June 2019 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Saturday, June 22, 2019

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Banyak orang menyangka bahwa sebuah karya foto yang mereka lihat dibuat dalam waktu yang pendek. Memang sih, di zaman dimana media sosial begitu merasuki jiwa hampir setiap orang, hal itu bisa dimaklum karena biasanya banyak orang akan langsung mengupload foto yang mereka buat sesaat setelah foto itu diambil.

Bisa dimengerti lah kalau banyak orang berpikir kalau semua foto yang mereka lihat berasal dari proses yang sama. Padahal, sebenarnya tidak juga, setidaknya tidak semua. Masih ada hal-hal di balik layar sebuah karya foto yang kerap tidak diketahui oleh yang melihat.

Salah satu contohnya adalah foto di bawah ini


Foto ini saya beri judul "Woman on Kartini Beach, Rembang". Bukan judul yang heboh tetapi merupakan fakta karena ada wanita, yang entah sedang apa di pantai Kartini, Rembang, Jawa Tengah. Foto ini dipotret saat berkunjung kesana, bulan Desember yang lalu.

Idenya memang untuk menampilkan suasana sunyi dalam sebuah foto. Secara teori mudah saja, yaitu dengan menerapkan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) sebanyak mungkin, latar belakang kosong dan bersih dari gangguan, dan memanfaatkan negative space semaksimal mungkin.

Teorinya begitu.

Cuma kenyataannya, tidak semudah itu.

Memotret :


Wanita dalam foto itu hanyalah seorang pengunjung Taman Kartini, sama seperti saya juga. Saya tidak mengenalnya sama sekali, artinya, sangat tidak mungkin untuk memintanya berpose. Bisa jadi malah dia akan curiga kepada saya hendak berbuat yang kurang ajar. Belum lagi kalau mantan pacar saya curiga dan ujungnya menjadi marah kalau saya melakukan itu, bisa gaswat banget deh.

Jadilah, saya harus menjadi seperti "pemburu" yang menanti terjadinya decisive moment. Menunggu sampai ada dimana pose sang "model" yang tidak tahu dirinya menjadi obyek kamera, bersesuaian dengan berbagai elemen lain, seperti latar belakang dan sebagainya.

Untung, saat berkunjung disana ada lensa Canon 55-250 mm dengan zoom yang lumayan, jadi pemotretan bisa dari jarak lumayan jauh dan tidak mengganggu aktivitas sang model.

Tidak mudah sama sekali. Saya harus mencoba berulangkali dari berbagai sudut untuk bisa mendapatkan satu foto sesuai ide di kepala. Perlu setidaknya 10 kali jepretan.

Beberapa foto yang setelah kembali ke rumah dilihat dan dinilai, dan tentunya tidak diperlihatkan kepada orang lain ada di bawah ini :

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Yang Terjadi Di Balik Layar Sebuah Karya Foto

Wanita di Pantai Kartini rembang

Wanita di Pantai Kartini rembang



Wanita di Pantai Kartini rembang

Yap, wanita, sang model itu, sebenarnya sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Ia bolak balik mencari posisi untuk melakukan swafoto, sebuah kebiasaan yang lahir seiring berkembangnya kamera smartphone dan media sosial. Bukan seperti saya yang hobi memotret orang lain.

Jadi, sejak tahap awal, yaitu memotret, sebenarnya proses di belakang layarnya sudah "berbeda" dari yang dibayangkan banyak orang. Paling tidak, berburu foto ini menghabiskan waktu 15 menit untuk memastikan ada satu foto yang sesuai ide.

Kali ini saya beruntung, ada hasilnya. Tidak jarang sebenanrya, walau satu foto saja bisa menyenangkan, terkadang saya pulang membawa tangan kosong karena hasilnya tidak ada yang sesuai kemauan.

Selesai? BELUM.

Memilah :


Dari sekitar 10 foto tadi, sesampai di rumah, saya harus memilah dan memilih. Mana yang terbaik dikaitkan dengan apa yang ingin ditampilkan.

Beberapa foto cukup dilihat sekali. Sisanya, barulah dilihat berulangkali lagi untuk melakukan penilaian lanjutan, tapi yang paling utama adalah apakah sudah sesuai ide yang dikehendaki.

