2019 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Wednesday, November 13, 2019

Fotogenik Tidak Sama Dengan Cantik Meski Sama-Sama Enak Dilihat

Pernah dong dengar istilah fotogenik ? Belakangan ini istilah yang satu ini banyak sekali digunakan. Apalagi sejak fotografi digital merasuki kehidupan. Sedikit-sedikit saat melihat foto orang akan nyeletuk "Ah, dia mah emang fotogenik".

Semua pertanda bahwa istilah yang satu ini bukanlah sesuatu yang asing bagi orang dimanapun.

Tetapi, tahukah Anda arti sebenarnya dari fotogenik? Lalu seperti apa sih wujud dari ke-fotogenik-an itu?

Cantik ?

Yah, memang banyak orang yang mengatakan dan menyebutkan kalau arti dari fotogenik itu sama dengan cantik, ayu, manis. Sayangnya, pandangan itu salah. Fotogenik tidak sama dengan cantik.

Fotogenik secara singkat adalah sebuah "kemampuan" (dalam tanda kutip karena bukan hasil latihan) seseorang atau sesuatu untuk terlihat menarik, bagus, dan menambah keindahan/estetika dalam sebuah foto atau film. Dalam foto atau filmnya, belum tentu dalam kehidupan nyata.

Fotogenik Tidak Sama Dengan CantikModel Aida Wijaya. Lokasi : Angkor Wat, Kamboja

Bisa jadi dalam kehidupan nyata, seseorang itu biasa saja. Tidak memiliki wajah ala Dian Sastro atau Raissa, tidak juga memiliki tubuh yang proporsional. Tetapi, begitu ia terekam dalam kamera, ia bisa menjadi terlihat sangat menawan dan memukau.

Kehadirannya dalam foto membuat foto itu menjadi sangat enak dilihat.

Nah, itulah yang dimaksud dengan fotogenik.

Jadi, fotogenik tidak sama dengan cantik. Meski terkadang ada juga yang sudah cantik, ia juga fotogenik dan enak dilihat dalam sebuah foto.

Contohnya, model dalam foto di atas, pernahkah Anda membayangkan bahwa dia adalah ibu dari 2 orang anak yang salah satunya sudah menjadi mahasiswa? Pernahkah membayangkan dibuat dengan kamera DSLR kelas pemula saja, Canon 700D, tanpa makeup karena dilakukan saat berwisata bersama kawan-kawan sekantor, tidak menggunakan kostum khusus, dan dalam kondisi lumayan capek akibat berkeliling dari candi ke candi.

Cuma, keberadaannya dalam foto membuat foto tersebut menjadi enak dilihat.

Itulah fotogenik, setidaknya versi saya.

Mungkin versi Anda akan berbeda juga karena fotogenik tidak memiliki standar pasti dan sangat bergantung pada selera individu.

Fotogenik Tidak Sama Dengan Cantik

Read More

Saturday, November 2, 2019

Obyek Yang Menarik Untuk Dipotret Itu Seperti Apa? (Hunting Foto)

Obyek Yang Menarik Untuk Dipotret Itu Seperti apa ?

Sebuah pertanyaan 1 milyar dollar  karena sangat tidak mudah untuk dibuatkan definis dan kriterianya. Tetapi, pertanyaan itu akan selalu hadir saat hendak memotret atau hunting foto di jalanan atau dimanapun.

Penyebabnya adalah karena kata "menarik" itu akan berbeda-beda setiap orang. Tidak akan ada yang sama.

Ada yang menggemari memotret wanita cantik dan pria ganteng ala "portrait photographer". Tidak sedikit yang beranggapan bahwa pemandangan adalah obyek yang paling menarik karena ia menyukai landscape photography (fotografi lanskap). Tanyakan pada penyuka food photography atau fotografi makanan, maka jawabannya akan berbeda lagi.

Jadi, sangat susah merumuskan konsep obyek potret yang menarik. Dan, jelas sangat tidak mungkin dibuatkan kriteria secara umum dan bisa berlaku untuk semua orang.

Tetapi, bukan berarti pasti tidak ada hal yang bisa dijadikan patokan untuk menemukan faktor yang menarik dari sebuah benda.

Bukan berarti pasti, tetapi beberapa hal di bawah ini mungkin bisa memberikan sedikit  patokan untuk memilah dan menilai obyek, yaitu

1. Wujud fisik


Cantik atau ganteng merupakan bawaan dan kodrat manusia yang suka akan keindahan dan kedua kata itu memang berhubungan.

Jadi, yang pertama harus dilakukan adalah menilai apakah sebuah obyek itu "cantik" menurut hati dan rasa yang ada di dalam diri kita. Jika rasa itu timbul dalam hati, hampir pasti bahwa obyek tersebut layak untuk dipotret.

Obyek Yang Menarik Untuk Dipotret Itu Seperti apa ?

2) Warna


Mengapa banteng menyeruduk dan menyerang kain merah yang dikibar-kibarkan oleh matador ? Karena warna merah tersebut biasanya menghadirkan "rasa" di dalam dirinya yang memutuskan dia untuk menyerang.

Tidak beda halnya dengan jika seorang laki-laki normal melihat dua orang wanita yang sama cantiknya, yang satu memakai warna merah dan yang satu lagi abu-abu. Pandangan pertama pasti akan jatuh kepada yang mengenakan baju merah karena warnanya menyolok dan mengundang perhatian.

Bagaimanapun, manusia adalah makhluk visual dan warna merupakan bagian penting dalam kehidupan kita.

Jadi, temukan warna yang menurut Anda menarik dan bagus. Bukan warna sesuai selera orang lain, tetapi warna yang Anda anggap menarik

3)  Garis


Obyek Yang Menarik Untuk Dipotret Itu Seperti apa ?

Kebanyakan manusia suka keteraturan. Rasanya nyaman untuk dilihat. Iya kan? Kecuali Anda penggemar surealisme atau abstrak yang penuh dengan ketidak teraturan, maka abaikan saja hal yang satu ini.

Tetapi, percayalah mayoritas orang suka keteraturan dan karena itulah peraturan dan hukum dibuat.

Nah, dalam kehidupan, di mata manusia, banyak bentuk di dunia terlihat seperti garis, baik lurus, melingkar, atau melengkung yang saling melengkapi menjadi sebuah wujud tertentu.

Oleh karena itu, cobalah cari garis dalam bentuk apapun di hadapan kita yang "teratur" dan tidak tumpang tindih. Sesuatu yang teratur biasanya akan membentuk suatu simetri yang disukai mata manusia kebanyakan.

4) Bentuk


Sesuatu yang unik akan selalu berbeda dari yang biasa saja. Dan, cobalah sapukan pandangan Anda saat memotret untuk menemukan bentuk-bentuk "unik" dan menarik.

Tidak mudah karena pada mulanya semua akan terasa menarik. Butuh waktu, pengetahuan dan pengalaman untuk memilah mana yang betul-betul menarik dan bisa menjadi foto yang bagus, atau sebetulnya biasa saja tetapi karena baru pertama kali melihat, rasanya menarik sekali.

