat Wisata? Kuno! Kebun Tetangga Juga Bisa

Banyak orang berpikiran bahwa untuk menghasilkan sebuah foto yang enak dilihat harus dilakukan di lokasi-lokasi tertentu saja yang memiliki pemandangan indah. Tidak heran ribuan bahkan jutaan orang terkadang menghabiskan uang banyak hanya untuk pergi ke tempat wisata, dimana biasanya lanskap yang memukau tersedia.

Padahal. tidak demikian yang dilakukan para fotografer. Jika Anda pernah menonton acara On the Spot tentang bagaimana foto yang indah dan mengundang "wow" dihasilkan, Anda akan terkagum-kagum dan heran sekaligus.

Banyak dari foto-foto itu terkadang dibuat hanya di rumah, atau di tempat-tempat yang sebenarnya jauh dari kata indah.

Contoh sederhananya, ada dua di bawah ini.

Membuat Foto Yang Enak Dilihat Harus Ke Tempat Wisata? Kuno! Kebun Tetangga Juga Bisa

Membuat Foto Yang Enak Dilihat Harus Ke Tempat Wisata? Kuno! Kebun Tetangga Juga Bisa

Enak dilihat? Rasanya pasti begitu.

Dugaan Anda dimana foto ini dihasilkan? Tempat wisata seperti Puncak, Bogor? Atau setidaknya rumah berhalaman luas yang ditata oleh tukang taman berpengalaman?

Bukan. Sama sekali bukan.

Jauh dari itu.

Foto-foto ini dihasilkan di kebun tetangga dekat rumah adik ipar di kawasan Sawangan, Depok, yang tidak terurus saja. Sebenarnya ada rongsokan tidak jauh dari tempat pemotretan dan banyak sekali pohon buah bertebaran disana. Hanya ada satu celah kosong yang dipenuhi tumbuhan merambat liar seperti yang berada dalam foto.

Disanalah pemotretan dilakukan.

Kok bisa? Ya karena menjadi kreatif dalam dunia fotografi sebenarnya tidaklah sulit. Yang perlu dilakukan hanyalah mencari sudut pemotretan yang tepat saja sehingga bagian yang tidak perlu dan merusak tidak masuk ke dalam bidang foto.

Imajinasi dan kreatifitas saja.

Jadi, kalau memang sekedar mencari lokasi foto yang bagus, tidak perlu capek-capek kesana kemari. Lihat saja sekeliling dan manfaatkan yang ada. Lain kalau alasannya ingin sambil bersenang-senang barulah silakan berwisata.

Pernah coba sendiri?
Read More

Foto bermakna 1000 kata - Melihat Foto Ini Anda Pasti Kenapa Festival Cap Go Meh Disebut Festival Lentera

Sebuah foto bisa bermakna 1000 kata. Mari kita buktikan.

Pernah dengar istilah Festival Cap Go Meh? Dalam bahasa Inggris festival itu disebut dengan Festival Lentera. Mau tahu alasannya?

Melihat Foto Ini Tahukan Kenapa Festival Cap Go Meh Disebut Festival Lentera?

Melihat Foto Ini Tahukan Kenapa Festival Cap Go Meh Disebut Festival Lentera?

Tidak perlu dijelaskan panjang lebar kan? Sudah tahu alasannya?

Itu salah satu bukti bahwa foto bisa bermakna 1000 kata.
Read More

Saturday, April 14, 2018

Jika Anda Suka Memotret Makanan, Bisa Menghasilkan Uang Lo!

Jika Anda Suka Memotret Makanan, Bisa Menghasilkan Uang Lo!

Makanan + Fotografi = Duit, bisakah? Ya jelas bisa. Apa sih yang tidak bisa dijadikan duit di zaman sekarang. Terutama di tengah masyarakat yang sedang gemar-gemarnya berwisata dan kulineran. Peluang itu semakin terbuka.