Akhirnya, terpilihlah foto di bawah ini :


Postur tubuh sang "model" misterius ini pas sekali dengan latar belakang kosong dan satu buah kapal yang sedang tambat sauh di kejauhan. Setidaknya kesan sunyi dan kesepian bisa diwakili oleh sang wanita yang seperti sedang menanti seseorang yang berada di kapal itu.

Itu ide saya.

Jadi, inilah foto "terbaik" dari yang ada.

SELESAI?

Ternyata masih belum.

Editing :


Foto tersebut dihasilkan dalam format RAW, alias mentahan saja. Tidak bisa langsung ditampilkan karena tidak semua perangkat bisa membukanya. Belum lagi ukurannya yang mencapai 23 Megabyte pasti akan menyusahkan kalau diupload.

Lagi, satu proses harus ditambahkan, melakukan editing.

Hitam Putih dipilih dibandingkan berwarna karena untuk menghadirkan kesan sunyi dan sepi yang maksimal. Versi warnanya lumayan, tetapi terasa masih ada yang kurang.

Jadilah versi B&W yang ditetapkan.

Softwarenya sederhana saja, memakai Photoscape dan Picasa. Yang gratisan saja sudah cukup karena toh bukan untuk dijual, tetapi sekedar untuk mengisi blog.

Selesai?

Yah, masih belum juga.

Niatnya kan untuk berbagi foto dan cerita di blog, berarti harus ditambah teks supaya pembaca bisa tahu setidaknya dimana foto itu dibuat. Belum kalau niatnya untuk berbagi info, seperti di tulisan ini.

Iya kan?

Tidak pendek kan proses di balik layar sebuah karya foto. Padahal foto di atas sederhana banget, tetapi ternyata prosesnya melibatkan :


  1. Memotret : yang tidak sebentar juga
  2. Memilah dan emmilih : lupa menghitung waktunya
  3. Mengedit : sebentar sih, sekitar 1 jam saja (karena cuma mengatur kontras dan beberapa editing kecil lainnya
  4. Menampilkan : ini yang lama, karena termasuk mencari ide cara menampilkan 

Tapi ga semua seperti di atas sih. Biasanya yang proses di belakang layar ini dilakukan mereka yang menekuni fotografi saja. Prinsip memberikan yang terbaik biasanya dipegang dan lebih baik tidak terburu-buru dibandingkan hasilnya pada akhirnya mengecewakan.

Itulah mengapa sebenarnya banyak penghobi fotografi tidak terlalu mempedulikan apakah ada "wi-fi" di kamera mereka atau tidak. Kalaupun ada, biasanya jarang mereka pakai. Itu semua karena mereka merasa harus melakukan proses di balik layar sebelum menampilkan sesuatu.

Bagaimana dengan Anda, apakah foto yang Anda tampilkan melalui "proses di balik layar" yang serupa?
Read More

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

Dulu ada judul film, "Sekejam-kejam ibu tiri, lebih kejam ibukota". Memang kenyataannya demikian. Prinsip orang bule, "survival of the fittest" atau siapa kuat dia bertahan berlaku. Semua orang harus berjuang mempertahankan hidupnya, termasuk emak-emak yang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia seharusnya berada di rumah mengurus anak.

Tetapi, mau apa lagi. Terkadang situasi memaksa para emak harus turun tangan dan ikut bekerja agar dirinya dan keluarga bisa bertahan hidup. Meski pekerjaan yang dilakukannya berat, demi keluarga mereka akan tetap menjalaninya.

Seperti yang terlihat di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat (dekat stasiun Gondangdia).

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

[FOTO] Emak-Emak Pun Harus Bekerja

(Tidak sesuai dengan yang diharapkan karena jalan terlalu ramai dan sulit mendapatkan "clean shot" dan keterbatasan ponsel OPPO A3, tetapi setidaknya bisa memperlihatkan perjuangan kaum perempuan untuk membantu keluarga mempertahankan kehidupannya di ibukota)
Read More

Friday, June 21, 2019

4 Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Foto itu statis alias tidak bergerak. Foto hanyalah satu rekaman sebuah momen sesaat. Satu momen saja.

Sifat foto yang statis ini menjadi satu tantangan tersendiri ketika kita hendak menampilkan sebuah obyek yang sedang bergerak, contohnya membuat foto orang yang sedang berjalan. Bagaimana bisa membuat orang "terlihat" sedang berjalan dalam sebuah foto, padahal apa yang terekam dalam sebuah foto bersifat statis dan tidak bergerak ?

