January 2019 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Sunday, January 27, 2019

Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?

Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?

Bukankah pertanyaan itu ada di benak Anda? Seperti apa sih yang dimaksud dengan komposisi foto yang BAIK (dan BENAR) itu? Percayalah, pertanyaan itu juga pernah dan masih sering hadir di kepala saya, bahkan setelah beberapa tahun menekuni dunia fotografi (dan blogging).

Tentunya, sama juga dengan banyak penekun fotografi, saya (dan tentunya Anda juga) ingin agar foto-foto yang kita hasilkan mendapatkan pujian dari yang melihat. Betul kan?

Juga, masalah komposisi foto ini sering ditekankan oleh para fotografer profesional atau yang sudah berpengalaman untuk mendapatkan perhatian khusus. Banyak sekali tulisan bersifat "how-to" (panduan) dibuat untuk memberi arahan tentang bagaimana komposisi foto itu seharusnya.

Berbeda-beda caranya, meski tetap ada bagian besar yang sama.

Dan, ujungnya kerap hal itu bukannya membuat kita tambah mengerti, tetapi justru semakin pusing tentang bagaimana cara menghasilkan komposisi foto yang "baik" dan "benar".

Betul kan?

Apa Itu Komposisi Foto ?



Ada banyak penjelasan yang sudah dibuat tentang definisi dari "komposisi foto". Banyak sekali dan seperti sudah disebutkan di atas, jumlahnya tidak sedikit.

Tetapi, sebenarnya bisa disingkat dalam sebuah contoh kecil saja.

Seorang juru masak harus mampu meracik berbagai bahan mentah, seperti telur, bawang, tomat, dan banyak lagi lainnya agar menjadi masakan yang lezat dan mengundang selera. Untuk itu ia harus tahu bagaimana memadukan dan mengolah semua bahan itu menjadi satu jenis masakan.

Apakah harus digoreng, dipanggang, atau direbus, ia harus bisa menjadikan bahan-bahan mentah tadi sebuah masakan yang membuat semua orang senang, dan kemudian memujinya. Bagaimana kombinasi bahan mentah tadi diolah dan dimasak disebut resep.

Semakin banyak yang dipuji, semakin tenar namanya, dan pada akhirnya ia menjadi juru masak terkenal.
Nah, posisi yang sama ada pada diri seorang fotografer, tentunya bukan dalam hal masak memasak, tetapi dalam hal memotret. Seorang fotografer adalah "juru masak" yang "bertugas" membuat foto.

Sama dengan seorang juru masak, seorang fotografer akan memiliki bahan mentah, seperti obyek(model), latar belakang, warna yang tersedia, dan banyak hal lagi lainnya. Ia harus bisa memadukan kesemua itu menjadi satu dalam sebuah foto.

Bila dalam dunia memasak disebut "resep", dalam dunia fotografi disebut "komposisi foto".

Jadi, istilah komposisi foto pada dasarnya adalah resep atau perpaduan dari berbagai materi yang ada sehingga menghasilkan sebuah foto.

Elemen Dalam Komposisi Foto

Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?

Sama seperti resep dimana ada bahan-bahan mentah, dalam komposisi foto pun ada yang seperti itu. Cuma istilahnya saja berbeda.

Beberapa hal ini bisa dikatakan merupakan elemen sebuah foto, seperti :

  • Warna
  • Obyek foto 
  • Latar belakang
  • Bentuk
  • Garis-garis
Elemen-elemn inilah yang harus dipadukan menjadi "satu kesatuan" yang secara total disebut dengan komposisi foto.

Adakah Komposisi Foto Yang Baik Dan Benar?

Komposisi Foto : Yang Baik Itu Seperti Apa ?

Tahukan kalau ibu-ibu sering membeli buku tentang resep masakan? Tujuannya mereka tahu cara membuat jenis masakan tertentu, yang katanya "enak". Kalau di zaman sekarang mungkin, cukup dengan mengakses situs-situs internet dan mempelajari resep-resep yang dibagikan oleh orang lain.

Setelah mencoba sendiri, hasilnya sering tidak sesuai dengan yang diharapkan. Entah keasinan, gosong, bantat. Pokoknya berbeda.


Biasanya hal itu terjadi karena sang ibu mengabaikan kenyataan bahwa resep itu hanyalah bersifat panduan dan dibuat dalam kondisi yang tentunya berbeda. Ketika resep dibuat berdasarkan pemakaian microvave atau oven listrik, kemudian diterapkan pada oven kompor biasa, tentunya kue yang dihasilkan akan berbeda pula.

Belum lagi takarannya yang terkadang tidak tepat.

Bahkan, resep kue bolu ketan hitam Pondan dengan takaran yang sudah pasti saja, di tangan orang yang berbeda, rasanya bisa berbeda pula.

Sama dengan komposisi foto.