Tetapi, temukan sesuatu yang unik dan menarik, lagi-lagi menurut kita sendiri dan bukan menurut orang lain.


Tidak mudah.

Sangat tidak mudah. Bukan karena obyek yang menarik itu sedikit, tetapi justru karena obyek foto itu terlalu berlimpah. Dan, itu tugas pertama yang harus kita lakukan saat melakukan hunting foto dimanapun, yaitu memilah obyek yang berpotensi menjadi foto yang menarik atau bisa diabaikan.
Read More

Sunday, October 27, 2019

Kata Pasti, Wajib, Dan Harus Tidak Berlaku Dalam Fotografi

Kata Pasti, Wajib, Dan Harus Tidak Berlaku Dalam Fotografi
Mencari Pasir di Sungai Ciliwung, Bogor, 2019
Fotografi itu seperti kehidupan manusia, penuh dengan ketidakpastian. Seberapapun usaha manusia untuk memastikannya, ketidakpastian akan selalu hadir di dalamnya.

Tidak ada yang bisa memastikan sebuah hasil foto pasti akan bagus dan mempesona. Tetapi, tidak juga akan ada yang bisa memastikan bahwa semua hasil foto akan jelek juga.

Sebuah kamera berharga 100 juta tidak harus berarti produk fotonya akan luar biasa. Sebuah kamera smartphone seharga 1/20 nya juga bukan berarti harus dipastikan mengeluarkan karya foto yang jelek.

Semua tidak pasti.

Yang bisa dilakukan seorang fotografer adalah berusaha sebaik mungkin dan mengeluarkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan karya sesuai dengan idenya.

Tidak pasti, selalu begitu adanya.

Itulah juga mengapa fotografer senior dan berpengalaman selalu menekankan bahwa berbagai teori dalam fotografi bukanlah sesuatu yang mengikat dan WAJIB diikuti. Teori itu lebih merupakan saran atau panduan, yang bisa diikuti, tetapi juga bisa dilanggar.

Karena mereka sudah menemukan salah satu sisi bahwa fotografi bisa dianggap sebagai sebuah seni yang bebas dari ikatan ala ilmu pasti.

Lucunya, berbagai artikel yang membahas dan mengajarkan tutorial tentang fotografi, gemar sekali menggunakan kata PASTI, WAJIB, dan HARUS.

Padahal, yang seperti itu menentang salah satu fakta yang ada tentang fotografi, yaitu penuh dengan KETIDAKPASTIAN.

Mungkin yang menulisnya, sebenarnya hanya mengejar pembaca saja dibandingkan dengan benar-benar memahami dan mengerti tentang apa itu FOTOGRAFI.
Bogor, Oktober 2019
Read More

Friday, October 25, 2019

Terikat Pada Satu Genre, Bagus Atau Tidak

Terikat Pada Satu Genre, Bagus Atau Tidak
Jalan Abdullah Bin Nuh, Kota Bogor 2019
Kata orang sukses, fokus pada satu hal dan kemudian curahkan semua kemampuan, tenaga, dan juga pikiran, adalah jalan terbaik untuk meraih kesuksesan.

Tidak salah sih.

Masalahnya, mengikatkan diri hanya pada satu hal saja, menghadirkan kekangan tersendiri. Tidak bebas.

Yah, bagaimanapun semua ada konsekuensinya.

Nah, bagi seorang fotografer, mana yang paling baik. Terus hanya menekuni satu genre saja, dan memotret dalam batasan yang ketat, atau memotret sebebas mungkin.

Jawabannya mungkin akan berbeda setiap orang. Saya memilih untuk tetap bebas dan tidak mau terikat karena terlalu banyak keindahan di dunia yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tetapi itu bisa terjadi karena saya hanya menekuni fotografi bukan karena uang, lebih ke arah kesenangan saja.

Mungkin berbeda bagi Anda.

Hanya, kalau boleh saran, ada satu cara lain yang lebih fleksibel, yaitu memotret lah sekehendak hati, tetapi tampilkan kepada khalayak umum genre yang menurut Anda terbaik. Pada akhirnya, branding bahwa Anda mengikatkan diri pada sebuah genre akan terbentuk, meski sebenarnya Anda melakukan juga banyak pemotretan untuk genre fotografi lainnya.

Jakarta, 25 Oktober 2019.
Read More

Thursday, October 24, 2019

Ciri Fotografi Jalanan : Tidak Terduga, Dan Menariknya Disitu

Ciri Fotografi Jalanan : Tidak Terduga, Dan Menariknya Disitu
Jalan Wahid Hasyim, Jakarta 2019
Banyak orang suka untuk diberi kejutan. Ketidaktahuan menghadirkan kesan misteri yang menghadirkan sensasi tersendiri. Tidak heran banyak orang menyukai jika pacar, suami, atau istrinya memberikan mereka sebuah surprise.

Sesuatu yang sebenarnya tidak istimewa bisa terasa sangat istimewa jika dikemas dalam bentuk sebuah "kejutan".

Dan, mungkin begitulah yang dirasakan para penggemar fotografi jalanan.

Mereka tidak tahu foto apa yang akan bisa dibuat saat keluar rumah untuk hunting foto. Jangankan tahu hasilnya bakal seperti apa, apa yang akan menjadi obyeknya saja belum tahu. Biasanya mereka akan keluar hanya berbekal kamera dan sedikit ide saja (tentu dengan bekal minum dan uang di dompet juga).

Selebihnya, akan tergantung pada nasib, kejelian mata, dan kecepatan reaksi mereka saat menemukan sesuatu yang menarik.

Tidak terduga sama sekali.

Obyeknya random dan tidak bisa diatur, backgroundnya tergantung nasib, dan faktor lain yang berada di luar kendali mereka.

Yang bisa mereka kendalikan hanyalah diri sendiri dan kamera di tangannya.

Mungkin, karena itulah, rasanya terasa menyenangkan.

Karena segala sesuatunya, hampir tidak akan pernah bisa diprediksi sebelumnya, tidak beda dengan kejutan yang diberikan kepada mereka.

Sesuatu yang mungkin membuat "obyek" dan "hasil foto" yang biasa-biasa saja terasa menjadi lebih bermakna.
Read More

Thursday, August 1, 2019

6 Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan

Fotografi jalanan memang bukanlah tentang memotret jalan atau memotret di jalan saja. Definisi genre fotografi yang dipelopori Henri Cartier Bresson ini lebih luas lagi, yaitu membuat foto di ruang publik. Semua ini bisa mencakup taman, restoran, sungai, atau di lokasi apapun yang bisa diakses oleh umum.

Jadi, bukan sekedar membuat foto jalanan saja.


Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan


Meskipun demikian, bagi para pemula, rasanya melakukan hunting foto di jalanan bisa menjadi awal yang bagus untuk belajar banyak hal terkait dengan apa itu fotografi jalanan.

Bagaimanapun, jalanan adalah ruang publik dan sampai sekarang masij menjadi salah satu lokasi favorit para penggemar street photography untuk dijadikan lahan berburu foto. Lagipula, dengan begitu seorang pemula bisa belajar beradaptasi dengan situasi dan kondisi di lapangan dimana kebanyakan pemotretan akan dilakukan.