Jawabannya ada dalam foto itu sendiri. Memang tidak mungkin menjadikan obyek tersebut benar-benar bergerak, tetapi kita bisa menimbulkan "kesan" dalam pikiran orang yang melihat bahwa obyeknya sedang bergerak atau melakukan sesuatu.

Ingat ya hanya kesan. Bukan benar-benar terjadi obyek dalam foto bergerak, karena kalau terjadi kebanyakan orang akan kabur dan menganggap ada setan yang merasuki foto mereka.

Nah, untuk menimbulkan kesan berjalan pada foto "orang sedang berjalan", perlu sedikit pengetahuan dari sesuatu yang kita sudah tahu, yaitu "cara berjalan".

1. Orang berjalan dengan meletakkan satu kaki di belakang yang lain, tidak sejajar


Kunci paling utama disini. Untuk berjalan, setiap orang akan meletakkan satu kaki di depan, dan satu kaki di belakang. Tidak pernah orang berjalan dengan dua kaki sejajar. Itu namanya diam atau melompat.

Jadi, kalau mau membuat foto orang berjalan, pastikan posisi kaki TIDAK SEJAJAR.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan


2. Berikan ruang di depan obyek


Manusia berjalan ke depan pasti membutuhkan ruang. Jadi, pastikan adanya ruang di depan obyek agar terlihat ia sedang mengarah ke depan.

Foto yang paling atas memperlihatkan kesan bahwa orangnya sedang berjalan sambil membawa sepeda, tetapi bagaimana kalau ruang di depannya dihilangkan.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Meski kakinya sudah pada posisi melangkah, sebagian besar kesan berjalannya menjadi hilang karena ruang di depannya menghilang.

3. Tambahkan berbagai "ciri" berjalan


Terkadang dalam satu situasi kita ingin memotret dari depan, belakang. Posisi yang sebenarnya tidak menguntungkan untuk membuat foto orang berjalan. Posisi kakinya menjadi terkesan sejajar karena jarak antara kedua kaki menjadi terkesan terlalu dekat.

Dalam hal ini, perlu ditambahkan beberapa ciri lain yang dilakukan orang berjalan, seperti kaki yang menekuk atau tangan yang berayun.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

4. Pergunakan Burst Mode


Dari sisi teknis kamera, untuk membuat foto orang berjalan, terutama ketika berburu foto di ruang publik atau jalanan dimana kita tidak bisa mengatur obyek, pergunakan Burst Mode atau Continuous Shooting.

Dalam satu jepretan, kamera akan merekam beberapa kali, dan hal itu memperbesar kemungkinan berbagai aspek dan pose tubuh di atas bisa terekam dalam salah satu foto.

Tips Membuat Foto Orang Sedang Berjalan

Nah, kira-kira seperti itulah tipsnya.

Silakan coba sendiri membuat foto orang sedang berjalan versi Anda.
Read More

Wednesday, June 19, 2019

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Bermain. Memang kenyataannya begitu, saat berkunjung ke Pantai Kartini Rembang Desember 2018 yang lalu, tujuannya memang bermain saat mengunjungi saudara, adik almarhum bapak yang masih tinggal di salah satu kabupaten di Jawa Tengah itu.

Bukan pantai pasir putih ala Bali, tetapi tetap saja pantai dengan segala hal yang memudahkan fotografer dalam mengambil foto yang enak dilihat.

Apalagi, saat disana kebetulan suasana sedang sangat sepi, maklum bukan daerah wisata, yang justru semakin membuat hati gembira karena tidak perlu repot terganggu lalu lalang orang lain.

Hasilnya seperti di bawah ini.

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang




[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang


[FOTO] Bermain Di Pantai Kartini Rembang

Read More

Monday, June 17, 2019

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik
Pantai Klara Lampung
Pernah mendengar istilah Negative Space atau Ruang Negatif dalam fotografi ? Belum ? Jangan merasa minder. Banyak sekali orang, terutama dari kalangan masyarakat awam yang jarang mendengar berbagai istilah teoritis dalam dunianya para fotografer ini.

