October 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Sunday, October 28, 2018

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat


Bisa disebut sebagai prediksi, bisa disebut sebagai sebuah kenyataan juga, karena pada dasarnya persaingan antar fotografer bayaran sudah semakin ketat. Tetapi, dalam beberapa tahun ke depan, tingkat persaingannya akan menjadi lebih keras dibandingkan saat ini.

Coba perhatikan saja di kota dimana Anda tinggal dan kemudian hitung berapa studio foto yang masih bertahan . Di kota dimana saya  tinggal, Bogor, hal itu sudah terjadi sejak beberapa tahun belakangan. Beberapa studio foto sudah terpaksa menutup gerai mereka. Yang tersisa hanya satu dua saja.

Jangan tanya nasib studio foto yang mengkhususkan diri pada pembuatan pas foto untuk dokumen. Kategori yang ini sudah mendekati kepunahan.

Hal itu menunjukkan prinsip "Yang kuat yang menang" pun mulai memperlihatkan hasilnya.

Mungkin bukanlah sesuatu yang mengherankan sebenarnya. Seharusnya juga harus sudah bisa diprediksi sejak lama oleh para fotografer bayaran, baik yang mempunyai studio atau tidak. Ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi situasi pasar fotografer bayaran, seperti

1. Semakin murahnya harga kamera

Yah, bisa dikata hampir semua orang sekarang memiliki kamera, meski mayoritas memilikinya dalam bentuk kamera smartphone. Tetapi, di tangan setiap orang, sekarang paling tidak ada 2 kamera (smartphone memiliki 2 kamera, depan dan belakang).

Jika di zaman dulu, saat orang hendak memiliki foto dirinya sendiri, ia harus pergi ke studio foto, hal itu tidak perlu dilakukan lagi. Ia cukup menggunakan smartphone-nya saja untuk memotret dirinya sendiri dalam berbagai pose.

Otomatis permintaan jasa fotografer bayaran menurun drastis. Mereka tergantikan oleh kebiasaan yang dikenal dengan selfie.

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat

2. Perkembangan Teknologi

Pernah melihat bagaimana orang membuat pas foto sekarang? Kalau untuk SIM (Surat Ijin Mengemudi) atau KTP, hal itu sudah dilakukan di tempat perekaman data. Tidak lagi seperti dulu dimana yang mengajukan harus membuat pas foto dulu dan membawa cetakannya ke kelurahan. Pemotretan dilakukan di tempat oleh petugasnya.

Nah, nasib pengelola studio foto yang berfokus pada pembuatan pas foto seperti ini memburuk. Pelanggan mereka direbut oleh pihak lain.

Juga, jangan bayangkan untuk dokumen lain orang masih pergi ke studio foto. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa seorang yang membutuhkan pas foto untuk ijasah, mereka tidak pergi ke studio foto.

Kemana mereka pergi?

Mereka pergi ke tempat fotokopi dengan membawa sebuah foto yang sudah dicetak. Kemudian, mereka meminta pengelola fotokopi untuk menscan dan kemudian mengedit latar belakang fotonya. Barulah kemudian dicetak. Tidak sedikit yang membawa flash disk berisi data untuk minta dicetak dan diedit.

Lagi-lagi pangsa pasar pas foto sudah hilang.

Perkembangan teknologi lah yang paling bertanggungjawab terhadap hal yang ini. Jika dulu hanya sedikit orang yang bisa melakukan, sekarang semua orang dari semua kalangan bisa dengan mudah melakukannya.

[Prediksi] Persaingan Antar Fotografer Bayaran Akan Semakin Ketat

3. Pesaing Semakin Banyak

Sadarkah Anda bahwa harga kamera semakin terjangkau? Yap, kenyataannya begitu. sebuah kamera DSLR kelas entry level saja harganya tidak begitu jauh bedar dari UMR (Upah Minimum Regional) di Jakarta.

Semakin terjangkau karena para produsennya pun berebut pasaran.

Dan, ini membawa dampak jumlah fotografer meningkat dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pesat sekali hal itu ditunjukkan dengan peningkatan penjualam kamera berbagai jenis (di luar smartphone) yang terus memperlihatkan grafik menaik.

Efeknya, semakin banyak orang yang menggeluti fotografi. Berbeda dengan di masa lalu, dimana harga kamera terasa sangat mahal dan hanya mereka yang memiliki uang lumayan banyak saja yang mau membeli kamera.


