November 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Friday, November 30, 2018

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Sampah, sebuah kata yang berarti benda-benda yang dianggap tidak berguna bagi seseorang dan kemudian dibuang. Kotoran bisa menjadi sinonimnya.

Cuma, pandangan itu sifatnya relatif. Di tangan orang yang tepat, maksudnya yang tahu cara memanfaatkannya, sampah bisa berubah menjadi banyak hal. Kerajinan tangan adalah salah satu bentuknya.

Hal itu juga berlaku dalam fotografi.

Sampah Pun Bisa Berguna, Bahkan Dalam Fotografi

Omong kosong? Jangan dulu berpikir bahwa pandangan itu sebuah omong kosong.

Dalam sebuah masyarakat dimana tingkat kesadaran terhadap lingkungannya masih teramat sangat rendah, sampah bisa menjadi sebuah obyek yang bisa menggerakkan "rasa" dalam diri manusia. Dan, inti dari sebuah foto yang menarik adalah bisa menggerakkan emosi dan rasa dalam diri manusia.

Iya kan? Teorinya sih begitu.


Tetapi, yang paling penting dan diharapkan dari penggunaan sampah dalam fotografi adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran yang melihat terhadap hal yang lebih penting daripada sebuah foto yang indah.

Namanya, kesadaran terhadap lingkungan hidup, yang jelas lebih berpengaruh langsung kepada kehidupan manusia sekarang dan di masa depan.

Jadi, masih bisa dikatakan sampah tidak berguna dalam fotografi?
Read More

Monday, November 26, 2018

Menyiksa Kamera Bukan Berarti Banting Kamera

Menyiksa Kamera Bukan Berarti Banting Kamera

Pernah dengar istilah "menyiksa" kamera? Mungkin kalau Anda sering berjalan-jalan ke blog-blog yang membahas fotografi, pastilah sekali dua istilah ini akan mampir ke telinga (atau mata). Istilah ini adalah sesuatu yang sering dipergunakan untuk menggambarkan sebuah tindakan.

Tindakan yang "ekstrim". Istilah yang dipakai saja terkesan kejam.

Tetapi, stop dulu. Jangan membayangkan bahwa yang dilakukan adalah benar-benar ekstrim atau sesuatu yang mengakibatkan rusaknya kamera, seperti membantingnya atau merendamnya dalam air. Istilah ini jauh dari usaha merusak.

Frase "menyiksa kamera' pada intinya adalah sebuah tindakan dari seorang fotografer untuk memakai kameranya pada titik yang paling ekstrim.

Setiap kamera memiliki batasan. Coba saja lihat buku manualnya. Contohnya, shutter speed atau kecepatan shutter biasanya dibatasi. Tergantung dari jenisnya, seperti Canon EOS 700D yang sampai 30 detik.

Nah, salah satu contoh "menyiksa kamera" adalah dengan menggunakan shutter speed "sangat lamban", yaitu pada titik 30 detik. Bisa bayangkan? Karena berarti diafragma/aperture akan terbuka selama 1/2 menit. Padahal, biasanya hanya di bawah 1 detik. Tentunya kalau ini dilakukan harus menggunakan tripod.

Titik maksimum yang diizinkan kamera.

Untuk apa dilakukan? Tentu saja melakukan hal yang lumayan ekstrim seperti itu tanpa ada tujuan. Para fotografer menggunakan teknik-teknik itu untuk mencoba menghasilkan foto-foto yang unik dan berbeda dari yang lain.

Maklum saja persaingan di dunia fotografi pun sama kerasnya seperti persaingan dunia bisnis. Oleh karena itu, para fotografer pun terus berusaha untuk menampilkan foto-foto yang "berbeda" dibandingkan yang lain. Dengan itulah maka nama mereka bisa terangkat.

Jadi, itulah tujuannya. Jangan pernah bayangkan ada adegan teatrikal yang dilakukan oleh seorang fotografer kalau ia menyebutkan istilah "menyiksa kamera".

Beberapa istilah lain yang berkaitan dengan istilah ini contohnya adalah "long exposure" atau "bulbing". Keduanya membutuhkan bukaan shutter yang lama. 

Justru jika mereka mengatakan yang satu ini, bersiaplah untuk melihat sebuah foto yang akan menimbulkan kesan berbeda dari yang lain. Karena, fotonya dibuat dengan memakai setting paling maksimal yang mampu ditangani sebuah kamera.


