June 2019 - Maniak Potret

Dunia Dari Mata Orang Iseng Dengan Kamera

Latest Update
Fetching data...

Saturday, June 15, 2019

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Hendak memotret benda bergerak, seperti motor atau mobil yang sedang berjalan, tetapi tidak yakin bahwa satu kali jepretan akan cukup menghasilkan foto yang diinginkan ? Aktifkan saja "Burst Mode" pada kamera sehingga kita bisa melakukan Continous Shooting .

Apa itu Burst Mode Atau Continous Shooting?

Burst sendiri dalam bahasa Inggris berarti ledakan. Coba bayangkan saja situasi di kala Tahun Baru dimana orang-orang meluncurkan petasan ke udara dan kemudian terjadi ledakan yang memancarkan cahaya berulangkali dari satu peluncuran.

Nah, intinya kira-kira sama seperti itu.

Burst Mode atau kerap juga dikenal dengan Continous Shooting adalah sebuah fitur yang biasa tersedia dalam kamera digital, seperti DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless. Fitur ini akan memberi keleluasaan seorang fotografer untuk mengambil satu seri foto secara berurutan hanya dnegan menekan tombol shutter release sekali.

Selama tombol shutter release tertekan, maka kamera akan terus mengambil foto sampai jarinya dilepaskan.

Contoh foto di bawah ini :
Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan
 

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan

Burst Mode Atau Continous Shooting : Satu Kali Tekan Tombol Berulangkali Jepretan


Kapan Menggunakan Burst Mode ?

Sebenarnya tidak ada kapan tepatnya burst mode atau continous shooting dilakukan. Penggunaannya akan menyesuaikan dengan kebutuhan dari fotografernya sendiri. Meskipun demikian, biasanya mode ini akan dipergunakan ketika

1. Hendak memotret benda bergerak

Sebuah obyek yang bergerak memperkecil kemungkinan untuk mendapatkan foto yang diinginkan dalam sekali jepretan saja. Untuk itu, seorang fotografer biasanya memperbesar peluang itu dengan berusaha mengambil beberapa kali jepretan dalam sekali waktu

2. Memotret Dari Berbagai Sudut

Saat memotret model atau obyek statis pun , fitur ini bisa dipergunakan, yaitu ketika sang fotografer berniat memotret dari banyak sudut sambil bergerak. Dengan begitu ia hanya perlu bergerak sambil tidak melepaskan jarinya dari shutter release.

Ia bisa bergerak sambil tetap merekam gambar.

3. Membuat Foto Berseri

Membuat seri/kolase foto yang menggambarkan urutan kejadian dan bukan video? Gampang, pakai saja burst mode. Kamera akan merekam foto secara terus menerus dalam satu kali menekan tombol dan hasilnya adalah sebuah seri foto yang menjelaskan sebuah momen secara runtut dan berurutan.

----

Secara default, burst mode akan berada dalam posisi off alias tidak aktif. Jadi, untuk bisa melakukankannya setting ini harus diubah dulu di bagian "Menu". Bisa juga dilakukan melalui LCd Monitor untuk kamera yang memiliki fasilitas touch screen (layar sentuh)

Nah, itulah yang disebut dengan Burst Mode atau Continous shotting mode.
Read More

Wednesday, June 12, 2019

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !

Ukuran Megapixel Sama Tetapi Hasil Foto Berbeda ? Ini Penjelasannya !
Rusa Totol Istana Bogor 2017

Megapixel (MP), megapixel, dan sekali lagi megapixel. Kata ini selalu diulang-ulang dalam setiap iklan kamera, terutama kamera ponsel pintar/smartphone. Pada spesifikasi yang ditawarkan fitur kameranya selalu mengedepankan besarnya ukuran megapixel yang diusung sebuah kamera. Iya kan?

Dan, hasil promosi itu membuat banyak orang membayangkan bahwa ukuran megapixel yang semakin besar sama artinya dengan kualitas foto yang semakin baik. Oleh karena itu, setelah mereka membeli terkadang mereka kaget sendiri karena ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Banyak yang kemudian membandingkan antara dua kamera yang memiliki ukuran megapixel (resolusi) yang sama, tetapi hasil fotonya berbeda. Tidak sedikit kemudian yang merasa kecewa dan tertipu karena hal ini.

Bagaimana hal ini terjadi? Kenapa dua kamera dengan ukuran megapixel yang sama ternyata hasilnya bisa berbeda jauh dalam hal ketajaman dan kualitas fotonya?

Jawabnya karena LENSA dan SENSOR kameranya.

Lensa dan sensor yang berkualitas biasanya akan bisa menghasilkan foto yang tajam dan juga detail yang bagus. Terlepas dari ukuran resolusi fotonya. Meskipun sama ukuran resolusinya, kalau kedua faktor ini berbeda hasilnya ya jelas berbeda.

