2019 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Sunday, July 14, 2019

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengadakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana saya tinggal, ada sebuah celetukan menarik dari salah seorang peserta, yaitu ketika membahas bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah pasti bahasan yang satu ini sangat menarik bagi kaum ibu, apalagi mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.

Celetukan ini memang menyangkut penulisan dan bagaimana membuat tulisan tentang makanan yang bisa menarik pembaca. Dan, salah satu yang harus dilakukan adalah terkait foto makanan yang akan ditampilkan.

Sebuah tulisan kuliner tanpa ada foto makanannya, sama saja masak sayur tanpa garam. Tidak akan lengkap dan tidak akan menarik.

Nah, ucapan yang membuat kening saya agak berkerut dalam hal ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret makanan itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya saya lupa, tetapi intinya seperti itu.

Yah, kening saya berkerut juga, cuma saya putuskan untuk tidak membahas lebih lanjut lagi karena kalau dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Setelah itu, saya melakukan kunjungan ke berbagai blog yang membahas mengenai makanan. Heran juga, ternyata memang rupanya ada kecenderungan para blogger kuliner dan resep untuk lebih banyak mengambil sudut pemotretan dari atas.

Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di atas dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang miring sedikit.

Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tetapi setelah mengamati sejenak, ya mungkin inilah yang menjadi dasar dari celetukan sang ibu tadi.

Sebagai orang yang menyukai fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, meski bukan dalam bidang foto makanan, saya merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.

Fotografi pada intinya, selain untuk merekam sebuah momen, juga untuk menampilkan sisi keindahan dari "sesuatu" atau "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.

Mau dari atas kek, dari bawah, dari samping, atau darimanapun.

Semuanya tergantung pada selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera setiap orang berbeda.

Begitu juga dalam hal foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret makanan harus atau sebaiknya dari atas saja. Memang, biasanya posisi kamera di atas akan memberikan foto yang berisi warna warni makanan dan pola yang terbentuk karena biasanya makanan memiliki pola, tetapi tidak selalu harus begitu.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Keindahan dalam sebuah makanan bisa diperlihatkan dari sisi manapun, selama yang memotret tahu caranya.

Sebagai contoh, semua foto makanan dalam tulisan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di atas dan menghadap ke bawah saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap saja bagus.

Betulkan?

Yang terpenting dalam mengambil foto makanan supaya menarik perhatian bukanlah sekedar sudut pengambilan gambar (dari atas saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan sudut yang terbaik bagi obyeknya.

Ditambah pula dengan skill dan kemampuan memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Memastikan posisi kamera harus berada di atas saat memotret makanan agar mendapatkan hasil terbaik juga tidak selamanya benar.

Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, pasti akan sangat menyulitkan karena bidang kamera tidak bisa menampung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi kalau cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.

Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah fleksibel dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal itu berarti bisa saja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.

Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam hidup manusia.
Read More

Thursday, July 4, 2019

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6

Bukan sebuah patung bernilai sejarah. Mungkin, ratusan tahun lagi, dan kalau memang masih bertahan, baru bisa menjadi sebuah monumen bernilai historis tinggi.

Sebuah patung malaikat kecil sedang bermain seruling di sebuah taman kecil dalam perumahan Vila Bogor Indah 6 di kawasan Bogor terlihat menarik sekali untuk dijadikan obyek foto.

Mungkin sebenarnya bagi banyak orang biasa saja. Hanya saja, rupanya kebiasaan sebagai penggemar fotografi merangkap blogger yang membuatnya menjadi terlihat menarik di mata saya. Apalagi dengan hanya kamera smartphone OPPO A3s di tangan, hadir sebuah tantangan sendiri untuk membuatnya menjadi enak dilihat dalam foto.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


Entah bagi orang lain, tetapi setelah dilihat-lihat lagi, ternyata tidak terlalu jelek untuk dipamerkan disini.

Bagaimana menurut Anda?
Read More

Monday, July 1, 2019

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?
Stadion Pakansari Bogor, 2017

Sharing is caring. Berbagi tanda peduli. Salah satu slogan yang banyak ditemukan di dunia maya belakangan ini yang mengajak orang untuk berbagi kepada orang lain. Prinsip yang mulia karena siapapun yang memiliki kelebihan bisa membantu orang lain yang kekurangan.

Pertanyaannya, dalam dunia fotografi, apakah prinsip itu juga berlaku? Bisakah kita memotret untuk berbagi kepada sesama? Apa manfaatnya?

Ternyata, berlaku juga.

Cobalah perhatian beberapa website modern, penyedia foto gratis, seperti Pixabay, Pexels, atau Wikimedia Commons. Disana banyak sekali fotografer yang dengan iklas hati membagikan hasil karyanya kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya. Siapapun bisa mempergunakan karya hasil jerih payah dan memeras keringat bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Dan, ternyata hasil penerapan prinsip berbagi banyak sekali membantu orang lain dari berbagai belahan dunia, untuk :

1. Mengenal sebuah tempat, sebuah benda, sebuah kehidupan di belahan dunia yang belum pernah dikunjunginya bahkan tanpa harus perlu pergi sendiri kesana

2. Membantu mengembangkan perekonomian : sebuah hal yang mungkin sulit dipercaya, tetapi banyak sekali usaha start up (pemula) yang dengan foto-foto gratis itu mereka bisa membuat foto promosi yang menarik (tanpa biaya yang besar). Mereka terbantu untuk pengembangan usahanya

3. Para blogger dan pengelola website, tentu saja sangat terbantu dengan ketersediaan stok foto yang bagus tetapi gratis. Mereka bisa mendapatkan image atau foto sebagai ilustrasi bagi artikel mereka. Bayangkan saja kalau harus membeli image dari Getty Image yang bisa mencapai 500 dollar AS untuk sebuah foto. Tidak akan mereka bisa berkembang, yang ada bangkrut sebelum berjalan

Berbagi foto memberi banyak kebaikan bagi perkembangan dunia.

Kepedulian para fotografer dengan membebaskan orang lain menggunakan karyanya, berkontribusi banyak bagi perkembangan dunia, meski terkadang tidak disadari.