Tidak ada ruginya berkelana di jalanan manapun dan berburu momen.

Cuma, memang ketika pertama kali terjun ke jalanan sering hadir kebingungan, yaitu terkait obyek foto. Bukan karena tidak ada obyek, tetapi biasanya karena semua seperti terlalu semrawut dan tidak enak dipandang. Kalau dipandang saja sudah tidak enak, bagaimana mau dijadikan foto yang diharapkan indah.

Nah, sebenarnya tidak juga. Coba saja luangkan waktu untuk diam dan menunggu sejenak. Pasti akan terlihat bahwa ada banyak obyek foto di jalanan. Jika kemudian digabungkan dengan kreatifitas maka hasilnya bisa bagus, setidaknya lumayan enak untuk dilihat.

Cobalah lihat beberapa obyek foto di jalanan di bawah ini.

1. Jalanannya sendiri


Silakan diperhatikan. Jalanan itu simetris dan mata kita akan melihatnya terbentuk dari garis-garis.

Yang seperti ini kalau dipotret dari sudut pandang yang tepat bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki leading line yang bagus.

Jalan Sudirman Bogor

2. Lanskap


Jangan pernah berpikir bahwa fotografi lanskap (landscape) hanyalah memotret pemandangan alam saja. Landscape ini luas dan tidak sempit seperti banyak orang memandang.

Yang namanya pemandangan itu bisa apa saja. Dan, jalanan pun bisa menyediakan pemandangan yang bagus dan enak dilihat.

Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Soleh Iskandar Bogor

3. Manusia


Banyak. Tidak terhitung.

Namanya ruang publik, ruang umum, pastilah banyak sekali orang berlalu lalang. Semua ini akan menyediakan obyek yang bisa dikata tidak terhingga bagi seorang fotografer jalanan.

Tinggal memilih mana yang terlihat menarik dan sesuai dengan ide yang ada di kepala saja. Kemudian, arahkan kamera dan "ceklek" jadilah foto bertema human interest.

Jalan Suryakencana Bogor

Jalan Sudirman Bogor

Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Suryakencana Bogor

4. Binatang


Jangan salah. Bukan hanya orang saja yang berkeliaran di jalanan. Binatang juga. Dan semua ini bisa menjadi obyek yang bagus kalau kita jeli memanfaatkannya.

Foto ini pernah diikutkan pada lomba foto Wiki Cinta Alam Indonesia 2018 dan lolos saringan tahap 2
Obyek Foto Di Jalanan Untuk Belajar Fotografi Jalanan
Jalan Sudirman Bogor

5.  Profesi


Termasuk manusia juga, tetapi ketika mereka sedang menjalankan pekerjaan untuk mencari nafkah. Yang seperti ini bagus untuk bisa memberikan gambaran kehidupan di jalanan, sekaligus bisa dimasukkan ke dalam fotografi human interest.

Jalan Suryakencana Bogor
Jalan Soleh Iskandar Bogor


6. Kendaraan


Fotografi jalanan itu memotret apa saja. Bukan hanya manusia, tetapi juga termasuk benda-benda tidak bernyawa.

Dan, salah satu yang banyak ada di jalanan, selain manusia, adalah kendaraan. Baik bermotor atau tidak.

Yang seperti ini bisa dijadikan obyek foto yang menarik. Lagi-lagi tergantung ide dan kreativitas pemotretnya.



Cobalah memotret ke-6 obyek foto di jalanan yang umum ini. Jangan merasa terlalu remeh. Kata Richard Branson, yang bukan fotografer,

"Tidak ada ide yang terlalu kecil"
Dalam fotografi jalanan (dan sebenarnya dalam fotografi) pernyataan ini berlaku. Jangan remehkan obyek kecil karena justru bisa menjadi sebuah foto yang sangat menarik dan mengundang perhatian.

Yang terpenting adalah mengembangkan kreativitas dan ide.

Lagipula, membantu mengurangi kebosanan memotret yang itu itu saja kalau hanya di rumah saja.

Read More

Thursday, July 25, 2019

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil Foto kamera DSLR Canon 700D - Puncak Mas Lampung

Belakangan ini , terutama sejak beberapa tahun terakhi, dunia fotografi semakin semarak. Salah satunya adalah dengan semakin banyaknya orang yang berminat untuk terjun dan menekuninya.

Semua ini karena kehadiran smartphone dengan kameranya yang semakin lama semakin canggih. Bahkan, kalau melihat hasil pencarian lewat mesin pencari Google, banyak yang sudah bisa memberikan tips dan trik agar "hasil foto kamera smartphone sama dengan kamera DSLR / Mirrorless".

Coba saja lihat apa yang tampil di halaman pertama hasil pencarian Google di bawah ini.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?

Tidak heran banyak orang tertarik. Bagaimana tidak, tanpa perlu membeli kamera DSLR saja, hasil fotonya sudah bisa sama? Siapa yang tidak mau. Biaya murah hasilnya sepadan atau setidaknya tidak kalah dengan kamera "sungguhan" yang harganya kerap merobek kantung itu.

Situasi, yang kalau secara pribadi, saya melihatnya sebagai sebuah hal yang bagus dan baik bagi dunia fotografi sendiri. Semakin banyak yang ingin terlibat, semakin ramai dan semakin seru. Memang bagi banyak orang, terutama mereka yang hidup dari kegiatan memotret, situasi ini terasa mengancam karena persaingan akan semakin tajam.

Bagus.

Tetapi, terus terang, ada sedikit rasa janggal dan kurang percaya bahwa hasil foto kamera ponsel bisa mengimbangi hasil kamera DSLR atau Mirrorless.

Bukan karena iri, tetapi sebagai seorang yang sudah menjadi penghobi dunia ini, dan juga memotret dengan kedua jenis kamera itu, saya tahu dengan pasti bahwa situasinya tidak se-bombastis yang disebutkan pada judul-judul itu.

Kebetulan, kamera digital pertama yang saya punya adalah sebuah smartphone juga, baru kemudian beranjak pada prosumer (Fujifilm Finepix HS35EXR, dan sekarang Canon EOS 700D(APSC). Jadi, saya bisa membandingkan sendiri semua hasil dari ketiga jenis tersebut.

Dan, kesimpulannya, sangat berbeda dengan apa yang dituliskan dalam artikel-artikel itu tadi.

Beda. Banget.

Itulah salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk membeli kamera DSLR. Ketika menggunakan ponsel pintar dan prosumer, terasa sekali ada yang "kurang".  Dan, itu bisa saya temukan pada kamera DSLR.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil foto kamera DSLR Canon 700D
Ingat yah, bukan berarti saya berpikir bahwa fotografi hanya bisa dilakukan dengan kamera DSLR saja. Justru, sebaliknya bagi saya , fotografi bisa dilakukan dengan yang manapun.

Juga, tidak berarti foto hasil kamera smartphone hasilnya "pasti kalah" enak dilihat dari hasil foto DSLR karena banyak faktor yang menentukan bagus tidaknya sebuah foto.

Pandangan ini hanya merupakan respon saja terhadap apa yang banyak ditulis bahwa hasil kamera smartphone bisa setara DSLR.