Bisa dimaklum kalau memang istilah ini belum sempat sampai ke telinga atau mata Anda. Saya sendiri baru menyadarinya setelah terjun ke dunia ini sekitar 5 tahun yang lalu. Padahal, mungkin saja Anda sudah pernah mempraktekkannya dalam keseharian.

Jadi, jangan langsung merasa rendah diri.

Negative space atau ruang negatif adalah ruang dalam bidang sebuah foto dimana disana tidak terdapat obyek atau benda lain. Dalam hal ini, obyek/subyek utama foto dianggap bersifat "positif" sedangkan ruang kosong selebihnya disebut "negatif". Mirip dengan prinsip Yin dan Yang dalam teori keseimbangan ala Cina.

Pemanfaatan ruang negatif, atau saya lebih suka menyebutnya dengan "bidang kosong" merupakan pengembangan dari teori dasar fotografi, yaitu KISS (Keep it Simple Stupid - Buat Semuanya Sederhana).

Sebuah foto yang menarik biasanya karena foto itu sederhana, dengan satu ide, satu obyek dan satu latar belakang. Dengan begitu, maka obyek utamanya akan menjadi lebih fokus.

Dalam, negative space, prinsip ini lebih dikembangkan lagi, dimana bidang kosong dalam fotonya mendapat porsi yang lebih banyak dibandingkan obyeknya. Masyarakat awam biasanya lebih mengedepankan subyek foto dan kerap membuatnya menempati mayoritas bidang foto, tetapi dalam teori negative space, hal itu dibuat kebalikan.

Persentasenya bisa bervariasi, tergantung selera masing-masing. Biasanya berkisar antara 70-80%. Tetapi, itu terserah selera dan situasi saat memotret dan bukan kepastian. Ingat saja, panduan, tips, atau trik dalam fotografi bukanlah sesuatu yang mutlak.

Sevagai contoh kecil dari penggunaan Negative Space ada pada foto di bawah ini.

Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik
Botol Plastik di Pantai Kartini Rembang, 2018
Ruang kosong dalam bentuk pasir mendominasi foto di atas. Padahal obyek utamanya adalah botol.

Pemanfaatan negative space menguntungkan karena bisa memberikan beberapa hal, seperti :


  1. Obyek utama tidak terganggu oleh latar belakang atau obyek tambahan lain, kehadirannya menjadi sangat menonjol
  2. Biasanya mudah untuk menghasilkan kesan sunyi dalam foto
  3. Keseimbangan antara latar belakang dan subyek foto lebih mudah diatur dibandingkan kalau foto terlalu ramai dan penuh dengan obyek


Mengenal Negative Space Dalam Fotografi - Bidang Kosong Bisa Membuat Foto Menarik

Pemanfaatannya sendiri beragam karena sifatnya yang subyektif. Ada yang mengatakan negative space adalah kalau obyeknya tunggal, tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa obyek bisa lebih dari satu selama bidang kosong dalam foto lebih dominan.

Nah, itulah sedikit penjelasan tentang istilah negative space atau ruang negatif, atau bidang kosong dalam fotografi.

Ternyata mudah dimengerti kan? Yang lebih penting daripada mengerti teori adalah mempraktekkannya agar teori bisa berubah menjadi skill. Iya kan?

Jadi, cobalah berlatih dengan memanfaatkan sebanyak mungkin ruang kosong dalam bidang foto. Practice makes perfect.
Read More

Saturday, June 15, 2019

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Hendak memotret benda bergerak, seperti motor atau mobil yang sedang berjalan, tetapi tidak yakin bahwa satu kali jepretan akan cukup menghasilkan foto yang diinginkan ? Aktifkan saja "Burst Mode" pada kamera sehingga kita bisa melakukan Continous Shooting .

Apa itu Burst Mode Atau Continous Shooting?

Burst sendiri dalam bahasa Inggris berarti ledakan. Coba bayangkan saja situasi di kala Tahun Baru dimana orang-orang meluncurkan petasan ke udara dan kemudian terjadi ledakan yang memancarkan cahaya berulangkali dari satu peluncuran.

Nah, intinya kira-kira sama seperti itu.

Burst Mode atau kerap juga dikenal dengan Continous Shooting adalah sebuah fitur yang biasa tersedia dalam kamera digital, seperti DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Fitur ini akan memberi keleluasaan seorang fotografer untuk mengambil satu seri foto secara berurutan hanya dnegan menekan tombol shutter release sekali.