Batasan berupa harga sudah hampir hilang dan sekarang semua orang bisa ikut serta.

Ditambah lagi dengan kemampuan memotret masyarakat awam yang terus membaik dari hari ke hari. Hal itu ditunjang dengan penyebaran ilmu fotografi yang juga semakin mudah didapat. Semua orang bisa belajar dan bahkan tanpa bantuan dari orang lain.

Setelah kemampuan mereka dirasa cukup, seperti biasa orang akan mulai berpikir bagaimana menghasilkan uang dari skill yang mereka kuasai. Normal kan? Jadi suplai fotografer pun semakin banyak, dan akan terus bertambah setiap tahunnya.

Pasar yang mengecil.

Pesaing yang bertambah.

Kemudahan mendapat alat.

Semua berperan dalam meningkatkan persaingan antar fotografer bayaran di masa sekarang. Dan, hampir pasti akan berperan membuat tingkat kompetisi di dunia ini semakin tinggi.

Ini situasi yang harus dihadapi setiap fotografer yang ingin menghasilkan uang dari skillnya yah. Situasinya tidak berlaku bagi fotografer yang menekuni fotografi karena suka atau hobi. Kalangan fotografer kategori ini tahan banting karena tidak ada persaingan dalam hal hobi.

Sebuah situasi yang perlu dipikirkan oleh siapapun yang berpikir untuk terjun menjadi fotografer bayaran. Bukan situasi yang mudah.

Tidak berarti tidak ada peluang tetapi medannya akan semakin rumit dan keras di masa datang.

Kalau memang Anda mau, pertimbangkan baik-baik dan persiapkan strategi yang matang. Tanpa itu, rasanya sulit untuk bisa survive di dunia fotografer bayaran.


Read More

Friday, October 26, 2018

Perhatikan Jarak Saat Menggunakan Flash (Lampu Kilat)

Perhatikan Jarak Saat Menggunakan Flash (Lampu Kilat)

Flash atau lampu kilat merupakan fitur yang sangat membantu saat memotret, terutama dalam situasi dimana cahaya kurang. Alat ini merupakan sumber cahaya tambahan untuk menerangi obyek yang akan difoto.

Tetapi, ada satu hal penting, yang kerap juga terlupakan saat menggunakan alat yang satu ini, yaitu JARAK. Maksudnya, jarak antara kamera dengan obyeknya.

Seorang pemotret harus mengetahui posisi yang tepat agar keuntungan tidak berubah menjadi kerugian. Kesalahan dalam menentukan jarak bisa berakibat

1)  Mendapatkan hasil yang tak diinginkan


Kalau manusia yang menjadi obyeknya, mata obyek bisa terpejam . Sebuah hal normal karena refleks manusia adalah menutupi mata di kala ada kilatan sinar yang terlalu kuat. Dan, kalau jarak terlalu dekat, hasilnya cahaya yang menerpa menjadi berlebihan dan otomatis kelopak mata akan menutup untuk melindungi bola mata dari kerusakan

2)  Terlihat Tidak Natural

Terlalu dekat juga membuat obyeknya bisa terlihat terlalu terang dan tidak natural. Belum kalau obyeknya memakai kosmetik berlebihan atau berkeringat, cahayanya bisa memantul dari bagian yang terkena kilatan cahaya.

3)  Obyek gelap


Kalau jarak terlalu jauh, hasilnya obyeknya tetap kurang mendapat pencahayaan dan gelap. Tidak berbeda hasilnya dengan tanpa flash sekalipun.

Jadi, mau tidak mau seorang fotografer harus memahami karakter lampu flash yang dipergunakannya. Berapa jarak minimum dan maksimum. Selain itu juga, ia harus juga kreatif untuk mengakali kekurangan lampu kilatnya.

Sebuah flash built-in pada kamera biasanya mempunyai kekuatan sekitar 2-3 meter. Jadi, jarak yang terbaik adalah pada titik maksimumnya saat memotret, yaitu 3 meter , kalau kondisnya tanpa penerangan sama sekali. Kalau ada, tetapi kurang, jarak itu harus diperjauh lagi.
Read More

Thursday, October 25, 2018

Penggemar Fotografi Jalanan Kerap Menjadi Pusat Perhatian

Penggemar Fotografi Jalanan Kerap Menjadi Pusat Perhatian

Tidak bohong kok! Lagian, ngapain bohong. Dosa.