Coba bayangkan saja berapa banyak tempat wisata kuliner di Indonesia? Banyak sekali dan tak terhitung jumlahnya. Mereka pasti harus melakukan promosi untuk mempertahankan atau memperbesar bisnisnya.

Dan, promosi sebuah usaha makanan tentu akan memerlukan foto dan gambar yang bagus untuk memancing minat orang.

Disitulah peran dari fotografer. Tidak semua orang bisa memotret makanan dengan baik dan menarik perhatin yang melihat. Oleh karena itu, biasanya mereka akan memanfaatkan jasa dari fotografer, yang tahu tentang cara mengambil foto yang baik untuk memotret produk yang mereka tawarkan, yaitu makanan dan minuman.

Mungkin Anda tidak menyadari bahwa hal itu sudah dilakukan sejak lama dan sudah ada genre tersendiri dalam dunia fotografi yang khusus menekuni pemotretan makanan, namanya Food Photography, alias Fotografi Makanan.

Para fotografer dari genre ini akan memadukan kreatifitas dan skill mereka dalam memotret dengan makanan untuk bahan promosi. Dan, tentunya jasa mereka tidak gratis dan akan dibayar oleh sang pemilik rumah makan atau produk itu.

Ujungnya, ya sang fotografer bisa mendapatkan uang. 

Salah satu fotografer khusus makanan bernama Lou Manna dari Amerika Serikat yang termasuk dalam salah satu dari 10 Food Photographer ternama di dunia. Ia meraup puluhan ribu dollar hanya dari memotret makanan saja.

Kalau melihat hasil karyanya, percayalah, walau hanya foto akan membuat kita yang melihat merasa lapar, haus, dan ingin mencicipi makanan dalam foto itu.

Jadi, jika Anda memang gemar memotret makanan, jangan sia-siakan keahlian itu. Terus kembangkan dengan pengetahuan dan teknik memotret makanan terbaru agar bisa menarik minat orang untuk mempergunakan jasa Anda.
Read More

Pemain Gendang - Tim Degung Bogor Center School

Pemain Gendang - Tim Degung Bogor Center School

Bukan sebuah foto luar biasa dan hampir pasti tidak akan mengundang decak kagum siapapun yang melihat. Tetapi, saya memutuskan untuk memajangnya di blog ini dan beberapa blog lain yang berada di bawah kendali saya.

Niatnya sederhana saja karena saya berniat memperlihatkan kepada sebanyak mungkin orang tentang sebuah kesenian tradisional dari tanah Sunda, Degung. Dan, foto pemain gendang ini merupakan salah satu dokumentasi yang berhasil terekam oleh si Canon 700D hampir setahun yang lalu.

Degung sendiri di kota dimana saya tinggal Bogor, yang seharusnya kental dengan budaya Sundanya, mulai menghilang. Semakin sedikit saja mereka yang menggelutinya.

Oleh karenanya meskipun bukan sebuah foto yang luar biasa, bahkan bagi diri saya sendiri masih kurang menarik, foto ini akan tetap saya pamerkan kemana-mana. Hal itu untuk mengingatkan dan kalau bisa memancing minat sebanyak mungkin orang untuk memperhatikan dan melestarikan seni budaya tradisional Sunda ini.

Dan, sebagai seorang fotografer, caranya adalah dengan memamerkan fotonya.

Iya nggak?
Read More

Friday, April 13, 2018

Foto Yang Menarik Tidak Selalu Butuh Model Yang Cantik

Foto Yang Menarik Tidak Selalu Butuh Model Yang Cantik
Cap Go Meh Bogor 2018
Foto dengan model yang cantik, biasanya memang akan mengundang perhatian yang banyak. Apalagi kalau yang dijadikan model cantik, berbadan sexy, dan berdada bagus. Hampir pasti kalau fotonya kemudian dipajang di media sosial atau komunitas-komunitas dunia maya , maka akan banyak sekali LIKE yang diberikan.