Memang sudah banyak sekali "resep" komposisi foto supaya bagus dan enak dilihat, tetapi, tidak beda dengan resep masakan, tetaplah hanya bersifat panduan. Bukan merupakan kepastian bahwa sebuah foto akan menjadi memukau.

Rule of Thirds (Aturan Sepertiga), Leading Lines, Aturan Segitiga, dan banyak lagi lainnya hanyalah panduan saja. Bukan merupakan kepastian dan kebenaran. Tidak akan pernah otomatis langsung menjadikan hasilnya sebuah foto yang WAH.

Apalagi kalau contohnya dibuat menggunakan kamera Full Frame, kemudian dipraktekkan memakai kamera saku atau smartphone.

Sudah pasti akan berbeda hasilnya.

Tidak akan sama.

Bisa dikata tidak akan ada sebuah komposisi foto yang standar dan pasti benar. Setiap fotografer harus berusaha menemukan sendiri komposisi terbaik yang bisa dilakukannya dengan bahan yang tersedia.

Ia harus bisa meracik apa yang tersedia di hadapannya menjadi satu kesatuan yang indah dan enak dilihat. Bahkan, kalau perlu dengan menabrak panduan yang sudah ada. Ia harus bisa menemukan kombinasi terbaik dari semua elemen yang ada dengan caranya dan sesuai dengan tujuannya.

Seorang fotografer lanskap tentunya punya tujuan yang berbeda dengan fotografer model. Bahannya berbeda dan caranya berbeda. Tidak beda dengan saat juru masak mengolah sayur asam dan salad. Tidak akan sama.

Mengetahui teori cara memang bagus. Bagaimanapun akan sangat membantu, tetapi pada akhirnya pembahasan mengenai komposisi foto adalah sebatas teori. Bisa dianggap sebagai panduan saja dan bukan hukum yang harus diikuti.

Seperti juga seorang juru masak yang harus berkreasi dengan cabe, bawang, tomat, dan bahan lainnya, seorang fotografer harus melakukan hal yang sama dengan garis, warna, obyek, dan latar belakang.

Mereka harus bisa menemukan racikan sendiri agar fotonya bisa enak dilihat dan kemudian mendapatkan pujian (atau uang). Masing-masing akan memiliki standar yang berbeda. Tidak beda antara standar koki bertaraf internasional dan ibu rumah tangga dalam hal masakan.

Tentu saja ada yang namanya sekolah memasak, seperti juga ada kursus fotografi. Tetapi, hal itu harus dipandang sebagai usaha mendapatkan pengetahuan standar saja. Bukan sebuah kepastian.


Yah, paling tidak itulah pandangan dari seorang penggemar fotografi jalanan saja. Bukan kebenaran dan kepastian. Masih akan ada banyak pandangan lain di dunia ini.

Read More

Saturday, January 26, 2019

Terkadang, Kita Harus Mengabaikan Semua Teori Fotografi

Membaca teori fotografi itu jelas banyak gunanya. Dengan mengetahu berbagai istilah, teknik pengambilan gambar yang baik, sudut pengambilan yang menguntungkan, seseorang bisa membuat fotonya terlihat menarik di mata orang.

Memang itu adalah fungsi dari teori, dimana apa yang pernah dipelajari, dianalisa, temudian ditemukan polanya, dan ditransfer kepada manusia lain dalam bentuk tulisan, secara visual, atau suara.

Teori itu sesuatu yang sangat berguna bagi perkembangan diri seseorang.

Meskipun demikian, pada prakteknya, terkadang teori-teori seperti itu "memberatkan". Dalam artian membuat seseorang harus menyediakan waktu untuk berpikir , mengolah data yang ada dan kemudian menyesuaikan dengan teori yang sudah dipelajari.

Dan hal itu, dalam dunia fotografi jalanan, bisa menyebabkan sebuah masalah baru, yaitu kehilangan momen. Maklum saja, dunia fotografi jalanan sangat bergantung pada "penemuan" momen menarik yang terjadi secara acak. Sesuatu yang tidak akan terulang dua kali karena sifatnya tidak diatur.

Pertanyaan haruskah sebuah teori diikuti atau memaksakan diri menyesuaikan dengan situasi di lapangan.


Rupanya, si kribo cilik, putra semata wayang mengalami hal itu saat melakukan study tour beberapa waktu yang lalu. Hasil-hasil fotonya mencerminkan, bahwa ia mengalami kesulitan antara menyesuaikan antara teori yang diketahuinya dan apa yang terjadi di lapangan.

Foto "Spiderman joget" ini mencerminkan hal itu.

Pada foto terlihat bahwa ada bagian dari sang tokoh utama, manusia laba-laba genit tukang joget, yang kurang tajam. Padahal, seharusnya dengan menggunakan lensa 50 mm, jika settingnya tepat, obyek utamanya akan tajam sekali, meski menggunakan kamera APS-C Canon 700D.