Prinsip inilah yang mungkin pada suatu waktu harus juga dianut oleh banyak fotografer. Paling tidak, mereka bisa membagikan sebagian hasil karya mereka untuk membantu perkembangan orang lain.

Dan, meski masih kecil-kecilan, saya juga mencoba melakukannya. Setidaknya beberapa foto yang saya anggap berkualitas cukup baik dan bisa memberikan gambaran tentang "sesuatu" atau "sebuah tempat", sudah saya unggak di Wikimedia Commons, situs yang memang menyediakan foto gratis dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu foto yang pernah saya bagikan ada di atas ini yaitu foto Stadion Pakansari Kabupaten Bogor. Dipotret tahun 2017 silam. Ternyata, paling tidak ada dua laman yang sudah menggunakannya untuk pelengkap dan memberikan gambaran seperti apa stadion kebanggaan warga Bogor itu.

Lebih banyak lagi foto yang sudah dipergunakan di internet yang berasal dari website Lovely Bogor, sebuah blog yang bercerita tentang kehidupan di Bogor. Banyak fotonya yang diunggah di blog atau website lain. Ada yang memberi link balik, ada yang sekedar memberitahukan sumbernya, dan ada yang bahkan tidak menyebutkan apa-apa.

Yang manapun, saya tidak akan marah untuk itu. Bahkan, ada rasa senang karena hasil karya saya bisa dipergunakan orang lain. Bermanfaat dan bukan menjadi sekedar menuh-menuhin hard disk saja.

Jadi, kalau ada rekan yang hendak mempergunakan foto-foto di website ini, silakan saja. Kalau memang boleh meminta, tolong berikan link balik kepada website ini karena dengan begitu maka blog kecil ini bisa ikut berkembang. Tapi, kalau merasa berkeberatan, ya tidak masalah. Monggo, tapi jangan sebutkan hasil karya sendiri loh karena hal itu berarti penipuan dan berbohong, serta melanggar hak cipta orang lain.

Buat sesama fotografer, marilah merubah dunia dengan jalan "memotret untuk berbagi".

Mau kan?
Read More

Saturday, June 22, 2019

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Banyak orang menyangka bahwa sebuah karya foto yang mereka lihat dibuat dalam waktu yang pendek. Memang sih, di zaman dimana media sosial begitu merasuki jiwa hampir setiap orang, hal itu bisa dimaklum karena biasanya banyak orang akan langsung mengupload foto yang mereka buat sesaat setelah foto itu diambil.

Bisa dimengerti lah kalau banyak orang berpikir kalau semua foto yang mereka lihat berasal dari proses yang sama. Padahal, sebenarnya tidak juga, setidaknya tidak semua. Masih ada hal-hal di balik layar sebuah karya foto yang kerap tidak diketahui oleh yang melihat.

Salah satu contohnya adalah foto di bawah ini


Foto ini saya beri judul "Woman on Kartini Beach, Rembang". Bukan judul yang heboh tetapi merupakan fakta karena ada wanita, yang entah sedang apa di pantai Kartini, Rembang, Jawa Tengah. Foto ini dipotret saat berkunjung kesana, bulan Desember yang lalu.

Idenya memang untuk menampilkan suasana sunyi dalam sebuah foto. Secara teori mudah saja, yaitu dengan menerapkan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) sebanyak mungkin, latar belakang kosong dan bersih dari gangguan, dan memanfaatkan negative space semaksimal mungkin.

Teorinya begitu.

Cuma kenyataannya, tidak semudah itu.

Memotret :


Wanita dalam foto itu hanyalah seorang pengunjung Taman Kartini, sama seperti saya juga. Saya tidak mengenalnya sama sekali, artinya, sangat tidak mungkin untuk memintanya berpose. Bisa jadi malah dia akan curiga kepada saya hendak berbuat yang kurang ajar. Belum lagi kalau mantan pacar saya curiga dan ujungnya menjadi marah kalau saya melakukan itu, bisa gaswat banget deh.

Jadilah, saya harus menjadi seperti "pemburu" yang menanti terjadinya decisive moment. Menunggu sampai ada dimana pose sang "model" yang tidak tahu dirinya menjadi obyek kamera, bersesuaian dengan berbagai elemen lain, seperti latar belakang dan sebagainya.

Untung, saat berkunjung disana ada lensa Canon 55-250 mm dengan zoom yang lumayan, jadi pemotretan bisa dari jarak lumayan jauh dan tidak mengganggu aktivitas sang model.

Tidak mudah sama sekali. Saya harus mencoba berulangkali dari berbagai sudut untuk bisa mendapatkan satu foto sesuai ide di kepala. Perlu setidaknya 10 kali jepretan.

Beberapa foto yang setelah kembali ke rumah dilihat dan dinilai, dan tentunya tidak diperlihatkan kepada orang lain ada di bawah ini :

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Wanita di Pantai Kartini rembang

Wanita di Pantai Kartini rembang



Wanita di Pantai Kartini rembang

Yap, wanita, sang model itu, sebenarnya sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia bolak balik mencari posisi untuk melakukan swafoto, sebuah kebiasaan yang lahir seiring berkembangnya kamera smartphone dan media sosial. Bukan seperti saya yang hobi memotret orang lain.

Jadi, sejak tahap awal, yaitu memotret, sebenarnya proses di belakang layarnya sudah "berbeda" dari yang dibayangkan banyak orang. Paling tidak, berburu foto ini menghabiskan waktu 15 menit untuk memastikan ada satu foto yang sesuai ide.

Kali ini saya beruntung, ada hasilnya. Tidak jarang sebenanrya, walau satu foto saja bisa menyenangkan, terkadang saya pulang membawa tangan kosong karena hasilnya tidak ada yang sesuai kemauan.

Selesai? BELUM.

Memilah :


Dari sekitar 10 foto tadi, sesampai di rumah, saya harus memilah dan memilih. Mana yang terbaik dikaitkan dengan apa yang ingin ditampilkan.