Seringkali bahkan meskipun cara pengambilan fotonya tidak pas, agak buram, tidak tajam, tetap saja akan banyak komentar dan pujian yang masuk. Maklum saja, karena biasanya memang menyentuh "rasa" dan "hasrat" banyak orang, baik dari kalangan pria yang langsung membayangkan bagaimana kalau istri atau pacarnya seperti itu, atau kaum wanita yang tidak jarang langsung melihat kepada badannya sendiri.

Foto dengan model wanita memang biasanya otomatis memiliki kelebihan untuk dikategorikan sebagai sebuah foto yang menarik.

Meskipun demikian, tidak berarti untuk membuat foto yang menarik harus mempergunakan model wanita sexy. Sejarah fotografi menunjukkan bahwa dalam dunia fotografi, wanita cantik hanyalah salah satu opsi saja untuk mendapatkan foto yang dapat menarik minat yang melihat.

Bagaimanapun, kata "menarik" itu sendiri luas dan bersifat subyektif. Setiap orang memiliki standar dan kriteria sendiri tentang apa yang "menarik" bagi mereka. Jadi, tidak akan pernah ada standar yang berlaku umum untuk sebuah foto agar dikatakan "menarik" atau tidak oleh yang melihat.

Tidak jarang, yang satu bilang bagus dan menarik, yang lain malah mencibir dan tidak menyukainya.

Wajar karena ada manusia yang memang tertarik pada kecantikan fisik, tetapi ada juga yang tertarik pada tingkah laku, atau penampilannya. Dan, masih banyak hal lain yang bisa membuat sesuatu dianggap menarik oleh seseorang.

Foto Yang Menarik Tidak Selalu Butuh Model Yang Cantik
Istana Bogor 2018
Oleh karena itu, seorang fotografer, apalagi yang menekuni fotografi jalanan dan human interest, tidak selalu harus terpaku pada mencari kecantikan di jalanan. Ia harus bisa mengembangkan ide terhadap apa yang dilihat.

Memang, tidak jarang, wanita cantik atau pria ganteng bersliweran di ruang publik, tetapi janganlah pernah memfokuskan diri pada hal itu saja. Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dijadikan sebuah foto yang menarik.

Kemampuan fotografer untuk mengembangkan ide adalah kunci utama untuk menghasilkan foto yang menarik. Tingkah laku lucu dan unik, bentuk yang simetris atau tidak umum, dan masih banyak hal lagi yang bisa diolah untuk mendapatkan foto yang bagus dan enak dilihat.

Tidak selamanya foto yang menarik harus berisikan model yang cantik.

Read More

Thursday, April 12, 2018

Apa Beda Tukang Foto Dengan Fotografer?

Apa Beda Tukang Foto Dengan Fotografer?
Pantai Klara, Lampung 2018
Sebuah perdebatan panjang bisa terjadi karena pertanyaan kecil seperti ini. Tidak sedikit juga orang yang mau membahasnya secara panjang lebar dalam bentuk tulisan. Apa sih sebenarnya beda tukang foto dengan fotografer?

Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dibahas sama sekali, hanya karena ego manusia dan hobi manusia untuk membuat kasta lah yang menyebabkan pertanyaan ini timbul.

Memang akan banyak sekali yang memprotes kalau dikatakan sama.

Tukang foto bagi banyak orang adalah mereka-mereka yang berkeliaran sambil menenteng kamera jenis murah di tempat wisata sambil menawarkan pada para turis untuk difoto. Mereka akan bertanya "Pak, Bu, dipotret yahg disana, bagus loh pemandangannnya". Dengan beberapa lembar uang sepuluh ribuan saja, jasa mereka sudah bisa dipergunakan.

Sedangkan, ketika kata fotografer yang muncul, maka bayangan sebuah studio ber-AC dengan perlengkapan pencahayaan yang komplit, dan juga kamera dan lensa yang mahal. Tarifnya pun berbeda dan tidak cukup dengan beberapa lembar 50 ribuan untuk mempergunakan jasanya.

Tetapi, sebenarnya, keduanya tidak berbeda sama sekali.