Selama tombol shutter release tertekan, maka kamera akan terus mengambil foto sampai jarinya dilepaskan.

Contoh foto di bawah ini :
Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan
 

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan


Kapan Menggunakan Burst Mode ?

Sebenarnya tidak ada kapan tepatnya burst mode atau continous shooting dilakukan. Penggunaannya akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari fotografernya sendiri. Meskipun demikian, biasanya mode ini akan dipergunakan ketika

1. Hendak memotret benda bergerak

Sebuah obyek yang bergerak memperkecil kemungkinan untuk mendapatkan foto yang diinginkan dalam sekali jepretan saja. Untuk itu, seorang fotografer biasanya memperbesar peluang itu dengan berusaha mengambil beberapa kali jepretan dalam sekali waktu

2. Memotret Dari Berbagai Sudut

Saat memotret model atau obyek statis pun , fitur ini bisa dipergunakan, yaitu ketika sang fotografer berniat memotret dari banyak sudut sambil bergerak. Dengan begitu ia hanya perlu bergerak sambil tidak melepaskan jarinya dari shutter release.

Ia bisa bergerak sambil tetap merekam gambar.

3. Membuat Foto Berseri

Membuat seri/kolase foto yang menggambarkan urutan kejadian dan bukan video? Gampang, pakai saja burst mode. Kamera akan merekam foto secara terus menerus dalam satu kali menekan tombol dan hasilnya adalah sebuah seri foto yang menjelaskan sebuah momen secara runtut dan berurutan.

----

Secara default, burst mode akan berada dalam posisi off alias tidak aktif. Jadi, untuk bisa melakukankannya setting ini harus diubah dulu di bagian "Menu". Bisa juga dilakukan melalui LCd Monitor untuk kamera yang memiliki fasilitas touch screen (layar sentuh)

Nah, itulah yang disebut dengan Burst Mode atau Continous shotting mode.
Read More

Wednesday, June 12, 2019

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !
Rusa Totol Istana Bogor 2017

Megapixel (MP), megapixel, dan sekali lagi megapixel. Kata ini selalu diulang-ulang dalam setiap iklan kamera, terutama kamera ponsel pintar/smartphone. Pada spesifikasi yang ditawarkan fitur kameranya selalu mengedepankan besarnya ukuran megapixel yang diusung sebuah kamera. Iya kan?

Dan, hasil promosi itu membuat banyak orang membayangkan bahwa ukuran megapixel yang semakin besar sama artinya dengan kualitas foto yang semakin baik. Oleh karena itu, setelah mereka membeli terkadang mereka kaget sendiri karena ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Banyak yang kemudian membandingkan antara dua kamera yang memiliki ukuran megapixel (resolusi) yang sama, tetapi hasil fotonya berbeda. Tidak sedikit kemudian yang merasa kecewa dan tertipu karena hal ini.

Bagaimana hal ini terjadi? Kenapa dua kamera dengan ukuran megapixel yang sama ternyata hasilnya bisa berbeda jauh dalam hal ketajaman dan kualitas fotonya?

Jawabnya karena LENSA dan SENSOR kameranya.

Lensa dan sensor yang berkualitas biasanya akan bisa menghasilkan foto yang tajam dan juga detail yang bagus. Terlepas dari ukuran resolusi fotonya. Meskipun sama ukuran resolusinya, kalau kedua faktor ini berbeda hasilnya ya jelas berbeda.

Besaran resolusi hanya berkaitan dnegan ketika sebuah foto harus dicetak ke atas kertas. Contohnya, jika sebuah foto dengan resolusi 24 MP dicetak di atas kertas ukuran 100 xm x100 cm akan terlihat lebih baik dan tidak pecah. Berbeda halnya dengan kalau foto ukuran 10 MP dicetak di kertas berukuran sama. Hasil jadinya jelas akan terlihat pecah dan tidak enak dilihat. Bintik-bintiknya akan terlihat jelas sekali.

Hal itu bisa terjadi karena ukuran dot pada foto 24 MP lebih kecil dan rapat dibandingkan yang 10 MP.

Tetapi, resolusi itu tidak berkaitan langsung dengan ketajaman atau kecerahan warna sebuah foto.