Kalau menjadi penggemar fotografi jalanan bisa membuat kita jadi pusat perhatian. Mata banyak orang akan melirik kalau kita lewat. Itu sedikit konklusi alias kesimpulan yang diambil selama 4 tahun menyusuri jalan, kerap tanpa tujuan, untuk istilah kerennya hunting foto. Berburu momen.

Cuma, jangan bayangkan perhatiannya seperti kalau seorang bintang film lewat. Juga lirikan mata yang didapat berbeda dibandingkan lirikan yang dihasilkan seorang cewek cantik berjalan.

Beda banget. Perhatian yang didapat cewek cantik biasanya lirikan mata nakal dan senyum di wajah banyak orang, Tapi, perhatian yang didapat seringkali berupa lirikan mata tajam dan muka dipasang garang. Curiga. Dan, tidak sedikit juga mimik wajah yang menandakan keheranan. Terutama kalau di tangan ada kamera DSLR atau Mirrorless.

Kadang kalau sedang beruntung disangka wartawan.

Rupanya, masih banyak orang yang belum mengerti kalau kamera sekarang harganya tidak terlalu mahal dan semakin terjangkau. Tidak sedikit yang belum tahu bahwa bukan cuma wartawan sekarang yang senang menyusuri jalan dan memotret orang tak dikenal.

Sebuah pertanda bahwa fotografi jalanan belum begitu akrab di telinga banyak anggota masyarakat. Masih butuh waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk mengerti kalau fotografi sekarang sudah menjadi milik semua kalangan, dan bukan hanya profesi tertentu saja.

Sayang.

Read More

Wednesday, October 24, 2018

Bagaimana Kalau Foto Anda Dianggap Jelek ?

Bagaimana Kalau Foto Anda Dianggap Jelek ?

Memang tidak pernah enak kalau sudah capek, mengorbankan waktu dan tenaga, baju basah keringat, ternyata kemudian hasil fotonya dianggap jelek. Apalagi kalau bahkan dilirik pun tidak. Memang tidak enak.

Tetapi, belajar dari pengalaman menekuni fotografi jalanan, yang kerap dianggap genrenya orang miskin, justru hal tersebut sebenarnya bagus buat seorang fotografer.

Kalau ada orang menyebut foto hasil karya kita jelek itu pertanda

  1. Orang itu peduli dan masih mau memberikan masukan/kritik
  2. Berarti didorong untuk terus belajar
  3. Tidak akan terlena dengan pujian

Iya kan? Sakit memang, tetapi biasanya seseorang akan belajar lebih banyak dari kegagalan daripada kesuksesan. Mereka bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kegagalan itu. Sementara kesuksesan cenderung menghambat perkembangan untuk mencapai kemajuan.

Itu sih pandangan dari orang yang memotret untuk iseng, dan mengisi blog saja. Mungkin akan berbeda kalau saya memotret untuk dibayar. Kalau klien itu mengatakan foto hasil jepretan saya jelek, berarti itu benar-benar buruk dan masalah akan segera datang dalam bentuk klaim.

Untung saya bukan fotografer bayaran.
Read More

Monday, October 22, 2018

Apa Modal Awal Untuk Belajar Fotografi ?

Apa Modal Awal Untuk Belajar Fotografi ?

Modal awal belajar fotografi itu tidak mahal sebenarnya. Cuma satu hal mutlak yang harus ada, yaitu KAMERA.

Kenapa? Karena tanpa itu maka tidak ada fotografi. Jadi, cuma itu saja syarat yang harus dipenuhi. Bisa nggak pakai kanvas dan cat air, kan hasilnya bisa sama indahnya? Ya tidak bisa. Nanti Anda akan belajar seni lukis dan fotografi.

Jangan berpikir bahwa kamera yang disediakan harus DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Tidak ada keharusan untuk itu, tetapi kalau Anda memang punya uang, ya beli saja..