Baik fotografer dan tukang foto sama-sama menggunakan kamera dan keduanya memerlukan skill juga. Jenis kameranya mungkin berbeda, tetapi keduanya sama-sama memotret untuk merekam momen.

Keduanya menghasilkan foto juga.

Tidak ada bedanya.

Mengapa "kesan" yang ditimbulkan berbeda?

Jawabannya terletak pada kebiasaan manusia yang kerap membeda-bedakan manusia lainnya dari segi materi dan penampilan. Seorang yang menggunakan mobil Rolls Royce akan mendapat penghormatan dan kekaguman lebih banyak orang dibandingkan mereka yang hanya naik angkot. Padahal, keduanya tetap saja manusia dan keduanya sama-sama tidak pernah memberikan apapun kepada kita.

Kebiasaan manusia untuk membentuk kalangan eksklusif tersendiri adalah kunci yang menyebabkan lahirnya "kesan" berbeda ketika istilah "tukang foto" dan "fotografer" diucapkan.

Bukan kenyataannya.

Sesuatu yang hingga sekarang masih coba dipertahankan oleh sekelompok orang bahwa label fotografer adalah hanya untuk kalangan khusus saja. Karena kalau kata ini menjadi umum, maka mereka tidak akan dianggap sebagai kalangan eksklusif lagi.
Read More

Tidak Perlu Ikut Teori Fotografi Saat Memotret - Semua Terserah Anda

Tidak Perlu Ikut Teori Fotografi Saat Memotret - Semua Terserah Anda
Gudang Lelang - Teluk Betung 2018
Perlukah sebuah foto selalu mengikuti "Rule of Thirds" atau "Aturan Sepertiga" yang digadang-gadang oleh para fotografer salah satu prinsip dasar dalam fotografi? Jawabnya TIDAK. Kalau Anda mau silakan ikuti, tetapi kalau Anda merasa hasil fotonya tidak sesuai kemauan, maka jangan ikuti.

Apakah selalu sebuah foto harus menggunakan BOKEH atau latar belakang yang blur? Ya tidak juga. Bokeh adalah pilihan saja. Tidak berarti semua harus menggunakan bokeh untuk menghasilkan foto yang indah dan menarik. Banyak foto yang tanpa bokeh pun tetap enak dilihat.

Perlukah memperhatikan komposisi warna aktif dan pasif dalam foto seperti yang disarankan banyak fotografer kawakan? Hem, tidak lah. Selera orang soal warna itu berbeda-beda. Tidak sama. Yang satu suka warna hijau, yang satu suka warna putih, yang lain memilih merah sebagai warna favorit.

Semua yang disebutkan di atas adalah beberapa dari teori prinsip dasar dalam fotografi yang disebutkan bisa membantu dalam menghasilkan foto yang enak dilihat. Banyak yang meyakininya sebagai sebuah konsep "suci" yang harus dipatuhi.

Meskipun demikian, sebenarnya tidak demikian halnya. Fotografi sangat demokratis. Semua orang bebas memilih untuk melakukan apapun sesuai dengan apa yang dimauinya.

Hal ini bisa terjadi karena fotografi, pada masa kini, lebih mendekati sebuah seni dan dalam seni kebebasan dalam berekspresi itu adalah unsur utama. Lagi pula, selera manusia akan keindahan itu berbeda satu sama lain. Tidak akan sama.

Jadi, bisa dikata tidak bisa ada yang membatasi bagaimana seharusnya memotret itu. Masing-masing orang bisa memilih cara, gaya, dan apa yang mau dipotretnya. Tidak bisa dikekang oleh satu atau dua orang yang merasa dirinya fotografer "profesional".

Bebas-bebas saja.

Teori-teori fotografi yang ada tidak perlu dianggap sebagai sebuah batasan kaku. Berbagai hal yang diajarkan dalam teori-teori ini harus dipandang lebih sebagai sebuah "saran" atau pilihan dan bukan "keharusan". Tidak bisa ada yang memaksa Anda untuk mau menggunakannya atau tidak.