Bukan sesuatu yang saya suka lakukan. Bukan karena tidak bisa dan tidak mengerti. Tentu saya bisa. Sayangnya, bukan teknik yang saya sukai karena hasil fotonya kerap menjadi terlalu artificial dan tidak natural, sesuatu yang kurang menarik minat saya.

Maklum, saya penggemar fotografi jalanan yang mengandalkan sisi natural kehidupan manusia.

Jadi, saya jarang menyiksa kamera (bukan tidak pernah).
Read More

Sunday, November 25, 2018

Pengganggu Saat Memotret #1 : Mobil Dan Klaksonnya

Pengganggu Saat Memotret #1 : Mobil Dan Klaksonnya

Memotret itu sama saja dengan banyak pekerjaan lainnya, butuh fokus dan konsentrasi. Berlaku untuk pemegang kamera dan juga modelnya. Kurangnya Aqua..eh konsentrasi jelas akan membuat hasilnya tidak sesuai yang diharapkan.

Dan, masalahnya, ketika memotret di jalanan atau tempat wisata, gangguan itu sering hadir tanpa disangka-sangka.

Seperti contohnya beberapa waktu lalu, saat iseng bersama kawan lama mencoba melakukan beberapa sesi pemotretan di Kebun Raya Bogor.

Tentunya, untuk menghindari gangguan, dipilih lah tempat yang diperkirakan sesepi mungkin dimana orang tidak banyak lalu lalang, di sekitar Taman Meksiko. Tepatnya di jalan yang melintas salah satu taman tematik di kebun botani pertama di Asia Tenggara itu.

Sepi memang.

Tetapi, saya lupa, bahwa mobil diperkenankan berlalu lalang di dalam kebun raya itu. Dan, tidak menyangka ketika kamrea sudah terarah, dan sang model sudah bergaya. Sebuah mobil muncul dan klaksonnya berbunyi.

Hasilnya, ya sang model terkejut dan langsung bergerak. Pada saat bersamaan, jari saya menekan shutter release.

Cuma bisa nyengir saja melihat hasilnya. Jelek? May be tetapi jadi agak lucu melihat ekspresi modelnya yang terekam dalam kamera.

Itulah yang menjadikan sebuah pengalaman saat melakukan sesi pemotretan. Perhatikan bukan saja model, perlengkapan, atau setting kamera.

Pelajari juga situasi sekitar dan kebiasaannya. Hal itu untuk meminimalkan gangguan yang bisa merusak konsentrasi semua orang.

Meskipun demikian, mungkin saya setengah berharap kalau gangguan terduga itu bisa terulang. Karena dengan begitu bisa mendapatkan foto yang "lucu" dan benar-benar natural dari ekspresi model yang terkejut.

Lebih menarik sebenarnya daripada versi resminya.

Lucu.
Read More

Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain

Bagus Menurut Kita, Belum Tentu Bagus Menurut Orang Lain

Bagus dan jelek adalah dua hal yang berkaitan dengan selera. Begitu juga indah dan buruk. Semuanya akan tergantung pada standar nilai yang dimiliki seseorang.

Masalahnya, setiap orang berbeda dan pada ujungnya penilaian mereka terkait kedua kata itu, bagus dan jelek, juga akan selalu berbeda satu orang dengan yang lain.

Pengalaman beberapa waktu lalu membuktikan sekali kebenaran pandangan tentang hal tersebut. Sesuatu yang bagus menurut kita, belum tentu bagus menurut orang lain. Begitu juga sebaliknya.

Di Kebun Raya Bogor, bersama dengan teman lama, ada satu bagian yang memang lumayan unik sebagai tempat untuk berfoto. Bentuknya sebuah gerbang bambu sepanjang 10 meteran.

Masalahnya, sepengetahuan saya, yang sudah cukup lama bermain dengan kamera dan memotret cukup banyak, justru tempat tersebut secara teknis tidak bagus. Sinar matahari yang masuk melalui celah bambunya tidak merata dan bayangan gelap rentan menutupi obyeknya.

Tetapi, ia merasa sangat ingin dibuatkan foto disana.

Jadilah, untuk menyenangkan hatinya, saya lakukan beberapa shoot.

Hasilnya bisa diduga. Bayangan gelap menutupi wajahnya, sehingga sulit dikenali. Begitu juga dengan warnanya. Semua menjadi serba gelap.