Beberapa foto cukup dilihat sekali. Sisanya, barulah dilihat berulangkali lagi untuk melakukan penilaian lanjutan, tapi yang paling utama adalah apakah sudah sesuai ide yang dikehendaki.

Akhirnya, terpilihlah foto di bawah ini :


Postur tubuh sang "model" misterius ini pas sekali dengan latar belakang kosong dan satu buah kapal yang sedang tambat sauh di kejauhan. Setidaknya kesan sunyi dan kesepian bisa diwakili oleh sang wanita yang seperti sedang menanti seseorang yang berada di kapal itu.

Itu ide saya.

Jadi, inilah foto "terbaik" dari yang ada.

SELESAI?

Ternyata masih belum.

Editing :


Foto tersebut dihasilkan dalam format RAW, alias mentahan saja. Tidak bisa langsung ditampilkan karena tidak semua perangkat bisa membukanya. Belum lagi ukurannya yang mencapai 23 Megabyte pasti akan menyusahkan kalau diupload.

Lagi, satu proses harus ditambahkan, melakukan editing.

Hitam Putih dipilih dibandingkan berwarna karena untuk menghadirkan kesan sunyi dan sepi yang maksimal. Versi warnanya lumayan, tetapi terasa masih ada yang kurang.

Jadilah versi B&W yang ditetapkan.

Softwarenya sederhana saja, memakai Photoscape dan Picasa. Yang gratisan saja sudah cukup karena toh bukan untuk dijual, tetapi sekedar untuk mengisi blog.

Selesai?

Yah, masih belum juga.

Niatnya kan untuk berbagi foto dan cerita di blog, berarti harus ditambah teks supaya pembaca bisa tahu setidaknya dimana foto itu dibuat. Belum kalau niatnya untuk berbagi info, seperti di tulisan ini.

Iya kan?

Tidak pendek kan proses di balik layar sebuah karya foto. Padahal foto di atas sederhana banget, tetapi ternyata prosesnya melibatkan :


  1. Memotret : yang tidak sebentar juga
  2. Memilah dan emmilih : lupa menghitung waktunya
  3. Mengedit : sebentar sih, sekitar 1 jam saja (karena cuma mengatur kontras dan beberapa editing kecil lainnya
  4. Menampilkan : ini yang lama, karena termasuk mencari ide cara menampilkan 

Tapi ga semua seperti di atas sih. Biasanya yang proses di belakang layar ini dilakukan mereka yang menekuni fotografi saja. Prinsip memberikan yang terbaik biasanya dipegang dan lebih baik tidak terburu-buru dibandingkan hasilnya pada akhirnya mengecewakan.

Itulah mengapa sebenarnya banyak penghobi fotografi tidak terlalu mempedulikan apakah ada "wi-fi" di kamera mereka atau tidak. Kalaupun ada, biasanya jarang mereka pakai. Itu semua karena mereka merasa harus melakukan proses di balik layar sebelum menampilkan sesuatu.

Bagaimana dengan Anda, apakah foto yang Anda tampilkan melalui "proses di balik layar" yang serupa?
Read More

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

Dulu ada judul film, "Sekejam-kejam ibu tiri, lebih kejam ibukota". Memang kenyataannya demikian. Prinsip orang bule, "survival of the fittest" atau siapa kuat dia bertahan berlaku. Semua orang harus berjuang mempertahankan hidupnya, termasuk emak-emak yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia seharusnya berada di rumah mengurus anak.

Tetapi, mau apa lagi. Terkadang situasi memaksa para emak harus turun tangan dan ikut bekerja agar dirinya dan keluarga bisa bertahan hidup. Meski pekerjaan yang dilakukannya berat, demi keluarga mereka akan tetap menjalaninya.

Seperti yang terlihat di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (dekat stasiun Gondangdia).

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

(Tidak sesuai dengan yang diharapkan karena jalan terlalu ramai dan sulit mendapatkan "clean shot" dan keterbatasan ponsel OPPO A3, tetapi setidaknya bisa memperlihatkan perjuangan kaum perempuan untuk membantu keluarga mempertahankan kehidupannya di ibukota)
Read More

Friday, June 21, 2019

4 Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Foto itu statis alias tidak bergerak. Foto hanyalah satu rekaman sebuah momen sesaat. Satu momen saja.

Sifat foto yang statis ini menjadi satu tantangan tersendiri ketika kita hendak menampilkan sebuah obyek yang sedang bergerak, contohnya membuat foto orang yang sedang berjalan. Bagaimana bisa membuat orang "terlihat" sedang berjalan dalam sebuah foto, padahal apa yang terekam dalam sebuah foto bersifat statis dan tidak bergerak ?

Jawabannya ada dalam foto itu sendiri. Memang tidak mungkin menjadikan obyek tersebut benar-benar bergerak, tetapi kita bisa menimbulkan "kesan" dalam pikiran orang yang melihat bahwa obyeknya sedang bergerak atau melakukan sesuatu.

Ingat ya hanya kesan. Bukan benar-benar terjadi obyek dalam foto bergerak, karena kalau terjadi kebanyakan orang akan kabur dan menganggap ada setan yang merasuki foto mereka.

Nah, untuk menimbulkan kesan berjalan pada foto "orang sedang berjalan", perlu sedikit pengetahuan dari sesuatu yang kita sudah tahu, yaitu "cara berjalan".

1. Orang berjalan dengan meletakkan satu kaki di belakang yang lain, tidak sejajar


Kunci paling utama disini. Untuk berjalan, setiap orang akan meletakkan satu kaki di depan, dan satu kaki di belakang. Tidak pernah orang berjalan dengan dua kaki sejajar. Itu namanya diam atau melompat.

Jadi, kalau mau membuat foto orang berjalan, pastikan posisi kaki TIDAK SEJAJAR.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan


2. Berikan ruang di depan obyek


Manusia berjalan ke depan pasti membutuhkan ruang. Jadi, pastikan adanya ruang di depan obyek agar terlihat ia sedang mengarah ke depan.

Foto yang paling atas memperlihatkan kesan bahwa orangnya sedang berjalan sambil membawa sepeda, tetapi bagaimana kalau ruang di depannya dihilangkan.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Meski kakinya sudah pada posisi melangkah, sebagian besar kesan berjalannya menjadi hilang karena ruang di depannya menghilang.