Seperti teori pada umumnya, teori fotografi pun terbentuk dari sekumpulan pengalaman dari banyak orang, terutama yang terkenal dalam bidangnya. Para fotografer kawakan dan sudah diakui karyanya akan memberikan "teori" atau pendapatnya bagaimana cara menghasilkan foto yang indah dan berseni, menurut diri mereka.

Mereka akan coba memandu dan memberikan saran berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka saja.

Tidak Perlu Ikut Teori Fotografi Saat Memotret - Semua Terserah Anda

Jadi, tidak perlu merasa bahwa menerapkan teori fotografi sebagai sebuah keharusan. Tidak akan ada yang menghukum Anda kalau tidak mematuhinya.

Oleh karena itu, saat memotret, berekspresilah sebebas-bebasnya, dan lakukan sesuai yang Anda suka.

Tetapi, tidak salah juga kalau ternyata Anda mau mengikuti teori fotografi. Wajar saja kalau kita mengikuti jalan yang sudah dibuktikan oleh orang lain. Dengan begitu, maka kita bisa lebih terarah dan tidak banyak membuang waktu.

Bagaimanapun, kadang ada baiknya mengikuti jalan yang sudah dilalui orang lain agar tidak tersesat kemana-mana dan kita bisa lebih cepat mencapai tujuan.

Yang manapun yang Anda inginkan lakukan saja. Toh, kamera-kamera Anda sendiri, jadi tidak seorang pun berhak memaksakan Anda untuk mengikuti teori fotografi manapun di dunia ini.
Read More

Tuesday, April 10, 2018

Memotret Di Siang Hari Itu Bisa Menyenangkan, Walau Cahayanya Terlalu Kuat

Memotret Di Siang Hari Itu Bisa Menyenangkan, Walau Cahayanya Terlalu Kuat

Meskipun bukan seorang fotografer profesional, saya cukup paham tentang teori betapa tidak menyenangkannya memotret di siang hari, apalagi kalau mengandalkan sumber cahaya alami, yaitu sinar matahari.

Cahayanya terlalu kuat dan keras. Kerap hal ini sangat merepotkan karena membuat fotonya cenderung menjadi overexposure alias terlalu terang.

Sayangnya, kadang tidak ada pilihan. Terutama, jika memotretnya saat berlibur dengan keluarga. Mereka pasti mengharapkan ada foto-foto yang isinya kenangan saat bersenang-senang disana.

Akhirnya, ya mau tidak mau. Walau seperti sudah bisa diduga, terjadi kerepotan dalam meminimalkan efek cahaya yang terlalu kuat, tetapi ternyata ujungnya menyenangkan juga.

Memotret Di Siang Hari Itu Bisa Menyenangkan, Walau Cahayanya Terlalu Kuat

Bukan karena hasil fotonya luar biasa bagusnya, tetapi karena hal lain, yaitu melihat senyum mereka yang kita sayangi melihat bahwa keceriaan mereka selama berada disana terekam.

Mereka tidak peduli apakah fotonya agak terlalu terang atau bahkan kurang tajam. Bahkan meskipun tidak seperti yang disarankan oleh para pakar fotografi, mereka tidak ambil pusing. Kurang tajam sedikitpun sudah bisa menghadirkan senyum di wajah mereka, meski tidak seperti lukisan dan mengundang decak kagum.

Dan, kalau dipikir lagi, bukankah itu fungsi utama memiliki kamera dan bisa mengoperasikannya? Maksudnya menghadirkan senyum dan kegembiraan?

Meski tidak seindah dan jauh dari kesempurnaan seperti yang dihasilkan oleh kamera full frame para fotografer senior, tetapi bukankah tetap bisa menghadirkan "sesuatu" yang berharga? Kebahagiaan dari mereka yang dipotret, kenangan yang tersimpan dan bisa dilihat, dan banyak hal lain yang akan selallu bisa diingat saat melihat foto itu.