Kalau tidak ada, ya pakai saja smartphone di tangan. Zaman sekarang, justru jarang menemukan ponsel tanpa kamera. Seberapapun kecilnya ukuran pixel yang dijanjikan, tetap saja itu kamera dan lebih bagus dibandingkan kamera Brownie produksi tahun 1901 yang hanya bisa menghasilkan foto 2 1/4 inci saja (3 centimeter saja)

Modal lainnya adalah

1. Niat : tanpa niat yang tidak akan ada yang bisa berjalan
2. Semangat : tanpa yang satu ini, biasanya proses belajarnya akan sebentar dan kemudian hilang
3. Mau belajar : namanya belajar, ya berarti harus siap mencari ilmu, bisa dari internet atau orang yang dikenal
4. Mau capek : tidak ada yang namanya belajar tanpa rasa capek. Hal itu pasti ada dalam proses belajar apapun

Bagaimana dengan obyek? Fotografi itu tentang menggali keindahan dari obyek apapun, Jadi, sebagai langkah awal pakai saja obyek yang ada dan tersedia di sekitar kita. Mau bunga, gadis tetangga cantik, atau bahkan kucing dan mobil pun bisa dijadikan obyek untuk belajar memotret.

Itu saja modal awal belajar fotografi.
Read More

Sunday, October 21, 2018

Rekaman Kehidupan Pinggir Sungai

Seharusnya, kita yang punya mesin cuci dan kamar mandi di rumah merasa bersyukur apa yang kita punyai. Fasilitas yang terkait sanitasi dan kebersihan hidup kita sudah terpenuhi.

Bersyukur karena rupanya di Indonesia sendiri masih banyak orang yang bahkan untuk merasakan kenikmatan memiliki privasi untuk hal pribadi saja belum bisa.

Rekaman kehidupan pinggir sungai di bawah ini adalah sedikit gambaran salah satu sisi kehidupan masyarakat Indonesia yang kadang tidak terlihat oleh kita. Dan, seharusnya membuat rasa syukur hadir meskipun kamar mandi di rumah tidak seberapa besar.

Rekaman Kehidupan Pinggir Sungai

foto kehidupan pinggir sungai ciliwung


Iya nggak?
Read More

Saturday, October 20, 2018

Template Untuk Blog Foto Itu Ternyata Susah Dicari

Template Untuk Blog Foto Itu Ternyata Susah Dicari

Jujur saja, kalau Anda merasa tidak nyaman melihat template di blog foto ini, saya akan maklum. Sebenarnya, rasanya masih kurang sreg memakai template yang sepertinya dibuat untuk menggunakan lebih banyak teks.

Idealnya, menurut saya, template blog foto itu harus bisa memberikan penekanan lebih pada fotonya dibandingkan teks. Kalau di blog biasa, teks adalah utama dan image sebagai pelengkap, seharusnya di blog foto harus dibalik. Foto atau image sebagai kunci dan teks pelengkap.

Sayangnya, setelah mencoba berbagai template, mulai yang gratisan sampai yang premium, hasilnya tetap tidak bisa memuaskan.

Hasilnya, ya sudah, pakai saja template yang ada.

Memang tidak nyaman sih, tetapi daripada harus terus mencari dan waktu terbuang hanya untuk membuat tampilan blog sesuai selera, maka yang ada saja yang dipakai.

Template ini bernama Viomagz, buatan seorang master blogging Indonesia, Mas Sugeng. Cari deh namanya via Google kalau memang mau.
Read More

Tuesday, October 16, 2018

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin? Makanya Fotografer Pun Harus Banyak Membaca

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin?
Model : Istri Sendiri
Terhenyak juga membaca sebuah tulisan di sebuah blog yang membahas fotografi. Kaget dan langsung lah dahi berkerut ketika membaca salah satu bagian yang menyebutkan bahwa salah satu alasan orang melakukan "street photography" atau fotografi jalanan adalah karena "minim peralatan".

Kata penulisnya seperti screenshoot di bawah ini.

Fotografi Jalanan : Genre Untuk Orang Miskin?
Kaget juga membacanya. Di zaman dengan internet dimana-mana, masih saja ada orang yang tenggelam dalam kungkungan pemikiran bahwa "fotografi itu adalah tentang alat yang dipakai"/ Padahal, sudah ribuan tulisan dibuat para pakar bahwa fotografi itu lebih dari sekedar alat yang dipakai.

Tulisan itu seperti mengatakan bahwa fotografi jalanan adalah genre untuk orang miskin yang tidak punya peralatan. Mungkin yang dimaksud adalah seperti tripod, kamera mahal, filter, dan banyak lagi lainnya. Jadi fotografi jalanan adalah untuk orang yang baru saja punya kamera.