3. Tambahkan berbagai "ciri" berjalan


Terkadang dalam satu situasi kita ingin memotret dari depan, belakang. Posisi yang sebenarnya tidak menguntungkan untuk membuat foto orang berjalan. Posisi kakinya menjadi terkesan sejajar karena jarak antara kedua kaki menjadi terkesan terlalu dekat.

Dalam hal ini, perlu ditambahkan beberapa ciri lain yang dilakukan orang berjalan, seperti kaki yang menekuk atau tangan yang berayun.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

4. Pergunakan Burst Mode


Dari sisi teknis kamera, untuk membuat foto orang berjalan, terutama ketika berburu foto di ruang publik atau jalanan dimana kita tidak bisa mengatur obyek, pergunakan Burst Mode atau Continuous Shooting.

Dalam satu jepretan, kamera akan merekam beberapa kali, dan hal itu memperbesar kemungkinan berbagai aspek dan pose tubuh di atas bisa terekam dalam salah satu foto.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Nah, kira-kira seperti itulah tipsnya.

Silakan coba sendiri membuat foto orang sedang berjalan versi Anda.
Read More

Wednesday, June 19, 2019

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Bermain. Memang kenyataannya begitu, saat berkunjung ke Pantai Kartini Rembang Desember 2018 yang lalu, tujuannya memang bermain saat mengunjungi saudara, adik almarhum bapak yang masih tinggal di salah satu kabupaten di Jawa Tengah itu.

Bukan pantai pasir putih ala Bali, tetapi tetap saja pantai dengan segala hal yang memudahkan fotografer dalam mengambil foto yang enak dilihat.

Apalagi, saat disana kebetulan suasana sedang sangat sepi, maklum bukan daerah wisata, yang justru semakin membuat hati gembira karena tidak perlu repot terganggu lalu lalang orang lain.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang




[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang


[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Read More

Monday, June 17, 2019

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik
Pantai Klara Lampung
Pernah mendengar istilah Negative Space atau Ruang Negatif dalam fotografi ? Belum ? Jangan merasa minder. Banyak sekali orang, terutama dari kalangan masyarakat awam yang jarang mendengar berbagai istilah teoritis dalam dunianya para fotografer ini.

Bisa dimaklum kalau memang istilah ini belum sempat sampai ke telinga atau mata Anda. Saya sendiri baru menyadarinya setelah terjun ke dunia ini sekitar 5 tahun yang lalu. Padahal, mungkin saja Anda sudah pernah mempraktekkannya dalam keseharian.

Jadi, jangan langsung merasa rendah diri.

Negative space atau ruang negatif adalah ruang dalam bidang sebuah foto dimana disana tidak terdapat obyek atau benda lain. Dalam hal ini, obyek/subyek utama foto dianggap bersifat "positif" sedangkan ruang kosong selebihnya disebut "negatif". Mirip dengan prinsip Yin dan Yang dalam teori keseimbangan ala Cina.

Pemanfaatan ruang negatif, atau saya lebih suka menyebutnya dengan "bidang kosong" merupakan pengembangan dari teori dasar fotografi, yaitu KISS (Keep it Simple Stupid - Buat Semuanya Sederhana).

Sebuah foto yang menarik biasanya karena foto itu sederhana, dengan satu ide, satu obyek dan satu latar belakang. Dengan begitu, maka obyek utamanya akan menjadi lebih fokus.

Dalam, negative space, prinsip ini lebih dikembangkan lagi, dimana bidang kosong dalam fotonya mendapat porsi yang lebih banyak dibandingkan obyeknya. Masyarakat awam biasanya lebih mengedepankan subyek foto dan kerap membuatnya menempati mayoritas bidang foto, tetapi dalam teori negative space, hal itu dibuat kebalikan.

Persentasenya bisa bervariasi, tergantung selera masing-masing. Biasanya berkisar antara 70-80%. Tetapi, itu terserah selera dan situasi saat memotret dan bukan kepastian. Ingat saja, panduan, tips, atau trik dalam fotografi bukanlah sesuatu yang mutlak.

Sevagai contoh kecil dari penggunaan Negative Space ada pada foto di bawah ini.

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik
Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang, 2018
Ruang kosong dalam bentuk pasir mendominasi foto di atas. Padahal obyek utamanya adalah botol.

Pemanfaatan negative space menguntungkan karena bisa memberikan beberapa hal, seperti :


  1. Obyek utama tidak terganggu oleh latar belakang atau obyek tambahan lain, kehadirannya menjadi sangat menonjol
  2. Biasanya mudah untuk menghasilkan kesan sunyi dalam foto
  3. Keseimbangan antara latar belakang dan subyek foto lebih mudah diatur dibandingkan kalau foto terlalu ramai dan penuh dengan obyek


Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik

Pemanfaatannya sendiri beragam karena sifatnya yang subyektif. Ada yang mengatakan negative space adalah kalau obyeknya tunggal, tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa obyek bisa lebih dari satu selama bidang kosong dalam foto lebih dominan.

Nah, itulah sedikit penjelasan tentang istilah negative space atau ruang negatif, atau bidang kosong dalam fotografi.

Ternyata mudah dimengerti kan? Yang lebih penting daripada mengerti teori adalah mempraktekkannya agar teori bisa berubah menjadi skill. Iya kan?

Jadi, cobalah berlatih dengan memanfaatkan sebanyak mungkin ruang kosong dalam bidang foto. Practice makes perfect.
Read More

Saturday, June 15, 2019

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Hendak memotret benda bergerak, seperti motor atau mobil yang sedang berjalan, tetapi tidak yakin bahwa satu kali jepretan akan cukup menghasilkan foto yang diinginkan ? Aktifkan saja "Burst Mode" pada kamera sehingga kita bisa melakukan Continous Shooting .

Apa itu Burst Mode Atau Continous Shooting?