Yah, mungkin karena kita terkadang terlalu berpikir ruwet dan sibuk dengan keinginan sendiri. Padahal, mungkin hal itu tidak perlu terus dilakukan. Selama kegembiraan dan kebahagiaan itu hadir di dalam hati, semua bisa terlihat indah dan bagus.


Itulah mengapa walau cahayanya terlalu kuat, memotret di siang hari tidak lah terlalu jelek. Meskipun, tetap saja fotonya terasa terlalu terang/overexposed, tetapi hasilnya "bagus" dalam arti yang berbeda.
Read More

Puncak Mas - Surganya Pecinta Selfie di Bandar Lampung

Puncak Mas - Surganya Pecinta Selfie di Bandar Lampung

Lha, bukannya mengada-ada, tetapi itu yang dipromosikan oleh pengelolanya bahwa Puncak Mas, sebuah lokasi wisata yang berjarak 45 menit perjalanan dari Bandar Lampung, digadang-gadang sebagai tempat untuk selfie.

Kenyataannya begitu.

Dan, memang kalau melihat berbagai fasilitas yang ada disana memang ditujukan bagi mereka yang ingin punya foto-foto unik dan kekinian, sesuatu yang biasanya dilakukan para pecinta selfie.

Disana ada rumah pohon terbalik, sepeda gantung yang melayang, dan balon udara statis untuk mereka yang ingin punya foto keren tapi takut terbang.

Pokoknya semua disiapkan untuk menghasilkan foto yang kekinian. Tidak beda dengan berbagai tempat wisata sejenis yang berkembang dimana-mana.

Bagi saya sendiri, yang sangat tidak suka selfie, tempat ini bisa dikata lumayan dalam artian bisa menghasilkan foto keluarga yang enak dilihat.

Tetapi, kalau disuruh hunting foto disini, semangat langsung melayang. Tidak banyak hal yang bisa dijadikan sasaran, karena kebanyakan orang yang datang kesana sedang sibuk saling memfoto atau melakukan selfie.

Sayang kalau SD card penuh hanya dengan foto orang selfie saja. Mending saya coba selfie sendiri.

Puncak Mas - Surganya Pecinta Selfie di Bandar Lampung

Cuma masalahnya, ya itu tadi. Saya tidak suka selfie atau swafoto. Jadi, tidak ada satu foto selfie saya yang jadi.
Read More

Tempat Wisata Semakin Memanjakan Penggemar Selfie

Tempat Wisata Semakin Memanjakan Penggemar Selfie

Selfie lagi. Selfie lagi. Sepertinya semua orang berlomba-lomba untuk memotret diri sendiri. Kegiatan yang sepertinya sudah menjadi "kebutuhan" tambahan banyak orang di zaman sekarang.

Rupanya hal tersebut tertangkap dengan baik oleh radar para pengelola tempat wisata. Tidak heran kemudian mereka menyediakan berbagai fasilitas yang ditujukan untuk memanjakan para pecinta swafoto itu.

Beberapa hari yang lalu, saat berkunjung ke Lampung, di pantai Klara atau Kelapa Rapat, terlihat jelas sekali betapa pengelola salah satu tempat wisata favorit di dekat Bandar Lampung itu berusaha untuk menyenangkan hati para pemuja diri sendiri itu.

Mereka mendirikan semacam jalan kecil terbuat dari kayu yang membelah perairan laut biru di pantai tersebut.

Pada awalnya, fasilitas itu sulit untuk dimengerti karena justru membuat pemandangan ke laut lepas menjadi terhalang kalau dari pinggir pantai. Tetapi, setelah mencoba sendiri menelusuri jalan setapak kayu di atas air itu, alasannya bisa diduga dan ditebak.

Tujuannya adalah agar para pengunjung bisa melakukan swafoto dengan latar belakang yang laut lepas dan pegunungan yang menjadi salah satu daya tarik dari Pantai Klara. Hal itu akan sulit dilakukan kalau dilakukan dari tepi pantai, terlalu jauh bagi kamera smartphone. Hal itu akan lebih mudah dilakukan kalau dilakukan dari tengah perairan.