Smartphone VS DSLR : Lensa dan Sensor


Coba kita bandingkan dulu dua hal penting dalam menghasilkan foto yang tajam dan detail . Terlepas dari ide fotonya, salah satu hal yang membuat orang terpukau dengan sebuah foto adalah ketajaman dan detail dari obyek dalam fotonya.

Keduanya banyak bergantung pada dua faktor, yaitu lensa dan sensor. Bukan ukuran megapixelnya yah.


Untuk sensor, prinsip the bigger is the better, semakin besar semakin bagus,  berlaku. Dengan sensor yang besar, hasil fotonya akan lebih tajam dan detail. Kemampuan menangkap detail dan cahaya lebih baik. Hal itu bisa terlihat dari hasil foto kamera DSLR kelas APSC dan Full Frame akan berbeda, dimana hasil full frame akan terlihat lebih tajam dan jelas.

Nah, untuk smartphone, sensornya hanya kecil saja karena keterbatasan ruang. Dalam hal ini, sangat sulit hasil kamera smartphone mengimbangi ketajaman kamera DSLR, bahkan kelas pemula sekalipun. Sudah kalah kelas di sensor.

Begitu juga dengan lensa. Bagian yang sangat vital bagi kamera ini menentukan sekali hasil akhir. Kamera smartphone sulit untuk menyaingi DSLR dalam hal ini juga. Keterbatasan tempat merupakan kunci penyebabnya.

Jadi, bisakah berharap jauh bahwa hasil foto kamera smartphone sama dengan hasil kamera DSLR? Jawabnya tidak.

Bahkan, dengan iming-iming berbagai aplikasi Android sekalipun, tidak akan banyak berubah karena dua inti utamanya, lensa dan sensor tidak berubah. Aplikasi yang sekarang ada hanya merupakan pengedit foto saja dan merubah filenya bukan peralatan dasarnya.

Generalisasi

Harap diperhatikan juga bahwa ada generalisasi dalam judul artikel yang seperti pada screenshoot di atas. Kamera smartphone itu banyak jenisnya. Ada yang murah, ada yang mahal. Yang mahal biasanya memiliki kualitas lebih baik dibandingkan yang murah.

Contoh, kamera Samsung Galaxy S10 dan iPhone 9 tentu lebih baik daripada sekedar Oppo A3s yang saya bawa. Bisa jadi kualitas lensa kedua ponsel pandai kelas atas itu sama kualitasnya dengan DSLR kelas pemula, tetapi kalau ponsel kelas bawah, rasanya masih jauh untuk bisa menyamai.

Begitu juga dengan kamera DSLR, ada kelas-kelasnya. Kelas pemula atau kelas atas. Kelas atas harganya mahal sekali, tetapi kualitasnya juga luar biasa.

Jadi, kamera smartphone yang mana dibandingkan dengan DSLR yang mana? Tidak mungkin kamera smartphone OPPO A3S menyaingi hasil Canon EOS 7D (full frame). Bahkan, menyaingi hasil Canon EOS 700D di kelas bawah saja susah.

Hasil Foto kamera Smartphone - OPPO A3s
  
Smartphone Vs DSLR : Fitur

Pernah mencoba melakukan teknih panning (untuk menghasilkan kesan "bergerak" pada obyek) dengan smartphone? Belum? Saya sudah. Hasilnya kalau tidak blur semua, ya kesannya obyeknya tiak bergerak. Tidak ada latar belakang blur pada fotonya.

Sementara ketika menggunakan DSLR entry level saja, saya bisa melakukannya.

Belum lagi long exposure dan berbagai hal lainnya.

Banyak yang mengatakan bahwa dengan menambahkan aplikasi Android, seperti Camera FV 5, fiturnya akan setara dengan DSLR. Kenyataannya, OPPO A3s saya tetap saja OPPO A3s, tidak berubah menjadi DSLR. Hanya ada beberapa tambahan fitursaja seperti pengaturan ISO.

Hasil fotonya pun tetap sama. Pemakaian aplikasi jenis ini tidak bisa merubah lensa dan sensornya. Tetap saja, hasilnya tidak bisa mengimbangi.

Fitur di DSLR sangat beragam sehingga saya menyebutnya komputer mini. Semua disediakan demi memberi ruang kepada kreativitas agar bisa berkembang maksimal.

Dan, sayangnya semua itu tidak ada di smartphone.

Banyak hasil foto kamera DSLR yang dilakukan dengan teknik-teknik pemanfaatan fitur ini, dan tidak bisa dilakukan dengan sekedar kamera smartphone saja.

Jadi, pertanyaannya, "setara" dalam hal ini di bagian mana. Bagian fitur sih, rasanya tidak mungkin keduanya bisa sama.

Jangan juga bandingkan dengan fitur DSLR kelas atas, yang pastinya lebih beragam.

Bisakah Hasil Foto Kamera Ponsel/Smartphone Sama Dengan Kamera DSLR/Mirrorless ?
Hasil foto kamera smartphone


Smartphone vs DSLR : Ide / Kreativitas


Pernah melihat foto wanita cantik yang dipotret dengan smartphone ? Pasti banyak yang memberi LIKE. Apalagi kalau modelnya sexy dan berbadan bagus. Iya kan?

Lalu, bandingkan dengan sebuah foto pemandangan yang dipotret dengan kamera DSLR.

Kira-kira mana yang akan mendapat LIKE lebih banyak, terutama kalau yang melihat adalah kaum adam.

Jelas kan jawabannya? Ya foto wanita cantik itu yang akan mendapat banyak LIKE.

Mengapa bisa begitu?

Karena yang satu ini tidak bergantung pada kameranya. Yang satu ini bergantung pada orangnya, fotografernya.

Ingat loh, hasil foto itu tergantung pada dua hal, yaitu kamera dan fotografernya.

Kamera boleh kalah kelas, tetapi orangnya bisa menjadi penentu.

Sebuah kamera mahal di tangan orang yang tidak tahu cara menggunakannya hasilnya akan kalah kalau dibandingkan dengan smartphone di tangan ia yang tahu cara memotret. Kemungkinan hasil yang bagus dan menarik akan berada di tangan pemegang smartphone.

Pengetahuan.

Ide.

Kreativitas.

Dalam hal ini, bisa dikatakan smartphone bisa mengungguli DSLR atau Mirrorless. Saya pernah membuktikannya sendiri dengan OPPO A3s dibandingkan dengan Samsung Galaxy S9 saja, hasil oto saya lebih menarik.

Semua itu karena saya sudah belajar fotografi dan tahu menemukan sudut pengambilan gambar yang baik. Saya bisa memaksimalkan kamera di tangan.

Kemampuan ini lah yang membuat orang yang melihat foto kerap mengabaikan masalah ketajaman, detail, dan hal-hal teknis lainnya. Mereka lebih tertarik pada hasil secara keseluruhan, meski kalau ditelaah lebih jauh lagi, tetap akan terlihat bahwa kualitas fotonya jelas kalah.