Burst sendiri dalam bahasa Inggris berarti ledakan. Coba bayangkan saja situasi di kala Tahun Baru dimana orang-orang meluncurkan petasan ke udara dan kemudian terjadi ledakan yang memancarkan cahaya berulangkali dari satu peluncuran.

Nah, intinya kira-kira sama seperti itu.

Burst Mode atau kerap juga dikenal dengan Continous Shooting adalah sebuah fitur yang biasa tersedia dalam kamera digital, seperti DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Fitur ini akan memberi keleluasaan seorang fotografer untuk mengambil satu seri foto secara berurutan hanya dnegan menekan tombol shutter release sekali.

Selama tombol shutter release tertekan, maka kamera akan terus mengambil foto sampai jarinya dilepaskan.

Contoh foto di bawah ini :
Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan
 

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan


Kapan Menggunakan Burst Mode ?

Sebenarnya tidak ada kapan tepatnya burst mode atau continous shooting dilakukan. Penggunaannya akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari fotografernya sendiri. Meskipun demikian, biasanya mode ini akan dipergunakan ketika

1. Hendak memotret benda bergerak

Sebuah obyek yang bergerak memperkecil kemungkinan untuk mendapatkan foto yang diinginkan dalam sekali jepretan saja. Untuk itu, seorang fotografer biasanya memperbesar peluang itu dengan berusaha mengambil beberapa kali jepretan dalam sekali waktu

2. Memotret Dari Berbagai Sudut

Saat memotret model atau obyek statis pun , fitur ini bisa dipergunakan, yaitu ketika sang fotografer berniat memotret dari banyak sudut sambil bergerak. Dengan begitu ia hanya perlu bergerak sambil tidak melepaskan jarinya dari shutter release.

Ia bisa bergerak sambil tetap merekam gambar.

3. Membuat Foto Berseri

Membuat seri/kolase foto yang menggambarkan urutan kejadian dan bukan video? Gampang, pakai saja burst mode. Kamera akan merekam foto secara terus menerus dalam satu kali menekan tombol dan hasilnya adalah sebuah seri foto yang menjelaskan sebuah momen secara runtut dan berurutan.

----

Secara default, burst mode akan berada dalam posisi off alias tidak aktif. Jadi, untuk bisa melakukankannya setting ini harus diubah dulu di bagian "Menu". Bisa juga dilakukan melalui LCd Monitor untuk kamera yang memiliki fasilitas touch screen (layar sentuh)

Nah, itulah yang disebut dengan Burst Mode atau Continous shotting mode.
Read More

Wednesday, June 12, 2019

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !
Rusa Totol Istana Bogor 2017

Megapixel (MP), megapixel, dan sekali lagi megapixel. Kata ini selalu diulang-ulang dalam setiap iklan kamera, terutama kamera ponsel pintar/smartphone. Pada spesifikasi yang ditawarkan fitur kameranya selalu mengedepankan besarnya ukuran megapixel yang diusung sebuah kamera. Iya kan?

Dan, hasil promosi itu membuat banyak orang membayangkan bahwa ukuran megapixel yang semakin besar sama artinya dengan kualitas foto yang semakin baik. Oleh karena itu, setelah mereka membeli terkadang mereka kaget sendiri karena ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Banyak yang kemudian membandingkan antara dua kamera yang memiliki ukuran megapixel (resolusi) yang sama, tetapi hasil fotonya berbeda. Tidak sedikit kemudian yang merasa kecewa dan tertipu karena hal ini.

Bagaimana hal ini terjadi? Kenapa dua kamera dengan ukuran megapixel yang sama ternyata hasilnya bisa berbeda jauh dalam hal ketajaman dan kualitas fotonya?

Jawabnya karena LENSA dan SENSOR kameranya.

Lensa dan sensor yang berkualitas biasanya akan bisa menghasilkan foto yang tajam dan juga detail yang bagus. Terlepas dari ukuran resolusi fotonya. Meskipun sama ukuran resolusinya, kalau kedua faktor ini berbeda hasilnya ya jelas berbeda.

Besaran resolusi hanya berkaitan dnegan ketika sebuah foto harus dicetak ke atas kertas. Contohnya, jika sebuah foto dengan resolusi 24 MP dicetak di atas kertas ukuran 100 xm x100 cm akan terlihat lebih baik dan tidak pecah. Berbeda halnya dengan kalau foto ukuran 10 MP dicetak di kertas berukuran sama. Hasil jadinya jelas akan terlihat pecah dan tidak enak dilihat. Bintik-bintiknya akan terlihat jelas sekali.

Hal itu bisa terjadi karena ukuran dot pada foto 24 MP lebih kecil dan rapat dibandingkan yang 10 MP.

Tetapi, resolusi itu tidak berkaitan langsung dengan ketajaman atau kecerahan warna sebuah foto.

Berbeda dari banyak yang dibayangkan orang, ukuran megapixel sebenarnya tidak menjamin kualitas foto, melainkan ukuran foto itu sendiri.

Jadi, kalau ada dua kamera dengan besaran MP yang sama belum tentu punya kualitas foto yang berbeda. Banyak foto full frame (sensor) berukuran 18 MP dan kalau dibandingkan dengan kamera APS-C (Crop Sensor) hasil fotonya akan terlihat lebih baik dari segi ketajaman dan kecerahannya. Itu karena sensornya punya bidang yang lebih besar sehingga bisa menangkap cahaya dan menampilkan detail dengan baik.

Megapixel bukanlah segalanya dan bukan penentu kualitas foto.

Jangan salah paham.

Read More

Tuesday, June 11, 2019

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Banyak orang berpendapat untuk menimbulkan rasa, emosi, seorang fotografer harus mengeluarkan semua kemampuan dan pengetahuannya tentang teknik memotret yang baik dan benar. Memang salah satu tujuan utama dari sebuah foto adalah membangkit rasa dan emosi dalam diri yang melihat.

Sebenarnya pendapat itu tidak tepat benar. Ada banyak saat ketika teknik memotret tidak lah menjadi sesuatu yang penting dan berada pada posisi nomor 2 atau 3 atau 4 atau bahkan sepuluh.

