December 2018 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Monday, December 24, 2018

Fotografi Seni Yang Mengutamakan Hasil

Fotografi Seni Yang Mengutamakan Hasil
Pantai Kartini Rembang 2018

Mungkin akan banyak yang tidak setuju dengan pandangan ini. Tetapi, faktanya di lapangan memang menunjukkan bahwa fotografi adalah seni yang mengutamakan hasil.

Coba saja sendiri kalau tidak percaya. Apa kira-kira yang akan ditanyakan orang pada saat melihat sebuah foto yang bagus? Akankah mereka bertanya dengan kamera apa dibuatnya? Mungkinkah mereka bertanya siapa yang mengambil foto tersebut?

Kemungkinan besar biasanya mereka hanya akan melihat foto, memuji kalau fotonya bagus dan berlalu kalau fotonya buruk. Barulah setelah itu, jika fotonya dianggap bagus,  pertanyaan lanjutan terkait dengan jenis kamera dan nama fotografernya yang ditanyakan. Itupun kalau tidak diselingi pertanyaan "Dimana foto itu diambil?" keluar dari mulut mereka.

Masyarakat awam tidak memikirkan sang pemotret sebagai bagian penting selama hasil fotonya bagus dan enak dilihat, semua sudah cukup.

Kalaupun ada yang bertanya, biasanya dari kalangan fotografer sendiri yang ingin mengetahui hal-hal terkait alat dan pembuatan fotonya.


Selama hasilnya bagus dan memukau, meski dibuat dengan kamera smartphone sekalipun, masyarakat akan bertindak adil. Mereka akan memuji. Bahkan, mereka tidak peduli kalaupun fotografernya adalah seorang yang baru belajar memotret atau bahkan anak kecil sekalipun.

Bagus adalah bagus. Jelek adalah jelek.

Itulah mengapa Eric Kim, seorang fotografer jalanan terkenal asal Amerika Serikat, mengatakan fotografi adalah seni yang sangat demokratis. Kesetaraan antar fotografer bukan dilihat dari nama tenarnya, tetapi dari produk (foto) yang dihasilkannya.
Read More

Sunday, December 23, 2018

Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model


Fotografer itu termasuk spesies yang aneh bin unik. Kehidupannya sulit dilepaskan dari yang namanya kamera dan sering membuat foto. Memang, itulah salah satu "fungsi" fotografer dalam kehidupan.

Tetapi, cobalah bertanya kepada kebanyakan fotografer, apakah mereka memiliki banyak foto tentang diri sendiri? Kemungkinan besar jawabannya, "Ada tetapi tidak banyak".

Memang, memotret diri sendiri tidak mudah. Meskipun banyak kamera sudah diperlengkapi vari-angle, atau layar LCD yang bisa diputar 180 derajat, tetapi kebanyakan fotografer menydari bahwa hasilnya sulit menjadi bagus.

Kalaupun harus meminta bantuan orang lain untuk memotret dirinya, banyak yang tidak cukup yakin bahwa hasilnya akan sama dengan kalau dia yang memotret. Sudah biasa kalangan pemotret ini berseloroh menunjukkan perbandingan hasil foto kalau mereka yang memotret dan kalau orang lain yang melakukan.

Hasilnya biasanya seperti bumi dan langit. Foto yang mereka buat biasanya bagus dan enak dilihat, tetapi foto yang dilakukan orang lain terkadang bikin geleng-geleng kepala. Sering buram. Tidak fokus.

Jadi, mungkin karena itulah terkadang kaum fotografer enggan berdiri di depan kamera.

Termasuk saya. Yang meski tidak bisa disebut fotografer, tetapi bolehlah disebut penggemar fotografi.

Malas rasanya harus berdiri di depan kamera dan menjadi model foto apapun.

Rasanya sama sekali tidak mengasyikkan melakukan hal itu. Lebih menyenangkan dan exciting berada di belakang kamera, mengintip dari viewfinder, mengatur setting, dan kemudian menekan tombol shutter.

Ada deg-degan saat melihat hasilnya. Apakah akan bagus atau tidak. Fokus tepat atau melenceng. Dan, sejenisnya.

Jadi, tidak sebanding rasanya. Ada perbedaan yang jauh sekali antara berada di depan dan di belakang kamera. Yang terakhir lebih menyenangkan.

Susahnya Menjadikan Fotografer Sebagai Model

Dan, masalahnya disitu hadir. Dalam kehidupan, seorang fotografer juga seorang manusia, seorang bapak, seorang anak, seorang suami. Mereka harus tetap berinteraksi dengan manusia lainnya.

Terkadang, suami, anak, istri atau teman berharap memiliki kenangan dalam bentuk foto yang menunjukkan kebersamaan mereka. Alasan untuk itu beragam tetapi intinya punya foto bersama.

Terjadilah kontra antara rasa "malas" dan "keharusan" itu.

Kalau tidak dituruti, suasana menjadi tidak enak. Terutama kalau yang meminta adalah pasangan hidup. Efeknya bisa panjang dan beragam, mulai dari manyun selama 1 minggu, sampai tidak dimaskin selama 1 bulan.

Repot ujungnya.

Nah, peristiwa seperti ini terulang baru-baru ini. Si kribo cilik, kelas dua SMA sekarang, ternyata mewarisi hobi bapaknya bergelut dalam dunia potret memotret. Bisa dikata dia sudah menjadi fotografer juga.

Jeleknya, ternyata adatnya sama juga dan terkena sindrom "malas menjadi model" dan lebih suka memotret model. Berada di belakang kamera sesuatu hal yang lebih disukainya dibandingkan berpose di depan.

Susahnya, kebiasaannya itu membuat ibunya manyun. Ia ingin mendapatkan foto anaknya yang katanya semakin ganteng dan keren. Hasilnya, muka si kribo cilik ngeyel dan tetap berkeras tidak mau difoto.