Mungkin dalam benak penulisnya ada gambaran ideal bahwa yang namanya fotografi adalah orang yang kemana-mana membawa lensa segede termos, tripod mahal, peralatan lighting, dan memotret model yang dibayar.

Jadi, fotografi jalanan yang memotret kehidupan orang di jalan dianggap sesuatu yang recehan saja.

Sedih saja mendengarnya.

Karena kenyataannya tidak demikian. Banyak nama terkenal seperti Henri Cartier Bresson, Eric Kim, Bruce Gilden bukanlah orang miskin. Mereka mempergunakan peralatan kamera yang harganya bahkan lebih mahal daripada yang mungkin dipunyai si penulis artikel ini. Nama-nama yang disebutkan di atas memakai kamera berlensa Leica yang harganya mahal sekali.

Bukan. Bukan hanya orang miskin yang menggemari fotografi jalanan. Banyak orang yang kaya dan punya uang banyak pun terjun ke dalamnya karena mereka menemukan passion-nya disana. Bukan karena mereka tidak mampu membeli peralatan mahal. Pastilah mereka mampu membeli banyak alat fotografi karena uang hasil menekuni fotografi jalanan yang mereka dapat lebih dari cukup.

Mereka mampu, tetapi mereka tetap memilih fotografi jalanan sebagai genre yang dianutnya.

Terasa konyol sekali membaca tulisan seperti itu mengingat bahwa ulasan mengenai nama-nama terkenal di genre yang merekam kehidupan orang di jalanan ini sudah banyak sekali ditulis. Parah sekali kalau masih beranggapan seperti itu.

Disinilah terlihat bahwa saran dari banyak fotografer terkenal, seperti "Buy books not gear" (Beli buku bukan alat) atau "Fotografer harus banyak membaca" terlihat kebenarannya. Berfokus pada alat dan kamera tanpa menambah pengetahuan hanyalah mempersempit sudut pandang seseorang. Pada, akhirnya, ia mengeluarkan pernyataan yang sebenarnya memperlihatkan ketidakluasan pengetahuannya.

Kalau saja ia mau membaca lebih, setidaknya tulisan-tulisan di internet terkait fotografi jalanan, tentunya ia tidak akan mengatakan bahwa fotografi jalanan dilakukan karena minim peralatan tambahan. Ia tidak akan berani mengklaim bahwa fotografi jalanan adalah genre untuk orang miskin yang tidak mampu membeli aneka peralatan fotografi saja.

Terus terang konyol sekali yang seperti itu.
Read More

Saturday, October 13, 2018

Untuk Menjadi Fotografer Pro Butuh Lebih Dari Sekedar Skill Memotret

Untuk Menjadi Fotografer Pro Butuh Lebih Dari Sekedar Skill Memotret
Istana Bogor dan Kolam Gunting, 2017
Sudah berapa ribu jam Anda habiskan untuk berlatih memotret dan menghasilkan karya yang memukau? 1000? 2000? atau 10000 jam? Bagaimana hasilnya, sudah bagus kah dan sudah mendapat berapa puluh ribu LIKE di Instagram? Berapa pengikut Anda? 100 ribu?

Nah, apakah setelah Anda sukses di semuanya itu, foto luar biasa bagus, ratusan ribu LIKE sudah dikantungi, dan ratusan ribu follower sudah diraup di media sosial, Anda sudah langsung menjadi fotografer pro (profesional)?

Jawabnya, BELUM. Dengan huruf besar.

Sama sekali belum. Anda tetaplah hanya fotografer amatir atau penggemar fotografi saja. Jauh sekali dari yang namanya fotografer profesional.

Yakin? Sangat yakin dalam hal ini. Meski kemampuan saya memotret pasti di bawah Anda, kalau sudah begitu, tetap Anda  belum menjadi fotografer pro.

Alasannya sederhana saja.

Pro atau profesional berasal dari kata profesi. Profesi sendiri adalah sebuah bidang pekerjaan yang ditujukan untuk menghasilkan "uang". Profesional berarti sudah memenuhi standar-standar yang ditetapkan oleh profesi terkait.