Kemudian saya tunjukkan foto tersebut kepadanya. Sambil menjelaskan bahwa fotonya tidak bagus karena kurang jelas.

Herannya! Justru dia berkata, "Ah bagus kok!" Dan, ia meminta untuk hasil foto dikirimkan kepadanya karena dia akan menyimpannya dan memasangnya di akun media sosial miliknya.

Bingung? Sempat lah. Bagaimana hasil yang seperti ini disebut bagus? Sampai akhirnya saya menyadari bahwa pengetahuan saya tentang "bagus" dan "jelek" berbeda.

Tentu saja, sebagai orang yang sudah terbiasa bergaul dengan kamera, saya menganggapnya jelek karena masalah obyek yang tidak jelas dan banyak hal lainnya. Tetapi, sang kawan lama tidak memiliki pengetahuan yang sama dengan saya tentang standar dalam fotografi. Ia tidak tahu apa yang namanya Rule of Thirds, Kompoisi Warna.

Yang ia tahu adalah hasil foto seperti itu enak dilihat dan dia belum bisa menghasilkan foto yang sama.

Jadi, standarnya berbeda.

Mungkin suatu waktu, ketika ia sudah belajar lebih lama, mungkin ia akan menemukan mengapa foto tersebut dikategorikan jelek. Mungkin yah.

Tetapi, yang terpenting saat itu, bagi saya adalah setidaknya foto tersebut sudah membuat senang orang lain.

Prinsipnya kan, selama yang difoto (pelanggan) senang, ya saya ikut senang. Meski hati tidak puas dan agak geli. Tetapi, itulah kenyataannya bahwa saya harus menerima bahwa sesuatu yang jelek menurut saya, bisa jadi dianggap bagus oleh orang lain, atau sebaliknya.

Semua adalah masalah selera.

Read More

Thursday, November 22, 2018

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Hayo....pernahkah terbayangkan dalam benak Anda tentang hal ini? Apa yang harus diajarkan kepada orang yang baru pertama kali belajar fotografi/

Maksudnya bukan orang yang tidak pernah memotret sama sekali karena di zaman sekarang dengan adanya smartphone, hampir pasti mereka pernah memotret. Cuma dalam hal ini mereka sangat awam mengenai teknik fotografi dan biasanya hanya asal jepret saja.

Nah, kemudian karena mereka tertarik, mereka ingin coba belajar lebih lanjut.

Kepada orang yang seperti ini, materi pelajaran apa yang sesuai? Apakah tentang Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)? Ataukah mengenai Segitiga Fotografi, Aperture-Shutter Speed-ISO? Mungkinkah Bokeh? Ataukah komposisi?

Yah, dulu saya juga bingung. Banyak tetangga menganggap saya sebagai fotografer beneran, padahal hanya amatiran belaka. Tidak jarang mereka minta diajarkan bagaimana contohnya memotret dengan baik dan benar.

Bingung.

Masalahnya adalah mayoritas dari mereka sama sekali buta terhadap apa itu fotografi. Bahkan, tidak jarang mereka tidak mengetahui bahwa dalam smartphone sekalipun ada banyak fitur fotografi yang bisa dipergunakan. 

Janganlah berbicara terlalu jauh tentang komposisi warna, seringnya mereka tidak tahu fungsi GRID pada kamera, mengaktifkannya saja tidak mengerti.

Lalu, apa yang harus diajarkan?

Tentunya, harus yang sederhana. Tetapi, juga harus bisa menunjukkan sesuatu yang "berbeda". Mudah diingat. Tidak terlalu teoretis karena pasti mereka akan ternganga, bengong. Bukan karena kagum, tetapi karena tidak mengerti.

Jadi, benar-benar sesuatu yang amat sangat sederhana.

Sempat pusing juga memikirkan yang seperti ini.

Untungnya, pada akhirnya ketemu juga jawabannya. Sesuatu yang jelas pasti akan bisa dilakukan tanpa peralatan tambahan apa-apa. Tidak juga butuh banyak penjelasan dalam kalimat-kalimat panjang. Tidak perlu bahkan mengatur kameranya.


Semua tidak memerlukan keterampilan dan pengetahuan tambahan lain. Yang penting pelajaran ini mudah diingat dan bahkan bisa dilakukan sendiri tanpa bahkan bimbingan orang lain.