Contoh saat seperti ini adalah pada acara kumpul keluarga, seperti pada saat Lebaran atau acara ulang tahun atau berwisata dengan keluarga. Saat seperti ini kemampuan memotret seringkali bisa diabaikan.

Cukup dengan memastikan semua orang masuk ke dalam bidang foto.

Tidak perlu bokeh. Tidak perlu lurus. Bahkan, agak kabur sedikit sekalipun juga tidak masalah selama wajah mereka-mereka yang di dalam foto bisa terlihat. Meski tentunya foto yang tajam dan cerah tetap diharapkan, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Rasa itu akan tetap timbul .

Hal ini bisa terjadi karena bagaimanapun kamera dan memotret memiliki fungsi utama untuk merekam momen. Dan, foto itu suatu waktu akan menyimpan kenangan seorang atau beberapa manusia di suatu tempat dan pada suatu waktu.

Baca juga : Dua Fungsi Utama Fotografi

Dan, suatu waktu foto-foto itu, di saat dilihat ulang beberapa tahun kemudian, secara otomatis akan membangkitkan kenangan di masa itu. Tergantung dalam situasi seperti apa foto itu dibuat, maka rasa itu akan kembali dibangkitkan. Entah rasa sedih, gembira, bahagia, marah, akan mencuat kembali di saat foto itu disajikan di hadapannya.

Tidak peduli apakah sudah sesuai dengan berbagai teori fotografi atau tidak, percayalah emosi akan hadir di dalam hati mereka yang melihat.

Coba saja hadirkan sebuah foto lama dari seorang anak berusia 3 tahun beberapa belas tahun kemudian kepada seorang ibu. Hampir pasti rasa yang hadir di hatinya lebih mendalam dibandingkan dengan ketika ia memandang foto model cantik atau pemandangan.

Sang ibu akan merasa bahwa foto itu lebih berharga dibandingkan apapun. Semua karena foto itu membangkitkan berbagai kenangan di dalam hatinya tentang sang anak yang sudah beranjak dewasa.

Tidak peduli foto itu diambil serampangan dengan tangan atau kaki terpotong, yang dianggap fotografer sebagai sebuah kesalahan.

Saat dimana teknik memotret tidak penting sama sekali adalah ketika foto menjalankan fungsi asalnya, yaitu merekam momen dan kemudian membangkitkan kenangan tentang suatu masa. Pada saat itu, fotonya sendiri secara teknis tidaklah bagus, tetapi semua menjadi bagus karena ia membangkitkan kenangan akan hal-hal tertentu di suatu masa.

Masih tidak percaya? Cobalah melihat foto-foto saat masa sekolah dulu bersama teman-teman lama. Pastilah Anda akan tidak peduli akan berbagai teori fotografi. Yang penting diri Anda berada disana bersama teman-teman. Apalagi bila ada di antara mereka yang sudah berpulang.

Iya kan?
Read More

Thursday, May 30, 2019

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan
CGM Bogor Street Festival 2016
Mengapa harus tahu cara hemat baterai kamera? Percayalah, Anda tidak akan mau mengalaminya dan jangan sampai tahu rasanya.

Menyebalkan ! Pastinya begitu. Bagi seorang fotografer atau penggemar fotografi, tidak ada yang lebih menyebalkan saat sedang seru-serunya hunting foto dan melihat banyak momen menarik, kemudian ketika hendak menjepretkan kamera, baterainya sekarat. Sinyal baterai di layar kedap-kedip dan berwarna merah.

Bete banget rasanya.

Saya pernah mengalaminya saat sedang meliput kegiatan Cap Go Meh Bogor atau CGM Bogor Street Festival 2019 Februari lalu. Baterai habis bahkan ketika pawai baru saja dimulai. Banyak momen menarik yang terpaksa terlewat karena tidak ada daya dari baterai untuk menggerakkan kamera.

Memang, kehabisan baterai bukanlah yang terburuk, karena ada yang lebih konyol dan menyebalkan lagi, tetapi tetap saja rasanya kesal. Apalagi melihat rekan sesama fotografer asyik berburu kesana kemari dan saya hanya bisa lebih banyak menonton dan diam saja.

Baca : Hunting Foto Terselamatkan Smartphone

Oleh karena itu, salah satu hal yang perlu dikuasai, selain masalah teknis memotret, adalah tentang bagaimana bisa hemat baterai saat hunting foto. Pelajaran kecil, yang sayangnya sempat saya lupakan saat itu. Nasib, tapi yang namanya manusia.

Nah, bila Anda tidak ingin mengalami hal yang sama, ada beberapa tips untuk hemat baterai kamera dikala berburu momen. Apalagi kalau Anda dipercaya meliput sebuah acara dan dibayar, yang pasti akan lebih menyusahkan kalau hal seperti ini terjadi.

Tips Hemat Baterai Kamera Saat Hunting Foto

Tidak butuh pengetahuan khusus dan teknis, tetapi butuh ketelitian, mulai dari persiapan hingga saat akhir. Banyak hal yang biasa dilakukan sebenanrya membuat daya dalam baterai cepat habis, dan sebisanyya hal ini harus dihindari.

1. Pastikan baterai terisi full (penuh)


Langkah paling awal memang tidak berkaitan langsung dengan penghematan, tetapi yang satu ini teramat sangat penting karena sering masalah terjadi karena lalai memperhatikan hal ini.

Banyak dari kita mengandalkan sinyal "baterai" pada kamera untuk mengetahui daya yang tersisa. Iya kan?

Masalahnya, sinyal ini kerap menipu. Simbol baterai akan tetap menunjukkan tanda "penuh" meskipun sudah dipakai beberapa puluh kali. Coba saja sendiri kalau tidak percaya. Padahal, daya yang sudah ada di dalam baterai sudah berkurang.

Jadi, sebelum berangkat hunting, "charge" ulang lagi baterai sampai penuh. Jadi, daya yang sudah terpakai bisa digantikan.

12 Tips Hemat Baterai Kamera Supaya Hunting Fotomu Tidak Jadi Menyebalkan
Tugu Kujang, Bogor 2016

2. Matikan Kamera Saat Tidak Digunakan


Siap sedia itu perlu, kita selalu ingin kamera standby setiap saat. Untuk itulah terkadang kita tetap membiarkan kamera pada posisi "menyala".

