May 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Sunday, May 13, 2018

Ketika Gelembung Sabun Pun Menghadirkan Kebahagiaan

Ketika Gelembung Sabun Pun Menghadirkan Kebahagiaan
Lapangan Sempur Bogor 2017

Enaknya berada di dunia anak-anak adalah karena disana kebahagiaan itu murah dan mudah. Berbeda sekali dengan dunia orang dewasa yang rumit dan njlimet.

Jarang orang dewasa akan merasa bahagia hanya sekedar dengan melihat gelembung sabun. Bagi orang dewasa itu bahagia adalah ketika memiliki istri cantik atau suami tampan, rekening bank menunjukkan angka nol yang banyak, atau rumah yang luasnya sampai 4-5 kali lapangan sepakbola.

Tetapi, bagi seorang anak, gelembung sbaun pun sudah bisa menghadirkan kebahagiaan. Seorang anak tidak peduli apakah makannya hanya dengan tempe atau rumahnya cuma RSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sempit Sekali Selonjor Saja Susah). Ia tetap bisa menemukan kebahagiaannya dengan cara-cara yang sederhana.

Foto ini membuat saya mengelus sayang Canon EOS 700D.

Jika, si anak dalam foto bisa berbahagia dengan gelembung sabun yang harganya hanya sepersekian ribu harga si EOS 700D, kenapa saya tidak bisa. Kenapa saya harus terus membayangkan si Canon EOS 5D Mark II saja dan hasilnya merasa tidak bahagia dan bersyukur sudah punya kamera?

Wajah si anak seperti memberi pengingat kepada saya, bahwa kebahagiaan itu mudah dan murah. Semua bisa mendapatkannya. Dengan catatan, bisa mengekang keinginan kita dan tidak bermimpi terlalu muluk terhadap sesuatu.

Read More

Saturday, May 12, 2018

Bukannya Mengeluh, Lensa Fix 50 MM F/1.8 STM Auto Focusnya Lambat

Bukannya Mengeluh, Lensa Fix 50 MM F/1.8 STM Auto Focusnya Lambat

Bukan mengeluh dan memang tidak sepantasnya untuk dikeluhkan. Sudah punya saja sudah bagus sekali, apalagi untuk seseorang yang menggeluti fotografi bukan untuk mencari uang. Tetapi, itulah kenyataannya bahwa lensa fix 50 mm f/1.8 STM keluaran Canon memiliki autoffocus yang lamban.

Sepertinya itulah mengapa kebanyakan fotografer selalu menyarankan untuk memilih yang versi USM, yang artinya dilengkapi dengan Ultrasonic Motor dalam lensanya dan membuat sistem autofocus kamera lebih cepat.

Beberapa pengalaman kehilangan momen selama menyusuri jalanan dengan memakai si lensa prime murah, tetapi pembuat bokeh yang bagus itu memang menunjukkan hal tersebut.

Sebagai penggemar fotografi jalanan, saya tidak memiliki waktu yang terlalu banyak untuk berpikir dan bereaksi. Terkadang hanya tersisa 1-2 detik saja dari mulai obyek yang dianggap menarik muncul dan kemudian menghilang.

Waktu itu biasanya cukup untuk mengatur setting kamera (yang biasanya diset auto atau shutter/aperture  priority). Tetapi, ketika menggunakan si fix 50 mm, ternyata waktu itu tidak cukup. Lensa ini membutuhkan waktu setidaknya 2-3 detik untuk menjadi fokus terhadap obyek yang dikehendaki.

Lebih tidak enaknya lagi, ternyata si 50 mm kewalahan saat menghadapi obyek yang bergerak. Sulit sekali mendapatkan fokus dari benda atau orang yang sedang bergerak menggunakan lensa ini. Hal itu terjadi baik ketika memotret dengan menggunakan viewfinder atau dengan mode Live View alias menggunakan layar LCD.

Apalagi, kalau aperturenya diset pada angka terbesar, yaitu f/1.8. Lamban banget.

Banyak lolosnya dibandingkan berhasilnya.

Memang, untuk obyek statis dan tidak bergerak, lensa fix 50 mm versi STM ini tetap handal dan menghasilkan latar belakang blur yang baik. Tidak ada masalah sama sekali. Tetap sebuah lensa andalan yang bisa menghadirkan kesan artistik dalam sebuah foto.

Hanya saja, peringkatnya turun menjadi lensa ke-2 (dari koleksi lensa yang saya punya) dibandingkan si 55-250 mm. Lensa yang terakhir tidak menghasilkan bokeh sebagus si 50mm, tetapi autofocusnya cepat dan mudah melakukan freeze pada obyek. Dan, kecepatan focus-nya lah yang lebih dibutuhkan dalam fotografi jalanan agar tidak sering kehilangan momen.

Sekali lagi ini bukan keluhan. Bagaimanapun, si lensa fix 50 mm STM tadi tetap berguna dalam banyak hal, termasuk untuk memotret istri. Hanya saja, kalau saya hunting foto lagi di jalanan Bogor, maka lensa 55-250 mm lah yang akan terpasang pertama kali pada si Canon EOS 700D.

Foto tukang sayur di atas adalah salah satu contoh sulitnya si fix 50 mm mendapatkan fokus. Mungkin seharusnya saya meminta abang tukang sayur berhenti dan bergaya sedikit, tetapi biasanya hasilnya kurang alami.

Yah, semua pasti ada kelemahannya. Tidak ada gading yang tidak retak.
Read More