Apalagi saat itu sedang dalam perjalanan ke Semarang dan Rembang untuk berjalan-jalan. Tentunya, ibunya si kribo ingin punya foto dari anaknya selama berada disana.

Ruwet dah.

Barulah, setelah bapaknya turun tangan memberi komando dan keputusan dan kemudian membisikkan resiko kalau tidak mau difoto, si kribo cilik mau berpose di alun-alun Rembang ini. Sambil tetap cemberut dan manyun, tetapi setidaknya ibunya senyum melihat hasil foto anak semata wayangnya ini.

Yah, saya menyadari dua sisi tadi. Sisi ibunya yang bangga dengan anaknya, dan sisi seorang fotografer yang malas berdiri di depan kamera dan menjadi model.

Butuh sedikit kreatifitas dan "penjelasan" untuk bisa memaksa sesama fotografer berpose. Penjelasannya tentang resiko tidak dibuatkan sarapan, tidak dicucikan baju seragamnya, dan yang paling menakutkan jatah jajan bulanannya dipangkas.



Read More

Saturday, December 22, 2018

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Ada satu hal yang paling mudah ditemukan di Indonesia. Dimanapun yang seperti ini akan terlihat. Namanya adalah rendahnya kesadaran manusia akan kelestarian lingkungan.

Berbagai bukti dan tanda akan hal itu mudah ditemukan, terutama di tempat-tempat wisata.

Salah satunya bisa ditemukan dalam bentuk sampah botol plastik yang berserakan di pasir sepanjang Taman Pantai Kartini. Botol-botol kosong yang susah terurai secara alami itu terlihat bergelimpangan di tepi pantai saat airnya surut.

Padahal, kotornya sebuah pantai pada akhirnya akan membawa dampak negatif juga bagi sebuah lokasi wisata. Para wisatawan tentunya tidak akan merasa nyaman berada di sebuah kawasan yang tidak terjaga kebersihannya.

Mereka datang biasanya karena ingin menikmati keindahan dan bermain di alam. Tidak ada yang suka berada di lingkungan yang kotor seperti ini.

Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang

Read More

Friday, December 14, 2018

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis

Kemajuan Teknologi Membuat Fotografi Mendekati Seni Lukis
Mungkin terdengar mengada-ada mencoba menyamakan fotografi dengan seni lukis. Dan, sebenarnya tidak ada niat untuk membuatnya menjadi sama. Keduanya adalah bidang yang berbeda satu dengan yang lain.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi kamera dan juga aplikasi pengedit citra, suka tidak suka, mau tidak mau mendorong fotografi mempersempit jarak dengan saudaranya dalam hal menghasilkan image atau gambar, yaitu seni lukis.

Seni lukis biasanya bermula dari kanvas kosong yang kemudian diisi dengan gambaran dari apa yang tergambar di benak pelukisnya. Meskipun ada orang atau benda yang dijadikan model, tetapi apa yang terlihat pada kanvas sebenarnya adalah cerminan dari apa yang dilihat oleh pelukis dari modelnya.

Bukan seratus persen modelnya sendiri.

Pelukis pemandangan tidak melukis sesuatu yang benar-benar sama dengan lanskapnya sendiri. Yang dilukisnya adalah gambaran keindahan yang ada di otaknya.

Disana terselip berbagai ide dan perasaan pelukisnya.

Sekarang bandingkan saja dengan fotografi digital di masa sekarang.

Pernahkah Anda melihat aliran air yang menyerupai kapas dalam kehidupan nyata? Kemungkinan besar tidak sama sekali. Tetapi, hal itu bisa dilihat dalam foto-foto karya fotografer yang menggunakan teknik "long exposure" (atau membuka diafragma dalam waktu yang lama). Buih-buih air bertumpuk sehingga menjadi seperti kapas.

Atau teknik bokeh yang membuat latar belakang menjadi blur, atau kabur. Pernahkah hal itu terlihat dalam kehidupan nyata? Jawabnya tidak. Belum lagi kalau ditambahkan teknik bubling yang membuat cahaya menjadi seperti "garis warna yang memanjang.

Aliran air berbentuk seperti aliran kapas, latar belakang yang sangat blur, semua tidak ada di dunia nyata. Adanya di benak sang fotografer dan kemudian diterjemahkan ke dalam fotonya.

Di masa lalu, hal itu sulit dilakukan karena keterbatasan fitur dan peralatan untuk melakukannya. Coba saja bandingkan dengan kamera pertama yang dibuat. Hal ini sama sekali tidak bisa dilakukan. Kamera awalnya hanya berfungsi membuat rekaman momen saja.

Tetapi, saat ini, bahkan seorang pemegang kamera yang tidak terlalu mahir sekalipun bisa melakukannya. Banyak fitur otomatis yang bisa membuat kamera melahirkan foto seperti ini, foto yang mencerminkan ide daripada apa yang benar-benar terlihat.


Kamera tidak lagi hanya sebagai alat untuk merekam suatu momen tertentu saja. Perangkat ini berkembang menjadi sebuah alat yang bisa menerjemahkan apa yang dibayangkan oleh pemegangnya.

Tidak berbeda dengan kuas dan kanvas bagi pelukis.

Tambahkan lagi dengan hadirnya berbagai aplikasi pengedit citra yang bisa merubah apapun sesuai dengan kemauan operatornya. Hal ini memastikan bahwa jarak pemisah antara fotografi dan seni lukis menjadi semakin dekat.

Fotografi menjadi semakin mendekati definisi filosofisnya, yaitu "melukis dengan cahaya". Padahal melukis sendiri merupakan kegiatan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari seni lukis.
Read More