Rupanya si spiderman yang bergerak terus menerus membuat sulit untuk mendapatkan fokus yang tepat. Apalagi, si lensa fix 50 mm memang sudah diketahui memiliki auto focus yang lamban.

Teorinya, dia harus mengganti lensa dengan yang memiliki auto-focus yang lebih cepat, si lensa zoom 55-250 mm. Tetapi, ia memutuskan untuk tetap menggunakan lensa yang ada.

Terkadang, Kita Harus Mengabaikan Semua Teori Fotografi

Sebuah keputusan yang tepat.

Hasilnya memang kurang maksimal, tetapi yang penting memang harus didahulukan. Kehilangan momen menarik akan lebih menyebalkan karena momen itu tidak bisa diulang. Berbeda dalam fotografi model dimana pose-pose bisa diulang, dalam fotografi jalanan, kalau sudah terlewat, ya lewat saja,

Jika si kribo memutuskan mengganti lensa, maka tidak akan ada foto yang dibawanya pulang. Tidak akan ada kenangan lucu melihat tingkah unik bin genit sang manusia laba-laba. Momen itu tidak akan bisa dilihat kembali.

Hal itu lebih penting daripada berpikir teoritis untuk menghasilkan gambar yang sempurna.

Penggantian lensa akan membuatnya bisa lebih cepat bereaksi terhadap obyek bergerak, tetapi waktu untuk mengganti lensa akan membuatnya melewatkan banyak momen. Beberapa detik berharga dalam hal ini.

Lagipula, meski hasilnya tidak sempurna, hasil tersebut tetap bisa menghadirkan senyum dari yang melihat. Mereka bisa ikut merasakan kegembiraan saat menonton festival di Museum Angkut Malang, dan tingkah lucu pemeran spidermannya.

Terkadang, Kita Harus Mengabaikan Semua Teori Fotografi

Dan bukankah itu salah satu fungsi fotografi? Mentransfer rasa dan apa yang dirasakan oleh fotografernya kepada orang lain?

Tentu bukan tidak perlu ada perbaikan. Dengan latihan yang lebih sering dan konsisten, ia bisa menemukan setting yang lebih tepat di masa depan saat menghadapi obyek yang sama.

Tetapi, untuk sementara ini, foto-foto spiderman joget ini setidaknya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik.

Dan, hal itu terjadi, karena si kribo cilik memutuskan untuk mengabaikan teori fotografi dan lebih mengedepankan menangkap momennya saja.

Sebuah keputusan yang rasanya tepat.

Terkadang, Kita Harus Mengabaikan Semua Teori Fotografi


(Foto-foto karya si kribo cilik, Arya Fatin Krisnansyah di Museum Angkut , Malang)
Read More

Monday, January 21, 2019

Simetris Itu Menyenangkan Untuk Dilihat

Kata para master dalam dunia fotografi, mata manusia itu menyukai sesuatu yang simetris. Benar tidaknya memang bersifat relatif dan tergantung pada selera masing-masing.

Tetapi, pada kenyataannya, memang kebanyakan manusia akan menyukai bentuk simetris dalam sebuah foto.

Simetris Itu Menyenangkan Untuk Dilihat
Cibinong City Mall 2019
 
Simetris Itu Menyenangkan Untuk Dilihat
Pasar Laladon Kabupaten Bogor

Stasiun Jakarta Kota

Sebuah hal yang sangat membantu dalam membuat foto arsitektur, terutama ketika kamera di tangan memiliki kemampuan yang sangat terbatas dan tidak memiliki fitur untuk berkreasi. Seperti yang saya alami ketika kamera di tangan hanyalah smartphone Oppo A3S.
Read More

Sunday, January 20, 2019

[FOTO] Para Penunggang Kuda Bromo

Salah satu obyek foto yang menarik di kawaasan wisata Gunung Bromo, dan paling sering menjadi obyek foto, selain gunungnya sendiri, adalah penunggang kuda Bromo. Mereka biasanya berkendara disana dan menyewakan kuda tunggangan kepada para wisatawan yang hendak menjelajahi "padang pasir" di gunung tersebut.

Dan, hal itu bisa dipahami mengingat kehadirannya memberikan sebuah obyek yang unik dalam sebuah masyarakat dimana berkuda bukanlah budaya dan gaya hidupnya.

Beberapa foto hasil jepretan Arya Fatin Krisnansyah saat melakukan study tour kesana bisa dilihat di bawah ini.

[FOTO] Para Penunggang Kuda Bromo

[FOTO] Para Penunggang Kuda Bromo

[FOTO] Para Penunggang Kuda Bromo

Kombinasi  pemakaian Rule of Thirds, Gunung Bromo sebagai latar belakang, dan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid), biasanya tidak akan gagal menghadirkan sebuah foto menarik bahkan ketika lensa murah memiliki keterbatasan dalam hal ketajaman dan warna.

Read More