Not bad sebenarnya. Fasilitas ini juga cukup membantu bagi seorang yang hendak memotret keluarganya saat bermain disana. Cukup lumayan membantu.

Tempat Wisata Semakin Memanjakan Penggemar Selfie

Meskipun sayangnya, kehadiran jalan setapak kayu yang membelah laut ini sebenarnya merusak keasrian dan kealamian pantai tersebut. Semua demi hanya sekedar berfoto saja.

Jangan tanya juga jejeran pondok kayu yang memenuhi pinggir pantai, yang tentunya membuat suasana dan nuansa alami semakin berkurang di pantai ini.

Sayang.
Read More

Monday, April 9, 2018

Keuntungan Utama Membawa Tripod Saat Berwisata

Keuntungan Utama Membawa Tripod Saat Berwisata

Banyak yang mengatakan bahwa keuntungan utama membawa tripod adalah bisa memotret dengan shutter speed yang sangat lambat atau melakukan long exposure.

Meskipun demikian, rasanya keuntungan utama bersusah payah membawa tripod ada pada bentuk lain.

Ketika membawa tripod, dan kemudian dipadukan dengan memakai timer , kita bisa memotret diri sendiri (bersama keluarga atau teman) tanpa harus "kehilangan" anggota.

Tanpa tripod, mau tidak mau salah seorang harus memegang kamera dan artinya ia tidak akan ada dalam foto yang dihasilkan. Tentunya, akan ada rasa yang kurang kalau hal itu terjadi.

Dengan tripod, semua anggota kelompok bisa terekam kebersamaannya. Tidak akan ada yang hilang. Kenangan tentang kebersamaan itu akan terasa beberapa tahun berselang, utuh dan lengkap. Tidak ada yang tidak hilang.

Dan, tentunya, hasilnya lebih baik daripada mengandalkan tongsis dan melakukan we-fie. Menurut saya sih.
Read More

Perahu di Pantai Klara Lampung

Perahu di Pantai Klara Lampung
Pantai Klara Lampung 2018
Indonesia memiliki 17 ribu lebih pulau yang berarti ada ribuan kilometer garis pantai yang dimilikinya. Sayangnya, para wisatawan mancanegara hanya terfokus pada berbagai pantai di Bali saja.

Padahal, masih banyak sekali pantai di negara kepulauan ini yang indahnya tidak kalah dibandingkan pantai di Bali, salah satunya adalah Pantai Klara atau Kelapa Rapat di Lampung.

Pantai ini memiliki landscape yang indah, pasir putih,dan juga air yang bersih dan bening. Jelas bisa menjadi tandingan dari pantai di Bali.

Bedanya hanya, kalau yang di Pulau Dewata sudah dikelola secara profesional dan dipromosikan, yang ini masih belum terlalu dikelola dengan baik.

Mungkin cuma itu bedanya dan hal itu tidak menafikan sama sekali keindahan yang dimilikinya.
Read More

Tuesday, April 3, 2018

Kangen Ingin Memotret Apa Adanya

Kangen Ingin Memotret Apa Adanya
Jalan MA Salmun Bogor 2014
Ada rasa kangen yang hadir saat melihat sisa-sisa file foto yang dijasilkan saat pertama kali menekuni blogging dan fotografi, sekitar 4 tahun yang lalu.

Sisa-sisa karena sebagian besar file aslinya hilang ketika notebook Toshiba yang dulu dipakai rusak berat dan tidak bisa dibetulkan lagi hard disknya. Banyak file foto yang tidak terselamatkan. Meskipun masih beruntung masih ada copynya dalam ukuran yang sudah diperkecil di laptop kantor.

Setidaknya hal itu mengingatkan kepada perjalanan ketika mulai menekuni dunia fotografi.

Ada perbedaan yang terasa antara dulu dan sekarang.