Yang saya ajarkan pertama kali adalah tentang "SUDUT PENGAMBILAN FOTO SAJA". Tentunya, tidak secara teoretis bahwa ada "Bird Eye Level", "Frog Eye Level", dan sejenisnya. Yang seperti itu terlalu teoretis.

Saya hanya meminta mereka memegang kamera, yang biasanya smartphone saja pada posisi yang biasa mereka lakukan saat memotret. Sejajar dengan mata dan pada posisi berdiri.

Kemudian, saya minta mereka berjongkok dan merendahkan tangan. Atau, meminta mereka mundur, berpindah ke samping, atau bahkan dari belakang.

Itu saja.

Pada setiap posisi, saya minta mereka melakukan satu jepretan.

Setelah semua posisi yang diminta dilakukan, kemudian saya minta mereka membandingkan hasilnya. Kesan apa yang mereka tangkap dari masing-masing foto. Mana yang menurut mereka lebih baik dan enak dilihat.

Biasanya, alih-alih memilih salah satu, mereka berkomentar, "Ohh, ternyata hasil kalau dari bawah lebih enak dilihat yah" atau "Beda yah hasilnya kalau dari samping?"

Dan, itulah tujuannya.

Mayoritas orang terbiasa memotret sambil berdiri dan sejajar dengan mata saja. Jarang yang mau bergerak dan mencoba dari sudut-sudut lainnya. Oleh karena itu biasanya hasilnya, ya begitu begitu saja.

Dengan mengajarkan hal seperti ini, mereka bisa mengerti bahwa sebuah foto akan berbeda kalau diambil dari sudut yang berbeda. Tidak sama. Kesan yang dihasilkan juga akan berbeda meski obyeknya sama.

Oleh karena itu, mereka tidak seharusnya statis dan terpaku pada satu cara saja. Mereka harus mau mencoba dari berbagai sudut lainnya. Karena, kemungkinan hasilnya banyak sekali.

Barulah setelah itu saya akan menjelaskan secara singkat bahwa fotografi adalah tentang kreatifitas dengan memanfaatkan sudut pandang. Jadi, seorang pemotret harus mau berusaha mencari sudut pandang terbaik menurutnya, sesuai dengan selera.

Baik buruknya, enak tidaknya , sebuah foto dilihat kerap tergantung pada kemauan fotografernya bergerak dan mencari angle yang bagus.

Itulah pelajaran pertama yang selalu saya ajarkan kepada mereka yang baru pertama kali belajar fotografi.

Bagaimana dengan Anda?


Read More

Monday, November 19, 2018

Warna Cerah Memisahkan Obyek Foto Dari Latar Belakang

Pernah membayangkan efek dari warna baju yang dipergunakan bisa menentukan hasil foto? Mungkin tidak pernah, tetapi sebagai seorang penggemar fotografi, hal itu adalah selalu yang saya sarankan ketika hendak memotret dengan obyek manusia.

Itu juga pesan yang saya sampaikan kepada dua model yang berbeda. Yang pertama seorang sepupu yang hendak melakukan prewedding dan kedua teman lama yang kebetulan ingin belajar fotografi.

"Pakai warna baju yang cerah, yah!", pesan saya. Hal itu karena lokasi pemotretan sudah terbayang, yaitu Hutan CIFOR dan Kebun Raya Bogor. Meski tempat yang berbeda, tetapi keduanya memiliki background yang kurang lebih sama, yaitu POHON, dan banyak.

Jadi, sudah terbayangkan kalau warna dominan pada latar belakang adalah hijau, yang termasuk kategori "cool color" atau warna tenang/menenangkan.

Rupanya keduanya tidak mengikuti saran tersebut. Keduanya memakai warna yang tidak begitu cerah. Yang satu Navy atau biru tua dan yang satunya Maroon, merah tetapi gelap. Keduanya sama-sama kurang cerah.

Bagaimana dengan hasilnya.

Silakan lihat di bawah ini.

Warna Cerah Memisahkan Obyek Foto Dari Latar Belakang
Prewedding di hutan CIFOR
Iseng Motret di Kenun Raya Bogor
Terus terang hasil foto prewedding menunjukkan bahwa warna kostum menentukan. Warna navy menyebabkan obyek utamanya menjadi "berbaur" dengan latar belakang, meski warnanya berbeda.