Besaran resolusi hanya berkaitan dnegan ketika sebuah foto harus dicetak ke atas kertas. Contohnya, jika sebuah foto dengan resolusi 24 MP dicetak di atas kertas ukuran 100 xm x100 cm akan terlihat lebih baik dan tidak pecah. Berbeda halnya dengan kalau foto ukuran 10 MP dicetak di kertas berukuran sama. Hasil jadinya jelas akan terlihat pecah dan tidak enak dilihat. Bintik-bintiknya akan terlihat jelas sekali.

Hal itu bisa terjadi karena ukuran dot pada foto 24 MP lebih kecil dan rapat dibandingkan yang 10 MP.

Tetapi, resolusi itu tidak berkaitan langsung dengan ketajaman atau kecerahan warna sebuah foto.

Berbeda dari banyak yang dibayangkan orang, ukuran megapixel sebenarnya tidak menjamin kualitas foto, melainkan ukuran foto itu sendiri.

Jadi, kalau ada dua kamera dengan besaran MP yang sama belum tentu punya kualitas foto yang berbeda. Banyak foto full frame (sensor) berukuran 18 MP dan kalau dibandingkan dengan kamera APS-C (Crop Sensor) hasil fotonya akan terlihat lebih baik dari segi ketajaman dan kecerahannya. Itu karena sensornya punya bidang yang lebih besar sehingga bisa menangkap cahaya dan menampilkan detail dengan baik.

Megapixel bukanlah segalanya dan bukan penentu kualitas foto.

Jangan salah paham.

Read More

Tuesday, June 11, 2019

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Ada Saat Dimana Teknik Memotret Menjadi Nomor Dua (Atau Tiga)

Banyak orang berpendapat untuk menimbulkan rasa, emosi, seorang fotografer harus mengeluarkan semua kemampuan dan pengetahuannya tentang teknik memotret yang baik dan benar. Memang salah satu tujuan utama dari sebuah foto adalah membangkit rasa dan emosi dalam diri yang melihat.

Sebenarnya pendapat itu tidak tepat benar. Ada banyak saat ketika teknik memotret tidak lah menjadi sesuatu yang penting dan berada pada posisi nomor 2 atau 3 atau 4 atau bahkan sepuluh.

Contoh saat seperti ini adalah pada acara kumpul keluarga, seperti pada saat Lebaran atau acara ulang tahun atau berwisata dengan keluarga. Saat seperti ini kemampuan memotret seringkali bisa diabaikan.

Cukup dengan memastikan semua orang masuk ke dalam bidang foto.

Tidak perlu bokeh. Tidak perlu lurus. Bahkan, agak kabur sedikit sekalipun juga tidak masalah selama wajah mereka-mereka yang di dalam foto bisa terlihat. Meski tentunya foto yang tajam dan cerah tetap diharapkan, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak.

Rasa itu akan tetap timbul .

Hal ini bisa terjadi karena bagaimanapun kamera dan memotret memiliki fungsi utama untuk merekam momen. Dan, foto itu suatu waktu akan menyimpan kenangan seorang atau beberapa manusia di suatu tempat dan pada suatu waktu.

Baca juga : Dua Fungsi Utama Fotografi

Dan, suatu waktu foto-foto itu, di saat dilihat ulang beberapa tahun kemudian, secara otomatis akan membangkitkan kenangan di masa itu. Tergantung dalam situasi seperti apa foto itu dibuat, maka rasa itu akan kembali dibangkitkan. Entah rasa sedih, gembira, bahagia, marah, akan mencuat kembali di saat foto itu disajikan di hadapannya.

Tidak peduli apakah sudah sesuai dengan berbagai teori fotografi atau tidak, percayalah emosi akan hadir di dalam hati mereka yang melihat.

Coba saja hadirkan sebuah foto lama dari seorang anak berusia 3 tahun beberapa belas tahun kemudian kepada seorang ibu. Hampir pasti rasa yang hadir di hatinya lebih mendalam dibandingkan dengan ketika ia memandang foto model cantik atau pemandangan.

Sang ibu akan merasa bahwa foto itu lebih berharga dibandingkan apapun. Semua karena foto itu membangkitkan berbagai kenangan di dalam hatinya tentang sang anak yang sudah beranjak dewasa.

Tidak peduli foto itu diambil serampangan dengan tangan atau kaki terpotong, yang dianggap fotografer sebagai sebuah kesalahan.

Saat dimana teknik memotret tidak penting sama sekali adalah ketika foto menjalankan fungsi asalnya, yaitu merekam momen dan kemudian membangkitkan kenangan tentang suatu masa. Pada saat itu, fotonya sendiri secara teknis tidaklah bagus, tetapi semua menjadi bagus karena ia membangkitkan kenangan akan hal-hal tertentu di suatu masa.

Masih tidak percaya? Cobalah melihat foto-foto saat masa sekolah dulu bersama teman-teman lama. Pastilah Anda akan tidak peduli akan berbagai teori fotografi. Yang penting diri Anda berada disana bersama teman-teman. Apalagi bila ada di antara mereka yang sudah berpulang.

Iya kan?
Read More