Silakan tebak pakai smartphone atau DSLR

 

Kamera Smartphone Tidak Akan Berubah Menjadi DSLR


Itulah faktanya. Kamera smartphone akan tetap kamera smartphone. Hasil fotonya, kalau bicara teknis dan kualitas,  tetap saja terlihat berbeda dengan hasil kamera DSLR.

Mau dipasang aplikasi apapun, tetap saja kamera smartphone. Saya sudah mencobanya sendiri dengan berbagai aplikasi, dan ponsel pintar saya tetaplah OPPO A3s dan tidak menjadi Canon 700D.

Sebuah fakta yang harus diterima.

Hal itu bukan berarti bahwa dengan kamera smartphone kita tidak bisa menghasilkan foto yang bagus dan menarik perhatian. Kalau berpikir seperti ini, Anda salah besar.

Hanya, caranya bukan dengan cara memakai aplikasi berbagai macam dan kemudian berkata "sim salabim" dan kameranya menjadi DSLR. Sampai botak juga tidak akan berubah.

Hal yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan bahwa kamera smartphone memiliki keterbatasan. Kemudian, berfokus pada memanfaatkan kelebihannya, seperti :

  • Lebih lebar dibandingkan lensa DSLR
  • Mudah dibawa

Dan, kemudian berlatih berbagai teknik fotografi yang sesuai dengannya dan tidak memerlukan elemen-elemen DSLR. seperti

  • Penerapan Rule of Thirds
  • Komposisi warna/foto
  • Obyek yang menarik
  • Garis horison lurus
  • Sudut Pengambilan Gambar
  • Lengkapi dengan belajar pengeditan foto
Hasilnya, kalau dilakukan dengan baik, rasanya bisa membuat orang mengabaikan keunggulan dari DSLR.

Bukan dengan jalan menipu diri sendiri bahwa dengan tips dan trik atau aplikasi bisa membuat hasil foto seperti DSLR.

Hal itu tidak akan terjadi.

Ini hasil smartphone juga ASUS Padfone ditambah editing Picasa

Read More

Wednesday, July 17, 2019

Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi


Mateng puun atau matang di pohon adalah sebuah istilah yang umum dipergunakan oleh pedagang buah. Biasanya dipergunakan untuk menunjukkan bahwa buah yang dijualnya bukanlah hasil karbitan dan kematangan didapat dengan cara yang alami. Memang, buah yang matang di pohon biasanya memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan hasil karbitan.

Tentunya, istilah yang satu ini sudah sering didengar. Iya kan?

Nah, sekarang ada seseorang yang mengatakan bahwa ia lebih suka "mateng di kamera". Apa maksudnya?

Istilah ini juga jarang saya dengar sebelumnya. Baru beberapa hari yang lalu ketika terlibat percakapan via Instagram dengan seorang kenalan fotografer dari Depok, istilah itu tercetus keluar. Yang mengatakannya bernama Badet Zarhaeni, seorang fotografer yang pernah menjadi jurnalis di sebuah kantor berita dan sekarang menjalani bisnis fotografi untuk prewedding, wedding, dan model.

Istilah "Mateng Di Kamera" Cuma Ada Di Fotografi

Bagi yang tidak bergelut di dunia fotografi, tentunya akan mengerenyitkan dahi membaca istilah asing tersebut. Bagaimana bisa sebuah foto "matang di kamera"?

Untuk bisa memahami apa yang dikatakannya, tentu butuh sedikit background.

Di masa sekarang dimana fotografi digital semakin berkembang, penggunaan photo editing software atau perangkat lunak untuk mengedit foto semakin marak. Banyak orang sekarang justru mengandalkan kemahiran mereka dalam mengolah foto untuk mendapatkan image yang "sempurna" dan terlihat enak dipandang mata.

Sebuah keniscayaan dari perkembangan teknologi. Mau tidak mau setiap fotografer di masa sekarang harus juga membekali diri dengan kemampuan tersebut.

Sayangnya, seringkali, banyak fotografer yang justru sekarang lebih menekankan pada mengedit foto. Mereka tidak lagi berfokus dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan foto yang baik dengan kameranya. Banyak yang berpikir "Ah, gampang nanti di-edit saja pakai Photoshop (atau aplikasi lainnya)"

Padahal, kebiasaan ini justru membuatnya menjadi lebih sebagai "artis digital" dibandingkan fotografer yang seharusnya mengandalkan kameranya, bukan komputernya.


Nah, istilah "mateng di kamera" yang dikatakan Badet itu menunjukkan bahwa ia ingin agar foto yang keluar dari kameranya sudah mendekati "sempurna" dalam artian sesuai dengan ide dan kemauannya.

Ia tetap mengatakan tetap akan melakukan editing alakadarnya, yang berarti kemungkinan adalah pengaturan contrast atau brightness saja. Sesuatu yang memang tidak akan merubah obyek dan sekedar menaikkan atau menurunkan warna dan kecerahan saja. Mungkin sedikit cropping juga akan dilakukan.

Pastinya ia tidak akan menggunakan efek ala Camera 360 yang bisa membuat wajah jerawatan jadi punya wajah sangat mulus ala bidadari, sampai lalat nempel saja jatuh.

Prinsip yang memang seharusnya dipegang oleh seorang fotografer. Ia harus mengandalkan kameranya dan bukan bergantung pada komputer dan aplikasinya.

Hal itu sangat dimungkinkan karena kamera masa sekarang pada dasarnya sudah seperti komputer mini dan lebih canggih dibandingkan masa lalu. Pembuatan komposisi foto, baik warna, latar belakang, mimik modelnya bisa dilihat dan dipertimbangkan baik-baik sebelum tombol shutter release ditekan.

Artinya, dengan prinsip ini seorang fotografer harus sudah memikirkan matang-matang sesuai dengan keahliannya agar hasil file foto hasil jepretannya, paling tidak sudah 90% jadi dan sisanya barulah dipoles dengan aplikasi edit foto.

Itulah yang dimaksud dari istilah "mateng di kamera", yang sebenarnya tidak berbeda jauh dari istilah "mateng puun" ala tukang buah, yaitu sama-sama merujuk sesuatu yang "alami" dan bukan polesan.

Dua foto pada tulisan inipun dibuat dengan memakai prinsip tadi dan hanya diubah kecerahannya saja. Karena saya sendiri memang lebih suka begitu.

(Untuk melihat hasil karya Badet Zarhaeni silakan kunjungi akun instagramnya di @badet_xarhaeni dan anda akan menemukan makna dari prinsip di atas)
Read More

Tuesday, July 16, 2019

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?
Tri Trisdiyanti
Dipikir-pikir, dan setelah membaca begitu banyak artikel terkait dunia fotografi di dunia maya, ternyata yang namanya teknik fotografi itu banyak sekali. Sebut saja dalam hal komposisi foto ada Rule of Thirds, Golden Triangle. Kemudian, pencahayaan ada teknik strobist dan low key. Teknik terkait pemanfaatan fitur kamera, seperti bokeh, teknik panning, dan rasanya masih banyak lagi lainnya.

Tidak heran, ada sebuah universitas di Indonesia (dan juga di beberapa negara lain) memiliki sebuah program studi khusus yang mengajarkan fotografi. Institut Seni Indonesia di Yogyakarta menyediakan program studi Fotografi dalam jurusan Seni Media Rekam.