Obyek utamanya tidak menonjol. Mendem istilahnya. Kurang tampil dalam foto.

Foto kedua lebih baik, meski warna merahnya kurang menyala, tetapi secara keseluruhan, hasil fotonya jauh lebih enak dilihat. Obyek utamanya tetap terpisah dan lebih menonjol dari latar belakangnya.

Salah satu penyebabnya adalah warna navy termasuk dalam warna menenangkan juga, sedangkan merah termasuk dalam warna aktif.

Sebuah foto yang baik, menurut teori fotografi adalah perpaduan antara warna aktif dan warna tenang. Keduanya bisa ditukar tempatnya, tetapi saya lebih menyukai obyek utama "aktif" dan background "cool color".

Dalam foto prewedding yang terjadi adalah "cool + cool". Hasilnya tidak maksimal. Obyek utama tidak menonjol dan agak tenggelam.

Untuk foto yang di KRB, obyek utama tetap menonjol, walau tidak secerah yang diharapkan. Ia tetap terpisah dari latar belakangnya.

Oleh karena itu secara keseluruhan foto yang kedua lebih enak dilihat.

Iya tidak?

Nah, sebagai tambahan, jika Anda ingin berwisata kemanapun, ada baiknya mengenakan pakaian berwarna cerah/aktif, seperti merah, kuning, biru cerah, atau bahkan oranye. Kesemua warna itu termasuk warna aktif.

Dan, biasanya warna-warna di tempat wisata adalah warna lembut dan termasuk cool color, seperti hijau, biru, abu-abu.

Jadi, kalau kemudian hendak membuat foto (pasti dong kalau berwisata), paling tidak secara komposisi warna, sudah tersedia dua kategori yang diperlukan. Hasil fotonya biasanya lebih enak dilihat (tidak berarti semua yah) dan obyek/subyeknya akan menonjol dan terpisah dari latar belakangnya. Kontrasnya lebih bagus.

Silakan coba.
Read More

Sunday, November 18, 2018

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik
Model Tri Trisdiyanti

Pernahkah kita menyadari bahwa ada sebuah generalisasi, atau gebyah uyah, penyamarataan tertanam dalam benak manusia? Terutama yang berkaitan dengan kata "cantik".

Generalisasi itu tertuang dalam kata muda = cantik, tua = jelek.

Kalau tidak percaya, coba saja sendiri ketika kata tua terdengar, lalu apa yang terbayang? Keriput, peyot, tidak lagi segar, dan tentunya semua itu berakhir pada kata jelek. Minimal "tidak cantik".

Sebaliknya kalau kata muda yang terdengar, bukankah yang terbayang di kepala adalah muda, bertubuh sintal, berkulit mulus, dan segala sesuatu yang berujung pada kata cantik.

Iya kan? Beranikah Anda mengakui hal itu?

Tetapi, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian. Cantik itu adalah kata yang relatif dan tidak melulu berhubungan dengan usia seseorang.

Dan, si Canon 700D mengatakan itu kepada saya lewat hasil-hasilnya.

Tidak Semua Yang Tua Tidak Cantik

Seorang kawan lama semasa SMA dulu ikut hadir ketika seorang kawan lama yang lain ingin belajar memotret. Ia bersedia menjadi modelnya.

Usianya, sama seperti saya, 48 tahun. Maklum kami lulusan tahun 1989, hampir 30 tahun yang lalu.

Dan, walaupun tidak lagi muda, tetapi ternyata hasil-hasil fotonya tidak mengecewakan. Bahkan, kalau dilihat fotonya, sangat bisa jadi orang akan mengira modelnya sebagai orang yang jauh lebih muda dan bukan wanita yang mendekati usia kepala 5.

Silakan lihat saja setidaknya dua dari hasil jepretan selama berada di Kebun Raya Bogor beberapa hari yang lalu.

Pengalaman yang kembali mengatakan bahwa tua tidak sama dengan jelek. Tua juga bisa cantik dan enak dilihat, meskipun tanpa sentuhan Photoshop sedikitpun.

Semua akan tergantung pada bagaimana seorang fotografer bisa menemukan sudut yang tepat dan kemudian bisa memperlihatkan sisi kecantikan di usia yang tidak lagi muda. (Tentunya, dengan bantuan alam dan kondisi pemotretan, dan rasanya senam atau yoga yang dilakukan modelnya.)

Iya nggak sih?

Read More