Jadi, walaupun Anda sudah berhasil menghasilkan foto yang memukau, jika hal itu dilakukan hanya sekedar untuk iseng dan pamer di media sosial, maka Anda bukanlah fotografer pro. Jauh dari itu.

Paling-paling Anda akan disebut "seperti" pro, tetapi sebenarnya bukan pro.

Berdasarkan titik tolak inilah, jika seseorang mau menjadi fotografer pro, maka ia butuh lebih dari sekedar kemampuan fotografinya. Jauh lebih banyak dari itu.

Seorang fotografer pro harus merubah tujuannya memotret menjadi penghasilan dan uang. Ia harus bisa memasarkan diri agar kemampuannya bisa terjual dan dirubah menjadi uang. Ia harus bisa menarik orang mau menggunakan jasanya. Ia harus mampu meyakinkan orang dan memenangkan kompetisi dari sesama fotografer pro.

Untuk itu ia butuh berbagai skill lain, seperti skill promosi, negosiasi, pemasaran, dan masih banyak lagi hal lainnya. Bukan hanya sekedar skill memotret saja.

Oleh karena itu, sebagus apapun foto yang dihasilkan, jika seseorang benar-benar berniat menjadi fotografer profesionak, maka ia juga harus mau belajar berbagai hal lain untuk melengkapi apa yang sudah ada.

Tanpa itu semua, maka ia hanyalah fotografer amatir saja.
Read More

Thursday, October 11, 2018

Beda Pelukis Dan Fotografer - Dalam Hal Titik Startnya

Beda Pelukis Dan Fotografer - Dalam Hal Obyeknya

Konyol yah terdengarnya. Anak kecil pun tahu beda pelukis dan fotografer. Yang pertama menggunakan kanvas dan kuas untuk menghasilkan karyanya. Yang terakhir menggunakan kamera. Hasil karyanya yang satu berupa lukisan dan yang lain berupa foto.

Belum ditambah dengan orangnya yang beda dan namanya juga beda. Jelaslah keduanya adalah hal yang berbeda.

Jadi, bolehlah kalau mau tertawa jika ditanya yang seperti ini.

Hanya, sebenarnya ada satu perbedaan mendasar, secara filosofi, yang membedakan dua profesi yang menghasilkan karya visual. Perbedaan inilah yang menghasilkan pendekatan yang bertolak belakang saat menghasilkan karyanya.

Ungkapan bernada filosofis ini dikemukakan oleh Darren Rowse, seorang blogger dan seorang fotografer juga. Ia memiliki dua buah blog sukses dalam kedua bidang itu. Yang satu Problogger yang membahas mengenai blogging/ngeblog dan yang satu lagi Digital photography School, tentunya di bidang potret memotret.

Ia mengatakan perbedaan mendasar dari pelukis dan fotografi ada pada titik awalnya. Penjelasannya, sebagai berikut : (intinya saja dan bukan kutipan langsung)

1. Pelukis memulai dari kanvas kosong dan kuas. Kemudian ia berkreasi memvisualisasikan apa yang ada di kepalanya ke dalam bentuk visual di atas kanvas itu. Hasilnya bisa sederhana bisa rumit. Bisa dikata pelukis memulai dari obyek yang tiada dan menjadikannya ada. Titik startnya ada di 0 alias tiada.

2. Fotografer, justru sebaliknya. Obyek yang dipergunakannya sudah ada dan bahkan sangat banyak. Yang dilakukannya untuk menghasilkan karya visualnya adalah membuatnya menjadi sesederhana mungkin. Ia harus bisa memilah dan membuang yang tidak perlu sampai bentuk yang sangat sederhana. Titik startnya 100.


Titik start antara keduanya berbeda jauh. Yang satu dimulai dari yang paling sederhana, alias tidak ada. Yang satu lagi memulai dari titik maksimum dan bergerak ke arah titik minimum.

Keduanya akan berhenti pada titik keseimbangan, yaitu ketika bentuk visual yang diinginkan hadir dan memberikan rasa puas hadir di dalam diri mereka.

Kalau dipikir-pikir, benar juga. Bahkan sangat benar apa yang dikatakan si Darren Rowse. Memang begitulah adanya.

Oleh karena itulah hadir prinsip KISS dalam fotografi yang bermakna "Tetap Sederhana, Bodoh!". Dimana para fotografer didorong untuk menyederhanakan apa yang dilihatnya sesederhana mungkin.