Padahal, kenyataannya, saat hunting foto, kita tidak selalu harus dalam kondisi siap sedia. Saat mengobrol dengan sesama fotografer atau teman, pastinya kamera tidak dibutuhkan. Begitu juga saat istirahat, makan, minum, kamera seharusnya dibiarkan beristirahat juga.

Membiarkannya menyala sama artinya dengan menyedot terus daya baterai dan membuatnya mubazir.

Jadi, matikan kamera saat tidak diperlukan. Dengan begitu, dayanya akan tetap ada sampai dibutuhkan.

3. Kurangi Melihat Hasil Foto


Salah satu kebiasaan yang sering tidak disadari membuat daya kamera cepat habis, yaitu sering melihat hasil jepretan.

Memang susah dihindarkan karena setiap orang ingin tahu apakah foto yang dijepretnya bagus atau tidak. Cuma, untuk melihatnya kamera akan memakan daya baterai dan semakin sering dilakukan, maka semakin cepat pula daya tersedot dan kemudian habis.

Tips untuk menghindari hal itu terjadi, kurangi kebiasaan melihat hasil foto setelah menjepretnya. Terus terang bakalan sulit dilakukan karena membutuhkan pembiasaan dan kepercayaan diri bahwa fotonya akan bagus.

4. Kurangi Memotret Dengan Flash Internal


Coba saja kalau tidak percaya. Memotret memakai flash atau lampu kilat internal akan mempercepat habisnya baterai kamera.

Mau tidak mau karena untuk menyalakannya, maka flash akan menyedot daya dari baterai yang sama.

Penyelesaiannya bisa dilakukan karena ada opsi lainnya, yaitu meningkatkan ISO, memakai aperture lebih besar, atau memakai shutter speed yang lebih lama. Semua tidak memakan daya baterai.


5. Matikan Fitur Yang Tidak Penting (Berkaitan Dengan Memotret)


Kamera digital zaman sekarang memang menyenangkan dan mempermudah fotografer. Banyak sekali fitur-fiturnya, bahkan untuk langsung upload ke medsos sekalipun sudah disediakan, seperti wi-fi.

Cuma, tetap saja fitur itu membutuhkan daya untuk menyalakannya dan semakin banyak fitur yang aktif pada kamera, berarti daya baterai akan semakin cepat habis.

Matikan fitur-fitur yang tidak berkaitan langsung dengan memotret, seperti wi-fi, pemandu fokus, suara bip saat fokus terkunci.

Dengan mematikan fitur-fitur ini, tentunya pemakaian daya baterai bisa lebih hemat.

6. Matikan Fungsi Preview / pratinjau


Kamera DSLR atau Mirrorless akan secara otomatis menampilkan hasil jepretan selama beberapa saat setelah shutter release ditekan. Ini secara default dilakukan.

Hasilnya, sama juga dengan kalau kita melihat hasil foto, yaitu memakan daya baterai.

Lebih baik kalau settingnya diubah dan pratinjau atau preview tidak diaktifkan. Jadi, bisa lebih hemat pemakaian baterainya.

7. Jangan Membuat Video


Kamera digital sekarang juga bisa menjadi pembuat video. Salah satu fitur yang membuatnya menjadi dual fungsi.

Masalahnya, membuat video memakan daya baterai lebih banyak daripada memotret. Bila untuk memotret, baterai kamera bisa bertahan beberapa ratus jepretan, untuk membuat video, mungkin hanya bertahan beberapa puluh menit saja.

Bila memang targetnya mendapatkan foto, sebaiknya kurangi keinginan membuat video pada saat yang sama. Hal itu agar baterai bisa tahan lebih lama.

8. Matikan VR atau IS Pada Lensa


Jangan salah juga, lensa kamera DSLR atau Mirrorless juga bisa membuat kita tidak hemat baterai kamera. Ada fitur-fitur stabilisasi foto, seperti VR (Nikon) atau IS (Canon) yang gunanya agar guncangan tangan bisa teredam dan fotonya tetap fokus dan tajam.

Nah, fitur-fitur ini juga menggunakan daya baterai kamera karena keduanya tidak memiliki sumber daya sendiri. Jadi, kalau sering digunakan, ya bisa menyebabkan baterai kamera cepat habis juga.

Matikan saja ketika memang tidak diperlukan, seperti saat memotret di siang hari.



9. Potret Yang Penting Saja


Semakin banyak memotret memang tidak jelek karena berarti semakin banyak pilihan dan semakin banyak yang direkam. Masalahnya, ya itu dia, setiap jepretan akan membutuhkan daya baterai dan berarti daya baterai akan semakin cepat kering.

Repot memang.

Tetapi, kalau sudah terbiasa di lapangan, seorang fotografer akan bisa memilah mana kondisi yang memungkinkan mendapat foto yang bagus, mana yang tidak. Jadi, mereka bisa memilah mana yang penting dan tidak.

Yang tidak penting, tidak usah diambil.

Dengan begitu, kita bisa hemat baterai.

10. Jangan Menggunakan Live View Terlalu Sering


Live View atau memotret sambil melihat layar monitor kamera memang menyenangkan karena bisa melihat hasil terlebih dahulu sebelum menekan shutter release. Ukurannya lebih nyaman bagi mata.

Sayangnya, untuk menampilkan gambar di monitor, perlu daya, dan daya itu diambil dari baterai kamera. Semakin sering melakukannya, semakin cepat daya baterai kering.

Masalahnya, pada kamera Mirrorless, Viewfinder/Lubang Intip-nya juga elektrik dan bukan optical . Artinya bahkan memotret tanpa Live View pun kalau memakai kamera Mirrorless akan tetap berpotensi menghabiskan daya baterai.

11. Kecerahan Layar Monitor Juga Menyedot Daya


OK lah kalau memang mau memotret dengan Live View atau karena memakai Mirrorless yang memberikan dilema.