Sebuah hal yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi mereka yang ingin menekuninya dan menjadi fotografer yang baik. Apakah memang semua teknik yang ada perlu dipelajari dan dikuasai ? Bagaimana kalau ternyata tidak bisa, akankah berarti kita seorang fotografer yang jelek?

Pertanyaan yang wajar mengingat begitu banyak yang harus dihapalkan dan kemudian dipraktekkan.

Setelah menekuninya selama kurang lebih 4 tahun, saya sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya TIDAK PERLU.

Tentunya, bukan berarti tidak boleh seseorang menguasai semua teknik itu. Ilmu itu semakin banyak semakin baik. Hanya saja, prakteknya di lapangan seringkali tidak semua pengetahuan tentang teknik itu diperlukan dan dipakai.

Tri Trisdiyanti dan Farida Indriawati
Contohnya, saya menyukai fotografi jalanan. Kurang gemar saya memotret model, meski kalau untuk teman dan keluarga ya dilakoni juga. Cuma saya lebih suka memotret sesuatu yang natural dan apa adanya yang ditemukan di jalanan.

Tambahlah sedikit-sedikit fotografi landscape alias pemandangan. Namanya manusia kalau melihat pemandangan yang bagus, ya tangan gatel juga untuk menjepret.

Teknik apa yang saya pergunakan?

Tidak banyak sih. Yang paling sering dipakai adalah bokeh untuk menghilangkan latar belakang yang mengganggu. Kemudian, penerapan Rule of Thirds atau Aturan Sepertiga. Selebihnya, saya menemukan justru kepekaan untuk menggabungkan antara semua unsur yang ada di jalanan untuk dimasukkan ke dalam frame berperan lebih penting dibandingkan teknik.

Padahal, saya juga bisa "teknik panning", "long exposure", dan beberapa teknik lainnya.

Teknik strobist yang bergantung pada pencahayaan, terus terang, saya tidak kuasai dan kurang tertarik belajar karena bergantung pada perangkat lighting/pencahayaan buatan.

Dan, yang seperti itu bertentangan dengan passion yang menekankan pada unsur alami. Bagaimana bisa menjadi alami karena strobist sendiri biasanya dilakukan di ruang tertutup atau studio dan memerlukan perlengkapan.

Kurang sesuai dengan passion, dan tentunya budget saya.

Jadi, untuk apa saya mempelajari sesuatu yang tidak akan saya pakai? Saya sudah merasa cukup untuk mengetahui apa itu strobist dari membaca teorinya saja. Untuk mempraktekkannya dan belajar lebih lanjut, rasanya tidak berminat.

Dan, apakah itu berarti saya tidak bisa memotret dengan baik?

Perlukah Menguasai Semua Teknik Fotografi Untuk Menjadi Fotografer Yang Baik ?
Farida Indriawati

Ya, tidak juga sih. Saya pikir hasil jepretan saya tidak begitu jelek. Teman-teman dan keluarga saya justru berpandangan foto-foto hasil karya saya juga bagus.

Komite seleksi tahap II Lomba Foto Wiki Cinta Alam 2019 sepertinya juga berpendapat demikian. Buktinya dua dari 4 buah foto yang saya saya ikut sertakan ke dalam lomba itu lolos sampai tahap II.

Jadi, meski tidak menguasai semua jenis teknik fotografi, saya tetap bisa menghasilkan foto yang lumayan bagus. Tidak jelek-jelek amat.

Berdasarkan pengalaman inilah, rasanya tidak salah-salah amat kalau saya berpendapat bahwa tidak perlu menguasai semua teknik fotografi yang ada. Pelajari saja teknik-teknik yang berkaitan dengan passion kita.

Misalkan yang gemar genre "portrait", ada baiknya mempelajari bokeh, low-key, atau beberapa teknik pencahayaan lainnya. Tidak perlu memaksakan untuk belajar terlalu dalam teknik long exposure atau panning. Toh bakalan jarang dipakai untuk membuat potret seseorang.

Jadi, pilihlah saja beberapa teknik yang akan mendukung passion kita. Tidak harus memaksakan harus bisa dan menguasai semuanya. Lebih baik, mempelajari beberapa saja, tetapi secara mendalam.

Begitulah pandangan saja dalam hal ini.

(Model : kawan-kawan lama semasa SMA di SMA Negeri I Bogor. Izin sudah didapatkan untuk menayangkan foto-fotonya. Coba tebak berapa usia mereka?)
Read More

Sunday, July 14, 2019

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengadakan kelas ngeblog untuk ibu-ibu di lingkungan dimana saya tinggal, ada sebuah celetukan menarik dari salah seorang peserta, yaitu ketika membahas bagaimana membuat artikel kuliner. Sudah pasti bahasan yang satu ini sangat menarik bagi kaum ibu, apalagi mereka juga menyadari prospeknya yang sedang booming dimana-mana.

Celetukan ini memang menyangkut penulisan dan bagaimana membuat tulisan tentang makanan yang bisa menarik pembaca. Dan, salah satu yang harus dilakukan adalah terkait foto makanan yang akan ditampilkan.

Sebuah tulisan kuliner tanpa ada foto makanannya, sama saja masak sayur tanpa garam. Tidak akan lengkap dan tidak akan menarik.

Nah, ucapan yang membuat kening saya agak berkerut dalam hal ini adalah sarannya kepada ibu-ibu yang lain bahwa "memotret makanan itu harus dari atas". Pernyataan lengkapnya saya lupa, tetapi intinya seperti itu.

Yah, kening saya berkerut juga, cuma saya putuskan untuk tidak membahas lebih lanjut lagi karena kalau dibahas, hasilnya memasuki wilayah fotografi, dan bisa panjang lebar.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Setelah itu, saya melakukan kunjungan ke berbagai blog yang membahas mengenai makanan. Heran juga, ternyata memang rupanya ada kecenderungan para blogger kuliner dan resep untuk lebih banyak mengambil sudut pemotretan dari atas.

Maksudnya, mereka memotret dengan menghadapkan kamera di atas dan kemudian memotretnya tegak lurus. Ada yang miring sedikit.

Entah sejak kapan kebiasaan itu terjadi, tetapi setelah mengamati sejenak, ya mungkin inilah yang menjadi dasar dari celetukan sang ibu tadi.

Sebagai orang yang menyukai fotografi dan akrab dengan yang namanya memotret, meski bukan dalam bidang foto makanan, saya merasa ada yang kurang pas dengan pernyataan tadi.

Fotografi pada intinya, selain untuk merekam sebuah momen, juga untuk menampilkan sisi keindahan dari "sesuatu" atau "seseorang". Caranya? Tidak ada batasan dan tidak ada standar yang pasti. Bebas, sebebas bebasnya.

Mau dari atas kek, dari bawah, dari samping, atau darimanapun.

Semuanya tergantung pada selera dan penilaian yang memotretnya, sang fotografer, bagaimana sesuatu/seseorang ingin ditampilkan. Dan, selera setiap orang berbeda.

