Posts

Showing posts from April 1, 2018

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Image
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja de…

Kangen Ingin Memotret Apa Adanya

Image
Ada rasa kangen yang hadir saat melihat sisa-sisa file foto yang dijasilkan saat pertama kali menekuni blogging dan fotografi, sekitar 4 tahun yang lalu.

Sisa-sisa karena sebagian besar file aslinya hilang ketika notebook Toshiba yang dulu dipakai rusak berat dan tidak bisa dibetulkan lagi hard disknya. Banyak file foto yang tidak terselamatkan. Meskipun masih beruntung masih ada copynya dalam ukuran yang sudah diperkecil di laptop kantor.

Setidaknya hal itu mengingatkan kepada perjalanan ketika mulai menekuni dunia fotografi.

Ada perbedaan yang terasa antara dulu dan sekarang.

Dulu, saya memotret apa adanya. Maklum, saat itu kameranya hanya Xperia M saja, alias sebuah smartphone murah saja. Belum ada pengetahuan sedikitpun tentang teknik memotret, jadi apa yang terlihat menarik ya dijepret saja. Tidak peduli apakah garis horison-nya miring atau tidak, atau warnanya sesuai atau kacau beliau, dan yang pasti tidak peduli apakah ada bokeh atau tidak.

Berbeda dengan sekarang, walau belum…

Merekam Kebodohan dan Kekonyolan Orang Indonesia Dengan Smartphone

Image
Sebelum mengenal kamera-kamera "mahal" seperti prosumer atau DSLR, saya hanya mengandalkan sebuah kamera smartphone yang ada di Xperia M. Biasanya saya hanya jepret momen-momen yang menarik tanpa memikirkan berbagai teori fotografi.

Salah satu hal yang paling sering menjadi sasaran adalah kebodohan dan kekonyolan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, saya buatkan artikel dan cerita untuk dimasukkan ke blog saya yang lain Lovely Bogor (http://lovelybogor.com)

Sekarang, setelah mengenal DSLR, saya kembali melihat foto-foto itu dan ternyata walau tidak setajam kamera yang saya miliki sekarang, terkadang foto-foto itu ternyata bisa bercerita lebih banyak tentang betapa manusia kadang tidak menghargai nyawanya sendiri.

Pak Polisi Yang Gagah Dengan Kumisnya

Image
Yang menarik dari hadir di festival jalanan atau street festival bukanlah hanya melihat para peserta paradenya saja. Banyak hal lain yang kerap bisa menjadi foto yang menarik dari mereka yang kebetulan hadir di lokasi acara.

Seperti pak polisi yang satu ini. Kumisnya itu nggak nahan. Jalannya juga tegap dan berwibawa. Paling tidak berhasil mengundang pemegang kamera untuk merelakan satu shoot khusus si bapak ini.

Tantangan Memotret Tempat-Tempat Populer

Image
Tempat-tempat populer itu biasanya memang bagus. Buktinya akan banyak orang yang berkunjung dan bermain kesana. Contohnya saja, tempat wisata, dimanapun keindahan lah faktor yang paling utama menarik minat orang untuk datang dan menikmati.

Dan, itu menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk memotret "keindahan" yang ada di tempat-tempat populer seperti itu. "Ramai"-nya itulah yang menghadirkan kesulitan tersendiri untuk mendapatkan foto yang enak.

Tidak berarti tempatnya menjadi tidak indah, tetapi terlalu banyak orang berlalu lalang lah yang justru kerap menjadi hambatan sendiri. Fotonya menjadi penuh "clutter" alias penuh obyek yang "tidak diharapkan".

Butuh pengetahuan tentang waktu yang baik agar bisa menghindari hal seperti ini, seperti datang lebih pagi dari waktu "ramai".