Tapi, coba kurangi kecerahan layar monitornya. Sama dengan komputer juga, semakin cerah layarnya, semakin besar daya yang digunakan. Bisa tidak hemat baterai kamera kalau terlalu cerah.

12. Jangan Lupa Bawa Smartphone


Peralatan yang tidak boleh dilupakan, yaitu sebuah smartphone. Bukan cuma karena fotografer butuh komunikasi, tetapi karena ponsel pintar itu punya yang namanya "KAMERA".

Kamera itu tentunya tidak sebaik kamera DSLR/Mirrorless, tetapi fungsinya bisa digunakan untuk mengabadikan momen-momen yang tidak terlalu penting atau tidak terlalu berpotensi menghasilkan foto yang bagus.

Bila sekedar untuk dokumentasi, bisa memakai smartphone saja. DSLR-nya bisa dipakai nanti kalau ada momen yang penting. Apalagi kalau smartphonenya Samsung Galaxy S9 atau iPhone, pasti sudah lebih dari cukup untuk memotret.


Yang terbaik memang membawa baterai cadangan. Dengan begitu, kalaupun baterai yang satu habis, ada backup yang bisa memperpanjang waktu hunting foto.

Meskipun demikian, tetap saja, kalau pemotretnya "boros" dan tidak memperhatikan hal-hal seperti itu, baterai kamera akan cepat habis bahkan sebelum kita merasa "selesai".

Jadi, perhatikan hal-hal kecil seperti di atas supaya bisa hemat baterai kamera saat hunting foto. Dengan begitu kita bisa semakin lama beraksi dan hunting foto bisa diselesaikan dengan perasaan gembira dan bukan rasa kesal dan sebal.

Iya kan?
Read More

Wednesday, May 29, 2019

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah
Salabenda, Bogor 2015
Mungkin banyak orang berpikir, untuk apa membuat foto hitam putih di zaman seperti sekarang? Kamera digital sudah menyediakan berbagai fitur dan mode yang bisa menghasilkan warna-warna cemerlang, cerah, dan tajam, sesuai dengan selera. Lalu, apa kegunaan foto hitam putih?

Pada dasarnya memang foto hitam putih kurang mendapat tempat di zaman millenial seperti sekarang. Masyarakat lebih suka yang warna warni pada fotonya. Tetapi, jangan salah juga mengartikan bahwa sesuatu yang hanya monochrome seperti itu tidak bisa menarik perhatian.

Para fotografer, baik amatir atau profesional, tahu persis bahwa foto hitam putih bisa menjadi sesuatu yang lebih menarik. Foto hitam putih bisa

1. Memberikan kesan vintage, kuno, usang, dan sifat sentimentil manusia kesan seperti ini tetap bisa membangkitkan rasa dalam diri seseorang

2. Menonjolkan dan memberi penekanan pada bentuk dan garis, karena bagaimanapun foto itu 2 dimensi dan terbentuk dari banyak sekali garis dan lengkungan. Jika seseorang memandang lebih perlu mengedepankan elemen-elemen yang ini, foto hitam putih lebih berguna karena mata manusia tidak akan terpengaruh oleh warna

3. Memberikan kesan muram dan drmatis yang bisa membangkitkan emosi yang melihat

Oleh karena itu, tidak sedikit fotografer atau penggemar fotografi yang menggunakan trik ini untuk menarik perhatian yang melihat.

[GIMP #6] Membuat Foto Hitam Putih Itu Mudah
Botani Square, Bogor 2016
Sadar tentang potensinya dalam menambahkan unsur estetika dalam sebuah foto yang membuat produsen foto tidak akan pernah lupa memberikan satu fitur, yaitu hitam putih pada kamera digital produksinya.

Setiap orang bisa langsung memotret ala zaman dulu dengan memanfaatkan fitur ini.

Tetapi, di zaman sekarang, membuat foto hitam putih juga tidak perlu lagi repot. Maklum juga, manusia gampang berubah pikiran. Saat memotret mungkin saja pemotretnya memandang foto berwarna lebih bagus, tetapi setelah di rumah, ia ingin membuatnya terkesan muram, sedih, atau kuno.

Nah, tentunya di saat itu, kamera tidak bisa lagi dipergunakan untuk merubah image tersebut.

Untungnya, ada banyak sekali aplikasi pengedit foto yang bisa dipergunakan untuk merubahnya, dari full color, penuh warna, menjadi hanya hitam dan putih saja.

Salah satunya adalah GIMP (GNU Image Manipulation Program). Software gratisan ini memiliki fitur "DESATURATE" alias menghilangkan warna.

Cara mengoperasikannya mudah saja. Bagi yang baru menggunakannya sekalipun tidak akan menemui kesulitan.

Silakan ikuti saja langkah-langkahnya di bawah ini.

Cara Membuat Foto Hitam Putih Dari Berwarna Dengan GIMP

1. Buka file yang hendak diubah (pergunakan Menu File ==> Open)


2. Setelah foto tampil di layar editor, pilih menu COLORS

3. Pada drop down menu pilih menu "DESATURATE"

4. Akan keluar 3 pilihan, yaitu LIGHTNESS, LUMINOSITY, dan AVERAGE. Ketiganya adalah setting standar yang berbeda dalam pencahayaan dan kontras. Silakan coba satu persatu untuk melihat apakah efeknya sudah sesuai kemauan

5. Klik "OK"

6. Di layar editor akan terlihat bahwa foto sudah menjadi hitam putih. Image ini masih bisa diedit lagi sesuai kemauan

7. Kalau sudah cukup dan hendak menyimpan, klik MENU

8. Pilih "Save as" kalau hendak menyimpan dalam fotmat foto yang hanya bisa dibuka GIMP atau "EXPORT AS" untuk menyimpan dalam bentuk JPG atau PNG

9. Beri nama dan simpan

10. SELESAI (Hasil editan di bawah ini)


Sangat tidak susah merubah foto berwarna menjadi foto hitam putih di GIMP. Tetapi, kalau ternyata belum terbiasa dan terburu-buru waktu, silakan coba juga membuat foto hitam putih dengan Photoscape.

Selamat mencoba.


Read More