Itulah beda pelukis dan fotografer.

Anda setuju boleh. Tidak pun tidak masalah. Bagaimanapun, apa yang dikatakan blogger dan fotografer sukses itu adalah opini dan bukan kebenaran mutlak. Tetapi, apa yang dikatakannya tidak melenceng dari fakta yang ada.


Read More

Monday, October 8, 2018

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!
Stasiun Gondangdia, 2017
Banyak orang yang berkeliling dengan kamera di tangan, paling tidak kamera smartphone, tapi tidak menghasilkan sebuah foto pun. Alasan klasiknya adalah karena mereka bingung mencari obyek foto yang bisa dijadikan sasaran.

Klasik. Entah sudah berapa puluh orang yang saya kenal mengemukakan alasan seperti itu. Kurang bisa diterima sebenarnya. Rasanya seharusnya hal itu tidak mungkin terjadi.

Kok bisa bingung, padahal Tuhan sudah menganugerahkan bumi beserta isinya untuk manusia. Di dalamnya ada paling tidak 6 milyar orang, entah berapa banyak tanaman, juga tidak terhitung bangunan, hewan, dan masih banyak benda lain yang tidak bisa disebutkan.

Dunia tidak selebar celana kolor.. eh daun kelor.

Luas sekali.

Jadi, jelas sekali tidak mungkin tidak ada obyek yang bisa dijadikan sasaran kamera. Yakin banget soal itu sih.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!
Cibinong City Mall, 2018
Tapi, kenyataannya, hal itu sering terjadi kan?

Salah satu penyebabnya adalah karena pikiran kebanyakan orang terbelenggu dengan pandangan bahwa

  1. obyek foto itu harus tempat yang indah-indah
  2. obyek foto itu harus wanita dan wanita cantik atau pria ganteng saja
Intinya obyek itu harus yang bagus-bagus saja. Barulah bisa dijadikan obyek. Makanya, biasanya orang berusaha terus mencari yang seperti ini di kala hendak memotret.

Padahal, fotografi tidak demikian adanya.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!

Keindahan atau kecantikan yang terlihat dalam foto, sebagian besar hadir bukan karena obyeknya. Hal-hal itu lahir dan diciptakan oleh orang di belakang kameranya, si fotografernya. Bukan seratus persen karena sudah darisananya.

Sebuah lukisan yang bagus sering tidak memiliki obyek sama sekali. Apa yang dilihat orang sering merupakan terjemahan dari ide yang ada di kepala si pelukisnya yang kemudian diterjemahkan ke atas kanvas. Kalaupun pakai obyek, aslinya belum tentu demikian.

Begitu juga dengan fotografi. Arti dari fotografi kerap diterjemahkan oleh banyak orang sebagai "melukis dengan cahaya (kamera menggunakan cahaya untuk merekam gambar):. Sifatnya sama.

Selama sang fotografer kreatif dan memiliki skill untuk memadukan garis, warna, momen unik, dan tentunya cara mengatur kameranya, hasilnya bisa enak dilihat.

Apapun itu. Bahkan, botol bekas yang dibuang ke jalan sekalipun, di tangan fotografer yang handal, bisa menjadi sebuah foto yang menarik. Padahal, botol itu dibuang karena dianggap buruk dan jelek oleh orang lain.

Bingung Mencari Obyek Foto? Jangan!


Coba saja tanyakan pada mereka yang menggeluti fotografi jalanan, fotografi makanan, fotografi human interest. Apakah mereka mengandalkan kepada keindahan dan kecantikan obyeknya saja? Jelas tidak.

Jadi, tidak ada alasan untuk bingung mencari obyek foto. Ada banyak, bahkan terlalu banyak di dunia ini. Yang perlu dilakukan adalah dengan memilih salah satu (atau salah banyak) dan kemudian mengembangkan ide dan gabungkan dengan kemampuan memotret.

Sesederhana itu saja.
Read More

Sunday, October 7, 2018

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?
Pantai Sari Ringgung, Lampung 2018
Yang bener? Masa sih Anda masih berpendapat fotografi hobi yang mahal? Serius masih berpandangan demikian?