Begitu juga dalam hal foto makanan. Tidak pernah ada yang mengharuskan bahwa memotret makanan harus atau sebaiknya dari atas saja. Memang, biasanya posisi kamera di atas akan memberikan foto yang berisi warna warni makanan dan pola yang terbentuk karena biasanya makanan memiliki pola, tetapi tidak selalu harus begitu.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Keindahan dalam sebuah makanan bisa diperlihatkan dari sisi manapun, selama yang memotret tahu caranya.

Sebagai contoh, semua foto makanan dalam tulisan ini, jelas tidak dibuat dengan kamera di atas dan menghadap ke bawah saja. Pengambilan gambarnya dilakukan dari beberapa sisi, seperti samping. Dan hasilnya, tetap saja bagus.

Betulkan?

Yang terpenting dalam mengambil foto makanan supaya menarik perhatian bukanlah sekedar sudut pengambilan gambar (dari atas saja). Tugas fotografer ada berusaha menemukan sudut yang terbaik bagi obyeknya.

Ditambah pula dengan skill dan kemampuan memanfaatkan kameranya, cahaya, dan kreativitasnya dalam mengolah ide dan menerapkannya.

Memotret Makanan Tidak Selalu Harus Dari Atas

Memastikan posisi kamera harus berada di atas saat memotret makanan agar mendapatkan hasil terbaik juga tidak selamanya benar.

Jika obyek makanannya, seperti pizza yang lebar, pasti akan sangat menyulitkan karena bidang kamera tidak bisa menampung obyeknya secara keseluruhan. Belum lagi kalau cahayanya berasal dari lampu yang berada di atas.

Seorang fotografer (termasuk yang bergenre food photography/foto makanan) haruslah fleksibel dan berusaha mencari berbagai kemungkinan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal itu berarti bisa saja memotret dari atas, bawah, tengah, depan, belakang, miring, dan seterusnya.

Tidak ada kepastian dalam fotografi, sama halnya dengan tidak ada kepastian dalam hidup manusia.
Read More

Thursday, July 4, 2019

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6

Bukan sebuah patung bernilai sejarah. Mungkin, ratusan tahun lagi, dan kalau memang masih bertahan, baru bisa menjadi sebuah monumen bernilai historis tinggi.

Sebuah patung malaikat kecil sedang bermain seruling di sebuah taman kecil dalam perumahan Vila Bogor Indah 6 di kawasan Bogor terlihat menarik sekali untuk dijadikan obyek foto.

Mungkin sebenarnya bagi banyak orang biasa saja. Hanya saja, rupanya kebiasaan sebagai penggemar fotografi merangkap blogger yang membuatnya menjadi terlihat menarik di mata saya. Apalagi dengan hanya kamera smartphone OPPO A3s di tangan, hadir sebuah tantangan sendiri untuk membuatnya menjadi enak dilihat dalam foto.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


[FOTO] Patung Malaikat Kecil Bermain Seruling Di Vila Bogor Indah 6


Entah bagi orang lain, tetapi setelah dilihat-lihat lagi, ternyata tidak terlalu jelek untuk dipamerkan disini.

Bagaimana menurut Anda?
Read More

Monday, July 1, 2019

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?

Memotret Untuk Berbagi , Bisakah ?
Stadion Pakansari Bogor, 2017

Sharing is caring. Berbagi tanda peduli. Salah satu slogan yang banyak ditemukan di dunia maya belakangan ini yang mengajak orang untuk berbagi kepada orang lain. Prinsip yang mulia karena siapapun yang memiliki kelebihan bisa membantu orang lain yang kekurangan.

Pertanyaannya, dalam dunia fotografi, apakah prinsip itu juga berlaku? Bisakah kita memotret untuk berbagi kepada sesama? Apa manfaatnya?

Ternyata, berlaku juga.

Cobalah perhatian beberapa website modern, penyedia foto gratis, seperti Pixabay, Pexels, atau Wikimedia Commons. Disana banyak sekali fotografer yang dengan iklas hati membagikan hasil karyanya kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya. Siapapun bisa mempergunakan karya hasil jerih payah dan memeras keringat bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Dan, ternyata hasil penerapan prinsip berbagi banyak sekali membantu orang lain dari berbagai belahan dunia, untuk :

1. Mengenal sebuah tempat, sebuah benda, sebuah kehidupan di belahan dunia yang belum pernah dikunjunginya bahkan tanpa harus perlu pergi sendiri kesana

2. Membantu mengembangkan perekonomian : sebuah hal yang mungkin sulit dipercaya, tetapi banyak sekali usaha start up (pemula) yang dengan foto-foto gratis itu mereka bisa membuat foto promosi yang menarik (tanpa biaya yang besar). Mereka terbantu untuk pengembangan usahanya

3. Para blogger dan pengelola website, tentu saja sangat terbantu dengan ketersediaan stok foto yang bagus tetapi gratis. Mereka bisa mendapatkan image atau foto sebagai ilustrasi bagi artikel mereka. Bayangkan saja kalau harus membeli image dari Getty Image yang bisa mencapai 500 dollar AS untuk sebuah foto. Tidak akan mereka bisa berkembang, yang ada bangkrut sebelum berjalan

Berbagi foto memberi banyak kebaikan bagi perkembangan dunia.

Kepedulian para fotografer dengan membebaskan orang lain menggunakan karyanya, berkontribusi banyak bagi perkembangan dunia, meski terkadang tidak disadari.

Prinsip inilah yang mungkin pada suatu waktu harus juga dianut oleh banyak fotografer. Paling tidak, mereka bisa membagikan sebagian hasil karya mereka untuk membantu perkembangan orang lain.

Dan, meski masih kecil-kecilan, saya juga mencoba melakukannya. Setidaknya beberapa foto yang saya anggap berkualitas cukup baik dan bisa memberikan gambaran tentang "sesuatu" atau "sebuah tempat", sudah saya unggak di Wikimedia Commons, situs yang memang menyediakan foto gratis dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu foto yang pernah saya bagikan ada di atas ini yaitu foto Stadion Pakansari Kabupaten Bogor. Dipotret tahun 2017 silam. Ternyata, paling tidak ada dua laman yang sudah menggunakannya untuk pelengkap dan memberikan gambaran seperti apa stadion kebanggaan warga Bogor itu.

Lebih banyak lagi foto yang sudah dipergunakan di internet yang berasal dari website Lovely Bogor, sebuah blog yang bercerita tentang kehidupan di Bogor. Banyak fotonya yang diunggah di blog atau website lain. Ada yang memberi link balik, ada yang sekedar memberitahukan sumbernya, dan ada yang bahkan tidak menyebutkan apa-apa.

Yang manapun, saya tidak akan marah untuk itu. Bahkan, ada rasa senang karena hasil karya saya bisa dipergunakan orang lain. Bermanfaat dan bukan menjadi sekedar menuh-menuhin hard disk saja.

Jadi, kalau ada rekan yang hendak mempergunakan foto-foto di website ini, silakan saja. Kalau memang boleh meminta, tolong berikan link balik kepada website ini karena dengan begitu maka blog kecil ini bisa ikut berkembang. Tapi, kalau merasa berkeberatan, ya tidak masalah. Monggo, tapi jangan sebutkan hasil karya sendiri loh karena hal itu berarti penipuan dan berbohong, serta melanggar hak cipta orang lain.