Berbeda dari banyak yang dibayangkan orang, ukuran megapixel sebenarnya tidak menjamin kualitas foto, melainkan ukuran foto itu sendiri.

Jadi, kalau ada dua kamera dengan besaran MP yang sama belum tentu punya kualitas foto yang berbeda. Banyak foto full frame (sensor) berukuran 18 MP dan kalau dibandingkan dengan kamera APS-C (Crop Sensor) hasil fotonya akan terlihat lebih baik dari segi ketajaman dan kecerahannya. Itu karena sensornya punya bidang yang lebih besar sehingga bisa menangkap cahaya dan menampilkan detail dengan baik.

Megapixel bukanlah segalanya dan bukan penentu kualitas foto.

Jangan salah paham.

Read More

Tuesday, June 11, 2019

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Banyak orang berpendapat untuk menimbulkan rasa, emosi, seorang fotografer harus mengeluarkan semua kemampuan dan pengetahuannya tentang teknik memotret yang baik dan benar. Memang salah satu tujuan utama dari sebuah foto adalah membangkit rasa dan emosi dalam diri yang melihat.

Sebenarnya pendapat itu tidak tepat benar. Ada banyak saat ketika teknik memotret tidak lah menjadi sesuatu yang penting dan berada pada posisi nomor 2 atau 3 atau 4 atau bahkan sepuluh.

Contoh saat seperti ini adalah pada acara kumpul keluarga, seperti pada saat Lebaran atau acara ulang tahun atau berwisata dengan keluarga. Saat seperti ini kemampuan memotret seringkali bisa diabaikan.

Cukup dengan memastikan semua orang masuk ke dalam bidang foto.

Tidak perlu bokeh. Tidak perlu lurus. Bahkan, agak kabur sedikit sekalipun juga tidak masalah selama wajah mereka-mereka yang di dalam foto bisa terlihat. Meski tentunya foto yang tajam dan cerah tetap diharapkan, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Rasa itu akan tetap timbul .

Hal ini bisa terjadi karena bagaimanapun kamera dan memotret memiliki fungsi utama untuk merekam momen. Dan, foto itu suatu waktu akan menyimpan kenangan seorang atau beberapa manusia di suatu tempat dan pada suatu waktu.

Baca juga : Dua Fungsi Utama Fotografi

Dan, suatu waktu foto-foto itu, di saat dilihat ulang beberapa tahun kemudian, secara otomatis akan membangkitkan kenangan di masa itu. Tergantung dalam situasi seperti apa foto itu dibuat, maka rasa itu akan kembali dibangkitkan. Entah rasa sedih, gembira, bahagia, marah, akan mencuat kembali di saat foto itu disajikan di hadapannya.

Tidak peduli apakah sudah sesuai dengan berbagai teori fotografi atau tidak, percayalah emosi akan hadir di dalam hati mereka yang melihat.

Coba saja hadirkan sebuah foto lama dari seorang anak berusia 3 tahun beberapa belas tahun kemudian kepada seorang ibu. Hampir pasti rasa yang hadir di hatinya lebih mendalam dibandingkan dengan ketika ia memandang foto model cantik atau pemandangan.

Sang ibu akan merasa bahwa foto itu lebih berharga dibandingkan apapun. Semua karena foto itu membangkitkan berbagai kenangan di dalam hatinya tentang sang anak yang sudah beranjak dewasa.

Tidak peduli foto itu diambil serampangan dengan tangan atau kaki terpotong, yang dianggap fotografer sebagai sebuah kesalahan.

Saat dimana teknik memotret tidak penting sama sekali adalah ketika foto menjalankan fungsi asalnya, yaitu merekam momen dan kemudian membangkitkan kenangan tentang suatu masa. Pada saat itu, fotonya sendiri secara teknis tidaklah bagus, tetapi semua menjadi bagus karena ia membangkitkan kenangan akan hal-hal tertentu di suatu masa.

Masih tidak percaya? Cobalah melihat foto-foto saat masa sekolah dulu bersama teman-teman lama. Pastilah Anda akan tidak peduli akan berbagai teori fotografi. Yang penting diri Anda berada disana bersama teman-teman. Apalagi bila ada di antara mereka yang sudah berpulang.

Iya kan?
Read More