Kalau pandangan ini dkemukakan tahun 1970-1990-an, masih sangat bisa dimengerti. Harga kamera saat itu masih mahal sekali dan sulit terjangkau oleh kalangan umum. Belum ditambah dengan keharusan membeli negatif film yang harganya lumayan juga. Makin merobek kantung ketika untuk melihat hasilnya harus dicetak dulu, dan ongkosnya sangat tidak murah, terutama bagi yang gajinya pas-pasan.

Itu dulu.

Kalau sekarang?

Oh, pasti merujuk pada kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless? Memang lumayan harganya. Tetapi, jangan lupa kalau ada berbagai kelas kamera. Kalau memang yang ditunjuk kamera kelas Full Frame, ya memang mahal sekali. Belum lensanya yang tidak kalah mahal.

Cuma, coba saja lihat kelas entry level, atau pemula, sekelas Canon D1300 atau Nikon D3300, sudah DSLR loh, dan harganya sama dengan harga ponsel kelas menengah juga. Jangan lupakan juga ada kelas kamera prosumer dan point & shoot, yang jelas harganya di bawah itu.

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?
Pantai Klara - Kelapa Rapat, Lampung 2018
Masih belum bisa terima bantahan itu? Dan, masih berpandangan kalau fotografi tetap hobi yang mahal?

Coba, tengok smartphone di tangan Anda? Pasti ada kan. Jarang sekali orang zaman sekarang yang tidak memiliki smartphone. Lebih sulit mencari ponsel yang bukan smartphone zaman sekarang.

Ada kamera kan? Paling sedikit mampu menghasilkan foto berukuran 5 Megapixel di kamera depan dan 8-13 MP kamera belakang. Smartphone termurah saja sudah ada kameranya.

Lalu, masih beranggapan fotografi hobi yang tidak murah?

Kecuali, kalau Anda memang masih terpola, dan merekam omongan beberapa kalangan bahwa fotografi harus dijalankan dengan memakai kamera khusus, seperti DSLR atau Mirrorless, tidak ada alasan lagi untuk mengatakan fotografi itu mahal.

Sudah bisa memotret. Tidak perlu membeli roll film. Tidak harus mencetak. Kamera sudah tersedia di tangan. Lalu, dimana mahalnya?

Masa Sih Fotografi Hobi Yang Mahal?


Buang saja omongan mereka-mereka yang memandang dirinya terlalu tinggi kalau fotografi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya kamera mahal. Pemikiran usang nan kolot dan tidak sesuai dengan zaman sekarang.

Fotografi itu murah dan terjangkau oleh semua orang. Tidak ada alasan "mahal" lagi untuk tidak terjun ke dalamnya, kecuali, memang tidak ada niat untuk itu.

Nah, kalau begitu, ya sudah.

Takut hasilnya jelek? Semua foto di dalam tulisan ini dibuat dengan smartphone lawas (tua) berusia 4 tahun dan sudah banyak goresan di lensanya. Tetapi, mungkin karena yang memegang smartphone itu belajar sedikit demi sedikit, ia sudah bisa menghasilkan sesuatu yang setidaknya enak dilihat dengan si ponsel tua itu.

Bisa ditiru kok. Lagi-lagi, kalau mau yah.


Read More

Saturday, October 6, 2018

Foto Bisa Menyampaikan Informasi Asal Diberi Caption Yang Tepat

Sudah banyak yang melupakan fungsi foto yang satu ini. Mayoritas orang sekarang membuat foto hanya untuk kesenangan, mencari LIKE di media sosial, atau memamerkan keindahan saja. Padahal, ada satu hal yang juga bisa disampaikan oleh sebuah foto, yaitu menyampaikan informasi.

Coba saja lihat foto di bawah ini.

Tugu Prasasti Dua Abad Kebun Raya Bogor
Informasi apa yang akan Anda bawa pulang?

a) Jika hanya tulisannya saja, maka Anda mendapat informasi bahwa di Kebun Raya Bogor ada Tugu Dua Abad Kebun Raya Bogor, tetapi Anda tidak tahu bentuknya seperti apa

b) Jika hanya fotonya saja, Anda akan terbayang bentuknya, tetapi akan terus bertanya "Benda atau tugu apakah itu?"

Ketika dikombinasikan, maka keduanya memberi informasi yang lengkap dan Anda bisa membawa pulang informasi tersebut.

Bisa juga dilakukan dengan memberi judul yang spesifik tentang apa yang tergambar secara visual oleh sebuah foto. 

Read More

Friday, October 5, 2018