Dulu, saya memotret apa adanya. Maklum, saat itu kameranya hanya Xperia M saja, alias sebuah smartphone murah saja. Belum ada pengetahuan sedikitpun tentang teknik memotret, jadi apa yang terlihat menarik ya dijepret saja. Tidak peduli apakah garis horison-nya miring atau tidak, atau warnanya sesuai atau kacau beliau, dan yang pasti tidak peduli apakah ada bokeh atau tidak.

Berbeda dengan sekarang, walau belum mahir layaknya fotografer pro, saya kerap berusaha hanya memperlihatkan sisi keindahannya saja. Yang buruk sekalipun diusahakan dibuat lebih indah dari biasanya. Semakin berubah ketika sudah menguasai cara mengedit foto, segala seusatu diusahakan menjadi indah.

Sayangnya, hal itu seperti menghilangkan unsur "apa adanya". Saya tidak lagi merekam momen yang saya lihat, saya yang sekarang lebih berusaha untuk "melukis" apa yang ada di kepala, ide. Tidak selamanya apa yang saya lihat.

Mungkin karena itulah rasa kangen bisa kembali memotret apa adanya hadir di hati saat melihat foto-foto lama.
Read More

Merekam Kebodohan dan Kekonyolan Orang Indonesia Dengan Smartphone

Merekam Kebodohan dan Kekonyolan Orang Indonesia Dengan Smartphone
Pintu Perlintasan Kereta RE Martadinata Bogor 2015
Sebelum mengenal kamera-kamera "mahal" seperti prosumer atau DSLR, saya hanya mengandalkan sebuah kamera smartphone yang ada di Xperia M. Biasanya saya hanya jepret momen-momen yang menarik tanpa memikirkan berbagai teori fotografi.

Salah satu hal yang paling sering menjadi sasaran adalah kebodohan dan kekonyolan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, saya buatkan artikel dan cerita untuk dimasukkan ke blog saya yang lain Lovely Bogor (http://lovelybogor.com)

Sekarang, setelah mengenal DSLR, saya kembali melihat foto-foto itu dan ternyata walau tidak setajam kamera yang saya miliki sekarang, terkadang foto-foto itu ternyata bisa bercerita lebih banyak tentang betapa manusia kadang tidak menghargai nyawanya sendiri.
Read More

Pak Polisi Yang Gagah Dengan Kumisnya

Pak Polisi Yang Gagah Dengan Kumisnya
Jalan Suryakencana Bogor 2017
Yang menarik dari hadir di festival jalanan atau street festival bukanlah hanya melihat para peserta paradenya saja. Banyak hal lain yang kerap bisa menjadi foto yang menarik dari mereka yang kebetulan hadir di lokasi acara.

Seperti pak polisi yang satu ini. Kumisnya itu nggak nahan. Jalannya juga tegap dan berwibawa. Paling tidak berhasil mengundang pemegang kamera untuk merelakan satu shoot khusus si bapak ini.
Read More

Tantangan Memotret Tempat-Tempat Populer

Tantangan Memotret Tempat-Tempat Populer
Stadion Pakansari Bogor 2017

Tempat-tempat populer itu biasanya memang bagus. Buktinya akan banyak orang yang berkunjung dan bermain kesana. Contohnya saja, tempat wisata, dimanapun keindahan lah faktor yang paling utama menarik minat orang untuk datang dan menikmati.

Dan, itu menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk memotret "keindahan" yang ada di tempat-tempat populer seperti itu. "Ramai"-nya itulah yang menghadirkan kesulitan tersendiri untuk mendapatkan foto yang enak.

Tidak berarti tempatnya menjadi tidak indah, tetapi terlalu banyak orang berlalu lalang lah yang justru kerap menjadi hambatan sendiri. Fotonya menjadi penuh "clutter" alias penuh obyek yang "tidak diharapkan".

Butuh pengetahuan tentang waktu yang baik agar bisa menghindari hal seperti ini, seperti datang lebih pagi dari waktu "ramai".
Read More