Buat sesama fotografer, marilah merubah dunia dengan jalan "memotret untuk berbagi".

Mau kan?
Read More

Saturday, June 22, 2019

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Banyak orang menyangka bahwa sebuah karya foto yang mereka lihat dibuat dalam waktu yang pendek. Memang sih, di zaman dimana media sosial begitu merasuki jiwa hampir setiap orang, hal itu bisa dimaklum karena biasanya banyak orang akan langsung mengupload foto yang mereka buat sesaat setelah foto itu diambil.

Bisa dimengerti lah kalau banyak orang berpikir kalau semua foto yang mereka lihat berasal dari proses yang sama. Padahal, sebenarnya tidak juga, setidaknya tidak semua. Masih ada hal-hal di balik layar sebuah karya foto yang kerap tidak diketahui oleh yang melihat.

Salah satu contohnya adalah foto di bawah ini


Foto ini saya beri judul "Woman on Kartini Beach, Rembang". Bukan judul yang heboh tetapi merupakan fakta karena ada wanita, yang entah sedang apa di pantai Kartini, Rembang, Jawa Tengah. Foto ini dipotret saat berkunjung kesana, bulan Desember yang lalu.

Idenya memang untuk menampilkan suasana sunyi dalam sebuah foto. Secara teori mudah saja, yaitu dengan menerapkan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) sebanyak mungkin, latar belakang kosong dan bersih dari gangguan, dan memanfaatkan negative space semaksimal mungkin.

Teorinya begitu.

Cuma kenyataannya, tidak semudah itu.

Memotret :


Wanita dalam foto itu hanyalah seorang pengunjung Taman Kartini, sama seperti saya juga. Saya tidak mengenalnya sama sekali, artinya, sangat tidak mungkin untuk memintanya berpose. Bisa jadi malah dia akan curiga kepada saya hendak berbuat yang kurang ajar. Belum lagi kalau mantan pacar saya curiga dan ujungnya menjadi marah kalau saya melakukan itu, bisa gaswat banget deh.

Jadilah, saya harus menjadi seperti "pemburu" yang menanti terjadinya decisive moment. Menunggu sampai ada dimana pose sang "model" yang tidak tahu dirinya menjadi obyek kamera, bersesuaian dengan berbagai elemen lain, seperti latar belakang dan sebagainya.

Untung, saat berkunjung disana ada lensa Canon 55-250 mm dengan zoom yang lumayan, jadi pemotretan bisa dari jarak lumayan jauh dan tidak mengganggu aktivitas sang model.

Tidak mudah sama sekali. Saya harus mencoba berulangkali dari berbagai sudut untuk bisa mendapatkan satu foto sesuai ide di kepala. Perlu setidaknya 10 kali jepretan.

Beberapa foto yang setelah kembali ke rumah dilihat dan dinilai, dan tentunya tidak diperlihatkan kepada orang lain ada di bawah ini :

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Wanita di Pantai Kartini rembang

Wanita di Pantai Kartini rembang



Wanita di Pantai Kartini rembang

Yap, wanita, sang model itu, sebenarnya sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia bolak balik mencari posisi untuk melakukan swafoto, sebuah kebiasaan yang lahir seiring berkembangnya kamera smartphone dan media sosial. Bukan seperti saya yang hobi memotret orang lain.

Jadi, sejak tahap awal, yaitu memotret, sebenarnya proses di belakang layarnya sudah "berbeda" dari yang dibayangkan banyak orang. Paling tidak, berburu foto ini menghabiskan waktu 15 menit untuk memastikan ada satu foto yang sesuai ide.

Kali ini saya beruntung, ada hasilnya. Tidak jarang sebenanrya, walau satu foto saja bisa menyenangkan, terkadang saya pulang membawa tangan kosong karena hasilnya tidak ada yang sesuai kemauan.

Selesai? BELUM.

Memilah :


Dari sekitar 10 foto tadi, sesampai di rumah, saya harus memilah dan memilih. Mana yang terbaik dikaitkan dengan apa yang ingin ditampilkan.

Beberapa foto cukup dilihat sekali. Sisanya, barulah dilihat berulangkali lagi untuk melakukan penilaian lanjutan, tapi yang paling utama adalah apakah sudah sesuai ide yang dikehendaki.

Akhirnya, terpilihlah foto di bawah ini :


Postur tubuh sang "model" misterius ini pas sekali dengan latar belakang kosong dan satu buah kapal yang sedang tambat sauh di kejauhan. Setidaknya kesan sunyi dan kesepian bisa diwakili oleh sang wanita yang seperti sedang menanti seseorang yang berada di kapal itu.

Itu ide saya.

Jadi, inilah foto "terbaik" dari yang ada.

SELESAI?

Ternyata masih belum.

Editing :


Foto tersebut dihasilkan dalam format RAW, alias mentahan saja. Tidak bisa langsung ditampilkan karena tidak semua perangkat bisa membukanya. Belum lagi ukurannya yang mencapai 23 Megabyte pasti akan menyusahkan kalau diupload.

Lagi, satu proses harus ditambahkan, melakukan editing.

Hitam Putih dipilih dibandingkan berwarna karena untuk menghadirkan kesan sunyi dan sepi yang maksimal. Versi warnanya lumayan, tetapi terasa masih ada yang kurang.

Jadilah versi B&W yang ditetapkan.

Softwarenya sederhana saja, memakai Photoscape dan Picasa. Yang gratisan saja sudah cukup karena toh bukan untuk dijual, tetapi sekedar untuk mengisi blog.

Selesai?

Yah, masih belum juga.

Niatnya kan untuk berbagi foto dan cerita di blog, berarti harus ditambah teks supaya pembaca bisa tahu setidaknya dimana foto itu dibuat. Belum kalau niatnya untuk berbagi info, seperti di tulisan ini.

Iya kan?

Tidak pendek kan proses di balik layar sebuah karya foto. Padahal foto di atas sederhana banget, tetapi ternyata prosesnya melibatkan :


  1. Memotret : yang tidak sebentar juga
  2. Memilah dan emmilih : lupa menghitung waktunya
  3. Mengedit : sebentar sih, sekitar 1 jam saja (karena cuma mengatur kontras dan beberapa editing kecil lainnya
  4. Menampilkan : ini yang lama, karena termasuk mencari ide cara menampilkan 

Tapi ga semua seperti di atas sih. Biasanya yang proses di belakang layar ini dilakukan mereka yang menekuni fotografi saja. Prinsip memberikan yang terbaik biasanya dipegang dan lebih baik tidak terburu-buru dibandingkan hasilnya pada akhirnya mengecewakan.

Itulah mengapa sebenarnya banyak penghobi fotografi tidak terlalu mempedulikan apakah ada "wi-fi" di kamera mereka atau tidak. Kalaupun ada, biasanya jarang mereka pakai. Itu semua karena mereka merasa harus melakukan proses di balik layar sebelum menampilkan sesuatu.

Bagaimana dengan Anda, apakah foto yang Anda tampilkan melalui "proses di balik layar" yang serupa?
Read More