Posts

Showing posts from February 25, 2018

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Tidak Perlu Minder Saat Melihat Kamera Canggih Milik Fotografer Lain

Image
Tidak selamanya hunting foto bersama-sama itu selalu menyenangkan. Berinteraksi dengan sesama penghobi merekam momen memang menyenangkan, tetapi tetap saja yang namanya hubungan antar manusia akan menghadirkan juga hal-hal yang tidak disebutkan dalam teori fotografi.

Salah satunya adalah tentang rasa minder. Jujur saja, berulangkali hal tersebut saya rasakan jika bertemu dengan penggemar fotografi lainnya. Yang dimaksud adalah perasaan minder saat melihat kamera canggih yang ditenteng, terutama oleh mereka yang sudah kawakan (atau banyak duit).

Mau tidak mau. Melihat lensa segede termos atau memandang merk kamera ternama dengan satu digit (seperti Canon 5D) rasanya ingin langsung memasukkan si Canon 700D ke dalam tasnya. Apalagi dulu saat masih membawa si Fujifilm Finepix HS35EXR, si prosumer.

Tidak urung hadir perasaan rendah diri.


Normal kah? Ya, menurut saya sih normal. Bagaimanapun kita adalah manusia yang punya rasa dan juga perasaan itu juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, s…

Beli Kamera Berdasarkan Kebutuhan Bukan Keinginan

Image
Manusia itu makhluk yang tidak pernah puas. Keinginannya hampir tanpa batas. Contoh sederhananya, sudah punya istri cantik, sexy, dan baik, tetap saja seorang pria kerap melirik SPG cantik di ajang pameran. Kaum wanita pun sama, sudah punya satu tas Hermes, tetap saja keinginan untuk memiliki Louis Vuitton akan hadir di hati. Apalagi di zaman sekarang dimana godaan iklan komersial hadir hampir tiap detik, dimanapun.

Kalau semua dituruti ya berabe. Bisa banyak masalah yang timbul. Pepatah orangtua adalah "sesuatu yang berlebihan itu tidak baik". Yang sudah punya istri satu, kemudian ingin 2,3, atau empat akan menghadapi banyak masalah karena menuruti keinginannya karena baik dan buruk adalah dua sisi mata uang, yang akan selalu hadir bersamaan.

Begitu juga dalam dunia fotografi. Iklan dan review berbagai jenis kamera akan menghadirkan hasrat untuk membelinya. Apalagi kalau mendengar kata Full Frame atau Mirrorless, yang mengusung teknologi yang lebih canggih, pastilah hadir …

Mengenali Situasi Lingkungan Pemotretan Memberikan Kemampuan Antisipasi

Image
Banyak yang mengira bahwa fotografi jalanan selalu merupakan hasil dari spontanitas seorang fotografer dan hasil fotonya adalah obyek yang acak dan tidak disengaja. Padahal, sebenarnya hal itu tidak demikian. Banyak foto yang dihasilkan para fotografer jalanan sering merupakan sebuah hasil pemikiran dan perencanaan.

Hal itu bisa dilakukan karena biasanya sang pemotret mengenali situasi lingkungan pemotretan. Dengan memahami pola kehidupan di tempat tersebut, kemampuan sang pemotret dalam mengantisipasi apa yang mungkin terjadi akan meningkat.

Foto di atas adalah salah satu contohnya.

Meski saya hanyalah fotografer jalanan abal-abal, saya sangat mengenali kebiasaan yang sering terjadi di sebuah pintu perlintasan kereta, bukan hanya di Bogor tetapi hampir dimanapun. Apalagi, pintu perlintasan yang satu ini yang sudah saya lewati ratusan kali.

Ketidaksabaran, egoisnya para pemotor yang tidak mau menunggu kereta lewat adalah pemandangan sehari-hari. Jadi, saya bisa mengantisipasi bahwa h…

Berani Bereksperimen Membantu Kemajuan Seorang Fotografer

Image
Entahlah apa kata orang, tetapi saya berpandangan bahwa kemajuan seorang fotografer terletak pada kemauannya untuk mencoba, bereksperimen, dan berpikir di luar kotak. Semakin ia berani dan sering melakukannya, maka kemampuan atau skillnya dalam mengambil sebuah foto, pasti akan terus membaik dan membaik.

Salah satu hal paling sederhana dalam hal mencoba dan bereksperimen adalah tentang sudut pengambilan gambar.

Banyak orang saat memotret akan selalu memakai sudut pengambilan yang itu itu juga. Padahal, belum tentu hasil yang didapat dari sudut yang sama sudah merupakan yang "terbaik" dari berbagai kemungkinan.

Kalau seorang fotografer mau berkorban, mau capek untuk berjalan kesana kemari dan mencoba menghasilkan yang berbeda, ia akan memiliki lebih banyak hasil yang kemudian bisa dipilih untuk menemukan mana yang terbaik. Hal itu tidak akan bisa dilakukan kalau hanya memiliki satu buah foto saja.


Hal itu juga berlaku dalam berbagai hal lain, seperti pengaturan setting kamer…

Mata Fotografer Jalanan Harus Sering Celingukan

Image
Scanning istilah kerennya artinya mengawasi sekitar, tetapi saya lebih suka menyebutnya celingukan. Mata diedarkan kesana kemari, ke kiri ke kanan, ke atas atau ke bawah. Mengawasi keadaan sekeliling dimanapun berada, itulah yang harus dilakukan seorang fotografer jalanan.

Bahkan, saat sedang duduk diam sekalipun, seharusnya mata jangan sampai berhenti untuk memperhatikan sekitar.

Alasannya? Yah, karena bisa saja kita tidak sengaja menemukan "sesuatu" yang menarik secara tak terduga. Kalau kita berhenti mengawasi lingkungan dimana kita berada, bisa jadi momen-momen itu terlewat begitu karena kita tidak memperhatikan.

Alasan lainnya adalah kerap secara tak terduga, "harta karun" hadir di hadapan mata. Sebuah momen yang tidak lagi membutuhkan bokeh untuk menarik perhatian yang melihat, tidak perlu mengatur setting "khusus' untuk membuat yang melihat mau tidak mau akan mengerling.

Sebuah momen yang bisa bercerita kepada yang melihat fotonya. Sebuah momen yang…