Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Apa Yang Harus Pertama Kali Diajarkan Kepada Yang Baru Belajar Fotografi ?

Hayo....pernahkah terbayangkan dalam benak Anda tentang hal ini? Apa yang harus diajarkan kepada orang yang baru pertama kali belajar fotografi/

Maksudnya bukan orang yang tidak pernah memotret sama sekali karena di zaman sekarang dengan adanya smartphone, hampir pasti mereka pernah memotret. Cuma dalam hal ini mereka sangat awam mengenai teknik fotografi dan biasanya hanya asal jepret saja.

Nah, kemudian karena mereka tertarik, mereka ingin coba belajar lebih lanjut.

Kepada orang yang seperti ini, materi pelajaran apa yang sesuai? Apakah tentang Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)? Ataukah mengenai Segitiga Fotografi, Aperture-Shutter Speed-ISO? Mungkinkah Bokeh? Ataukah komposisi?

Yah, dulu saya juga bingung. Banyak tetangga menganggap saya sebagai fotografer beneran, padahal hanya amatiran belaka. Tidak jarang mereka minta diajarkan bagaimana contohnya memotret dengan baik dan benar.

Bingung.

Masalahnya adalah mayoritas dari mereka sama sekali buta terhadap apa itu fotografi. Bahkan, tidak jarang mereka tidak mengetahui bahwa dalam smartphone sekalipun ada banyak fitur fotografi yang bisa dipergunakan. 

Janganlah berbicara terlalu jauh tentang komposisi warna, seringnya mereka tidak tahu fungsi GRID pada kamera, mengaktifkannya saja tidak mengerti.

Lalu, apa yang harus diajarkan?

Tentunya, harus yang sederhana. Tetapi, juga harus bisa menunjukkan sesuatu yang "berbeda". Mudah diingat. Tidak terlalu teoretis karena pasti mereka akan ternganga, bengong. Bukan karena kagum, tetapi karena tidak mengerti.

Jadi, benar-benar sesuatu yang amat sangat sederhana.

Sempat pusing juga memikirkan yang seperti ini.

Untungnya, pada akhirnya ketemu juga jawabannya. Sesuatu yang jelas pasti akan bisa dilakukan tanpa peralatan tambahan apa-apa. Tidak juga butuh banyak penjelasan dalam kalimat-kalimat panjang. Tidak perlu bahkan mengatur kameranya.


Semua tidak memerlukan keterampilan dan pengetahuan tambahan lain. Yang penting pelajaran ini mudah diingat dan bahkan bisa dilakukan sendiri tanpa bahkan bimbingan orang lain.

Yang saya ajarkan pertama kali adalah tentang "SUDUT PENGAMBILAN FOTO SAJA". Tentunya, tidak secara teoretis bahwa ada "Bird Eye Level", "Frog Eye Level", dan sejenisnya. Yang seperti itu terlalu teoretis.

Saya hanya meminta mereka memegang kamera, yang biasanya smartphone saja pada posisi yang biasa mereka lakukan saat memotret. Sejajar dengan mata dan pada posisi berdiri.

Kemudian, saya minta mereka berjongkok dan merendahkan tangan. Atau, meminta mereka mundur, berpindah ke samping, atau bahkan dari belakang.

Itu saja.

Pada setiap posisi, saya minta mereka melakukan satu jepretan.

Setelah semua posisi yang diminta dilakukan, kemudian saya minta mereka membandingkan hasilnya. Kesan apa yang mereka tangkap dari masing-masing foto. Mana yang menurut mereka lebih baik dan enak dilihat.

Biasanya, alih-alih memilih salah satu, mereka berkomentar, "Ohh, ternyata hasil kalau dari bawah lebih enak dilihat yah" atau "Beda yah hasilnya kalau dari samping?"

Dan, itulah tujuannya.

Mayoritas orang terbiasa memotret sambil berdiri dan sejajar dengan mata saja. Jarang yang mau bergerak dan mencoba dari sudut-sudut lainnya. Oleh karena itu biasanya hasilnya, ya begitu begitu saja.

Dengan mengajarkan hal seperti ini, mereka bisa mengerti bahwa sebuah foto akan berbeda kalau diambil dari sudut yang berbeda. Tidak sama. Kesan yang dihasilkan juga akan berbeda meski obyeknya sama.

Oleh karena itu, mereka tidak seharusnya statis dan terpaku pada satu cara saja. Mereka harus mau mencoba dari berbagai sudut lainnya. Karena, kemungkinan hasilnya banyak sekali.

Barulah setelah itu saya akan menjelaskan secara singkat bahwa fotografi adalah tentang kreatifitas dengan memanfaatkan sudut pandang. Jadi, seorang pemotret harus mau berusaha mencari sudut pandang terbaik menurutnya, sesuai dengan selera.

Baik buruknya, enak tidaknya , sebuah foto dilihat kerap tergantung pada kemauan fotografernya bergerak dan mencari angle yang bagus.

Itulah pelajaran pertama yang selalu saya ajarkan kepada mereka yang baru pertama kali belajar fotografi.

Bagaimana dengan Anda?


Popular posts from this blog

Dua Fungsi Utama Fotografi

Membuat Foto Hitam Putih Dengan Photoscape

Tips #5 : Mana Yang Lebih Baik Canon, Fuji, atau Nikon? Tips Membeli Kamera

Fungsi Utama Photo Editing Software Adalah Memperbaiki Foto

Apa Itu Bokeh ? MENGAPA membuat Foto dengan background blur?